Anda di halaman 1dari 10

Latihan Kelompok!

Buatlah rancangan model kegiatan Literasi dengan berbagai model


pembelajaran!

Contoh.
Rancangan Model Pembelajaran Analisis Isi Tajuk Rencana pada Surat Kabar
Kompas dengan Ancangan Literasi Informasi
Sebagaimana langkah membaca tajuk rencana dengan ancangan literasi
informasi yang dikemukakan Binkley,dkk dalm Abidin (2015, hlm. 229), maka
model pembelajaran analisis isi tajuk rencana dengan ancangan literasi informasi
ini dilakukan dengan langkah berikut. Pertama, peserta didik diminta untuk
melakukan penelitian awal. Hal ini dapat dilakukan dengan brainstorming dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan memvisualisasikan pemikiran tentang
praktik korupsi di Indonesia. Selain itu dalam langkah ini peserta didik perlu
menentukan lebih dulu jenis tulisan yang akan dibuat. Dalam hal ini siswa diminta
untuk menganalisis isi tajuk rencana yang akan dibaca dari harian Kompas. Tajuk
rencana yang dipilih merupakan tajuk rencana yang memuat praktik korupsi di
Indonesia. Ide-ide tentang pemberian hukuman pada para pelaku korupsi yang
didasarkan pada tingginya tingkat pelanggaran korupsi yang dilakukan. Kedua,
membaca tajuk rencana yang telah dipilih tersebut dengan cermat, berusaha
memahami isinya, menemukan fakta-fakta yang dimuat dalam tajuk rencana.
Mencoba menemukan opini redaksi berkaitan dengan fakta tentang korupsi,
misalnya banyaknya pejabat yang terlibat dalam kasus korupsi. Secara lebih rinci,
berikut adalah sintak model pembelajaran analisis isi tajuk rencana pada harian
Kompas dengan ancangan literasi Informasi.
Tujuan
1) Siswa menemukan dan memilih tajuk rencana yang memuat tentang korupsi di
Indonesia.

29
30

2) Siswa menemukan fakta-fakta yang diungkapkan dalam tajuk rencana yang


dipilih.
3) Siswa menemukan opini redaksi berkaitan dengan kasus korupsi dan realisasi
pemberian sanksi terhadap pelaku korupsi.
4) Siswa menuliskan opininya tentang praktik korupsi dan realisasi pemberian
sanksi terhadap pelaku korupsi.
5) Siswa melaporkan hasil diskusinya dalam bentuk esai.
6) Siswa mempresentasikan esai yang telah disusun dalam diskusi kelas.
7) Siswa dan guru memberi masukan terhadap presentasi yang dilakukan setiap
siswa.
Langkah-langkah Pembelajaran
Tugas
1) Mahasiswa melacak cerpen-cerpen yang menyuarakan pikiran kritis dan
kesadaran kritis sekaitan dengan kekuasaan, baik yang didasarkan pada bias
gender, ras, marginalisasi sosial, eksploitasi, atau ketidakberdayaan.
2) Pelacakan cerpen dilakukan dengan membaca buku kumpulan cerpen atau
mencari di internet.
3) Hasil dari pelacakan tersebut ditemukan naskah-naskah cerpen yang me-
nyuarakan ide-ide tentang kekuasaan, baik yang didasarkan pada bias gender,
ras, marginalisasi sosial, eksploitasi, atau ketidakberdayaan.
4) Mahasiswa membaca teori-teori tentang bahasa dan kekuasaan yang dapat
mendukung pembahasan terkait dengan cerpen-cerpen yang telah ditemukan.
Tugas Minggu ke-2
1) Mahasiswa membentuk kelompok kecil (beranggotakan 2-3
orang/kelompok).
2) Tiap anggota kelompok membaca naskah cerpen yang telah ditemukan
masing-masing.
31

