Anda di halaman 1dari 29

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Evolusi adalah proses perubahan struktur tubuh makhluk hidup yang berlangsung
sangat lambat dan dalam waktu yang sangat lama. Evolusi juga merupakan perkembangan
makhluk hidup yang berlangsung secara perlahan-lahan dalam jangka waktu yang lama dari
bentuk sederhana ke arah bentuk yang komplek. Evolusi juga dapat diartikan proses
perubahan yang berlangsung sedikit demi sedikit dan memakan waktu yang lama.
Teori evolusi dimaksudkan sebagai penjelasan tentang bagaimana evolusi itu terjadi
(mekanisme evolusi). Bisa terjadi ada beberapa penjelasan yang diberikan mengenai suatu
fenomena. Mengenai evolusi, pada abad ke-19 Lamarck memberikan penjelasan bagaimana
evolusi itu terjadi, yang dikenal sebagai teori evolusi Lamarck atau teori Lamarck. Penjelasan
yang diberikan oleh Lamarck itu kemudian dianggap tidak benar karena ada penjelasan lain
yang dipandang lebih memuaskan, terutama yang diberikan oleh Darwin dan dikenal sebagai
teori evolusi Darwin atau teori Darwin.
Faktor-faktor yang mempengaruhi evolusi adalah seleksi alam, mutasi dan peran
isolasi dalam pembentukan spesies baru. Ada perjuangan untuk hidup yaitu antara individu-
individu dalam suatu spesies untuk mendapatkan makanan, air, cahaya atau faktor-faktor lain
yang penting dalam lingkungan itu. Melalui peristiwa isolasi dapat ditetapkan adanya
perbedaan genetik. Organisme yang hidup di sekitar kita telah mengalami tahap-tahap isolasi
menuju pembentukan spesies baru. Bukti teori evolusi adalah; adaptasi dan seleksi alam.
Seleksi alam berlangsung secara mikro evolusi, dengan hasil akhirnya adalah adaptasi. Dua
unsur yang terdapat pada teori Evolusi Darwin, yaitu; adaptasi dan pembentukan spesies
baru. Terjadi adaptasi melalui proses mikro evolusi, yakni perubahan pada individu dalam
populasi secara bertahap untuk membentuk spesies baru.
Pada makalah ini akan dijelaskan secara terperinci tentang pembentukan spesies baru
(spesiasi).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dapat dirumuskan sebagai
berikut:
1. Apa itu spesiasi?
2. Bagaimanakah mekanisme pembentukan spesies baru (spesiasi)?
3. Bagaimanakah mekanisme isolasi spesies?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian pembentukan spesies baru (spesiasi).
2. Untuk mengetahui dan memahami mekanisme pembentukan spesies baru (spesiasi).
3. Untuk mengetahui dan memahami mekanisme isolasi spesies.
1.4 Batasan Masalah
Agar pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan
pembahasan, maka pembahasan dalam makalah ini lebih kami khususkan untuk membahas
tentang salah satu faktor yang mempengaruhi evolusi yaitu spesiasi.
BAB II
PEMBAHASAAN
2.1 Pengertian Spesiasi
Spesiasi merupakan unit dasar untuk memahami biodiversitas. Spesies adalah adalah
kata dalam bahasa latin yang berarti “jenis” atau “penampakan”.Waluyo (2005) menyatakan
bahwa spesies adalah suatu kelompok organisme yang hidup bersama di alam bebas, dapat
mengandalkan perkawinan secara bebas, dan dapat menghasilkan anak yang fertil dan
bervitalitas sama dengan induknya. Namun di sisi lain pertanyaan tentang “apa itu spesies
telah menimbulkan perdebatan berkepanjangan sementara konsep-konsep spesies baru terus
bermunculan. Riyanto dalam Mayden ( 1997) dan Ariyanti (2003) mengatakan bahwa saat ini
ada sekurang-kurangnya 22 konsep untuk mendefenisikan spesies yang semuanya tampak
berbeda-beda. Itu artinya bahwa para ahli memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam
memahami tentang spesies. Munculnya keanekaragaman konsep spesies ini dilatarbelakangi
oleh dua alasan yang mendasar. Alasan pertama adanya perbedaan pendapat tentang spesiasi
yang merupakan proses munculnya suatu spesies baru. Karena spesiasi bukan hanya menarik
perhatian para ahli evolusi, tetapi juga memikat perhatian dari berbagai disiplin ilmu biologi
lainnya seperti morfologi, genetika, ekologi, fisiologi, paleontologi, biologi reproduksi, dan
biologi tingkah laku. Alasan kedua adalah karena spesies adalah hasil proses evolusi yang
terus berjalan. Artinya bahwa konsep spesies yang dibuat berdasarkan proses spesiasi yang
dibuat ketika spesies itu benar-benar sudah sampai pada akhirnya.
Diantara sekian banyak konsep tentang spesies, Sterns and Hoekstra (2003)
menyatakan bahwa Ernst Mayr pada tahun 1963 mendefinisikan konsep spesies biologis yang
dapat diterima secara luas. Spesies menurut biological species conncept (BSC) adalah suatu
populasi atau kelompok populasi alami yang secara aktual memiliki potensi dapat saling
kawin (interbreeding) dan menghasilkan keturunan yang fertil, namun tidak dapat
menghasilkan keturunan yang fertil jika kawin dengan spesies lain. Dengan kata lain suatu
spesies biologi adalah unit populasi terbesar dimana pertukaran genetik mungkin terjadi dan
terisolasi secara genetik dari populasi kelompok lainnya. Konsep ini didasarkan pada dua
pandangan biologis yaitu reproduksi seksual meningkatkan keseragaman dalam gen pool
melalui rekombinasi genetik dan jika dua kelompok populasi itu tidak dapat melakukan
kawin silang maka di sana terjadi aliran gen. Ketidakmampuan penggabungan perkawinan
akan memunculkan spesies yang berasal dari penggabungan bersama pada beberapa waktu
berikut setelah kondisi telah mengalami perubahan. Jadi berdasarkan konsep ini, maka
kriteria yang menentukan keberhasilan reproduksi seksual adalah kemampuan untuk
menghasilkan keturunan yang fertil. Konsep spesies ini tidak berlaku untuk organisme
aseksual dan hibridisasi antar spesies.
Spesies dalam pandangan modern adalah suatu golongan populasi yang alami
(deme) yang tersendiri secara genetis dan memiliki bersama suatu gene pool. Suatu spesies
adalah unit atau kesatuan terbesar dalam populasi, di dalamnya terjadi pertukaran gen.
Kebanyakan spesies dipisahkan dengan perbedaan-perbedaan yang nyata secara anatomi,
fisologi dan tingkah laku.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa spesiasi merupakan proses
pembentukan spesies baru yang disebabkan oleh berbagai faktor dimana spesies baru yang
dibentuk lambat laun sifat atau prilakunya akan berbeda.
2.2 Mekanisme Spesiasi
a. Spesiasi Alopatrik
Spesiasi alopatrik adalah spesiasi populasi yang terbagi dua. Salah satunya populasi
alopatrik geografis terisolasi, misalnya fragmentasi habitat akibat perubahan geografis seperti
dengan adanya gunung atau perubahan sosial seperti emigrasi. Populasi yang terisolasi
kemudian mengalami perbedaan genotipik dan fenotipik mereka mengalami tekanan selektif
yang berbeda atau secara independen mereka menjalani pergeseran genetik. Ketika populasi
kembali ke dalam kontak, mereka telah berkembamg dan tidak lagi mampu bertukar gen.
Pulau genetika, kecenderungan kecil, kolam genetik terisolasi untuk menghasilkan sifat-sifat
yang tidak biasa, telah diamati dalam beberapa keadaan, termasuk kepulauan dan perubahan
radikal di kalangan tertentu di pulau yang terkenal, seperti Komodo dan Galapagos, yang
terakhir setelah melahirkan ekspresi modern teori evolusi, setelah diamati oleh Charles
Darwin.
Terjadinya spesiasi alopatrik banyak dibuktikan melalui studi variasi geografi. Spesies
yang beranekaragam secara geografis dari seluruh karakter dapat menghalangi pertukaran gen
antara spesies simpatrik. Populasi yang terpisah secara geografis dapat terisolasi oleh
kemandulan atau perbedaan perilaku (ketika diuji secara eksperimen) dibandingkan dengan
populasi yang berdekatan. Populasi yang terisolasi mungkin tidak dapat melakukan
interbreeding jika mereka bertemu, karena bentuknya sangat menyimpang (divergent) dan
kemudian masuk ke dalam simpatrik tetapi tidak terjadi interbreeding. Spesiasi alopatrik
merupakan mekanisme isolasi yang terjadi gradual. Contoh: Burung Acaulhiza pusilla
tersebar luas di benua Australia dan mempunyai suatu populasi yang sedikit berbeda yaitu A.
Ewingi. Penjelasan yang masuk akal adalah selama peristiwa pleistocene glaciation, ketika
permukaan laut lebih rendah, Acanthiza menyerbu Tasmania dan membedakan ke dalam A.
ewingi yang terisolasi oleh suatu periode glacial, mungkin telah ada A. pusilla pada pulau itu.
Contoh bukti perbedaan alopatrik misalnya hewan air tawar menunjukkan keanekaragaman
yang besar di daerah pegunungan yang banyak terisolasi dengan sistem sungai. Pada suatu
pulau suatu spesies adalah homogen di atas rentang kontinen yang berbeda dalam hal
penampilan, ekologi dan perilaku. Suatu contoh allopatric speciation lainnya yaitu suatu
kelompok ular (garter snake) (Thamnophis) di bagian barat Amerika Utara. Hubungan
kompleks antar ras ular Thamnophis. Di dalam kelmpok akuatik, hammondii, gigas, couchi,
hydrophila, aquaticus, dan atratus membentuk suatu sekuens/urutan sbspesies allopatric yang
melakukan interbreed dimana jika mereka bertemu (daerah abu-abu); tetapi atratus hidup
pada waktu sama dengan hammondii tanpa interbreeding. Lebih dari itu, hydrophila
melakukan interbreed dengan biscutatus jika mereka bertem, tetapi biscutatus juga
melakukan interbreeds dengan anggota kelompok terestrial, yang dengan cara lain
memperluas sympatric dengan kelompok akuatik dan tidak melakukan interbreed. Contoh
spesiasi alopatrik lainnya adalah pembentukan spesies burung finch di Kepulauan Galapagos
