Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS

a. FAKTA DAN MASALAH

1. Melanggar Undang-Undang Kewarganegaraan untuk mendapatkan status WNI

Fakta :

Kalangan akademisi pun turut menanggapi penetapan status WNI Arcandra Tahar oleh
Menkumham Yasonna Laoly. Riawan Tjandra, dosen Universitas Atmajaya, Yogyakarta,
menyebut dua sisi untuk menilai tindakan Menkumham.
“Dari sisi kebijakan, bisa dipahami dalam konteks tanggung jawab negara terhadap warga
negaranya dengan menyelamatkan status kewarganegaraan Arcandra. Namun, dari sisi
hukum, prosesnya melanggar undang-undang,” kata Riawan.
Riawan kemudian menyitir Pasal 19 Undang-Undang Kewarganegaraan yang menyebut
seorang warga negara asing harus bertempat tinggal di Indonesia selama lima tahun berturut-
turut atau 10 tahun tidak berturut-turut untuk bisa mengajukan permohonan sebagai WNI.
Rincian permohonan tersebut dicantumkan dalam pasal 2 dan pasal 3 Peraturan Pemerintah
Nomor 2 Tahun 2007 tentang tata cara memperoleh, kehilangan, pembatalan, dan
memperoleh kembali kewarganegaraan RI.
“Setiap warga negara asing yang mengikuti proses naturalisasi harus menjalani proses yang
cukup panjang. Dia harus mengajukan permohonan terlebih dahulu, kemudian dilakukan
penelitian oleh pejabat pemerintah. Kemudian yang menetapkan dia menjadi WNI atau tidak
adalah presiden melalui Kepres (keputusan presiden),” kata Riawan.
Menurut Riawan, perlakuan terhadap Arcandra begitu berbeda dibandingkan warga negara
asing lainnya yang ingin menjadi WNI.
“Padahal, Pasal 27 Undang-Undang Dasar 1945 mengatur adanya prinsip persamaan
kedudukan warga negara di hadapan hukum dan pemerintahan. Ini kan ada perbedaan
perlakuan. Jadi dia (Arcandra) mendapat privilege lebih dari calon warga negara Indonesia
lainnya,” kata Riawan.

2. Ikut Kewarganegaraan Ayah atau Ibu

Fakta:

Pada usia 21 tahun mendatang Cinta Laura harus memilih kewarganegaraan Jerman mengikuti
sang ayah, atau Indonesia dan mengikuti sang ibunda. Namun Cinta mengatakan untuk
mempermudah karier internasionalnya, dia akan memilih negara Jerman. Saat ini usia Cinta baru
menginjak 18 tahun, sehingga dia mengaku masih memikirkan kewarganegaraan mana. Hal itu
pun sempat membuat Cinta bingung sebab dia sangat mencintai kedua negara tersebut.

3. Malapetaka bagi keturunan dua warga negara


Fakta

Pada saat peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke 71 pada tahun 2016, masyarakat
dihebohkan oleh pemberitaan seorang siswi anggota Pasukan Pengibar Bendera yang
tersandung kasus kewarganegaraan ganda. Siswi tersebut adalah Gloria Natapradja, salah
seorang anggota Paskibraka yang bertugas untuk mengibarkan bendera pada saat upacara
peringatan HUT RI di Istana Negara pada 17 Agustus 2016. Setelah menempuh seleksi dan
latihan selama berbulan-bulan, Gloria digugurkan dari formasi tepat dua hari sebelum
upacara berlangsung. Hal itu terjadi karena belakangan diketahui Gloria memiliki passpor
Perancis. Gloria memang dilahirkan dari pasangan berbeda kewarganegaraan. Ibunya
seorang WNI dan ayahnya warga negara Perancis. Selama ini kita tahu bahwa anak yang
lahir dari perkawinan berbeda kewarganageraan bisa mempunyai kewarganegaraan ganda
sebelum 18 tahun. Anak tersebut bisa memilih salah satu kewarganegaraan nya saat ia telah
menginjak 18 tahun. Dalam kasus Gloria, pihak keluarga menganggap Gloria mempunyai
hak selayaknya Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia. Dalam hal ini hak untuk
menjadi pasukan Paskibraka, karena ia belum menginjak 18 tahun maka ia otomatis
mempunyai dua kewarganegaraan.

