Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gigi dan mulut merupakan salah satu bagian terpenting dalam tubuh manusia.
Fungsi utama dari gigi adalah untuk mengunyah makanan. Gigi yang rusak atau
sakit dapat berdampak pada kesehatan tubuh lainnya. Penyakit gigi dan mulut yang
paling banyak ditemui di masyarakat adalah karies gigi dan penyakit jaringan
periodontal (Penda dkk., 2015).
Kesehatan gigi dan mulut di Indonesia masih perlu mendapatkan perhatian
yang serius dari tenaga kesehatan, baik dokter gigi, dokter gigi spesialis maupun
perawat gigi. Hal ini dapat dilihat dari angka prevalensi penyakit gigi dan mulut,
yang 90% masih diderita oleh penduduk Indonesia (Anitasari dan Rahayu, 2005).
Data empiris World Health Organization pada tahun 2012 menunjukkan bahwa
sekitar 60-90% kerusakan gigi diderita anak usia sekolah dan hampir 100% dialami
orang dewasa (Huda dkk., 2015).
Masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering terjadi di Indonesia
adalah karies gigi dan penyakit periodontal yang keduanya disebabkan oleh plak
gigi. Plak gigi merupakan deposit lunak yang terdiri dari mikroorganisme dan
melekat erat pada permukaan gigi (Cholid dkk., 2015). Pengendalian plak dapat
dilakukan secara mekanis maupun kimiawi, secara mekanis bisa dengan cara
menggosok gigi dengan benar dan penggunaan benang gigi (dental floss). Secara
kimiawi bisa dilakukan dengan menggunakan pasta gigi. Kebiasaan memakan
makanan yang berserat dapat mengurangi pembentukan plak, dan berperan sebagai
pengendalian plak secara alamiah (Chemiawan dkk., 2007).
Periodontitis adalah inflamasi dan infeksi yang terjadi pada jaringan
periodontal dan tulang alveolar penyangga gigi. Periodontitis terjadi apabila
inflamasi dan infeksi yang terjadi pada gingiva (gingivitis) yang tidak dirawat atau
perawatan yang tertunda. Infeksi dan inflamasi dari gingiva menyebar ke ligamen
dan tulang alveolar yang menyangga gigi. Hilangnya dukungan menyebabkan gigi
dapat terlepas dari soketnya. Periodontitis merupakan penyebab utama tanggalnya
gigi pada orang dewasa. Penyakit ini jarang sekali terjadi pada anak anak tetapi
meningkat seiring bertambahnya usia (Fotek, 2012).
Periodontitis kronis, sebelumnya dikenal sebagai periodontitis dewasa (adult
periodontitis) atau periodontitis dewasa kronis (chronic adult periodontitis), adalah
bentuk paling umum dari periodontitis. Hal ini disebabkan perkembangan penyakit
ini yang relatif lambat. Periodontitis kronis didefinisikan sebagai penyakit infeksi
yang mengakibatkan peradangan dalam jaringan pendukung gigi, hilangnya
perlekatan gingiva yang progresif, dan kehilangan tulang. Definisi ini menguraikan
karakteristik utama secara klinis dan etiologi dari penyakit tersebut, yaitu : 1)
pembentukan plak mikrobial, 2) inflamasi periodontal, dan 3) kehilangan
perlekatan dan tulang alveolar (Novak dan Novak, 2012).
Secara umum trauma adalah sebuah luka atau jejas baik fisik maupun psikis.
Trauma dengan kata lain disebut injuri atau wound, dapat diartikan sebagai
kerusakan atau luka yang biasanya disebabkan oleh tindakan-tindakan fisik dengan
terputusnya kontinuitas normal suatu struktur. Definisi lain menyebutkan bahwa
trauma gigi adalah kerusakan yang mengenai jaringan keras gigi dan atau
periodontal karena sebab mekanis. Berdasarkan definisi-definisi tersebut maka
trauma gigi anterior merupakan kerusakan jaringan keras gigi dan atau periodontal
karena kontak yang keras dengan suatu benda yang tidak terduga sebelumnya pada
gigi anterior baik pada rahang atas maupun rahang bawah atau kedua-duanya.
Avulsi adalah terlepasnya gigi dari soketnya karena suatu trauma mekanis18.
Avulsi biasanya menyertai luka-luka multipel pada wajah dan biasanya pada korban
kecelakaan sepeda motor atau luka karena peralatan industri atau pertanian, dan
pada pasien yang luka tembak ringan. Dalam klasifikasi Ellis dan Davey avulsi gigi
termasuk dalam klasifikasi trauma kelas lima. Secara klinis dan foto ronsen, gigi
tidak ada di dalam socket. Tulang alveolar, sementum, ligament periodontal,
gingiva, dan pulpa, akan mengalami kerusakan pada saat gigi secara total keluar
dari socketnya
Replantasi gigi avulsi bertujuan untuk mengembalikan fungsi normal gigi serta
mencegah terjadinya ankilosis dan resorbsi akar. Replantasi segera, sebelum 30
menit gigi avulsi tersebut berada diluar soket, menjanjikan penyembuhan dan
reformasi ligamen periodontal sampai 90%. Lamanya gigi berada di luar soket dan
kondisi penyimpanan sangat berpengaruh terhadap sel-sel ligamen periodontal agar
tetap vital. Sel-sel ligamen periodontal yang nekrotik berakibat pada resorpsi
progresif akar gigi.

