Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN MONITORING

ATAS PRODUKSI PROYEK 438 UNIT KERETA

I. Dasar Monitoring:
1. Surat Tugas No. 06/ST.PKPT/2018 tanggal 09 Mei 2018.
2. Surat Perjanjian No. KL.702/V/19/KA-2017, tanggal 09 Mei 2018, tentang
Pengadaan Investasi 438 Unit Kereta TA. 2017.
3. Addendum I No. KL.702/X/11/KA-2017 tanggal tanggal 06 Oktober 2017.
4. Addendum II No. KL.702/II/48/KA-2018 tanggal tanggal 28 Februari 2018.

II. Ruang Lingkup Monitoring


1. Obyek Monitoring: Melakukan evaluasi realisasi produksi kereta 438 sesuai
dengan Kontrak No. KL.702/V/19/KA-2017, tanggal 09 Mei 2018, tentang
Pengadaan Investasi 438 Unit Kereta TA. 2017 sebesar
Rp.2.291.369.686.750,-.
2. Sasaran Monitoring: Produksi 438 Unit Kereta.

III. Kondisi
1. Sesuai kontrak No. KL.702/V/19/KA-2017, tanggal 09 Mei 2018, tentang
Pengadaan Investasi 438 Unit Kereta TA. 2017, yang terakhir diubah dengan
addendum ke II No. KL.702/II/48/KA-2018 tanggal tanggal 28 Februari 2018,
kami membandingkan antara jadwal Masa Penyerahan Produk Paling
Lambat (MPPL) dengan realisasi Berita Acara Serah Terima Produk (BAST),
diketahui kondisi sebagai berikut:
Tabel 1.1 Realisasi Penyerahan Produk Kereta 438
No. Tahapan Formasi MPPL BAST Keterangan
1 Train set 1 10 K3 + 1 M +1 P 12/15/2017 2/19/2018 Terlambat 66 hari
2 Train set 2 10K1+1M+1P 12/18/2017 2/19/2018 Terlambat 63 hari
3 Train set 3 10 K1 + 1 M + 1 P 1/30/2018 3/14/2018 Terlambat 43 hari
4 Train set 4 9 K3 + 1 M + 1 P 1/30/2018 3/14/2018 Terlambat 43 hari
5 Train set 5 7 K3 + 1 M + 1 P 1/30/2018 3/14/2018 Terlambat 43 hari
6 Train set 6 10 K1 + 1 M + 1 P 3/30/2018 3/29/2018 Lebih Cepat 1 hari
7 Train set 7 10 K1 + 1 M + 1 P 4/14/2018 4/13/2018 Lebih Cepat 1 hari
8 Train set 8 10 K1 + 1 M + 1 P 4/28/2018 4/19/2018 Lebih Cepat 9 hari

1
No. Tahapan Formasi MPPL BAST Keterangan
9 Train set 9 4 K1+4 K3+1 M+1P 5/13/2018 5/7/2018 Lebih Cepat 6 hari
10 Train set 10 4 K1+4 K3+1 M+1 P 5/17/2018 5/7/2018 Lebih Cepat 10 hr
11 Train set 11 4 K Sleeper 6/10/2018 6/8/2018 Lebih cepat 2 hari
10 K1 + 1 M + 1 P 6/30/2018 6/4/2018 Lebih Cepat 26 hr
12 Train set 12 10 K1+ 1 M+1 P 7/30/2018 - Telah dikirim,
belum BAST
13 Train set 13 4 K1+4 K3+1 M+1P 7/30/2018 -
14 Train set 14 4 K1+4 K3+1 M+1P 7/30/2018 -
15 Train set 15 4 K1+4 K3+1 M+1P 8/30/2018 -
16 Train set 16 10 K1 + 1 M + 1 P 8/30/2018 -
17 Train set 17 14 K3 + 1 M + 1 P 9/30/2018 -
18 Train set 18 4 K1+4 K3+1 M+1P 9/30/2018 -
19 Train set 19 10 K1 + 1 M + 1 P 10/30/2018 -
20 Train set 20 10 K1 + 1 M + 1 P 10/30/2018 -
21 Train set 21 4 K1+4 K3+1 M+1P 10/30/2018 -
22 Train set 22 6 K1 + 1 M + 1 P 11/30/2018 -
23 Train set 23 10 K1 + 1 M + 1 P 11/30/2018 -
24 Train set 24 4 K1+4 K3+1 M+1P 11/30/2018 -
25 Train set 25 4 K1+4 K3+1 M+1P 12/30/2018 -
26 Train set 26 10 K1 + 1 M + 1 P 1/30/2019 -
27 Train set 27 4 K1+4 K3+1 M+1P 1/30/2019 -
28 Train set 28 4 K1+4 K3+1 M+1P 1/30/2019 -
29 Train set 29 10 K1 + 1 M + 1 P 2/28/2019 -
30 Train set 30 10 K1 + 1 M + 1 P 2/28/2019 -
31 Train set 31 4 K1+4 K3+1 M+1P 2/28/2019 -
32 Train set 32 15 K3 + 2 M + 2 P 3/30/2019 -
33 Train set 33 4 K1+4 K3+1 M+1P 3/30/2019 -
34 Train set 34 2 K1+7 K3+1 M+1 P 3/30/2019 -
35 Train set 35 2 K1+7 K3+1 M+1 P 4/30/2019 -
36 Train set 36 2 K1+7 K3+1 M+1 P 4/30/2019 -
37 Train set 37 2 K1+7 K3+1 M+1 P 4/30/2019 -
38 Train set 38 15 K3 + 1 M + 1 P 5/30/2019 -

