Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

PEMBERIAN OBAT PARENTERAL

Disusun oleh :
1. Lutfi Al Faris
2. Mia Silviatur Rokhmah Aznika
3. Moh. Alfin Febriyanto
4. Muh. Abduh Ridho
5. Nihlahul Husna
6. Nok Isti Anah Almahgfiroh
7. Nur Aida Perdani
8. Nur Fitriani
9. Nurhidayanti
10. Nursela

MATA KULIAH : KEPERAWATAN DASAR 2


DOSEN PENGAMPU : Firman Hidayat M.Kep.,Sp.Kep.J
KELAS : 1A S1 Ilmu Keperawatan / 2016 - 2017

PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI
Jln. Cut Nyak Dhien no.16, Desa Kalisapu, Kec. Slawi - Kab. Tegal 52416
2016 / 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkah dan rahmat-
nya penulis telah berhasil menyusun makalah tentang pemberian obat secara
parenteral. Pada penulisan makalah ini kami menggunakan bahasa sederhana dan
mudah dimengerti sehingga dapat dengan mudah dicerna dan di ambil intisari dari
materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.
Makalah ini juga di harapkan dapat digunakan oleh mahasiswa S1 Ilmu
Keperawatan karena kami telah berusaha melengkapi materi makalah sesuai
dengan kebutuhan materi pembelajaran yang di sempurnakan.
Demikian kami sangat mengharapkan kritik yang sifatnya membangun
demi tercapai suatu kesempurnaan dalam memenuhi kebutuhan dalam bidang
mata pelajaran keperawatan dasar.

Slawi, 29 Maret 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Tujuan ..................................................................................................... 1

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Prinsip Pemberian Obat ........................................................................... 2
2.2 Jenis-jenis Pemberian Obat Parenteral .................................................... 6
2.3 Cara Pelaksanaan ..................................................................................... 7
2.4 Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan ............................................................ 16

BAB 3 PENUTUP
3.1 Simpulan .................................................................................................. 18
3.2 Saran ........................................................................................................ 18

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 19

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu tugas terpenting seorang perawat adalah memberi obat yang
aman dan akurat kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk
mengobati klien yang memiliki masalah. Obat bekerja menghasilkan efek
terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan klien dalam
banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau
berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita memberikan obat
tersebut tidak sesuai dengan anjuran yang sebenarnya.
Salah satu bentuk sediaan steril adalah injeksi. Injeksi adalah sediaan
steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan
atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan
dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput
lendir. Dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik.
Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang
diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam
kompartemen tubuh yang paling dalam. Sediaan parenteral memasuki
pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran
mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba
dan bahan-bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat
diterima.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui prinsip pemberian obat.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis pemberian obat parenteral.
3. Untuk mengetahui cara pelaksanaan pemberian obat parenteral.
4. Untuk mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan saat pemberian obat
parenteral.

1
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Prinsip Pemberian Obat


Persiapan dan pemberian obat harus dilakukan dengan akurat oleh perawat.
Perawat harus memberikan perhatian penuh dalam mempersiapkan obat dan
sebaiknya tidak melakukan tugas lain ketika memberikan obat. Perawat
menggunakan “enam benar” pemberian obat untuk menjamin pemberian obat
yang aman.
“Enam Benar” pemberian obat yaitu :
1. Benar obat
Apabila obat pertama kali diprogramkan, perawat membandingkan
tiket obat atau format pencatatan unit-dosis dengan instruksi yang ditulis
dokter. Ketika memberikan obat, perawat membandingkan label pada
wadah obat dengan format atau tiket obat. Perawat melakukan ini tiga kali,
yaitu:
(1) sebelum memindahkan wadah obat dari laci atau lemari,
(2) pada saat sejumlah obat yang diprogramkan dipindahkan dari
wadahnya,
(3) sebelum mengembalikan wadah obat ke tempat penyimpanan.
Dengan dosis tunggal, obat yang sebelumnya sudah dikemas, perawat
memeriksa label pada tiket atau format obat sebanyak tiga kali walaupun
obat tersebut belum diambil dari wadah yang besar. Perawat hanya
memberikan obat yang dipersiapkannya. Jika terjadi kesalahan, perawat
yang memberikan obat bertanggung jawab terhadap efek obat.
Apabila klien mempertanyakan obat, perawat tidak boleh
mengabaikan hal tersebut. Klien yang waspada akan mengetahui apakah
obat yang diberikan berbeda dari yang diberikan sebelumnya. Pada
kebanyakan kasus, instruksi obat telah diubah. Namun, pertanyaan klien
bisa mengungkap suatu kesalahan. Perawat harus tidak boleh memberikan
obat tersebut sampai program dokter diperiksa kembali. Klien yang
menggunakan obatnya secara mandiri harus tetap menyimpan obat dalam

