Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN DISTRESS SPIRITUAL

Makalah Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Keperawatan Kesehata Jiwa I
Yang Dibina Oleh Bapak Rully Andika, MAN

Kelompok : 3
Anggota kelompok :
1. Putri Septia Sari (108116046)
2. Anjas Upi Rahmawati (108116056)
3. Ni’matul Khoeriyah (1081160

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AL - IRSYAD


AL – ISLAMIYYAH CILACAP
TAHUN AJARAN 2017/2018

I
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
sebaik-baiknya. Penyusunan makalah ini atas dasar tugas mata kuliah Keperawatan
Jiwa tentang “Distress Spiritual ” untuk melengkapi materi berikutnya.

Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu proses


pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca tentang
Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Distress Spiritual . Penulis
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, atas bantuan serta dukungan dan
doa nya. Khususnya kepada Bapak Rully Andika.,MAN ,selaku dosen pembimbing
mata kuliah Keperawatan Jiwa

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca dan
dapat mengetahui tentang Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan jiwa
Distress Spiritual . Penulis juga memohon maaf apabila makalah ini mempunyai
kekurangan, karena keterbatasan penulis yang masih dalam tahap pembelajaran.
Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun, sangat
diharapkan oleh penulis dalam pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah
sederhana ini bermanfaat bagi pembaca maupun penulis.

Cilacap, 1 Juni 2018

Penulis

II
Daftar isi

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... ii


Daftar isi.................................................................................................................................... iii
BAB I .........................................................................................................................................1
PENDAHULUAN......................................................................................................................1
A. Latar belakang ...............................................................................................................1
B. Rumusan masalah ..........................................................................................................2
C. Tujuan ............................................................................................................................2
BAB II ........................................................................................................................................3
PEMBAHASAN ........................................................................................................................3
A. Definisi spiritualitas dan religi.......................................................................................3
B. Aspek spiritualitas .........................................................................................................3
C. Dimensi spiritual............................................................................................................4
D. Berfikir kritis dan spiritual.............................................................................................4
E. Kesehatan spiritual ........................................................................................................5
F. Distress spiritual ............................................................................................................7
BAB III ....................................................................................................................................17
PENUTUPAN ..........................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................................19

III
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Setiap orang dalam hidupnya pasti akan menghadapi yang namanya masalah,
sikap seseorang dalam menghadapi sangat ditentukan oleh keyakinan mereka
masing-masing. Keyakinan yang dimiliki setiap orang selalu dikaitkan dengan
kepercayaan atau agama. Spiritual, keyakinan dan agama merupakan hal yang
berbeda namun seringkali diartikan sama. Penting sekali bagi seorang perawat
memahami perbedaan antara Spiritual, keyakinan dan agama guna menghindarkan
salah pengertian yang akan mempengaruhi pendekatan perawat dengan pasien.

Pasien yang sedang dirawat dirumah sakit membutuhkan asuhan keperawatan


yang holistik dimana perawat dituntut untuk mampu memberikan asuhan
keperawatan secara komprehensif bukan hanya pada masalah secara fisik namun
juga spiritualnya.
Pasien dalam perspektif keperawatan merupakan individu, keluarga atau
masyarakat yang memiliki masalah kesehatan dan membutuhkan bantuan untuk
dapat memelihara, mempertahankan dan meningkatkan status kesehatannya dalam
kondisi optimal. Sebagai seorang manusia, klien memiliki beberapa peran dan
fungsi seperti sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan.
Berdasarkan hakikat tersebut, maka keperawatan memandang manusia sebagai
mahluk yang holistik yang terdiri atas aspek fisiologis, psikologis, sosiologis,
kultural dan spiritual.
Tidak terpenuhinya kebutuhan manusia pada salah satu diantara dimensi di atas
akan menyebabkan ketidaksejahteraan atau keadaan tidak sehat. Kondisi tersebut
dapat dipahami mengingat dimensi fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan kultural
merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan. Tiap bagian dari individu
tersebut tidaklah akan mencapai kesejahteraan tanpa keseluruhan bagian tersebut
sejahtera.