B. Tujuan Penulisan Makalah


1. Untuk mengetahui penyakit periodontitis kronis dan replantasi
2. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari periodontitis dan replantasi
3. Untuk menjelaskan kuretase sebagai penatalaksanaan periodontitis kronis
4. Untuk menjelaskan splinting sebagai penatalaksanaan gigi avulsi setelah
replantasi
C. Tinjauan Pustaka
1. Penyakit Periodontal
Penyakit periodontal merupakan suatu penyakit jaringan penyangga gigi
yaitu yang melibatkan gingival, ligament periodontal, sementum, dan tulang
alveolar karena suatu proses inflamasi. Inflamasi berasal dari gingival
(gingivitis) yang tidak dirawat, dan bila proses berlanjut maka akan
menginvasi struktur di bawahnya sehingga akan terbentuk poket yang
menyebabkan peradangan berlanjut dan merusak tulang serta jaringan
penyangga gigi, akibatnya gigi menjadi goyang dan akhirnya harus dicabut.
Penyakit periodontal adalah infeksi yang telah mengenai jaringan
pendukung gigi. Penyakit periodontal terjadi bila racun bakteri dan enzim
merusak jaringan pendukung gigi dan tulang. Plak yang melekat pada gigi
jika tidak dibersihkan dalam waktu 48 jam akan menjadi suatu deposit keras
yang disebut kalkulus. Kalkulus yang berada di bawah gusi akan
menyebabkan infeksi dan inflamasi, proses ini tidak menimbulkan rasa sakit
sehingga seringkali seseorang tidak sadar jika dia sudah terjangkit penyakit
periodontal. Penyakit yang paling sering mengenai jaringan periodontal
adalah gingivitis dan periodontitis.
Bedasarkan umur skor penyakit periodontal tertinggi (terparah) adalah
usia 45-65 tahun (18,75%), sedangkan skor penyakit periodontal yang paling
rendah adalah usia 25-34 tahun (6,12%). Perilaku tentunya juga dapat
mempengaruhi status kesehatan seseorang. Perilaku dapat mencakup
pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku menyikat gigi yang baik tentu
dapat mengendalikan salah satu faktor dalam proses terjadinya karies dan
penyakit periodontal yaitu plak (Simson, 2011).
2. Klasifikasi penyakit periodontal
Klasifikasi penyakit periodontal (Novak, 2011):
a. Penyakit Gingiva (Gingivitis)
1) Plak
Gingivitis dapat terjadi pada periodonsium dengan hilangnya kehilangan
perlekatan. Macam-macam gingivitis :
a) Gingivitis hanya disebabkan oleh plak
b) Gingivitis disebabkan oleh faktor sistemik
c) Gingivitis disebabkan oleh obat
d) Gingivitis disebabkan oleh kekurangan gizi
2) Non Plak
Pengurangan jaringan gingiva meninggalkan ulserasi pada gingiva.
Macam-macam penyakit gingiva :
a) Penyakit gingiva disebabkan oleh bakteri tertentu
b) Penyakit gingiva disebabkan oleh virus tertentu
c) Penyakit gingiva disebabkan oleh jamur tertentu
d) Penyakit gingiva disebabkan oleh faktor genetik
e) Radang gusi yang disebabkan oleh kondisi sistemik
f) Radang gusi yang disebabkan oleh lesi traumatik
g) Radang gusi yang disebabkan oleh reaksi terhadap benda asing
h) Radang gusi tanpa diketahui penyebabnya

b. Periodontitis
Periodontitis didefinisikan sebagai penyakit peradangan jaringan pendukung
gigi yang disebabkan oleh mikroorganisme atau kelompok mikroorganisme
spesifik yang mengakibatkan kerusakan progresif dari ligamen periodontal
dan tulang alveolar dengan peningkatan menyelidik pembentukan mendalam,
resesi, atau keduanya.
1) Periodontitis Kronis
Periodontitis kronis berhubungan dengan akumulasi plak dan kalkulus dan
umumnya memiliki waktu lambat tetapi periode kehancuran lebih cepat
dapat diamati. Peningkatan laju perkembangan penyakit dapat disebabkan
oleh dampak dari faktor-faktor lokal, sistemik, atau lingkungan yang dapat
mempengaruhi interaksi host-bakteri normal.
2) Periodontitis Agresif
Periodontitis agresif berbeda dari periodontitis kronis terutama pada
pesatnya laju perkembangan penyakit, ketiadaan akumulasi plak dan
kalkulus, dan riwayat keluarga terkait genetik.
3) Periodontitis sebagai Manifestasi Penyakit Sistemik
Efek utama dari gangguan ini adalah melalui perubahan dalam mekanisme
pertahanan host seperti neutropenia dan kekurangan adhesi leukosit.

c. Nekrotik Periodontitis
1) Necrotizing Ulcerative Gingivitis
NUG biasanya terlihat sebagai lesi akut yang merespon baik terhadap
terapi antimikroba.
2) Necrotizing Ulcerative Periodontitis
NUP berbedadari NUG dalam hilangnya perlekatan dan kondisi tulang
alveolar.

d. Abses Periodontal
Abses periodontal adalah infeksi purulen local dari jaringan periodontal
jaringan. Abses periodontal adalah suatu infeksi yang terletak di sekitar poket
periodontal serta dapat mengakibatkan kerusakan ligamentum periodontal dan
tulang alveolar.

e. Periodontitis akibat Lesi Endodontik


1) Endodontik- Lesi Periodontal
Dalam lesi ini nekrosis pulpa mendahului perubahan periodontal. Sebuah
lesi periapikal yang berasal dari infeksi pulpa dan nekrosis dapat mengalir
ke rongga mulut melalui periodontal ligament sehingga terjadi kerusakan
pada ligamen periodontal dan tulang alveolar yang berdekatan.
2) Lesi Periodontal – Endodontik
Dalam lesi periodontal-endodontik, infeksi bakteri dari poket periodontal
yang menyebabkan kehilangan perlekatan dan mungkin menyebar ke akar
melalui kanal aksesori sehingga terjadi nekrosis pulpa.
3) Kombinasi Keduanya
f. Developmental dan Deformitas atau Dapatan
Kondisi ini berkontribusi pada inisiasi dan perkembangan penyakit
periodontal melalui peningkatan akumulasi plak.