4. Dampak negatif jika Indonesia terapkan dwikewarganegaraan

Fakta:

Metrotvnews.com, Jakarta: Sejumlah pihak meminta agar Pemerintah menerapkan asas dwi
kewarganegaraan di Indonesia. Namun, Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas
Indonesia, Hikmahanto Juwana melihat banyak sisi negatif jika Indonesia menerapkan dwi
kewarganegaraan.
Sisi negatif itu di antaranya, warga negara Indonesia di luar negeri seolah memiliki harga.
Hikmahanto mencontohkan pada kasus penculikan dan penyanderaan WNI di Filipina Selatan.
Dalam kasus ini, penyandera meminta uang tebusan kepada Indonesia. Jika begitu, Hikmahanto
khawatir siapa yang bakal bertanggung jawab atas kasus penculikan bila dwi kewarganegaraan
diterapkan.
Hikmahanto mengatakan, dwi kewarganegaraan juga bisa dimanfaatkan oleh warga negara
Indonesia yang ingin menghindari pajak tinggi di Tanah Air. Mereka akan memilih menjadi
warga negara lain yang menerapkan sistem pajak rendah.
"Mereka-mereka yang punya uang banyak justru yang akan memanfaatkan dwi kewarganegaraan
ini," kata Hikmahanto dalam acara PrimeTime News Metro TV, Rabu (17/8/2016) malam.
Kemudian, dwi kewarganegaraan juga dikhawatirkan akan dimanfaatkan warga negara asing
yang ingin menguasai dan memiliki properti di Indonesia. Mereka akan memanfaatkan paspor
Indonesia untuk menguasai properti dan kepemilikan tanah di Indonesia.
"Rakyat Indonesia akan semakin sulit mendapatkan tanah. Karena mereka berinvestasi dan
membuat harga tanah semkain mahal," jelas Hikmahanto.

B. Pembahasan
Dari beberapa masalah dan fakta –fakta yang terjadi terihat banyak sekali problematika dalam
hak untuk memilih kewarganaegaraan serta kewajiban yang harus diikuti di Indonesia:

1. Melanggar Undang-Undang Kewarganegaraan untuk mendapatkan hak status WNI


kembali

Solusi:

Pemerintah harus tegas dalam menerapkan Undang-Undang yang berlaku. Dalam kasus ini
memang sejaki lahir beliau tinggal Indonesia lalu setelah dewasa beliau sempat membuat
sumpah mengabdi kepada negara lain dan mendapatkan hak negara tersebut. Seperti yang
kita ketahui beliau merupakan pejabat, pejabat juga manusia. Jangan semena-mena karena
dia pejabat karena jika sekalinya pemerintah tidak tegas dan asal langsung mengembalikan
hak status WNI dengan cara mudah tanpa peraturan yang berlaku maka maka akan semkaim
banyak orang-orang yang punya duit banyak untuk mempercepat kasus ini. Sudah jelas
sekali bahwa banyak orang yang melakukan ini, Oleh karena itu media harus lebih hati-hatin
dalam suatu datavyang benar dan tidak memanupulasi . Intinya pemeritah harus tegas
dalam` peraturan undang-undang mengenai kewarganegaraan

2. Ikut Kewarganegaraan Ayah atau Ibu

Solusi :

Sejak dahulu diakui bahwa keturunan termasuk dalam status personal. Negara - negara
common law berpegang teguh pada prinsip domisili ius soli. Sedangkan negara-negara civil
law berprinsip pada domisili ius sanguitis. Biasanya hukum yang dipakai adalahhukum
personal dari ayahnya sebagai kepala keluarga pada masalah-masalah keturunan secara sah.
Hal ini merupakan sebuah kesatuan hukum dalam keluarga dan demi kepentingan
kekeluargaan, serta demi stabilitas dan kehormaan sang isteri dan hak - hak matrialnya.
Sistem kewarganegaraan dari ayah adalah yang terbanyak digunakan di negara-negara lain,
misalkan Jerman. Dalam hal ini Cinta laura mengalami masalah tentang status
kewarganegaraannya yang timbul karena melihat status kewarganegaraannya. Melihat kasus
tersebut perolehan kewarganegaraan Cinta Laura diperoleh saat mengijak usia dewasa yakni
21 tahun yang mana Cinta Laura harus mementukan kewarganegaraannya. Bila mengikuti
peraturan yang lama kewarganegaraan anak dibawah umur mengikuti kewarganegaraan
ayahnya. Namun setelah umur 17 tahun ia dapat menentukan sendiri kewarganegaraan yang
ia inginkan. Dalam peraturan baru anak dalam perkawinan campuran saat dibawah
pengampuan atau belum dewasa dapat mengikuti kewarganegaraan ibu atau ayahnya, dan
pada saat umur 21 tahun atau menginjak dewasa ia diwajibkan untuk menentukan
kewarganegaraannya.

3. Malapetaka bagi keturunan dua warga negara

Solusi :
Indonesia tidak menganut dwikewarganegaraan sebagaimana ditegaskan pada Pasal 23
Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006.

Sebaliknya, berdasarkan pasal tersebut, seseorang kehilangan statusnya sebagai warga


negara Indonesia apabila dia memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri
dan secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing
atau bagian dari negara asing tersebut.