1
B. Rumusan masalah
1. Apa definisi dari spiritualitas dan religi ?
2. Apa aspek spiritualitas ?
3. Apa saja dimensi spiritual ?
4. Bagaimana berfikir kritis dan spiritual ?
5. Apa itu kesehatan spiritual ?
6. Bagaimana askep distress spiritual ?
C. Tujuan

1. Apa definisi dari spiritualitas dan religi ?


2. Apa aspek spiritualitas ?
3. Apa saja dimensi spiritual ?
4. Bagaimana berfikir kritis dan spiritual ?
5. Apa itu kesehatan spiritual ?
6. Bagaimana askep distress spiritual ?

2
BAB II

PEMBAHASAN

Spiritualitas dan religi


A. Definisi spiritualitas dan religi

Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha


Kuasa dan Maha Pencipta, sebagai contoh seseorang yang percaya kepada
Allah sebagai Pencipta atau sebagai Maha Kuasa. Spiritualitas mengandung
pengertian hubungan manusia dengan Tuhannya dengan menggunakan
instrumen (medium) sholat, puasa, zakat, haji, doa dan sebagainya (Hawari,
2002).
Berdasarkan kamus, religi berarti suatu sistem kepercayaan dan
praktek yang berhubungan dengan Yang Maha Kuasa (Smith, 1995).
Pargamet (1997) mendefinisikan religi sebagai suatu pencarian
kebenaran tentang cara-cara yang berhubungan dengan korban atau
persembahan. Seringkali kali kata spiritual dan religi digunakan secara
bertukaran, akan tetapi sebenarnya ada perbedaan antara keduanya. Dari
definisi religi, dapat digunakan sebagai dasar bahwa religi merupakan
sebuah konsep yang lebih sempit dari pada spiritual. Jadi dapat dikatakan
religi merupakan jembatan menuju spiritual yang membantu cara berfikir,
merasakan, dan berperilaku serta membantu seseorang menemukan makna
hidup. Sedangkan praktek religi merupakan cara individu mengekspresikan
spiritualnya.
B. Aspek spiritualitas

Kebutuhan spiritual adalah harmonisasi dimensi kehidupan. Dimensi ini


termasuk menemukan arti, tujuan, menderita, dan kematian; kebutuhan akan
harapan dan keyakinan hidup, dan kebutuhan akan keyakinan pada diri
sendiri, dan Tuhan. Ada 5 dasar kebutuhan spiritual manusia yaitu: arti dan

3
tujuan hidup, perasaan misteri, pengabdian, rasa percaya dan harapan di
waktu kesusahan (Hawari, 2002).
Menurut Burkhardt (Hamid, 2000) spiritualitas meliputi aspek sebagai
berikut:
1. Berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau
ketidakpastian dalam kehidupan
2. Menemukan arti dan tujuan hidup
3. Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan
dalam diri sendiri
4. Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan
Yang Maha Tinggi.
C. Dimensi spiritual
Dimensi spiritual berupaya untuk mempertahankan keharmonisan atau
keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan
kekuatan ketika sedang menghadapi stress emosional, penyakit fisik, atau
kematian. Dimensi spiritual juga dapat menumbuhkan kekuatan yang timbul
diluar kekuatan manusia (Kozier, 2004).
Spiritualitas sebagai suatu yang multidimensi, yaitu dimensi
eksistensial dan dimensi agama, Dimensi eksistensial berfokus pada tujuan
dan arti kehidupan, sedangkan dimensi agama lebih berfokus pada hubungan
seseorang dengan Tuhan Yang Maha Penguasa. Spirituaiitas sebagai konsep
dua dimensi. Dimensi vertikal adalah hubungan dengan Tuhan atau Yang
Maha Tinggi yang menuntun kehidupan seseorang, sedangkan dimensi
horizontal adalah hubungan seseorang dengan diri sendiri, dengan orang lain
dan dengan 9 lingkungan. Terdapat hubungan yang terus menerus antara dua
dimensi tersebut (Hawari, 2002).
D. Berfikir kritis dan spiritual
Perawat ahli membutuhkan kemampuan untuk menggali privasi klien
untuk menerima dan mencari bantuan. Perawat memiliki caring holistik
memberdayakan mereka untuk mendapat tingkat kenyamanan dan dukungan
yang bersifat intutif. Intuitif klinik (Young, 1987) Perawat mengetahui