3. Periodontitis Kronis
a. Definisi
Periodontitis didefinisikan sebagai penyakit inflamatori pada
jaringan periodontal, yang disebabkan oleh mikroorganisme atau
sekelompok mikroorganisme spesifik. Akibatnya adalah terjadi
kerusakan progresif pada ligamen perriodontal dan tulang alveolar
dengan membentuk poket, resesi gingiva atau keduanya (Carranza,
2012).
Periodontitis berdasarkan gejala klinis gambaran radiografis
diklasifikasikan menjadi periodontitis kronis dan periodontitis agresif.
Periodontitis kronis merupakan penyakit yang secara progresif berjalan
lambat. Penyakit ini disebabkan oleh faktor lokal dan sistemik.
Walaupun periodontitis kronis merupakan penyakit yang paling sering
diamati pada orang dewasa, periodontitis kronis dapat terjadi pada anak-
anak dan remaja sebagai respon terhadap akumulasi plak dan kalkulus
secara kronis (Lebukan, 2013).
b. Etiologi
Etiologi penyakit periodontal terdiri dari dua bagian yaitu faktor
lokal dan faktor sistemik. Faktor lokal berperan mempengaruhi
keberadaan plak bakteri yang umumnya sebagai pencetus utama dari
penyakit. Faktor lokal yang menyebabkan terjadinya periodontitis.
Akumulasi plak dipengaruhi oleh faktor kebersihan ringga mulut,
malposisi gigi, anatomi gigi, restorasi, dan kontur gingiva. Adanya
bakteri tertentu dalam jumlah yang banyak. Keadaan ini dipengaruhi
oleh maturasi plak di margin gingiva, pertahanan host, kedalaman poket,
adanya restorasi, lingkungan subgingiva, kalkulus, dan kebiasaan
merokok. Terjadi destruksi jaringan ikat. Keadaan destruksi ini
dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik, inflamasi. Faktor-faktor tersebut
yang menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan (Nurul, 2002).
Berbagai faktor sistemik akan memperberat keadaan yang terjadi
akibat faktor-faktor lokal. Faktor sistemik terdiri dari keadaan sistemik
dan gangguan sistemik. Keadaan sistemik seperti hormonal, nutrisional,
genetik, berkaitan dengan umur, ras, asupan obat. Sedangkan gangguan
sistemik adalah penyakit atau abnormalitas tubuh seperti diabetes
militus, AIDS, kehamilan, menstruasi (Nurul, 2002).
c. Patogenesis
Penyakit periodontal di awali ketika plak atau kalkulus
terakumulasi pada permukaan gigi. Kalkulus sendiri merupakan faktor
yang mempunyai kontribusi sebagai faktor etiologi penyakit periodontal.
Kalkulus adalah plak gigi yang terklasifikasi, tidak mengandung
mikroorganisme hidup seperti plak gigi. Meskipun demikian, permukaan
yang berpori memungkinkan terakumulasinya plak. Pembentukan plak
atau biofilm tersebut dapat dicegah dengan cara mekanis dengan
menggosok gigi dan membersihkan interdental gigi (Asykarie dan
Faizah, 2017).
Patofisiologi penyakit periodontal terbagi menjadi beberapa
tahap, lesi awal timbul 2-4 hari diikuti gingivitis tahap awal, dalam 2-3
minggu akan menjadi gingivitis yang cukup parah. Perubahan terlihat
pertama kali di sekitar pembuluh darah gingiva yang kecil disebelah
apikal dari epitelium jungtional. Pembuluh ini mulai bocor dan kolagen
perivaskuler mulai menghilang, digantikan dengan beberapa sel
inflamasi, sel plasma dan limfosit terutama limfosit T cairan jaringan dan
protein serum. Pada tahap gingivitis awal Bila deposit plak masih tetap
ada, perubahan inflamasi tahap awal akan berlanjut disertai dengan
meningkatnya aliran cairan gingiva dan migrasi Polymorphonuclear
Neutrophils (PMN) (Asykarie dan Faizah, 2017).
Tahap lanjut gingivitis terbentuk dalam waktu 2-3 minggu, akan
terbentuk gingivitis yang lebih parah. Perubahan mikroskopik terlihat
terus berlanjut, pada tahap ini sel-sel plasma terlihat mendominasi.
Gingiva sekarang berwarna merah, bengkak, dan mudah berdarah. Bila
iritasi plak dan inflamasi terus berlanjutmaka epithelium jungtion akan
semakin rusak. Sel-sel epithelial akan berdegenarasi dan terpisah,
perlekatannya pada permukaan gigi akan terlepas sama sekali. Inflamasi
jaringan periodontal yang sudah disertai dengan migrasi epitel jungtional
ke arah apikal dan terdapat kehilangan perlekatan tulang serta resorpsi
tulang alveolar disebut dengan periodontitis (Asykarie dan Faizah,
2017).
d. Terapi perawatan penyakit periodontal
Untuk menghindari timbulnya penyakit gusi dan jaringan
periodontal, maka sangatlah penting untuk menjaga kesehatan gigi dan
mulut sejak dini. Dental Health Education (DHE) untuk menambah
pengetahuan masyarakar dalam meningkatkan kebersihan gigi dan
mulutnya. Melalui pendidikan kesehatan gigi ini pula akan dapat
meningkatkan kesadaran masyarakar akan pentingnya menjaga
kebersihan mulut, serta merubah sikap dan perilaku masyarakar dalam
memelihara kebersihan mulutnya. Selain itu perlu dilakukan perawatan
pembersihan karang gigi, seperti scaling, root planning, maupun kuretase
(Asykarie dan Faizah, 2017).
Prosedur untuk menghilangkan faktor-faktor etiogenik pada
poket periodontal bisa dilakukan dengan kuretase tertutup dan flap
kuretase, untuk menghilangkan adanya lesi. Poket periodontal sering
menyertai beberapa penyakit periodontal, misalnya pada gingivitis
ataupun periodontitis kronis. Poket periodontal yang berisi jaringan
patogen dan debris harus segera dihilangkan sehingga tidak meluas
menjadi lebih parah. Perawatan alternatif poket periodontal salah satunya
adalah dengan dilakukan kuretase. Kuretase dilakukan berdasarkan
indikasi pada pasien. Kuretase dapatdilakukan sebagai bagian dari
prosedur perlekatan baru pada saku infraboni dengan kedalaman sedang
yang berada pada sisi yang dapat diakses. Selain itu, kuretase sering juga
dilakukan pada kunjungan berkala dalam rangka fase pemeliharaan,
sebagai metode pemeliharaan pada daerah-daerah dengan rekurensi atau
kambuhnya inflamasi dan pendalaman poket (Dinyati dan Adam, 2016).
Splinting diharapkan dapat membantu peningkatan perlekatan
jaringan periodontal pada kasus-kasus periodontitis. Splin periodontal
adalah alat yang digunakan untuk mengimobilisasi atau menstabilkan
gigi-gigi yang mengalami kegoyangan dan memberi hubungan yang baik
antara tekanan oklusal dengan jaringan periodontal, dengan cara
membagi tekanan oklusal ke seluruh gigi secara merata sehingga dapat
mencegah kerusakan lebih lanjut akibat kegoyangan tersebut. Pemakaian
splin periodontal dapat dilakukan saat sebelum, selama, atau setelah
dilakukan perawatan jaringan periodontal pada gigi goyang (Octavia
dkk., 2014).
Penatalaksanaan periodontitis menurut (Fitria, 2006) terbagi
menjadi tiga fase yaitu :
1) Fase I
Fase terapi inisial, merupakan fase dengan cara menghilangkan beberapa
faktor etiologi yang mungkin terjadi tanpa melakukan tindakan bedah
periodontal atau melakukan perawatan restoratif dan prostetik. Beberapa
prosedur yang dilakukan pada fase I
a) Memberi pendidikan pada pasien tentang kontrol plak
b) Scaling dan root planning
c) Perawatan karies dan lesi endodontik
d) Menghilangkan restorasi gigi yang over kontur dan over hanging
e) Penyesuaian oklusal (occlusal ajustment)
f) Splinting temporer pada gigi yang goyah
g) Perawatan ortodontik
h) Analisis diet dan evaluasinya
i) Reevaluasi status periodontal setelah perawatan tersebut diatas
2) Fase II
Fase terapi korektif, termasuk koreksi terhadap deformitas anatomikal
seperti poket periodontal, kehilangan gigi dan disharmoni oklusi yang
berkembang sebagai suatu hasil dari penyakit sebelumnya dan menjadi
faktor predisposisi atau rekurensi dari penyakit periodontal. Beberapa
prosedur yang dilakukun pada fase ini :
a) Bedah periodontal, untuk mengeliminasi poket dengan cara antara
lain : kuretase gingiva, gingivektomi, prosedur bedah flap
periodontal, rekonturing tulang (bedah tulang) dan prosedur
regenerasi periodontal (bone and tissue graft)
b) Penyesuaian oklusi
c) Pembuatan restorasi tetap dan alat prostetik yang ideal untuk gigi
yang hilang
3) Fase III
Fase terapi pemeliharaan, dilakukan untuk mencegah terjadinya
kekambuhan pada penyakit periodontal. Beberapa prosedur yang
dilakukan pada fase ini :
a) Riwayat medis dan riwayat gigi pasien
b) Reevalusi kesehatan periodontal setiap 6 bulan dengan mencatat scor
plak, ada tidaknya inflamasi gingiva, kedalaman poket dan mobilitas
gigi
c) Melekukan radiografi untuk mengetahui perkembangan periodontal
dan tulang alveolar tiap 3 atau 4 tahun sekali
d) Scalling dan polishing tiap 6 bulan sekali, tergantung dari evektivitas
kontrol plak pasien dan pada kecenderungan pembentukan kalkulus.
Aplikasi tablet fluoride secara topikal untuk mencegah karies.

