Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

MONITORING DURANTE ANESTESI

Disusun oleh :
Jatniko Fadhilah
NIM : 030.14.102

Pembimbing :
dr. Ratna Anggraeni, SpAn

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


KOTA BEKASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 26 FEBRUARI – 31 MARET 2018
JAKARTA
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Salah satu tanggung jawab utama dari seorang ahli anestesi adalah untuk bertindak
sebagai penjaga pasien yang dibius selama operasi. Bahkan, "kewaspadaan" adalah motto
dari American Society of Anesthesiologists (ASA). Karena monitoring sangat membantu
dalam mempertahankan kewaspadaan yang efektif, standar untuk pemantauan intraoperatif
telah diadopsi oleh ASA. Kewaspadaan yang optimal membutuhkan pemahaman tentang
teknologi yang canggih. Bab ini mengkaji indikasi, kontraindikasi, teknik dan perangkat, dan
komplikasi yang terkait, serta pertimbangan klinis lain yang paling penting dan banyak
digunakan dalam monitoring anestesi.

Pemantauan atau monitoring berasal dari bahasa latin “monere” yang artinya
memperingatkan atau memberi peringatan. Dalam tindakan anestesi harus dilakukan
monitoring terus menerus tentang keadaan pasien yaitu reaksi terhadap pemberian obat
anestesi khusus terhadap fungsi pernafasan dan jantung. Hal ini dapat dilakukan dengan
panca indera kita yaitu dengan meraba, melihat atau mendengar dan yang lebih penting serta
obyektif dengan alat.

Monitoring anesthesia merupakan suatu standar aplikasi pemeliharaan anestesi,


monitoring menginterprestasikan data klinis yang tersedia untuk membantu mengenali
kegawatan yang terjadi sekarang, yang akan terjadi dan kondisi sistem jaringan yang tidak
menguntungkan. Dalam melakukan pemantauan yang kompleks dibutuhkan keseimbangan
antara pengetahuan dan skill dalam bidang anestesi. Walaupun kesalahan manusia tidak dapat
dihindari, hal ini menyangkut tentang keamanan dari pasien yang sangat bergantung pada
kewaspadaan dan respons kita terhadap masalah yang potensial.

Dibutuhkan pemahaman yang menyeluruh tentang prinsip-prinsip anestesi pada saat


pemantauan dan parameter tingkat kesadaran normal dan abnormal pada pasien. Tujuan
dilakukan pemantauan mengurangi resiko insiden dan kegawatan terhadap pasien selama
periode perioperatif dengan mendeteksi konsekuensi dari suatu masalah pada saat anestesi,
ditandai dengan peringatan tanda-tanda pasien gawat.
Pemantauan saat anestesi dikenal menjadi hal yang rutin dilakukan seiring dengan
perkembangan yang pesat di bidang fasilitas klinik, pelatihan dan faktor lain yang
mempengaruhi pasien. Dari perkembangan tersebut menurunkan keterkaitan antara mortalitas
dan morbiditas pada pasien selama periode perioperatif.

Untuk dapat melakukan pemantauan dengan baik selain faktor manusia diperlukan juga
alat-alat pantau agar lebih akurat. Alat pantau berfungsi sebagai pengukur, menayangkan dan
mencatat perubahan-perubahan fisiologis pasien. Walaupun terdapat banyak alat pantau yang
canggih tetapi faktor manusia sangat menentukan sekali karena sampai saat ini belum ada alat
pantau yang dapat menggantikan fungsi manusia untuk memonitor pasien. Alat pantau perlu
dipelihara dengan baik sehingga informasi-informasi yang didapat dari alat pantau tersebut
dapat dipercaya.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Monitoring Perianesthesia

Monitoring adalah segala usaha untuk memperhatikan, mengawasi dan memeriksa


pasien dalam anestesi untuk mengetahui keadaan dan reaksi fisiologis pasien terhadap
tindakan anestesi dan pembedahan. Tujuan utama monitoring anestesi adalah diagnosa
adanya permasalahan, perkiraan kemungkinan terjadinya kegawatan, dan evaluasi hasil suatu
tindakan, termasuk efektivitas dan adanya efek tambahan.