4
tentang klien yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Intusisi (rasa
hangat dan empati dari dalam) memberikan aspek berpikir kritis yang
menganalisis dan merasakan isyarat yang berbeda, ingatan, dan perasaan
untuk membantu perawat memiliki kesadaran lebih baik tentang kebutuhan
klien.
Perawat mengetahui isyarat spiritual yang ditunjukkan klien selama
masa penyembuhan, perubahan, penyakit, dan kehilangan. Intuisi dapat
muncul dari rada kedekatan dengan klien.
E. Kesehatan spiritual
Dicapai ketika seseorang menemukan keseimbangan antara, nilai
hidup, hasil dan system kepercayaan, hubungan antara diri sendiri dan orang
lain.
Kesehatan spiritual atau kesejahteraan adalah kebutuhan untuk
mempertahankan atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban
agama, serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan,
mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya dengan
Tuhan (Carson,1989).
Pada saat terjadi stress, penyakit, penyembuhan, atau kehilangan,
seseorang mungkin berbalik ke cara-cara lama dalam merespons atau
menyesuaikan dengan situasi. Sering kali gaya koping ini terdapat dalam
keyakinan atau nilai dasar orang tersebut. Keyakinan ini sering berakar
dalam spiritualitas orang tersebut. Sepanjang hidup seorang individu
mungkin tumbuh lebih spiritual, menjadi lebih menyadari tentang makna,
tujuan, dan nilai hidup.
Spiritualitas dimulai ketika anak-anak belajar tentang diri mereka dan
hubungan mereka dengan orang lain. Banyak orang dewasa mengalami
pertumbuhan spiritual ketika memasuki hubungan yang langgeng.
Kemampuan untuk mengasihi orang lain dan diri sendiri secara
bermakna adalah bukti dari kesehatan spiritualitas. Menetapkan hubungan
dengan yang maha agung, kehidupan, atau nilai adalah salah satu cara
mengembangkan spiritualitas. Kesehatan spiritualitas yang sehat adalah

5
sesuatu yang memberikan kedamaian dan penerimaan tentang diri dan hal
tersebut sering didasarkan pada hubungan yang langgeng dengan yang Maha
Agung. Penyakit dan kehilangan dapat mengancam dan menantang proses
perkembangan spiritual. Kesehatan spiritual tercapai ketika seseorang
menemukan keseimbangan antara nilai hidup, tujuan hidup, sistem
keyakinan, dan hubungan seseorang dengan diri sendiri atau orang lain.
Tanda-tanda kesehatan spiritualnya adalah Seseorang yang
mempunyai karakter baik juga mempunyai kehidupan spiritual yang sehat.
Dari jumlah banyaknya keluhan orang, mungkin akan segera mengetahui
berapa banyak karakter buruk yang masih tertinggal didalam diri seseorang.
Dan ketika kalian mampu menghilangkan seluruh keluhan yang kalian
miliki, kalian kemudian akan mengetahui bahwa kalian itu sehat dan tidak
ada lagi karakter buruk yang tertinggal. Hal ini sangat penting bagi
seseorang untuk memiliki karakter yang baik. Jika seseorang tidak
mempunyai keluhan lagi, berarti sudah memiliki kesabaran dan ini berarti
mempunyai iman yang sejati. Kesabaran adalah sebuah tindakan melawan
semua keinginan ego.

6
F. Distress spiritual
a) Definisi distress spiritual
Menurut Judith M.Wilkson (2c009) definisi distress spiritual
adalah hambatan kemampuan untuk mengalami dan mengintegrasikan
makna dan tujuan dalam hidup melalui hubungan dengan diri sendiri, orang
lain, musik, seni, buku, alam, ataupun dengan Tuhan Yang Maha Esa.
1. Hubungan dengan diri sendiri
a. Marah
b. Rasa bersalah
c. Koping buruk
d. Mengekspresikan kurangnya: Penerimaan, semangat memaafkan
diri sendiri, harapan, cinta
e. Makna dan tujuan hidup
f. Kedamaian dan ketentraman
2. Hubungan dengan orang lain
a. Mengungkapkan pengasingan
b. Menolak interaksi dengan orang terdekat
c. Menolak interaksi dengan pembimbing spiritual
3. Hubungan dengan Seni, Musik, Buku, Alam
a. Tidak tertarik pada alam
b. Tidak tertarik membaca literature keagamaan
c. Ketidakmampuan mengekspresikan status kreativitas yang
dahulu (Bernyanyi, dan mendengarkan music serta menulis)
4. Hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa
a. Mengungkapkan di tinggalkan
b. Mengungkapkan marah terhadap Tuhan
c. Mengungkapkan keputusasaan
d. Mengungkapkan penderitaan
e. Ketidakmampuan mengintropeksi diri atau menilik diri
f. Ketidakmampuan mengalami transendensi diri
g. Ketidakmampuan berpartisipasi dalam aktifitas keagamaan

