Anda di halaman 1dari 14

PEDOMAN INTERNAL

PENYELENGGARAAN PROGRAM P2P ISPA

DINAS KESEHATAN KABUPATEN TULUNGAGUNG


PUSKESMAS CAMPURDARAT
Jalan Kanigoro No. 13 Campurdarat – Tulungagung
Telp. (0355) 531129 Kode Pos 66272

TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan Pedoman Upaya Kesehatan Masyarakat
program P2P ISPA Puskesmas Campurdarat. Buku ini kami susun sebagai salah satu
upaya untuk memberikan acuan dan kemudahan dalam pelaksanaan kegiatan P2P
ISPA oleh koordinator maupun pelaksana program P2P ISPA Puskesmas Campurdarat.
Pada kesempatan ini perkenankan saya untuk menyampaikan ucapan terima
kasih dan apresiasi kepada semua karyawan yang telah terlibat dalam proses
penyusunan Pedoman Upaya Kesehatan Masyarakat program P2P ISPA di
Puskesmas Campurdarat.
Semoga dengan digunakannya buku ini dapat mempermudah karyawan dalam
menyiapkan dokumen akreditasi Puskesmas Campurdarat.
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Pedoman
C. Sasaran Pedoman
D. Ruang Lingkup Pedoman
E. Batasan Operasional
BAB II STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifi kasi Sumber Daya Manusia
B. Distribusi Ketenagaan
C. Jadwal Kegiatan
BAB III STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruang
B. Standar Fasilitas
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN
A. Lingkup Kegiatan
B. Metode
C. Langkah Kegiatan
BAB V LOGISTIK
BAB VI KESELAMATAN SASARAN KEGIATAN/PROGRAM
BAB VII KESELAMATAN KERJA
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU
BAB IX PENUTUP
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan undang undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan bahwa


setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip
non diskkriminatif, partisipatif dan berkelanjutan. Maka upaya pengendalian
penyakit menular terutama penyakit pneumonia sangat di perlukan dalam rangka
untuk menurunkan penyebaran penyakit lebih lanjut, menemukan kasus baru dan
juga meningkatkan cakupan serta tercapai derajat kesehatan masyarakat yang
tinggi .
Hingga saat ini Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih merupakan
masalah kesehatan di Indonesia. Pneumonia merupakan penyebab kematian
balita kedua setelah diare yaitu 23.8 % ( Berdasarkan survei Riskesdes
2013).Sedangkan WHO memperkirakan kematian akibat pneumonia mencapai
29% pertahun dari seluruh jumlah bila tidak diberi pengobatan. Kematian Balita
karena pneumonia secara nasional diperkirakan 6 per 1000 balita pertahun atau
lebih dari dua juta anak setiap tahunnya. GAPPD (WHO, UNICEF).
ISPA adalah infeksi akut yang menyerang salah satu bagian/ lebih dari
saluran napas mulai hidung sampai alveoli termasuk adneksanya ( sinus, rongga
telinga, pleura), sedangkan pneumonia adalah infeki akut yang mengenai jaringan
paru-paru (alveoli). Dari permasalahan tersebut, maka perlu diadakan pelacakan
untuk menemukan kasus pneumonia agar kematian balita akibat penyakit
Pneumonia dapat dicegah.

B. Tujuan Pedoman

Tujuan dibuatnya pedoman ini adalah sebagai acuan bagi seluruh aktifitas
upaya kesehatan masyarakat khususnya program P2P ISPA yang dilaksanakan di
Puskesmas Campurdarat, sehingga pada akhirnya pelayanan upaya kesehatan
dapat meningkatkan cakupan program P2P ISPA dan mendukung pencapaian
standar pelayanan minimal (SPM).

C. Sasaran Pedoman

Sasaran pedoman program P2P ISPA adalah penanggung jawab program


P2P ISPA , semua unit pelayanan kesehatan serta petugas kesehatan di jaringan
pelayanan Puskesmas Campurdarat.
D. Ruang Lingkup Pedoman
Ruang lingkup pedoman meliputi (yg terlibat di program)
1. Penanggung jawab P2P ISPA
2. Nakes di semua unit pelayanan Puskesmas Campurdarat
3. Nakes di semua jaringan pelayanan Puskesmas Campurdarat