Masalahnya, apabila seseorang telah kehilangan status WNI lantaran mengucapkan janji
setia kepada negara asing, dia tidak bisa begitu saja memperoleh kembali status WNI dengan
membuang status kewarganegaraannya yang lama.

Berdasarkan Pasal 9 UU 12 tahun 2006, seseorang harus mengajukan permohonan kembali


sebagai WNI pada saat sudah bertempat tinggal di Indonesia selama lima tahun tahun
berturut-turut atau 10 tahun tidak berturut-turut.

Hal ini seharusnya menjadi peringatan untuk pemerintah indonesia agar lebih memperketat
pemberian status warga negara indonesia kepada WNI yang mengajukan permohonan
kembali untuk statusnya sebagai WNI. Karena apapun alasan dan pertimbangannya warga
negara indonesia harus mengikuti prosedur dan tata cara pemberian status kewarganegaraan
berdasarkan konstitusi yang berlaku di indonesia. Karena akan menimbulkan preseden buruk
di masyarakat jika hal ini tidak ditindak lanjuti oleh pemerintah indonesia.

4. Dampak negatif jika Indonesia terapkan dwikewarganegaraan

Solusi :

Dwi kewarganegaraan pada dasarnya dilarang oleh UU No. 12/2006. Amandemen UU dengan
pemberlakuan asas dwi-kewarganegaraan akan memberi hak bagi kawula negeri diaspora WNI
di luar negeri untuk memperoleh warganegara kedua di mana anak-anak mereka lahir. Para
Dubes khawatir, ada ‘muatan’ dalam usulan ini untuk kepentingan lebih strategis yang menjadi
kepentingan negeri luar dalam mengakomodir WNI keturunan yang bermukim di Indonesia.

Beberapa alternatif berupa dwi-kewarganegaraan secara selektif, tetapi dengan ketat


mempertimbangkan sepenuhnya kepentingan keamanan nasional. Pemberlakuan selektif ini
hanya bertujuan memberi manfaat bagi diaspora WNI sendiri, bukan terjebak dalam kepentingan
negara lain. Pemikiran ini juga ditolak oleh para Dubes.

Menurut hemat saya, pemberlakukan asas kewarganegaraan secara selektif —tidak berlaku
universal—maka kita tak perlu mengamandemen UU No. 12/2006. Caranya adalah melalui
pembuatan perjanjian bilateral, misalnya dengan pemerintah Amerika Serikat karena konsentrasi
WNI yang besar di sana. Perjanjian bilateral ini akan menjadi dasar hukum penyimpangan dari
hukum nasional, atau menjadi lex specialis terhadap UU No. 12/2006. Ini tidak bertentangan
dengan hukum ketatanegaraan.
Pengakuan terbatas kewarganegaraan ganda secara selektif, misalnya dengan Amerika Serikat
bisa dipertimbangkan karena sama-sama dalam sistem demokrasi yang menjunjung tinggi hak
asasi manusia, serta aman secara ideologis, politis, maupun secara ekonomi dan sosial. Berbeda
halnya dengan negara-negara yang secara ideologis, politis, dan catatan sejarah yang bermasalah
di masa lampau. Ini membahayakan keamanan negara dan perlindungan kepada rakyat. Ke
depan, bahaya narkoba, senjata, perdagangan manusia, termasuk terorisme, dan kejahatan
ekonomi akan semakin marak. RRT kini menjadi negeri sumber narkoba dan berbagai barang
terlarang lainnya. Argumen saya ‘tidak terbang’.

Para Dubes berkeberatan karena pertama, pemberlakuan kewarganegaraan ganda yang universal
–alasan selektif ditolak karena ‘diskriminatif—bukanlah persoalan enteng karena memerlukan
dukungan SDM dan sistem administrasi negara yang kokoh, tidak tertembus oleh kecurangan
maupun ‘abuse of power’ demi beberapa lembar dolar maupun potensi ancaman keamanannya.
Dalam kondisi negara yang begitu terkontaminasi dengan korupsi dan penyalahgunaan
kekuasaan para dubes tidak yakin terhadap gagasan saya.

Saya menggaris bawahi kini kepentingan keamanan telah menyebabkan kecenderungan dunia
mulai bergeser. Belanda dan Prancis yang menganut ius solli kini sedang mempertimbangkan
kembali asas ius sanguinis, yaitu kewarganegaraan berdasarkan pertalian darah langsung, salah
satu dari ayah atau ibu atau dari keduanya. Ketika tekanan demografis dengan banjirnya imigran
Muslim ke Eropa mungkin muncul sikap paranoia bahwa suatu ketika negeri-negeri itu akan
memiliki mayoritas penduduk Muslim, baik karena konversi maupun karena emigrasi.