Saat ini sudah terdapat standar monitoring anestesi yang diadopsi dari ASA. Standar
ini berlaku untuk semua perawatan anestesi meskipun, dalam keadaan darurat, tindakan
dukungan kehidupan yang sesuai lebih diutamakan. Standar ini juga dapat dilampaui setiap
saat berdasarkan penilaian dari ahli anestesi yang bertanggung jawab pada saat itu. Hal ini
dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien, tetapi mengamati dan
mengikuti standar ini juga tidak dapat menjamin hasil dari setiap pasien.

STANDAR 1

Ahli anestesi yang memenuhi syarat harus hadir di ruangan sepanjang pelaksanaan semua
prosedur anestesi umum, anestesi regional, dan perawatan anestesi yang membutuhkan
pemantauan.

Tujuan: dikarenakan dapat terjadi perubahan yang cepat dalam status pasien selama anestesi,
ahli anestesi yang memenuhi syarat harus terus hadir untuk memantau pasien dan
memberikan perawatan anestesi.

STANDAR 2

Selama anestesi, oksigenasi, ventilasi, sirkulasi, dan suhu pasien harus terus dievaluasi.

Oksigenasi

Tujuan: Untuk memastikan konsentrasi oksigen yang cukup dalam udara inspirasi dan darah
selama semua prosedur anestesi.

Metode:
(1) udara inspirasi: Selama setiap pemberian anestesi umum menggunakan mesin anestesi,
konsentrasi oksigen dalam sistem pernapasan pasien harus diukur oleh oxygen analyzer
dengan penggunaan alarm dengan batas konsentrasi oksigen yang rendah.

(2) oksigenasi darah: Selama anestesi, metode kuantitatif untuk menilai oksigenasi seperti
pulse oximetry harus digunakan.

Ventilasi

Tujuan: Untuk memastikan ventilasi yang memadai terhadap pasien selama semua prosedur
anestesi.

Metode:

(1) Setiap pasien yang menerima anestesi umum harus memiliki kecukupan ventilasi yang
terus dievaluasi. Tanda-tanda klinis kualitatif seperti pengapatan pengembangan dada,
reservoir breathing bag, dan auskultasi suara nafas sangat berguna.

(2) Apabila tracheal tube atau laryngeal mask dimasukkan, posisi yang benar harus
diverifikasi oleh penilaian klinis dan dengan identifikasi konsentrasi karbon dioksida dalam
udara ekspirasi. Analisis End-Tidal CO2 yang terus-menerus, yang digunakan dari waktu
intubasi, sampai ekstubasi atau memindahkan pasien ke lokasi perawatan pascaoperasi, harus
terus dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif seperti capnography, atau
capnometry.

(3) Bila ventilasi dikendalikan oleh ventilator mekanik, sebaiknya digunakan sebuah
perangkat yang mampu mendeteksi bila ada komponen yang terputus dari sistem pernapasan.
Perangkat harus memberikan sinyal yang dapat terdengar saat alarm telah melampaui ambang
batas.

(4) Selama anestesi regional dan perawatan anestesi yang memerlukan pengawasan,
kecukupan ventilasi harus dievaluasi, setidaknya, dengan pengamatan terus-menerus tanda-
tanda klinis kualitatif.

Sirkulasi

Tujuan: Untuk memastikan kecukupan fungsi peredaran darah pasien selama semua
prosedur anestesi.
Metode:

(1) Setiap pasien yang menerima anestesi harus memiliki elektrokardiogram terus
ditampilkan dari awal anestesi sampai saat bersiap-siap meninggalkan lokasi anestesi.

(2) Setiap pasien yang menerima anestesi harus diukur tekanan darah arteri dan denyut
jantung nya dan dievaluasi setidaknya setiap 5 menit.

(3) Setiap pasien yang menerima anestesi umum harus terus dievaluasi setidaknya salah satu
dari hal berikut: palpasi denyut nadi, auskultasi bunyi jantung, pemantauan dari penelusuran
tekanan intraarterial, pemantauan USG denyut perifer, pulse plethysmography atau oksimetri.

Suhu Tubuh

Tujuan: Untuk membantu dalam pemeliharaan suhu tubuh yang tepat selama semua
prosedur anestesi.

Metode:

Setiap pasien yang menerima anestesi harus dipantau suhu tubuhnya pada keadaan yang
diperkirakan dan diantisipasi, akan tejadi perubahan suhu tubuh yang signifikan secara
klinis.

