Anda di halaman 1dari 13

DAFTAR ISI

1. Kata Pengantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
2. Materi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
a. Definisi dan Landasan Hukum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
b. Macam-macam Puasa dan Contohnya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
1.Puasa Wajib . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
2.Puasa Sunnah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
3.Puasa Haram . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .7
4.Puasa Makruh . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
c. Rukun dan Syarat Puasa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9
d. Hal-hal yang dapat membatalkan Puasa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .9
e. Keutamaan Puasa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .10
f. Ancaman dan hukuman orang yang meninggalkan puasa Ramadan…11

3. Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .12
4. Penutup . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .13

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Puasa ini. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Imamul Arifin
selaku Dosen mata kuliah agama yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai pengertian pengertian puasa, hakikat puasa,
Definisi dan landasan hokum, Macam dan Contohnya, Rukun Puasa, Hal-hal yang dapat
membatalkan Puasa, Keutamaan puasa,Ancaman dan hukuman orang yang meninggalkan
puasa Ramadan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat
kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap
adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan di masa depan.

Surabaya, 10 September 2013

Penyusun

2
Bab I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Seperti yang kita ketahui agama islam mempunyai lima rukun islam yang salah
satunya ialah puasa, yang mana puasa termasuk rukun islam yang keempat. Karena puasa
itu termasuk rukun islam jadi, semua umat islam wajib melaksanakannya namun pada
kenyataannya banyak umat islam yang tidak melaksanakannya, karena apa? Itu semua
karena mereka tidak mengetahui manfaat dan hikmah puasa. Bahkan, umat muslim juga
masih banyak yang tidak mengetahui pengertian puasa, dan bagaimana menjalankan
puasa dengan baik dan benar.

Banyak orang-orang yang melakasanakan puasa hanya sekedar melaksanakan,


tanpa mengetahui syarat sahnya puasa dan hal-hal yang membatalkan puasa.
Hasilnya,pada saat mereka berpuasa mereka hanyalah mendapatkan rasa lapar saja.
Sangatlah rugi bagi kita jika sudah berpuasa tetapi tidak mendapatkan pahala.

Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan membahas tentang apa itu puasa,
apakah definisi dan landasan hukum dari puasa, macam-macam puasa, rukun dan syarat
puasa, hal-hal yang dapat membatalkan puasa, keutamaan puasa, dan ancaman serta
hukuman orang yang meninggalkan puasa Ramadan dengan harapan semoga kita bias
meluruskan jalan sesuai dengan syari’at yang telah diatur dalam Al-Qur’an dan Al-
Hadits.

1.2. Rumusan Masalah


a. Apakah definisi dan landasan hukum dari puasa?
b. Apa saja macam-macam puasa?

c. Apa saja rukun dan syarat puasa?

d. Apa saja hal-hal yang dapat membatalkan puasa?

e. Bagaimana keutamaan puasa?

f. Bagaimana ancaman serta hukuman orang yang meninggalkan puasa Ramadan?

1.3. Tujuan Masalah

a. Mengetahui definisi dan landasan hukum puasa.

b. mengetahui macam-macam puasa.

c. mengetahui rukun dan syarat puasa.

d. mengetahui apa saja hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

e. Mengetahui bagaimana keutamaan puasa.

f. Mengetahui ancaman serta hukuman bagi orang yang meninggalkan puasa


Ramadhan

3
Bab II
PEMBAHASAN

A. Puasa
1. Definisi dan Landasan Hukum Puasa
Secara bahasa puasa berarti menahan dan mencegah sesuatu (al-imsak wal kaffu
'anis sya'i). Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Maryam ayat 26 berikut ini:

                 

 

Artinya: "Maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk


Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun
pada hari ini" (QS. Maryam: 26).
Kata shaum dalam ayat di atas maksudnya adalah diam, mencegah dan menahan
untuk tidak berbicara.
Sedangkan menurut istilah ialah menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal
yang membatalkan puasa sejak terbit pajar hingga terbenam matahari dengan niat karena
Allah SWT.

