Anda di halaman 1dari 66

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hal utama dalam industry jasa kesehatan yaitu pelayanan kesehatan.
Peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai dunia kesehatan seiring
dengan perkembangan dunia kesehatan. Setiap rumah sakit bertanggung gugat
terhadapa penerima jasa pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan di rumah
sakit merupakan bentuk pelayanan yang diberikan kepada klien oleh suatu tim
multi disiplin termasuk tim keperawatan. Keperawatan adalah suatu bentuk
pelayanan professional yang merupakan bagian integral pelayanan kesehatan
dan menjadi bagian terdepan dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit
(Nurachmah, 2002). Pelayanan keperawatan yang berkualitas sesuai visi dan
misi rumah sakit maka diperlukan manajemen keperawatan yang baik.
Manajemen keperawatan merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan
proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan diorganisasi, dimana dalam
manajemen tersebut mencakup kegiatan dan supervise terhadap staf, sarana dan
prasarana dalam mencapai tujuan dan organisasi (Grant & massey, 2002).
Menurut Gilles (1986) diterjemahkan oleh Dika Sukmana dan Rika Widya
Sukmana (1996), manajemen didefinisikan sebagai suatu proses dalam
menyelesaikan pekaryaan melalui orang lain, sedangkan manajemen
keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggoa staf keperawatan
untuk memberikan asuhan keperawatan secara professional. Manajer
keperawatan dituntut untuk merencanakan, mengorganisasikan, memimpin,
dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersisa untuk dapat memberikan
asuhan keperawatan seefektif dan seefisien mungkin bagi individu, keluarga
dan masyarakat.
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan dirasakan
sebagai fenomena yang harus direspon oleh perawat. Respon yang ada harus
bersifat kondusif dnegan pengelolaan keperawatan dan langkah-langkah
konkret dalam pelaksanaannya. Manajemen keperawatan di Indonesia dimasa
depan perlu mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan. Hal ini
berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap

1
perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara professional
dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi di Indonesia.
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram merupakan salah satu
penyelanggara pelayanan kesehatan, pendidikan dan penilitian, yang bertujuan
untuk meningkatkan derajat kesehatan dan senantiasa berorientasi kepada
kepentingan masyarakat. Agar dapat terlaksana tujuan tersebut maka rumah
sakit perlu didukung dengan adanya organisasi yang mantap dan manajemen
yang baik dengan berorientasi pada mutu pelayanan bagi masyarakat.
Perawat sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, dituntut untuk
memiliki kemampuan manajerial yang tangguh sehingga pelayanan kesehatan
yang diberikan mampu memuaskan kebutuhan klien. Kemampuan manajerial
yang dimiliki perawat dapat dicapai melalui banyak cara. Salah satu cara untuk
dapat meningkatkan keterampilan manajerial yang handal selain didapatkan di
bangku kuliah juga harus melalui pembelajaran di lahan praktik. Mahasiswa
Program Studi D-IV Keperawatan Mataram Politeknik Kesehatan Mataram
Kemenkes RI dituntut untuk dapat mengaplikasikan langsung pengetahuan
manajerialnya di Ruang IRNA IIIC dengan arahan dari pembimbing lahan
maupun dari pembimbing akademik. Dengan adanya praktik tersebut
diharapkan mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang didapat dan mengelola
ruang perawatan sengan pendekatan proses manajemen.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah melakukan praktik Manajemen Keperawatan selama 2
minggu di Ruang IRNA IIIC mahasiswa diharapkan mampu menerapkan
prinsip-prinsip manajemen keperawatan metode keperawatan primer
dalam melaksanakan Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) di
tatanan rumah sakit.
2. Tujuan Khusus
Dalam praktik Manajemen Keperawatan diharapkan mahasiswa mampu:
a. Melaksanakan pengkajian situasi di Instalasi Rawat Inap IIIC Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Mataram
b. Melaksanakan analisa situasi berdasarkan analisa SWOT
c. Menyusun rencana strategi operasional ruangan berdasarkan hasil
pengkajian Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP):
Ketenangan (M1), Sarana Prasarana (M2), Metode (M3), yang terdiri

2
dari Timbang Terima, Penerimaan Pasien Baru, Sentralisasi Obat,
Supervisi Keperawatan, Discharge Planning, Dokumentasi
Keperawatan.
d. Pelaksanaan rencana strategi operasional ruangan berdasarkan hasil
pengkajian Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP): (1)
Timbang Terima, (2) Ronde Keperawatan, (3) Sentralisasi Obat, (4)
Supervisi Keperawatan, (5) Discharge Planning, (6) Dokumentasi
Keperawatan, (7) Penerimaan Pasien Baru.
e. Melakukan Evaluasi Pelaksanaan rencana strategi operasional ruangan
berdasarkan hasil pengkajian Model Asuhan Keperawatan Profesional
(MAKP): (1) Timbang Terima, (2) Ronde Keperawatan, (3) Sentralisasi
Obat, (4) Supervisi Keperawatan, (5) Discharge Planning, (6)
Dokumentasi Keperawatan, (7) Penerimaan Pasien Baru dan Mutu
Pelayanan.

C. Manfaat
1. Bagi Pasien
Tercapainya keputusan pasien terkait dengan patient safety yang
optimal meliputi identifikasi pasien, komunikasi yang efektif, ketepatan
dalam pemberian obat, ketepatan lokasi operasi, penurunan resiko infeksi
nosocomial dan penurunan resiko jatuh pasien selama dilakukan
perawatan.
2. Bagi Rumah Sakit
Hasil laporan ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk
penerapan Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) yang
mencakup timbang terima, ronde keperawatan, sentralisasi obat, supervise
keperawatan, discharge planning dan dokumentasi keperawatan.

3. Bagi Perawat
a. Tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal
b. Terbinanya hubungan antara perawat dengan perawat, perawat dengan
tim kesehatan lain, dan perawat dengan pasien serta keluarga
c. Tumbuh dan terbinanya akuntabilitas dan disiplin diri perawat
d. Meningkatkan profesionalisme keperawatan

D. Metode Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian di Ruang IRNA IIIC RSUD Kota Mataram
diperoleh dengan cara:

3
1. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data kondisi fisik ruangan,
invertaris ruangan, proses pelayanan dan asuhan keperawatan yang
langsung dilakukan ke pasien.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada kepala ruangan, perawat primer, perawat
pelaksana, dan pasien untuk mengumpulkan data tentang proses pelayanan
pasien dan proses kegiatan yang dilakukan oleh perawat.
3. Studi Dokumentasi
Kegiatan dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai pasien,
ketenangan, dokumentasi keperawatan, manajemen ruangan, prosedur tetap
tindakan dan intervensi ruangan.

E. Praktikan
Mahasiswa D-IV Keperawatan Poltekkes Mataram Kemenkes RI Kelompok III
dan Kelompok IV:
1. Angtyas Nurakhmadya Saren
2. Anita Dwi Putri
3. Baiq Widyawati
4. Deti Mayang Hermana
5. Irwina Syafitri
6. Khaerul Mubarak Bafadal
7. Nissa Awliya
8. Nopia Ermayansah
9. Retno Fitri Wulandari
10. Ridha Ulfa Lutpiana
11. Vendi Riswanda
12. Widya Kurnia

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Profil Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram


1. Gambaran Umum Rumah Sakit
Rumah sakit adalah jasa yang bergerak dalam bidang pelayanan
kesehatan yang bersifat sosial, ekonomi, yaitu usaha yang walaupun
bersifat social namun diusahakan agar bias memperoleh surplus dengan
cara pengelolaan yang professional (Hasyim, 2005). Rumah sakit
merupakan instansi yang sifatnya kompleks dan sifat organisasinya
majemuk, sehingga diperlukan adanya pola managemen yang jelas dan
modern untuk setiap unit kerja atau bidang kerja.
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram merupakan Rumah
Sakit milik Pemerintah Kota Mataram yang resmi berdiri pada tanggal 31
Agustus 2009 dan mulai beroperasi tanggal 3 Maret 2010 sebagai salah
satu unit pelayanan kesehatanyang terletak di Kota ataram dengan luas
20.473².

5
Rumah Sakit ini mulai beroperasional sejak Maret 2010
berdasarkan Surat Keputusan Walikota Nomor: 163/II/2010 tentang Izin
Penyelenggaraan Operasional Pelayanan. Sejak 1 Desember 2010, RSUD
Kota Maataram menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan Pelayanan
Umum Daerah (BLUD). Berdasarkan SK Walikota Mataram No:
565/XII/2010.
Pada Tahun 2013 Rumah Sakit Umun Daerah Kota Mataram
ditetapkan menjadi Rumah Sakit tipe B dengan total sumber daya manusia
631 orang termasuk PNS dan pegawai kontrak.

2. Falsafah, Visi, Misi dan Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Mataram
Visi :
“Rumah Sakit pilihan masyarakat dalam bidang pelayanan kesehatan,
pendidikan dan penelitian yang berstandar internasional
Misi :
a. Memberikan Pelayanan Kesehatan yang komprehensif, berkualitas
dan professional
b. Melaksanakan pendidikan dan penelitian kesehatan yang
berkelanjutan dan berkualitas
c. Meningkatkan kkompetensi SDM yang berdaya saing
d. Meningkatkan kesejahteraan karyawan/karyawati
e. Meningkatkan sarana prasarana sesuai standar Rumah Sakit
pendidikan dan kemajuan IPTEKDOK

Tujuan :

a. Terwujudnya pelayanan yang paripurna (promotif, preventif,


kuratif rehabilitative) dengan mengutamakan pelanggan eksternal
dan internal
b. Tersedianya sarana dan prasarana yang mendukur pelayanan
c. Terwujudnya pelayanan pendidikan, pelatihan dan penelitian yang
menunjang pelayanan kesehatan
d. Terwujudnya pelayanan pendidikan, peatihan dan penelitian yang
menunjang pelayanan kesehatan

Motto :
 Senyum
 Mutu

6
 Inovatif
 Lengkap
 Efisien

3. Falsafah, Visi, Misi Dan Tujuan Ruangan IRNA III C


Visi Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram
Adalah :
“Pelayanan Rawat Inap Pilihan Masyarakat Dengan Tingkat Kepuasan
Pasien Sangat Memuaskan Yang Berstandar Internasional “

Misi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram adalah:
1. Memberikan Pelayanan Yang Bermutu di Rawat Inap dan Berstandar
Internasional
2. Meningkatkan Kometensi Sumber Daya Manusia di Instalasi Rawat
Inap Yang Berdaya Saing
3. Meningkatkan Kerja Sama Antar Instalasi di Rumah Rakit Umum
Daerah Kota Mataram
4. Meningkatkan Sarana dan Prasarana di Instalasi Rawat Inap di Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Mataram
5. Meningkatkan Kesejahteraan Karyawan/Karyawati Rawat Inap Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Mataram

