Anda di halaman 1dari 5

BAGAIMANA PENGUKURAN DISABILITAS PADA PASIEN OA LUTUT

Pengukuran diisabilitas pada pasien oa lutut digunakan indeks lequesne, dimana Penilaian

ini dibuat Lequesne untuk OA lutut dan OA panggul serta merupakan alat ukur yang memiliki

validitas dan realibilitas yang baik saat ini. Indeks Lequesne ini terdiri dari tiga bagian, kategori :

(Kalim, 2014).

1. Keluhan nyeri atau ketidaknyamanan (pain or discomfort)

Keluhan nyeri atau ketidaknyamanan ini berisi tentang gangguan nyeri ketika tidur malam,

kaku pagi hari, keluhan nyeri setelah berdiri 30 menit, keluhan nyeri ketika berjalan dan ketika

bangkit dari duduk tanpa bantuan tangan (Yaputri, 2005).

2. Jarak tempuh maksimal dalam berjalan (maximum distance walked)

Dalam bahasan jarak tempuh maksimal dalam berjalan disini pasien diminta mengisi

kemampuannya berjalan, dari berjalan diatas 1 km atau hanya dibawah 100m dan ada tidaknya

bantuan tongkat untuk berjalan.

3. Kemampuan beraktivitas fisik sehari-hari (activities of daily living)

Dalam pembahasan kemampuan beraktivitas fisik sehari-hari pasien diminta mengisi

kemampuannya dalam menjalankan aktivitas seperti naik turun tangga, jongkok, menekuk lutut,

dan berjalan pada lantai yang tidak rata.

Derajat beratnya penyakit osteoartritis berdasarkan Indeks Lequesne: dengan cara

mengkalkulasi terhadap ketiga parameter diatas kemudian mendapat derajat beratnya

osteoartritis dan disabilitas.

Bagaimana penentuan dosis dan pelaksanaan metode delorme ?

Metode DeLorme dilakukan dengan cara menentukan 10 RM dimana subyek satu beban

maksimal yang mampu digerakkan hingga 10 kali repetisi. Menurut Nascimento (2007) untuk

mendapatkan nilai 10 RM bisa menggunakan perhitungan Brzycki. Dalam perhitungan Brzycki

tedapat beberapa tahapan untuk sampai 10 RM. Tahap pertama adalah menentukan nilai 1 RM.

Penentuan 1 RM bisa dilakukan dengan tes submaksimal 1 RM. Subyek diperintahkan untuk

menggerakkan beban melewati seluruh lingkup gerak sendi, sesering yang dapat subyek lakukan

(dengan beban submaksimal). Selanjutnya jumlah pengulangan atau pengulangan yang dapat
dilakukan oleh subyek dikonversikan melalui diagram Delorme dengan rumus 1 RM = A. Kg x

100%/B%.

Tahap selanjutnya adalah menghitung nilai 10 RM setelah diketahui nilai 1 RM. 10 RM

dihitung menurut perhitungan Brzycki berdasarkan persentase dari nilai 1 RM yang dapat dilihat

pada tabel berikut ini :

TABEL 2.2
KONVERSI NILAI n RM
n RM 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Brzycki 100 95 90 88 86 83 80 78 76 75
% 1 RM
Beachle 100 95 93 90 87 85 83 80 77 75
(Baechle, 2000)
Prosedur pelaksanaan latihan penguatan metode DeLorme adalah : (1) tentukan kontrol

beban sebesar 10 RM ( 75 % 1 RM ), (2) pelaksanaan latihan beban dilakukan tiga set ,10 kali

pengulangan dengan beban 50% dari 10 RM, 10 kali pengulangan dengan beban 75% dari 10

RM, 10 kali pengulangan dengan beban 100% dari 10 RM, (3) setiap set dari latihan tersebut

diselingi oleh istirahat singkat.

METODE DELORME

Set Repertisi Beban

1. 10 X 50% X 75% 1 RM

2. 10 X 75% X 75 % 1 RM

3. 10 X 100% X 75 % 1 RM
Bagaimana penentuan dosis dan pelaksanaan metode oxford?
Metode ini merupakan metode yang berlawanan dengan metode DeLorme yang belakangan

ini sering dikenal dengan progressive resistance exercise dengan menggunakan pendekatan

latihan penguatan. Perbedaannya metode ini dirancang dengan mengurangi beban atau tahanan

yang bertujuan untuk mengurangi efek kelelahan pada otot akibat pemberian beban yang

berlebih pada set pertama.

