Anda di halaman 1dari 13

KRUK

(TONGKAT PENYANGGA)

Dosen Pengampu : Ns. Priyanto, M.Kep., Sp.KMB

Disusun oleh :
Estri Linda Wijayanti
010114A030
PSIK-A / III

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


STIKES NGUDI WALUYO
UNGARAN
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada jaman dahulu ketika seseorang mengalami cedera kaki, mereka
menggunakan kayu sebagai penyangga tubuh mereka dan membantu untuk
dapat berjalan. Tetapi dengan menggunakan kayu itu tidak dapat bertahan
lama dan pasti ada kendala saat menggunakan kayu. Tetapi dengan
berjalannya waktu banyak ilmuwan yang menciptakan alat kesehetan
bantu jalan ini yang terbuat dari bahan metal yang lebih kuat. Ada banyak
berbagai macam alat bantu jalan yang dapat dijumpai pada saat ini. Alat
bantu jalan yang diciptakan disesuaikan dengan kebutuhan pasien atau
disesuaikan dengan indikasi yang dialami oleh pasien. Pada umumnya alat
bantu yang digunakan yaitu kruk aksila.

B. RUMUSAN MASALAH
a. Apakah yang dimaksud dengan kruk?
b. Bagaimana fungsi dari kruk?
c. Bagaimana kompetensi dasar yang harus dimiliki perawat?
d. Bagaimana cara mengukur kruk?
e. Bagaimana cara menggunakan kruk dengan baik?
f. Apakah kelebihan dan kekurangan dari penggunaan kruk?
g. Apakah indikasi dan kontra indikasi untuk pemakaian kruk?
h. Bagaimana aspek keamanan dalam pemakaian kruk?
i. Bagaimana perkembangan kruk saat ini?
j. Bagaimana peran perawat dalam penggunaan kruk?

C. TUJUAN MASALAH
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan kruk
b. Agar mahasiswa tahu fungsi kruk
c. Agar mahasiswa mengetahui kompetensi dasar yang harus dimiliki
perawat
d. Agar mahasiswa mengetahui cara mengukur kruk
e. Agar mahasiswa mengetahui cara menggunakan kruk dengan benar
f. Agar mahasiswa mengetahui kelebihan dan kekurangan dari
penggunaan kruk
g. Agar mahasiswa mengetahui indikasi dan kontra indikasi untuk
pemakaian kruk
h. Agar mahasiswa mengetahui aspek keamanan dalam pemakaian kruk
i. Agar mahasiswa mengetahui perkembangan kruk saat ini
j. Agar mahasiswa mengetahui peran perawat dalam pengunaan kruk
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian kruk
Pada umumnya kita sering mendengar alat bantu jalan, didunia kesehatan
ada alat bantu jalan untuk orang cacat atau bagi mereka yang sakit dan
tidak bisa berjalan, yaitu kruk. Kruk adalah suatu alat bantu jalan yang
berupa tongkat dengan pegangan ditengah supaya dapat digunakan sebagai
pegangan. Pemakaiannya dengan cara dijepit diketiak, alat ini sangat
dibutuhkan bagi mereka yang baru saja kecelakaan yang mengakibatkan
kakinya sakit (patah) atau mereka yang cacat sehingga sulit dalam berjalan
atau dalam kata lain kruk adalah alat penopang kaki pemakainya. Kruk
sendiri ada beberapa macam mulai yang terbuat dari besi sampai yang
terbuat dari alumunium. Sebelum menggunakan alat tersebut pemakai
harus menyesuaikan dengan ukuran tubuhnya terlebih dahulu karena alat
ini terdiri dari beberapa macam ukuran. Untuk orang yang sakit misalnya
kecelakaan, mereka kalau sudah sembuh pasti tidak akan mengunakan alat
ini lagi, sehingga alat tersebut akan disimpan atau diberikan kepada
mereka yang membutuhkan. Permasalahannya kalau diberikan kepada
orang lain apakah orang tersebut sama dengan ukuran data antropometri
pengguna sebelumnya.
Kruk adalah alat bantu berjalan yang terbuat dari kayu atau metal. Kruk ini
dibutuhkan untuk meningkatkan mobilitas klien dengan gangguan moilitas
(Potter & Perry, 2010). Penggunakan kruk dapat bersifat sementara
ataupun pemanen. Kruk harus dapat membantu seseorang untuk berjalan
secara mandiri. Kruk dipergunakan untuk memudahkan klien dalam
berjalan agar terhindar dari resiko cedera dan juga menurunkan
ketergantungan pada orang lain.