yang dikemukakan oleh Darwin. Spesiasi burung finch termasuk dalam isolasi geografik,
spesialisasi ekologi, serta penyebaran kedua dan penguatan. Fenomena penguatan merupakan
satu di antara sedikit mekanisme spesiasi di mana seleksi alam mengambil peran (Stearns and
Hoekstra, 2003). Menurut Darwin bahwa burung finch berasal dari satu nenek moyang
burung yang sama.
b. Spesiasi Peripatrik
Spesiasi yang terjadi ketika sebagian kecil populasi organisme terisolasi dalam sebuah
lingkungan yang kecil dari populasi tertua. Spesiasi peripatrik dapat mengurangi variasi
genetik karena tidak kawin secara acak yang akhirnya dapat mengakibatkan hilangnya variasi
genetik, populasi baru dapat berubah, baik secara genotipe maupun fenotipe dari populasi
asalnya. Populasi baru berpisah dari populasi induk akan tetapi masih berada di area
mengarah ke terbentuknya evolusi.
c. Spesiasi parapatrik/ Semi geografik
Dalam spesiasi parapatik, spesies baru terbentuk secara terisolasi dapat membentuk
populasi kecil yang dicegah dari gen bertukar dengan penduduk asli. Hal ini terkait dengan
konsep efek pendiri, karena populasi kecil sering mengalami kemacetan. Genetik drift sering
diusulkan untuk memainkan peran penting dalam spesiasi peripatric contoh yang teramati
adalah isolasi reproduksi terjadi pada populasi subjek Drosophila terhadap penduduk, varian
dari nyamuk Culex pipiens yang masuk di London.
Spesiasi parapatric adalah dua zona populasi divergen yang terpisah tetapi saling
tumpang tindih. Hanya ada pemisahan parsial yang terjadi oleh geografi, sehingga individu-
individu dari setiap spesies bisa masuk dalam kontak atau saling terhalang dari waktu ke
waktu, tetapi keutuhan dapat mengurangi heterozigot yang mengarah ke seleksi alam untuk
perilaku atau mekanisme yang mencegah perkembangbiakan antara kedua spesies. Ekologi
mengacu pada spesiasi parapatric dan peripatric dalam hal relung ekologi. Semua berguna
untuk spesies baru yang akan sukses. Contoh yang teramati spesies burung camar disekitar
Kutub Utara.
Jika seleksi menyokong dua alel berbeda yang berdekatan atau parapatrik, frekuensi
sudah dapat ditetapkan. Dengan cukupnya seleksi pada suatu lokus yang berkontribusi
terhadap isolasi reproduktif, populasi dapat membedakan kepada spesies yang terisolasi
secara reproduktif. Endler (1977) dalam Widodo dkk (2003) berargumen bahwa zona bastar
yang biasanya menandai untuk dapat terjadinya kontak sekunder sebenarnya sudah muncul
secara in situ (melalui perbedaan populasi parapatrik dan spesies yang muncul juga
parapatrik).
Di dalam spesiasi parapatrik tidak ada barier ekstrinsik yang spesifik untuk gene flow.
Populasi berlanjut, tetapi populasi tidak kawin secara acak, individu lebih mudah kawin
dengan tetangganya secara geografis dari pada individu di dalam cakupan populasi yang
berbeda. Individu lebih mungkin untuk kawin dengan tetangganya daripada dengan individu
yang ada dalam cakupan. Di dalam gaya ini, penyimpangan boleh terjadi oleh karena arus
gen dikurangi di dalam populasi dan bermacam-macam tekanan pemilihan ke seberang
cakupan populasi. Contoh dari spesiasi parapatrik adalah spesiasi pada rumput jenis
Anthoxanthum odoratum. Model lain spesiasi parapatrik adalah model spesiasi stasipatrik
dari White (1968, 1978 dalam Widodo, 2003:55). White mengamati belalang tanpa sayap,
suatu populasi dengan rentang spesies yang luas berbeda dalam konfigurasi kromosomnya.
White mengusulkan bahwa suatu aberasi kromosom–mekanisme isolasi parsial-muncul
dalam suatu populasi dan memperluas cakupan/rentangannya membentuk suatu ever-
expanding zona bastar. Tetapi suatu mutasi chromosom yang menurunkan tingkat kesuburan
cukup untuk mempertimbangkan bahwa isolas reproduksi tidak dapat meningkatkan
frekuensi kecuali oleh genetic drift di dalam populasi yang sangat terbatas atau kecil, tetapi
akhirya model spasipatrik tidak dapat diterima secara luas.
d. Spesiasi Simpatrik
Spesiasi sympatrik adalah spesies yang menyimpang sementara dalam mendiami suatu
tempat yang sama. Sering dikutip contoh dari spesiasi sympatric yaitu ditemukan pada hewan
serangga yang menjadi ketergantungan pada tanaman inang host yang berbeda di daerah
sama. Namun, keberadaan spesiasi sympatric sebagai mekanisme spesiasi yang masih
diperebutkan. Orang-orang berpendapat bahwa bukti-bukti spesiasi sympatric dalam
kenyataan adalah spesiasi mikro-allopatric atau heteropatric. Contoh yang diterima secara
luas sebagian besar spesiasi sympatric adalah bahwa dari Cichlids danau Nabugabo di Afrika
Timur, yang diperkirakan karena seleksi seksual.
Spesiasi melalui poliploidi, spesiasi poliploidi adalah mekanisme yang sering dikaitkan
dengan peristiwa spesiasi yang dapat menyebabkan beberapa di sympatry. Tidak semua
poliploidi secara reproduktif terisolasi dari tanaman induknya, sehingga peningkatan jumlah
kromosom tidak dapat mengakibatkan penghentian lengkap terhadap aliran gen antara
poliploidi baru dengan diploid orang tua mereka (lihat juga spesiasi hibrida). Poliploidi
diamati di banyak spesies kedua tumbuhan dan hewan. Bahkan, telah diusulkan bahwa semua
tanaman yang ada dan sebagian besar pada hewan, poliploid tersebut telah mengalami suatu
kejadian polyploidization dalam sejarah evolusi mereka. Namun, seringkali oleh reproduksi
partenogenesis sejak hewan poliploid sering steril, contohnya mamalia poliploid diketahui,
dan paling sering mengakibatkan kematian perinatal.
Model spesiasi simpatrik meliputi spesiasi gradual dan spontan. Sebagian besar model
spesiasi simpatrik masih dalam kontroversi, kecuali pada model spesiasi spontan dan spesiasi
poliploidi yang terjadi pada tanaman. Jika bastar antara dua spesies diploid membentuk
tetraploid akan dapat memperbesar isolasi reproduktif dari tetua yang diploid. Keturunan
triploid akibat backcross mempunyai proporsi aneuploidi yang tinggi, karena gamet
membawa cacat bawaan. Pembatasan interbreeding diantara bentuk diploid dan tetraploid
dapat muncul, tetapi tidak pada poliploidi. Mutasi tunggal atau perubahan kromosom
menimbulkan isolasi reproduktif lengkap di dalam satu tahap tidak akan sukses bereproduksi,
kecuali jika ada perkawinan inbreeding (perkawinan dalam keluarga yang membawa mutasi
baru). Pada hewan secara umum perkawinan inbreeding tidak biasa terjadi, tetapi pada
golongan Chaicidoidea (Hymenoptera) itu biasa terjadi. Keanekaragaman spesies yang tinggi
di dalam kelompok dimudahkan oleh perkawinan inbreeding (Askew, 1968 dalam Widodo
dkk, 2003). Isolasi reproduktif antar spesies yang berkerabat dekat pada umumnya dapat
dihubungkan dengan adanya perbedaan bukan pada lokus gen tunggal, tetapi pada banyak
lokus. Kebanyakan spesiasi berlangsung secara gradual , karena tidak sempurnanya gen awal
terhadap arus gen (gene flow) menjadi semakin efektif.
Model-model spesiasi simpatrik didasarkan pada seleksi terpecah (distruptive
selection), seperti ketika dua homozigot pada satu atau lebih lokus teradaptasi dengan sumber
yang berbeda dan hal itu merupakan suatu multiple-niche polymorphism. Contohnya pada
serangga herbivora bergenotip AA dan A’A’ teradaptasi dengan spesies tumbuhan 1 dan 2,
dimana genotip AA’ tidak teradaptasi dengan baik. Masing-masing homozigot ingin
mempunyai fittes lebih tinggi jika dilakukan mating secara assortative dengan genotip yang
mirip dan tidak menghasilkan keturunan heterozigot yang tidak fit. Assortative mating
mungkin dipertimbangkan adanya lokus B yang dapat mempengaruhi perilaku kawin maupun
mendorong serangga untuk memilih inang spesifik, yang pada tempat tersebut dapat
ditemukan pasangan dan kemudian dapat bertelur. Jika BB dan Bb kawin hanya pada inang 2,
perbedaan dalam pemilihan inang dapat mendasari terjadinya pengasingan/ isolasi
reproduktif. Banyak dari serangga herbivora yang merupakan spesies yang berkerabat dekat
dibatasi oleh perbedaan inang, terutama untuk pemenuhan kebutuhan makan, mating/kawin.
Contoh simpatrik yaitu spesies baru rumput rawa payau yang berasal dari sepanjang pantai
Inggris selatan pada tahun 1870-an. Rumput ini adalah suatu allopoliploid yang diturunkan
dari spesies Eropa (Spartina maritima) dan spesies Amerika (Spartina alternaflora). Benih
dari spesies Amerika terselip di pemberat kapal dan tidak sengaja terbawa masuk ke Inggris
pada awal abad ke-19. Tumbuhan pendatang itu berhibridisasi dengan spesies lokal, dan
akhirnya menghasilkan spesies keiga (Spartina anglica), yang secara morfologi berbeda dan
terisolasi secara reproduktif dari kedua spesies tetuanya, berkembang sebagai suatu
allopoliploid. Jumlah kromosom konsisten dengan mekanisme spesiasi ini. Untuk S.
Maritima, 2n=60, S.alternaflora, 2n=62, dan untuk spesies baru itu, S.anglica, 2n=122. Sejak
awal S.anglica telah tersebar dipantai Inggris dan menyumbat muara sebagai gulma. Spesiasi
simpatrik dapat terjadi dalam evolusi hewan. Masing-masing spesies pohon ara diserbuki
oleh suatu spesies tawon tertentu, yang kawin dan meletakkan telurnya di pohon ara. Suatu
perubahan genetik yang menyebabkan tawon untuk memilih spesies pohon ara yang berbeda
akan memisahkan individu yang kawin dari fenotipe yang baru ini dari populasi tetuanya, dan
hal ini akan mengkibatkan perubahan evolusioner lebih lanjut. Suatu polimorfismeseimang
bersama dengan perkawinan asortatif dapat menghasilkan spesies simpatrik (Campbell et all,
2000:49).

