Anda di halaman 1dari 3

SINDROMA KORONER AKUT (SKA)

1. DEFINISI
Sindroma koroner akut (SKA), termasuk unstable angina (UA) dan infark
miokard (MI), adalah bentuk penyakit jantung koroner (PJK) yang merupakan
penyebab paling umum dari kematian akibat penyakit kardiovaskular (CVD).
Penyebab SKA adalah adanya ruptur plak aterosklerotik dengan adanya kepatuhan
platelet, aktivasi, agregasi, dan aktivasi kaskade pembekuan. Pada akhirnya, terbentuk
gumpalan dan terdiri dari fibrin dan trombosit (Dipiro et al., 2009). Commented [CE1]: Dipiro JT, Robert LT, Gary RM, Barbara
GW, Michael P. 2005. Pharmacoterapy: A Pathophysiologic
SKA menggambarkan spektrum manifestasi klinis yang mengikuti gangguan Approach, Ssixth Edition. Mc Graw Hill Publisher. New York.

dari plak arteri koroner yang diperumit oleh kondisi trombosis, embolisasi dan
berbagai tingkat obstruksi terhadap perfusio miokardial. Gambaran klinis yang
muncul akan bergantung pada luas dan keparahan iskemia miokard (Camm et al.,
2006). Commented [CE2]: Camm AJ, Luscher TF, Serruys PW. 2006.
The ESC Textbook of Cardiovascular Medicine. John Wiley & Sons
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan elektrokardiogram Ltd. New Jersey.

(EKG), dan pemeriksaan marka jantung, SKA dibagi menjadi: (PERKI, 2015) Commented [CE3]: PERKI. 2015. Pedoman Tatalaksana
Sindrom Koroner Akut, Edisi Ketiga. Centra Communication. Jakarta.
1. Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI: ST segment elevation
myocardial infarction)
2. Infark miokard dengan non elevasi segmen ST (NSTEMI: non ST segment
elevation myocardial infarction)
3. Angina Pektoris tidak stabil (UAP: unstable angina pectoris)

Infark miokard dengan STEMI merupakan indikator kejadian oklusi total


pembuluh darah arteri koroner. Keadaan ini memerlukan tindakan revaskularisasi
untuk mengembalikan aliran darah dan reperfusi miokard secepatnya; secara
medikamentosa menggunakan agen fibrinolitik atau secara mekanis, intervensi
koroner perkutan primer. Diagnosis STEMI ditegakkan jika terdapat keluhan angina
pektoris akut disertai elevasi segmen ST yang persisten di dua sadapan yang
bersebelahan. Inisiasi tatalaksana revaskularisasi tidak memerlukan menunggu hasil
peningkatan marka jantung (PERKI, 2015).

Diagnosis NSTEMI dan angina pektoris tidak stabil ditegakkan jika terdapat
keluhan angina pektoris akut tanpa elevasi segmen ST yang persisten di dua sadapan
yang bersebelahan. Rekaman EKG saat presentasi dapat berupa depresi segmen ST,
inversi gelombang T, gelombang T yang datar, gelombang T pseudo-normalization,
atau bahkan tanpa perubahan. Sementara Angina Pektoris tidak stabil dan NSTEMI
dibedakan berdasarkan kejadian infark miokard yang ditandai dengan peningkatan
marka jantung. Marka jantung yang lazim digunakan adalah Troponin I/T atau CK-
MB. Bila hasil pemeriksaan biokimia marka jantung terjadi peningkatan bermakna,
maka diagnosis menjadi NSTEMI. Pada Angina Pektoris tidak stabil marka jantung
tidak meningkat secara bermakna. Pada SKA, nilai ambang untuk peningkatan CK-
MB yang abnormal adalah beberapa unit melebihi nilai normal atas (upper limits of
normal, ULN). Jika pemeriksaan EKG awal tidak menunjukkan kelainan (normal)
atau menunjukkan kelainan yang nondiagnostik sementara angina masih berlangsung,
maka pemeriksaan diulang 10-20 menit kemudian. Jika ulangan EKG tetap
menunjukkan gambaran nondiagnostik sementara keluhan angina sangat sugestif
SKA, maka pasien dipantau selama 12-24 jam. EKG diulang tiap 6 jam dan setiap
terjadi angina berulang (PERKI, 2015).