4. Avulsi gigi
Avulsi didefinisikan sebagai keluarnya seluruh gigi dari soket akibat trauma.
Secara klinik dan foto ronsen, gigi tidak ada di dalam soket
(Dalimunte,2003). Tulang alveolar, sementum, ligament periodontal,
gingiva, dan pulpa akan mengalami kerusakan pada saat gigi secara total
keluar dari soketnya (Jacobsen, 2003). Tercabutnya gigi dari soketnya akibat
trauma menyebabkan terputusnya ligament-ligamen periodontal dan suplai
darah ke jaringan pulpa. Sebagai akibatnya pulpa gigi mengalami nekrosis
dan periodonsium rusak parah (Ram D, 2004). Gutmann dan Gutmann
(1995) memaparkan penyebab gigi avulse adalah: (1) Kecelakaan lalu lintas;
(2) Perkelahian; (3) Jatuh; (4) Kecelakaan olahraga; (5) Kerusakan jaringan
periodontal; dan (6) Penyakit sistemik, seperti diabetes melitus
5. Replantasi
a. Definisi
Replantasi atau reimplantasi merupakan suatu tindakan dibidang
kedokteran gigi yang merujuk pada pemasangan insersi dan fiksasi
sementara gigi yang mengalami avulsi, baik sebagian atau keseluruhan
akibat suatu trauma.Replantasi merupakan perawatan pilihan untuk
penanganan gigi avulsi, yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi
fisiologis gigi. Replantasi adalah insersi gigi ke dalam soketnya setelah
avulsi menyeluruh yang disebabkan oleh injuri traumatik. Lukasasi total
atau avulsi gigi dirawat dengan replantasi/penanaman kembali. Istilah ini
diartikan sebagai menempatkan kembali gigi pada soketnya, dengan
tujuan mencapai pengikatan kembali bila gigi, telah terlepas sama sekali
dari soketnya karena kecelakaan,kondisi yang paling cocok untuk
replantasi lebih sering di temukan pada anak-anak.Gigi-gigi susu tidak di
replantasi.pada anak-anak prosesus alveolaris relative mudah
mengembang dan lebih mudah berubah bentuk sehingga memungkinkan
avulsi dengan tanpa fraktur alveolar yang luas

b. Indikasi dan kontraindikasi


Dalam setiap tindakan perawatan tidak hanya didasarkan pada kasus-
kasus avulsi gigi, akan tetapi juga didasarkan pada pemeriksaan subjektif dan
pemeriksaan objektif. Pertimbangan suatu perawatan merupakan hal yang
penting dilakukan untuk mengetahui perlu atau tidaknya dalam melakukan
suatu tindakan, ini dilakukan agar mencapai suatu prognosis yang baik dalam
setiap tindakan yang akan dikerjakan.
Indikasi replantasi adalah sebagai berikut (Saeed, 2014):
1) Tulang alveolar masih baik
2) Soket alveolar dapat menyediakan tempat untuk gigi avulsi
3) Tenggang waktu antara terjadinya trauma dengan pelaksanaan
perawatan adalah 15-30 menit lebih dari 2 jam kemungkinan besar
akan terjadi komplikasi yaitu resorbsi dari akar gigi dan gigi akan
menjadi non vital, kecuali sebelum direplantasi gigi tersebut
dirawat endodontik terlebih dahulu.
Kontraindikasi replantasi adalah sebagai berikut (Saeed, 2014):
1) Gigi permanen dimana foramen apikal sudah menyempit
2) Integritas yang tidak mendukung dari gigi avulsi atau jaringan
pendukung
3) Adanya fraktur akar
4) Kondisi medis yang tidak mendukung (gangguan imun,
anomali jantung kongenital berat, diabetes tidak terkontrol
5) Resorpsi pada tulang alveolus
6) Memiliki penyakit periodontal
7) Gigi yang terlalu lama diluar soket
8) Pada gigi sulung

