Anda di halaman 1dari 7
  • C. Etiologi

Fraktur terjadi karena kelebihan beban mekanis pada suatu tulang, saat tekanan yang diberikan pada suatu tulang terlalu banyak dibandingkan dengan apa yang mampu di tanggungnya. Jumlah gaya pasti yang diperlukan untuk menimbulkan suatu fraktur dapat bervariasi, sebagian bergantung pada karakteristik tulang itu sendiri. Seorang pasien yang mengalami gangguan metabolik tulang, seperti osteoporosis dapat mengalami fraktur dari trauma minor karena perapuhan tulang akibat gangguan yang telah ada sebelumnya.

Fraktur dapat terjadi karena gaya secara langsung, seperti saat sebuah benda bergerak menghantam suatu area tubuh diatas tulang. Gaya juga dapat terjadi secara tidak langsung, seperti ketika suatu kontraksi kuat dari otot menekan tulang. Selain itu, tekanan dan kelelahan dapat menyebabkan fraktur karena penurunan kemampuan tulang menahan gaya mekanikal.

Dua tipe tulang juga merespons beban dengan cara yang berbeda. Tulang kortikal, lapisan luar yang ringkas dan mampu menoleransi beban disepanjang sumbunya ( longitudinal) lebih kuat dibandingkan jika beban menembus tulang. Tulang spons merupakan materi tulang bagian dalam yang lebih padat. Tulang ini berbentuk rongga seperti sarang laba-laba yang terisi oleh sumsum merah yang membuatnya mampu menyerap gaya lebih baik dibandingkan dengan tulang kortikal. Penonjolan tulang disebut dengan trabekula, memisahkan ruangan-ruangan dan tersusun disepanjang garis tekanan, sehingga membuat tulang spons lebih kuat.

Predisposisi fraktur antara lain beraal dari kondisi biologis seperti osteopenia (misalnya karena penggunaan steroid atau sindroma cushing) atau osteogenesis imperfekta (penyakit kongenital tulang yang adanya gangguan produksi kolagen oleh osteoblas). Tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Neoplasma dapat melemahkan tulang dan berperan pada fraktur. Kehilangan estrogen pascamenopouse dan malnutrisi protein juga menyebabkan penurunan massa tulang serta meningkatkan risiko fraktur. Bagi orang dengan tulang yang sehat, fraktur dapat terjadi akibat aktivitas hobi seperti bermain papan seluncur, panjat tebing, serta aktivitas terkait dengan pekerjaan.

  • D. Klasifikasi

Keparahan dari fraktur tergantung pada gaya yang menyebabkan fraktur tersebut. Jika ambang fraktur tulang hanya sedikit terlewati, maka tulang hanya retak dan buka patah. Jika gayanya ekstrim, seperti ada tabrakan mobil atau luka tembak, tulang dapat hancur hingga

berkeping-keping. Jika tulang patah sehingga ada fragmen fraktur yang menembus keluar kulit atau ada luka bakar yang memenetrasi hingga tulang yang patah, fraktur ini disebut fraktur terbuka. Tipe fraktur ini umumnya serius, karena begitu kulit telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi diluka dan tulang.

Ada lebih dari 150 tipe fraktur yang telah dinamai bergantung pada berbagai metode klasifikasi. Misalnya klien dapat mengalami fraktur compound, transversal dari femur distal. Mode klasifikasi sederhana berdasarkan pada apakah fraktur tertutup atau fraktur terbuka. Fraktu tertutup memiliki kulit yang masih utuh diatas lokasi cedera, sedangkan fraktur terbuka robeknya kulit di atas cederanya tulang. Kerusakan jaringan dapat sangat luas pada fraktur tulang terbuka yang dibagi berdasarkan keparahannya:

  • a) Derajat 1: luka kurang dari 1 cm, kontaminasi minimal

  • b) Derajat 2: luka lebih dari 1 cm, kontaminasi sedang

  • c) Derajat 3: luka melebihi 6-8 cm, ada kerusakan luas pada jaringan lunak, saraf dan tendon serta kontaminasi banyak.

Tipe-tipe fraktur yang umum:

  • 1. Pecah: dicirikan oleh tulang yang pecah berkeping-keping, sering terjadi pada ujung tulang atau vetebra

  • 2. Kominutif: terdapat lebih dari satu garis fraktur, lebih dari dua fragmen tulang, fragmen dapat hancur.

  • 3. Komplet: patah melintng di satu bagian tulang, membaginya mnjadi fragmen-fragmen yang terpisah, sering kali bergeser.

  • 4. Tergeser: fragmen-fragmen berada pada posisi tidak normal di lokasi fraktur.

  • 5. Inkomplet: fraktur terjadi hanya pada satu sisi korteks tulang, biasanya tidk bergeser.

  • 6. Linear: garis fraktur masih utuh, fraktur akibat gaya minor atau sedang yang mengenai langsung pada tulang.

  • 7. Longitudinal: garis fraktur yang memanjang pada sumbu longitudinal tulang.

  • 8. Tidak bergeser: fragmen masih lurus pada lokasi fraktur

  • 9. Oblik: garis fraktur terjadi pada kurang lebih sudut 45 derajat pada sumbu longitudinal tulang.