Metode Oxford menggunakan 10 RM, yaitu beban maksimal yang dapat dilakukan atau

diangkat selama 10 kali gerakan atau kontraksi (Kisner, 2007). Setiap sesi latihan terdiri tiga set,

masing-masing set 10 pengulangan. Setiap sesi dari latihan diselingi istirahat sejenak.

Prosedur pelaksanaan latihan penguatan metode Oxford adalah : (1) menentukan kontrol

beban sebesar 10 RM, (2) pelaksanaan latihan beban dilakukan tiga set ,10 kali pengulangan

dengan beban 100% dari 10 RM, 10 kali pengulangan dengan beban 75% dari 10 RM, 10 kali

pengulangan dengan beban 50% dari 10 RM, (3) setiap set dari latihan tersebut diselingi oleh

istirahat singkat.

DOSIS LATIHAN METODE OXFORD

Set Pengulangan Beban

1. 10 X 100% X 75% 1 RM

2. 10 X 75% X 75% 1 RM

3. 10 X 50% X 75% 1 RM
BAGAIMANA MEKANISME PENGUATAN OTOT METODE DELORME DAPAT MENURUNKAN DISABILITAS
PASIEN OA LUTUT

Menurut Nugroho (2013) pada latihan strengthening dengan resistance exercise metode De Lorme akan
memberikan dampak atau respon terhadap otot. Adaptasi yang dapat terjadi setelah latihan diantaranya
adalah adaptasi neurologikal, adaptasi struktural dan adaptasi metabolik.

Adaptasi neurogikal pada orang tak terlatih yang memulai program latihan penguatan pertama kali akan
merasakan peningkatan kekuatan otot secara dramatis. Peningkatan ini akan berlanjut secara linear
selama 8-12 minggu. Adaptasi ini dapat terjadi dengan atau tanpa peningkatan cross sectional area.
(Nugroho, 2013).

Selain adaptasi neurogikal akan terjadi pula peningkatan koordinasi intermuscular yang merupakan
peningkatan kerjasama antara grup otot yang berbeda agar terjadi peningkatan efisiensi gerakan
koordinasi. Perubahan ini terjadi selama 2-3 minggu pertama setelah latihan rutin. Serta terjadi
peningkatan koordinasi intramuscular berupa peningkatan kerjasama antara serabut otot untuk
meningkatkan produksi tenaga. Perubahan ini terjadi selama 4-6 minggu (Syawaludin, 2013).

Pada latihan penguatan otot dengan metode delorme akan terjadi adaptasi struktural. Adaptasi
struktural pertama pada resistance exercise untuk meningkatkan kekuatan otot adalah meningkatnya
kekuatan jaringan itu sendiri. Hypertropi otot atau peningkatan ukuran otot skeletal dengan resistance
exercise dapat dilihat sebagai adaptasi struktural yang utama. Kompensasi ini merupakan penyesuaian
untuk meningkatkan kapasitas otot dalam menghasilkan tegangan sehingga kekuatan otot dapat
meningkat.

Hypertropi otot secara langsung berhubungan dengan sintesis material selular, terutama pada protein
elemen kontraktil. Peningkatan jumlah protein kontraktil terjadi secara paralel terhadap peningkatan
jumlah volume mitokondria dalam sel otot. Di dalam sel, myofibril menjadi bertambah ukuran dan
jumlah serta penambahan sarcomer terbentuk sebagai sintesa protein yang dipercepat dan secara
bersamaan menurunkan kerusakan protein. Dampak utama yang tampak pada hypertropi otot adalah
mening-katnya tegangan atau tenaga yang dihasilkan. Dan hypertropi dapat terjadi, yaitu Sarcoplasmic
hypertropi dan Sarcomere hypertropi (Siff dan Verkhoshansky, 2006) .

Pada sarcoplasmic hypertropi volume protein pada jaringan non-kontraktile dan cairan antara serabut
otot akan meningkat. Perbedaan antara sarcoplasmic hypertropi dengan sarcomere hypertropi adalah
peningkatan kepadatan myofibril.

Tipe hypertropi bergantung dari cara melatihnya. Repetisi tinggi/sedang (8-12 kali pengulangan) pada
latihan akan lebih menyebabkan sarcoplasmic hypertropi, dan pada repetisi rendah (1-6 kali
pengulangan) pada latihan akan lebih menyebabkan sarcomere hypertropi (Nugroho, 2013).