Berdasarkan tabel di atas diketahui PT INKA (Persero) mengalami


keterlambatan penyerahan untuk Train Set (TS) 1-5. Atas keterlambatan
tersebut PT INKA (Persero) berpotensi menanggung risiko denda sebesar
2‰ (dua per mil) dari harga barang setiap tahapan penyerahan tanpa PPN

2
10% dikalikan jumlah hari kalender keterlambatan, dengan denda
maksimum 5% (lima persen) dari harga barang setiap penyerahan dalam
masing-masing tahapan tanpa PPN10%. Terhadap besaran potensi denda
tersebut kami sajikan dalam tabel dibawah ini:

Tabel 1.3 Potensi Pengenaan Denda atas Keterlambatan


No. Tahap Denda Harga Penyerahan (Rp) Jumlah (Rp)
1 Tahap I Penyerahan 1 5% 125.308.587.068,00 6.265.429.353,00
2 Tahap I Penyerahan 2 5% 165.061.188.743,00 8.253.059.437,00
Total 14.518.488.790,00

Namun terhadap penyerahan tahapan berikutnya PT INKA (Persero) mampu


mengirimkan produk lebih cepat dari yang ditagetkan. Sampai dengan
pelaksanaan monitoring ini berakhir, PT INKA (Persero) telah melakukan
pengiriman sebanyak 12 TS dan 4 Sleeper Car. Sedangkan untuk TS 12
saat ini telah dilakukan pengiriman ke Balai Yasa Surabaya Gubeng, namun
belum dapat dilakukan BAST dikarenakan menunggu penyerahan TS 13 dan
TS 14 (satu rangkaian penyerahan tahap ketiga). Dalam hal ini perlu
dilakukan negosiasi dengan PT KAI (Persero), agar penyerahan yang lebih
cepat dari MPPL untuk dapat dikompensasikan dengan besaran potensi
denda keterlambatan penyerahan TS 1-5.
2. Untuk produksi, saat ini PT INKA (Persero) telah menyelesaikan TS 13, TS
14, dan TS 15, namun masih terdapat kekurangan komponen pada kereta
Train Set ke 15 dengan rincian sebagai berikut:
No. Komponen Status Keterangan
1 Interior OK OK
2 Mekanik OK OK
3 Elektrik NOK Modul PIDS (proses fitting)

Berdasarkan konfirmasi dengan karyawan Divisi Logistik, bahwa proses


fitting PIDS menjadi tanggung jawab PT INKA Multi Solusi Trading, karena
pengadaan PIDS berupa pengadaan system hingga terinstalasi.

3
Sedangkan untuk Train Set 16 saat ini masih dalam proses pengerjaan,
namun masih terdapat kekurangan komponen sebagai berikut:

No. Komponen Jumlah Keterangan


1 Interior 18 Barang Ready di IMS
2 Mekanik 1 -
3 Elektrik 37 Komponen air conditioning 7500 telah tiba di
workshop INKA, dan 36 komponen lainnya belum
datang

Selain kekurangan komponen di atas, pada train set 16 masih terdapat


pekerjaan dalam proses penyelesaian yaitu Bogie finishing, Carbody
painting, dan Finishing di Takt 2 hingga Takt 11. Berdasarkan MPPL,
penyelesaian produk TS 13 s/d 16 tersebut masih on schedule. Namun
demikian apabila dapat diselesaikan lebih cepat, diharapkan dapat
mengurangi besarnya denda keterlambatan.