10. Spiral: garis fraktur terjadi akibat gaya, puntiran membentuk suatu spiral yang mengelilingi tulang. 11. Stelata: garis fraktur menyebar dari satu titik pusat

  • 12. Transversal: garis fraktur terjadi pada sudut 90 derajat pada sumbu longitudinal tulang

  • 13. Avulsi: fragmen-fragmen tulang terlempar dari badan tulang pada lokasi perlekatan ligamen atau tendon

  • 14. Greenstick: fraktur inkomplet dimana satu sisi korteks tulang patah dan sisi lain melekuk tetapi masih utuh

  • 15. Impaksi: fratur teleskopik, dengan satu fragmen terdorong kedalam fragmen lain

  • 16. Colles: fraktur pada ujung radius distal, fragmen distal tergeser kearah deviasi medial dan dorsal

  • 17. Pott: fraktur fibula distal, mengganggu artikulasi tibio-fibular dengan buruk, sebagian mata kaki medial dapat terlepas karena ruptur dari ligamen lateral internal.

  • 18. Kompresi: tulang melekuk dan akhirnya retak karena gaya beban yang besar terhadap sumbu longitudinalnya.

TUGAS SISTEM MUSKULOSKELETAL TENTANG ASKEP FRAKTUR PADA DEWASA

TUGAS SISTEM MUSKULOSKELETAL TENTANG ASKEP FRAKTUR PADA DEWASA OLEH KELOMPOK 1: 1. ADELA NOFITA 2. ANNISA

OLEH KELOMPOK 1:

  • 1. ADELA NOFITA

  • 2. ANNISA ALLAMA NOPTIKA

  • 3. ELFIRA YUNITA

  • 4. FAJAR ROMADHAN

  • 5. MIA YUNITA

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN STIKes MERCU BAKTIJAYA PADANG TINGKAT IIIA TAHUN 2018/2019

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah. SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan perlindungan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyusun makalah dengan judul ” Fraktur”. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selama penyusunan makalah ini penulis banyak menemui kesulitan dikarenakan keterbatasan referensi dan keterbatasan penulis sendiri. Dengan adanya kendala dan keterbatasan yang dimiliki penulis maka penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun makalah dengan sebaik-baiknya. Sebagai manusia penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan yang lebih baik dimasa yang akan datang. Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya, Amin.

Padang, 24 September 2018

Kelompok 1

A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang atau tulang rawan umumnya di karenakan rudapaksa (Mansjoer, 2008). Dikehidupan sehari hari yang semakin padat dengan aktifitas masing-masing manusia dan untuk mengejar perkembangan zaman, manusia tidak akan lepas dari fungsi normal musculoskeletal terutama tulang yang menjadi alat gerak utama bagi manusia, tulang membentuk rangka penujang dan pelindung bagian tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakan kerangka tubuh,. namun dari ulah manusia itu sendiri, fungsi tulang dapat terganggu karena mengalami fraktur. Fraktur biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Mansjoer, 2008).

Fraktur Cruris merupakan suatu istilah untuk patah tulang tibia dan fibula yang biasanya terjadi pada bagian proksimal, diafisis, atau persendian pergelangan kaki. Pada beberapa rumah sakit kejadien fraktur cruris biasanya banyak terjadi oleh karena itu peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan trauma musculoskeletal pada fraktur cruris akan semakin besar sehingga di perlukan pengetahuan mengenai anatomi, fisiologi, dan patofisiologi tulang normal dan kelainan yang terjadi pada pasien dengan fraktur cruris (Depkes RI, 2005).

Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat di tahun 2011 terdapat lebih dari 5,6 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 1.3 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi yaitu insiden fraktur ekstrimitas bawah sekitar 40% dari insiden kecelakaan yang terjadi.

Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi diintegritas pada tulang. Penyebab terbanyaknya adalah insiden kecelakaan, tetapi factor lain seperti proses degeneratif dan osteoporosis juga dapat berpengaruh terhadap terjadinya fraktur (Depkes RI, 2011). Kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja merupakan suatu keadaan yang tidak di inginkan yang terjadi pada semua usia dan secara mendadak. Berbagai penyebab fraktur diantaranya cidera atau benturan, faktor patologik,dan yang lainnya karena faktor beban.

Selain itu fraktur akan bertambah dengan adanya komplikasi yang berlanjut diantaranya syok, sindrom emboli lemak, sindrom kompartement, kerusakan arteri, infeksi, dan avaskuler nekrosis. Komplikasi lain dalam waktu yang lama akan terjadi mal union, delayed union, non union atau bahkan perdarahan. (Price, 2005) Berbagai tindakan bisa dilakukan di antaranya rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.

  • B. Rumusan Masalah

    • 1. Pengertian Fraktur?

    • 2. Etiologi Fraktur?

    • 3. Anatomi Fisiologi Fraktur?

    • 4. Patofisiologi Fraktur?

    • 5. Pathway?

    • 6. Manifestasi Klinis?

    • 7. Pemeriksaan Penunjang?

  • C. Tujuan

    • 1. Mengetahui pengertian fraktur.

    • 2. Mengetahui etiologi fraktur.

    • 3. Mengetahui anatomi fisiologi fraktur.

    • 4. Mengetahui patofisiologi fraktur.

    • 5. Mengetahui pathway fraktur.

    • 6. Mengetahui manifestasi klinis.

    • 7. Mengetahui pemeriksaan penunjang.