Pada adaptasi metabolik terdapat tiga enzim kompleks yang terlibat dalam adaptasi resistance exercise
yaitu phosphocreatine ATP kompleks, glycolysis/glycogenolosis kompleks dan lypolysis kompleks.
Adaptasi ini merupakan adaptasi yang berkaitan dengan sistem energi yang digunakan selama latihan
(Siff dan Verkhoshansky, 2006).

Dari berbagai hal yang dijelaskan diatas penguatan otot metode delorme sangat efektif dalam penguatan
otot, peningkatan volume otot, dan efisiensi penggunaan energi yang akan berdampak langsung dalam
penurunan disabilitas pasien OA yang banyak memiliki komponen keseharian yang melibatkan kekuatan
otot.

BAGAIMANA MEKANISME PENGUATAN OTOT METODE OXFORD DAPAT MENURUNKAN DISABILITAS


PASIEN OA LUTUT

Penguatan otot metode oxford akan memberikan dampak yang hampir sama dengan metode delorme
berupa adaptasi adaptasi neurologikal, adaptasi struktural dan adaptasi metabolic (Syawaludin, 2013).
Akan ada adaptasi neurological berupa penguatan otot secara dramatis atau spontan karena adanya
peningkatan koordinasi intermuscular maupun intra muscular.
Peningkatan koordinasi intermuscular pada penguatan otot metode oxford akan berpengaruh pada pola
gerak yang lebih terstruktur dan harmonis, yang akan memberikan dampak efisiensi gerak dan kontraksi
otot pada otot selektif. Hal ini juga akan berdampak pada aktivitas fungsional pasien OA lutut, dalam
aktivitas kseharian berupa berjalan, naik turun tangga, dan lainnya.

Penguatan otot metode oxford akan memberikan dampak berupa hypertropi otot. Pada hypertropi otot
terjadi peningkatan protein kontraktil otot, volume mitokondria, myofibril dan sarkomer pada sel. Yang
berdampak pada peningkatan masa otot.

Adaptasi metabolic juga terjadi pada penguatan otot penggerak lutut metode oxford. Adaptasi ini berupa
efisiensi sistem energi pada saat latihan yang melibatkan tiga enzim yaitu phosphocreatine ATP
kompleks, glycolysis/glycogenolosis kompleks dan lypolysis kompleks.

Dari berbagai hal yang dijelaskan diatas penguatan otot metode oxford juga efektif dalam penguatan
otot, peningkatan volume otot, dan efisiensi penggunaan energi yang akan berdampak langsung dalam
penurunan disabilitas pasien OA yang banyak memiliki komponen keseharian yang melibatkan kekuatan
otot.

Selain dari hal tersebut pemberian modifikasi beban ke arah lateral lutut berupa ikatan thera band pada
latihan penguatan otot penggerak lutut pasien OA genu varus akan mengurangi beban pada permukaan
sendi lutut di sisi medial karena akan terjadi tarikan ke sisi lateral lutut. Modifikasi juga dilakukan pada
OA genu valgus berupa penambahan gym ball di sisi medial lutut saat pelaksanaan proses latihan
penguatan otot, hal ini akan memberikan efek berupa dekompresi di sisi lateral sendi, sehingga
permukaan sendi yang rusak akan berkurang tekanannya.

KENAPA TIDAK ADA PERBEDAAN OXFORD DAN DELORME

Pada kedua metode latihan tersebut yaitu metode De Lorme dan metode Oxford menggunakan prinsip
yang sama dalam menyusun program latihan. Kedua metode tersebut menggunakan prinsip overload
yang sama, karena tidak terdapat perbedaan jumlah repetisi, perbedaan jumlah set dan perbedaan
jumlah beban yang digunakan dalam setiap setnya dan juga menggunakan prinsip specificity yang sama
yaitu latihan diberikan secara aktif pada otot yang secara berangsur-angsur ditambahkan bebannya yaitu
setelah 4 minggu latihan serta pemberian latihan pada kedua metode tersebut juga memiliki frekuensi
dan waktu yang sama yaitu frekuensi 2 kali seminggu selama 4 minggu. Jadi walaupun teknik dan
metode latihan yang digunakan berbeda-beda, tetapi akan tetap dapat meningkatkan kekuatan otot jika
prinsip yang digunakan adalah sama yaitu prinsip untuk meningkatkan kekuatan otot.

UNTUK PERTANYAAN YANG LAIN BIASANYA TENTANG TEKNIS PELAKSANAAN NANTI PAK, KALAU YANG
BAKU DITANYA BIASANYA INI..