2
wadah aslinya yang dilabel, terpisah dari obat lain untuk menghindari
kebingungan.
Upayakan untuk tidak menyiapkan obat dari wadah tidak betanda
atau wadah yang labelnya tidak terbaca. Apabila klien menolak obat,
upayakan untuk tidak mengembalikan obat ke wadah aslinya atau
memindahkan obat tersebut ke wadah lain. Obat dosis tunggal dan obat
yang belum dikemas dapat dikembalikan ke tempat penyimpanan, jika
belum dibuka.
2. Benar dosis
Sistem unit-dosis distribusi obat meminimalkan kesalahan karena
kebanyakan obat tersedia dalam dosis yang sesuai. Apabila sebuah obat
harus disediakan dari volume atau kekuatan obat lebih besar atau lebih
kecil dari yang dibutuhkan atau jika seorang dokter memprogramkan suatu
sistem perhitungan obat yang berbeda dari yang disediakan oleh ahli
farmasi, risiko kesalahan meningkat. Pada situasi ini, perawat harus
memeriksa perhitungan dosis yang dilakukan perawat lain. Contoh,
beberapa institusi memerlukan dua orang perawat untuk memeriksa dosis
seluruh insulin dan antikoagulasi.
Setelah menghitung dosis, perawat menyiapkan obat dengan
menggunakan alat perhitungan standar. Contoh, banyak obat cair untuk
anak dilengkapi alat tetes. Gelas ukur, spuit, dan sendok yang dirancang
khusus dapat digunakan untuk menghitung obat dengan akurat. Di rumah,
klien sebaiknya melakukan perhitungan dengan menggunakan sendok
yang biasa digunakan di dapur daripada sendok teh dan sendok makan
datar yang volumenya bervariasi.
Untuk membelah tablet berbentuk biji (scored tablet), perawat
harus yakin bahwa potongan tersebut rata. Sebuah tablet dapat dibagi dua
dengan menggunakan sisi pisau atau dengan membungkus tablet dengan
tisu kemudian membelahnya dengan jari. Setiap tablet yang tidak terbelah
rata dibuang. Setelah obat dibelah, perawat dapat memberikan kedua
bagian bagian obat secera berurutan, namun hanya jika bagian kedua telah
kembali dikemas dan dilabel.

3
3. Benar klien
Langkah penting dalam pemberian obat dengan aman adalah
meyakinkan bahwa obat tersebiut diberikan pada klien yang benar.
Perawat yang bekerja di rumah sakit atau lingkungan perawatan lain sering
bertanggung jawab untuk memberikan obat pada banyak klien. Klien
sering mempunyai nama akhir yang serupa, dan ini menyulitkan untuk
mengingat setiap nama dan wajah, khususnya bila perawat bebas tugas
sebelumnya selama beberapa hari. Untuk mengidentifikasi klien dengan
tepat, perawat memeriksa kartu, format, atau laporan pemberian obat yang
dicocokan dengan gelang identifikasi klien dan meminta klien
menyebutkan namanya.
Apabila sebuah gelang identifikasi kotor atau tidak dapat dibaca,
perawat harus menggantinya dengan yang baru. Ketika menanyakan nama
klien, perawat sebaiknya tidak menyebut suatu nama dan berasumsi bahwa
respons klien menunjukkan bahwa klien adalah orang yang benar.
Sebaliknya, perawat sebaiknya meminta klien menyebutkan nama
lengkapnya. Hal ini sangat penting bahkan jika perawat telah merawat
klien selama beberapa hari. Supaya klien tidak merasa tidak nyaman,
perawat dapat mengatakan bahwa dalam memberikan obat secara rutin ia
perlu mengidentifikasi nama klien.
Klien yang menggunakan obat secara mandiri di rumah harus
diperhatikan untuk tidak pernah memberi obatnya kepada anggota
keluarga atau teman. Sebelum seseorang menggunakan resep untuk orang
lain, sebaiknya konsultasikan hal tersebut kepada seorang dokter karena
obat yang aman untuk seseorang dapat berbahaya untuk orang lain.
4. Benar rute
Apabila sebuah instruksi obat tidak menerangkan rute pemberian
obat, perawat mengonsultasikannya kepada dokter. Demikian juga, bila
rute pemberian obat bukan cara yang direkomendasikan, perawat harus
segera mengingatkan dokter.