3. Berdasarkan hasil uji petik terhadap dokumen check sheet pengadaan


proyek 438 kereta kami menemukan bahwa terdapat deviasi antara realisasi
Purchase Request (PR) dengan kontrak pembelian untuk trainset
berikutnya. Adapun deviasi tersebut adalah sebagai berikut:

TOTAL PR PO BELUM
NO KOMPONEN PO TERBIT
ITEM TERBIT
1 RAW MATERIAL 1721 1551 170
2 INTERIOR 234 211 23
3 ELEKTRIK 397 397 0
4 MEKANIK 173 163 10
TOTAL 2525 2322 203

Dari 203 Purchase Order yang belum terbit di atas, kami melakukan uji petik
sebanyak 25 Purchase Request dengan hasil evaluasi sebagai berikut:
a. 16 PR, dalam proses pengadaan. Dengan demikian kedatangan material
mengalami keterlambatan dari jadwal kedatangan yang ditentukan dalam
PR.
b. 5 PR di delete. 2 PR material Box Pump Submersible di delete karena
BOM copy paste dari proyek sebelumnya. Untuk proyek 438 Car, material

4
ini tidak diperlukan. Sedangkan 3 PR, di delete untuk diganti dengan PR
yang baru.
c. Terdapat 2 PR (material Double Seat Sleeper Car dan Single Seat
Sleeper Car), belum diproses karena belum ada addendum kontrak
penjualan dengan PT KAI (Persero).
d. 2 PR terbit PO Manual.
Secara detain sebagaimana pada Lampiran 1.

IV. Kesimpulan

Berdasarkan hasil evaluasi di atas dapat disimpulkan:


1. Produksi pada TS 1 s/d TS 5, mengalami keterlambatan yang signifikan.
Kedepan perlu dilakukan pengendalian yang ketat untuk pemenuhan jadwal
penyerahan sesuai MPPL, utamanya oleh Divisi Perencanaan &
Pengendalian Produksi, Divisi Teknologi dan Divisi Logistik.
2. Penyerahan setelah TS 5, dapat memenuhi atau bahkan lebih cepat dari
jadwal penyerahan menurut MPPL. Hal ini perlu dipertahankan untuk
penyerahan TS selanjutnya. Diharapkan hal ini dapat dikompensai dengan
denda keterlambatan TS 1 – 5.
3. Perlu ditingkatkan efisiensi dalam proses pengadaan. Sebagai indikasi
adanya PR yang di delete seharusnya tidak ada (Mis. PR Box Pump
Submersible). Apabila hal ini terlanjur dibeli, akan menimbulkan over stock.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas direkomendasikan:
1. Divisi Logistik agar meningkatkan pengendalian pengadaan terhadap PR
yang belum diproses kontrak maupun yang proses pengadaannya telah
melampaui jadwal pemakaian material menurut fitting schedule. Karena hal
ini dapat menghambat proses produksi. Namun demikian terhadap PR yang
diterima, Divisi Logistik juga perlu melakukan verifikasi ulang untuk
meminimalkan terjadinya over stock akibat kesalahan dari proses
sebelumnya (misalnya: tidak cek stock, BOM copy paste, kesalahan
perhitungan, dll)
2. Divisi Rendalprod agar meningkatkan verifikasi penerbitan PR, antara lain
berkaitan dengan pengecekan stock dan akurasi Bill of Material (BOM) yang

5
diterima dari Divisi Teknologi, sehingga tidak terbit PR yang tidak perlu (PR-
delete).
3. Divisi Teknologi agar meningkatkan akurasi pembuatan kebutuhan material
(BOM), baik dalam jumlah maupun spesifikasi yang dibutuhkan. Adanya
BOM copy paste dari proyek sebelumnya agar betul-betul direviu. Demikian
juga dalam perhitungan jumlah kebutuhan, harus lebih akurat.

Mengetahui,
GM Audit Internal SM Audit

Sarmiatun Achmad Karsono