2.3 Mekanisme Isolasi


2.3.1 Pengertian
Mekanisme Isolasi menurut Futuyama (1981) dalam bukunya Evolutionary Biologi
adalah karakteristik biologi yang menyebabkan spesies simpatrik (yang menempati daerah
geografi yang sama atau saling menutup dengan daerah persebaran geografi) tetap bertahan
(eksis), misalnya mempertahankan gene pool yang terbatas. Istilah ini mungkin kurang
menguntungkan karena pola ini meliputi pencegahan interbreeding (pembiakan dengan
spesies yang berbeda) yang mana sering kali menjadi kasus yang sering muncul.
2.3.2 Macam Mekanisme Isolasi
a. Premating Isolating
Premating Isolating Mechanisme adalah upaya mencegah gamet bertemu untuk
membentuk zigot (mencegah persilangan). Premating Isolating Mechanisme kadang-kadang
memiliki dasar ekologis seperti pada spesies Spadefoot toads (Scphiopus) yang jarang
bertemu karena perbedaan tipe tempat hidup dan pada parasit yang bertemu pada spesies
inang yang berbeda. Spesies bisa saja terisolasi hanya sementara saja, seperti pada tumbuhan
yang mempunyai musim berbunga yang berbeda atau serangga bertemu pada waktu yang
berbeda pada malam hari. Meskipun isolasi ekologis dan temporal (sementara) pada spesies
simpatrik tidak lengkap, mereka biasanya tidak melakukan interbreed (persilangan) karena
karena kondisi fisiologis atau bentuk perilaku (Levin 1978). Hewan yang menyerbukkan
tanaman yang berbeda dalam bentuk dan warna bunga yang justru menarik hewan yang
berbeda.

b. Postmating Isolation

Postmating Isolation adalah mekanisme yang mengurangi keberhasilan persilangan.

2.3.3 Klasifikasi Mekanisme Isolasi


a. Isolasi Geografi
Menurut pendapat Campbel dalam buku evolusi molekuler (Riyanto,2012:116)
mengemukakan bahwa proses-proses geologis dapat memisahkan suatu populasi menjadi dua
atau lebih terisolasi. Suatu daerah pegunungan bisa muncul dan secara perlahan-lahan
memisahkan populasi organisme yang hanya dapat menempati dataran rendah, suatu danau
besar bisa surut sampai terbentuk hambatan bagi penyebaran spesies, maka populasi yang
demikian tidak akan lagi bertukar susunan gennya dan evolusinya berlangsung sendiri-
sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, kedua populasi tersebut akan mati berbeda sebab
masing-masing menjalani evolusi dengan cara masing-masing. Hampir semua para ahli
biologi berpendapat bahwa sebagian besar faktor yang mencegah persilangan adalah
pemisahan secara geografis. Kalau sistem populasi yang semula continue dipisahkan oleh
sebab-sebab geografis yang menyebabkan hambatan bagi penyebaran spesies, maka sistem
populasi yang terpisah ini tidak mungkin memepertukarkan susunan gen mereka dan sistem
evolusi mereka selanjutnya akan terpisah. Di dalam waktu yang cukup lama, kedua sistem
populasi yang terpisah itu semakin berbeda sebab masing-masing menjalani evolusi dengan
caranya masing-masing.

b. Isolasi Reproduksi
Isolasi reproduksi adalah dua populasi/spesies yang terdapat pada daerah yang sama
tidak mampu melakukan perkawinan. Isolasi reproduksi dapat di bedakan menjadi isolasi
prazigot dan poszigot.
1. Isolasi Prazigot
Isolasi prazigot adalah isolasi yang menyebabkan dua spesies tidak dapat kawin yang
meliputi:

a. Isolasi Ekologi, apabila dua spesies simpartik yang terdapat disuatu daerah masing-
masing menempati habitat yang berbeda.
Contoh : katak pohon kawin didanau yang tidak permanen (kubangan) sedangkan katak
banten kawin didanau atau badan air permanen yang lebih besar.
b. Isolasi Musim, terjadi bila dua spesies simpatik masing-masing memiliki pemasakan
kelamin yang berbeda.
Contoh : masa kawin lalat buah drosophila pseudoobscura pada sore hari sedangkan masa
kawin Drosophila pseumilis pada pagi hari.
c. Isolasi Tingkah Laku, terjadi bila dua spesies simpatik mempunyai bentuk morfologi alat
kelamin yang berbeda pada saat kawin.
Contoh : pada berbagai jenis ikan ternyata kelakuan meminang ikan betina oleh ikan jantan
berbeda.
d. Isolasi Mekanik, terjadi apabila dua spesies simpatik terdapat sel gamet jantan yang
tidak mempunyai viabilitas pada saluran kelamin betina. (viabilitas adalah kemampuan
spermatozoa untuk bertahan hidup setelah dikeluarkan oleh organ reproduksi jantung).
Contoh : tanaman sage hitam memiliki bunga kecil yang hanya dapat diserbukan oleh lebah
kecil. Berbeda dengan tanaman sage putih yang memiliki struktur bunga yang besar yang
hanya dapat diserbukan oleh lebah besar.
e. Isolasi Gamet, menghalangi terjadinya pembuahan akibat susunan kimiawi dan melekul
yang berbeda antara dua sel gamet.
Contoh : pada ikan, telur ikan yang dikeluarkan di air tidak akan dibuahi oleh sperma dari
spesies lain karena selaput sel telurnya mengandung protein tertentu yang hanya dapat
mengikat melekul sel
sprema dari spesies yang sama.
2. Isolasi Poszigot
Isolasi poszigot terjadi jika isolasi prazigot gagal. Isolasi ini menghalangi
berkembangnya zigot atau jika zigot telah terbentuk akan menjadi organisme mandul. Isolasi
poszigot meliputi:

a. Hibrid
Embrio yang terbentuk dari dua spesies yang berbeda akan gugur, disebabkan gen-gen
dari kedua induk yang berbeda tidak dapat bekerja sama mendorong mekanisme membentuk
embrio normal.
b. Hibrid Mandul
Hibrid mandul terjadi jika induk memiliki jumlah kromosom yang berbeda, sehingga
sinapsis/pasangan kromosom homolog dalam meiosis tidak terjadi.
c. Hibrid Pecah
Kadang-kadang hibrid berkembang subur dan dapat menghasilkan generasi F2 dari
persilangan antara dua hibrid atau hibrid dengan galur induk. Filial-filial (F2) yang dihasilkan
tersebut dinamakan hybrid pecah.

c. Isolasi Ekologi

Dua sistem yang mula-mula dipisahkan oleh penghambat luar (eksternal barier),
suatu ketika mempunyai karakter yang khusus untuk berbagai keadaan lingkungan meskipun
penghambat luar tersebut dihilangkan, keduanya tidak akan simpatrik. Setiap populasi tidak
mampu hidup pada tempat dimana populasi lain berada, mereka dapat mengalami pada
perbedaaan-perbedaan genetik yang dapat tetap memisahkan mereka. Jadi, disini terdapat
perbedaan-perbedaan genetik yang mencegah gene flow diantara spesies pada keadaan yang
alami. Misalnya, pada pohon Plantus occidentalis yang terdapat di Timur laut Tengah, kedua
spesies ini dapat disilangkan dan menghasilkan hibrid yang kuat dan fertil. Kedua spesies ini
terpisah tempat yang berbeda dan fertilisasi alami tidak dapat terjadi (Riyanto, dalam
Waluyo,2005:119).