E. Batasan Operasional
1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Infeksi akut yang menyerang salah satu bagian/lebih dari saluran napas mulai
hidung sampai alveoli termasuk adneksanya (sinus, rongga telinga tengah,
pleura).
2. Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli).
Pneumonia Balita ditandai dengan adanya gejala batuk dan atau kesukaran
bernapas seperti napas cepat, tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
(TDDK), atau gambaran radiologi foto thorax/dada menunjukkan infiltrat paru
akut. Demam bukan merupakan gejala yang spesifik pada Balita.Dalam
penatalaksanaan pengendalian ISPA semua bentuk pneumonia seperti
bronkopneumonia, bronkiolitis disebut “pneumonia” saja.
3. Care seeking
Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran
keluarga balita pneumonia dalam pencarian pelayanan kesehatan.Kegiatan ini
dapat dipadukan dengan tindak lanjut atau pelacakan penderita pneumonia
yang tidak kontrol ulang setelah dua hari pengobatan. Pada saat kunjungan ke
rumah penderita diharapkan petugas kesehatan/ISPA dapat melaksanakan
penyuluhan tentang pneumonia kepada keluarga penderita dan sekitarnya.

F. Landasan Hukum

Yang Menjadi dasar Pedoman pelaksanaan program P2P ISPA di Puskesmas


Campurdarat adalah :
1. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
2. Permenkes No 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat
3. Buku Standart Puskesmas Tahun 2013
4. Buku Pedoman Penatalaksanaan ISPA Tahun 2010
BAB II

STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Berikut ini kualifikasi SDM dan realisasi tenaga program P2P ISPA yang ada di
Puskesmas Campurdarat :
Kegiatan Kualifikasi SDM Realisasi
Pemegang Pendidikan minimal D Diampu oleh 1 orang dengan latar
program P2P III Keperawatan belakang pendidikan D III Kebidanan
ISPA Masa kerja program Masa kerja program P2P ISPA 1
P2P ISPA 2 Tahun Tahun
Sudah mengikuti
pelatihan program Belum mengikuti pelatihan program
P2P ISPA P2P ISPA
Unit Pendidikan minimal D Diampu oleh 1 orang dokter dengan
Pelayanan III latar belakang pendidikan SI
Puskesmas Kedokteran
Campurdarat Diampu oleh 2 orang perawat dengan
latar belakang D III Keperawatan
Diampu oleh 4 orang bidan dengan
latar belakang D III Kebidanan
Jaringan Pendidikan minimal D Diampu oleh 11 orang bidan dengan
pelayanan III latar belakang pendidikan D III
Puskesmas Kebidanan
Campurdarat Diampu oleh 11 orang perawat
dengan latar belakang pendidikan D
III Keperawatan

B. Distribusi Ketenagaan
Berikut ini distribusi ketenagaan program P2P ISPA dan profesinya yang ada di
Puskesmas Campurdarat :
Kegiatan Petugas Profesi
Pemegang program
P2P ISPA
Unit Pelayanan
Puskesmas
Campurdarat
Jaringan pelayanan
Puskesmas
Campurdarat

C. Jadwal Kegiatan
1. Pengaturan kegiatan upaya kesehatan masyarakat dilakukan bersama oleh
para pemegang program dalam kegiatan lokakarya mini bulanan maupun
tri bulanan/lintas sektor, dengan persetujuan kepala puskesmas.
2. Jadwal kegiatan upaya kesehatan masyarakat program P2P ISPA dibuat untuk
jangka waktu satu tahun, dan di break down dalam jadwal kegiatan bulanan
dan dikoordinasikan setiap pada awal bulan sebelum pelaksanaan jadwal.
3. Secara keseluruhan jadwal dan perencanaan kegiatan upaya kesehatan
masyarakat program P2P ISPA di koordinasikan oleh Kepala Puskesmas
Campurdarat.
BAB III

STANDAR FASILITAS

A. Standar Fasilitas

1. Fasilitas & Sarana


Dalam pelaksanaan kegiatan, dibutuhkan beberapa sarana atau fasilitas bagi
menunjang keterlaksanaanya kegiatan program P2P ISPA. Beberapa sarana
atau fasilitas penunjang yang dapat membantu tugas program P2P ISPA yaitu :
a. Alat Transportasi
Kendaraan berfungsi untuk menunjang kegiatan P2P ISPA menuju lokasi
kejadian.
b. Alat Komunikasi
Alat komunikasi berperan penting dalam menunjang komunikasi dengan
lintas program dan lintas sektor dalam pelaksanaan kegiatan P2P ISPA .
c. Alat pemeriksaan medis.
Untuk melakukan pemeriksaan penderita ispa dan pneumonia (ari timer,
stetoskop).
d. Alat Pencatatan dan Pelaporan :
1. Laptop atau computer dapat digunakan sebagi sarana mencatat laporan
dan mengirimkan laporan ke DINKES Kabupaten.
2. Form MTBS, form careseeking, register ISPA.
BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Lingkup kegiatan
Penemuan penderita Pneumonia balita