6. Klasifikasi splinting
Jenis-jenis splinting yang dapat digunakan dalam terapi pada gigi yang
mengalami kegoyangan akibat penyakit periodontal (Eley dan Manson, 2004):
1) Splin temporer
Splin temporer adalah jenis splin yang dapat digunakan untuk membantu
penyembuhan setelah cedera atau setelah perawatan bedah. Umumnya
tidak menyebabkan kerusakan jaringan. Splin ini harus dapat dipakai
dengan mudah pada gigi yang goyang dan juga dengan mudah dilepascan
setelah penyembuhan diperoleh. Splin temporer tidak boleh ditempatkan
pada gigi lebih dari 6 bulan. Jika pada waktu yang ditentukan stabilisasi
gigi belum adekuat maka dibutuhkan bentuk splin permanen.
2) Splin provisional
Splin provisional adalah jenis splin memiliki kegunaan yang hampir sama
dengan splin temporer. Splin ini sering digunakan untuk tujuan diagnostik
atau dalam kasus- kasus dengan hasil perawatan yang tidak dapat
diperkirakan. Splin provisional dapat digunakan selama beberapa waktu
tertentu, dari beberapa bulan sampai beberapa tahun. Beberapa bentuk
splin temporer atau provisional :
a) Splin dengan bahan tambalan komposit
Splin jenis ini merupakan bentuk splin temporer yang paling
sederhana dan paling berguna dalam keadaan darurat. Bahan
tambalan komposit dietsa ke permukaan gigi yang mengalami
mobiliti dan dihubungkan
b) Splin kawat dan akrilik.
Splin kawat dan akrilik adalah bentuk splin yang juga mudah
dipakai. Sering digunakan untuk stabilisasi gigi insisivus.Splin jenis
ini lebih kuat dan lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan splin
komposit
3) Band ortodontik
Bentuk splin temporer cekat lain adalah band ortodontik. Band ortodontik
terutama digunakan sebagai splin pada segmen posterior. Band stainless
steel 0,005 inch dipasangkan kegigi dan dipatrikan bersama. Alternatif
lain, splin dapat dipasangkan pada model dan kemudian disemenkan ke
gigi. Tepi dari band harus dibentuk dan dipolish sehingga mampu
mengurangi retensi plak dan menjaga jaringan lunak terhadap iritasi
4) Splin lepasan
Biteguard akrilik yang digunakan pada perawatan bruksism dapat juga
digunakan sebagai splin. Splin ini harus menutupi permukaan oklusal gigi
dan meluas 1-2 mm ke permukaan oklusal gigi.
5) Splin permanen
Splin permanen adalah jenis splin yang digunakan dalam jangka waktu
yang lama. Alat ini diindikasikan apabila perawatan dengan menggunakan
splin temporer ataupun splin provisional mengalami kegagalan atau tidak
menunjukkan keberhasilan perawatan. Bentuk splin permanen ini bisa
berupa splin cekat atau lepasan

6) Splin Thin High Modulus Polyethylen Ribbon


Splin dengan menggunakan bahan Thin High Modulus Polyethylen
Ribbon adalah salah satu jenis splin yang dapat digunakan dalam
perawatan gigi mobiliti. Merupakan modifikasi dari jenis splin resin
komposit dengan penambahan Polyethylen fiber yang memiliki modulus
elastisitas yang tinggi sehingga mampu memperbaiki kekuatan fleksural
dibandingkan splin komposit yang telah ada (Strassler dan Brown, 2001).
Thin High Modulus Polyethylen Ribbon memiliki diameter sebesar 3 mm
dan ketebalan sebesar 0,18 mm. Splin jenis ini juga memiliki estetis yang
sangat baik karena tidak membutuhkan preparasi gigi di permukaan
lingual (Ganesh, 2006).
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kuretase Gingiva
Seorang perempuan (47 tahun) datang dengan keluhan gigi atas depan goyang
yang dirasakannya sekitar 2 bulan. Pasien tersebut tidak memiliki penyakit
sistemik.
Pemeriksaan klinis:
 OHI 4,6
 Gigi 31 dan 32 luksasi derajat 2
 Terdapat hambatan saat gerak protrusif pada 32, 22, 21
Pemeriksaan poket periodontal
Gigi Sisi dan kedalaman poket periodontal
Mesiolingual, Lingual,
31 Mesiobukal (4 mm) Bukal (4mm) Distobukal (3 mm)
distolingual (1 mm)
Mesiolingual, Lingual,
32 Mesiobukal (3 mm) Bukal (4 mm) Distobukal (4 mm)
distolingual (3 mm)

1. Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaaan yang perlu dilakukan dalam menentukan diagnosis penyakit
periodontal (Dhalimunthe, 2008):
a. Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaaan kesehatan meliputi riwayat medis dan kesehatan gigi
1) Riwayat Medis
Alasan pentingnya riwayat medis adalah:
a) Untuk menemukan manifestasi oral dari kondisi sistemik tertentu
seperti leukimia, diabetes melitus, gangguan hormonal, dan lain-lain
b) Untuk memastikan adanya kondisi sistemik seperti kehamilan, DM,
kelainan darah, defisiensi nutrisi yang dapat merubah respon hospes
terhadap bakteri
c) Untuk menentukan ada atau tidaknya kondisi sistemik tertentu yang
membutuhkan modifikasi
2) Riwayat Kesehatan Gigi
a) Pemeriksaan Gigi Menyeluruh
- Pemeriksaan jaringan lunak, pemeriksaan ini adalah penulusuran
adanya kanker rongga mulut atau tidak.
- Posisi gigi, meliputi kesesuaian lengkung rahang, maloklusi morfologi,
dan migrasi gigi.
- Karies, meliputi pemeriksaan lokasi, jenis, dan luas karies.
- Perawatan Restoratif
- Kebiasaan, misalnya kebiasaan merokok ,menjulurkan lidah, dan
lainnya.
- Kondisi pulpa gigi, khususnya yang mengalami kehilangan tulang yang
hebat
- Kegoyangan gigi (tes mobilitas)
b) Pemeriksaan Jaringan Periodontal
- Warna, bentuk dan konsistensi gingiva
- Perdarahan dan eksudasi purulen
- Jarak antara tepi gingiva ke pertautan semento-enamel
- Hubungan antara pertautan semento-enamel dan dasar poket
- Lebar keseluruhan gingiva berkeratin, hubungan antara kedalama
probing dan pertemuan muko-gingiva dan pengaruh letak frenulum
serta perlekatan otot terhadap tepi gingiva
- Perluasan patologis dari daerah furkasi
- Kedalaman poket (kedalaman probing)
c) Pemeriksaan Radiografi
Hal-hal yang dapat ditemukan dari gambaran radiografi (Wolf dkk.,
2004) :
- Morfologi dan panjang akar
- Perbandingan mahkota
- Perkiraan banyaknya kerusakan tulang
- Hubungan antara sinus maksilaris dengan kelainan bentuk jaringan
periodontal
- Resorpsi tulang horizontal dan vertikan pada puncak tulang
interproksimal
- Pelebaran ruang ligamen periodonsium di daerah mesial dan distal
akar
- Keterlibatan furkasi tingkat lanjut
- Kelainan periapikal
- Kalkulus
- Restorasi yang overhanging
- Fraktur akat
- Karies
- Resorpsi akar

2. Diagnosis
Diagnosis dari skenario diatas adalah periodontitis kronis lokalis pada gigi 31
dan 32 (menurut IC10 adalah periodontitis kronis).
3. Rencana Perawatan
a. Tahap Pertama
Pada tahap pertama kasus gigi anterior goyang yang perlu diperhatikan
adalah macam peradangannya apakah sedang dalam keadaan aktif atau pasif:
Pada keadaan aktif nampak gejala-gejala peradangan akut seperti
pembengkakan, perdarahan pada waktu probing atau perdarahan spontan, dan
rasa sakit. Pada keadaan pasif keluhan pasien hanya merasa gigi-giginya
goyang dan pernah tirnbul perdarahan atau timbul fistel. Karena sifat penyakit
periodontal pada kasus pasif sewaktu-waktu dapat berubah menjadi aktif
(Prayitno, 2000).
Pada penyakit periodontal baik bakteri aerob maupun anaerob memegang
peran dalam proses peradangan. Oleh karena itu pada penanganan
pendahuluan antibiotik perlu diberikan. Dari bebcrapa penelitian dan
pengalaman klinik dilaporkan bahwa pemberian kombinasi amoxicillin dan
metronidazol sangat efektif untuk penyembuhan peradangan. Pemberian
antibiotik bergantung pada derajat berat peradangannya. Amoxicillin 500 mg
dengan metronidazol 500mg masing-masing 3 kali sehari dapat diberikan
untuk jangka waktu 5-7 hari. Apabila dalam waktu 5-7 hari belum
menunjukkan kemajuan yang bermakna dapat diperpanjang 5-7 hari lagi
tergantung pada kondisi pasien (Prayitno, 2000).

b. Tahap Kedua
Pada umumnya apabila gigi sudah goyang karena destruksi primer dari
tulang alveolar akan menyebabkan trauma sekunder yang menyebabkan gigi
bertambah lebih goyang. Untuk menghindari trauma ini maka pengasahan
gigi secara selektif dapat dilakukan. Lebih dianjurkan pengasahan hingga gigi
tidak berkontak dengan gigi antagonisnya agar kesembuhan dapat lebih cepat.
Celah dengan antagonisnya yang dibuat cukup ± 0,5mm agar setelah kterjadi
proses penyembuhan dapat oklusi kembali dengan baik (Svanberg dkk.,
2000).
c. Tahap Ketiga
Pada tahap ini karena adanya kegiyangan gigi akibat dari kehilangan tulang
alveolar maka dapat dilakukan terapi splinting menggunakan komposit
maupun wire splinting sebelum dilakukannya terapi pembedahan (Prayitno,
2000).
Terapi pembedahan perlu dilakukan dalam perawatan alternatif poket
periodontal salah satunya adalah dengan dilakukan Scaling root planing dan
kuretase (Dinyati dan Adam, 2016). Kuretase dalam periodontik berarti
scraping dinding gingiva dari poket periodontal untuk meniadakan sakit
ringan pada jaringan. Prosedur kuretase adalah operasi tertutup dengan
tujuan mereduksi poket, mengeliminasi, memperbaiki perlekatan atau
membuat perlekatan baru. Scaling adalah pengambilan deposit dari
permukaan akar, sedangkan root planning adalah membersihkan akar untuk
menghilangkan jaringan yang terinfeksi dan substansi gigi yang nekrotik.
Scaling dan root planing secara tidak sengaja dapat mencakup berbagai
tingkat kuretase. Namun prosedurnya berbeda sesuai dengan masing-masing
indikasi. Keduanya harus dipertimbangkan sebagai bagian yang terpisah dari
terapi poket periodontal (Novak, 2011).
Kuretase gingiva adalah penghapusan jaringan lunak yang meradang
pada dinding lateral poket dan epitel junctional. Kuretase subgingiva
merupakan prosedur bedah periodontal yang dilakukan dari apikal pada
epitel junctional sampai jaringan ikat di tulang koronal. Kuretase secara
umum juga merupakan upaya atau cara untuk mengurangi poket yang dalam
dengan cara membuat penyusutan gingiva sebagai prosedur terpisah untuk
mengurangi kedalaman poket yang meningkatkan gingiva, perlekatan
jaringan ikat baru, atau keduanya (Novak, 2011).
Manfaat atau tujuan dari kuretase secara umum adalah membuat
perlekatan baru terutama pada infrabony pocket, mengeliminasi gingival
poket, memperbaiki gingiva menjadi sehat, warna, kontur, konsistensi dan
tekstur permukaan. Kuretase dapat menjadi pilihan perawatan yang dapat
menangani keadaan peradangan kronis dan jaringan granulasi yang terbentuk
di dinding lateral poket periodontal. Jaringan ini terdiri dari komponen
granulasi jaringan (misalnya, fibroblastik dan proliferasi angioblastik),
memiliki daerah peradangan kronis, dan juga mungkin berisi potongan
kalkulus yang terlepas dan koloni bakteri. Koloni bakteri ini yang
menyebabkan kondisi patologis jaringan dan menghambat penyembuhan.
Jaringan granulasi yang meradang ini dilapisi oleh epitel yang menembus ke
dalam jaringan. Adanya epitel ini menjadi penghalang untuk pembentukan
perlekatan dan jaringan baru (Novak, 2011).
d. Tahap Keempat
Terapi oral pasca kuretase dapat dengan pemberian sistemik tetrasiklin
(250 mg, empat kali sehari selama 14 hari setiap 8 minggu. Tetrasiklin
sistemik (250 mg tetrasiklin hidroklorida empat kali sehari selama minimal 1
minggu) harus diberikan dalam hubungannya dengan terapi mekanik lokal.
Doxycycline, 100 mg/ hari, dapat digunakan sebagai pengganti tetrasiklin.
Obat kumur klorheksidin harus diresepkan dan dilanjutkan selama beberapa
minggu untuk meningkatkan kontrol plak dan mempercepat penyembuhan.
Alternatif lain adalah dengan pemberian antibiotik amoxicillin 500 mg, 3
kali sehari selama 3 hari. Setalah itu dilihat hasilnya, jika diperlukan dapat
dilanjutkan selama 3 hari lagi. Pada pasien-pasien yang mempunyai riwayat
alergi terhadap penicillin dapat diberikan terapi oral clindamycin dengan
dosis 300 mg sehari 4 kali selama 3 hari. Alternatif lain dengan azithromycin
(clarithromycin) dengan dosis 500 mg sehari 4 kali selama 3 hari (Dinyati
dan Adam, 2014).
B. SPLINTING