B. Macam-macam Puasa dan Contohnya


1.Macam-macam puasa
Secara garis besar, puasa terbagi kepada empat macam
a. Puasa yang hukumnya wajib
b. Puasa yang hukumnya sunnah
c. Puasa yang hukumnya haram
d. Puasa yang hukumnya makruh

a. PUASA WAJIB
1. Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan adalah puasa sebulan penuh yang wajib dilaksanakan oleh setiap
umat Islam di bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan mulai di wajibkan pada tahun kedua
hijriah. Sebagaimana firman Allah swt.

4
              

                 

                   

               

                   

           

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada
yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa)
sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang
yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu):
memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan
kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui.
185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-
penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena
itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka
hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu
ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur.
2. Puasa Nazar.
Puasa nazar ialah puasa yang dijanjikan untuk dilakukan oleh seseorang yang
bernazar. Dan orang yang bernazar puasa itu terkabul permohonannya, maka hukumnya
wajib dan jika tidak dikerjakan akan berdosa. Jadi puasa Nazar itu wajib setelah
dinazarkan
3. Puasa kifarat
Puasa yang wajib dilaksanakan karena ada sebab, yaitu puasa kifarat. Puasa kifarat
ini adalah puasa untuk menebus kesalahan yang telah dilakukan, misalnya orang yang
melakukan hubungan badan di siang hari bulan Ramadhan, maka ia harus menebus
kesalahannya itu dengan jalan puasa dua bulan berturut-turut. Atau orang yang melanggar
sumpahnya, ia juga harus berpuasa untuk menebus kesalahannya itu selama tiga hari
berturut-turut.

5
b. PUASA SUNNAT
Puasa sunat ialah puasa yang boleh dilakukan dan boleh juga tidak dilakukan. Apabila
dilaksanakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak mengakibatkan berdosa.

Macam-macam puasa sunnat :


1. Puasa hari Senin dan Kamis
Puasa hari Senin dan Kamis merupakan kebiasaan Rasulullah saw. Oleh karena itu
umat Islam disunatkan berpuasa pada hari Senin dan Kamis, sebagaimana dijelaskan
Rasulullah saw dalam sabdanya :
“ Dari Aisyah ra. Bahwasanya Nabi Muhammad saw. Memilih puasa pada hari
Senin dan Kamis.”. (H.R. Tirmidzi)
2. Puasa Arafah
Puasa Arafah ialah puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dinamakan hari Arafah
karena hari itu orang-orang yang melakukan ibadah haji sedang wukuf di Arafah. Puasa
Arafah ini disunatkan bagi orang yang tidak melakukan ibadah haji, sedang mereka yang
melakukan ibadah haji hukumnya makruh. Rasulullah saw bersabda :
Dan dari Abu Hurairah ra. Bersabda : Nabi saw. Melarang puasa Arafah bagi
orang –orang yang ada di Arafah. (HR. Imam Ahmad)

3. Puasa Syawal.
Puasa syawal ialah puasa enam hari pada bulan syawal setelah selesai
melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Rasulullah saw. Bersabda :
‘Dari Abi Ayyub ra. Telah bersabda Rasulullah saw : Barangsiapa puasa
Ramadhan, kemudian ia ikuti dengan puasa enam hari dibulan Syawal ( akan
mendapat pahala ) seperti puasa satu tahun” (H.R. Muslim)

4. Puasa ‘Asyura
Puasa ‘Asyura ialah puasa pada tanggal 10 Muharram. Puasa ‘asyura termasuk
puasa sunat, yang cukup besar pahalanya. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw. :
Dan dari Abi Qatadah ra. Berkata Rasulullah saw. Bersabda: puasa ‘Aisyah itu
dapat menghapus (dosa) dua tahun, tahun yang lalu dan tahun yang akan dsatang
dan puasa ‘asyura itu dapat menghapus (dosa) setahun yang lalu. ( H.R. Jama’ah
kecuali Imam Bukhari dan At-Tirmidzi)