Tujuan, Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kota


Mataram
1. Menciptakan Kepuasan Bagi Sesama Pasien Rawat Inap dan
Karyawan Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram
2. Menjadi Rujukan Rawat Inap yang Bermutu Di Wilayah Nusa
Tenggara Barat Yang Berstandar Internasional
3. Menjadi Instalasi yang Memiliki Tenaga Kesehatan yang Berkualitas
Professional dan Berdaya Saing

B. Pengkajian Manajemen di Ruang IRNA III C


1. M1 (Man)
a) Struktur Organisasi

KEPALA RUANGAN
ADMINISTRASI
RUANGAN

TIM 1 TIM 2 TIM 3 TIM 4


7
\

PA 1 PA 2 PA 3 PA 4
b) Jumlah Tenaga Keperawatan
Kualifikasi tenaga perawat berdasarkan tingkat pendidikan, lama
bekerja, dan jumlah sertifikat yang dimiliki.
Tabel 2.1 Kualifikasi Pendidikan Formal Tenaga Keperawatan
Ruang IRNA IIIC Rsud Kota Mataram

No. Jenis Pendidikan Jumlah Persentase


1. S1 Kep + Ners 3 orang 20%
2. S1 Keperawatan 1 orang 7%
3. DIII Keperawatan 8 orang 53%
4. DIV Keperawatan 3 orang 20%
Total 15 orang 100%

Kesimpulan :
Dari tabel diatas, dapat diinterpretasikan bahwa jumlah tenaga
keperawatan di Ruang IRNA IIIC sebanyak 15 orang. Dengan latar
pendidikan terbanyak adalah DIII Keperawatan dengan persentase
53% (8 orang), dan jumlah terendah adalah sebanyak 7 % (1
orang ) dengan latar pendidikan S1 Keperawatan. Dimana menurut
Sitorus (2002) dalam MAKP, pendidikan minimal yang harus
dimiliki perawat adalah harus dengan latar pendidikan S1
Keperawatan atau setara.

8
Tabel 2.2 Kualifikasi Masa Kerja Tenaga Keperawatan Ruang IRNA IIIC
RSUD Kota Mataram 2018

No. Masa kerja Jumlah Persentase


1. < 2 tahun 9 orang 60%
2. 2-4 tahun 3 orang 20%
3. > 4 tahun 3 orang 20%
Total 15 orang 100%

Kesimpulan :
Dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar
masa kerja tenaga keperawatan di ruang irna IIIC < 2 tahun dengan
persentase 60%.

Tabel 2.3 Kualifikasi Pelatiahan Yang Pernah Diikuti Perawat


Ruang Irna IIIC RSUD Kota Mataram

No. Pelatihan yang pernah diikuti Jumlah


sertifikat
1. Pelatihan EKG dan Manajemen cairan 1
2. Pelatihan teknik pencampuran sediaan injeksi 5
3. Pencegahan pengendalian infeksi 1
4. BTLS 2
5. Pelatihan Penanggulangan Penderita Gawat 1
Darurat
6. BHD 3
7. Pelatihan Perawatan Perioperatif 1
8. BTCLS 1
9. BCLS 1
10. Pelatihan Perawatan Luka 1
11 Pelatihan Pemasangan dan Interpretasi EKG 1

9
Emergency

Kesimpulan :
Dari data diatas dapat diinterpretasikan bahwa pelatihan terbanyak
yang diikuti oleh perawat yaitu pelatihan kegawatdaruratan
sebanyak 7 orang, dan pelatihan tehnik pencampuran sediaan
injeksi sebanyak 5 orang. Sedangkan pelatihan jenis lainnya hanya
diikuti masng-masing oleh 1 orang saja.

c) Tenaga Non-Keperawatan
Tabel 2.4 Kualifikasi Tenaga Non Keperawatan di Ruang
IRNA IIIC RSUD Kota Mataram

No. Kualifikasi Jumlah


1. Ahli Gizi 1 orang
2. Apoteker 1 orang
3. Assisten Apoteker 1 orang
4. Administrasi 3 orang
5. Cleaning service 3 orang
Jumlah 9 orang

Kesimpulan :
Dari data diatas dapat diinterpretasikan bahwa jumlah tenaga non
keperawatan yang ada di ruang IRNA IIIC adalah sebanyak 9
orang

d) Tenaga Medis
Tabel 2.5 Kualifikasi Tenaga Medis di Ruang IRNA IIIC RSUD
Kota Mataram

No. Kualifikasi Jumlah


1. Dokter Jaga 6 orang
2. Dokter Interna 3 orang
Jumlah 9 orang
Kesimpulan :
Dari data diatas dapat diinterpretasikan bahwa jumlah tenaga medis
yag ada di ruang IRNA IIIC sudah cukup yaitu 9 orang

e) Pembagian Dinas Tenaga Kerja Ruangan IRNA IIIC

10
Tabel 2.6 Pembagian Dinas di Ruang IRNA IIIC RSUD Kota
Mataram

Dinas
Tenaga Libur
Pagi Siang Malam
Kepala Ruangan 1 - - -
Ka. Team 1 1 1 1
PA 3 2 2 3
Ahli Gizi 1 1 -
Apoteker 1 - -
Asisten Apoteker 1 1 -
Administrasi 1 1 1

Kesimpulan :
Dari tabel diatas, dapat diinterpretasikan bahwa kepala ruangan
dinas pada setiap pagi hari saja, ketua tim ada pada setiap shift,
jumlah PA terbanyak pada shift pagi yaitu sebanyak 3 orang.
Petugas administrasi ada pada setiap shift.

f) Kebutuhan Tenaga
Berdasarkan Peraturan Mentri Kesehatan Republik
Indonesia No. 56 Tahun 2014 Tentang Klasifikasi Dan Perizinan
Rumah Sakit, Paragraf 2 Rumah Sakit Umum Kelas B pasal 1 Ayat
1 “Jumlah tenaga kerja keperawatan sebagaimana dimaksudkan
dalam pasal 32 ayat 1 huruf C (tenaga keperawatan) sama dengan
jumlah tempat tidur instalasi rawat inap.”
Untuk menghitung jumlah tenaga keperawatan di Ruang
IRNA IIIC dengan metode Douglas berdasarkan observasi tanggal
26 Maret 2018 adalah sebagai berikut :

Tabel 2.7 Standar Nilai Kebutuhan Tenaga Perawat


Berdasarkan Ketergantungan Pasien

Kualifikasi pasien Jumlah kebutuhan tenaga


Tingkat
Pagi Sore Malam
ketergantungan

11
Mandiri 0.17 0.14 0.14
Parsial 0.27 0.15 0.17
Total 0.36 0.30 0.20

Tabel 2.8 Jumlah pasien dalam setiap shif


Jumlah kebutuhan tenaga
Kualifikasi pasien
Pagi Siang Malam
Minimal 0 0 0
Parsial 29 25 21
Total 0 0 0

Kebutuhan jumlah perawat di ruang Irna IIIC/shift :


1. Shift Pagi
Parsial = 29 x 0.27 = 7.83 (8 orang)
2. Shift Sore
Parsial = 25 x 0.15 = 3.75 (4 orang)
3. Shift Malam
Parsial = 21 x 0.17 = 3,57 (4 orang) +
total = 16 orang

Jumlah tenaga lepas dinas perhari :


Keterangan :
= (dibulatkan menjadi 5)
Angka 86 merupakan jumlah
hari tak kerja dalam 1 tahun,
sedangkan 279 adalah jumlah
hari kerja efektif dalam 1 tahun
Jadi, jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan untuk bertugas
perhari diruang Irna IIIC adalah 16 orang + 5 orang lepas dinas + 1
orang tenaga (kepala ruangan) adalah 22 orang.

Kesimpulan :
Berdasarkan perhitungan menurut metode Douglas (2016) diatas dapat
disimpulkan bahwa tenaga keperawatan di ruang IRNA IIIC masih
kurang, dibutuhkan 7 orang tenaga keperawatan tambahan untuk
mencukupi standar jumlah tenaga keperawatan yaitu 22 orang.

2. Sarana dan Prasarana (M2-Materials)


Menurut Azwar A (1995), bahwa bila sarana (kualitas dan
kuantitas) yang tersedia tidak cukup (tidak sesuai) dengan kebutuhan,
maka sulitlah diharapkan baiknya mutu dari pelaksanaan pelayanan
keperawatan.

12
Penyediaan alat-alat di Ruang IRNA III C RSUD Kota Mataram
menggunakan pedoman buku standar fasilitas dan peralatan
keperawatan yang meliputi: alat keperawatan, alat rumah tangga,
barang habis pakaai (BHP), alat pencatatan dan pelaporan, alat tenun
serta fasilitas untuk perawat.
Berdasarkan wawancara dari kepala ruangan diperoleh informasi
bahwa pengadaan alat dan bahan yang sudah diusulkan akan diterima
ruangan. Sehingga akan mempengaruhi mutu, tingkat kepuasan pasien.
Penyediaan bahan, alat dan obat-obatan di ruang IRNA IIIC sudah
menggunakan pedoman/buku standar fasilitas dan peralatan
keperawatan, dan perencanaan pengadaan alat dan bahan langsung
dikelola oleh tingkat direksi. Untuk barang habis pakai amprahan
dilakukan riap minggunya atau bisa sesuai dengan kebutuhan.
Amprahan ini tiadk sepenuhnya bergantung pada kepala ruangan,
semua perawat bisa mengusulkan alat apa saja yang diamprah untuk
nanti dipertimbang kepala ruangan.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 24 Tahun 2016
tentang pesyaratan teknis bangunan dan prasarana rumah sakit,
dikatakan bahwa persyaratan ruangan untuk nurse station yaitu
letaknya harus memungkinkan kecepatan dalam pemberian layanan.
Sedangkan untuk alat kesehatan diusulkan oleh kepala ruangan dan
dilanjutkan kebagian direksi. Alat yang disulkan biasanya datang 1
tahun setelah diusulkan.
a. Lokasi
Gambaran Umum Ruang IRNA IIIC merupakan bagian dari ruang
perawatan di IRNA RSUD Kota Mataram. Ruang IRNA IIIC
terletak dilantai 1. Lokasi penerapan proses manajerial
keperawatan ini dilakukan pada ruang IRNA IIIC Rumah Sakit
Umum Daerah Kota Mataram dengan uraian denah sebagai berikut
:
1) Sebelah utara berbatasan dengan ruang okupasi terapi dan terapi
bicara
2) Sebelah selatan berbatasan dengan ruang CSSD
3) Sebelah barat berbatasan dengan radiologi
4) Sebelah timur berbatasan dengan poli kulit dan kelamin.

