Anda di halaman 1dari 5

Modul Manajemen Keuangan 2

PERTEMUAN KE-5

PEMBIAYAAN JANGKA PANJANG-2


(SAHAM PREFERENCE DAN SAHAM BIASA)

A. TUJUAN PEMBELAJARAN :
Adapun tujuan pembelajaran yang akan dicapai sebagai berikut:
1.1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan saham preference
1.2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan saham biasa
1.3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan perhitungan saham
preference
1.4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan perhitungan saham biasa

B. URAIAN MATERI.
A. Saham Preferen
Saham  tanda bukti kepemilikan atau penyertaan modal atas perusahaan yang
mengeluarkan saham tersebut (emiten).
Saham preferen  merupakan pendanaan yang memiliki sifat kombinasi antara
hutang dan saham biasa.
Keuntungan maksimum pemegang saham preferen biasanya dibatasi dengan
sejumlah dividen teretentu, dan tidak memiliki hak atas nilai sisa laba.
Misal  seorang pemegang saham preferen memiliki 100 lembar saham preferen
dengan nilai nominal Rl 4.000, dividen 10,5%  keuntungan maksimum yang
dapat diharapkan adalah 100 lbr x ( Rp 4.000 x 10,5%) = Rp 42.000 (dividen
saham preferen dibayar setelah laba – pajak).

Saham preferen memiliki dividen kumulatif  dividen yang belum dibayar akan
dibayarkan kemudian sebelum perusahaan membayar dividen saham biasa.

Misal  perusahaan memutuskan untuk belum membayar kumulatif dividen


saham preferen selama 3 tahun yaitu tahun 2008, 2009 dan 2010, pada tahun 2011
sebelum perusahaan membayar dividen saham biasa perusahaan akan membayar
kumulatif saham preferen lebih dulu, misal nilai nominal saham Rp 8.000 dengan
Bunga 8%, maka yang akan dibayar perusahaan untuk dividen saham preferen
adalah (3 x 8.000 x 8%) = 1.920.

Jenis-jenis Saham Preferen  saham preferen kumulatif, saham preferen


partisipasi.
Saham preferen kumulatif  selalu diperhitungkan kewajiban pembayaran
dividennya sebelum dividen saham biasa.
Saham preferen partisipasi  pemilik berhak menerima dividen tambahan jika
pemegang saham biasa menerima dividen tambahan.

24
S1 Manajemen Universitas Pamulang
Modul Manajemen Keuangan 2

Hak Suara  pemegang saham preferen mempunyai hak suara hanya pada
keadaan tertentu.
Penarikan kembali saham preferen  penarikan dapat dilakukan pada kondisi :
ketepatan penarikan, dana pelunasan dan konversi.

- Ketepatan penarikan cara penarikan kembali saham preferen dapat dilakukan


dengan pembelian di pasar terbuka, melakukan penawaran tender saham preferen
pada harga di atas harga pasar, atau menawarkan penggantian saham dengan surat
berharga lain.
- Dan pelunasan  menguntungkan bagi para investor karena proses penarikan
kembali memberikan tekanan ke atas terhadap harga pasar saham tersisa.
- Pertukaran  saham preferen ada yang dapat dipertukarkan dengan saham biasa
(yang disebut saham preferen konvertibel).

Penggunaan saham preferen

Saham preferen yang tidak dapat dipertukarkan tidak banyak digunakan sebagai
pendanaan. Salah satu kelemahan saham preferen bagi penerbit adalah dividen
saham preferen tidak dapat mengurangi laba kena pajak perusahaan. Salah satu
manfaat pendanaan saham preferen adalah saham preferen merupakan rencana
pendanaan yang fleksibel, keuntungan lain dari saham preferen yang tidak dapat
dipertukarkan adalah tidak adanya jatuh tempo sehingga dari sisi kreditur
menambah modal sendiri sehingga memperkuat posisi keuangan perusahaan.

B. Saham Biasa
Pemegang saham biasa merupakan pemilik akhir perusahaan.
Saham biasa tidak memiliki jatuh tempo, tapi pemegang saham dapat melikuidasi
dengan menjual saham yang dimiliki pada pasar sekunder.

Istilah-istilah pada saham biasa :


1. Saham diotorisasi, saham diterbitkan dan saham beredar :
- Diotorisasi  jumlah saham maksimum yang dapat diterbitkan tanpa harus
mengubah anggaran dasar.
- Saham diterbitkan  pada saat saham biasa diotorisasi dijual
- Saham beredar  mengacu pada jumlah saham yang diterbitkan dan dimiliki
masyarakat.

2. Nilai Nominal  nilai nominal sering disebut nilai pari saham yang dicatat pada
anggaran dasar perusahaan dan tidak memiliki nilai ekonomis yang berarti. Nilai
nominal saham sebagian besar ditetapkan dibawah harga pasar.
Misal perusahaan akan memulai usaha dengan menjual 10.000 lembar saham
dengan harga per lembar Rp 3.600 nilai nominal per lembar saham Rp 400,00,
maka struktur modal sendiri adalah sbb :

25
S1 Manajemen Universitas Pamulang
Modul Manajemen Keuangan 2

Saham biasa nominal Rp 400  10.000 lembar Rp 4.000.000


Tambahan modal disetor Rp 32.000.000
Total modal saham (modal sendiri) Rp 36.000.000