5.Puasa enam hari pada bulan Syawal


Disunnahkan bagi mereka yang telah menyelesaikan puasa Ramadhan untuk
mengikutinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal—pelaksanaannya tidak mesti
berurutan, boleh kapan saja selama masih dalam bulan Syawal—karena puasa enam hari
pada bulan Syawal ini sama dengan puasa

6
6.Puasa tiga hari pada setiap bulan (bulan Islam bukan bulan Masehi)
Disunnahkan juga untuk berpuasa tiga hari setiap bulan qamariyyah (bulan Islam),
yakni setiap tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulannya. Puasa ini sering disebut dengan puasa
bidh, puasa bulan purnama. Dalil sunnahnya puasa bidh ini adalah:
Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw berwasiat kepadaku tiga hal: "Puasa tiga
hari setiap bulan, shalat Dhuha dua rakaat dan shalat witir sebelum tidur" (HR. Bukhari
Muslim).
Rasulullah saw bersabda: "Puasa tiga hari setiap bulan adalah sama dengan puasa
satu tahun. Yaitu puasa pada malam bulan purnama: tanggal 13, 14 dan 15" (HR. Nasai).
7. Puasa Nabi Daud
Puasa Nabi Daud adalah puasa yang diselang satu hari, satu hari puasa, satu hari
tidak, begitu seterusnya. Puasa ini termasuk puasa sunnah, di antaranya berdasarkan
hadits berikut ini:
Rasulullah saw bersabda: "Shalat dan puasa yang paling disukai oleh Allah adalah
shalat dan puasa Nabi Daud as. Nabi Daud biasa tidur setengah malam, lalu ia bangun
pada sepertiga malamnya, lalu tidur lagi pada seperenam malamnya. Puasa Nabi Daud
juga satu hari berpuasa, satu hari berbuka" (HR. Bukhari Muslim). Dalam riwayat lain
disebutkan: "Dia adalah puasa yang paling baik" (HR. Bukhari Muslim).

c.Puasa-puasa yang hukumnya haram


Berikut ini adalah puasa-puasa yang hukumnya haram:
1. Puasa pada hari Raya Idul Fitri (tanggal 1 Syawal) dan pada hari Raya Idul
Adha (tanggal 10 Dzulhijjah).
Sehubungan dengan puasa pada kedua hari ini, para ulama telah sepakat bahwa
hukumnya haram (lihat dalam al-Mughni: 4/424 dan Fathul Bari: 4/281). Di antara dalil
yang melarang puasa ini adalah:
"Rasulullah saw melarang puasa pada dua hari: Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha" (HR.
Bukhari Muslim).
2. Puasa pada hari Tasyrik
Para ulama juga telah sepakat bahwa puasa pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12, dan
13 Dzulhijjah) diharamkan. Hal ini di antaranya didasarkan kepada hadits berikut ini:
Rasulullah saw bersabda: "Hari Tasyrik itu adalah hari makan dan minum (dilarang
berpuasa)" (HR. Muslim).
Hanya saja, bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji dan tidak mendapatkan
hadyu (hewan sembelihan untuk membayar dam), diperbolehkan untuk berpuasa pada
ketiga hari tasyrik tersebut. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:
Siti Aisyah dan Ibn Umar berkata: "Tidak diperbolehkan berpuasa pada hari-hari Tasyrik,
kecuali bagi yang tidak mendapatkan hadyu (hewan sembelihan)" (HR. Bukhari).
3. Puasa pada hari yang diragukan (hari syak, ragu).

