Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Konsep diri (self consept) adalah suatu bagian yang penting dalam
setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat
yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan
manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologikepribadian berusaha
menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa
pengertian.
Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia
miliki. Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu
memandang kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif
terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu
memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan.
Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir setiap orang pada
waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan suatu reaksi
normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang, dan
karena itu berlangsung tidak lama. Kecemasan bisa muncul sendiri atau
bergabung gejala-gejala dari berbagai gangguan emosi (Savitri, 2003).
Kecemasan adalah perasaan yang dialami ketika seseorang terlalu
mengkhawatirkan kemungkunan peristiwa yang menakutkan yang terjadi di
masa depan yang tidak bisa dikendalikan dan jika itu terjadi akan dinilai
sebagai “mengerikan” (Sivalitar, 2007)
Stes adalah suatu ketidakseimbangan diri/jiwa dan realitias kehidupan
setiap hari yang tidak dapat dihindari atau perubahan yang memerlukan
penyesuaisan. Sering dianggap sebagai kejadian atau perubahan negatif yang
dapat menimbulkan stres, seperti cedera, sakit atau kematian orang yang
dicintai, serta putus cinta.
2

Adaptasi adalah penyesuaian diri terhadap suatu penilaian. Dalam hal


ini respon individu terhadap suatu perubahan yang ada dilingkungan yang
dapat mempengaruhi keutuhan tubuh baik secara fisiologis maupun
psikologis dalam perilaku adaptip. Hasil dari perilaku ini dapat berupa usaha
untuk mempertahankan keseimbangan dari suatu keadaan agar dapat kembali
pada keadaan normal, namun setiap orang akan berbeda dalam perilaku
adaptip ada yang dapat berjalan dengan cepat namun ada pula yang
memerlukan waktu lama tergantung dari kematangan mental orang itu
tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
1.3.2 Tujuan Khusus

1.4 Manfaat
3

BAB II
KONSEP DIRI

2.1 PENGERTIAN
a. Atwater (1987), menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan
gambar diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan,
keyakinan dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya. Sementara
Pemily (dalam Atwater, 1984), mendefinisikan konsep diri sebagai sistem
yang dinamis dan kompleks diri keyakinan yang dimiliki seseorang
tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai, dan tingkah
laku yang unik dari individu tersebut.
b. Burns (1982), konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan
tentang diri kita sendiri.
c. Cawagas (1983), menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh
pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya,
motivasinya, kelemahannya, kelebihannya atau kecakapannya,
kegagalannya, dan sebagainya.
d. Sunaryo (2004), konsep diri adalah cara individu melihat pribadinya secara
utuh, menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan spiritual.
Termasuk di dalamnya persepsi individu tentang sifat dan potensi yang
dimilikinya, interaksinya dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai
yang berkaitan dengan pengalaman dan objek tertentu,serta tujuan,
harapan, dan keinginan individu itu sendiri.

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara


seseorang untuk melihat dirinya secara utuh dengan semua ide, pikiran,
kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu dalam hubungan dengan
orang lain. Dengan kata lain, konsep diri merupakan suatu gagasan kompleks
yang memengaruhi hal sebagai berikut.
a. Cara seseorang dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.
b. Cara seseorang dalam memandang dan memperlakukan orang lain.
4

c. Pilihan yang harus diambil seseorang.


d. Kemampuan untuk memberi dan menerima cinta.
e. Kempuan untuk bertindak dan mengubah sesuatu.

2.2 PEMBENTUKAN KONSEP DIRI


Secara umum, ada tiga tahapan pada perkembangan konsep diri seseorang,
yakni sbb.
a. Bayi belajar bahwa diri mereka, secara fisik, terpisah dan berbeda dari
lingkungan sekitar.
b. Anak menginternalisasikan sikap-sikap yang ditunjukkan orang lain ke
dalam dirinya.
c. Anak dan dewasa menginternalisasikan standar-standar yang ada di
masyarakat.