13
b. Fasilitas Pasien

Persentase
Kondisi Ideal
NO Nama Barang Jumlah %
Baik Rusak
1 Tempat Tidur 30 bed 30 0 1:1 100%
2 Meja Pasien 30 30 0 1:1 100%
buah
4 AC 6 buah 6 0 1/kamar 100%
5 Jam dinding 6 buah 6 0 1/kamar 100%
6 Timbangan 2 buah 1 1 1/ruangan 100%
7 Kamar Mandi 6 buah 6 0 Kelas 3 = 1: 5 100%
dan WC
Sumber : Nursalam 2016

c. Fasilitas untuk petugas kesehatan


1) Ruang kepala ruangan menjadi satu dengan ruang jaga perawat
2) Kamar mandi perwat/WC ada 1
3) Nurse station berada di paling depan ruangan IRNA IIIC, yang
idealnya harus berada di tengah ruangan antara ruangan pasien
4) Gudang berada di sebelah utara ruang tindakan
5) Belum ada spoel hock

d. Buku-buku Protap dan Acuan


1) Buku injeksi
2) Buku Observasi
3) Lembar Dokumentasi
4) Buku Observasi Suhu dan Nadi
5) Buku Timbang Terima
6) Buku Beban
7) SOP
8) SAK
9) Buku Visite

e. Alat-alat Kesehatan
1) Alat Kesehatan

Nama Barang Jumlah Kondisi


Baik Rusak
Alat GDS 1 1 -
Ambubag dewasa 3 3 -
Ambubag kecil 1 1 -
Bak instrument kecil 2 2 -
Bak instrument sedang 5 5 -
Bengkok 5 5 -

14
Bengkok 5 5 -
Betadine 4 4 -
Box Darah 1 1 -
Buli-buli 1 1 -
EKG set 1 1 -
Gagang mess 3 3 -
Gunting AF heating 2 2 -
Gunting jaringan 5 5 -
Gunting perban 1 1 -
Humidifier 22 20 2
Infus Pump 7 7 -
Keranjang BMHP 1 1 -
Klem anatomi 1 1 -
Klem Arteri 4 4 -
Klem sirugis 3 3 -
Kocher 2 2 -
Kom + tutup 2 2 -
Mortir 1 1 -
Nebulizer anak 1 1 -
Nebulizer dewasa 2 2 -
Oxymeter/SP02 3 3 -
Pinset anatomi 2 2 -
Pinset cirugis 2 2 -
Pispot 5 5 -
Pot Sputum 17 17 -
Pot urinal 4 4 -
Safety box 4 4 -
Spalk 2 2 -
Spoel Hoek 0 0 -
Stetoscope dewasa 3 3 -
Tabung 02 mobile 1 1 -
Tensi meter 5 5 -
Thermometer raksa 1 1 -
Tiang infuse 43 40 3
Tonge spatel 1 1 -
Torniket 1 1 -
Troli emergency 4 4 -
Troli Rawat Luka 0 0 -
Urinal 4 4 -

2) Non Alkes

Nama Barang Jumlah Kondisi


Baik Rusak
AC 10 10
Alat pel 2 2

15
Alat sensor kebakaran 3 3
APAR 2 2
Bantal 8 8
Bantal 15 15
Baskom 8 8
Box Alat ATK 3 3
Box File 18 18
Closed 6 6
Cok roll 7 7
Computer set 1 1
Ember Kamar Mandi 5 5
Ember Linen Infeksius 1 1
Ember Non Infeksius 3 3
Gayung 6 6
Guling 6 6
Handscrub 9 9
Handuk 1 1
Jam Dinding 6 6
Karpet 1 1
Kasur Petugas 2 2
Keranjang Obat 2 2
Keset 26 26
Kipas Angin 2 2
Korden Jendela 7 7
Korden Pasien 44 44
Kotak Penyimpanan 2 2
Kulkas obat 1 1
Kursi Penunggu 20 20
Kursi Petugas 6 6
Lampu Besar 22 22
Lampu Kecil 6 6
Lampu tidur pasien 18 - 18
Lemari Alat-Alat 1 1
Lemari emergensi 3 3
Lemari linen 1 1
Lemari obat 2 2
Lembar Hak Dan Kewajiban 6 6
Lembar Tata tertib Pengunjung 6 6
Loker petugas 3 3
Meja computer 1 1
Meja kantor 2 2
Meja Makan 29 29
Oksigen Mobile 1 1
Papan Tulis 1 1
Pel 2 2
Pemanas Air 1 1

16
Pengharum kamar mandi 3 3
Pengharum ruangan 11 11
Perlak 15 15
Rak sepatu 6 6
Sapu 1 1
Sarung Bantal 40 40
Sarung Guling 14 14
Sekop Sapu 1 1
Selimut Garis-garis 4 4
Sepatu boot 1 1
Sprei Biru 4 4
Sprei Hijau 13 13
Sprei Krem 10 10
Sprei Orange 4 4
Telfon ruangan 1 1
Tempat Sampah Besar 1 1
Tempat sampah botol infuse 1 1
Tempat sampah medis 1 1
Tempat sampah non medis 5 5
Tempat tidur pasien 30 30
Tempat tisu 3 3
Termos 1 1
Teroli pel 1 1
Timbangan dewasa 2 2
Troli Barang 1 1
Troli Besar 11 11
Troli Tindakan 3 3
Wastapel 2 2
X-Banner 2 2

3) Fasilitas tempat tidur


Ruang IRNA IIIC adalah ruang perawatan kelas 3 dengan
jumlah tempat tidur 30 tempat tidur dan masing-masing
mempunyai 5 Buah meja makan, 5 Buah kursi pengunjung, 5
Buah tempat tidur pasien dan 1 kamar mandi.

3. M3 (Methode)
a. Penerapan Metode Pemberian Asuhan Keperawatan (MAKP)
Model yang diterapkan di Ruang IRNA III C adalah MAKP Tim-
Modifikasi dan sudah berjalan dengan baik namun masih
kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menjalankan
MAKP. Menurut Nursalam (2016), metode Tim dibutuhkan 6-7

17
tenaga perawat profesional dan perawat pelaksana sebagai satu tim
dalam satu shift.
b. Timbang Terima
Timbang terima berdasarkan hasil observasi tanggal 26
Maret s/d 28 Maret 2018 timbang terima di IRNA III C dilakukan
di setiap pergantian shift yang diikuti oleh semua perawat yang
bertugas di masing-masing shift. Beberapa kelemahan pelaksanaan
timbang terima di ruang IRNA III C adalah terkadang timbang
terima dilaksanakan di Nurse Station saja tanpa kunjungan ke
pasien. Selain itu saat timbang terima pasien masuk dari ruangan
IRNA yang lain atau IGD, pelaporan mengenai kondisi pasien tidak
lengkap, kebanyakan hanya membahas mengenai diagnose medis
dan terapi lanjutan pasien. Adanya interaksi dan klarifikasi tentang
timbang terima yang dilakukan terhadap pasien saat dilakukannya
validasi ke kamar masing—masing pasien menambah keakuratan
kondisi pasien.

c. Ronde Keperawatan
Bidang keperawatan dan ruangan mendukung adanya
kegiatan ronde keperawatan, banyaknya kasus yang memerlukan
perawatan khusus, sumber daya manusia banyak mempunyai
pengalaman dalam keperawatan medis. dan adanya tim kesehatan
lain yang bersedia melakukan ronde
Namun, karena keterbatasan waktu, jadwal yang tidak bisa
ditentukan dan tenaga keperawatan, maka ronde keperawatan
adalah kegiatan yang belum dilaksanakan secara teratur di ruang
IRNA III
Ronde keperawatan pernah dilakukan oleh mahasiswa
dengan dihadiri oleh dokter, perawat, tenaga farmasi, dan gizi.

d. Supervisi keperawatan
Supervisi dilakukan oleh petugas manajemen rumah sakit
secara tidak terjadwal dan kepala ruangan secara langsung melalui
pengamatan terhadap pelaksaan tugas perawat. Kepala ruangan
mengamati pekerjaan yang dilakukakan perawat kemudian
memberikan evaluasi kepada perawat yang bersangkutan. Tetapi

18
dokumentasi supervisi dilakukan selama 4 bulan sekali oleh kepala
ruangan

e. Discharge planning
Tersedianya sarana dan prasarana discharge planning
diruangan untuk pasien pulang misalnya papan informasi mengenai
berbagai penyakit dan adanya kartu control berobat untuk pasien
setelah pulang.
Discharge planning sudah dilaksanakan tetapi
pelaksanannya belum optimal. Perawat ruangan memberikan
penyuluhan kesehatan pada pasien dan keluarga saat merawat
pasien dan pada saat pasien pulang tanpa leaflet dan
terdokumentainya di dalam buku rekam medis pasien. Hal –hal
yang di sampaikan meliputi: Obat, control dan nutrisi.

f. Pendokumentasian Keperawatan
Sistem pendokumentasian di Ruang IRNA III C
berdasarkan SOR (source Oriented record) yaitu suatu system
pendokumentasian yang berorientasi dari berbagai sumber tenaga
kesehatan misalnya dokter, perawat, ahli gizi dan lain-lain.
Pendokumentasian yang di lakukan perawat belum optimal karena
keterbatasan waktu dan catatan perkembangan hanya mengikuti
catatan perkembangan pasien sebelumnya.