7
Apabila seseorang melakukan puasa sebelum bulan Ramadhan satu atau dua hari
dengan maksud untuk hati-hati takut Ramadhan terjadi pada hari itu, maka puasa
demikian disebut dengan puasa ragu-ragu dan para ulama sepakat bahwa hukumnya
haram. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw:
Rasulullah saw bersabda: "Seseorang tidak boleh mendahului Ramadhan dengan jalan
berpuasa satu atau dua hari kecuali bagi seseorang yang sudah biasa berpuasa, maka ia
boleh berpuasa pada hari terebut" (HR. Bukhari Muslim).
Dalam hadits lain disebutkan:
Amar bin Yasir berkata: "Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan
padanya, maka sungguh ia telah berbuat dosa kepada Abu Qasim, Rasulullah
saw" (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).

d.Puasa-puasa yang hukumnya makruh

1. Puasa hanya pada hari Jum'at


Berpuasa hanya pada hari Jum'at saja termasuk puasa yang makruh hukumnya,
kecuali apabila ia berpuasa sebelum atau setelahnya, atau ia berpuasa Daud lalu jatuh pas
hari Jumat, atau juga pas puasa Sunnat seperti tanggal sembilan Dzuhijjah itu, jatuhnya
pada hari Jum'at. Untuk yang disebutkan di akhir ini, puasa boleh dilakukan, karena
bukan dengan sengaja hanya berpuasa pada hari Jum'at.
Dalil larangan hanya berpuasa pada hari Jum'at saja adalah:
Rasulullah saw bersabda: "Seseorang tidak boleh berpuasa hanya pada hari
Jum'at, kecuali ia berpuasa sebelum atau sesudahnya" (HR. Bukhari Muslim).
2. Puasa setahun penuh (puasa dahr)
Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan setahun penuh. Meskipun orang tersebut
kuat untuk melakukannya, namun para ulama memakruhkan puasa seperti itu. Hal ini
sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:
Umar bertanya: "Ya Rasulallah, bagaimana dengan orang yang berpuasa satu
tahun penuh?" Rasulullah saw menjawab: "Ia dipandang tidak berpuasa juga tidak
berbuka" (HR. Muslim).
3. Puasa wishal
Puasa wishal adalah puasa yang tidak memakai sahur juga tidak ada bukanya,
misalnya ia puasa satu hari satu malam, atau tiga hari tiga malam. Puasa ini

8
diperbolehkan untuk Rasulullah saw dan Rasulullah saw biasa melakukannya, namun
dimakruhkan untuk ummatnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut ini:
Rasulullah saw bersabda: "Janganlah kalian berpuasa wishal" beliau
mengucapkannya sebanyak tiga kali. Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, anda sendiri
melakukan puasa wishal?" Rasulullah saw bersabda kembali: "Kalian tidak seperti saya.
Kalau saya tidur, Allah memberi saya makan dan minum. Oleh karena itu, perbanyaklah
dan giatlah bekerja sekemampuan kalian" (HR. Bukhari Muslim).
4. Puasa hanya pada hari Sabtu
Puasa hanya pada hari Sabtu ini ketentuannya sama dengan puasa hanya pada hari
Jum'at sebagaimana telah disebutkan di atas. Yang dilarang dari puasa hanya hari Sabtu
itu adalah puasa yang hanya hari itu saja dan tidak bertepatan dengan puasa yang
disunatkan, misalnya tidak bertepatan dengan puasa Arafah, puasa Asyura dan lainnya
(lihat dalam al-Majmu' karya Imam Nawawi: 6/440), al-Mughni: 4/428). Dalil
makruhnya puasa ini adalah hadits berikut ini:
Rasulullah saw bersabda: "Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali apa
yang telah Allah wajibkan kepada kalian. Apabila seseorang tidak mendapatkan selain
kulit buah anggur atau dahan kayu, maka kunyahlah" (HR. Abu Dawud).
Hanya saja, hadits ini lemah, sehingga untuk persoalan puasa ini para ulama
sangat beragam pendapat. Namun demikian, hadits ini, hemat penulis, dikuatkan pula
oleh hadits-hadits lainnya yang semakna. Oleh karena itu, berpuasa hanya pada hari
Sabtu saja termasuk puasa yang hukumnya makruh.