II.1 Monitoring Sistem Kardiovaskuler

Monitoring sistem kardiovakuler dapat dilakukan dengan memantau hal-hal berikut


ini:

A. Nadi
Monitoring terhadap nadi merupakan keharusan, karena gangguan sirkulasi sering
terjadi selama anestesi. Pemantauan frekuensi dan irama nadi dapat dilakukan dengan mudah,
misalnya dengan meraba arteri temporalis, arteri radialis, arteri femoralis atau arteri karotis.
Dengan meraba nadi, kita mendapat informasi tentang kuat lemahnya denyut nadi, teratur
tidaknya irama nadi, frekuensi denyut nadi. Makin bradikardi makin menurunkan curah
jantung. Monitoring nadi secara kontinyu dapat dilakukan dengan peralatan elektronik seperti
EKG atau oksimeter yang disertai dengan alarm.

B. Tekanan darah
Tindakan anestesi umum atau regional adalah indikasi mutlak untuk dilakukannya
pengukuran tekanan darah. Teknik dan macam pengukuran tekanan darah tersebut sangat
bergantung pada kondisi pasien dan jenis tindakan pembedahan. Pada banyak kasus,
pengukuran setiap 3 sampai 5 menit dengan cara auskultasi dianggap sudah memenuhi syarat.
Tetapi dalam kasus pasien dengan kegemukan, pasien anak, atau pasien syok, akan lebih baik
menggunakan teknik Doppler atau oskilometer. Pengukuran harus dihindari pada anggota
gerak tubuh dengan abnormalitas (misalnya dialysis shunts) atau dengan jalur intravena.

Selain memperhatikan sistole dan diastole, perlu juga diperhatikan mean arterial
preassure (MAP). MAP dapat dihitung dengan rumus tekanan diastole + 1/3 (tekanan sistole
– tekanan diastole) atau { (tekanan sistole + 2 tekanan diastole) : 3 }.

Perlengkapan yang digunakan untuk mengukur tekanan darah secara non invasif yang
sederhana antara lain adalah manset (kaf), manometer dan stetoskop. Yang perlu diperhatikan
adalah ukuran kaf tidak boleh terlalu kecil atau terlalu besar, karena akan mempengaruhi nilai
pembacaan tekanan darah. Apabila kaf yang digunakan terlalu kecil, maka tekanan darah
yang terbaca akan lebih tinggi dari seharusnya dan begitu pula sebaliknya. Dianjurkan lebar
manset adalah 2/3 panjang lengan atau 20% - 50% lebih besar dari diameter lengan.
Manometer standar yang baik digunakan adalah manometer air raksa. Namun dapat juga
digunakan manometer aneroid, tetapi harus dikalibrasi dulu dengan manometer air raksa.
Untuk saat ini, penggunaan manometer dan stetoskop telah banyak ditinggalkan, karena telah
terdapat monitor elektronik yang secara teknis lebih praktis digunakan.

Pengukuran Tekanan Darah Secara Non Invasif


 Metode palpasi.
Sebelum melakukan pengukuran, kita harus menentukan terlebih dahulu denyut arteri
perifer yang dapat dirasakan. Setelah itu, kita kembangkan kaf sampai denyut nadi tidak
teraba. Perlahan-lahan kaf kita kempeskan sampai teraba kembali denyut nadi. Tekanan
sistolik terbaca saat arteri terasa berdenyut untuk pertama kali. Tetapi oleh karena
ketidaksensitifan perabaan kita dan adanya perbedaan waktu antara aliran dibawah kaf dan
pulsasi pada sebelah distal, maka kita tidak dapat menentukan tekanan diastolik dan tekanan
arteri rerata.
 Metode auskultasi
Teknik yang digunakan pada metode Korotkoff atau auskultasi hampir sama dengan
metode palpasi, hanya ditambah stetoskop yang ditempatkan di sekitar arteri brakialis.
Tekanan sistolik ditunjukkan saat pertama kali bunyi nadi terdengar dan tekanan diastolik
adalah saat bunyi tersebut menghilang. Bunyi Korotkoff biasanya sulit didengarkan jika
terjadi keadaan hipotensi atau vasokonstriksi pembuluh darah perifer.
 Metode Doppler
Metode ini sangat baik digunakan pada pasien dengan kegemukan, pasien anak-anak
atau pasien yang dalam keadaan syok. Prinsip dari alat ini adalah pulsasi dari dinding arteri
atau pergerakan darah yang melalui suatu transduser memancarkan suatu gelombang
ultrasonik. Mula-mula kaf dipompa sampai melewati batas tekanan sistolik. Perlahan-lahan
kaf dikempeskan dan setelah melalui batas tekanan sistolik, dinding arteri akan berpulsasi
dan akan diteruskan melalui transduser. Penempatan probe harus tepat diatas arteri. Pada
metode Doppler, tekanan yang dapat diukur hanyalah tekanan sistolik saja.