Seorang perempuan (22 tahun) ke IGD RSGM paska kecelakaan kurang lebih 30
menit yang lalu dalam kondisi sadar dan compos mentis. Pasien mengeluhkan gigi
depannya lepas dan patah. Gigi yang avulsi dimasukkan ke dalam larutan minuman
pocari sweat. Berdasarkan pemeriksaan klinis didapat vulnus excoriasi pada bibir atas,
gigi 21 avulsi dan gigi 11 fraktur mencapai dentin.
1. Pemeriksaan
Pemeriksaan yang diperlukan :
a. Pemeriksaan kondisi gigi yang avulsi, gigi harus disimpan dalam media
yang baik untuk mempertahankan vitalitas gigi. Media yang dapat
digunakan HBSS, susu atau larutan fisiologis (minuman pocari sweat
mengandung beberapa kandungan yang mirip dengan larutan fisiologis)
(Trope, 2002).
b. Pemeriksaan soket dilakukan untuk mengetahui apakah keadaan soket
masih memungkinkan untuk dilakukan replantasi gigi kembali. Palpasi
permukaan fasial dan palatal dari soket untuk mengetahui adanya
keterlibatan kerusakan tulang akibat trauma atau tidak. Kemudian
bersihkan soket menggunakan larutan salin setelah itu lihat apakah pada
dinding soket terjadi abses atau kehilangan jaringan periodontal akibat
trauma (Trope, 2002).
c. Pemeriksaan Radiografi pada soket dan sekitarnya termasuk jaringan lunak
untuk mengetahui terjadinya fraktur tulang secara horizontal (Trope,
2002). Sebaiknya pada kasus ini menggunakan pemeriksaan radiografi
panoramik untuk melihat keadaan rongga mulut secara keseluruhan karena
terjadi pasca trauma sehingga memungkinkan terjadi kerusakan tulang
disekitar lokasi benturan.
2. Diagnosis
Diagnosis pada skenario adalah gigi avulsi pada gigi 21 (ICD 10)
2. Rencana perawatan