C.Rukun dan Syarat Puasa


1. Syarat Wajib Puasa
a. Muslim
b. Baligh
c. Berakal sehat
d. Mampu berpuasa
e. tidak dalam keadaan haid dan nifas ( bagi wanita)
2. Rukun Puasa
a. Niat puasa karena Allah SWT pada malam hari
b. Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa
3. Amalan Sunnah pada waktu berpuasa
a. Makan sahur
b. Mengakhirkan waktu sahur
c. Menyegerakan berbuka
d. Apabila ada, sebaiknya makanan pertama untuk berbuka adalah kurma atau air
e. Berdoa ketika berbuka puasa

9
D. Hal-hal yang dapat membatalkan Puasa
a. Makan dan minum dengan sengaja
b. Bersenggama / bersetubuh
c. Memasukan sesuatu pada lubang anggota badan
d. Muntah dengan sengaja
e. Datang haid dan nifas (bagi wanita)
f. Hilang ingatan atau gila
g. Keluar mani (sperma) dengan sengaja
h. Murtad (keluar dari agama Islam)
E. Keutamaan puasa
1. Amal mulia yang pahalanya akan dibalas langsung dari Allah SWT
Jika amal-amal lain telah disebutkan pahalanya oleh Allah SWT, ternyata pahala
puasa akan langsung diberikan Allah SWT tanpa diberitakan terlebih dahulu berapa
batasan pahalanya.
2. Bau mulut orang yang puasa lebih baik di sisi Allah daripada minyak misik
Meskipun manusia tidak menyukai bau mulut orang yang berpuasa karena tidak
sedap, tetapi di sisi Allah SWT itu lebih baik dan lebih harum dari pada minyak misik.
Nabi SAW bersabda :
Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut
orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak
misik… (Muttafaq 'Alaih)
3. Orang yang puasa akan mendapat dua kegembiraan
Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan; ketika berbuka dia gembira
dengan bukanya dan ketika bertemu Tuhannya dia gembira dengan puasanya.
(Muttafaq 'Alaih)
4. Memasukkan pelakunya ke dalam surga
Suatu hari Abu Umamah datang kepada Nabi SAW dan bertanya tentang amal
yang bisa memasukkannya ke surga. Imam Ahmad, Nasa'i dan Hakim meriwayatkan
dalam hadits berikut ini:
Dari Abu Umamah berkata: Saya datang kepada Rasulullah SAW, maka saya
berkata: "Perintahkan kepada saya dengan sebuah amal yang dapat memasukkan
saya ke dalam surga!" Rasulullah SAW menjawab: "Berpuasalah, sesungguhnya
tiada tandingan baginya" Kemudian saya datang untuk kedua kalinya, maka
Beliau berkata: "Berpuasalah" (HR. Ahmad, Nasa'i dan Hakim dan dia
menshahihkannya)
5. Puasa sehari di jalan Allah menjauhkan pelakunya dari neraka sejauh tujuh
puluh musim
Diantara keutamaan puasa adalah menjauhkan pelakunya dari neraka. Satu hari
puasa setara dengan penambahan jarak sejauh tujuh puluh musim dari neraka.

