Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

CLOSE FRAKTUR CLAVICULA DEXTRA


Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepanitraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Bedah
Di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus

Disusun Oleh :

Anisa Fauziah

30101206805

Pembimbing :

dr. I Gde Adi Widiastana, Sp.OT

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RSUD dr. LOEKMONO HADI KUDUS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
2018
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KASUS

Diajukan guna melengkapi tugas kepaniteraan klinis bagian ilmu bedah


Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung

Nama : Anisa Fauziah


NIM : 30101306874
Judul : Fraktur Clavicula Dextra
Bagian : Ilmu Bedah
Fakultas : Kedokteran UNISSULA

Pembimbing : dr. I Gde Adi Widiastana, Sp.OT

Telah diajukan dan disahkan

Semarang, 4 April 2018

Pembimbing,

dr. I Gde Adi Widiastana, Sp.OT


BAB I

PENDAHULUAN

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau

tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur tertutup adalah bila

tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar. Fraktur terbuka adalah fragmen

tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana potensial untuk terjadi infeksi. Secara

normal tulang mampu menahan tekanan, namun jika terjadi penekanan ataupun

benturan yang lebih besar dan melebihi kemampuan tulang untuk bertahan, maka akan

terjadi fraktur (Price & Wilson, 2006).

Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat pada tahun 2011-2012 terdapat 5,6 juta

orang meninggal dunia dan 1,3 juta orang menderita fraktur akibat kecelakaan lalu

lintas. Fraktur merupakan suatu kondisi dimana terjadi diintegritas tulang. Penyebab

terbanyak fraktur adalah kecelakaan, baik itu kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas

dan sebagainya. Tetapi fraktur juga bisa terjadi akibat faktor lain seperti proses

degeneratif dan patologi (Depkes RI, 2005). Menurut Depkes RI 2011, dari sekian

banyak kasus fraktur di indonesia, fraktur pada ekstremitas bawah akibat kecelakaan

memiliki prevalensi yang paling tinggi diantara fraktur lainnya yaitu sekitar 46,2 %.

Fraktur clavicula merupakan cidera yang umum terjadi dimasyarakat, sekitar 4-10%

dari jumlah fraktur yang terjadi pada orang dewasa, dan 35-40 % dari jumlah seluruh

fraktur yang terjadi di daerah bahu.

Baik fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat

menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri. Selaian itu dapat mengenai tulang

sehingga akan terjadi neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga
mobilitas fisik terganggu, disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak

yang kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar. Pada

umumnya pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup akan dilakukan immobilitas

yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tetap pada

tempatnya sampai sembuh. Reduksi berarti mengembalikan jaringan atau fragmen

keposis semula (reposisi). Dengan kembali kebentuk semula, diharapkan bagian yang

sakit dapat berfungsi kembali dengan maksimal. Retaining adalah tindakan

mempertahankan hasil reposisi dengan fiksasi (imobilisasi). Hal ini akan

menghilangkan spasme otot pada ekstemitas yang sakit sehingga terasa lebih nyaman

dan sembuh lebih cepat. Rehabilitation berarti mengembalikan keampuan anggota

gerak yang sakit agar dapat berfungsi kembali.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Fraktur

2.1.1. Pengertian

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau

tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Secara normal tulang

mampu menahan tekanan, namun jika terjadi penekanan ataupun benturan yang

lebih besar dan melebihi kemampuan tulang untuk bertahan, maka akan terjadi

fraktur (Price & Wilson, 2006).

2.1.2. Klasifikasi

Klasifikasi fraktur menurut Rasjad (2007):

1) Berdasarkan etiologi:

a. fraktur traumatik

b. fraktur patologis,

c. fraktur stress terjadi karena adanya trauma terus menerus pada

tempat yang sama

2) Berdasarkan klinis:

a. Fraktur terbuka

b. Fraktur tertutup

c. Fraktur komplit

d. Fraktur Inkomplit
3) Berdasarkan radiologi:

a. Lokalisasi

b. Konfigurasi

c. Ekstensi

d. fragmen

2.1.3. Jenis Fraktur

Smeltzer & Bare (2006) membagi jenis fraktur

sebagai berikut:

a. Greenstick: fraktur sepanjang garis tengah tulang.

b. Oblique: fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang.

c. Spiral: fraktur memuntir seputar batang tulang.

d. Comminutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa

fragmen/bagian.

e. Depressed: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam,

sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah.

f. Compression: fraktur dimana tulang mengalami kompresi, biasanya

sering terjadi pada tulang belakang.

g. Patologik: fraktur pada daerah tulang patologis (kista tulang, paget,

metastasis tulang, dan tumor).


h. Avultion: tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendon pada

perlekatannya.