7
h. Ketidakmampuan berdoa
i. Meminta berteman dengan pembimbing spiritual
j. Perubahan mendadak pada praktik spiritual
b) Faktor yang berhubungan distress spiritual
Menurut Judith M.Wilkson (2009) distress spiritual mempunyai faktor
yang berhubungan dengan distress spiritual, sebaga berikut :
1. Menjelang ajal aktif
2. Ansietas
3. Penyakit kronik pada diri sendiri dan orang lain
4. Kematian [orang lain]
5. Perubahan hidup
6. Kesepian atau pengasingan social
7. Nyeri
8. Peniadaan diri
9. Deprivasi sosiokultural
c) Saran penggunaan distress spiritual
Menurut Judith M.Wilkson (2009) distress spiritual mempunyai saran
penggunaan distress spiritual, sebagai berikut :
1. Kesejahteraan spiritual sebaiknya di pikirkansecara luas dan tidak
terbatas pada agama. Semua orang beragama, dalam arti bahwa
mereka mebutuhkan sesuai yang dapat memberikan arti dalam hidup
mereka. Untuk sebagian Orang, hal ini berarti percaya terhadap Tuhan
dalam arti tradisional, untuk yang lainnya, hal ini merupakan perasaan
keselarasan dengan alam, sementara untuk yang lainnya lagi, hal ini
dapat keluarga dan anak – anak. Ketika pasien percaya bahwa hidup
tidak memiliki arti atau tujuan, dalam arti apapu, terjadi distres
spiritual.
2. Resiko Distress Spiritual
Definisi :
Berisiko mengalami gangguan/hambatan kemampuan mengalami
dan mengintegrasikan makna dan tujuan hidup melalui keterhubungan

8
dengan diri sendiri, orang lain, seni, musik, literatur, alam, dan/atau
kekuatan yang lebih kuat dari pada diri sendiri.
Faktor Resiko :
Perkembangan
1. Perubahan hidup
Lingkungan :
1. Perubahan lingkungan
2. Bencana alam
Fisik :
1. Sakit kronis
2. Penyakit fisik
3. Penyalahgunaan zat
Psikososial :
1. Ansietas
2. Hambatan untuk mengalami cinta
3. Perubahan dalam ritual agama
4. Perubahan dalam praktik spiritual
5. Konflik kultural
6. Depresi
7. Ketidakmampuan untuk memaafkan
8. Kehilangan
9. Harga diri rendah
10. Hubungan buruk
11. Konflik rasial
12. Berpisah dengan sistem pendukung
13. Stres
Intervensi dan rasional risiko distress spiritual
Menurut Cynthia M. Taylor risiko distress spiritual mempunyai
intervensi dan rasional risiko distress spiritual, sebagai berikut :
1. Kaji arti pentingnya spiritual dalam kehidupan pasien dan dalam
koping terhadap penyakit. Perhatikan partisipasi pasien dalam

9
ritual dan praktik keagamaan serta keinginan pasien untuk
mendiskusikan kepercayaan spiritual. Kaji dampak penyakit,
cidera, atau disabilitas terhadap pamdangan spiritual
pasien. Pengkajian yang akurat tentang arti spiritual bagi
pasien di perlukan sebelum melakukan intervensi.
2. Kaji keinginan pasien untuk membantu koping terhadap masalah
spiritual untuk menentukan sejauh mana pasien
termotivasi untuk membicarakan keluhan spiritual dan terbuka
untuk menerima bantuan dari orang lain
3. Ungkapan keinginan untuk mendiskusikan spiritualitas bila
pasien menghendaki untuk mengurangi isolasi dan membuat
masalah spiritual menjadi terbuka
4. Dorong pasien untuk membicarakan kepercayaan dan praktik
religious. Dengarkan secara aktif ketika pasien membicarakan
keluhan spiritualnya untuk menumbuhkan diskusi terbuka
5. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan yang berkaitan
dengan pengalaman yang mengancam jiwanya saat ini untuk
membantunya mengklarifikasi dan melakukan koping terhadap
perasaannya.
6. Komunikasikan kepada pasien bahwa anda menerima ungkapan
keluhan spiritualnya, walaupun perasannya marah dan
negative,untuk meyakinkan pasien bahwa perasaannya benar
7. Tunjukkan kesediaan untuk berdoa bersama pasien, bila ia
menghendaki, untuk memberikan dukungan spiritual
8. Pertahankan prilaku yang tidak menghakimi. Pertahankan
percakapan berfokus spiritual pasien untuk mempertahankan
nilai terapiotik interaksi anda dengan pasien.
9. Berikan kuntiunitas praktik religus pasien(contoh, bantu ia
mendapatkan benda ritual dan menghormati pembatasan
diet, bila mungkin) untuk menunjukkan dukungan dan
menyampaikan kepedulian dan penerimaan terhadap pasien.