B. Fungsi Kruk
Ada beberapa fungsi dari kruk atau alat bantu jalan ini, yaitu:
a. Sebagai alat bantu berjalan
b. Mengatur atau memberi keseimbangan waktu berjalan
c. Membantu menyokong sebagian berat badan
d. Meningkatkan kekuatan otot, pergerakan sendi dan kemampuan
mobilisasi
e. Menurunkan resiko komplikasi dari mobilisasi
f. Menurunkan ketergantungan pasien pada orang lain
g. Meningkatkan rasa percaya diri pasien
h.

C. Kompetensi Dasar yang Harus Dimiliki Perawat


Kompetensi yang harus dimiliki perawat adalah kompetensi mengenai
penggunaan kruk dan jenis kruk. Dari segi jenis, semua jenis kruk
membutuhkan ujung isap, biasanya dilapisi karet untuk embantu pasien
agar tidak tergelincir saat berjalan dilantai. Menurut Berman, Et al (2002)
ada tiga jenis kruk yang sering digunakan yaitu kruk aksila, kruk lostfrand
atau forearm dan kruk platform. Kruk aksila merupakan kruk yang
memiliki permukaan dengan bantalan dibagian atas untuk meletakan aksila
dan disertai dengan penyangga tangan. Kruk lostfrand memiliki pegangan
metal yang jangkauannya hanya hingga lengan bawah yang disesuaikan
dengan tinggi pasien. Sedangkan kruk platform atau kruk ekstensi siku
mempunyai manset untuk lengan atas.

D. Mengukur Kruk
Kruk aksila lebih umum digunakan ketika mempersiapkan pasien
menggunakan kruk, perawat harus juga mengajarkan penggunaan kruk
yang aman dan mengukur kruk pasien dengan benar. Pengukuran kruk
meliputi tiga area yaitu :
1. Tinggi pasien
2. Jarak antara bantalan kruk dan aksila
3. Suduk fleksi siku
Pengukuran dilakukan denagn satu dari dua metoda berikut, dengan pasien
berada pada posisi telentang-ujung kruk berada 15cm disamping tumit
pasien. Tempatkan ujung pita pengukur dengan lebar tiga sampai empat
jari (4-5cm) dari aksila dan ukur sampai tumit pasien. Berdiri posisi kruk
dengan ujung kruk berada 14-15cm disamping dan 14-15cm didepan kaki
klien. Dengan metode lain siku harus difleksikan 15-39 derajat. Fleksi siku
diperiksa dengan menggunakan goniometer. Lebar bantalan kruk harus 3-4
lebar jari (4-5cm) dibawah aksila.
E. Cara Menggunakan Kruk dengan Benar
Dalam menggunakan kruk dengan benar perlu pendampingan dan arahan
dari perawat. Beberapa cara berjalan yang baik dengan kruk yaitu :

a. Cara jalan alternatif 4 titik (four-point alternatif gait)


Cara jalan seperti ini merupakan cara jalan yang paling dasar dan
paling aman, memberikan minimal 3 penyangga setiap saat. Namun
cara ini membutuhkan koordinasi. Cara ini dapat digunakan ketika
berjalan ditengah keramaian karena tidak memerlukan ruang yang
besar. Untuk menggunakan cara jalan ini, kedua tungkai klien harus
mampu menjadi tumpuan sejumlah berat badan klien. Minta klien
untuk:
1. Menggerakan kruk sebelah kanan kedepan pada jarak yang sesuai
(10-15 cm)
2. Menggerakan tungkai kiri kedepan, sebaiknya sejajar dengan kruk
3. Menggerakan kruk kiri kedepan
4. Menggerakan kaki kanan kedepan

b. Cara jalan alternatif 3 titik (three - point gait)


Untuk menggunakan cara jalan ini, klien harus mampu menahan
seluruh berat badan pada tungkai yang kuat. Kedua kruk dan tungkai
yang kuat menahan berat badan secara bergantian. Minta pasien untuk:
1. Menggerakan kedua kruk dan tungkai yang lemah kedepan secara
bersamaan
2. Menggerakan tungkai yang kuat kedepan

c. Cara jalan alternatif 2 titik (two-point alternatif gait)