4
Saat melakukan injeksi, rute yang benar sangat penting. Juga
sangat penting untuk menyiapkan injeksi hanya dari preparat yang
ditetapkan untuk pengguaan prenteral. Menginjeksi cairan yang dirancang
untuk penggunaan oral dapat menimbulkan komplikasi, misalnya abses
steril atau efek sistemik yang fatal. Perusahaan obat memberi label “hanya
untuk injeksi” pada obat-obatan parentenral.
5. Benar waktu
Perawat harus mengetahui alasan sebuah obat diprogramkan untuk
waktu tertentu dalam satu hari dan apakah jadwal tersebut dapat diubah.
Contoh, diprogramkan dua obat, satu q8h (setiap 8 jam) dan yang lain tid
(3 kali sehari). Kedua obat diberikan tiga kali dalam 24 jam. Tujuan dokter
memberikan obat q8h dalam hitungan jam ialah mempertahankan kadar
terapeutik obat. Perbedaannya, obat tidak diberikan selama klien terjaga.
Setiap institusi memiliki rekomendasi jadwal waktu untuk obat yang harus
diberikan dengan interval sering. Contoh, obat qid (4 kali sehari) dapat
diberikan pada pukul 08.00, 12.00, 16.00, dan 20.00.
Dokter seringkali memberi instruksi khusus tentanng waktu
pemberian obat. Obat praoperasi yang harus diberikan pada saat
diperlukan memiliki makna perawat memberi obat pada saat ruang operasi
memberitahukan divisi keperawatan. Obat yang diinstruksikan pc (setelah
makan) diberikan dalam satu setengah jam setelah klien makan, ketika
perut klien masih penuh. Obat STAT harus diberikan segera.
Apabila seorang perawat bertanggung jawab memberi beberapa
obat maka obat yang harus bekerja pada waktu-waktu tertentu harus
diprioritaskan. Misalnya, insulin harus diberikan pada interval yang tepat
sebelum makan. Semua obat rutin yang diinstruksikan harus diberikan
dalam 30 menit dari waktu yang diprogramkan.
6. Benar Dokumentasi
Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute,
waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum
obatnya, atau obat itu tidak dapat diminum, harus dicatat alasannya dan
dilaporkan.

5
2.2 Jenis-jenis Pemberian Obat Parenteral
Rute parenteral ialah memberikan obat dengan menginjeksinya ke dalam
jaringan tubuh. Pemberian parenteral meliputi empat tipe utama injeksi berikut:
1. Subkutan (SC). Injeksi ke dalam jaringan tepat di bawah lapisan dermis
kulit.
Injeksi subkutan diberikan dengan menusuk area dibawah kulit yaitu pada
jaringan konektif atau lemak di bawah dermis. Karena jaringan subkutan
tersusun atas reseptor nyeri, klien dapat mengalami rasa tidak nyaman.
Daerah yang lazim untuk injeksi subkutan adalah lengan atas bagian luar,
paha bagian depan, perut, area skapula, ventrogluteal, dan dorso gluteal.
Jangan memberikan injeksi pada daerah yang nyeri, merah, pruritis, atau
edema.
Pada pemberian injeksi subkutan jangka lama, perlu direncanakan untuk
diberikan secara rotasi pada area yang berbeda. Obat yang diberikan melalui
rute SC hanya obat dosis kecil yang larut dalam air. Jenis obat yang lazim
diberikan secara subkutan adalah yaksin, obat-obatan preoperasi, narkotik,
insulin, dan heparin. Sudut insersi berkisar antara 45 sampai 90 derajat.
2. Intradermal (ID). Injeksi ke dalam dermis tepat di bawah epidermis.
Pemberian obat secara intradermal merupakan suntikan pada lapisan
dermis atau dibawah epidermis/permukaan kulit. Injeksi ini di lakukan
secara terbatas, karena hanya sejumlah kecil obat yang dapat dimasukkan.
Cara ini biasanya digunakan untuk tes tuberkulin atau tes alergi terhadap
obat tertentu dan untuk pemberian vaksinasi. Area yang lazim digunakan
adalah lengan bawah bagian dalam, dada bagian atas dan punggung area
skapula.
3. Intramuskular (IM). Injeksi ke dalam otot tubuh.
Pemberian obat secara intramuskular ditujukan untuk memberikan obat
dalam jumlah yang besar dibandingkan obat yang diberikan secara subkutan.
Absorpsi juga lebih cepat dibanding subkutan karena lebih banyak suplai
darah diotot tubuh. Beberapa lokasi yang lazim digunakan untuk injeksi
intramuskular adalah deltoid, dorso gluteal, vastus lateralis, dan rektus
femoralis. Area-area tersebut digunakan karena massa otot yang besar,