d. Isolasi Poliplodi

Poliploidi adalah kondisi pada suatu organisme yang memiliki set kromosom (genom)
lebih dari sepasang. Organisme yang memiliki keadaan demikian disebut sebagai organisme
poliploid. Usaha-usaha yang dilakukan orang untuk menghasilkan organisme poliploid
disebut sebagai poliploidisasi. Organisme hidup pada umumnya memiliki sepasang set
kromosom pada sebagian besar tahap hidupnya. Organisme ini disebut diploid (disingkat 2n).
Namun demikian, sejumlah organisme pada tahap yang sama memiliki lebih dari sepasang
set. Gejala semacam ini dinamakan poliploidi (dari bahasa Yunani yang artinya berganda).
Organisme dengan kondisi demikian disebut poliploid. Tipe poliploid dinamakan tergantung
banyaknya set kromosom. Jadi, triploid (3n), tetraploid (4n), pentaploid (5n), heksaploid (6n),
oktoploid, dan seterusnya. Dalam kenyataan, organisme dengan satu set kromosom (haploid,
n) juga ditemukan hidup normal di alam. Poliploidi umum terjadi pada tumbuhan. Ia
ditemukan pula pada hewan tingkat rendah (seperti cacing pipih, lintah, atau beberapa jenis
udang), dan juga fungi.
Di alam, poliploid dapat terjadi karena kejutan listrik (petir), keadaan lingkungan
ekstrem, atau persilangan yang diikuti dengan gangguan pembelahan sel. Perilaku reproduksi
tertentu mendukung poliploidi terjadi, misalnya perbanyakan vegetatif atau partenogenesis,
dan menyebar luas. Poliploidi buatan dapat dilakukan dengan meniru yang terjadi di alam,
atau dengan menggunakan mutagen. Kolkisin adalah mutagen yang umum dipakai untuk
keperluan ini. Efeknya cepat diketahui dan aplikasinya mudah. Penggunaannya beresiko
tinggi karena kolkisin sangat karsinogenik. Poliploidi seringkali memberikan efek dramatis
dalam penampilan atau pewarisan sifat yang bisa positif atau negatif. Tumbuhan secara
umum bereaksi positif terhadap poliploidi. Tetraploid (misalnya kentang) dan heksaploid
(misalnya gandum) berukuran lebih besar (reaksi "gigas", atau "raksasa") daripada leluhurnya
yang diploid. Karena hasil panen menjadi lebih tinggi, poliploidi dimanfaatkan dalam
pemuliaan tanaman. Berbagai kultivar tanaman hias (misalnya anggrek) dibuat dengan
mengeksploitasi poliploidi. Reaksi negatif terjadi terhadap kemampuan reproduksi,
khususnya pada poliploidi berbilangan ganjil, meskipun ukurannya membesar. Karena terjadi
ketidakseimbangan pasangan kromosom dalam meiosis, organisme dengan ploidi ganjil
biasanya mandul (steril). Pemuliaan tanaman, sekali lagi, mengeksploitasi gejala ini. Karena
mandul, semangka triploid tidak memiliki biji yang normal (bijinya tidak berkembang normal
atau terdegenerasi) dan dijual sebagai "semangka tanpa biji". Penangkar tanaman hias
menyukai tanaman triploid karena biji tanaman ini tidak bisa ditumbuhkan sehingga
konsumen harus membeli tanaman dari si penangkar. Poliploidi pada mamalia biasanya
berakhir dengan kematian pralahir. Vertebrata tertentu, seperti salamander dan kadal, juga
memiliki "versi" poliploid. Cacing pipih, lintah, dan udang, dibantu dengan perilaku
partenogenesis, juga memiliki anggota yang poliploid. Pada tumbuhan, khususnya tumbuhan
berbunga, poliploid mudah ditemukan baik terjadi secara alami atau campur tangan manusia
(baik sengaja maupun tidak) dalam proses pemuliaannya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Spesiasi adalah proses suatu spesies berdivergen menjadi dua atau lebih spesies.
Terdapat empat mekanisme spesiasi yang paling umum terjadi pada hewan adalah spesiasi
alopatrik, yang terjadi pada populasi yang awalnya terisolasi secara geografis, misalnya
melalui fragmentasi habitat. Mekanisme kedua adalah spesiasi peripatrik, yang terjadi ketika
sebagian kecil populasi organisme menjadi terisolasi dalam sebuah lingkungan yang baru. Ini
berbeda dengan alopatrik dalam hal ukuran populasi yang lebih kecil dari populasi tetua.
Mekanisme ketiga spesiasi adalah spesiasi parapatrik. Ia mirip dengan spesiasi peripatrik
dalam hal ukuran populasi kecil namun berbeda dalam hal tidak adanya pemisahan secara
fisik antara dua populasi. Mekanisme keempat spesiasi adalah spesiasi simpatrik, di mana
spesies berdivergen tanpa isolasi geografis. Mekanisme spesiasi dapat dibagi menjadi empat
yaitu isolasi geografi, isolasi reproduksi, isolasi ekologi dan isolasi popiploidi. Isolasi
geografis adalah terpisahnya satu spesies yang sama oleh suatu keadaan geografis menjadi
dua atau lebih kelompok populasi. Isolasi reproduksi adalah dua populasi/spesies yang
terdapat pada daerah yang sama tidak mampu melakukan interhibridasi (perkawinan). Isolasi
ekologi merupakan bagian dari isolasi reproduksi. Sedangkan isolasi poliploidi adalah
kondisi pada suatu organisme yang memiliki set kromosom (genom) lebih dari sepasang.
3.2 Saran
Pada penyajian makalah ini mungkin tidak menampilkan penjelasan secara
mendalam. Oleh karena itu,penulis meminta kritik dan saran yang membangun dari pembaca
sehingga penulis memperbaki pada penulisan makalah selanjutnya.

Spesies dalam bahasa latin berarti “jenis” atau “penampakan”. Spesies merupakan unit dasar
untuk memahami biodiversitas. Spesies adalah suatu kelompok organisme yang hidup
bersama di alam bebas, dapat mengadakan perkawinan secara bebas, dan dapat menghasilkan
anak yang fertil dan bervitalitas sama dengan induknya.

Munculnya keanekaragaman konsep spesies ini dilatarbelakangi oleh dua alasan mendasar.
Alasan pertama adanya perbedaan pemahaman tentang spesiasi yang merupakan proses
munculnya suatu spesies baru. Karena spesiasi bukan hanya menarik perhatian para ahli
evolusi, tetapi juga telah memikat perhatian dari berbagai disiplin bidang biologi lainnya
seperti morfologi, genetika, ekologi, fisiologi, paleontologi, biologi reproduksi, dan biologi
tingkah laku. Alasan kedua adalah karena spesies merupakan hasil dari proses evolusi yang
terus berjalan. Artinya bahwa konsep spesies yang dibuat berdasarkan proses spesiasi yang
masih sebagian berjalan akan berbeda dengan konsep spesies yang dibuat ketika spesies itu
benar-benar sudah sampai pada akhirnya.
Campbell (2003) mengemukakan ada beberapa konsep spesies antara lain:

1. Konsep spesies Biologis , spesies biologi adalah unit populasi terbesar dimana
pertukaran genetik mungkin terjadi dan terisolasi secara genetik dari populasi lain
semacamnya. Anggota suatu spesies biologis dipersatukan oleh ciri kesesuaian ciri
reproduksi. Semua manusia termasuk ke dalam spesies biologis yang sama.
Sebaliknya manusia dan simpanse tetap merupakan spesies biologis yang sangat jelas
berbeda meskipun hidup di wilayah yang sama karena kedua spesies itu tidak dapat
saling mengawini.
2. Konsep spesies pengenalan menekankan pada adaptasi perkawinan yang telah tetap
dalam suatu populasi. Menurut konsep ini suatu spesies didefinisikan oleh suatu
kumpulan sikap dan ciri unik yang memaksimalkan keberhasilan perkawinan ciri
molekuler morfologis perilaku yang memungkinkan individu untuk mengenali
pasangan kawinnya. Konsep ini cenderung berfokus pada sifat dan ciri yang
dipengaruhi oleh seleksi alam dan terbatas hanya pada spesies yang bereproduksi
secara seksual.
3. Konsep spesies kohesi berfokus pada mekanisme yang mempertahankan spesiesnya
sebagai bentuk fenotip tersendiri. Tergantung pada spesies, mekanisme ini meliputi
sawar reproduktif seleksi penstabilan dan tautan antara kumpulan gen yang membuat
zigot berkembang menjadi organisme dewasa dengan ciri khas yang spesifik.
4. Konsep spesies ekologis mendefinisikan spesies pada tempat dimana mereka hidup
dan apa yang mereka lakukan dan bukan dari penampakan mereka. Suatu spesies
ekologis didefinisikan oleh peranan unik yang dimainkannya atau posisi dan fungsi
spesifiknya dalam lingkungan. Contohnya dua populasi hewan yang tampak identik
dapat dikatakan merupakan dua spesies ekologis yang berbeda jika masing-masing
hanya ditemukan dalam jenis lingkungan spesifik (misalnya kolam air tawar dengan
kumpulan keadaan kimia, biologi, dan fisik yang khas).
5. Konsep spesies evolusioner mendefinisikan suatu spesies sebagai suatu urutan
populasi tetua dan keturunannya yang berkembang secara bebas dari kelompok lain.
Masing-masing spesies evolusioner memiliki peranan yang unik dan terpisah dalam
lingkungan, setiap peran tertentu melibatkan sekumpulan kekuatan seleksi alam yang
spesifik (tekanan selektif). Dengan demikian populasi yang membentuk suatu spesies
dipengaruhi dan disatukan oleh sekumpulan tekanan selektif yang unik.

Spesiasi adalah pembentukan spesies baru dan berbeda dari spesies sebelumnya dalam
kerangka evolusi. Spesiasi dapat berlangsung cepat, dapat pula berlangsung lama hingga
puluhan juta tahun. Setiap populasi terdiri atas kumpulan individu sejenis (satu spesies) dan
menempati suatu lokasi yang sama. Karena suatu sebab, populasi dapat terpisah dan masing-
masing mengembangkan adaptasinya sesuai dengan lingkungan baru.