Gambar 1. Jenis Fraktur

Secara umum fraktur clavicula menurut Armis (2002) diklasifikasikan

menjadi tiga tipe yaitu :

1. Fraktur pada sepertiga tengah clavicula (insiden kejadian 75% - 80%).

Pada daerah ini tulang lemah dan tipis serta umumnya terjadi pada pasien

muda.

2. Fraktur atau patah tulang clavicula terjadi pada distal ( insiden kejadian

15 %).

3. Fraktur clavicula pada sepertiga proksimal (5% pada kejadian ini

berhubungan dengan cidera neurovaskuler).


2.1.4. Derajat Fraktur

a. Derajat 1

luka kurang dari 1 cm, kerusakan jaringan lunak sedikit,

tidak ada tanda remuk, fraktur sederhana atau kominutif

ringan dan kontaminasi minimal.

b. Derajat 2

laserasi lebih dari 1 cm, kerusakan jaringan lunak, tidak

luas, fraktur kominutif sedang, dan kontaminasi sedang.

c. Derajat 3

terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas(struktur kulit,

otot, dan neurovaskuler) serta kontaminasi derajad tinggi

(Mansjoer, 2000).

2.1.5. Etiologi Fraktur

Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga, yaitu

1. Cedera Traumatik

Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :

a. Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga

tulang patah secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur


melintang dan kerusakan pada kulit di atasnya.

b. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi

benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan

fraktur klavikula.

c. Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang

kuat.

2. Fraktur Patologik

Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan

trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada

berbagai keadaan berikut :

a. Tumor Tulang ( Jinak atau Ganas ) : pertumbuhan jaringan baru yang

tidak terkendali dan progresif.

b. Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut

atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan

sakit nyeri.

c. Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi

Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya

disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan

kalsium atau fosfat yang rendah.

3. Secara Spontan

Disesbabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada

penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.


2.1.6. Patofisiologi

Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma

gangguan adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan

metabolic, patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik yang

terbuka ataupun tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan

pendarahan, maka volume darah menurun. COP menurun maka terjadi

peubahan perfusi jaringan. Hematoma akan mengeksudasi plasma dan

poliferasi menjadi edem lokal maka penumpukan di dalam tubuh. Fraktur

terbuka atau tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat menimbulkan

ganggguan rasa nyaman nyeri. Selain itu dapat mengenai tulang dan dapat

terjadi revral vaskuler yang menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas

fisik terganggau. Disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan

lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi dan kerusakan jaringan lunak

akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit. Fraktur adalah patah tulang,

biasanya disebabkan oleh trauma gangguan metabolik, patologik yang terjadi

itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai

serabut syaraf yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri.

Selaian itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi neurovaskuler yang

akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggu,


disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang

kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar. Pada

umumnya pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup akan dilakukan

immobilitas yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang telah

dihubungkan tetap pada tempatnya sampai sembuh (Sylvia, 1995).

Patofisiologi fraktur clavicula menurut Helmi (2012) adalah tulang

pertama yang mengalami proses pergerasan selama perkembangan embrio

pada minggu ke lima dan enam. Tulang clavicula, tulang humerus bagian

proksimal dantulang scapula bersama-sama membentuk bahu. Tulang

clavicula ini membantu mengangkat bahu ke atas, keluar, dan kebelakang

thorax. Pada bagian proximal tulang clavicula bergabung dengan sternum

disebut sebagai sambungan sternoclavicular (SC). Pada bagian distal

clavicula (AC), patah tulang pada umumnya mudah untuk dikenali

dikarenakan tulang clavicula adalah tulang yang terletak dibawah kulit

(subcutaneus) dan tempatnya relatif didepan. Karena posisinya yang terletak

dibawah kulit maka tulang ini sangat rawan sekali untuk patah. Patah tulang

clavicula terjadi akibat tekanan yang kuat atau hantaman yang keras ke

bahu. Energi tinggi yang menekan bahu ataupun pukulan langsung pada

tulang akan menyebabkan fraktur.