6
vaskularisasi baik dan jauh dari saraf. Untuk menghindari obat salah masuk
pada jaringan subkutan maka jarum diatus dalam posisi tegak lurus 90◦.
4. Intravena (IV). Suntikan ke dalam vena.
Pemberian obat secara intravena ditujukan untuk mempercepat reaksi obat,
sehingga obat langsung masuk ke sistem sirkulasi darah. Pemberian obat ini
dapat dilakukan langsung pada vena atau pada pasien yang dipasang infus,
obat dapat diberikan melalui botol infus atau melalui karet pasa selang infus
tempat penyuntikan yaitu pada vena yang dangkal dan dekat dengan tulang,
misalnya:
a. pada lengan (vena mediana cubiti/vena chepalica)
b. pada tungkai (vena saphenosus)
c. pada leher (vena jugularis) khusus pada anak
d. pada kepala (vena frontalis, atau vena temporalis) khusus pada anak

2.3 Cara Pelaksanaan


A. Injeksi Subkutan (SC)
1. Definisi
Injeksi subcutan adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat
kedalam jaringan subcutan dibawah kulit dengan menggunakan spuit.
2. Tujuan
Memasukkan sejumlah obat kedalam jaringan subcutan dibawah kulit
untuk diabsorbsi.
3. Tempat injeksi
a. Lengan bagian atas luar
b. Paha depan
c. Daerah abdomen
d. Area scapula pada punggung bagian atas
e. Daerah ventrogluteal dan dorsogluteal bagian atas
4. Peralatan
a. Buku catatan pemberian obat atau kartu obat
b. Kapas alkohol
c. Sarung tangan

7
d. Obat yang sesuai
e. Spuit 2ml
f. Bak spuit
g. Baki obat
h. Plester
i. Kassa steril (bila perlu)
j. Bengkok
5. Prosedur kerja
a. Cuci tangan
b. Siapkan obat sesuai dengan prinsip 5 benar
c. Identifikasi klien
d. Beritahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
e. Atur klien pada posisi yang nyaman sesuai dengan kebutuhan.
Menghindari gangguan absorbsi obat atau cidera dan nyeri yang
berlebihan
f. Pilih area penusukan yang bebas dari tanda kekakuan, peradangan,
atau rasa gatal. (area penusukan yang utama adalah pada lengan bagian
atas dan paha anterior)
g. Pakai sarung tangan
h. Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas alkohol
dengan gerakan sirkular dan arah keluar dengan diameter sekitar 5cm.
Tunggu sampai kering. Metode ini dilakukan untuk membuang sekresi
dari kulit yang mengandung mikroorganisme.
i. Pegang kapas alkohol dengan jari-jari tengah pada tangan non
dominan
j. Buka tutup jarum
k. Tarik kulit dan jaringan lemak dengan ibu jari dan jari tangan non
dominan
l. Dengan ujung jarum menghadap keatas dan menggunakan tangan
dominan masukkan jarum dengan sudut 45o atau menggunakan sudut
90o (untuk orang gemuk). Pada orang gemuk jaringan subcutannya
lebih tebal