2. Pengaruh Utama dalam Spesiasi

Spesiasi atau terbentuknya spesies baru dapat diakibatkan oleh adanya isolasi geografi, isolasi
reproduksi, dan perubahan genetika (Campbell, 2003). Adapun proses spesiasi ini dapat
berlangsung secara cepat atau lama hingga berjuta-juta tahun.

a. Peran Isolasi Geografi


Mayoritas para ahli biologi berpandangan bahwa faktor awal dalam proses spesiasi adalah
pemisahan geografis, karena selama populasi dari spesies yang sama masih dalam hubungan
langsung maupun tidak langsung gene flow masih dapat terjadi, meskipun berbagai populasi
di dalam sistem dapat menyimpang di dalam beberapa sifat sehingga menyebabkan variasi
intraspesies. Hal serupa juga dikemukakan oleh Campbell dkk (2003) bahwa proses-proses
geologis dapat memisahkan suatu populasi menjadi dua atau lebih terisolasi. Suatu daerah
pegunungan bisa muncul dan secara perlahan-lahan memisahkan populasi organisme yang
hanya dapat menempati dataran rendah; atau suatu danau besar bisa surut sampai terbentuk
beberapa danau yang lebih kecil dengan populasi yang sekarang menjadi terisolasi. Jika
populasi yang semula kontinyu dipisahkan oleh geografis sehingga terbentuk hambatan bagi
penyebaran spesies, maka populasi yang demikian tidak akan lagi bertukar susunan gennya
dan evolusinya berlangsung secara sendiri-sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, kedua
populasi tersebut akan makin berbeda sebab masing-masing menjalani evolusi dengan
caranya masing-masing

b. Peran Isolasi Reproduksi

Pengaruh isolasi geografis dalam spesiasi dapat terjadi karena adanya pencegahan gene flow
antara dua sistem populasi yang berdekatan akibat faktor ekstrinsik (geografis). Setelah kedua
populasi berbeda terjadi pengumpulan perbedaan dalam rentang waktu yang cukup lama
sehingga dapat menjadi mekanisme isolasi instrinsik. Isolasi instrinsik dapat mencegah
bercampurnya dua populasi atau mencegah interbreeding jika kedua populasi tersebut
berkumpul kembali setelah batas pemisahan tidak ada.

Spesiasi dimulai dengan terdapatnya penghambat luar yang menjadikan kedua populasi
menjadi sama sekali alopatrik (mempunyai tempat yang berbeda) dan keadaan ini belum
sempurna sampai populasi mengalami proses instrinsik yang menjaga supaya supaya mereka
tetap alopatrik atau gene pool mereka tetap terpisah meskipun mereka dalam keadaan
simpatrik (mempunyai tempat yang sama).

Mekanisme isolasi intrinsik yang mungkin dapat timbul yaitu isolasi sebelum perkawinan dan
isolasi sesudah perkawinan.

1) Isolasi Sebelum Perkawinan (Pre-mating isolation/prezygotic barrier)


Isolasi sebelum perkawinan menghalangi perkawinan antara spesies atau merintangi
pembuahan telur jika anggota-anggota spesies yang berbeda berusaha untuk saling
mengawini. Isolasi ini terdiri dari:

 Isolasi Ekologi (ecological)


 Isolasi Tingkah laku (Behavioral)
 Isolasi Sementara (temporal)
 Isolasi Mekanik (mechanical)
 Isolasi Gametis (gametic)

2) Isolasi Setelah Perkawinan (Post-mating isolation/Postzigotic barrier)

Hal ini terjadi jika sel sperma dari satu spesies membuahi ovum dari spesies yang lain, maka
barier postzigot akan mencegah zigot hibrida itu untuk berkembang menjadi organisme
dewasa yang bertahan hidup dan fertil. Mekanisme ini dapat terjadi melalui:

 Kematian zigot (zygotic mortality)


 Perusakan hibrid (hybrid breakdown)
 Sterilitas hibrid

3. Model-Model Proses Spesiasi

Spesiasi pada tingkat populasi terdiri dari beberapa model yaitu spesiasi allopatrik simpatrik,
spesiasi parapatrik (semigeografi), dan spesiasi simpatrik.

a. Spesiasi Alopatrik (Allopatric Speciation)


Ia jadi miliarder di usia 26 tahun!

Anda bisa hasilkan 600 Juta sebulan dengan trik ini


Terjadinya spesiasi alopatrik banyak dibuktikan melalui studi variasi geografi. Spesies yang
beranekaragam secara geografis dari seluruh karakter dapat menghalangi pertukaran gen
antara spesies simpatrik. Populasi yang terpisah secara geografis dapat terisolasi oleh
kemandulan atau perbedaan perilaku dibandingkan dengan populasi yang berdekatan.
Populasi yang terisolasi mungkin tidak dapat melakukan interbreeding jika mereka bertemu,
karena bentuknya sangat menyimpang (divergent) dan kemudian masuk ke dalam simpatrik
tetapi tidak terjadi interbreeding. Spesiasi alopatrik merupakan mekanisme isolasi yang
terjadi secara gradual.

b. Spesiasi parapatrik/ Semi geografik

Spesiasi Parapatrik merupakan spesiasi yang terjadi karena adanya variasi frekuensi kawin
dalam suatu populasi yang menempati wilayah yang sama. Pada model ini, spesies induk
tinggal di habitat yang kontinu tanpa ada isolasi geografi. Spesies baru terbentuk dari
populasi yang berdekatan. Suatu populasi yang berada di dalam wilayah tertentu harus
berusaha untuk beradaptasi dengan baik untuk menjamin kelangsungan hidupnya, dan usaha
itu dimulai dengan memperluas daerah ke daerah lain yang masih berdekatan dengan daerah
asalnya. Apabila di area yang baru ini terjadi seleksi, maka perubahan gen akan terakumulasi
dan dua populasi akan berubah menjadi teradaptasikan dengan lingkungan barunya. Jika
kemudian mereka berubah menjadi spesies lain (spesies yang berbeda), maka perbatasan ini
akan diakui sebagai zona hibrid. Dengan demikian, dua populasi tersebut akan terpisah,
namun secara geografis letaknya berdekatan sepanjang gradient lingkungan.

Di dalam spesiasi parapatrik tidak ada barier ekstrinsik yang spesifik untuk gene flow.
Populasi berlanjut, tetapi populasi tidak kawin secara acak, individu lebih mudah kawin
dengan tetangganya secara geografis dari pada individu di dalam cakupan populasi yang
berbeda. Artinya bahwa individu lebih mungkin untuk kawin dengan tetangganya daripada
dengan individu yang ada dalam cakupan Di dalam gaya ini, penyimpangan boleh terjadi oleh
karena arus gen dikurangi di dalam populasi dan bermacam-macam tekanan pemilihan ke
seberang cakupan populasi.

c. Spesiasi Simpatrik

Menurut Campbell, dkk (2003) dalam spesiasi simpatrik, spesies baru muncul di dalam
lingkungan hidup populasi tetua; isolasi genetik berkembang dengan berbagai cara, tanpa
adanya isolasi geografis. Model spesiasi simpatrik meliputi spesiasi gradual dan spontan.
Sebagian besar model spesiasi simpatrik masih dalam kontroversi, kecuali pada model
spesiasi spontan dan spesiasi poliploidi yang terjadi pada tumbuhan.

4. Model Spesiasi Alopatrik, Paratrik, dan Simpatrik

5. Contoh-Contoh Setiap Model Spesiasi

a. Spesiasi Alopatrik

Contoh bukti perbedaan alopatrik misalnya hewan air tawar menunjukkan keanekaragaman
yang besar di daerah pegunungan yang banyak terisolasi dengan sistem sungai. Pada suatu
pulau suatu spesies adalah homogen di atas rentang kontinen yang berbeda dalam hal
penampilan, ekologi dan perilaku.
Contoh spesiasi alopatrik lainnya adalah pembentukan spesies burung finch di Kepulauan
Galapagos yang dikemukakan oleh Darwin. Menurut Darwin dalam Stearns and Hoekstra
(2003) bahwa burung finch berasal dari satu nenek moyang burung yang sama.

Spesiasi alopatrik juga dialami oleh tupai antelope di Grand Canyon. Di mana pada tebing
selatan hidup tupai antelope harris (Ammospermophillus harris). Beberapa mil dari daerah itu
pada sisi tebing utara hidup tupai antelope berekor putih harris (Ammospermophillus
leucurus), yang berukuran sedikit lebih kecil dan memiliki ekor yang lebih pendek dengan
warna putih di bawah ekornya. Ternyata di situ semua burung-burung dan organisme lain
dapat dengan mudah menyebar melewati ngarai ini, tetapi tidak dapat dilewati oleh kedua
jenis tupai ini.

b. Spesiasi Paratrik

Contoh dari spesiasi parapatrik adalah spesiasi pada rumput jenis Anthoxanthum odoratum.
Model lain spesiasi parapatrik adalah model spesiasi stasipatrik dari White. White mengamati
belalang tanpa sayap, suatu populasi dengan rentang spesies yang luas berbeda dalam
konfigurasi kromosomnya. White mengusulkan bahwa suatu aberasi kromosom–mekanisme
isolasi parsial-muncul dalam suatu populasi dan memperluas cakupan/rentangannya
membentuk suatu ever-expanding zona bastar. Tetapi suatu mutasi chromosom yang
menurunkan tingkat kesuburan cukup untuk mempertimbangkan bahwa isolas reproduksi
tidak dapat meningkatkan frekuensi kecuali oleh genetic drift di dalam populasi yang sangat
terbatas atau kecil, tetapi akhirya model spasipatrik tidak dapat diterima secara luas.

c. Spesiasi Simpatrik

Hugo de Vries menyatakan bahwa spesiasi simpatrik dengan autopoliploidi yang terjadi pada
tumbuhan bunga primrose (Oenothera lamarckiana) yang merupakan suatu spesies diploid
dengan 14 kromosom. Di mana suatu saat muncul varian baru yang tidak biasanya diantara
tumbuhan itu dan bersifat tetraploid dengan 28 kromosom. Selanjutnya bahwa tumbuhan itu
tidak mampu kawin dengan bunga mawar diploid, spesies baru itu kemudian dinamai
Oenothera gigas. Mekanisme lain spesiasi adalah alopoliploid yaitu kontribusi dua spesies
yang berbeda terhadap suatu hibrid poliploid. Misalnya rumput Spartina anglica yang berasal
dari hibridisasi Spartina maritima dengan Spartina alternaflora. Spesiasi simpatrik pada
hewan contohnya serangga Rhagoletis sp.