2.3 KOMPONEN KONSEP DIRI


Konsep diri terdiri dari lima komponen. (Sunaryo, 2004)
a. Citra tubuh (body image)
b. Ideal diri (self-ideal)
c. Harga diri (self-esteem)
d. Penampilan peran (role performance)
e. Identitas personal (personal identity)

2.4 LANGKAH-LANGKAH MEMPERTAHANKAN KONSEP DIRI


a. Bersikap objektif dalam mengenali diri sendiri.
b. Hargailah diri sendiri.
c. Jangan memusuhi diri sendiri.
d. Berpikir positif dan rasional.
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa langkah membangun
konsep diri atau cinta diri sendiri.
1) Belajar untuk menyukai diri sendiri atau cinta diri sendiri.
2) Kembangkan pikiran positive thinking.
5

3) Hubungan interpersonal harus dibina dengan baik.


4) Pro-aktif atau sikap yang aktif menuju yang positif.

2.5. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI


a. Tingkat perkembangan dan kematangan
b. Keluarga dan budaya
c. Faktor ekternal dan internal
d. Pengalaman
e. Penyakit
f. Stresor

2.6 HAMBATAN DALAM MEBANGUN KONSEP DIRI


a. Hambatan yang berasal dari lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor penghambat dalam
pengembangan konsep diri. Hambatan ini antara lain disebabkan sistem
pendidikan yang dianut, lingkungan kerja yang tidak mendukng
semangat pengembangan potensi diri, dan tanggapan kebiasaan dalam
lingkungan kebudayaan.
b. Hambatan yang berasal dari individu sendiri
Penghambat yang cukup besar adalah pada diri sendiri, misalnya
sikap berprasangka, tidak memiliki tujuan yang jelas, keengganan dalam
mengenal diri sendiri, ketidakmampuan mengatur diri, pribadi yang
kerdil, kemampuan yang tidak memadai untuk memecahkan masalah,
kreativitas rendah, wibawa rendah, kemampuan pemahaman manajerial
lemah, kemampuan latihan rendah, dan kemampuan membina yang
rendah.
6

KONSEP DASAR KECEMASAN

3.1 PENGERTIAN
a. Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir setiap orang pada
waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan suatu reaksi
normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang, dan
karena itu berlangsung tidak lama. Kecemasan bisa muncul sendiri atau
bergabung gejala-gejala dari berbagai gangguan emosi (Savitri, 2003).
b. Kecemasan adalah perasaan yang dialami ketika seseorang terlalu
mengkhawatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi
di masa depan yang tidak bisa dikendalikan dan jika itu terjadi akan
dinilai sebagai “mengerikan” (Sivalitar, 2007)

3.2 TINGKAT KECEMASAN


Menurut Stuart dan Sundeen (1991), tingkat kecemasan dibagi empat, yaitu
sebagai berikut :
a. Kecemasan Ringan
b. Kecemasan Sedang
c. Kecemasan Berat
d. Kecemasan Panik

3.3 KARAKTERISTIK TINGKAT KECEMASAN


a. Kecemasan Ringan
1) Fisik
Sesekali napas pendek, nadi, dan tekanan darah meningkat, gejala
ringan berkeringat
2) Kognitif
Lapang persepsi meluas, mampu menerima rangsang kompleks,
konsentrasu pada masalah, menyelesaikan masalah aktual
7