Gambar 1. Probe Doppler harus selalu tepat di atas arteri agar pengukuran tekanan darah
akurat.

 Oskilometer
Pulsasi arteri akan menyebabkan oskilasi pada tekanan kaf. Oskilasi ini kecil apabila
kaf dikembangkan diatas tekanan sistolik. Saat tekanan kaf turun sampai tekanan sistolik,
pulasai akan dihantarkan ke seluruh kaf dan oskilasi akan meningkat. Oskilasi maksimal
terjadi saat mencapai tekanan arteri rerata, setelah itu akan turun kembali. Monitor tekanan
darah elektronik akan secara otomatis mencatat perubahan gelombang oskilasi ini. Monitor
oskilometer sebaiknya tidak digunakan pada pasien yang menjalani pembedahan bypass
kardiovaskuler. Sampai sekarang ini, peralatan oskilometer ini masih terus dikembangkan,
dan di Amerika Serikat menjadi pilihan dalam pemantauan tekanan darah noninvasive.

Gambar 2. Gambaran perubahan gelombang pada oskilometer

Pengukuran Tekanan Darah Secara Invasif


 Kateterisasi arteri
Indikasi dari pemantauan tekanan darah dengan menggunakan kateterisasi arteri
adalah tindakan anestesi dengan hipotensi buatan, antisipasi pada tindakan pembedahan
dengan perubahan tekanan darah yang cepat, tindakan pembedahan yang memerlukan
pemantauan tekanan darah dengan tepat secara cepat dan pemantauan analisa gas darah
secara berkala selama tindakan pembedahan. Tindakan kateterisasi arteri ini
dikontraindikasikan pada pembuluh darah yang tidak terdapat kolateral atau pada pasien yang
sebelumnya dicurigai adanya insufisiensi pembuluh darah pada anggota gerak tubuh
(misalnya Raynaud’s phenomenon).
Arteri radialis merupakan arteri yang sering untuk pelaksanaan kanulasi. Selain
letaknya yang superfisial juga karena memiliki banyak kolateral. Arteri lain yang dapat
digunakan untuk kanulasi adalah arteri ulnaris, arteri brakialis, arteri femoralis, arteri dorsalis
pedis dan arteri tibialis posterior serta arteri aksilaris.
Gambar 3. Cara melakukan kanulasi arteri radialis.

 Kateterisasi vena sentral


Indikasi dari kateterisasi vena sentral adalah untuk pemantauan tekanan vena sentral
pada penatalaksanaan cairan pada keadaan hipovolemi dan syok, infus nutrisi parenteral dan
obat-obatan, aspirasi emboli udara, insersi transcutaneous pacing leads, dan pada pasien
dengan akses vena perifer yang tidak baik.
Kontraindikasi dari kateterisasi vena sentral termasuk didalamnya adalah penyebaran
sel tumor ginjal yang masuk ke atrium kanan atau fungating tricuspid valve vegetations.
Kontraindikasi lainnya adalah yang berhubungan dengan tempat kanulasi. Sebagai contoh
kanulasi vena jugularis interna dikontraindikasikan (relatif) pada pasien yang mendapatkan
terapi antikoagulan atau yang pernah dilakukan ipsilateral carotid endarterectomy, oleh
karena kemungkinan terjadinya penusukan arteri karotis yang tidak disengaja.
Komplikasi yang dapat terjadi selama tindakan kanulasi vena sentral termasuk
didalamnya adalah infeksi, emboli udara atau trombus, disritmia (jika ujung kateter masuk ke
atrium kanan atau ventrikel), hematom, pneumotoraks, hidrotoraks, chylothorax, perforasi
jantung, tamponade jantung, trauma pembuluh darah atau nervus dan trombosis. Komplikasi
ini dapat terjadi bila kita tidak menggunakan teknik yang benar.