Gambar 3.1 rencana perawatan periodontal

a. Penanganan vulnus excoriasi pada bibir atas pasien


b. Replantasi gigi anterior rahang atas yang mengalami avulsi
Replantasi merupakan perawatan pilihan untuk penanganan gigi avulsi,
yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi fisiologis gigi (Simanjuntak,
2000).
1) Syarat gigi untuk dilakukan replantasi
a) Faktor pasien dan keterbatasan fisik
b) Faktor anatomi gigi dan endodontik
c) Gigi yang avulsi sebaiknya sehat tidak terdapat karies yang luas,
untuk mencegah kerusakan ligament periodontal
d) Tulang alveolar harus tetap utuh agar dapat menahan gigi, tidak
terdapat fraktur atau penyakit jaringan periodontal
e) Lamanya gigi diluar mulut harus dipertimbangkan. Gigi yang
sudah lebih dari dua jam berada diluar mulut dapat menyebabkan
mudahnya terjadi resorbsi akar dan sebaiknya dipertimbangkan
sebagai gigi dengan resiko yang buruk
f) Cara menyimpan gigi yang avulsi sebelum replantasi sangat
mempengaruhi kesuksesan perawatan. Hal ini berhubungan dengan
pencegahan terhadap terjadinya dehidrasi sisa ligamen periodontal
pada akar gigi setelah keluar dari soket sampai menuju praktek
dokter gigi
2) Tekhnik Replantasi
Tindakan yang dilakukan saat pasien datang dengan gigi yang telah
keluar dari soket alveolar dalam waktu 2 jam yaitu (Richard, 1999) :
a) Gigi di letakkan di dalam tempat berisi salin fisiologis
b) Daerah cedera di lakukan pengambilan foto rontgent, untuk
mencari tanda-tanda adanya fraktur alveolaris
c) Daerah avulsi di periksa secara teliti untuk melihat apakah ada
fragmen tulang yang dapat di angkat jika alveolusnya
menutup,bukalah secara hati-hati dengan instrument
d) Soket secara hati-hati di irigasi dengan salin untuk mengangkat
bekuan darah yang terkontaminasi
e) Gigi dari mangkuk yang berisi salin tadi di pegang dengan tang
cabut agar tidak terkontaminasi dengan tangan.
f) Gigi di periksa dan bila ada debris di bersihkan dengan kasa yang
di basahi dengan salin
g) Gigi di masukkan kembali dalam soket dengan menggunakan tang,
setelah masuk sebagian pakailah tekanan ringan dengan jari atau
suruhlah pasien menggigit kasa sampai gigi kembali pada
kedudukannya
h) Ketepatan letak gigi di periksa dan hindari hiperoklusi.Laserasi
jaringan lunak di jahit rapat-rapat terutama pada bagian servikal
i) Gigi di pasang splint selama 1 sampai 2 minggu untuk stabilisasi
j) Resep obat antibotik di ajurkan untuk di berikan dengan dosis yang
sama seperti yang di pakai pada infeksi mulut ringan atau sedang.
Suntikan tetanus booster juga di anjurkan untuk di berikan, jika
suntikan tetanus terakhir di lakukan lebih dari 5 tahun yang lalu
k) Pasien di beri perawatan pendukung,makanan lunak dan analgesik
ringan di anjurkan sesuai kebutuhan
c. Fiksasi (splinting) setelah replantasi
1) Acid etza resin splint (etza asam resin- komposit kawat)
Bertujuan untuk mencegah terjadinya trauma yang lebih lanjut pada
pulpa atau periodontium serta memberikan kestabilan dan estetik yang
baik.adapun hal yang pertama di lakukan sebelum pengetsaan yaitu
jika pada gigi di replantasi terdapat fraktur mahkota dengan dentin
terbuka,harus segara di tutup dengan kalsium hydroxide (hydcal)
untuk mencegah kerusakan pulpa (dapat sekaligus dilakukan untuk
gigi 11 yang mengalami fraktur mahkota hingga ke dentin) (Manson,
1993).
2) Teknik splint etsa asam resin dapat di lakukan dengan cara sebagai
berikut (Manson, 1993) :
a) Gigi replantasi yang akan di splint di bersihkan dari darah debris
dengan semprotan air atau dengan cotton roll,terutama bagian
labialnya
b) Gigi di isolasi dan di keringkan
c) Larutan etsa asam di aplikasikan pada 1/3 insisal dari permukaan
labial selama satu menit dengan asam fosfat 30-50 %.Untuk
pengontrolan perdarahan gingiva yang tidak sempurna,etsa bentuk
gel lebih cocok karena sifatnya tidak mudah bergerak dari
permukaan gigi
d) Permukaan yang telah di etsa di cuci dan di keringkan dan email
tidak boleh terkontaminasi dengan darah/saliva selama aplikasi dari
splint
e) Resin komposit di campur baru di aplikasi pada permukaan email
dari gigi yang telah di etsa, sementara posisi gigi di pertahankan
f) Saat resin mengeras,kelebihannya di buang dan permukaan yang
kasar di haluskan
g) Tahap akhir yaitu setelah pemakaian splint di anggap cukup,maka
splint di lepaskan dengan fissure bur bentuk tapered untuk
mengurangi resin dan memotongnya melalui bagian
interproksimal.kemudian permukaan labial di polis dengan pumis
untuk melepaskan sisa-sisa resin.
d. Instruksi Setelah Replantasi
Setelah melakukan replantasi, instruksi yang diberikan kepada pasien
adalah sebagai berikut (Bence, 1990) :
1) Anjurkan pasien pergi ke dokter umum untuk penyuntikan serum
antitetanus jika ada indikasi
2) Berikan resep
a) analgetik untuk menanggulangi nyeri
b) antibiotik untuk mencegah adanya kontaminasi bakteri
c) antiinflamasi untuk mencegah terjadinya peradangan pasca trauma
3) Anjurkan untuk makan makanan yang lunak sampai perlekatan gigi
normal kembali
BAB III
SIMPULAN
A. KURETASE
Disimpulkan bahwa periodontitis adalah penyakit yang banyak terjadi di
masyarakat umum, yangkerapdiikutidenganpenampakan klinis adanya poket
periodontal, tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan poket periodontal
dengan cara kuretase gingiva. Teknik kuretase gingiva ini dapat digunakan
sebagai tindakan lanjut setelah scaling dan root planing sebagai terapi poket
periodontal, karena untuk kuretase gingiva diperlukanmodifikasi teknik kuretase
yang juga memperhatikan kepentingan estetika.

B. SPLINTING
Replantasi merupakan perawatan pilihan untuk penanganan gigi avulsi
yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi fisiologis gigi. Kunci keberhasilan
replantasi terletak pada vitalitas sel-sel ligamentum periodontal, serta dua faktor
penting yaitu tingkat kerusakan ligamentum periodontal akibat trauma dan
lamanya gigi avulsi diluar mulut. Beberapa faktor yang harus diperhatikan
dalam melakukan tindakan replantasi antara lain, kondisi gigi yang avulsi,
keadaan tulang alveolus dan jaringan periodontal, lamanya gigi avulsi diluar
mulut, penatalaksanaan soket gigi, dan waktu dilakukannya perawatan
endodontik. Media penyimpanan gigi avulsi juga memegang peranan penting,
oleh karena media yang paling baik adalah saliva pasien sendiri, maka
dianjurkan gigi avulsi diletakkan pada vestibulum rongga mulut. Pemeriksaan
gigi sendiri meliputi pemeriksaan cedera pada jaringan lunak dan jaringan keras,
penggunaan gambar radiografi, tes diagnostik dan pemeriksaan gigi tetangga
serta antagonisnya. Keberhasilan replantasi pada gigi yang mengalami avulsi
tergantung pada tenggang waktu antara kejadian avulsi dengan replantasi.

Splinting adalah suatu jenis perawatan untuk menstabilkan atau


mengencangkan gigi-gigi yang goyang akibat suatu injuri atau penyakit
periodontal. Pada kasus mobilitas gigi pasien. Prinsip dari pembuatan splint
yaitu dengan menyatukan beberapa gigi dengan menggunakan wire.