3) Perilaku dan emosi


Tidak dapat duduk dengan tenang, tremor halus pada tangan, suara
kadang-kadang meninggi
b. Kecemasan Sedang
1) Fisik
Sering napas pendek, nadi ekstrasistol, tekanan darah meningkat,
mulut kering, anoreksia, diare atau kontipasi, gelisah
2) Kognitif
Lapang persepsi meningkat, tidak mampu menerima rangsang lagi,
berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya
3) Perilaku dan emosi
Gerakan tersentak-senrak, meremas tangan, bicara lebih banyak dan
cepat, susah tidur, serta perasaab tidak aman
c. Kecemasan Berat
1) Fisik
Napas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat, berkeringat dan
sakit kepala, penglihatan kabur, serta ketegangan
2) Kognitif
Lapang persepsi sangat sempit dan tidak mampu menyelesaikan
masalah
3) Perilaku dan emosi
Perasaan ancaman meningkat, verbalisasi cepat
d. Kecemasan Panik
1) Fisik
Napas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, sakit dada, pucat,
hipotensi, koordinasi motorik rendah.
2) Kognitif
Lapang persepsi sangat menyempit, tidak dapat berpikir logis
3) Perilaku dan emosi
Agitasi, mengamuk, marah ketakutan, berteriak, blocking,
kehilangan kontrol diri, persepsi datar.
8

3.4 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEMASAN


a. Faktor Internal
1) Usia
2) Pengalaman
3) Aset fisik
b. Faktor Eksternal
1) Pengetahuan
2) Pendidikan
3) Finansial/material
4) keluarga
5) Obat
6) Dukungan Sosial Budaya
9

BAB III
KONSEP DASAR STRES

4.1 DEFINISI
Stres adalah suatu ketidakseimbangan diri/jiwa dan realitias
kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari atau perubahan yang
memerlukan penyesuaisan. Sering dianggap sebagai kejadian atau perubahan
negatif yang dapat menimbulkan stres, seperti cedera, sakit atau kematian
orang yang dicintai, serta putus cinta.
Perubahan positif juga dapat menimbulkan stres, seperti naik pangkat,
perkawinan, dan jatuh cinta. Stres terjadi jika orang dihadapkan dengan
peristiwa yang dirasakan sebagai mengancam fisik atau psikologisnya,
peristiwa tersebut disebut stresor. Reaksi orang terhadap peristiwa tersebut
dinamakan respons stres.
a. Seoharto Heerdjan (1987), stres adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang
menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dan lain-lain
b. Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brecht (2002),
menyatakan bahwa stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang
disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik
oleh lingkungan maupun penampilan individu di dalam lingkungan
tersebut.

4.2 MACAM STRES


a. Stres fisik, adalah stres yang disebabkan oleh keadaan fisik seperti suhu
tubuh yang terlalu tinggi atau rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu
terang (menyengat), atau tersengat arus listrik
b. Stres kimiawi, merupakan stres yang disebabkan oleh pengaruh senyawa
kimia yang terdapat pada obat-obatan, zat beracun asam, basa, faktor
hormon atau gas, dan lain-lain
c. Stres mikrobiologik, adalah stres yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau
parasit yang menimbulkan penyakit
10

d. Stres fisiologik, adalah stres yang disebabkan oleh gangguan struktur


fungsi organ tubuh antara lain gangguan fungsi jaringan organ atau
sistemik, struktur tubuh, dan lain-lain sehingga menimbulkan fungsi tubuh
tidak normal.
e. Stres proses pertumbuhan dan perkembangan, adalah stres yang
disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa
bayi hingga tua.
f. Stres psikologis atau emosional, merupakan stres yang disebabkan oleh
gangguan situasi psikologis atau ketidakmampuan kondisi psikologis
untuk menyesuaikan diri, misalnya dalam hubungan interpersonal, sosial
budaya, atau keagamaan

4.3 SUMBER PENGALAMAN STRES


a. Lingkungan
b. Komunitas dan lingkungan
c. Fisiologik (dari tubuh kita)
d. Pikiran (dalam diri individu)
e. Keluarga

4.4 INDIKASI/GEJALA STRES


a. Gejala fisiologik, denyut jantung bertambah cepat, banyak berkeringat
(terutama keringat dingin), pernapasan terganggu, otot terasa tegang,
sering ingin buang air kecil, sulit tidur, gangguan lambung, dan lain-lain
b. Gejala psikologik, resah, sering merasa bingung, sulit berkonsentrasi, sulit
mengambil keputusan, tidak enak perasaan, atau perasaan kewalahan
(exhausted) dan lain sebagainya
c. Tingkah laku, berbicara cepat sekali, menggigit kuku, menggoyang-
goyangkan kaki, ticks, gemetaran, berubah nafsu makan (bertambah atau
berkurang)
11