10
10. Atur kunjungan oleh rohaniwan, bila memungkinkan, untuk
memberikaan dukungan kemampuan spiritual terhadap
pasien . berikan prifasi selama kunjungan.
11. Kolaborasi dengan rohaniwan atau rohaniwan rumah sakit
dengan menyusun rencana untuk menginteragsikan intervensi
spiritual dan perawatan pasien untuk menjamin kontiunitas
keperawatan.

d) Diagnosis distress spiritual,


Menurut Judith M.Wilkson (2009) distress spiritual mempunyai
alternatif diagnosis yang di sarankan distress spiritual, sebagai berikut :
1. Ansietas, kematian
2. Konflik pembuatan keputusan
3. Koping, ketidakefektifan
4. Kepedihan, kronis
5. Distress spiritual, risiko
e) Hasil NOC distress spiritual
Menurut Judith M.Wilkson (2009) distress spiritual mempunyai hasil
NOC distress spiritual, sebagai berikut :
1. Kematian yang bermartabat : tindakan pribadi untuk
mempertahankan kendali dan kenyamanan dalam mendekati akhir
kehidupan.
2. Harapan : optimism yang secara pribdi memuaskan serta mendukung
hidup.
3. Kesehatan spiritual : hubungan dengan diri sendiri, orang lain,
Tuhan, seluruh kehidupan, alam, dan semesta; yang meningkatkan
trasendensi diri serta memberdayakan diri.
f) Intervensi NIC distress spiritual
Menurut Judith M.Wilkson (2009) distress spiritual mempunyai
intervensi NIC distress spiritual, sebagai berikut :

11
1. Dukungan emosi: memberi ketenangan, penerimaan dan dukungan
saat stress
2. Penumbuhan harapan: memfasilitasi perkembangan sikap positif
pada situasi tertentu
3. Fasilitasi pertumbuhan spiritual: memfasilitasi pertumbuhan
kapasitas pasien untuk mengidentifikasikan, berhubungan dengan
dan memanggil sumber makna, tujuan, kenyamanan, kekuatan, dan
hatrapan dalam hidup mereka
4. Dukungan spiritual: membantu pasien untuk merasakan
keseimbangan dan hubungan dengan tuhan.
g) Aktivitas keperawatan distress spiritual
Menurut Judith M.Wilkson (2009) distress spiritual mempunyai aktivitas
keperawatan distress spiritual, sebagai berikut :
1. Pengkajian
Untuk pasien yang mengindikasikan adanya ketaatan beragama,
kaji adanya indikator langsung status spiritual pasien dengan
mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
a. Apakah anda merasa keimanan Anda dapat membantu Anda?
Dengan cara apa keimanan tersebut penting bagi Anda saat ini?
b. Bagaimana saya dapat membantu Anda menjalani keimanan
Anda? Misalnya, apakah Anda ingin saya membacakan buku
doa untuk Anda?
c. Apakah Anda menginginkan kunjungan dari penasihat spiritual
atau layanan keagamaan dari rumah sakit?
d. Tolong beri tahu saya tentang aktivitas agama tertentu yang
penting bagi Anda.
Lakukan pengkajian tidak langsung terhadap statusa spiritual
pasien dengan melakukan langkah berikut:
a. Tentukan konsep ketuhanan pasien dengan mengamati buku-
buku yang ada disamping tempat tidur atau di program televisi