Model-model spesiasi simpatrik didasarkan pada seleksi terpecah (distruptive selection),


seperti ketika dua homozigot pada satu atau lebih lokus teradaptasi dengan sumber yang
berbeda dan hal itu merupakan suatu multiple-niche polymorphism. Contohnya pada
serangga herbivora bergenotip AA dan A’A’ teradaptasi dengan spesies tumbuhan 1 dan 2,
dimana genotip AA’ tidak teradaptasi dengan baik. Masing-masing homozigot ingin
mempunyai fittes lebih tinggi jika dilakukan mating secara assortative dengan genotip yang
mirip dan tidak menghasilkan keturunan heterozigot yang tidak fit. Assortative mating
mungkin dipertimbangkan adanya lokus B yang dapat mempengaruhi perilaku kawin maupun
mendorong serangga untuk memilih inang spesifik, yang pada tempat tersebut dapat
ditemukan pasangan dan kemudian dapat bertelur. Jika BB dan Bb kawin hanya pada inang 2,
perbedaan dalam pemilihan inang dapat mendasari terjadinya pengasingan/ isolasi
reproduktif. Banyak dari serangga herbivora yang merupakan spesies yang berkerabat dekat
dibatasi oleh perbedaan inang, terutama untuk pemenuhan kebutuhan makan, mating/kawin.

Spesiasi jenis ini cukup kontroversial karena spesiasi terjadi pada habitat yg sama. Ernst
Mayr salah satu tokoh evolusi yg terkenal menolak hipotesis jenis ini. namun bukti2 empiris
telah mematahkan skeptis atas model ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Pembentukan Species Baru. http://biologigonz.blogspot.com/ (diakses 1 Mei


2012)
Nurrohmanhadi. 2012. Defenisi Konsep Spesies dan Spesiasi.
http://nurrohmanhadi.wordpress.com/ (diakses 1 Mei 2012)
Nurrohmanhadi. 2012. Mekanisme Spesiasi. http://nurrohmanhadi.wordpress.com/ (diakses 1
Mei 2012)
Nurrohmanhadi. 2012. Model Spesiasi. http://nurrohmanhadi.wordpress.com/ (diakses 1 Mei
2012)
Definisi Konsep Spesies dan Spesiasi

By nurrohmanhadi Leave a Komentar


Categories: Evolusi
Tags: spesiasi, spesies

Spesies dalam bahasa latin berarti “jenis” atau “penampakan”. Spesies merupakan unit dasar
untuk memahami biodiversitas. Menurut Waluyo (2005), spesies adalah suatu kelompok
organisme yang hidup bersama di alam bebas, dapat mengadakan perkawinan secara bebas,
dan dapat menghasilkan anak yang fertil dan bervitalitas sama dengan induknya. Menurut
Mayden (1997) dalam Ariyanti (2003) saat ini ada sekurang-kurangnya 22 konsep untuk
mendefinisikan spesies yang semuanya tampak berbeda-beda. Itu artinya bahwa para ahli
mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda-beda dalam memahami tentang spesies.

Munculnya keanekaragaman konsep spesies ini dilatarbelakangi oleh dua alasan mendasar.
Alasan pertama adanya perbedaan pemahaman tentang spesiasi yang merupakan proses
munculnya suatu spesies baru. Karena spesiasi bukan hanya menarik perhatian para ahli
evolusi, tetapi juga telah memikat perhatian dari berbagai disiplin bidang biologi lainnya
seperti morfologi, genetika, ekologi, fisiologi, paleontologi, biologi reproduksi, dan biologi
tingkah laku. Alasan kedua adalah karena spesies merupakan hasil dari proses evolusi yang
terus berjalan. Artinya bahwa konsep spesies yang dibuat berdasarkan proses spesiasi yang
masih sebagian berjalan akan berbeda dengan konsep spesies yang dibuat ketika spesies itu
benar-benar sudah sampai pada akhirnya. Selain itu, bermacam konsep spesies muncul
karena tujuan klasifikasi yang berbeda-beda. Seperti misalnya untuk tujuan identifikasi yang
dilakukan oleh ahli taksonomi tumbuhan seringkali digunakan konsep spesies fenetik,
sedangkan untuk mengamati keragaman genetikyang diperlukan dalam bidang konservasi
digunakan konsep spesies biologi.

Ernst Mayr pada tahun 1963 mendefinisikan konsep spesies biologis (Biological Species
Concept/BSC) yang dapat diterima secara luas. Spesies menurut BSC adalah suatu populasi
atau kelompok populasi alami yang secara aktual memiliki potensi dapat saling kawin
(interbreeding) dan menghasilkan keturunan yang dapat hidup fertil, namun tidak dapat
menghasilkan keturunan yang fertil jika kawin dengan spesies lain. Dengan kata lain, suatu
spesies biologis adalah unit populasi terbesar di mana pertukaran genetik mungkin terjadi dan
terisolasi secara genetik dari populasi kelompok lainnya. Konsep ini didasarkan pada dua
pandangan biologis yaitu reproduksi seksual meningkatkan keseragaman dalam gen pool
melalui rekombinasi genetik dan jika dua kelompok populasi itu tidak dapat melakukan
kawin silang maka di sana tidak terjadi aliran gen (gene flow) di dalam lungkang gen (gene
pools). Ketidakmampuan interbreeding (perkawinan) akan memunculkan spesies yang
berasal dari penggabungan bersama pada beberapa waktu berikut setelah kondisi telah
mengalami perubahan. Jadi berdasarkan konsep ini, maka kriteria yang menentukan
keberhasilan reproduksi seksual adalah kemampuan untuk menghasilkan keturunan yang
fertil. Konsep spesies ini tidak berlaku untuk organisme aseksual dan hibridisasi antarspesies.

Campbell (2003) mengemukakan ada beberapa konsep spesies antara lain:


Konsep spesies Biologis mendefinisikan suatu spesies sebagai suatu populasi atau kelompok
populasi yang anggota-anggotanya memiliki kemampua untuk saling mengawini satu sama
lain di alam dan menghasilkan keturunan yang dapat hidup dan fertil jika kawin dengan
spesies lain. Dengan kata lain suatu spesies biologi adalah unit populasi terbesar dimana
pertukaran genetik mungkin terjadi dan terisolasi secara genetik dari populasi lain
semacamnya. Anggota suatu spesies biologis dipersatukan oleh ciri kesesuaian ciri
reproduksi. Semua manusia termasuk ke dalam spesies biologis yang sama. Sebaliknya
manusia dan simpanse tetap merupakan spesies biologis yang sangat jelas berbeda meskipun
hidup di wilayah yang sama karena kedua spesies itu tidak dapat saling mengawini.

Konsep spesies pengenalan menekankan pada adaptasi perkawinan yang telah tetap dalam
suatu populasi. Menurut konsep ini suatu spesies didefinisikan oleh suatu kumpulan sikap
dan ciri unik yang memaksimalkan keberhasilan perkawinan ciri molekuler morfologis
perilaku yang memungkinkan individu untuk mengenali pasangan kawinnya. Konsep ini
cenderung berfokus pada sifat dan ciri yang dipengaruhi oleh seleksi alam dan terbatas hanya
pada spesies yang bereproduksi secara seksual.

Konsep spesies kohesi berfokus pada mekanisme yang mempertahankan spesiesnya sebagai
bentuk fenotip tersendiri. Tergantung pada spesies, mekanisme ini meliputi sawar reproduktif
seleksi penstabilan dan tautan antara kumpulan gen yang membuat zigot berkembang
menjadi organisme dewasa dengan ciri khas yang spesifik. Konsep ini dapat diterapkan pada
organisme yang bereproduksi secara aseksual. Konsep ini juga mengakui bahwa perkawinan
silang diantara beberapa spesies menghasilkan keturunan hibrida yang fertil dan terkadang
hibrida itu berhasil kawin dengan salah satu spesies induknya. Konsep ini menekankan pada
adaptasi yang mempertahankan spesies tetua tetap utuh meskipun ada sedikit aliran gen
diantara mereka. Konsep ini dapat digunakan pada setiap kasus yang melibatkan hibridisasi.

Konsep spesies ekologis mendefinisikan spesies pada tempat dimana mereka hidup dan apa
yang mereka lakukan dan bukan dari penampakan mereka. Suatu spesies ekologis
didefinisikan oleh peranan unik yang dimainkannya atau posisi dan fungsi spesifiknya dalam
lingkungan. Contohnya dua populasi hewan yang tampak identik dapat dikatakan merupakan
dua spesies ekologis yang berbeda jika masing-masing hanya ditemukan dalam jenis
lingkungan spesifik (misalnya kolam air tawar dengan kumpulan keadaan kimia, biologi, dan
fisik yang khas).

Konsep spesies evolusioner mendefinisikan suatu spesies sebagai suatu urutan populasi tetua
dan keturunannya yang berkembang secara bebas dari kelompok lain. Masing-masing spesies
evolusioner memiliki peranan yang unik dan terpisah dalam lingkungan, setiap peran tertentu
melibatkan sekumpulan kekuatan seleksi alam yang spesifik (tekanan selektif). Dengan
demikian populasi yang membentuk suatu spesies dipengaruhi dan disatukan oleh
sekumpulan tekanan selektif yang unik.