Cara jalan ini lebih cepat dibandingkan cara jalan empat titik. Cara ini
membutuhkan keseimbangan yang lebih baik, karena hanya 2 titik
yang menyangga tubuh. Selain itu setiap tungkai harus menahan
minimal setengah berat badan. Pada cara ini gerakan lengan dengan
kruk sama dengan gerakan lengan saat berjalan biasa. Minta klien
untuk :
1. Menggerakan kruk sebelah kiri dan tungkai kanan kedepan secara
bersamaan
2. Menggerakan kruk sebelah kanan dan tungkai kiri kedepan secara
bersamaan

d. Cara Jalan Mengayun ke Kruk


Pasien yang mengalami paralisis tungkai dan pinggul dapat
menggunakan cara ini. Penggunakan cara ini dalam waktu lama dapat
mengakibatkan atropi otot yang tidak terpakai. Cara jalan mengayun
ke kruk ini adalah yang paling mudah dari kedua cara jalan mengayun.

Minta pasien untuk :


1. Menggerakan kedua kruk secara bersamaan kedepan
2. Pindahkan berat badan ke lengan lalu mengayun ke kruk

e. Cara Jalan Mengayun Melewati Kruk


Cara jalan ini sangat memerlukan keterampilan, kekuatan, dan
koordinasi pasien. Minta pasien untuk :
1. Menggerakan kedua kruk kedepan secara bersamaan
2. Pindahkan berat badan kelengan dan mengayun melewati kruk

f. Menaiki Tangga
Ketika naik tangga dengan menggunakan kruk, pasien biasa
menggnakan modifikasi gaya berjalan tiga titik.
Berdiri dibelakang pasien dekat dengan sisi yang lemah. Minta pasien
untuk :
1. Menggambil posisi segitiga didasar tangga
2. Mengalihkan berat badan kekruk dan menggerakan tungkai yang
kuat ketas anak tangga
3. Mengalihkan berat badan ketungkai yang kuat diatas anak tangga
dan gerakan kruk dan tungkai yang lemah ketas anak tangga. Kruk
selalu menyangga tungkai yang lemah
4. Ulangi hingga bagian teratas tangga
Pasien bias perlu menggunakan kruk untuk beberapa waktu, sehingga
mereka harus diajarkan penggunaan kruk ditangga sebelum pulang.
Ajarkan untuk naik tangga kepada pasien tergantung kruk, tidak hanya
untuk pasien yang mempunyai tangga di rumahnya.

g. Menuruni Tangga
Berdirilah satu anak tangga dibawah pasien pada sisi yang lemah.
Minta pasien untuk :
1. Mengambil posisi segitiga ditangga teratas
2. Memindahkan berat badan ketungkai yang kuat, dan gerakan kruk
dan tungkai yang lemah ke anak tangga dibawahnya
3. Mengalihkan berat badan kekruk dan gerakan tungkai yang kuat ke
anak tangga yang sama. Kruk selalu menyangga tungkai yang
lemah
4. Mengulangi langgah hingga ke dasar anak tangga
Atau dengan cara :
1. Memegang kedua kruk pada tangan bagian luar dan pegang pagar
tangga dengan tangan lain sebagai penyangga
2. Memindahkan berat badan ketungkai yang kuat dan gerakan kruk
dan tungkai yang lemah ke anak tangga dibawahnya
3. Mengalihkan berat badan kekruk dan gerakan tungkai yang kuat ke
anak tangga yang sama. Kruk selalu menyangga tungkai yang
lemah
h. Mengajarkan Duduk dengan Menggunakan Kruk
Prosedur duduk dikursi memerlukan pasien memindahkan beratnya.
Peratama, pasien harus diletakan ditengah depan kursi dengan kaki
bagian posterior menyentuh kursi. Kedua, pasien memegang kedua
kruk pada tangan yang berlawanan dengan kaki yang sakit. Jika kedua
kaki sakit, seperti pada pasien paraplegia yang menggunakan penahan
berat, kruk dipegang pada bagian tubuh pasien yang terkuat. Dengan
kedua kruk disatu tangan pasien menyokong berat badannya dikaki
yang tidak sakit dan kruk. Selama masih memegang kruk pasien
memegang lengan kursi dengan menahan tangannya dan menurunkan
tubuh. Untuk berdiri maka prosedur dibalik, dan pasien, ketika telah
lurus, harus berada pada posisi tripot sebelum berjalan.