8
m. Lepaskan tarikan tangan non dominan
n. Tarik plunger dan observasi adanya darah pada spuit.
o. Jika tidak ada darah masukkan obat perlahan-lahan
p. Jika ada darah :
1) Tarik kembali jarum dari kulit
2) Tekan tempat penusukan selama 2 menit
3) Observasi adanya hematoma atau memar
4) Jika perlu berikan plester
5) Siapkan obat yang baru, mulai dengan langkah a, pilih area
penusukan baru
q. Cabut jarum perlahan-lahan dengan sudut yang sama seperti saat
dimasukkan, sambil melakukan penekanan dengan menggunakan kapas
alkohol pada area penusukan
r. Jika terdapat perdarahan, maka tekan area tersebut dengan
menggunakan kassa steril sampai darah berhenti.
s. Kembalikan posisi klien
t. Buang peralatan yang tidak diperlukan sesuai dengan tempatnya
masing-masing
u. Buka sarung tangan dan cuci tangan
v. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
B. Injeksi Intradermal (ID)
1. Definisi
Injeksi ID adalah pemberian obat dengan cara memasukan obat ke
dalam jaringan dermis di bawah epidermis kulit dengan mengunakan
spuit.
2. Tujuan
a. Memasukkan sejumlah toksin atau obat yang disimpan dibawah kulit
untuk di absorbsi.
b. Metode untuk test diagnostic terdapat alergi atau adanya penyakit-
penyakit tertentu.
3. Tempat injeksi
a. Lengan bawah bagian dalam

9
b. Dada bagian atas
c. Punggung di bawah spatula
4. Peralatan
a. Buku catatan pemberian obat atau kartu obat
b. Kapas alkohol
c. Sarung tangan
d. obat yang sesuai
e. Spuit 1 ml
f. Pulpen/spidol
g. Bak spuit
h. Baki obat
i. Bengkok
5. Prosedur kerja
a. Cuci tangan
b. Siapkan obat dengan 5 benar
c. Identifikasi klien
d. Beri tahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
e. Atur klien pada posisi yang nyaman
f. Pakai sarung tangan
g. Pilih area penusukan yang bebas dari tanda kekakuan, peradangan,
atau rasa gatal. Menghindari gangguan absorbsi obat atau cedera dan
nyeri yang berlebihan
h. Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas alkohol,
dengan gerakan sirkuler dari arah dalam keluar dengan diameter sekitar
5 cm. Tunggu sampai kering. Metode ini dilakukan untuk membuang
sekresi dari kulit yang mengandung mikroorganisme.
i. Pegang kapas alkohol dengan jari-jari tengah pada tangan non
dominan.
j. Buka tutup jarum
k. Tempatkan ibu jari dengan tangan non dominan sekitar 2,5 cm
dibawah area penusukan, kemudian tarik kulit.

10
l. Dengan ujung jarum menghadap keatas dan menggunakan tangan
dominan, masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 15o.
m. Masukkan obat perlahan-lahan, perhatikan adanya jendalan
(jendalan harus terbentuk)
n. Cabut jarum dengan sudut yang sama seperti saat dimasukkan
o. Usap pelan-pelan area penyuntikkan (jangan melakukan massage
pada area penusukan).
p. Buat lingkaran dengan diameter 2,5 cm disekitar jendalan dengan
menggunakan pulpen. Intruksikan klien untuk tidak menggosok area
tersebut.
q. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak jika test alergi,
observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas, berkeringat
dingin, pingsan, mual, muntah).
r. Kembalikan posisi klien.
s. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan.
t. Buka sarung tangan.
u. Cuci tangan.
v. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.
w. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit, 15 menit dan
selanjutnya secara periodik.
C. Injeksi Intramuskular (IM)
1. Definisi
Injeksi intramuskular adalah pemberian obat dengan cara memasukkan
obat kedalam jaringan otot dengan menggunakan spuit.
2. Tujuan
Memasukkan sejumlah obat pada jaringan otot untuk di absorbsi.
3. Tempat injeksi
a. Pada daerah lengan atas (Deltoid)
b. Pada daerah Dorsogluteal (Glupeusmaximus)
c. Pada daerah bagian luar (Vastus Lateralis)
d. Pada daerah bagian depan (Rectus Femoralis)