2.2 Anatomi Tulang

2.3 Fraktur Clavicula

Fraktur clavicula adalah terputusnya hubungan tulang clavicula yang

disebabkan oleh trauma langsung dan tidak langsung pada posisi lengan terputus

atau tertarik keluar (outstretched hand) karena trauma berlanjut dari pergelangan
tangan sampai clavicula ( Muttaqin, 2012). Jadi close fraktur clavicula adalah

gangguan atau terputusnya hubungan tulang clavicula yang disebabkan oleh trauma

langsung dan tidak langsung pada posisi lengan terputus atau tertarik keluar

(outstretched hand) yang tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar.

Secara umum fraktur clavicula menurut Armis (2002) diklasifikasikan menjadi tiga

tipe yaitu :

1. Fraktur pada sepertiga tengah clavicula (insiden kejadian 75% - 80%). Pada

daerah ini tulang lemah dan tipis serta umumnya terjadi pada pasien muda.

2. Fraktur atau patah tulang clavicula terjadi pada distal ( insiden kejadian 15 %).

3. Fraktur clavicula pada sepertiga proksimal (5% pada kejadian ini berhubungan

dengan cidera neurovaskuler).


BAB III
CASE REPORT

A. Identitas Pasien

 Nama : Tn. N

 Umur : 30 tahun

 Jenis kelamin : Laki-laki

 Agama : Islam

 Pekerjaan : Swasta

 No. RM : 778617

 Alamat : Gajah, Demak

a. Ruang dirawat : Cempaka 3

b. Jenis Pasien : BPJS kelas 3

B. Data

Anamnesis

 Keluhan Utama : Nyeri pada bahu sebelah kanan


 Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke IGD RSUD Kudus dengan keluhan nyeri pada bahu sebelah

kanan. Nyeri dirasakan setalah mengalami kecelakaan lalu lintas 1 jam SMRS. Nyeri

bahu kanan dirasakan pasien terus menerus pasca terjatuh. Pasien mengaku terjatuh

dari motor dengan posisi bahu kanan di bawah sambil menopang seluruh badan.

Pasien masih dapat menggerakkan tangan tangan namun pergerakanya menjadi

menjadi sangat terbatas karena terasa nyeri. Pasien tidak mengeluh mual, muntah dan

pusing. Pasien tidak mengalami gangguan BAK maupun gangguan BAB.

 Riwayat Penyakit Dahulu

 Riwayat hipertensi (-)

 Riwayat alergi (-)

 Riwayat DM (-)

 Riwayat merokok (+)

 Riwayat konsumsi alkohol (-)

 Riwayat trauma (-)

 Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat yang sama


 Riwayat sosial – ekonomi

Cukup, pasien dirawat di Cempaka 3

C. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : tampak sakit

Kesadaran : kompos mentis

Vital Sign

 Tekanan Darah : 130/70 mmHg

 Nadi : 70 x/menit, irama reguler

 Laju Pernapasan : 20 x/menit

 Suhu : 36,5 o C

Status general

 Umum : Pasien terlihat lemas

 Kulit : pucat (-), petekia (-)

 Kepala : nyeri kepala berputar (-)

 Mata : hematom palpebral (-/-), konjungtiva anemis (+/+), sclera ikterus (-/-)

 Telinga : gangguan pendengaran (-/-), discharge (-/-)


 Hidung : simetris, nafas cuping hidung (-), epistaksis (-), discharge (-)

 Mulut : sianosis (-), deviasi lidah (-), perdarahan gusi (-), stomatitis (-).

 Tenggorokan : nyeri menelan (-), radang tenggorokan (-)

 Leher : deviasi trachea (-), pembesaran tiroid (-), pembesaran KGB (-)

Pemeriksaan Fisik Thorax

Pulmo:

INSPEKSI ANTERIOR POSTERIOR

Statis RR :20 x/min, Hemithoraks RR : 20 x/min, Hemithoraks


D=S, ICS Normal, Diameter D=S, ICS Normal, Diameter AP
AP < LL < LL
Dinamik Hemitoraks D=S, pernafasan Hemitoraks D=S, pernafasan
abdominothorakal (-), retraksi abdominothorakal (-), retraksi
otot-otot pernapsan (-), retraksi otot-otot pernapsan (-), retraksi
ICS (-) ICS (-)
PALPASI Nyeri (-), ekspansi dada D=S Nyeri (-), ekspansi dada D=S
Stemfremitus D=S Stemfremitus D=S
PERKUSI Sonor Sonor

AUSKULTASI Suara nafas dasar vesikuler Suara nafas dasar vesikuler


Fremitus vokal D=S Fremitus vokal D=S
Jantung :

INSPEKSI

Ictus cordis tidak terlihat (-)