TABEL BAGIAN DARI DOKUMENTASI PASIEN

KODE Nama Formulir


R1 ADMISI
R1.1 Identitas Pasien
R1.2 general Consent
R1.3 Surat Persetujuan Pasien Rawat Inap
R1.4 Permintaan Penggantian Dokter
R2 RAWAT JALAN
R2.1 Rekam Medis Instalasi Gawat Darurat
R2.2 Transfer Pasien Antar Ruangan
R2.3 Rekam Medis Rawat Jalan (Poliklinik)
R3 KAJIAN AWAL PASIEN
R3.1 Pengkajian awal medis &keperawatan rawat inap

19
R3.2 Pengkajian pasien rawat inap obstetri & ginekologi
R3.3 Pengkajian asuhan kebidanan & kandungan
R3.4 Pengkajian awal medis & keperawatan neonatus
R3.5 Pengkajian awal pasien anak
R3.6 Pengkajian keperawatan pasien ICU
R3.7 Pengkajian resiko jatuh pada pasien dewasa
R3.8 Pengkajian resiko jatuh pada anak
R3.9 Pengkajian resiko jatuh pada neonatus
R3.10 Pengkajian resiko jatuh pada pasien psikiatri
R3.11 Pengkajian awal farmasi/renkonsiliasi obat
R3.12 Skrining gizi anak lanjut
R3.13 Skrining gizi lanjut(pasien dengan kehamilan)
R3.14 skirining gizi lanjut(pasie dewasa)
R4 PERKEMBANGAN PASIEN
R4.1 Catatan perkembangan pasien terintegrasi
R4.2 Asuhan keperawatan
R4.3 Asuhan kebidanan
R4.4 Grafik perkembangan pasien
R4.5a Asuhan gizi
R4.5b Catatan perkembangan gizi
R4.6 Partograf
R4.7 Monitoring pasien tranfusi darah
R4.8 Efek samping obat
R4.9 Pemberian obat
R4.10 SBAR
R4.11 Pengamatan ICU
R4.12 Pengamatan NICU
R4.13 Pengamatan PICU
R4.14 Pengamatan ICCU
R5 HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG(EKG,LAB)
R5.1 Lembar penempatan hasil EKG
R6 EDUKASI
R6.1 Catatan edukasi terintegrasi pasien/keluarga
TINDAKAN MEDIS OPERATIF & NON
R7 OPERATIF
R7.1 Persetujuan tindakan medis
R7.2 Penolakan tindakan medis
R7.3 Pesetujuan sterilisasi(tubektomi)
R7.4 Check list pre operasi & pemeriksaan post operasi
R7.5 Check list keselamatan pasien di ruang operasi
R7.6 Formolir pra anestesi dan sedasi
R7.7 Pemantauanstatus fisiologis pasien operasi

20
R7.8 Laporan anestesi
R7.9 Laporan operasi
R7.10 Formulir penandaan lokasi operasi pria/wanita
R7.11 Laporan kuretase
R8 RESUME PASIEN
R8.1 Resume medis
R8.2 discharge planning
R9 FORMUKIIR KHUSUS
R9.1 Surat rujukan
R9.2 Surat keterangan kelahiran
R9.3 Surat keterangan kematian
R9.4 Pelayanan ambulance
R10 LAIN- LAIN
R10.1 Lembar resep dan identitas(KK,KTP,BPJS)
Kesimpulan : Dari tabel bagian dokumentasi pasien tersebut sudah lengkap
untuk mengetahui bagian dari dokumentasi pasien.

4. M4 (Money)
Pegawai perawat rumah sakit umum daerah kota mataram ruang IRNA III C
mendapatkan pendapatan dari jasa pelayanan medik seperti jasa pelayanan
BPJS, dan umum. Tidak ada perbedaan gaji perawat antara tingkat
pendidikannya. Tidak ada di laksananakan usaha operasi ruangan. Tidak ada
Rencana Anggaran Belanja (RAB) di ruangan irna III C. Untuk menghemat
pengeluaran, perawat menggunakan kembali instrumen medis dengan re-use.
Semua pengeluaran dan kebutuhan untuk ruangan IRNA III C di biayai oleh
institusi

5. M5 Mutu
Alur Pasien Masuk Ruang IRNA III C

UGD POLI

Rawat Inap
Pemeriksaan
Pengobatan/Tindakan

21
Sembuh/KRS Meninggal

a. Average Length Of Stay (ALOS)


ALOS (average length of stay = rata-rata lama pasien dirawat) AVLOS
menurut Huffman (1994) adalah “The Average Hospitalization Stay Of In
Patient this charge during the pariet under conderation,” AVLOS menurut
Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini
disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat
memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis
tertentu dapat dijadikan hal tertentu pengamanan yang lebih lanjut. Secara
umum nilai AVLOS yang ideal antara 6 sampai 9 hari (Depkes RI 2005).

Rumusan hitung AVLOS tanggal 26 sampai dengan 28 Maret 2018 :

Jumlah hari perawatan pada tanggal 26 sampai dengan 28 Maret 2018


adalah 76 hari
Jumlah pasien keluar (hidup + mati) = 16 pasien

AVLOS =

= 4,75 (dibulatkan menjadi 5)


Kesimpulan : Dari perhitungan rata-rata lama pasien dirawat di Ruang
IRNA IIIC yaitu 5 hari, dan merupakan hasil yang ideal.

b. Turn Over Interval (TOI)


TOI (Turn Over Interval = tegangan perputaran). TOI menurut Depkes RI
2005 adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah
disini ke saat terisi berikutnya, indicator ini memberikan gambaran tingkat

22
efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak
terisi pada kisaran 1 sampai 3 hari.
Jumlah tempat tidur : 30 bed.
Periode perawatan : 3 hari
Hari perawatan : 76 hari
Jumlah pasien keluar (hidup + mati) : 16 pasien
Rumus hitung TOI :

= 0,62 (dibulatkan menjadi 1)


=1
Kesimpulan : Jadi dari hasil rata-rata hari dimana tempat tidur tidak
ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya yaitu 1 hari, dan hasil
tersebut merupakan hasil yang ideal.

c. Bed Turn Over (BTO)


BTO menurut Huffman (1994) adalah “the net effect of changed in
occupancy rate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2005)
adalah frekuensi pemakian tempat tidur pada suatu periode, berapa kali
tempat tidur dipakai dalam satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu
tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40 sampai 50.
Jumlah pasien dirawat (Hidup + Mati) = 78
Jumlah pasien keluar (hidup + mati) = 16
Jumlah tempat tidur = 30 bed
Rumus Hitung BTO

= = 0,53

23
=1
Kesimpulan : Jadi dari hasi perhitungan mengenai berapa kali tempat tidur
dipakai dalam satuan waktu tertentu menunjukkan hasil yang ideal.

d. Net Death Rate (NDR)


NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 72 jam setelah
dirawat untuk tiap tiap 1000 penderita keluar. Indicator ini memberikan
gambaran mutu pelayanan rumah sakit.
Jumlah pasien mati > 72 jam = 0 orang
Jumlah pasien keluar (hidup + mati) = 16 pasien
Rumus Hitung NDR

= 0%
Kesimpulan : Jadi dari hasil perhitungan angka kematian selama 72 jam
setelah dirawat inap, menunjukkan bahwa belum ada angka kematian pada
ruang IRNA IIIC.

e. Gross Death Rate (GDR)


GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk
setiap 1000 penderita keluar.
Jumlah pasien mati seluruhnya = 0
Jumlah pasien keluar (hidup + mati) = 16orang
Rumus Hitung GDR

= 0%

24
Kesimpulan : Jadi dari hasil perhitungan angka kematian umum untuk
setiap 1000 penderita keluar menunjukkan hasil yang ideal.

f. Bed Occupancy Ratio (BOR)


BOR (bed occupancy ratio = angka penggunaan tempat tidur). BOR
Menurut Huffman (1994) adalah “the ratio of patient service days to
inpatient bad count days in a period under considenration “. Sedangkan
menurut Depkes RI (2005), BOR adalah presentase pemakaian tempat
tidur pada satuuan waktu tertentu. Indikator ini diberikan gambaran tinggi
pada rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai
parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005)
1. BOR hari pertama
Jumlah bed yang terisi pada tanggal 26 maret 2018 sebanyak 22 bed
Jumlah tempat tidur : 30 bed
Periode perawatan 1 hari

BOR =

= = 73,3%

2. BOR hari kedua


Jumlah bed yang terisi pada tanggal 27 Maret 2018 sebanyak 28 bed

BOR =

= 93,3%

3. BOR Hari Ketiga


Jumlah bed yang terisi pada tanggal 28 Maret 2018 sebanyak 28 bed
Jumlah pasien keluar (hidup + mati) = 39 pasien

BOR =

25
=

= 93,3%

Rata-rata BOR tanggal 26 sd 28 Maret 2018

Jadi, berdasarkan data diatas penggunaan tempat tidur di IRNA III C selama 3
hari tidak ideal yaitu 86,6%

g. Keselamatan Pasien (Pasient Safety)


1) Angka Kejadian Dekubitus
Luka tekan (Pressure ulcer) atau dekubitus merupakan masalah serius
yang sering terjadi pada pasien yang mengalami gangguan mobilitas,
seperti pasien stroke, cedera tulang belakang atau penyakit degenerative.
Pencegahan dan intervensi awal pasien dengan dekubitus :
a) Kaji risiko invididu terhadap kejadian dekubitus
b) Kaji faktor risiko pada saat pasien memasuki RS dan diulang dengan
pola yang teratur atau ketika ada perubahan yang signifikan pada
pasien seperti pada pembedahan atau penurunan status kesehatan.
c) Identifikasi kelompok-kelompok yang berisiko tinggi terhadap
kejadian dekubitus.
d) Kaji keadaan kulit teratur setidaknya sehari sekali.
e) Kaji mobilitas
f) Minimalkan terjadinya tekanan
g) Kaji dan minimalkan pergesekan (friction) dan tenaga yang merebok
(shear)
h) Kajilah inkontinensia
i) Kaji status nutrisi
j) Kajilah factor yang menunda status penyembuhan
k) Evaluasi penyembuhan luka

Penilaian Angka Kejadian Dekubitus


Skala Norton dapat digunakan untuk memprediksi apakah seorang pasien
berisiko dekubitus atau tidak dengan lima indikator, yaitu kondisi fisik
(physical condition), kondisi mental (mental condition), kegiatan
(activity), mobilitas (mobility), inkontinensia (incontinence).

26
Table Observasi Pasien Dengan Dekubitus

NO Variabel Tanggal
26-03-2018 27-03-2018 28-03-2018
1 Jumlah kejadian 1 0 0
decubitus
2 Jumlah pasien 6 0 0
berisiko terjadi
decubitus
3 Jumlah tidak 13 20 20
berisiko

Angka Kejadian Dekubitus

Angka Kejadian Dekubitus = 5%

Angka pasien berisiko terjadi Dekubitus :

Angka Pasien Tidak berisiko Dekubitus :

Kesimpulan : Dari hasil pengamatan tanggal 26-28 Maret 2018 jumlah


responden di IRNA IIIC sebanyak 20 responden dengan
angka kejadian dekubitus 5%

2) Kesalahan Pemberian Obat Oleh Perawat


Angka kejadian kesalahan pemberian obat oleh perawat dapat diketahui
dari formula sebagai berikut:

a. Angka Kejadian Tidak Diharapkan (KTD)/Sentinel dalam


pemberian obat

27
b. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) dalam pemberian obat:

Indikator kesalahan pemberian obat:


a. Salah pasien
b. Salah nama, tidak sesuai dengan medical record
c. Salah waktu:
1) terlambat pemberian obat (30 menit setelah jadwal)
2) terlalu cepat (30 menit sebelum jadwal)
3) obat stop tetap dilanjutkan

Tabel KTD dan KNC tanggal 26-28 Maret 2018

Tanggal
No Variabel Total
26/3/2018 27/3/2018 28/3/2018
Jumlah pasien
yang terkena
kejadian tidak di
harapkan dalam
pemberian obat.
a. Tidak Tepat - - - 0
Pasien
b. Tidak Tepat
- - - 0
Obat
c. Tidak Tepat
- - - 0
waktu
pemberian
d. Tidak Tepat
Dosis Obat - - - 0
e. Tidak Tepat
Cara
- - - 0
Pemberian
f. Tidak Tepat
Dokumentasi
- - - 0

Jumlah pasien pada 22 28 28


hari tersebut

28
Angka kejadian KTD dan KNC = tidak ada

Kesimpulan : Dari hasil penilaian yang dilakukan selama melakukan


pengkajian dapat diketahui bahwa angka KTD oleh
perawat dalam pemberian obat yaitu tidak adanya angka
KTD yang terjadi. Hal tersebut juga terjadi pada KNC
yang angka kejadiannya tidak ada.

