Anda di halaman 1dari 5

Tahap-Tahap Pemberdayaan

Menurut Sumodiningrat (1999) pemberdayaan tidak bersifat selamanya,


melainkan sampai target masyarakat mampu untuk mandiri, meski dari jauh di
jaga agar tidak jatuh lagi (Sulistyani, 2004). Dilihat dari pendapat tersebut berarti
pemberdayaan melalui suatu masa proses belajar hingga mencapai status mandiri,
meskipun demikian dalam rangka mencapai kemandirian tersebut tetap dilakukan
pemeliharaan semangat, kondisi dan kemampuan secara terus menerus supaya
tidak mengalami kemunduran lagi. Sebagaimana disampaikan dimuka bahwa
proses belajar dalam rangka pemberdayaan masyarakat akan berlangsung secara
bertahap.Tahap-tahap yang harus dilalui tersebut adalah meliputi:
1. Tahap penyadaran dan tahap pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan
peduli sehingga merasa membutuhkan kapasitas diri.
2. Tahap transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan
keterampilan agar terbuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar sehingga
dapat mengambil peran di dalam pembangunan.
3. Tahap peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan keterampilan sehingga
terbentuklah inisiatif dan kemampuan inovatif untuk mengantarkan pada
kemandirian (Sulistyani, 2004)
Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan berdasarkan beberapa langkah
yang perlu diperhatikan, baik dalam lingkup umum maupun khusus. Pertama,
melakukan analisis kebutuhan. Seorang agen harus dapat mengenali apa
sesungguhnya yang menjadi kebutuhan masyarakat. Ia harus melakukan need
assesment. Analisis kebutuhan dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan di dalam
memetakan apa yang mestinya diperbuat untuk pemberdayaan masyarakat.
Kedua, melakukan analisis situasi sosial atau social analysis, yaitu melakukan
kajian terhadap berbagai hambatan dan potensi, baik fisik maupun non-fisik yang
mempengaruhi atas hidupnya masyarakat, dan kemudian menempatkan hasil
analisis kebutuhan tersebut di dalam peta hambatan dan potensi yang dimaksud.
Ketiga, menemukan berbagai program yang layak dijadikan sebagai basis
pengembangan masyarkat, mungkin akan ditemui sekian banyak program yang
relevan dengan analisis kebutuhan dan analisis situasi sosialnya.
Keempat, menentukan alternatif program yang diprioritaskan. Kelima,
melakukan aksi pemberdayaan masyarakat sesuai dengan program prioritaskan.
Keenam, melakukan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan atau kegagalan
program dan faktor-faktor penyebabnya. Melalui evaluasi ini akan ditindaklanjuti
program berikutnya. Masyarakat merupakan obyek tetapi juga sekaligus subyek
pembangunan, oleh karena itu kegiatan yang dilakukan tenaga pengembang
masyarakat (pekerja sosial) sejauh mungkin diarahkan kepada terwujudnya
masyarakat yang lebih mandiri, yakni masyarakat yang mampu merencanakan,
mengambil keputusan, melaksanakan dan menilai usaha dalam memenuhi
kebutuhannya.
Sumaryadi (2004) mengemukakan bahwa kegitan pemberdayaan pada
setiap individu dalam suatu organisasi merupakan suatu siklus kegiatan yang
terdiri atas:
1) Menumbuhkan keinginan pada diri seseorang untuk berubah dan
memperbaiki, yang merupakan titik awal perlunya pemberdayaan. Tanpa
adanya keinginan untuk berubah dan memperbaiki maka semua upaya
pemberdayaan masyarakat yang dilakukan tidak akan memperoleh
perhatian, simpati, atau patisipasi masyarakat.
2) Menumbuhkan kemauan dan keberanian untuk melepaskan diri dari
kesenangan dan atau hambatan-hambatan yang dirasakan, untuk kemudian
mengambil keputusan mengikuti pemberdayaan demi terwujudnya
perubahan dan perbaikan yang diharapkan.
3) Mengembangkan kemauan untuk mengikuti atau mengambil bagian dalam
kegiatan pemberdayaan yang memberikan manfaat atau perbaikan keadaan.
4) Peningkatan peran atau partisipasi dalam kegiatan pemberdayaan yang telah
dirasakan manfaat / perbaikannya.
5) Peningkatan peran dan kesetiaan pada kegiatan pemberdayaan, yang
ditunjukkan berkembangnya motivasi-motivasi untuk melakukan
perubahan.
6) Peningkatan efektivitas dan efisiensi kegiatan pemberdayaan.
7) Peningkatan kompetensi untuk melakukan perubahan melalui kegiatan
pemberdayaan baru.
Tentang hal ini, Tim Delivery (2004) menawarkan tahapan-tahapan
kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dimulai dari proses seleksi lokasi
sampai dengan pemandirian masyarakat. Secara rinci masing-masing tahapan
tersebut adalah sebagai berikut.
1) Tahap 1. Seleksi lokasi
2) Tahap 2. Sosialisasi pemberdayaan masyarakat
3) Tahap 3. Proses pemberdayaan masyarakat
a. Kajian keadaan pedesaan partisipatif
b. Pengembangan kelompok
c. Penyusunan rencana dan pelaksanaan kegiatan
d. Monitoring dan evaluasi partisipatif
4) Tahap 4. Pemandirian masyarakat
Adapun penjelasan tahap-tahap diatas sebagai berikut.
1. Seleksi Lokasi/ Wilayah
Seleksi wilayah dilakukan sesuai dengan kriteria yang disepakati oleh
lembaga, pihak-pihak terkait dan masyarakat. Penetapan kriteria penting
agar pemilihan lokasi dilakukan sebaik mungkin, sehingga tujuan
pemberdayaan masyarakat akan tercapai seperti yang diharapkan.
2. Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat
Sosialisasi merupakan upaya mengkomunikasikan kegiatan untuk
menciptakan dialog dengan masyarakat. Melalui sosialisasi akan membantu
untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan pihak terkait tentang
program dan atau kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah
direncanakan.
Proses sosialisasi menjadi sangat penting karena akan menentukan minat
atau ketertarikan masyarakat untuk berpartisipasi (berperan dan terlibat)
dalam program pemberdayaan masyarakat yang dikomunikasikan.
3. Proses Pemberdayaan Masyarakat
Hakekat pemberdayaan masyarakat adalah untuk meningkatkan
kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam meningkatkan taraf
hidupnya. Dalam proses tersebut, masyarakat bersama-sama melakukan hal-
hal berikut:
a. Mengidentifikasi dan mengkaji potensi wilayah, permasalahan serta
peluang-peluangnya.
Kegiatan ini dimaksudkan agar masyarakat mampu dan percaya diri
dalam mengidentifikasi serta menganalisa keduanya, baik potensi
maupun permasalahannya. Pada tahap ini diharapkan dapat diperoleh
gambaran mengenai aspek sosial, ekonomi dan kelembagaan.
Proses ini meliputi:
1) Persiapan masyarakat dan pemerintah setempat untuk melakukan
pertemuan awal dan teknis pelaksanaannya,
2) Persiapan penyelenggaraan pertemuan,
3) Pelaksanaan kajian dan penilaian keadaan, dan
4) Pembahasan hasil dan penyusunan rencana tindak lanjut.
b. Menyusun rencana kegiatan kelompok, berdasarkan hasil kajian
meliputi:
1) Memprioritaskan dan menganalisa masalah-masalah
2) Identifikasi alternatif pemecahan masalah yang terbaik
3) Identifikasi sumberdaya yang tersedia untuk pemecahan masalah
4) Pengembangan rencana kegiatan serta pengorganisasian
pelaksanaannya
c. Menerapkan rencana kegiatan kelompok
Rencana yang telah disusun bersama dengan dukungan fasilitasi
dari pendamping selanjutnya diimplementasikan dalam kegiatan yang
konkrit dengan tetap memperhatikan realisasi dan rencana awal.
Termasuk dalam kegiatan ini adalah pemantauan pelaksanaan dan
kemajuan kegiatan menjadi perhatian semua pihak, selain itu juga
dilakukan perbaikan jika diperlukan.
d. Memantau proses dan hasil kegiatan secara terus-menerus secara
partisipatif (participatory monitoring and ecaluation/ PME).
PME ini dilakukan secara mendalam pada semua tahapan
pemberdayaan masyarakat agar prosesnya berjalan dengan tujuannya.
PME adalah suatu proses penilaian, pengkajian dan pemantauan
kegiatan, baik prosesnya (pelaksanaan) maupun hasil dan dampaknya
agar dapat disusun proses perbaikan kalau diperlukan.
4. Pemandirian Masyarakat
Berpegang pada prinsip pemberdayaan masyarakat yang bertujuan
untuk memandirikan masyarakat dan meningkatkan taraf hidupnya, maka
arah pemandirian masyarakat adalah berupa pendampingan untuk
menyiapkan masyarakat agar benar-benar mampu mngelola sendiri
kegiatannya.

Daftar pustaka
Delivery. 2004. Pemberdayaan Masyarakat.

http://www.deliveri.org/guidelines/policy/pg_3/pg_3_sumary.htm.

Dhakidae, D. 1979. Teknologi. Prisma No.6 (Juni 1979):1

Sulistyani,A.T., 2004. Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan. Yogyakarta :


Graha Ilmu
Sumaryadi, I, N. 2004. Perencanaan Pembangunan Daerah Otonom dan

Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Citra Utama

Sumodiningrat, G, Pemberdayaan Masyarakat dan Jaring Pengaman Sosial,


Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999