4.5 REAKSI PSIKOLOGIS TERHADAP STRES


a. Kecemasan, emosi yang tidak menyenangkan atau istilah “khawatir”,
“tegang”, “prihatin”, “takut”, fisik/jantung berdebar, keluar keringat
dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi, dan susah tidur.
b. Kemarahan dan agresi, perasaan jengkel sebagai respons terhadap
kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman. Agresi ialah kemarahan yang
meluap-luap, serta orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan
yang tidak wajar, kadang disertai perilaku kegilaan, tindak sadis, dan
usaha membunuh orang.
c. Depresi, keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat.
Terkadang disertai rasa sedih.

4.6 REAKSI TUBUH TERHADAP STRES


a. Rambut, perubahan warna rambut menjadi kecoklatan serta kusam.
Ubanan (rambut memutih) terjadi sebelum waktunya, juga kerontokan
rambut.
b. Mata, ketajaman mata sering kali terganggu, misalnya membaca tidak
jelas karena kabur. Hal ini disebabkan karena otot-otot bola mata
mengalami kekenduran sehinggan memengaruhi fokus lensa mata.
c. Telinga, pendengaran sering terganggy dengan suara berdenging (tinitus)
d. Daya pikir, kemampuan berpikir dan mengingat serta konsentrasi
menurun. Orang menjadi pelupa dan sering kali mengeluh sakit
kepala/pusing.
e. Ekspresi wajah, seseorang yang stres tampak tegang, dahi berkerut, mimik
tampak serius, tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum atau tertawa,
dan kulit muka kedutan (tic facialis)
f. Sistem pernapasan, nafas terasa berat dan sesak disebabkan terjadi
penyempitan pada saluran pernafasan mulai dari hidung, tenggorokan, dan
otot-otot rongga dada. Napas terasa sesak dan berat dikarenakan otot-otot
rongga dada mengalami spasme dan tidak atau kurang elastis sebagaimana
mestinya.
12

g. Sistem pencernaan, orang yang mengalami stres sering kali mengalami


gangguan pada sistem pencernaannya. Lambung terasa kembung, mual,
dan perih, yang disebabkan karena asam lambung yang berlebihan.

KONSEP DASAR ADAPTASI

5.1 DEFINISI
Adaptasi adalah penyesuaian diri terhadap suatu penilaian. Dalam hal ini
respon individu terhadap suatu perubahan yang ada dilingkungan yang dapat
mempengaruhi keutuhan tubuh baik secara fisiologis maupun psikologis
dalam perilaku adaptip. Hasil dari perilaku ini dapat berupa usaha untuk
mempertahankan keseimbangan dari suatu keadaan agar dapat kembali pada
keadaan normal, namun setiap orang akan berbeda dalam perilaku adaptip ada
yang dapat berjalan dengan cepat namun ada pula yang memerlukan waktu
lama tergantung dari kematangan mental orang itu tersebut.

Adaptasi terhadap stress dapat berupa :


a. Adaptasi fisiologis
Adaptasi fisiologis adalah proses penyesuaian diri secara alamiah
atau secara fisiologis untuk mempertahankan keseimbangan dalam
berbagai faktor yang menimbulkan keadaan menjadi tidak seimbang.
Contohnya: masuknya kuman pennyakit ketubuh manusia.
b. Adaptasi psikologi
Adaptasi psikologis adalah suatu bentuk penyesuaian secara
psikologis terhadap stresor dengan membangun mekanisme pertahanan
diri agar dapat bertahan atau melindungi diri dari berbagai serangan atau
hal-hal yang tidak menyenangkan. Stres psikologi dapat menimbulkan
kecemasan, perasaan tidak aman, ketidaknyamanan, frustasi, perasaan
terancam dan konflik. Contohnya: marah, khawatir, sikap emosional,
gerakan mondar-mandir, dan lain-lain.
13