Gambar 4. Cara pemasangan kanulasi vena jugularis interna

C. Elektrokardiografi
Semua pasien yang menjalani anestesi harus selalu dipantau gambaran
elektrokardiogramnya. Tidak ada kontraindikasi dalam pelaksanaan tindakan ini.
Gambaran EKG menunjukkan aktivitas listrik dari jantung. Selama tindakan anestesi,
EKG dipakai untuk pemantauan kejadian disritmia kordis, iskemia miokard,
perubahan elektrolit, henti jantung dan aktivitas alat pacu jantung. Besarnya gambaran
gelombang yang muncul, akan berkurang dengan peningkatan ketebalan dinding dada
atau elektroda yang digunakan tidak baik. Gambaran ini juga dapat dipengaruhi oleh
aktivitas peralatan listrik (misalnya elektro kauter) yang digunakan selama tindakan
pembedahan.
Dalam EKG, potensial listrik yang diukur adalah kecil, sehingga artefak merupakan
masalah yang sering timbul. Pergerakan dari pasien atau kabel lead, penggunaan
elektrokauter, 60-cycle interference dan elektroda yang kualitasnya tidak baik akan
dapat memberikan gambaran seperti disritmia

Gambar 5. Konfigurasi penempatan 3 lead EKG pada pasien.

D. Banyaknya Perdarahan.
Dalam tindakan pembedahan besar, kehilangan darah menjadi masalah yang penting.
Selama tindakan anestesi dan pembedahan, kita harus menghitung jumlah perdarahan, baik
itu dari tabung suction, dari kasa operasi yang mengandung darah, dari kain penutup pasien,
dari baju ahli bedah, maupun dari darah yang mungkin ada di lantai. Pada anak-anak atau
bayi, jumlah perdarahan sedikit sudah dapat mengakibatkan anemia.

II.2 Monitoring Respirasi


A. Tanpa Alat
Dengan inspeksi kita dapat mengawasi pasien secara langsung gerakan dada-perut
baik pada saat bernapas spontan atau dengan napas kendali dan gerakan kantong cadang
apakah sinkron. Untuk oksigenasi warna mukosa bibir, kuku pada ujung jari dan darah pada
luka bedah apakah pucat, kebiruan, atau merah muda.

B. Stetoskop
Dengan stetoskop prekordial atau esophageal dapat didengar suara pernapasan.

 Stetoskop prekordial: terbuat dari metal, sangat berat dan berbentuk seperti
bel. Stetoskop ini diletakkan di atas dada atau pada suprasternal notch.
Meskipun berat disini bertujuan untuk mempertahankan posisinya saat
dipasang, tetapi masih diperlukan perekat dua sisi untuk lebih memperkuat,
disamping untuk memperjelas suara yang keluar.
Stetoskop ini dihubungkan dengan menggunakan extension tubing ke telinga
dokter anestesi, dan dapat memantau keadaan pasien dan lingkungan kamar
operasi secara bersama-sama. Komplikasi yang dapat timbul dari penggunaan
alat ini adalah reaksi alergi pada kulit, abrasi kulit dan rasa sakit saat
pelepasan stetoskop dari tubuh pasien.

Gambar 6. Stetoskop Prekordial

 Stetoskop esophageal: terbuat dari plastic lembut berbentuk seperti kateter


dengan ujung distal yang dilindungi dengan balon. Meskipun kualitas
pemantauan napas dan suara jantung lebih baik dibandingkan stetoskop
prekordial, tapi penggunaannya tebatas pada pasien yang dilakukan intubasi.
Informasi yang didapatkan pada penggunaan baik itu stetoskop prekordial atau
esophageal adalah konfirmasi tentang ventilasi, kualitas suara napas (misalnya
wheezing), keteraturan dari denyut nadi dan kualitas dari irama jantung.