11
4. Peralatan
a. Buku catatan atau pemberian obat
b. Kapas alkohol
c. Sarung tangan disposibel
d. Obat yang sesuai
e. Spuit 2-5 ml
f. Needle
g. Bak spuit
h. Baki obat
i. Plester
j. Kassa steril
k. Bengkok
5. Prosedur kerja
a. Cuci tangan
b. Siapkan obat sesuai dengan prinsip 5 benar
c. Identifikasi klien
d. Beri tahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
e. Atur klien pada posisi yang nyaman sesuai dengan kebutuhan dengan
menghindari gangguan absorbsi obat atau cidera dan nyeri yang
berlebihan
f. Pilih area penusukan yang bebas dari tanda kekakuan, peradangan
atau rasa gatal
g. Pakai sarun tangan
h. Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas dengan
menggunakan dengan gerakan sirkuler dan arah keluar dengan diameter
sekitar 5 cm. Tunggu sampai kering. Metode ini dilakukan untuk
membuang sekresi dari kulit yang mengandung mikroorganisme.
i. Pegang kapas alkohol dengan jari-jari tengah pada tangan non
dominan
j. Buka tutup jarum
k. Tarik kulit ke bawah kurang lebih 2,5 cm dibawah area penusukan
dengan tangan non dominan

12
l. Dengan cepat masukkan jarum dengan sudut 90o dengan tangan
dominan, masukkan sampai pada jaringan otot
m. Melakukan aspirasi dengan tangan non dominan menahan barel dari
spuit dan tangan dominan menarik plunger.
n. Observasi adanya darah pada spuit
o. Jika tidak ada darah masukkan obat perlahan-lahan
p. Jika ada darah :
1) Tarik kembali jarum dari kulit
2) Tekan tempat penusukan selama 2 menit
3) Observasi adanya hematoma atau memar
4) Jika perlu berikan plaster
5) Siapkan obat yang baru, mulai dengan langkah a, pilih area
penusukan yang baru
q. Cabut jarum perlahan-lahan dengan sudut yang sama seperti saat
dimasukkan, maka tekan area tersebut dengan menggunakan kassa steril
sampai darah berhenti.
r. Kembalikan posisi klien
s. Buang perlahan yang tidak diperlukan sesuai dengan tempatnya
masing-masing.
t. Buka sarung tangan
u. Cuci tangan
v. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.
D. Injeksi Intravena (IV)
1. Definisi
Injeksi intravena adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat
kedalam pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit.
2. Tujuan
a. Untuk memperoleh reaksi obat yang cepat di absorbsi dari pada
dengan injeksi parenteral lain.
b. Untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan
c. Untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar

13
3. Tempat injeksi
a. Pada lengan (vena basalika dan vena sefalika)
b. Pada tungkai (vena saphenous)
c. Pada leher (vena jugularis)
d. Pada kepala (vena frontalis atau vena temporalis)
4. Peralatan
a. Buku catatan pemberian obat atau kartu obat
b. Kapas alkohol
c. Sarung tangan
d. Obat yang sesuai
e. Spuit 2 ml- 5 ml
f. Bak spuit
g. Baki obat
h. Plester
i. Perlak pengalas
j. Pembendung vena (torniquet)
k. Kassa steril (bila perlu)
l. Bengkok
5. Prosedur kerja
a. Cuci tangan
b. Siapkan obat dengan prinsip 5 benar
c. Identifikasi klien
d. Beritahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
e. Atur klien pada posisi yang nyaman
f. Pasang perlak pengalas
g. Bebaskan lengan klien dari baju atau kemeja
h. Letakkan pembendung
i. Pilih area penusukan yang bebas dari tanda kekauan, peradangan, atau
rasa gatal. Menghindari gangguan absorbsi obat atau cidera dan nyeri
yang berlebihan
j. Pakai sarung tangan

14
k. Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas alkohol,
dengan gerakan sirkuler dari arah dalam keluar dengan diameter sekitar
5 cm. Tunggu sampai kering. Metode ini dilakukan untuk membuang
sekresi dari kulit yang mengandung mikroorganisme.
l. Pegang kapas alkohol, dengan jari-jari tengah pada tangan non
dominan
m. Buka tutup jarum
n. Tarik kulit kebawah kurang lebih 2,5 cm dibawah area penusukkan
dengan tangan non dominan. Membuat kulit menjadi lebih kencang dan
vena tidak bergeser, memudahkan penusukan.
o. Pegang jarum pada posisi 30o sejajar dengan vena yang akan ditusuk
perlahan dan pasti
p. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum kedalam
vena
q. Lakukan aspirasi dengan tangan non dominan menahan baral dari
spuit dan tangan dominan menarik plunger.
r. Observasi adanya darah pada spuit
s. Jika ada darah, lepaskan torniquet dan masukkan obat perlahan-lahan
t. Keluarkan jarum dengan sudut yang sama seperti saat dimasukkan,
sambil melakukan penekanan dengan menggunakan kapas alkohol pada
area penusukan.
u. Tutup area penusukan dengan menggunakan kassa steril yang
diberikan betadin
v. Kembalikan posisi klien
w. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan
x. Buka sarung tangan
y. Cuci tangan
z. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