3) Pasien Jatuh (Patient Fall)


Pasien di kategorikan beresiko jatuh apabila mempunyai satu atau lebih
faktor beresiko jatuh pada saat pengkajian:
a. Faktor resiko instrinsik, antara lain:
1) Karakteristik pasien dan fungsi fisik umum
2) Diagnosis/perubahan fisik
3) Medisasi dan interaksi obat
b. Faktor ekstrinsik (lingkungan), antara lain:
1) Tingkat pencahayaan
2) Permukaan lantai
3) Furniture
4) Ketinggian tempat tidur, kunci tempat tidur
5) Call bell
6) Penggunaan alat bantu
7) Lama di rawat
Table observasi pasien fall risk

Berisiko Tidak Berisiko Kejadian Jumlah


Tanggal
Jatuh Jatuh jatuh Pasien
26 Maret 2018 13 9 0 22
27 Maret 2018 6 9 0 28
28 Maret 2018 3 6 0 28

Tanggal 26-03-2018 : = 59%

Tanggal 27-03-2018 : =21,4%

Tanggal 28-03-2018 : =10,7%

29
Rata – rata : =30,3%

Kesimpulan : Dari hasil penilaian selama 3 hari, dapat disimpulkan bahwa


rata- rata angka kejadian resiko jatuh/fall risk di ruang
IRNA IIIC RSDU Kota Mataram yaitu sebanyak 30,3%,
dan angka kejadian pasien jatuh sebanyak 0 %

4) Flebitis
Flebitis (phelebitis) didefinisikan sebagai peradangan akut lapisan
internal vena yang ditandai oleh rasa sakit dan nyeri di sepanjang vena
kemerahan, bengkak dan hangat, serta dapat dirasakan di sekitar daerah
penusukan. Flebitis adalah komplikasi yang sering dikaitkan dengan
terapi IV. Ada sejumlah faktor yang dapat berkontribusi dan
meningkatkan resiko flebitis. Faktor ini antara lain :
a. Trauma pada vena selama penusukan
b. Cairan infus bersifat asam atau alkali atau memiliki osmolaritas
tinggi
c. Penusukan ke pembuluh arah yang terlalu kecil
d. Menggunakan jarum yang terlalu besar untuk vena
e. Jarum infus lama tidak di ganti
f. Jenis bahan (kateter infus ) yang di gunakan
g. Riwayat pasien dan kondisi sekarang
h. Kondisi pembuluh darah
i. Stabilitas kanul
j. Pengendalian infeksi
Pencegahan kejadian Flebitis dapat dicegah dengan cara :
1) Mengikuti teknik asepsis selama penusukan dan saat pencampuran
obat,
2) Rotasi tempat pemasangan
3) Menggunakan jarum yang sesuai dengan ukuran vena,
4) Pemantauan berkala area IV line,
5) Pendidikan pasien tentang tanda dan gejala dari flebitis,
6) Pilihan perangkat IV yang tepat,
7) Mengikuti pedoman pengenceran obat, untuk mencegah partikel
dan untuk memastikan obat atau solusi tidak terlalu tinggi atau
terlalu rendah kadar pH atau kepekatannya.

Formula

30
Hari pertama : Formula = = 27,2%

Hari kedua : Formula = = 7,1%

Hari Ketiga : Formula = = 10,7%

Rata – rata : = 15%

Jadi Rata-rata Kejadian Flebitis di Ruang IRNA IIIC RSUD Kota


Mataram masih tergolong cukup banyak yaitu sebanyak 15%

h. Kepuasan Pasien
Ada enam faktor menyebabkan timbulnya rasa tidak puas pelanggan
terhadap suatu produk yaitu :
1. Tidak sesuai harapan dan kenyataan
2. Layanan selama proses menikmati jasa tidak memuaskan
3. Perilaku personel kurang memuaskan
4. Suasana dan kondisi fisik lingkungan yang tidak menunjang
5. Cost terlalu tinggi, karena jarak terlalu jauh banyak waktu terbuang
dan harga tidak sesuai
6. Promosi/iklan kehilangan pelangganTingkat Kepuasan Pasien

No Tingkat Kepuasan Jumlah pasien


1. Sangat puas 3
2. Puas 16
3. Tidak puas 1
4. Sangat tidak puas 0

Sangat Puas = 15%

31
Sangat Tidak

Kesimpulan : Dari hasil survey menggunakan kuesioner kepuasan pasien


dengan responden sebanyak 20 orang didapatkan 15%
responden Sangat Puas dengan mutu pelayanan ruangan Irna
IIIC RSUD Kota Mataram dan 18% responden puas, 5%
responden Tidak Puas, dan 0% responden Sangat Tidak Puas.
Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata pasien
merasa puas terhadap mutu pelayanan di ruang IRNA III C
RSUD Kota Mataram

i. Kenyamanan
Fenomena nyeri timbul karena adanya kemampuan sitem saraf untuk
mengubah berbagai stimulus mekanis, kimia, termal, elektris menjadi
potensial aksi yang dijalarkan ke system saraf pusat. Nyeri merupakan
suatu mekanisme protektif bagi tubuh yang akan muncul bila jaringan
tubuh rusak, sehingga individu akan bereaksi atau berespon untuk
menghilangkan, mengurangi rangsang nyeri.
Skala nyeri :
0 = tidak nyeri,
1-3 = nyeri ringan, mengomel, sedikit mengganggu ADL,
4-6 = nyeri sedang, cukup mengganggu ADL,
7-10= nyeri berat tidak mampu melakukan ADL.

Angka tata laksana nyeri :

Persentase tata laksana pasien nyeri :

32
Angka kenyamanan pasien :

Persentase Pasien Dengan Nyeri Yang Terdokumentasi

No Variabel Tanggal
26 Maret 27 Maret 28 Maret
1 Jumlah pasien nyeri 13 18 7
yang terdokumentasi
2 Total pasien 26 28 28
Persentase 50% 64,2 % 25%
Kesimpulan :
Dari hasil penilaian melalui pengkajian yang dilakukan selama 3 hari dapat di
ketahui bahwa Persentase pasien dengan nyeri yang terdokumentasi di dapatkan
hasil terbanyak adalah pada tanggal 27 Maret dengan ersentase 64,2 %
Jadi, rata-rata persentase nyeri yang terdokumentasi adalah 46,6 %

Persentase Tatalaksana Pasien Nyeri


No Variabel Tanggal
26 Maret 27 Maret 28 Maret
1 Jumlah tindakan perawat 2 2 2
sebagai respons nyeri
2 Total pasien nyeri skala ≥ 4 8 11 5
Persentase 25% 18,1 % 40%
Kesimpulan ; Dari hasil penilaian melalui pengkajian yang dilakukan selama 3
hari dapat di ketahui bahwa Persentase tatalaksana pasien nyeri di
dapatkan hasil terbanyak yaitu pada tanggal 28 Maret adalah 40 %
Jadi rata-rata persentase tatalaksana pasien nyeri adalah 27,7%

Persentase Pasien Dengan Nyeri Terkontrol


No Variabel Tanggal

33
26 Maret 27 Maret 28 Maret
1 Jumlah pasien dengan
5 7 2
nyeri terkontrol
2 Total pasien yang nyeri
5 7 2
skala ≤ 4
Persentase 19,2% 25% 7,1%
Kesimpulan :Dari hasil penilaian melalui pengkajian yang dilakukan selama 3
hari dapat di ketahui bahwa Persentase pasien dengan nyeri
terkontrol di dapatkan hasil terbanyak adalah 25%. .Jadi rata-rata
persentase pasien dengan nyeri terkontrol adalah 17,1 %

j. Kecemasan
Kesimpulan : Dari hasil penilaian yang dilakukan selama melakukan
pengkajian menggunakan kuesioner skala peringkat kecemasan (Nursalam
2016) dapat diketahui bahwa dari 20 responden, terdapat 16 responden
yang tingkat kecemasannya normal/tidak cemas dengan rentang skala 20-
44 dengan persentase 80% dan 4 responden kecemasannya ringan dengan
rentang skala 45-59 dengan persentase 20%

6. M6 Mesin

KONDISI
NO NAMA BARANG JUMLAH
BAIK RUSAK
1 EKG set 1 1 -
2 Infus pump 7 7 -
3 Nebulizer 3 3 -
4 oxymeter 3 3 -
5 Syringe pump 12 12 -
6 x-ray viewer 1 1 -

34
BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan
1. Analisa Ruangan IRNA III C
Ruang IRNA III C merupakan salah satu ruangan interna yang merawat
pasien dengan berbagai masalah keperawatan. Memiliki 30 tempat tidur,
ketenagaan terdiri dari S1+Ners sebanyak 4 orang, Diploma III sebanyak 8
orang, Diploma 4 sebanyak 3 orang, Dokter jaga sebanyak 6 orang, dokter
interna sebanyak 3 orang, Ahli Gizi sebanyak 1 orang, Apoteker sebanyak
1 orang, Asisten Apoteker 1 orang, Admin sebanyak 3 orang, Cleaning
service sebanyak 3 orang. Ruang IRNA III C menggunakan model MPKP
Tim
2. Kebutuhan tenaga keperawatan di ruang IRNA III C
Untuk menghitung kebutuhan tenaga keperawatan di ruang IRNA III C
kami menggunakan perhitungan tenaga menurut perhitungan kebutuhan
tenaga kerja metode Douglas yang membutuhkan perawat sebanyak 22
orang. dan pada ruangan IRNA IIIC hanya ada 15 orang dan kekurangan
tenaga sebanyak 7 orang.
3. Sarana dan prasarana yang di ruang IRNA III C yaitu Ruang Karu
bergabung dengan ruang jaga perawat. Ruang tempat penyimpanan