5.2 PROSES MANAGEMEN STRESS


Manajemen stress adalah kemungkinan melihat promosi kesehatan
sebagai aktivitas atau intervasi atau mengubah pertukaran respon terhadap
penyakit. Fokusnya tergantung pada tujuan dari intervensi keperawatan
berdasarkan keperluan pasien. Perawat bertanggung jawab pada
implemenetasi pemikiran yang dikeluarkan pada beberapa daerah perawatan.

5.3 CARA PENYESUAIAN DIRI


Untuk mencegah dan mengatasi stres agar tidak sampai ke tahap yang
paling berat, maka dapat dilakukan dengan cara :
a. Pengaturan Diet dan Nutrisi
Pengaturan diet dan nutrisi merupakan cara yang efektif dalam
mengurangi dan mengatasi stres melalui makan dan minum yang halal dan
tidak berlebihan, dengan mengatur jadwal makan secara teratur, menu
bervariasi, hindari makan dingin dan monoton karena dapat menurunkan
kekebalan tubuh.
b. Istirahat dan Tidur
Istirahat dan tidur merupakan obat yang baik dalam mengatasi stres
karena dengan istirahat dan tidur yang cukup akan memulihkan keadaan
tubuh. Tidur yang cukup akan memberikan kegairahan dalam hidup dan
memperbaiki sel-sel yang rusak.
c. Olah Raga atau Latihan Teratur
Olah raga dan latihan teratur adalah salah satu cara untuk
meningkatkan daya tahan dan kekebalan fisik maupun mental. Olah raga
dapat dilakukan dengan cara jalan pagi, lari pagi minimal dua kali
seminggu dan tidak perlu lama-lama yang penting menghasilkan keringat
setelah itu mandi dengan air hangat untuk memulihkan kebugaran.
14

d. Berhenti Merokok
Berhenti merokok adalah bagian dari cara menanggulangi stres karena
dapat meningkatkan ststus kesehatan dan mempertahankan ketahanan dan
kekebalan tubuh.
e. Tidak Mengkonsumsi Minuman Keras
Minuman keras merupakan faktor pencetus yang dapat mengakibatkan
terjadinya stres. Dengan tidak mengkonsumsi minuman keras, kekebalan
dan ketahanan tubuh akan semakin baik, segala penyakit dapat dihindari
karena minuman keras banyak mengandung alkohol.
f. Pengaturan Berat Badan
Peningkatan berat badan merupakan faktor yang dapat menyebabkan
timbulnya stres karena mudah menurunkan daya tahan tubuh terhadap
stres. Keadaan tubuh yang seimbang akan meningkatkan ketahanan dan
kekebalan tubuh terhadap stres.
g. Pengaturan Waktu
Pengaturan waktu merupakan cara yang tepat dalam mengurangi dan
menanggulangi stres. Dengan pengaturan waktu segala pekerjaaan yang
dapat menimbulkan kelelahan fisik dapat dihindari. Pengaturan waktu
dapat dilakukan dengan cara menggunakan waktu secara efektif dan
efisien serta melihat aspek prokdutivitas waktu. Seperti menggunakan
waktu untuk menghasilkan sesuatu dan jangan biarkan waktu berlalu tanpa
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
h. Terapi Psikofarmaka
Terapi ini dengan menggunakan obat-obatan dalam mengalami stres
yang dialami dengan cara memutuskan jaringan antara psiko neuro dan
imunologi sehingga stresor psikososial yang dialami tidak mempengaruhi
fungsi kognitif afektif atau psikomotor yang dapat mengganggu organ
tubuh yang lain. Obat-obatan yang digunakan biasanya digunakan adalah
anti cemas dan anti depresi.
15