C. Oksimetri Denyut
Oksimeter denyut mengukur denyut nadi dan tingkat saturasi oksigen hemoglobin
dengan menggunakan metode penyerapan gelombang cahaya dengan panjang gelombang
tertentu. Hasil yang didapatkan dengan menggunakan oksimeter denyut ini dapat dipercaya
dalam mengukur frekuensi denyut nadi dan tingkat saturasi oksigen hemoglobin secara
noninvasive, sehingga alat ini digunakan sebagai peralatan standar dalam pemantauan selama
anestesi. Komplikasi penggunaan oksimeter denyut sangat jarang terjadi, tetapi bila probe
dipasang pada ekstremitas untuk jangka waktu yang lama, akan dapat menimbulkan
kerusakan kulit. Sayangnya, kelemahan dari pulse oksimeter ini adalah tanda yang diterima
apabila terjadi kegagalan oksigenasi biasanya terlambat, yaitu setelah pasien mengalami
hipoksemia yang mungkin terjadi beberapa menit sebelumnya, contohnya pada terputusnya
sistem pernafasan dari mesin anestesi ke pasien.

D. Kapnometer
Kapnometer adalah alat non invasif untuk mengukur kadar CO2 pada satu siklus
respirasi di dalam sirkuit napas. Alat ini menggambarkan kadar CO2 pada fase inspirasi dan
ekspirasi serta menunjukkan kadar CO2 pada akhir ekspirasi (End Tidal CO2 atau ETCO2).
Pengukuran kadar CO2 dalam sirkuit nafas ini berguna untuk menilai ventilasi yang adekuat,
deteksi intubasi esofageal, diskoneksi sirkuit nafas atau ventilator, problem sirkulasi dan
deteksi hipertermia maligna.
Kapnografi adalah pemeriksaan gold standard pada intubasi esofageal, dimana tidak
ada atau sangat kecil CO2 terdeteksi bila dilakukannya pemasangan intubasi esofageal.
Peningkatan tekanan intrakranial dengan menurunkan PaCO2 dapat dengan mudah dipantau
dengan menggunakan analisa ETCO2. Penurunan secara cepat ETCO2 adalah indikator yang
sensitif terhadap terjadinya emboli udara yang sering terjadi pada kraniotomi dengan posisi
duduk.
II.3 Monitoring Suhu Tubuh

Selama tindakan anestesi, terutama dalam waktu yang lama atau pada bayi dan anak
kecil, tempertur pasien harus selalu dipantau. Alat yang digunakan untuk memantau
temperature adalah termistor atau thermocouple.
Dilakukan pada bedah lama atau pada bayi dan anak kecil. Pengukuran suhu sangat
penting pada anak terutama bayi, karena bayi mudah sekali kehilangan panas secara radiasi,
konveksi, evaporasi dan konduksi, dengan konsekuensi depresi otot jantung, hipoksia,
asidosis, pulih anestesia lambat.

II.4 Monitoring Ginjal

Dalam tindakan anestesi pemantauan produksi urin menjadi hal yang penting.
Produksi urin menggambarkan fungsi system urogenital dan secara tidak langsung
menunjukkan keadaan curah jantung, volume intravaskuler dan aliran darah ke ginjal.
Indikasi untuk dilakukan pemasangan kateter urin adalah pada pasien dengan penyakit
jantung kongestif, gagal ginjal, penyakit hati lanjut, atau pasien syok. Selain itu kateterisasi
urin merupakan tindakan yang rutin dilakukan pada pembedahan jantung, bedah aorta atau
pembuluh darah ginjal, kraniotomi, bedah abdomen mayor, pembedahan dengan waktu lama
dan pembedahan yang kemungkinan memerlukan cairan yang banyak serta pemberian obat
diuretika selama pembedahan.
Jumlah urin yang keluar menggambarkan fungsi dan perfusi dari ginjal. Semua ini
adalah peunjuk keadaan fungsi ginjal, kardiovaskular dan volume cairan. Urin yang keluar
dianggap baik apabila volumenya lebih atau sama dengan 0,5 ml/kgBB/jam, dan bila kurang
dari jumlah tersebut perlu mendaptkan perhatian.