B. Metode kegiatan
Metode kegiatan program P2P ISPA adalah:
a. Penemuan/ deteksi dini kasus ispa dan pneumonia balita
Mendeteksi dini balita yang mengalami penyakit ISPA dan pneumonia
dengan cara menggunakan ARI time untuk menghitung napas
Berdasarkan P2 ISPA mengklasifikasi ISPA sebagai berikut :
1. Pneumonia berat : ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
ke dalam (chest indrawing) pada saat bernafas
2. Pneumonia : ditandai secara klinis oleh adanya nafas cepat
3. Bukan pneumonia : ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai
demam, tanpa tarikan dinding dada ke dalam, tanpa nafas cepat.
Rinofaringitis, faringitis, dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.
b. Care Seeking
Kunjungan Rumah terhadap pasien yang menderita pneumonia dan diulang 3
hari kemudian

C. Langkah kegiatan
a. Perencanaan (P1)
Penanggung jawab ISPA Pneumonia merencanakan kegiatan deteksi dini
ISPA Pneumonia dan care seeking melalui POA BOK (plan of action
Bantuan Operasional Kesehatan) pada kegiatan yang bersumber dana
APBN.
b. Penggerakan pelaksanaan (P2)
Pada kegiatan P-2 petugas melakukan:
 Membuat jadwal kegiatan
 Mengkoordinasikan dengan bendahara pengeluaran atau bendahara BOK
 Mengkoordinasikan dengan lintas program tentang kegiatan yang akan
dilaksanakan
 Melaksanakan kegiatan
c. pengawasan pengendalian penilaian (P3)
 petugas mencatat hasil kegiatan dan melaporkan hasil kegiatan
 petugas membuat notulen pada kegiatan yang berupa pertemuan
 petugas mengevaluasi kegiatan
BAB V

LOGISTIK

Kebutuhan dana dan logistik untuk pelaksanaan kegiatan Pedoman upaya


Kesehatan masyarakat direncanakan dalam pertemuan lokakarya mini lintas program
dan lintas sektor sesuai dengan tahapan kegiatan dan metoda pemberdayaan yang
akan dilaksanakan.
BAB VI

KESELAMATAN SASARAN KEGIATAN/PROGRAM

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan UKM perlu


diperhatikan keselamatan sasaran dengan melakukan identifikasi risiko terhadap segala
kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan UKM. Upaya
pencegahan risiko terhadap sasaran harus dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan
dilaksanakan
BAB VII

KESELAMATAN KERJA

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan UKM perlu


diperhatikan keselamatan kerja karyawan puskesmas dan lintas sektor terkait dengan
melakukan identifikasi risiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat
pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko harus dilakukan untuk tiap-tiap
kegiatan UKM yang akan dilaksanakan
BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

Kinerja pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dimonitor dan dievaluasi dengan


menggunakan indikator sebagai berikut:
1. Ketepatan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadual
2. Kesesuaian petugas yang melaksanakan kegiatan
3. Ketepatan metoda yang digunakan
4. Tercapainya indikator kinerja UKM
Permasalahan dibahas pada tiap pertemuan lokakarya mini tiap bulan.
BAB IX

PENUTUP

Demikian pedoman program P2P ISPA ini dimaksudkan untuk memberikan acuan
dalam melaksanakan program P2P ISPA sehingga dalam pelaksanaanya nanti kegiatan
yang dilaksanakan akan lebih terarah. Dalam pelaksanaan kegiatan tentunya banyak
sekali hambatan dan rintangan, namun dengan semangat yang tinggi dan kerja keras
kami mampu mengatasinya, tentunya masih banyak kekurangan.
Diharapkan pada semua pihak yang terkait dapat melaksanakan program P2P
ISPA dengan baik dan profesional sehingga mendapat hasil yang lebih baik sehingga
dapat memberikan apresiasi baik yang bersifat positif atau sebaliknya.
Sekian atas perhatiannya kami sampaikan terimakasih.