35
peralatan kesehatan tidak ada. Masih ada peralatan kesehatan yang belum
lengkap. Nurse station berada di paling depan ruangan. idealnya harus
berada di tengah ruangan antara ruangan pasien. Ventilasi dan
pencahayaan ruangan kurang mencukupi.
4. Model yang diterapkan di Ruang IRNA III C adalah MAKP Tim-
Modifikasi dan sudah berjalan dengan baik namun masih kekurangan
Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menjalankan MAKP.
5. Beberapa kelemahan pelaksanaan timbang terima di ruang IRNA III C
adalah terkadang timbang terima dilaksanakan di Nurse Station saja tanpa
kunjungan ke pasien. Selain itu saat timbang terima pasien masuk dari
ruangan IRNA yang lain atau IGD, pelaporan mengenai kondisi pasien
tidak lengkap, kebanyakan hanya membahas mengenai diagnose medis
dan terapi lanjutan pasien
6. Ronde keperawatan pernah dilakukan oleh mahasiswa dengan dihadiri
oleh dokter, perawat, tenaga farmasi, dan gizi.
7. Supervisi dilakukan oleh petugas manajemen rumah sakit secara tidak
terjadwal dan kepala ruangan secara langsung melalui pengamatan
terhadap pelaksaan tugas perawat.
8. Pelaksanaan discharge planning di Ruang IRNA III C telah dilaksanakan
oleh ketua tim namun media penyampaian pendidikan kesehatan hanya
melalui informasi lisan, sehingga kami mahasiswa Poltekkes Mataram
telah melakukan upaya optimalisasi pelaksanaan discharge planning
dimana kami membuat dan memperbanyak leaflet sesuai dengan keadaan
ruangan.
9. Sistem pendokumentasian di Ruang IRNA III C berdasarkan SOR
(source Oriented record) yaitu suatu system pendokumentasian yang
berorientasi dari berbagai sumber tenaga kesehatan misalnya dokter,
perawat, ahli gizi dan lain-lain.
10. Pegawai perawat rumah sakit umum daerah kota mataram ruang IRNA III
C mendapatkan pendapatan dari jasa pelayanan medik seperti jasa
pelayanan BPJS, dan umum. Tidak ada perbedaan gaji perawat antara
tingkat pendidikannya.
11. Rata-rata BOR adalah tidak ideal yaitu 86,6%. Persentase kejadian
dekubitus 5%. Persentase kejadian flebitis 15%.
12. Tersedianya fasilitas mesin yang lengkap. Terdapat ruang tindakan

36
b. SARAN
1. Untuk menigkatkan kepuasan kerja dari perawat diruangan, perawat harus
mengerjakan semua tindakan sesuai protap yang sudah ditetapkan.
2. Pada saat melakukan timbang terima diharapkan mencantumkan masalah
keperawatan dan tindakan yang telah dilakukan, serta melaporkan keadaan
alat-alat.
3. Diperlukan pengembangan ilmu-ilmu terbaru oleh pemberi pelayanan
kesahatan khususnya perawat dalam persiapan menghadapi era globalisasi.
4. Dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan kepada pasien harus
memperhatikan teknik komunikasi terapeutik untuk memotivasi
kesembuhan pasien dan untuk mnghindari sigma negatif terhadap
pelayanan keperawatan oleh pasien dan keluarga.

37
DAFTAR PUSTAKA

Asmuji. 2012. Manajemen Keperawatan Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Ar-


ruzz Media

Keliat, Budi Ana. 2012. Manajemen Keperawatan Aplikasi MPKP di Rumah


Sakit. Jakarta: EGC

Kuntoro, Agus. 2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Edisi 4. Jakarta: EGC

Nursalam. 2016. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan


Profesional Edisi 5. Jakarta: Salemba Medika

38
ANALISA S.W.O.T

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam analisa S.W.O.T menurut Nursalam dalam buku Manajemen Keperawatan Edisi 5 :

1. Pengisian item internal factors (IFAS) dan eksternal factors (EFAS). Cara pengisian IFAS dan EFAS disesuaikan dengan komponen yang ada
dalam pengumpulan data (bisa merujuk pada data fokus dan contoh pengumpulan data pada bagian lain di dalam buku ini). Data tersebut
dibedakan menjadi dua, yaitu IFAS yang meliputi aspek kelemahan (weaknes) dan kekuatan (strength) dan EFAS yang meliputi aspek
peluang (oppotunity) dan ancaman (threatened).

No Masalah Strength Weaknes Oppotunity Threatened


1. Sumber Daya 1. Adanya system a. Sebagian perawat a. Adanya a. Tuntutan tinggi
Manusia (MI) pengembangan staff belum mengikuti mahasiswa D4 oleh masyarakat
berupa pelatihan pelatihan/seminar Keperawatan untuk
b. Kurangnya tenaga
sebanyak 83% yang praktik mendapatkan
keperawatan yang
perawat yang telah manajemen pelayanan
tingkat
mengikuti pelatihan. keperawatan kesehatan yang
pendidikannya b. Adanya
Seperti BCLS, lebih
S1+ Ners dengan mahasiswa dari
pelatihan professional
persentase 20% institusi lain yang b. Makin tingginya
pencampuran sediaan
c. Berdasarkan
praktk di Rumah kesadaran
injeksi, pelatihan
metode
Sakit Kota masyarakat akan
perawatan luka, dll.
perhitungan
2. Jumlah perawat Mataram hukum
Dougles, tenaga c. Adanya kebijakan c. Makin tingginya
terbanyak adalah 53
yang dibutuhkan pemerintah kesdaran
% (8 orang) dengan
perhari adalah 22 tentang masyarakat akan
latar pendidikan DIII

39
Keperawatan dan orang. Dan masih profesionalisasi pentingnya
yang terendah adalah kurang, sehingga keperawatan kesehatan
d. Adanya d. Persaingan antar
7% (1 orang) dengan dibutuhkan 7
kesempatan RS yang semakin
latar pendidikan S1 orang tenaga
perawat untuk ketat
Keperawatan keperawatan
3. Tenaga non melanjutkan
tambahan
Keperawatan d. Sebagian besar pendidikan ke
sebanyak 9 orang perawat masih jenjang yang
4. Tenaga Medis sudah
memiliki lebih tinggi untuk
cukup sebanyak 9
pengalaman kerja menunjang skill
orang
kurang dari < 2 perawat yang
tahun dengan lebih baik
e. Adanya program
persentase 60 %
pelatihan/seminar
khusus tentang
manajemen
keperawatan dari
diklit
2. Sarana dan 1. Kepastian tempat 13. Ruang Karu 1. Setiap 1. Kesenjangan
Prasarana/(Material) tidur 30 bed. bergabung penggantian shift antara jumlah
2. Fasilitas, sarana dan
M2 dengan ruang tempat tidur pasien dengan
prasarana
jaga perawat dirapikan. peralatan yang
menunjang 14. Ruang tempat 2. Kebersihan
ada.
pemberian penyimpanan lingkungan 2. Makin tinggi

40
pelayanan kesehatan, peralatan ruangan dijaga kesadaran
Rekam Medis Buku kesehatan tidak setiap hari. masyarakat
3. Adanya
injeksi, Buku ada akan pentingnya
15. Masih ada pengadaan sarana
observasi TTV, Buku kesehatan.
peralatan dan prasarana 3. Adanya tuntutan
timbang terima,
kesehatan yang yang rusak dari dari masyarakat
SOP, SAK, Buku
belum lengkap. bagian pengadaan untuk
visite, Buku PR
16. Nurse station
3. Penggantian alat barang. melengkapi
berada di 4. Adanya kegiatan
tenun dilakukan sarana dan
paling depan demontrasi
setiap hari. prasarana.
4. Bila alat tenun kotor ruangan. pemakaian alat
saat itu juga idealnya harus baru.
langsung diganti, berada di
5. Pemeliharaan dan
tengah ruangan
perawatan dari
antara ruangan
sarana dan prasarana
pasien
penunjang kesehatan 17. Ventilasi dan
sudah ada. pencahayaan
6. Ruang tindakan ada.
ruangan kurang
mencukupi.

3. Methode (M3) 1. RS memiliki Visi 1. Tenaga 1. Adanya 1. Tuntutan tinggi


Misi dan Motto RS keperawatan tidak kesempatan untuk oleh masyarakat
sebagai acuan seimbang dengan melanjutkan untuk

41
melaksanakan tingkat pendidikan. mendapatkan
2. Adanya program
kegiatan pelayanan. ketergantungan pelayanan
2. SDM : pelatihan dan
pasien. kesehatan yang
a. S1+Ners 4 orang
2. Pelaksanaan model seminar.
b. DIII 8 orang lebih
3. Adanya
c. D.IV 2 orang metode tim
profesional.
3. RS tipe B dan RS mahasiswa D4
modifikasi sudah 2. Semakin
pendidikan Keperawatan
dilaksanakan dan tingginya
4. Ada SAK dan SOP
praktek
5. Adanya Model belum optimal. kesdaran
manajemen
MPKP yang masyarakat akan
keperawatan.
digunakan MPKP pentingnya
4. Tingkat
Tim Modifikasi kesehatan.
ketergantungan
3. Persiapan
pasien bervariasi.
perawat asing
5. Adanya
yang msauk
kerjasama antara
(MEA).
mahasiswa dan
4. Persaingan antar
perawat ruangan.
RS yang
6. Adanya
semakin kuat.
kerjasama antara
institusi
Poltekkes
Mataram Jurusan
Keperawatan
dengan RS.

42
7. Adanya kebijakan
pemerintah
tentang
profesionalisasi
keperawatan.
2) Supervisi 1. Supervisi telah 1. Tidak terjadwal 1. Adanya 1. Tuntutan pasien
dilaksanakan secara secara rutin. mahasiswa D4 sebagai
2. Belum ada
rutin. Keperawatan konsumen untuk
2. Telah ada program dokumentasi
yang praktek mendapatkan
pelatihan dan supervisi di
manajemen pelayanan yang
sosialiasasi tentang ruangan.
keperawatan. profesional.
supervisi. 2. Adanya teguran
3. Kepala ruangan
dari kepala
mendukung dan
ruangan bagi
melaksanakan
perawat yang
supervisi
tidak
melaksanakan
tugas dengan
baik.
3) Timbang Terima 1. Kepala ruangan 1. Timbang terima 2. Adanya 1. Adanya tuntutan
memimpin kegiatan sudah dilakukan mahasiswa D4 yang tinggi dari
timbang terima dengan baik tetapi Keperawatan masyarakat
setiap pagi. intervensi masih yang praktek untuk
2. Adanya laporan jaga

43
setiap shift. bersifat umum manajemen mendapatkan
3. Timbang terima
tidak berdasarkan keperawatan. pelayanan
sudah merupakan 3. Adanya
MK dan Evaluasi keperawatan
kegiatan rutin yang kerjasama yang
tidak lengkap. yang
telah dilakukan. 2. Pelaksanaan baik antara
profesional.
4. Adanya kemampuan
timbang terima mahasiswa D4 2. Meningkatnya
perawat untuk
masih belum Keperawatan kesadaran
melakukan timbang
optimal, dengan perawat masyarakat
terima.
khususnya dari ruangan. tentang
4. Kebijakan RS
shift sore ke tanggung jawab
(bidang
malam. dan tanggung
3. Terkadang tidak Keperawatan)
gugat perawat
dilakukan validasi tentang timbang
sebagai pemberi
data ke ruangan terima.
asuhan
pasien.
keperawatan.