II.5 Monitoring Blokade Neuromuskular


Stimulasi saraf untuk mengetahui apakah relaksasi otot sudah cukup baik atau
sebaliknya
setelah selesai anestesia apakah tonus otot sudah kembali normal.
II.6 Monitoring Sistem Saraf
Pada pasien sehat sadar, oksigenasi pada otaknya adekuat kalau orientasi terhadap
personal, waktu dan tempat baik. Pada saat pasien dalam keadaan tidak sadar, monitoring
terhadap SSP dikerjakan dengan memeriksa respons pupil terhadap cahaya, respon terhadap
trauma pembedahan, respons terhadap otot apakah relaksasi cukup atau tidak.
BAB III

KESIMPULAN

Monitoring adalah segala usaha untuk memperhatikan, mengawasi dan memeriksa


pasien dalam anestesi untuk mengetahui keadaan dan reaksi fisiologis pasien terhadap
tindakan anestesi dan pembedahan. Tujuan utama monitoring anestesi adalah diagnosa
adanya permasalahan, perkiraan kemungkinan terjadinya kegawatan, dan evaluasi hasil suatu
tindakan, termasuk efektivitas dan adanya efek tambahan.

Ahli anestesi harus hadir di ruangan operasi selama dilakukannya operasi pada
anestesi umum dan regional untuk melakukan pengawasan selama prosedur operasi,
dikarenakan perubahan status pasien yang dapat berubah dengan cepat.
Selama prosedur anesteasi berlangsung, harus terus dipantau hal-hal berikut:
1. Monitoring Sistem Kardiovaskuler: nadi, tekanan darah, elektrokardiografi, dan
banyaknya Perdarahan.
2. Monitoring Respirasi: Dengan inspeksi kita dapat mengawasi pasien secara
langsung gerakan dada-perut baik pada saat bernapas spontan atau dengan napas
kendali dan gerakan kantong cadang apakah sinkron. Untuk oksigenasi warna
mukosa bibir, kuku pada ujung jari dan darah pada luka bedah apakah pucat,
kebiruan, atau merah muda. Perlu juga dilakukan pemeriksaan ventilasi dengan
menggunakan alat bantu seperti stetoskop, oksimeter denyut, dan kapnometer.
3. Monitoring Suhu Tubuh: dilalukan untuk memantau bila terjadi hipotermi atau
hipertermi
4. Monitoring Ginjal: jumlah urin yang keluar menggambarkan fungsi dan perfusi
dari ginjal. Semua ini adalah peunjuk keadaan fungsi ginjal, kardiovaskular dan
volume cairan. Urin yang keluar dianggap baik apabila volumenya lebih atau
sama dengan 0,5 ml/kgBB/jam, dan bila kurang dari jumlah tersebut perlu
mendaptkan perhatian.
5. Monitoring Blokade Neuromuskular: stimulasi saraf untuk mengetahui apakah
relaksasi otot sudah cukup baik atau sebaliknya setelah selesai anestesia apakah
tonus otot sudah kembali normal.
6. Monitoring Sistem Saraf: pada pasien sehat sadar, oksigenasi pada otaknya
adekuat kalau orientasi terhadap personal, waktu dan tempat baik. Pada saat
pasien dalam keadaan tidak sadar, monitoring terhadap SSP dikerjakan dengan
memeriksa respons pupil terhadap cahaya, respon terhadap trauma pembedahan,
respons terhadap otot apakah relaksasi cukup atau tidak.
TINJAUAN PUSTAKA

1. Morgan, G. Edward Jr,. Maged, S. Mikhail, and Murray, Michael J,. 2006.
Clinical Anesthesiology, Fourth Edition. United States of America: Appleton
& Lange.
2. Miller, Ronald D. 2005. Miller’s Anesthesia, 7th edition. United States of
America: Elsevier
3. The Association of Anaesthetists of Great Britain and Ireland. 2007.
Recommendations For Standards Of Monitoring During Anaesthesia And
Recovery. Available at:
http://www.aagbi.org/sites/default/files/standardsofmonitoring07.pdf Accessed
On August, 18th 2013.
4. Committee of Origin: Standards and Practice Parameters. 2011. Standards
For Basic Anesthetic Monitoring. Available at:
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=monitoring%20anesthesia&source
=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCkQFjAA&url=http%3A%2F%2Fwww.asahq
.org%2F~%2Fmedia%2FFor%2520Members%2Fdocuments%2FStandards%
2520Guidelines%2520Stmts%2FBasic%2520Anesthetic%2520Monitoring%2
5202011.ashx&ei=ClYRUsbbNoWGrAfV-
ICwCQ&usg=AFQjCNEih2gjtQ44erwRcFVtntR3W6EHsg&bvm=bv.507689
61,d.bmk Accessed on August, 17th 2013.