i. Terapi Somatik
Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat stres
yang dialami sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu sistem tubuh
yang lain.
j. Psikoterapi
Terapi ini dengan menggunakan teknik psikologis yang disesuaikan
dengan kebutuhan seseorang. Terapi ini dapat meliputi psikoterapi suportif
dan psikoterapi redukatif di mana psikoterapi suportif memberikan
motivasi atau dukungan agar pasien mengalami percaya diri, sedangkan
psikoterapi redukatif dilakukan dengan memberikan pendidikan secara
berulang. Selain itu ada psikoterapi rekonstruktif, psikoterapi kognitif dan
lain-lain.
k. Terapi Psikoreligius
Terapi ini dengan menggunakan pendekatan agama dalam mengatasi
permasalahan psikologis mengingat dalam mengatasi permasalahn
psikologis mengingat dalam mengatasi atau mempertahankan kehidupan
seseorang harus sehat secara fisik, psikis, sosial, dan sehat spiritual
sehingga stres yang dialami dapat diatasi.
l. Homeostatis
Merupakan suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan
keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang dialaminya. Proses
homeostatis ini dapat terjadi apabila tubuh mengalami stres yang ada
sehingga tubuh secara alamiah akan melakukan mekanisme pertahanan
diri untuk menjaga kondisi yang seimbang, atau juga dapat dikatakan
bahwa homeostatis adalah suatu proses perubahaan yang terus menerus
untuk memelihara stabilitas dan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan
sekitarnya.
16

BAB IV
KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL

6.1 PENGERTIAN PSIKOSOSIAL


Manusia adalah makhluk piopsikososial yang unik dan menerapkan
system terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selaulu berusaha untuk
mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang
dipertahankan oleh setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, keadaan ini disebut dengan sehat. Sedangkan seseorang
dikatakan sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan
lingkungannya. Sebagai makhluk sosial, untuk mencapai kepuasan dalam
kehidupan, mereka harus membina hubungan interpersonal positif.
Kebutuhan adalah suatu yang perlu, berguna, dan diperlukan sekali
untuk menjaga hemeostosis dalam hidup serta menjadi dorongan, tingkah
laku dan sikap. Pada dasarnya, manusia mempunyai kebutuhan yang sama
tapi ada kalanya satu kebutuhan lebih penting bagi seseorang dari pada
kebutuhan lainnya. jika jasmani tidak sehat, maka rohani (pisikis) ikut
terpengaruh, misalny karna badan tidak sehat maka daya ingat akan lemah,
kurang nafsu makan daya tahan tubuh berkurang, sehingga penyakit akan
lebih menyerang.
Pisikososial adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia yang baik
dapat dilihat secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara tidak
langsung. pisikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku
manusia, baik secara individu maupun dalam hununganya dan
lingkungannya. Tingkah laku tersebut yang disadari maupun yang tidak di
sadari. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi secara sadar maupun tidak sadar
,contohnya makanan dan bernafas. Kebutuhan juga dipengaruhi oleh faktor
eksternal dan internal individu yang bersangkutan. Meskipun pada dasarnya
semua kebutuhan tersebut harus dipenuhi, beberapa kebutuhan tersebut dapat
ditunda.
17

Fokus kajian Psikologi Sosial lebih bertitik tolak pada manusia sebagai
individu yang membina hubungan-hubungan sosial di masyarakat, misalnya
persepsi, motivasi dan sikap, dan berusaha memahami proses-proses yang
mempengaruhi kelangsungan dan keseragaman jenis maupun bentuk
hubungan social seperti kepemimpinan, kerja sama, dan konflik. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa objek studi dalam psikologi sosial lebih
menitik beratkan pada semua kondisi psikologis individu dalam masyarakat,
dalam hal ini berusaha melihat hubungan yang ada antara berbagai kondisi
sosial dengan kondisi psikologis individu dalam masyarakat. Yang dimaksud
kondisi sosial di sini adalah semua aspek yang ada dalam lingkungan sosial
yang mempengaruhi individu.
Berdasarkan prosesnya, interaksi ini dibedakan dalam 3 pola hubungan,
yaitu :
a. Interaksi antar individu, bila seorang individu berhubungan dengan orang
lain (baik hadir secara nyata maupun berupa pilihan alternatif saja)
b. Interaksi yang terjadi karena hubungan individu dengan kelompok
(terjadi hubungan timbal balik)
c. Interaksi yang terjadi karena hubungan antar kelompok (dua atau lebih).