2. EPIDEMIOLOGI
Penyakit kardiovaskular merupakan penyakit tidak menular yang
menyebabkan sebanyak >17 juta kematian di dunia setiap tahun (30% dari semua
kematian), 80% dari yang terjadi pada negara-negara dengan pendapatan rendah dan
menengah, dan angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 23,6 juta pada tahun
2030. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2012 penyakit
kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama dari seluruh penyakit tidak
menular dan bertanggung jawab atas 17,5 juta kematian atau 46% dari seluruh
kematian penyakit tidak menular. Dari data tersebut diperkirakan 7,4 juta kematian
adalah serangan jantung akibat penyakit jantung koroner (PJK) dan 6,7 juta adalah
stroke (Tumade dkk., 2016). Commented [CE4]: Tumade B, Jim EL, Joseph VFF. 2016.
Prevalensi sindrom koroner akut di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
Berdasarkan American Heart Association (AHA), terdapat sebanyak 71,3 juta Manado periode 1 Januari 2014 – 31 Desember 2014. Jurnal e-Clinic
()eCl). 4 (1): 223-230.
penduduk Amerika yang mengalami beberapa bentuk dari penyakit kardiovaskular
(CVD) pada tahun 2003. CVD bertanggung jawab terhadap 1 juta kematian pada
tahun 2003 dan diproyeksikan untuk menghasilkan $403.1 juta biaya kesehatan
langsung dan tidak langsung pada tahun 2006. Di antara penduduk Amerika dengan
CVD, sebanyak 13,2 juta diperkirakan memiliki CAD, yang mana bertanggung jawab
atas mayoritas kematian yang dikaitkan dengan CVD (Kleinschmidt KC, 2006). Commented [CE5]: Kleinschmidt KC. 2006. Epidemiology and
Pathophysiology of Acute Coronary Syndrome. Johns Hopkins
Advanced Studies in Medicine. 6 (6B): S477-S482.
SKA merupakan manifestasi dari CAD yang meliputi acute myocardial
infarction (AMI) dan unstable angina (UA), yang merupakan kondisi tengah
berbahaya antara stable angina dan myocardial infarction. AHA memperkirakan
sebanyak 700.000 penduduk Amerika akan mendapatkan gangguan koroner pertama
pada tahun 2006, dan sebanyak 500.000 akan mengalami kondisi berulang.
Mmeskipun kematian akibat CAD mengalami penurunan sejak tahun 1950, sekitar
40% penduduk Amerika yang mengalami gangguan koroner tahun ini akan
mengalami kematian. Risiko kematian pada kelompok yang mengalami gangguan
koroner memiliki kisaran sekitar 4-6 kali dibandingkan populasi umum (Kleinschmidt
KC, 2006).
Sekitar 30% dari pasien serangan jantung di United Kingdom mengalami UAP
dalam kurun waktu dibawah tiga bulan. SKA juga mempengaruhi ribuan warga
Australia. Diperkirakan 69.900 orang berusia >25 tahun mengalami serangan jantung
pada tahun 2011. Selanjutnya, PJK berkontribusi 15% dari semua kematian di
Australia pada tahun 2011. Masyarakat Aborigin dan Torres Strait Islander yang
dirawat di rumah sakit dengan SKA mengalami angka kematian dua kali lebih
banyak. Jika SKA tidak ditangani secara cepat dan adekuat, maka kondisi tersebut
dapat menyebabkan kematian. Pada kenyataannya, SKA merupakan salah satu dari
lima penyakit tersering yang menyebabkan kematian di United Kingdom setelah
berbagai macam kanker dan stroke (Tumade dkk., 2016).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menunjukkan
prevalensi penderita PJK sebesar 0,5% dari seluruh pasien penyakit tidak menular.
Daerah tertinggi berdasarkan terdiagnosis dokter adalah Sulawesi Tengah (0,8%)
diikuti Sulawesi Utara, DKI Jakarta, Aceh masing-masing (0,7%) (Tumade dkk.,
2016).