12
yang dilihat pasien. Juga catat apakah kehidupan pasien tampak
memiliki arti, nilai, dan tujuan.
b. Tentukan sumber-sumber harapan dan kekuatan pasien. Apakah
tuhan dalam arti tradisional, anggota keluarga, atau kekuatan
“bersumber dari dalam dirinya”? catat siapa yang paling banyak
diperbincangka oleh pasien, atau tanyakan, “siapa yang penting
bagi Anda?”
c. Amati apakah pasien berdoa ketika Anda memasuki ruangan,
sebelum makan, atau saat tindakan.
d. Amati barang-barang, seperti leteratur keagamaan, rosario,
kartu ucapan semoga lekas sembuh yang bersifat keagamaan di
samping tempat tidur pasien.
e. Dengarkan pandangan-pandangan pasien tentang hubungan
antara kepercayaan spiritual dan kondisi spiritualnya, terutama
untuk pertanyaan, seperti, “mengapa tuhan membiarkan hal ini
terjadi pada saya?” atau “jika saya beriman, saya pasti akan
sembuh.”
2. Aktivitas Kolaboratif
a. Komunikasi kebutuhan nutrisi (misalnya, makanan halan, diet
vegetarian, dan diet tanpa-daging babi? Dengan ahli gizi
b. Minta konsultasi spiritual untuk membantu pasien atau
keluarga menentuka kebutuhan pascahospitalisasi dan
sumber-sumber dukungan di masyarakat
c. Dukungan Spiritual (NIC): Rujuk ke penasihat spiritual
pilihan pasien
3. Aktivitas lain
a. Jelaskan pembatasan yang dilakukan sehubungan dengan
perawat terhadap aktivitas keagamaan
b. Buat perubahan yang diperlukan segera untuk membantu
memenuhi keutuhan pasien (misalnya, dukung keluarga pasien
atau teman untuk membawa makanan istimewa)

13
c. Jaga privasi dan beri waktu pada pasien untuk mengamati
praktik keagamaan
d. Dukungan Spiritual (NIC):
1. Terbuka terhadap ungkapan pasien tentang kesepian dan
ketidakberdayaan
2. Gunakan teknik klarifikasi nilai untuk membantu pasien
mengklarifikasi kepercayaan dan nilai yang ia yakini, jika
perlu ungkapkan empati terhadap perasaan pasien
3. Dengarkan dengan cermat komunikasi pasien dan
kembangkan makna waktu berdoa atau ritual keagamaan
4. Beri jaminan kepada pasien bahwa perawat selalu ada untuk
mendukung pasien saat pasien measakan penderitaan
5. Anjurkan kunjungan pelayanan keagamaan, jika diinginkan
beri artikel keagamaan yan diinginkan, sesuai pilihan pasien
Perawatan Dirumah :
a. Tindakan di atas tepat diterapkan dalam perawatan dirumah
b. Bantu pasien dan keluarga menciptakan satu ruang di dalam
rumah untuk meditasi atau beribadah
Untuk lansia :
Atur seseorang (misalnya, pembantu rumah tangga) untuk
membacakan kitab suci untuk klien jika klien menginginkannya dan
tidak mampu membacanya sendiri.

KUISIONER

No. Pernyataan SLL KDG JRG TP


Pengkajian keperawatan spiritual
1. Saya mengkaji faktor agama sebagai hal yang

14
penting bagi pasien
2. Saya mengkaji apa yang menjadi makna
hidup pasien
3. Saya mengkaji keterlibatan orang terdekat
yang dapat mempengaruhi kesehatannya
4. Saya mengkaji keyakinan pasien yang dapat
mempengaruhi kesehatannya
5. Saya mengkaji praktik ibadah yang biasa
dilakukan oleh pasien
6. Saya mengkaji defisit/hambatan pada pasien
dalam melakukan praktik spiritual.
7. Saya mengkaji tanda-tanda distress spiritual
pada pasien, seperti depresi, kesepian, marah,
cemas, agitasi, dan apatis.
Diagnosis Keperawatan Spiritual
8. Saya menetapkan diagnosa keperawatan
spiritual berdasarkan masalah yang telah saya
rumuskan.
9. Saya menetapkan diagnosis keperawatan
spiritual berdasarkan spiritual pada pasien
dengan spiritual yan baik.
10. Saya menetapkan diagnosis keperawatan
distress pada pasien dengan masalah spiritual.
11. Saya menetapkan diagnosis keperawatan
risiko spiritual pada pasien yang rentan
mengalami masalah spiritual.
12. Saya menetapkan diagnosis keperawatan
dengan masalah spiritual sebagai
penyebabnya.
Perencanaan