3) Saling mendiskusikan penanda-penanda kebahasan yang dapat digunakan


untuk menyimpulkan bahwa cerpen-cerpen yang dibaca menyuarakan ide-
ide tentang kekuasaan.
4) Menetapken satu cerpen dari cerpen-cerpen yang ditemukan untuk dibahas
masing-masing mahasiswa secara lebih lanjut.
Tugas Minggu ke-3
1) Tiap mahasiswa membaca secara intens satu cerpen yang telah dipilih.
2) Menganalisis struktur cerpen yang telah dibaca.
3) Tiap mahasiswa menandai paragraf-paragraf cerpen yang dinilai memuat ide-
ide tentang kekuasaan.
4) Mendiskusikan ide-ide tentang kekuasaan yang disuarakan dalam cerpen yang
dibaca.
5) Mahasiswa mengaitkan temuan analisisnya dengan teori-teori tentang
kekuasaan.
6) Mahasiswa menyusun temuan analisisnya dalam bentuk esai.
7) Mahasiswa mengedit esai yang telah ditulis.

Pertemuan Minggu ke-4 sampai Minggu ke-7


1) Tiap mahasiswa mempresentasikan esainya dalam diskusi kelas.
2) Dosen dan mahasiswa memberi masukan tentang esai dan tampilan yang
presentasi.
3) Dosen memberikan penguatan.

Penilaian
Berikut adalah model penilaian kajian literasi kritis terhadap cerpen

Tabel 4.1
Rambu-rambu Penilaian Kajian Literasi Kritis Terhadap Cerpen

Aspek yang Skor Klasi- Penjelasan


dinilai Fikasi
32

Kualitas Isi 33-40 Sangat Analisis dilakukan sempurna, lengkap,


(Bobot 40) Baik mendalam, menggunakan teori analisis yang
tepat, menganalisis gagasan tentang pikiran
kritis dan kesadaran kritis sekaitan dengan
kekuasaan, baik yang didasarkan pada bias
gender, ras, marginalisasi sosial, eksploitasi,
atau ketidakberdayaan secara mendalam,
mengemas kajian secara kolaborasi mencakup
teori, logika, dan menyertakan kutipan cerpen
sebagai bukti empirik.
25-32 Baik Analisis dilakukan mendekati sempurna,
lengkap, mendalam, masih menggunakan teori
anlisis yang tepat, memunculkan lebih dari dua
analisis gagasan (di antara gagasan tentang
kekuasaan, baik yang didasarkan pada bias
gender, ras, marginalisasi sosial, eksploitasi,
atau ketidakberdayaan) secara baik, masih
mengemas kajian secara kolaborasi mencakup
teori, logika, dan menyertakan kutipan cerpen
sebagai bukti empirik.
17-24 Cukup Analisis dilakukan cukup baik, cukup lengkap,
cukup mendalam, hanya memunculkan dua
gagasan (di antara gagasan tentang kekuasaan,
baik yang didasarkan pada bias gender, ras,
marginalisasi sosial, eksploitasi, atau
ketidakberdayaan), memunculkan teori kajian,
logika, dan menyertakan kutipan cerpen sebagai
bukti empirik, tapi tidak berkolaborasi dengan
baik, dan belum menunjukkan anlisis yang utuh.
9-16 Kurang Analisis dilakukan dengan kurang lengkap,
kurang mendalam, hanya memunculkan satu (di
antara gagasan kekuasaan, baik yang
didasarkan pada bias gender, ras,
marginalisasi sosial, eksploitasi, atau
ketidakberdayaan) kurang memunculkan teori
kajian, logika, dan menyertakan kutipan cerpen
sebagai bukti empirik, juga tidak berkolaborasi
dengan baik, sehingga kurang menunjukkan
anlisis yang utuh.
1-8 Sangat Analisis dilakukan secara dangkal, tidak
Kurang lengkap, tidak mendalam, tidak mengemas
kajian secara kolaborasi mencakup teori, logika,
33

dan tidak menyertakan kutipan cerpen sebagai


bukti empiris.