10
Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah kecuali Allah menjauhkan
wajahnya dengan hari itu dari api neraka tujuh puluh musim. (HR. Jama'ah
kecuali AbuDawud)
E. Ancaman dan hukuman orang yang meninggalkan puasa Ramadan
Ancaman dan hukuman bagi yang tidak melaksanakan puasa Ramadhan tanpa ada
udzur (tanpa ada alasan yang sah secara syar'i)
Orang yang tidak melakukan puasa pada bulan Ramadhan padahal ia sudah baligh
berakal tanpa alasan yang jelas, di samping berdosa juga sangat dikecam. Di antara dalil
terlarangnya tidak berpuasa Ramadhan bagi yang tidak ada udzur adalah:
Abu Umamah al-Bahily berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:
"Ketika saya sedang tidur, saya bermimpi didatangi dua orang laki-laki. Keduanya lalu
menarik lengan saya dibawa ke sebuah gunung yang sulit didaki karena banyak batu-
batu. Keduanya lalu berkata: "Naiklah". Saya menjawab: "Saya tidak mungkin dapat
mendakinya". Keduanya berkata: "Saya akan memudahkan kamu untuk mendakinya".
Saya pun lalu naik ke atasnya. Ketika sudah berada di puncak gunung, tiba-tiba saya
mendengar jeritan yang sangat keras. Saya bertanya: "Jeritan apa ini?" Mereka
menjawab: "Ini adalah jeritan penghuni neraka". Kemudian saya dibawa pergi. Tiba-tiba
saya mendapati sekelompok orang yang menggantung leher mereka sendiri, dan ujung
mulut-mulut mereka dirobek-robek sehingga tampak dari ujung mulut mereka darah
segar mengalir. Saya bertanya: "Siapakah mereka ini?" Ia menjawab: "Mereka adalah
orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktu berbuka tiba" (HR. Nasai, Ibn Hibban,
Hakim dan sanad hadits tersebut shahih).
Bahkan dalam hadits di bawah ini disebutkan bahwa orang yang dengan sengaja
berbuka pada bulan Ramadhan tanpa alasan syar'i, maka satu hari ia berbuka tidak dapat
ditebus sekalipun dengan berpuasa setahun lamanya.
"Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang berbuka satu hari saja dengan
sengaja dan tanpa alasan syari pada siang hari bulan Ramadhan, maka ia tidak dapat
ditebus sekalipun dengan berpuasa satu tahun lamanya" (HR. Turmudzi, Abu Dawud dan
Baihaki).
Hadits ini dhaif lantaran di antara rawinya ada yang bernama Hubaib bin Abi
Tsabit yang oleh para ulama dipandang lemah dan dipandang ayahnya tidak mendengar
hadits tersebut dari Abu Hurairah sebagaimana dikatakan oleh Ibn Hajar al-Asqalani
dalam Fathul Bari (4/161). Namun demikian, hadits ini dapat kita pakai juga dalam hal
bahwa begitu berat ancaman dan teguran bagi mereka yang berbuka puasa dengan
sengaja pada siang bulan Ramadhan.

11
Bab III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Puasa adalah salah satu rukun islam, yaitu yang ketiga. Setiap umat islam
diwajibkan berpuasa terutama pada bulan Ramadhan. Secara bahasa puasa diartikan
menahan dan mencegah sesuatu, sedangkan secara istilah berasal dari kata shaum atau
shiyam yang berarti menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari
terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat untuk beribadah kepada Allah.
Dan puasa ada banyak macamnya diantaranya: Puasa wajib, Puasa Sunnah, Puasa haram,
dan Puasa makruh.

3.2. Saran
Sebagaimana pepatah yang menyatakan tiada gading yang tak retak, maka
penyusunan makalah ini pun tentunya banyak dijumpai kekurangan dan kelemahan .
Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharapkan tegur sapa serta
penyempurnaan, agar kekurangan dan kelemahan yang ada tidak sampai mengurangi
nilai dan manfaat bagi pengembangan ilmu khusunya dalam ilmu agama.

12
DAFTAR PUSTAKA

Darusmanwiati, Aep Saepulloh. FIQHUS SHIYAM: MENUJU KESEMPURNAAN


IBADAH PUASA.

MGMP-PAI KOTA BOGOR. Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VIII Semester 1

http://id.wikipedia.org/wiki/Puasa
http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa.html
http://teratakperantau.blogspot.com/2008/09/pengenalan-puasa.html

13