1. Tersedianya sarana 1. Keterbatasan


1. Adanya
dan prasarana waktu dan tenaga
mahasiswa DIV 1. Adanya
4. Discharge
discharge planning di keperawatan
keperawatan yang tuntunan
Planning 2. Tidak tersedianya
ruangan untuk pasien
melakukan masyarakat
leaflet pasien
pulang contohnya :
discharge untuk
pulang
Papan informasi
3. Perawat planning mendapatkan
mengenai berbagai 2. Adanya
kebanyakan tidak pelayanan

44
penyakit. bertemu langsung kerjasama anttara keperawatan
2. Adanya kartu control
dengan pasien mahasiswa DIV yang
berobat
untuk melakukan Keperawatan professional
3. Perawat memberikan
2. Makin
pendidikan dengan perawat
pendidikan
tingginya
kesehatan sebelum klinik
kesehatan secara
kesadaran
pulang, kareba
langsung tanpa
masyarakat
hanya bertemu
membuatkan SAP
akan
keluarga pasien
terlebih dahulu
pentingnya
kepada
kesehatan
pasien/keluarga 3. Persaingan
selama antar-RS
dirawat/pulang semakin ketat

1. Keterbatasan
1. Bidang perawatan 1. Adanya
waktu dan tenaga 1. Adanya pelatihan
dan ruangan tuntunan
5. Ronde keperawatan dan seminar
mendukung adanya masyarakat
2. Ronde
Keperawatan tentang
kegiatan ronde untuk
keperawatan
management
keperawatan mendapatkan
adalah kegiatan
2. Banyaknya kasus keperawatan
pelayanan
yang belum 2. Adanya
yang memerlukan
keperawatan
dilaksanakan kesempatan dari
pasien khusus
yang
3. SDM banyak secara teratur di kepala ruangan

45
mempunyai ruang IRNA III C untuk professional
2. Makin
pengalaman dalam mengadakan
tingginya
keperawatan medis ronde
4. Adanya tim kesadaran
keperawatan pada
kesehatan lain yang masyarakat
perawat dan
bersedia melakukan akan
mahasiswa
ronde pentingnya
praktik
kesehatan
3. Persaingan
1. Pengawasan
antar-RS
terhadap
semakin ketat
sistematika
pendokumentasian
belum
1. Adanya tuntunan
1. Tersedianya sarana
dilaksanakan 1. Adanya program
masyarakat
dan prasarana
secara optimal pelatihan dan
untuk
dokumentasi untuk Peluang perawat
6. Dokumentasi
mendapatkan
tenaga kesehatan untuk
keperawatan
pelayanan
(sarana administrasi meningkatkan
keperawatan
penunjang) pendidikan
2. Sudah ada system yang
(pengembangan
pendokumentasian professional
SDM)
2. Makin tingginya
SOR
kesadaran

46
masyarakat akan
pentingnya
kesehatan
Persaingan antar-RS
semakin ketat
4. M4 – Money 1. Adanya pendapatan 1. Pengeluaran 1. Adanya tuntutan
tambahan yaitu dari sebagian besar di yang lebih tinggi
jaspel medik, BPJS, biayai oleh rumah dari masyarakat
dan pembayaran sakit untuk
2. Ada kesempatan
umum mendapatkan
2. Tiap perawat untuk
pelayanan
memperoleh menggunakan
kesehatan yang
pendapatan dari instrumen medis
lebih profesional
rumah sakit berupa dengan re-use
sehingga
REMUNERASI sehingga
membutuhkan
menghemat
pendanaan yang
pengeluaran
lebih besar
untuk mendanai
sarana dan
prasarana
5. M5 – Marketing 1. Rata-rata lama 1. Rata-rata BOR 1. Mahasiswa DIV 1. Adanya
pasien di rawat adalah tidak ideal Keperawatan peningkatan
berdasarkan yaitu 86,6% yang praktik standar

47
perhitungan AVLOS 2. Persentase manajemen masyarakat yang
adalah 5 hari dan kejadian dekubitus keperawatan harus dipenuhi
2. Kerjasama yang 2. Persaingan
termasuk ideal. 5%
2. Rata-rata hari 3. Persentase baik antara Rumah Sakit
dimana tempat tidur kejadian flebitis mahasiswa dalam
tidak ditempati dari 15% dengan perawat memberikan
setelah diisi ke saat pelayanan
terisi berikutnya keperawatan
berdasarkan yang semakin
perhitungan TOI ketat
adalah 1 hari dan
termasuk ideal
3. Frekuensi
pemakaian tempat
tidur pada suatu
periode berdasarkan
perhitungan BTO
adalah 1 dan
termasuk ideal
4. Perhitungan angka
kematian > 72 jam
setelah dirawat inap
berdasarkan

48
perhitungan NDR
adalah 0%
5. Perhitungan angka
kematian umum
untuk setiap 1000
pasien keluar
berdasarkan
perhitungan GDR
adalah sebanyak 0%
6. Persentase kepuasan
pasien terhadap
pelayanan kesehatan
di Rumah Sakit
sebanyak 18%
7. Persentase pasien
resiko jatuh 30,3%
dan kejadian pasien
jatuh 0%
8. Persentase kesalahan
obat (KTD dan
KNC) 0%
6. M6 – Mesin 1. Tersedianya fasilitas 1. Fasilitas mesin 1. Mesin dapat 1. Adanya pegawai
mesin yang lengkap tidak memiliki rusak sewaktu- atau teknis
2. Terdapat ruang
tempat waktu mesin.

49
tindakan penyimpanan yang 2. Adanya seminar 2. Semakin tinggi
sesuai. atau pelatihan daya saing antar
tentang Rumah Sakit
menggunakan
mesin.

50
PRIORITAS MASALAH

Dasar pertimbangan dalam menentukan prioritas masalah yang digunakan disini


adalah “tehnik kriteria matrik (criteria matrix technique) yaitu tehnik pemungutan
suara dengan menggunakan kriteria tertentu. Adapun kriteria yang dapat digunakan
adalah :

1. Kecendrungan besar dan sedangnya kejadian masalah (magnitude = Mg)


2. Besarnya kerugian yang ditimbulkan (severity = Sv)
3. Bisa dipecahkan (Manageability = Mn)
4. Perhatian perawat terhadap masalah (Nursing concern = Nc)
5. Ketersediaan sumber daya (Affordability = Af)

Tabel prioritas masalah

No. Pengkajian Masalah Mg Sv Mn Nc Af Total Ranking


M1-M2
1. M3 (timbang Timbang terima 3 4 4 3 3 432 3
terima) sudah dilakukan
dengan baik, tetapi
intervensi masih
bersifat umum dan
tidak berdasar MK
dan evaluasi tidak
lengkap
M3 (Discharge Tidak tersedia leaflet 5 4 5 2 2 400 4
2. Planning) pasien pulang
3. M3 (Ronde Belum dilaksanakan 5 4 2 3 3 360 5
Keperawatan) ronde keperawatan
secara optimal
4. Angka kejadian 3 3 5 4 4 720 2
dekubitus 5%
5. Angka kejadian 5 4 5 3 3 900 1
flebitis

51
Keterangan :

5 = sangat sering/sangat besar kerugian/sangat mudah dipecahkan/sangat diperhatikan

4 = sering/besar kerugian/mudah dipecahkan/diperhatikan

3 = kadang-kadang/kerugian sedang/agak mudah dipecahkan/jarang diperhatikan

2 = jarang/sedikit kerugian/agak sulit dipecahkan/kurang diperhatikan

1 = tidak terjadi/tidak ada kerugian/sulit dipecahkan/tidak diperhatikan

prioritas masalah berdasarkan perhitungan rumus adalah :


1. Angka kejadian flebitis masih tergolong cukup banyak yaitu sebanyak 15%
2. Angka kejadian dekubitus sebanyak 5%
3. Timbang terima sudah dilakukan dengan baik tapi intervensi masih bersifat
umum dan tidak berdasarkan MK dan evaluasi tidak lengkap
4. Tidak tersedia leaflet untuk pasien pulang
5. Belum dilaksanakan ronde keperawatan secara teratur

52
PLAN OF ACTION (POA) KELOMPOK 3 DAN 4 MANAJEMEN KEPERAWATAN

Indikator/Target Penanggung
No Masalah Tujuan Program/Kegiatan Waktu
Keberhasilan Jawab
1. Angka kejadian flebitis Mencegah Pencegahan kejadian flebitis Angka kejadian Ridha Ulfa 26
meningkatnya a. Mengikuti teknik aseptik flebitis berkurang Lutpiana dan Maret
angka kejadian selama penusukan (cuci Widya Kurnia 2018
flebitis. tangan sebelum tindakan)
dan saat pencampuran
obat,
b. Menggunakan jarum yang
sesuai dengan ukuran
vena,
c. Pemantauan berkala area
IV line
d. Pendidikan pasien tentang
tanda dan gejala dari
flebitis,

Angka kejadian dekubtitus :


2. Angka kejadian a. Kaji risiko invididu Angka kejadian Ridha Ulfa
dekubitus Mencegah terhadap kejadian dekubitus dekubitus berkurang Lutpiana dan
b. Identifikasi kelompok-
meningkatnya Widya Kurnia
kelompok yang berisiko
53
angka kejadian tinggi terhadap kejadian
dekubitus dekubitus.
c. Kaji keadaan kulit teratur
setidaknya sehari sekali.
d. Kaji mobilitas pasien
e. Minimalkan terjadinya
tekanan
f. Bantu pasien dalam
melakukan ROM Pasif dan
Aktif

1. Menyusun format timbang


terima pasien serta
petunjuk teknis
pengisiannya lebih
3. Timbang Terima belum 1. Timbang terima Khaerul
menekankan pada aspek
efektif dalam dilakukan di Mubarak
perawatan
prosesnya Timbang terima Nurse Station Bafadal dan
2. Melaksanakan timbang
2. Isi timbang
dilakukan secara Deti Mayang
terima setiap pergantian
terima tentang
efektif Hermana
shift
masalah
3. Dokumentasi
keperawatan
yang sudah dan
belum teratasi
3. Timbang terima