Organisasi 21-25 Sangat Analisis mengandung struktur yang lengkap,


dan Baik yaitu ada paragraf pembuka yang sangat baik,
Penyajian menampilkan isi dengan sangat baik, memiliki
Isi (Bobot kohesi dan koherensi antar paragraf dengan
25 ) sangat baik, ada paragraf penutup yang sangat
baik.
16-20 Baik Analisis mengandung struktur yang lengkap,
yaitu ada paragraf pembuka yang baik,
menampilkan isi dengan baik, memiliki kohesi
dan koherensi antar paragraf, ada paragraf
penutup yang baik.
11-15 Cukup Analisis langsung menggambarkan isi, tetapi
masih menunjukkan kohesi dan koherensi yang
cukup baik.
6-10 Kurang Analisis langsung menggambarkan isi, kurang
menunjukkan kohesi dan koherensi yang baik.
1-5 Sangat Analisis tidak memiliki struktur yang lengkap,
Kurang langsung menggambarkan isi, menunjukkan
kohesi dan koherensi yang sangat kurang.
Diksi/Piliha 17-20 Sangat Analisis menggunakan diksi dengan tepat,
n Kata Baik mampu membuat analisis sangat hidup,
(Bobot 20) mencair, sangat gamblang, dan utuh.
13-16 Baik Analisis menggunakan diksi dengan baik,
mampu membuat analisis mencair, gamblang,
dan utuh.
9-12 Cukup Analisis menggunakan diksi dengan cukup baik,
tetapi membuat analisis kurang mencair, kurang
gamblang, dan kurang utuh.
5-8 Kurang Analisis menggunakan diksi yang kurang tepat,
membuat analisis kurang mencair, kurang
gamblang, dan kurang utuh.
Analisis menggunakan diksi yang tidak tepat,
1-4 Sangat membuat analisis tidak mencair, tidak
Kurang gamblang, dan tidak utuh.

Ejaan 13-15 Sangat Penggunaan ejaan dalam tulisan sesuai dengan


(Bobot 15) Baik aturan yang telah ditentukan
10-12 Baik Penggunaan ejaan dalam tulisan lebih dari
setengahnya sesuai dengan aturan yang telah
34

ditentukan
7-9 Cukup Penggunaan ejaan dalam tulisan, setengahnya
sesuai dengan aturan yang telah ditentukan
4-6 Kurang Penggunaan ejaan dalam tulisan lebih dari
setengahnya tidak sesuai dengan aturan yang
telah ditentukan
1-3 Sangat Penggunaan ejaan dalam tulisan tidak sesuai
Kurang dengan aturan yang telas ditentukan.

Tabel 3
Instrumen Pengukuran Indikator Dimensi Literasi untuk Siswa

No Butir Pertanyaan Jawaban


1 2 3 4 5
a. Dimensi Literasi Kognitif
1. Saya menjadi lebih mengerti tentang
pentingnya pemahaman terhadap huruf
dalam kata-kata merupakan bagian
penting dari membaca dan menulis.
2. Saya menjadi lebih mengetahui cara
belajar membaca dan menulis yang
efektif.
3. Saya menjadi lebih mengetahui cara
pembelajaran literasi/ membaca menulis
yang berfokus pada makna teks dan isi
secara keseluruhan pada apresiasi cerpen.
4. Saya menjadi lebih mengetahui cara
pembelajaran melatih kemampuan
menerjemahkan ide dari satu bahasa ke
bahasa lain.
5. Saya menjadi lebih mengetahui cara
melatih pemahaman terhadap makna dan
maksud sebuah tulisan.
6. Saya menjadi lebih mengetahui melatih
kemahiran pemilihan kata-kata yang tepat
dalam hubungannya dengann intonasi
suara (phonics).
7. Saya menjadi lebih mengetahui melatih
35