15
2.4 Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan
A. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat menyiapkan obat:
1. Saat menyiapkan beberapa obat seperti heparin, insulin, digoxin lakukan
pemeriksaan ulang.
2. Jangan membuka bungkus obat jika dosis obat belum pasti. Buka sebelum
diberikan pada klien.
3. Ketika menyiapkan obat topikal, nasal, opthalmic dan obat-obat dan
kardus obat, ambil obat dari kotaknya dan periksa label untuk memastikan
isinya sesuai.
4. Saat mengambil pil dan botol, tuangkan pil tersebut pada tutupnya
kemudian letakkan pada tempat obat.
5. Tuangkan obat cair tidak pada bagian labelnya. Baca jumlah obat yang
dituang pada dasar meniscus.
6. Pisahkan obat-obat yang memerlukan data pengkajian awal, seperti tanda
vital.
7. Periksa tanggal kadaluarsa obat saat menyiapkannya.
B. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menyiapkan obat dan vial:
1. Jika obat perlu dicampurkan, ikuti petunjuk pada vial.
2. Pertahankan kesterilan spuit, jarum dan obat saat menyiapkannya.
3. Perlu pencahayaan yang baik saat menyiapkan obat ini.
4. Buang bekas ampul pada tempat khusus setelah dibungkus dengan kertas
tissue.
C. Hal-hal yang harus diperhatikan :
1. Alergen yang digunakan untuk test dapat menyebabkan reaksi sensitivitas
atau alergi.
2. Yakinkan tersedianya obat antidot (epinephrine hydrochloride,
bronchodilator dan antihistamin) di unit sebelum dimulai.
3. Reaksi alergi atau sensitivitas ini dapat fatal.
D. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Jika obat mual atau nyeri diberikan dalam bentuk yang berbeda (oral,
parenteral atau rektal), biarkan klien memilih sebelum menyiapkan obat.

16
2. Jika klien bingung, diperlukan bantuan untuk menstabilkan tempat
tusukan dan mencegah kerusakan jaringan dari jarum tempat injeksi IM.

17
BAB 3
PENUTUP

3.1 Simpulan
Pemberian obat parenteral/injeksi merupakan pemberian obat yang
dilakukan dengan menyuntikkan obat tersebut ke jaringan tubuh atau pembuluh
darah dengan menggunakan spuit. Ada beberapa cara pemberian obat secara
injeksi yaitu secara intra vena, intra muscular, intra dermal, dan sub cutan.

3.2 Saran
Perawat harus melakukan injeksi dengan baik dan berhati-hati agar tidak
terjadi kesalahan yang bisa merugikan klien dan dirinya sendiri. Dan selalu
memperhatikan prinsip pemberian obat yaitu benar klien, benar obat, benar
dosis, benar rute, benar waktu, dan benar dokumentasi.

18
DAFTAR PUSTAKA

Potter, PA & Perry, AG , (2005), Buku Ajar Fundamental Keperawatan :


Konsep, Proses, Dan Praktik Vol.1 Edisi 4, Alih Bahasa : Yasmin Asih, dkk,
Jakarta : EGC.

Anonym, Pemberian Obat Secara Parenteral, [pdf],


(http://fk.unsoed.ac.id/sites/default/files/img/modul%20labskill/genap%20I/Gena
p%20I%20-%20Pemberian%20Obat%20Secara%20Parenteral.pdf, diakses
tanggal 27 Maret 2017)

Suryana, 2014, Tindakan Pemberian Obat Dengan Cara Parenteral, [online],


(http://suryadun.blogspot.co.id/2014/10/tindakan-pemberian-obat-dengan-
cara.html, diakses tanggal 27 Maret 2017)

19