15
13. Saya membuat rencana keperawatan spiritual
berdasarkan masalah yang telah dirumuskan.
14. Saya menyusun rencana keperawatan
spiritual berdasarkan prioritas.
15. Saya menetapkan hasil yang diharapkan dari
masalah spiritual pasien.
16. Saya menuliskan rencana asuhan
keperawatan spiritual
17. Saya melibatkan keluarga pasien dalam
rencana tindakan spiritual.
18. Saya melibatkan rohaniawan rumah sakit
dalam mengatasi masalah pasien.
Implementasi Keperawatan Spiritual
19. Saya melakukan tindakan keperawatan
spiritual mengacu pada rencana keperawatan.
20. Saya meluangkan waktu untuk mendengarkan
keluhan dan perasaan pasien.
21. Saya memberikan motivasi kepada pasien
untuk mendukung kesembuhan pasien.
22. Saya mengajak pasien untuk doa bersama.
23. Saya memperhatikan pantangan makanan
yang berhubungan dengan keyakinan dan
agama pasien.
24. Saya membantu pasien yang terbatas
pergerakannya dalam melakukan praktik
ibadah (mengambil wudhu dan sholat)
25. Saya memfasilitasi penyediaan peralatan
untuk pasien beribadah (Al-Quran, Al-Kitab,
sajadah, mukena, dll) ketika pasien
membutuhkan.

16
Evaluasi Keperawatan
26. Evaluasi keperawatan spiritual yang saya
lakukan mengacu pada tujuan dan kriteria
hasil yang ingin dicapai
27. Saya mencatat hasil dari evaluasi
keperawatan spiritual.
28. Saya mengevaluasi jika pasien menunjukkan
afek yang positif, seperti: tanpa perasaan
marah, tanpa rasa bersalah, dan tanpa
ansietas.

BAB III

PENUTUPAN

A. Simpulan

17
Spiritual adalah suatu perasaan terhadap keberadaan dan arti dari zat
yang lebih tinggi dari manusia yang menjadi faktor intrinsik alamiah dan
merupakan sumber penting dalam penyembuhan. Dimana dikatakan
pula sebagai keyakinan (faith) bersumber pada kekuatan yang lebih
tinggi akan membuat hidup menjadi lebih hidup dapat mendorong
seseorang untuk melakukan tindakan. Setiap interaksi dan perilaku
individu sangat dipengaruhi oleh spiritualisme yang dialami dalam
kehidupan yang sangat erat hubungannya dengan kebudayaan yang ada.
Kesehatan spiritual berkaitan erat dengan dimensi lain dan dapat
dicapai jika terjadi keseimbangan dengan dimensi lain (fisiologis,
psikologis, sosiologis,
kultural). Peran perawat adalah bagaimana perawat mampu
mendorong klien untuk meningkatkan spiritualitasnya dalam berbagai
kondisi, Sehingga klien mampu menghadapi, menerima dan
mempersiapkan diri terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri
individu tersebut.
Pengkajian spiritual paling baik dilaksanakan setelah perawat
membina hubungan terapeutik dengan klien. Informasi dapat diperoleh
mengenai konsep klien terkait diet atau dorongan kreatif, sumber
harapan dan kekuatan klien terhadap hubungan antara kesehatan dan
keyakinan spiritual.Intervensi keperawatan yang meningkatkan
kesejahteraan spiritual mencakup menawarkan kehadiran seseorang,
mendukung praktik keagamaan klien, berdoa bersama klien, dan
merujuk klien ke konselor keagamaan.
Jadi spiritualitas dan religi itu harus seimbang antara manusia
dengan Tuhan , dan antara Tuhan dan manusia. Jika tidak seimbang
maka distress spiritual akan terjadi.
Kita sebagai perawat meminta orang-orang terdekat seperti
keluarga, teman dan tokoh masyarakat (ustadz) untuk membantu dalam
mendukung proses penyembuhan klien yang mengalami distress
spiritual selain obat yang diberikan di rumah sakit

18
B. Saran
1. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membaca,terutama
mahasiswa keperawatan.
2. Semoga dapat menjadi bahan acuan pembelajara bagi mahasiswa
keperawatan

DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/document/346040289/Makalah-Asuhan-Keperawatan-Pada-
Masalah-Kebutuhan-Spiritual

19
20