proses menulis dan berbicara yang


diawali dengann proses berpikir.
8. Saya menjadi lebih mengetahui
pembelajaran membaca dan menulis yang
melibatkan berpikir prediktif atau logika.
9. Saya menjadi lebih mengetahui melatih
pengetahuan fungsi, tujuan, atau alasan
untuk membaca dan menulis.
10. Saya menjadi lebih mengetahui
pembelajaran dalam memahami dan
menafsirkan teks.
11. Saya menjadi lebih menyadari bahwa
kemampuan literasi meningkatkan
individu dalam berpikir secara umum dan
kapasitas intelektual.
b. Dimensi Literasi Linguistik
12. Saya menjadi lebih menyadari
pentingnya keterpahaman makna dalam
ejaan bahasa.
13. Saya menjadi lebih terlatih dalam
menulis teks dan membaca teks.
14. Saya menjadi lebih mengetahui ragam
dialek kedaerahan dalam karya sastra.
15. Saya menjadi lebih terlatih dalam
kesesuaian ejaan bahasa dengann
pengucapan huruf demi huruf.
16. Saya menjadi lebih terlatih dalam
pembelajaran dengann tingkat kesulitan
atau kompleksitas dari teks tertentu.
17. Saya merasa lebih mahir dan paham
terhadap ejaan dalam teks.
18. Saya menjadi lebih mengetahui dialek
kedaerahan yang dianggap lebih baku dan
diakui bersama di lingkungan sosial.
19. Saya menjadi lebih mengetahui cara
membaca dan menulis bahasa daerah
tertentu.
20. Saya menjadi lebih mengetahui dan
banyak memahami kosa kata dalam teks.
36

c. Dimensi Literasi Sosiokultural


21. Saya menjadi lebih mengetahui
pembelajaran kemahiran dalam proses
sosial budaya.
22. Saya menjadi lebih menyadari
pentingnya budaya kegiatan membaca
dan menulis di rumah.
23. Saya menjadi lebih menyadari
pentingnya tingkat pendidikan untuk
meningkatkan nilai-nilai norma kelas
menengah, ideologi dan kecerdasan.
24. Saya menjadi lebih menyadari
pentingnya meningkatkan kecerdasan dan
keliteratan untuk menunjang kesuksesan,
pengembangan sosial ekonomi, dan status
individu.
25. Saya menjadi lebih mengetahui
perbedaan kemampuan literasi antar
kelompok, antar wilayah dan perbedaan
dari zaman ke zaman.
26. Saya menjadi lebih mengetahui ciri-ciri
sikap moral individu yang literat, cerdas
dalam membaca dan menulis.
27. Saya menjadi lebih mengetahui cara
melatih kemampuan berpikir umum dan
kecerdasan.
28. Saya menjadi lebih menyadari
pentingnya belajar membaca dan menulis
walaupun keterbatasan ekonomi.
29. Saya menjadi lebih menyadari
pentingnya kegiatan membaca dan
menulis bukan hanya di lembaga
pendidikan saja tetapi juga di lingkungan
masyarakat.
37

30. Saya menjadi lebih menyadari


Mengungkap kegiatan membaca dan
menulis tidak dipengaruhi oleh perbadaan
etnis, ras, dan kebudayaan masing-
masing.
d. Dimensi Literasi Pengembangan
(depelopmental)
31. Saya menjadi lebih terlatih memperbaiki
kesalahan dalam kegiatan membaca dan
menulis.
32. Saya menjadi lebih terlatih belajar
membaca dan menulis melalui proses
imitasi, praktik, dan penguasaan.
33. Saya menjadi lebih terlatih keterampilan
phonics (berkenaan dengann bunyi) dan
keterampilan merangkai kata untuk lebih
memberikan kemahiran membaca.
34. Saya menjadi lebih terlatih membaca atau
menulis kalimat, paragraf atau cerita.
35. Saya menjadi lebih terlatih dalam
kegiatan membaca dan menulis yang
berfokus pada makna dan fungsional
penggunaan bahasa tertulis.
36. Saya menjadi lebih terlatih dalam
menyimak kosakata, ejaan kata yang
terdengar ke luar dari vokalnya.
37. Saya menjadi lebih terlatih dalam
keterampilan membaca dan menulis
dengann cara yang tersegmentasi,
sequencing, dan terisolasi untuk
memastikan penguasaan yang memadai.
38. Saya menjadi lebih terlatih dalam praktik
instruksional membaca dan menulis kata-
kata yang baru.
39. Saya menjadi lebih terlatih dalam
pembelajaran literasi/membaca dan
menulis pada berbagai kontek sosial,
politik dan kemasyarakatan.
38