Tabel 1. Perbandingan Enam Konsep Spesies

Konsep spesies Keterangan


Konsep spesies Menekankan isolasi reproduktif, yaitu kemampuan
biologis anggota suatu spesies untuk saling mengawini satu
sama lain, tetapi tidak dengan anggota spesies yang
lain
Konsep spesies Menekankan perbedaan anatomi yang dapat terukur
morfologis antar spesies. Sebagian besar spesies yang
diidentifikasi oleh para ahli taksonomi telah
dikelompokkan menjadi spesies terpisah berdasarkan
kriteria morfologi
Konsep spesies Menekankan proses adaptasi perkawinan yang telah
pengenalan mantap dalam suatu populasi karena individu
”mengenali” ciri-ciri tertentu dari pasangan kawin yang
sesuai
Konsep spesies kohesi Menekankan kohesi fenotipe sebagai dasar penyatuan
spesies, dengan masing-masing spesies ditentukan oleh
kompleks gennya yang terpadu dan kumpulan
adaptasinya
Konsep spesies Menekankan peranan spesies (niche/relung), posisi dan
ekologi fungsinya dalam lingkungan.
Konsep spesies Menekankan pada garis keturunan evolusi dan peranan
evolusioner ekologis

Selain itu dalam Wikipedia, disebutkan bahwa hanyutan genetic yang merupakan sebuah
proses bebas yang menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi. Proses
ini mencapai puncaknya dengan menghasilkan spesies yang baru. Dan sebenarnya, kemiripan
antara organisme yang satu dengan organisme yang lain mensugestikan bahwa semua spesies
yang kita kenal berasal dari nenek moyang yang sama melalui proses divergen yang terjadi
secara perlahan ini

Spesiasi adalah pembentukan spesies baru dan berbeda dari spesies sebelumnya dalam
kerangka evolusi. Spesiasi dapat berlangsung cepat, dapat pula berlangsung lama hingga
puluhan juta tahun. Setiap populasi terdiri atas kumpulan individu sejenis (satu spesies) dan
menempati suatu lokasi yang sama. Karena suatu sebab, populasi dapat terpisah dan masing-
masing mengembangkan adaptasinya sesuai dengan lingkungan baru. Dalam jangka waktu
yang lama, populasi yang saling terpisah itu masing-masing berkembang menjadi spesies
baru sehingga tidak dapat lagi mengadakan perkawinan yang menghasilkan keturunan fertil.
Terbentuknya spesies baru (spesiasi) dapat diakibatkan oleh adanya isolasi geografi, isolasi
reproduksi, dan perubahan genetika.

Sumber: Erik Perdana Putra & Taufik Taher. Spesiasi. 2011. Makalah. Pendidikan Biologi
PPs UM. Malang

Iklan
Report this ad
Report this ad

Share this:




 Surat elektronik
 Cetak

Terkait

Mekanisme Spesiasidalam "Evolusi"


Report this ad

Blog di WordPress.com.

contekan biologi
kumpulan contekan biologi yang berisi materi, tutorial, petunjuk praktikum, soal, animasi,
video, aplikasi dan hal lain seputar biologi

Tuesday, July 16, 2013


Cara Pembentukan Spesies (Spesiasi)

Evolusi-Cara Pembentukan Spesies (Spesiasi)

Spesiasi atau terbentuknya spesies baru dapat diakibatkan oleh adanya isolasi geografi, isolasi
reproduksi, dan perubahan genetika (Campbell, 2003). Adapun proses spesiasi ini dapat
berlangsung secara cepat atau lama hingga berjuta-juta tahun.

Isolasi geografis merupakan bentuk pembatasan alam yang berupa pemisahan populasi oleh
kondisi alam. Hal ini dapat terjadi jika populasi makhluk hidup yang sama bermigrasi dari
lingkungan lama menuju lingkungan baru yang terpisah dengan lingkungan awal dan
menetap membentuk populasi tersendiri. Jika sistem populasi yang mula-mula kontinu
dipisahkan oleh kondisi geografis sehingga terbentuk hambatan bagi penyebaran spesiesnya,
maka sistem populasi yang demikian tidak akan lagi bertukar susunan gen, dan evolusinya
berlangsung secara sendiri-sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, kedua populasi tadi
akan semakin berbeda sebab masing-masing menjalani evolusi dengan caranya sendiri.

Isolasi geografis suatu populasi kecil, umumnya terjadi pada daerah pinggiran tempat hidup
populasi tetua. Populasi yang memisahkan diri inilah yang disebut isolat periferal adalah
suatu calon yang baik untuk terjadinya spesiasi karena tiga alasan berikut:
1. Kumpulan gen isolat periferal mungkin berbeda dengan kumpulan gen permulaaan
populasi tetua. Hidup dekat perbatasan, isolat periferal mewakili sisi ekstrim setiap cline
genotip yang berada di populasi tersebut. Jika jumlah isolat cukup kecil, maka akan terdapat
efek pendiri yang menghasilkan suatu kumpulan gen populasi tetuanya.

2. Sampai isolat periferal menjadi populasi yang besar, hanyutan genetik akan terus merubah
kumpulan gennya secara acak. Mutasi baru atau kombinasi alel yang ada saat ini bersifat
netral dalam nilai adaptasinya bisa menjadi tetap dalam populasi semata-mata hanya faktor
kebetulan. Sehingga menyebabkan perbedaan genotip dan fenotip dari populasi tetua.

3. Evolusi yang disebabkan karena seleksi alam bisa mengambil arah yang berbeda dalam
isolat periferal dibandingkan dengan isolat di dalam populasi tetua. Karena isolat periferal
menempati daerah perbatasan dimana lingkungannya agak berbeda, maka isolat periferal ini
mungkin akan mengalami faktor seleksi yang berbeda dari dan umumnya lebih keras
dibandingkan faktor seleksi yang berpengaruh pada populasi tetua.

Pengaruh isolasi georafis di dalam spesiasi dapat terjadi karena adanya pencegahan ”gene
flow” antara dua sistem populasi yang berdekatan akibat faktor luar (ekstrinsik). Berikutnya,
setelah kedua populasi itu berbeda, maka pengumpulan perbedaan di dalam rentang waktu
yang cukup menjadi mekanisme isolasi intrinsik. Isolasi intrinsik ini mempunyai sifat-sifat
biologis yang dapat mencegah bercampurnya dua populasi atau mencegah interbreeding jika
kedua populasi ini berkumpul lagi setelah batas pemisahnya tidak ada. Setiap faktor yang
menghalangi dua spesies untuk menghasilkan keturunan yang dapat hidup dan fertil
mengarah pada terbentuknya isolasi reproduktif.

Isolasi reproduksi merupakan salah satu penghambat untuk terjadinya perkawinan silang. Jika
individu-individu dalam suatu populasi berkumpul dalam satu tempat, maka mungkin terjadi
kompetisi untuk mendapatkan makanan, tempat maupun pasangan. Kompetisi ini
memungkinkan individu yang kalah akan beradaptasi dengan mengembangkan hanya sebagai
faktor geografis (isolasi dengan pemisahan fisis) yang sebenarnya populasi itu masih memilki
potensi untuk melakukan interbreeding dan mereka sebenarnya masih dapat dikatakan dalam
satu spesies. Selanjutnya kedua populasi tersebut begitu berbeda secara genetis sehingga
"gene flow" yang efektif tidak akan berlangsung lagi seandainya bercampur lagi. Jika titik
pemisahan itu telah tercapai, maka kedua populasi itu telah menjadi dua spesies yang
terpisah.

Berbagai rintangan reproduksi yang mengisolasi kumpulan gen spesies dapat dikategorikan
ke dalam kelompok prazigotik dan pascazigotik (Campbell, 2003). Hal ini tergantung pada
kapan rintangan tersebut bekerja, sebelum ataukah setelah pembentukan zigot.

Sawar prazigotik.
Sawar prazigotik menghalangi perkawinan antar spesies atau merintangi pembuahan telur
jika anggota-anggota spesies yang berbeda berusaha untuk saling mengawini. Sawar ini
terdiri dari isolasi habitat, isolasi temporal, isolasi mekanis dan isolasi gametik.

Isolasi habitat. Dua spesies yang hidup di dalam habitat yang berbeda di wilayah yang sama
bisa saja bertemu walaupun hanya sesekali ataupun tidak sama sekali bertemu meskipun
spesies-spesies tersebut tidak bisa dikatakan sepenuhnya terisolasi secara geografis.
Contohnya pada dua spesies ular garter dengan genus Thamnophis hidup di daerah yang
sama, tetapi salah satunya lebih menyukai hidup di dalam air dan yang satunya lebih banyak
tinggal di darat. Isolasi habitat juga mempengaruhi parasit yang umumya terbatasi pada
spesies inang tumbuhan atau hewan tertentu. Dua spesies parasit yang tinggal pada inang
berbeda tidak akan mempunyai peluang untuk saling mengawini.

Isolasi perilaku. Senyawa khusus yang menarik pasangan kawin dan juga perilaku kompleks
yang khas untuk spesies, mungkin merupakan sawar reproduktif yang paling penting bagi
hewan-hewan yang sangat dekat hubungan kekerabatannya. Misalnya kunang-kunang jantan,
dari berbagai spesies akan mengirimkan sinyal ke betina sejenisnya dengan cara
memancarkan cahayanya dengan pola tertentu. Sedangkan kunang-kunang betina hanya akan
memberikan respon ke sinyal yang menjadi ciri khas spesiesnya. Kunang-kunang betina ini
memancarkan cahayanya kembali dan menarik kunang-kunang jantan. Bentuk lain isolasi
perilaku adalah ritual bercumbu yang sangat khas pada spesies tertentu.