6.2 STATUS EMOSI


Setiap individu mempunyai kebutuhan emosi dasar, termasuk
kebutuhan akan cintakepercayaan, otonomi, identitas, harga diri, penghargaan
dan rasa aman. Schultz (1966) Merangkum kebutuhan tersebut sebagai
kebutuhan interpersonal untuk inklusi, control dan afeksi. Bila kebutuhan
tersebut tidak terpenuhi, akibatnya dapt berupa perasaan atau prilaku yang
tidak diharapkan, seperti ansietas, kemarahan, kesepian dan rasa tidak pasti.
emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan perasaan, pikiran, nafsu serta
setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap.
Emosi juga merujuk kepada pikiran-pikiran yang khas dalam suatu
perasaan, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian
kecenderungan untuk bertindak. Adapun perasaan (feelings) adalah
18

pengalaman yang disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal


maupun oleh bermancam-macam keadaan jasmaniah.
Menurut Chaplin, Pengertian Emosi ialah suatu keadaan yang
terangsang dari organisme yang mencakup perubahan-perubahan yang
disadari, yang sifatnya mendalam dari perubahan perilaku tersebut. Chaplin
juga membedakan emosi dengan perasaan dan dia mengatakan bahwa
perasaan adalah pengalaman yang disadari, yang diaktifkan baik itu oleh
perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.

6.3 DEFINISI COPING


Strategi coping merupakan suatu upaya individu untuk menanggulagi
stress yang menekan akibat masalah yang dihadapinya dengan cara
melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman
dalam dirinya sendiri.
Coping yang efektif untuk dilaksanakan adalah coping yang membantu
seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak
merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (lazarus dan folkman).
a. Koping Konstruktif/Merusak.
1) Penalaran (Reasoning)
Yaitu penggunaan kemampuan kognitif untuk mengeksplorasi
berbagai macam alternatif pemecahan masalah dan kemudian memilih
salah satu alternatif yang dianggap paling menguntungkan.
2) Objektifitas
Yaitu kemampuan untuk membedakan antara komponen-
komponen emosional dan logis dalam pemikiran, penalaran maupun
tingkah laku. Kemampuan ini juga meliputi kemampuan untuk
membedakan antara pikiran-pikiran yang berhubungan dengan
persoalan yang tidak berkaitan.
3) Konsentrasi
Yaitu kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh
pada persoalan yang sedang dihadapi. Konsentrasi memungkinkan
19