PALPASI

Ictus cordis teraba pada ICS V linea midclavicula sinistra 2 cm ke medial serta tidak

kuat angkat, pulsus parasternal (-), pulsus sternal lift (-), pulsus epigastrium (-)

PERKUSI

Redup

Batas atas jantung : ICS II linea sternalis sinistra

Pinggang jantung : ICS III linea parasternalis sinistra

Kanan jantung : ICS V linea sternalis dextra

Kiri bawah : ICS V linea midclavicula sinistra 2 cm ke medial

AUSKULTASI

Katup aorta S1 & S2 normal, bunyi tambahan (-), A1<A2

Katup pulmonal S1 & S2 normal, bunyi tambahan (-), P1<P2

Katup trikuspidal S1 & S2 normal, bunyi tambahan (-), T1 > T2

Katup mitral S1 & S2 normal, bunyi tambahan (-), M1>M2


Pemeriksaan Fisik Abdomen

INSPEKSI

Simetris, sikatrik (-), striae (-), dilated veins (-), caput medusa (-), hyperpigmentasi (-),

spider nevi (-)

AUSKULTASI

Peristaltik (+), bising pembuluh darah (-)

PERKUSI

Timpani Hepar : pekak (+), liver span dextra 10 cm, liver span

sinistra 5 cm, massa (-)

Lien : area trobe (+)

PALPASI

Superfisial : Dalam:

 Massa (-),  Nyeri tekan (-) hepar lien dan ginjal tidak

 defence muscular (+) teraba


Pemeriksaan Extremitas

EKSTREMITAS Superior Inferior

Oedem -/- -/-

Akral dingin -/- +/+

Reflek fisiologis +/+ +/+

Reflek Patologis -/- -/-

Sensibilitas +/+ +/+

Ekstremitas superior : tidak ada kelainan

Ekstremitas inferior : tidak ada kelainan

Status Lokalis

Regio Clavicula Dextra

Look : tampak jejas luka, penonjolan abnormal (-), oedem (-), tampak pemendekan di

banding clavicula sinistra.

Feel : nyeri tekan setempat (+), krepitasi (+), sensibilitas (+), suhu rabaan hangat (+).
Move : gerakan aktif dan pasif terhambat, gerakan abduksi lengan kanan terhambat, nyeri

bila di gerakkan (+), tampak gerakan terbatas (+).

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium

1. Hematologi

Pemeriksaan laboratrium Nilai Normal

17 maret 2018 Nilai normal

Hemoglobin 10,5 g/dl 14,0-18,0 g/dl

Eritrosit 4,29 juta /uL 4,4 - 5,9 juta /uL

Hematocrit 32,3 % 40 – 52 %

Leucocyte 13,8 ribu/uL 3,8 – 10,6 ribu u/L

Trombocyte 402 ribu/Ul 150 – 400 ribu/uL

MCV 75,3 fl 79 – 99 fl

MCH 24,5 pg 27 - 31 pg

MCHC 32,5 % 33 – 37 %

RDW 14,6 % 11,5-14,5 %


Gambaran Radiologi
Diagnosis :

- Close Fraktur Clavicula Dextra

Tatalaksana :

Konservatif :

• RL 20 tpm

• Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr

• Gentamisin 2 x 80 mg

• Ranitidin 2 x 1

Operatif :

- Orif Plate Clavicula

Prognosis :

Ad vitam : bonam

Ad fungsionam : bonam

Ad sanationam : bonam
DAFTAR PUSTAKA

Price, S. A., & Wilson, L. M. (2006). Patofisiologi: Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit
(6 ed.). (B. U. Pendit, Penerj.) Jakarta: EGC.

Depkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan pengembangan
Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.

Lieberman, A. H., Rieger, M. M., and Banker S. G., 1998, Pharmaceutical Dosage Forms:
Disperse System,Volume 3, Second Edition, Revised and Expanded, 265-267, 272-273,
Marcel Dekker, Inc., New York.

Smeltzer S.C, Bare B.G, Hincle J.I, Cheever, K.H. 2008. Textbook of medical surgical nursing;
brunner & suddart. 7th Ed. Lipincott Williams & Wilkins, a Wolter Kluwer Business.

Arif, Mansjoer, dkk. ( 2000 ). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta

Muttaqin, Arif & Sari, Kurmala. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal bedah. Jakarta : Salemba medika.

Price Sylvia A, Wilson Lorraine M., ( 2005 ), Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses
Penyakit, Edisi 6, Volume I, Jakarta : EGC