3. Nilai buku dan nilai likuidasi  nilai buku per lembar saham biasa merupakan
modal sendiri para pemegang saham yaitu total aktiva dikurangi hutang dan
saham preferen. Berdasarkan pada contoh dibutir 2 misal perusahaan memperoleh
laba sebesar Rp 6.400.000 dan tidak membayar dividen, maka struktur modal
sendiri perusahaan tersebut saat ini adalah sebesar Rp 36.000.000 + Rp
6.400.000 = Rp 42.400.000 dengan demikian nilai lembar saham sebesar Rp
42.400.000 : 10.000 = Rp 4.240

4. Nilai pasar  nilai per lembar saham merupakan harga yang berlaku sekarang
dimana saham diperdagangkan.

Hak pemegang saham biasa


Pemegang saham biasa memiliki hak atas laba perusahaan hanya jika dilakukan
pembayaran dividen kas. Hak pemegang saham biasa memiliki hak suara, hak
membeli saham baru, hak mendapatkan dividen dan hak mendapatkan aktiva jika
perusahaan dilikuidasi.

a. Hak memberi suara  berhak memilih direksi


Proses pemberian suara ada 2 macam yaitu : sistem hak suara mayoritas dan
sistem hak suara kumulatif.
- Hak suara mayoritas  setiap lembar saham memiliki 1 suara, sehingga
kemenangan harus mayoritas dari pemegang suara  untuk memperoleh surat
kuasa kemenangan harus lebih dari 50%.
- Suara kumulatif  pemegang saham dapat mengakumulasikan suara dan
memberikan suara tersebut untuk memilih dewan direksi dibawah dewan direksi
yang dipilih.
Misal seseorang memiliki 1.000 lembar dan terdapat 12 direksi yang akan diplih,
maka pemegang saham dapat memberikan : 1.000 x 12 = 12.000 suara.
b. Hak untuk membeli saham baru  jika perusahaan akan menerbitkan saham
baru, maka hak prioritas dimiliki oleh pemegang saham lama untuk memiliki
saham baru tersebut.
c. Hak memperoleh pembayaran dividen  besarnya dividen per lembar saham
ditentukan oleh direksi dengan pemegang saham memlalui RUPS, saham biasa
memperoleh dividen jika perusahaan memperoleh laba.
d. Hak atas aktiva setelah pembayaran yang lebih senior dalam likuidasi
Bila perusahaan dilikuidasi maka pemegang saham akan memperoleh aktiva
setelah perusahaan melunasi hutang kepada kreditur.

26
S1 Manajemen Universitas Pamulang
Modul Manajemen Keuangan 2

Contoh :

Perusahaan MAKMUR dapat menjual saham preferen dengan dividen 12 %. Jika


perusahaan menjual obigasi dipasar saat ini, biaya bunganya 14% bila tarif pajak 40
%, hitunglah :
a. Biaya setelah pajak dari masing-masing metode pendanaan ini.
b. Misalkan perusahaan MAJU memiliki sejumlah saham preferen perusahan
MAKMUR. Perusahaan MAJU dikenakan tarif pajak 40%. Berapa keuntungan
setelah pajak yang diterima jika 70% dari penghasilan dividen bebas pajak ?
bagaimana jika investasi dilakukan dengan obligasi ?.

Penyelesaian :

a. Biaya setelah pajak :


Untuk saham preferen = 12 %
Untuk obligasi = 14 % x (1 – 0,40) = 8,4%

b. Dengan tarif pajak perusahaan sebesar 40% dan 70% dari penghasilan dividen
bebas pajak maka,
Keuntungan setelah pajak = 12 % (1-((1-70%)x40%)))
12 % (1-((0,30) x 40%))) = 10,56%

Jika dengan obligasi, keuntungan setelah pajak = 14% x (1-0,4) = 8,40 %

C. LATIHAN SOAL/TUGAS

1. PT KAI telah membayar deviden sebesar Rp 840 pertahun. Dividen


diharapkan mengalami pertumbuhan yang tetap sebesar 6% pertahun. Jika
investor mensyaratkan tingkat keuntungan 12% atas saham KAI, berapa harga
saham perusahaan tersebut ?

2. PT LISA telah membayar deviden sebesar Rp 2.000 pertahun. Dividen


diharapkan mengalami pertumbuhan yang tetap sebesar 8% pertahun. Jika
investor mensyaratkan tingkat keuntungan 16%, berapa nilai saham
perusahaan tersebut sekarang ?

27
S1 Manajemen Universitas Pamulang
Modul Manajemen Keuangan 2

D. DAFTAR PUSTAKA

Sutrisno. Manajemen Keuangan. Teori Konsep dan Aplikasi, Penerbit Ekonisia,


Yogyakarta, 2013

Agus Sartono, Manajemen Keuangan, Teori dan Aplikasi, BPFE Yogyakarta,


2010

Agus Harjito dan Martono, Manajemen Keuangan, Edisi 2, Penerbit Ekonisia,


Yogyakarta, 2013

Irham Fahmi, Pengantar Manajemen Keuangan, Teori dan soal jawab, Penerbit
Alfabeta, Bandung, 2015

I Made Sudana, Manajemen Keuangan Perusahaan, Teori dan Praktek, Penerbit


Erlangga, Jakarta, 2011

Dermawan Sjahrial, Pengantar Manajemen Keuangan, Edisi 4, Mitra Wacana


Media, Jakarta, 2012

28
S1 Manajemen Universitas Pamulang