individu untuk terhindar dari pikiran-pikiran yang mengganggu ketika


berusaha untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi.
4) Humor
Yaitu kemampuan untuk melihat segi yang lucu dari persoalan
yang sedang dihadapi, sehingga perspektif persoalan tersebut menjadi
lebih luas, terang dan tidak dirasa sebagai menekan lagi ketika
dihadapi dengan humor.
5) Supresi
Yaitu kemampuan untuk menekan reaksi yang mendadak
terhadap situasi yang ada sehingga memberikan cukup waktu untuk
lebih menyadari dan memberikan reaksi yang lebih konstruktif.
6) Toleransi terhadap Kedwiartian atau Ambiguitas
Yaitu kemampuan untuk memahami bahwa banyak hal dalam
kehidupan yang bersifat tidak jelas dan oleh karenanya perlu
memberikan ruang bagi ketidak jelasan tersebut.
7) Empati
Yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu dari pandangan orang
lain. Empati juga mencakup kemampuan untuk menghayati dan
merasakan apa yang dihayati dan dirasakan oleh orang lain.
a. koping Positif ( Sehat)
1) Antisipasi
Antisipasi berkaitan dengan kesiapan mental individu untuk
menerima suatu perangsang. Ketika individu berhadap dengan
konflik-konflik emosional atau pemicu stres baik dari dalam maupun
dari luar, dia mampu mengantisipasi akibat-akibat dari konflik atau
stres tersebut dengan cara menyediakan alternatif respon atau solusi
yang paling sesuai.
2) Afiliasi
Afiliasi berhubungan dengan kebutuhan untuk berhubungan atau
bersatu dengan orang lain dan bersahabat dengan mereka. Afiliasi
memba ntu individu pada saat menghadapi konflik baik dari dalam
20

dan luar, dia mampu mencari sumber- sumber dari orang lain untuk
mendapatkan dukungan dan pertolongan.
3) Altruisme
Altruisme merupakan salah satu bentuk koping dengan cara
mementingkan kepentingan orang lain. Konflik-konflik yang memicu
timbulnya stres baik dari dalam maupun dari luar diri dialihkan
dengan melakukan pengabdian pada kebutuhan orang lain.
4) Penegasan diri (self assertion)
Individu berhadapan dengan konflik emosional yang menjadi
pemicu stres dengan cara mengekspresikan perasaan-perasaan dan
pikiran-pikirannya secara lengsung tetapi dengan cara yang tidak
memaksa atau memanipulasi orang lain.
5) Pengamatan diri (Self observation)
Pengamatan diri sejajar dengan introspeksi, yaitu individu
melakukan pengujian secara objektif proses-proses kesadaran diri atau
mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku, motif, ciri, sifat
sendiri, dan seterusnya untuk mendapatkan pemahaman mengenai diri
sendiri yang semakin mendalam.

6.4 HUBUNGAN SOSIAL


Hubungan sosial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu proses yang
asosiatif dan disosiatif. Hubungan sosial asosiatif merupakan hubungan yang
bersifat positif, artinya hubungan ini dapat mempererat atau memperkuat
jalinan atau solidaritas kelompok. Adapun hubungan sosial disosiatif
merupakan hubungan yang bersifat negatif, artinya hubungan ini dapat
merenggangkan atau menggoyahkan jalinan atau solidaritas kelompok yang
telah terbangun.
Hubungan sosial asosiatif adalah proses interaksi yang cenderung
menjalin kesatuan dan meningkatkan solidaritas anggota kelompok.
a. Bentuk – Bentuk Hubungan Asosiatif
21

1) Akomodasi; dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau sebagai suatu


proses. Sebagai keadaan, akomodasi adalah suatu bentuk
keseimbangan dalam interaksi antarindividu atau kelompok manusia
dalam kaitannya dengan norma sosial dan nilai sosial yang berlaku. n
masalah yang terjadi dapat dilakukan.
2) Asimilasi; adalah proses sosial yang timbul apabila ada kelompok
masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling
bergaul secara interaktif dalam jangka waktu lama.
3) Akulturasi; adalah suatu keadaan diterimanya unsur-unsur budaya
asing ke dalam kebudayaan sendiri.
b. Bentuk-Bentuk Hubungan Disosiatif
1) Persaingan; adalah suatu proses sosial yang dilakukan oleh individu
atau kelompok dalam usahanya mencapai keuntungan tertentu tanpa
adanya ancaman atau kekerasan dari para pelaku.
2) Kontravensi; merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada di
antara persaingan dengan pertentangan atau pertikaian. Kontravensi
adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap orang atau unsur-
unsur budaya kelompok lain.
3) Pertentangan/Perselisihan; adalah suatu proses sosial di mana individu
atau kelompok menantang pihak lawan dengan ancaman dan atau
kekerasan untuk mencapai suatu tujuan.