F. Kelebihan dan Kekurangan Kruk


Alat apapun pasti mempunyai kelebihannya dan kekurangan masing-
masing. Adapaun kelebihan dan kelemahan dari kruk , yaitu :
a. Kelebihan Kruk
1. Menopang berat badan secara signifikan. Satu kruk 80% dan dua
kruk 100%
b. Kekurangan Kruk
Membutuhkan kekuatan energi dan kekuatan pada bagian tubuh atas,
tidak cocok digunakan pada lansia yang lemah. Selain itu ada juga
kekuranga kruk berdasarkan macamnya , antara lain :
1. Kruk Aksila
 Bersifat sementara (injuri akut)
 Dapat disesuaikan sesuai tubuh
 Membutuhkan kekuatan tubuh bagian atas
 Sulit untuk digunakan
 Resiko kompresi arteri atau saraf diaksila jika salah
menggunakan

2. Kruk Lengan
 Digunakan pada pasien yang aktif dengan kelemahan kaki
 Mobilisasi lebih baik dibandingkan dengan kruk aksila
 Terdapat fiksasi pada lengan dan pengangan pada tangan

G. Indikasi dan Kontra Indikasi


a. Indikasi :
 Pasien dengan cedera dan fraktur ekstremitas bawah
 Pasien dengan kerusakan ligamen bawah
 Pasien yang mengalami kelumpuhan ekstremitas bawah
 Pasien dengan kelemhan ekstremitas bawah
b. Kontra Indikasi :
 Pasien dengan penurunan kesadaran
 Pasien post-op yang masih belum stabil
 Pasien yang mengalami kelemahan

H. Aspek Keamanan yang Harus Diperhatikan


Ada beberapa aspek keamanan agar pasien dapat tetap nyaman dan aman
ketika memakainya, antara lain yaitu :
1. Pastikan Grid, Pad, dan Skrub berada pada posisi kuat dan sesuai
2. Bersihkan bagian bawah kruk, bagian bawah harus terbebas dari debu
dan batu
3. Pastikan ada yang mendampingi ketika pertama kali menggunakan
kruk

I. Perkembangan Kruk Saat Ini


Di dunia kesehatan kita telah mendengar alat bantu jalan atau biasa yang
disebut dengan kruk yaitu berupa tongkat yang dilengkapi penopang
ketiak dan genggaman tangan. Pemakaiannya dengan cara dijepit diketiak,
alat ini sangat dibutuhkan bagi mereka yang baru saja kecelakaan yang
mengakibatkan kakinya sakit (parah) atau mereka yang cacat sehingga
sulit dalam berjalan atau dalam kata lain karuk adalah alat penopang kaki
pemakainya. Dari survei awal yang telah dilakukan pada penggunaan kruk
yang sudah ada mengeluhkan setelah menggunakan kruk, ketiaknya
merasa sakit dikarenakan penopang ketiak yang keras dan ukuran
jangkauan tangan pada saat digunakan, serta mereka kesulitan pada saat
akan membawa karena ukuran alat yang panjang atau dengan ukuran yang
besar ataupun saat akan menyimpan kruk di mobil dikarenakan ukurang
yang masih sangat panjang pada saat penggunaan akan berpergian.
Dalam menggunakan suatu produk kita akan selalu mencari yang lebih
praktis baik dalam penggunaan maupun dalam penyimpanan, karena hal
tadi akan sangat meringankan beban kita dalam menggunakannya. Seiring
dengan perkembangan jaman suatu produk akan selalu mengalami inovasi
sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Karena keberhasilan industri
dalam menghadapi persaingan ditentukan oleh keberhasilan dalam
merancang dan mengembangkan produk yang sesuai dengan keinginan
konsumen dan kecepatan industri tersebut dalam merespon perubahan
keinginan konsumennya. Maka dengan adanya masalah tersebut munculah
ide untuk merancang ulang alat bantu jalan (kruk) yang ergonomis,
sehingga memberikan kenyamanan serta praktis dalam penyimpanan dari
kruk yang sebelumnya.