54
1. Menentukan penyakit dan terdokumentasi
pasien apa saja yang dengan baik.
dirawat di Ruang IRNA
IIIC terbanyak untuk Setiap pasien mulai
4. Discharge Planning dilakukan pembuatan masuk sampai Khaerul
Format pemulangan leaflet atau penyuluhan pulang sudah Mubarak
2. Melakukan sosialisasi dan
pasien sudah ada dan Discharge Planning mendapatkan Bafadal dan
simulasi discharge planning
sudah dilaksanakan, dilaksanakan secara discharge planning Deti Mayang
di ruangan
tapi masih belum optimal dan atau penjelasan Hermana
3. Membagikan media
maksimal terdokumentasi mengenai penyakit
sosialisasi berupa leaflet ke
dengan baik dan proses
pasien
4. Dokumentasi perawatan dengan
media leaflet
1. Menentukkan pasien untuk
ronde
2. Mempersiapkan ronde
keperawatan
Ronde Keperawatan
3. Melaksanakan ronde
telah berjalan tapi Ronde keperwatan
keperawatan
5. belum maksimal sudah terlaksana Khaerul
bersama perawat Mubarak
Ronde Keperawatan ruangan dan tim Bafadal dan
terlaksana dengan kesehatan lainnya Deti Mayang

55
optimal sesuai Hermana
dengan prosedur

56
IMPLEMENTASI dan EVALUASI

NO PRIORITAS MASALAH IMPLEMENTASI EVALUASI


1 Angka kejadian flebitis Pencegahan kejadian flebitis 1. Kejadian dekubitus dapat
a. Mengikuti teknik aseptik selama diminimalisir setelah dilakukan
penusukan (cuci tangan sebelum tindakan keperawatan yaitu :
a. Perawat melakukan teknik
tindakan) dan saat pencampuran obat,
b. Menggunakan jarum yang sesuai aseptik selama penusukan
dengan ukuran vena, (cuci tangan sebelum
c. Pemantauan berkala area IV line tindakan) dan saat
d. Pendidikan pasien tentang tanda dan pencampuran obat,
gejala dari flebitis b. Perawat menggunakan jarum
yang sesuai dengan ukuran
vena,
c. Perawat melakukan
pemantauan berkala area IV
line
d. Perawat melakukan
Pendidikan pasien tentang
tanda dan gejala dari flebitis
2. Angka kejadian flebitis diruang
IRNA IIIC dapat diminimalisir
dengan persentase 10% (2 orang)

2 Angka kejadian dekubitus Angka kejadian dekubtitus : 1. Kejadian dekubius dapat


a. Mengkaji risiko invididu terhadap diminimalisir setelah dilakukan
kejadian dekubitus tindakan keperawatan yaitu :
b. Mengidentifikasi kelompok-kelompok a. Perawat telah mengkaji risiko
yang berisiko tinggi terhadap kejadian invididu terhadap kejadian
dekubitus. dekubitus
c. Mengkaji keadaan kulit teratur b. Perawat telah mengidentifikasi

57
setidaknya sehari sekali. kelompok-kelompok yang
d. Mengkaji mobilitas pasien berisiko tinggi terhadap
e. Meminimalkan terjadinya tekanan kejadian dekubitus.
f. Membantu pasien dalam melakukan c. Perawat telah mengkaji
ROM Pasif dan Aktif keadaan kulit teratur
setidaknya sehari sekali.
d. Perawat telah mengkaji
mobilitas pasien
e. Perawat telah meminimalkan
terjadinya tekanan
f. Perawat telah membantu
pasien dalam melakukan
ROM Pasif dan Aktif
2. Angka kejadian dekubitus
sebanyak 0%
3 Timbang terima belum efektif dalam a. Menyusun format timbang terima pasien 1. Timbang terima pertama
prosesnya serta petunjuk teknis pengisiannya lebih dilakukan di nurse station
menekankan pada aspek perawatan kemudian ke ruangan perawatan
b. Melaksanakan timbang terima setiap pasien dan kembali lagi ke nurse
pergantian shift station.
c. Mendokumentasikan timbang terima 2. Proses timbang terima dipimpin
pasien oleh kepala ruangan dan
dilaksanakan oleh seluruh perawat
yang bertugas maupun yang akan
mengganti shift.
3. Perawat primer mengoperkan ke
perawat primer berikutnya yang
akan mengganti shift.
4. Isi timbang terima mencangkup
jumlah pasien, diagnosis medis,

58
intervensi yang belum/sudah
dilakukan.
5. Timbang terima dapat dilaksakan
setiap pergantian shift. Setiap
perawat dapat mengetahui
perkembangan paasien.
Komunikasi antar perawat
berjalan dengan baik.
4 Discharge Planning a. Menentukan penyakit terbanyak untuk 1. Pasien sudah diberikan leaflet dan
Format pemulangan pasien sudah ada dilakukan pembuatan leaflet atau sudah dilaakukan penyuluhan
dan sudah dilaksanakan, tapi masih penyuluhan tentang penyakit yang diderita.
belum maksimal b. Melakukan sosialisasi dan simulasi
discharge planning di ruangan
c. Membagikan media sosialisasi berupa
leaflet ke pasien
d. Mendokumentasi hasil dari discharge
planning
5 Ronde Keperawatan telah berjalan tapi a. Menentukkan pasien untuk ronde 1. Telah dilaksanakan ronde
belum maksimal b. Mempersiapkan ronde keperawatan keperawatan pada hari Senin, 2
c. Melaksanakan ronde keperawatan April 2018. Pasien dengan
diagnose medis
Hipoglikemi+Sepsis. Ronde
keperawatan diikuti oleh perawat
ruangan, dokter, ahli gizi, dan
apoteker. Don hasil terakhir dari
kondisi pasien yaitu pasien
membaik, dan pasien
diperbolehkan pulang pada hari
Kamis, 5 April 2018.

59
60
Lampiran 1 (Kuisioner)

Tabel 1.1 Penilaian Dekubitus (Norton Scale)

Indikator Temuan Nilai


Kondisi Fisik Baik 4
Cukup baik 3
Buruk 2
Sangat buruk 1
Kondisi mental Waspada 4
Apatis 3
Bingung 2
Stupor / pingsan/tidak sadar 1
Kegiatan Dapat berpindah 4
Berjalan dengan bantuan 3
Terbatas di kursi 2
Terbatas di tempat tidur 1
Mobilitas Penuh 4
Agak terbatas 3
Sangat terbatas 2
Tidak/sulit bergerak 1
Inkontinensia Tidak ngompol 4
Kadang-kadang 3
Biasanya urine 2
Kencing dan kotoran 1
Total
Interpretasi :
 Nilai maksimum 20
 Nilai minimum 5
 Pasien berisiko dekubitus jika nilai <14

Tabel 1.2 Penilaian Flebitis Berdasarkan Skor Vip (Visiual Infusion Flebitis Score)

61
IV line nampak sehat 0 Tidak ada tanda Observasi kanul
flebitis
Terdapat salah satu tanda-tanda berikut 1 Mungkin tanda- Observasi kanul
jelas: tanda pertama
 sedikit nyeri dekat IV line flebitis
 sedikit kemerahan dekat IV line

Dua dari tanda berikut ialah: 2 Tahap awal flebitis Pindahkan kanul
 nyeri pada IV line
 kemerahan
 pembengkakan
Semua tanda-tanda berikut jelas: 3 Tahap menengah Pindahkan kanul,
 nyeri sepanjang kanul flebitis Pertimbangkan
 kemerahan perawatan infeksi
 pembengkakan
Semua tanda-tanda berikut adalah nyata: 4 Tahap lanjut flebitis Pindahkan kanul,
 nyeri sepanjang kanul atau awal Pertimbangkan pera-
 kemerahan tromboflebitis watan infeksi
 pembengkakan
 vena teraba keras
Semua tanda-tanda berikut adalah nyata: 5 Stadium lanjut trom- Memulai perawatan
 nyeri di sepanjang kanul boflebitis infeksi
 kemerahan
 pembengkakan
 vena teraba keras
 pireksia

Keterangan :
Skala Nyeri Intervensi
1. 0 = Tidak ada tanda flebitis 1.Observasi kanul
2. 1-2=Tahap awal flebitis 2.Resite kanul
3. 3-4=Awal tromboflebitis 3.Resite kanul dan
pertimbangan perawatan
4. 5 = Stadium lanjut tromboflebitis 4.Memulai perawat

Tabel 1.3 Skala Peringkat Kecemasan Diri


NO PERNYATAAN TIDAK KADANG- SEBAGIAN HAMPIR
PERNAH KADANG WAKTU SETIAP

62
WAKTU
1 Saya merasa lebih gugup 1 2 3 4
dan cemas dari
biasanya.
2 Saya merasa takut tanpa 1 2 3 4
alasan sama sekali.
3 Saya mudah marah atau 1 2 3 4
merasa panic
4 Saya merasa seperti jatuh 1 2 3 4
terpisah dan akan
hancur berkeping-
keping.
5 Saya merasa bahwa 4 3 2 1
semuanya baik-baik
saja dan tidak ada
hal buruk akan
terjadi.
6 Lengan dan kaki saya 1 2 3 4
gemetar.
7 Saya terganggu oleh 1 2 3 4
nyeri kepala leher
dan nyeri
punggung.
8 Saya merasa lemah dan 1 2 3 4
mudah lelah.
9 Saya merasa tenang dan 4 3 2 1
dapat duduk diam
dengan mudah
10 Saya merasakan jantung 1 2 3 4
saya berdebar-debar
11 Saya merasa pusing tujuh 1 2 3 4
keliling
12 Saya telah pingsan atau 1 2 3 4
merasa seperti itu.
13 Saya dapat bernapas 4 3 2 1
dengan mudah
14 Saya merasa jari-jari 1 2 3 4
tangan dan kaki
mati rasa dan
kesemutan.
15 Saya terganggu oleh 1 2 3 4
nyeri lambung atau

63
gangguan
pencernaan.
16 Saya sering buang air 1 2 3 4
kecil
17 Tangan saya biasanya 4 3 2 1
kering dan hangat.
18 Wajah Saya terasa panas 1 2 3 4
dan merah merona
19 Saya mudah tertidur dan 4 3 21
dapat istirahat
malam dengan baik
20 Saya mimpi buruk. 1 2 3 4

Rentang penilaian 20–80, dengan pengelompokan antara lain:


1. skor 20–44: normal/tidak cemas;
2. skor 45–59: kecemasan ringan;
3. skor 60–74: kecemasan sedang;
4. skor 75–80: kecemasan berat.

64
65
66