Isolasi temporal. Dua spesies yang kawin pada waktu yang berbeda (hari, musim, atau tahun),
gametnya tidak akan pernah bercampur. Misalnya, wilayah geografis hewan sigung berbintik
(Spilogale gracilis) dari bagian barat bertumpang tindih dengan wilayah geografis hewan
sigung berbintik (Spilogale putorius) dari bagian timur, tapi kedua spesies yang sangat mirip
ini tidak saling mengawini, karena S. Gracilis kawin pada akhir musim panas, sedangkan S.
Putorius kawin pada akhir musim dingin. Sedangkan contoh pada tumbuhan adalah pada tiga
spesies anggrek Dendrobium yang hidup di hutan tropis basah yang sama, namun tidak
berhibridisasi karena ketiga jenis tumbuhan itu berbunga pada hari yang berbeda.
Penyerbukan pada masa spesies hanya terbatas pada satu hari saja karena bunga mekar pada
pagi hari dan menjadi layu pada malam itu juga.

Isolasi Mekanis. Spesies yang berkerabat dekat mungkin akan mencoba untuk kawin, namun
tidak berhasil melakukan perkawinan itu karena secara anatomis mereka berbeda. Contohnya,
sawar mekanis turut menyebabkan isolasi reproduktif pada tumbuhan berbunga yang
penyerbukannya dilakukan oleh serangga atau hewan lain. Anatomi bunga seringkali
diadaptasikan dengan polinator atau penyerbuk tertentu yang memindahkan serbuk sari hanya
di tumbuhan yang spesiesnya sama.

Isolasi gametik. Meskipun gamet-gamet dari spesies yang berbeda bertemu, gamet-gamet
tersebut sangat jarang menyatu untuk membentuk sebuah zigot. Untuk hewan-hewan yang sel
telurnya dibuahi di dalam saluran reproduksi betina (pembuahan internal), sperma suatu
spesies mungkin tidak dapat bertahan hidup di dalam lingkunga saluran reproduksi betina
berspesies lain. Bahkan ketika dua spesies yang berkerabat dekat sekalipun membebaskan
gametnya pada saat yang bersaman di tempat yang sama pembuahan antar spesies biasanya
tidak terjadi. Pengenalan gamet mungkin bisa didasarkan pada kehadiran molekul spesifik
pada lapisan pelapis telur yang hanya menempel ke molekul yang komplementer pada sel
sperma spesies yang sama. Suatu mekanisme pengenalan molekul yang sama akan
memungkinkan bunga membedakan serbuk sari dari spesies yang sama dan serbuk sari dari
spesies yang berbeda.

Sawar pascazigotik

Jika sel sperma dari satu spesies membuahi ovum dari spesies yang lain maka sawar
pascazigotik akan mencegah zigot hibrida itu untuk menjadi organisme dewasa yang bertahan
hidup dan fertil. Sawar ini terdiri dari penurunan ketahanan hidup hibrida, penurunan
fertilitas hibrida, dan perusakan hibrida.
Penurunan ketahanan hidup hibrida. Ketika sawar prazigotik ditembus dan zigot hibridanya
terbentuk, ketidaksesuaian genetik di antara kedua spesies itu bisa menggugurkan
perkembangan keturunan hibrida itu pada tahap perkembangan embrio. Di antara banyak
spesies katak yang termasuk ke dalam genus Rana, beberapa diantaranya hidup di dalam
habitat dan daerah yang sama, kadang-kadang bisa berhibridisasi. Akan tetapi, keturunan
yang dihasilakan umumnya tidak menyelesaikan perkembangannya dan keturunan hibrida
tersebut menjadi lemah.

Penurunan fertilitas hibrida. Meskipun dua spesies kawin dan menghasilkan keturunan yang
bisa bertahan hidup, isolasi reproduksi masih tetap ada jika semua atau sebagian besar hibrida
steril atau mandul. Karena hibrida yang tidak subur itu tidak bisa kawin kembali dengan salah
satu spesies orang tuanya, maka gen-gen tidak akan bisa mengalir secara bebas antara spesies
tersebut. Salah satu penyebab sawar ini adalah kegagalan meiosis untuk menghasilkan gamet
normal dalam hibrida jika kromosom kedua spesies induknya berbeda dalam hal jumlah atau
struktur. Suatu kasus yang terkenal mengenai hibrida yang steril adalah Mule yang
merupakan hasil persilangan antara kuda dan keledai. Akan tetapi karena kuda dan keledai
berbeda spesies maka Mule tidak dapat mengawini salah satu spesies induknya (steril).

Perusakan hibrida. Pada beberapa kasus ketika spesies berbeda melakukan kawin silang,
keturunan hibrida generasi pertama dapat bertahan hidup dan fertil, tetapi ketika hibrida
tersebut kawin satu sama lain atau dengan spesies induknya, generasi spesies berikutnya akan
menjadi lemah atau mandul. Sebagai contoh spesies kapas yang berbeda dapat menghasilkan
keturunan hibrida yang fertil, tetapi kerusakan terjadi pada generasi berikutnya ketika
keturunan hibrida itu mati pada saat berbentuk biji atau tumbuh menjadi tumbuhan yang
cacat dan lemah.

Ketika dua populasi beradaptasi ke lingkungan yang berbeda, mereka akan mengakumulasi
perbedaan dalam kumpulan gen, perbedaan dalam frekuensi alel dan genotipe. Dalam
rangkaian perbedaan adaptif gradual dua kumpulan gen, sawar reproduktif di antara dua
populasi itu bisa berevolusi secara kebetulan sehingga membedakan populasi itu menjadi dua
spesies. Suatu ide pokok dalam evolusi akibat divergensi adalah bahwa sawar reproduktif
dapat muncul tanpa langsung didukung oleh alam. Artinya spesiasi tidak terjadi demi
kebaikan organisme. Isolasi reproduktif umumnya merupakan hasil sekunder perubahan dua
populasi ketika mereka beradaptasi ke lingkungan yang berbeda.

Banyaknya perubahan genetik yang diperlukan untuk spesiasi tidak dapat ditentukan. Sebagai
contoh, dua spesies Drosophila hawaii, Drosophila silvestris, dan Drosophila heteroneura
berbeda dalam alel pada suatu lokus gen yang menentukan bentuk kepala, suatu karakter
penting dalam pengenalan pasangan kawin Drosophila ini. Akan tetapi, efek fenotipik alel
yang berbeda pada lokus ini digandakan oleh paling tidak 10 lokus gen lain yang berinteraksi
dalam sistem epistasis. Dengan demikian paling tidak lebih dari satu mutasi diperlukan untuk
dapat membedakan kedua spesies Drosophila ini. Akan tetapi, jelas terlihat dari contoh
seperti itu bahwa perubahan genetik secara besar-besaran yang melibatkan ratusan lokus
bukan merupakan keharusan untuk terjadinya spesiasi.
Posted by nur rohman at 10:55 AM
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Evolusi, Spesiasi

No comments:
Post a Comment

Newer Post Older Post Home


Subscribe to: Post Comments (Atom)

Pages - Menu
 Home

Popular Posts

Cara Pembentukan Spesies (Spesiasi)

Evolusi-Cara Pembentukan Spesies (Spesiasi) Spesiasi atau terbentuknya spesies baru


dapat diakibatkan oleh adanya isolasi geografi, iso...

 Hewan dan Lingkungannya

Ekologi Hewan-Hewan dan Lingkungannya 1. Lingkungan bagi Hewan Sebagai


Kondisi dan Sumberdaya. Lingkungan hewan adalah semua faktor bi...

Spesies Dan Spesiasi

Evolusi-Spesies Dan Spesiasi Spesies adalah komunitas organisme yang bisa kawin
satu sama lain, suatu individu termasuk dalam spesies y...

Kromosom

Kromosom-Pengertian Kromosom Kromosom (bahasa Yunani: chroma, warna; dan


soma, badan) merupakan struktur di dalam sel berupa deret panj...

Respon dan Adaptasi Hewan

Ekologi Hewan-Respon dan Adaptasi Hewan 1. Konsep Adaptasi Perubahan kondisi


lingkungan berpengaruh terhadap hewan. Hewan mengadakan...

Ekologi Hewan

Ekologi Hewan 1. Ekologi dan Konsep Ekologi Hewan Ekologi berasal dari bahasa
Yunani; Oikos = rumah , Logos = ilmu. Beberapa ahli eko...

 Sejarah Teori Evolusi

Evolusi. Sejarah Teori Evolusi 1. Masa Fiksis (Tokoh: Aristoteles, Plato,


Leeuwenhoek, Cuvier, Linnaeus, Buffon, Hooke ) Sampai abad ke...

THE ORIGIN OF SPECIES Chapter I: Variation Under Domestication (Variasi


Karena Pembudidayaan)

Evolusi-Teori Evolusi Darwin Bab 1 Variasi Karena Pembudidayaan Penyebab


variabilitas-Effek kebiasaan dan keterpakaian dan ketidaterpa...

Regulasi Ekspresi Gen Pada Prokaryot

Regulasi Ekspresi Gen Pada Prokaryot Ekspresi gen dimulai dari aktivitas RNA
polimerase dalam mentranskrip DNA. Pengikatan RNA polimera...


THE ORIGIN OF SPECIES Chapter VIII: INSTINCT (Naluri)

Evolusi-Teori Evolusi Darwin Bab 8 Naluri Naluri dapat disamakan dengan


kebiasaan, tetapi berbeda dalam asal-usulnya -- Naluri dibagi ...

Kategori
 Biologi Sel (2)
 Ekologi (3)
 Ekologi Hewan (3)
 Evolusi (13)
 Genetika (2)
 Kromosom (1)
 Spesiasi (2)
 Teori Darwin (9)
 The Origin of Species (9)

Arsip

Followers
Awesome Inc. theme. Powered by Blogger.