J. Peran Perawat dalam Penggunaan Kruk


Dalam membantu pasien berjalan, seperti prosedur lain, membantu pasien
berjalan membutuhkan persiapan. Perawat mengkaji toleransi aktivitas,
kekuatan, nyeri, koordinasi dan keseimbangan klien untuk menentukan
jumlah bantuan yang diperlukan. Perawat menjelaskan seberapa jauh
pasien mencoba berjalan, siapa yang akan membantu, kapan dilakukan
kegiatan berjalan, dan mengapa berjalan itu penting. Selain itu, perawat
dan pasien menentukan berapa banyak kemandirian pasien dapat
diberikan.
Perawat juga memeriksa lingkungan untuk memastikan tidak ada
rintangan dijalan pasien. Kursi, penutup meja tempat tidur, kursi roda
disingkirkan dari jalan sehingga pasien memiliki ruangan yang luas untuk
berjalan. Sebelum memulai, menentukan tempat beristirahat pada kasus
dengan perkiraan kurang toleransi aktivitas atau pasien menjadi pusing.
Misalnya, jika diperluan kursi dapat ditempatkan diruangan yang
digunakan pasien beristirahat.
Untuk mencegah hipotensi ortostatik, pasien harus dibantu duduk disisi
tempat tidur dan harus beristirahat selama 1 menit sampai 2 menit sebelum
berdiri. Demikian juga pada saat pasien setelah berdiri, pasien harus tetap
berdiri 1 sampai 2 menit sebelum bergerak. Keseimbangan pasien harus
stabil sebelum berjalan. Sehingga perawat dapat dengan segera membawa
pasien yang pusing kembali ke tempat tidur. Periode imobilisasi yang lama
memperbesar risiko hipotensi ketika pasien berdiri.
Perawat harus memberikan sokongan pada pinggang sehingga pusat
gravitasi pasien tetap berada digars tengah. Hal ini dapat mencapai ketika
perawat menempatkan kedua tangannya pada pinggang pasien atau
menggunakan ikat pinggang berjalan (walking belt). Waliking belt adalah
ikat pinggang kulit yang melingkari pinggang pasien yang memiliki
pemegang yang dibuat bagi perawat untuk dipegang. Selama berjalan,
pasien seharusnya tidak bersandar disatu sisi karena hal ini mengganggu
pusat gavitasi, mengubah keseimbangan dan meningkatkan resiko jatuh.
Pasien yang telihat tidak siap atau mengeluh pusing harus dikembalikan
ditempat tidur atau kursi terdekat. Jika pasien pingsan atau mulai jatuh,
perawat harus memberikan sokongan dengan dasar lebar yaitu satu kaki
berada didepan yang lain, sehingga menyangga berat badan pasien.
Kemudian perawat harus menurunkan pasien secara perlahan-lahan
kelantai, melindungi kepala pasien. Meskipun menurunkan pasien kelantai
tidak sulit, mahasiswa harus mempraktikan teknik tersebut dengan kawan
atau dengan teman kelas sebelum mencoba pada situasi klinik.
Pasien hemiplagia (paraisis pada satu sisi) atau hemiparesis (kelemahan
pada satu sisi) sering memerlukan bantuan berjalan. Perawat selalu berdiri
disamping bagian tubuh pasien yang sakit dan menyokong pasien dengan
satu lengan memeluk pinggang pasien dan lengan lain mengelilingi lengan
bagian inferior pasien sehingga tangan perawat berada dibawah aksila
pasien. Memberikan sokongan dengan memegang lengan pasien adalah
salah akrena perawat tidak mudah menyokong berat untuk menurunkan
pasien kelantai jika pasien pingsan atau terjatuh. Selain itu, jika perawat
memegang lengan pasien yang jatuh dapat menyebabkan dislokasi sendi
bahu. Perawat yang tidak kuat dan tidak ammpu memindahkan pasien
sendiri harus membutuhkan bantuan. Metode 2 perawat membantu untuk
mendistribusikan berat pasien secara rata. 2 perawat berdiri disetiap sisi
pasien.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Alat bantu pasien adalah alat bantu jalan yang digunakan pada penderita
atau pasien yang mengalami penurunan kekuatan otot dan patah tulang
pada anggota gerak bawah serta gangguan keseimbangan. Maka banyak
dikembangkan alat bantu seperti kruk aksila, kruk lostfrand atau forearm
dan kruk platform. Kruk ini digunakan sesuai dengan kebutuhan pasien
atau tingkat kesulitan pasien dalam berjalan.
DAFTAR PUSTAKA

Perry, Potter. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan . Ed 4, Vol 2.


(terjemahan Renata Komalasari. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Potter, P. A. & Perry, A.G. (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan :


Fundamental of Nursing. Ed 7, Vol 2. (terjemahan Andrina
Vendrika). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Berman, A., Synder, S., Kozier, B., & Erb, G. (2002). Buku Praktik
Keperawatan Klinis Kozier & Erb: Kozier and Erb’s techniques in
Clinical nursing. Ed. 5. (Terj. Eni Meiliya, et al.). Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC
LAMPIRAN GAMBAR

1. Kruk Aksila

2. kruk lostfrand atau forearm

3. Kruk platform
4.