Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Problematika kehidupan keluarga kian lama kian kompleks seiring spirit
perubahan zaman dan paradigma berpikir individu maupun komunitas tertentu
terhadap hakikat atau esensi sebuah perkawinan. Perkawinan adalah kegiatan
yang sakral. Konsep itu selalu memandang lembaga sosial tersebut dari sudut
pandang filsafat- teologis sehingga tidak jarang melahirkan benturan konsep,
antara ruang yang transenden dan interpretasi menurut rasio manusia. Namun,
gejolak zaman terus “menggugat” hakikat atau esensi sebuah perkawinan
manakala manusia mengalami kegetiran hidup yang menuntut adanya sebuah
rumusan baru atau sebuah rekonstruksi pemahaman yang lebih seimbang.
Himpitan ekonomi, tranformasi budaya, politik merupakan bentuk-bentuk
gugatan terhadap cara pandang di atas.

Simpul-simpul permasalahan sebuah rumah tangga yang tidak dapat diurai


secara jelas dapat menyebabkan keretakan sebuah kebersamaan yang serius
yaitu ,perceraian. Perceraian kemudian melahirkan babak kehidupan baru
seperti terjadinya peran baru yang disebut single parent. Realitas sosial itu
kemudian menjadi sebuah guratan impresi ketika diciptakan kembali oleh
pengarang (novelis) dengan bakat kepengarangannya. Karya sastra tersebut
selanjutnya dimaknai sebagai lembaga sosial yang tampil sebagai corong
perwakilan gagasan bagi sebuah nilai yang belum semuanya memasyarakat.

Manusia dalam proses perkembangannya untuk meneruskan jenisnya


membutuhkan pasangan hidup yang dapat memberikan keturunan sesuai
dengan apa yang ingin diinginkannya. Perkawinan sebagai jalan untuk bisa
mewujudkan suatu keluarga atau rumah tangga bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini dimaksudkan bahwa perkawinan itu
hendaknya berlangsung seumur hidup dan tidak boleh berakhir begitu saja.

1
Perkawinan pada umumnya dilakukan oleh orang dewasa dengan tidak
memandang pada profesi, agama, suku bangsa, miskin atau kaya, tinggal di
desa atau di kota. Usia perkawinan yang terlalu muda mengakibatkan
meningkatnya kasus perceraian karena kurangnya kesadaran untuk
bertanggungjawab dalam kehidupan berumah tangga bagi suami-istri.
Meskipun batas umur perkawinan telah ditetapkan dalam pasal 7 ayat (1) UU
No. I tahun 74, yaitu perkawian hanya diijinkan jika pihak pria sudah
mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudak mencapai umur 16 tahun.
Namun dalam prakteknya masih banyak kita jumpai perkawinan pada usia
muda atau di bawah umur, padahal perkawianan yang sukses membutuhkan
kedewasaan tanggungjawab secara fisik maupun mental untuk bisa
mewujudkan garapan yang ideal dalam kehidupan berumah tangga. Peranan
orang tua sangat besar artinya bagi psikologis anak-anaknya. Mengingat
keluarga adalah tempat pertama bagi tumbuh perkembangan anak sejak lahir
hingga dengan dewasa maka pola asuh anak dalam perlu disebar luaskan pada
setiap keluarga.

Dalam setiap sendi kehidupan, kita tak terlepas dari peran dan sentuh wanita.
Peran wanita sangat beragam dalam kehidupan. Ia bisa menjadi seorang ibu
yang pengasih dan penyayang, tapi juga bisa sekaligus menjadi sosok kokoh
untuk dijadikan tempat bersandar keluarganya.
Konon, sejarah Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember, dimulai pada
tahun 1928 di Yogyakarta. Pada awalnya hari itu diperingati sebagai upaya
untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya
perbaikan kualitas bangsa. Namun dari sana, kita bisa bercermin bahwa
sebenarnya, wanita yang selalu diidentikkan dengan kelemah lembutan
sebenarnya memiliki daya untuk mengubah suatu hal jika mereka mau
berupaya. Bahkan wanita memiliki daya untuk mengubah bahkan
menggerakkan suatu hal yang besar, contohnya, perekonomian negara kita.

Rommy Haryanto, dari Peduli Perempuan, pada acara The Surviving Female
Peddlers Photo Exhibition, (17/12), Plaza Senayan, Jakarta, mengatakan,

2
bahwa sebenarnya dua per tiga kontribusi ekonomi negeri kita berasal dari
wanita. Namun sayangnya, dampaknya tidak terlalu terasa karena pekerjaan
mereka tidak diakui. Di mulai dari yang terkecil, misal, di pedesaan, yang
didominasi petani wanita, nama mereka tidak tercantum dalam koperasi,
ataupun hasil kerja mereka menuai panen tumbuh-tumbuhan tidak diekspos.
Padahal hasil kerja mereka itu kemudian menggerakkan roda ekonomi kita.

Kurangnya ekspos dan pengakuan bahwa wanita masa kini sudah memiliki
kekuatan dan memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan-perubahan
kecil mendorong banyak pihak untuk mendorong para wanita agar lebih
berkarya. Seperti yang dilakukan oleh Tupperware beberapa waktu, lewat
acara yang mereka beri nama Tupperware She Can! Award yang dilakukan
pada pertengahan Desember 2009 lalu di Hotel Indonesia Kempinski. Acara
ini merupakan sebuah penganugerahan penghargaan kepada 38 wanita
Indonesia yang dinilai inspiratif. Para wanita ini telah melewati berbagai
seleksi untuk bisa mendapatkan penghargaan tersebut. Para wanita-wanita ini
dianggap mampu menginspirasi banyak orang karena kemampuan mereka
yang mencerahkan, mengedukasi, dan memberdayakan orang sekitar untuk
mewujudkan impian-impian mereka. Sebut saja, Yayuk Basuki, Waldjinah,
Ligwina Hananto, Alberthiene Endah, Anne Avantie, dan wanita-wanita
Indonesia yang namanya mungkin belum banyak terekspos media, namun
peran karya mereka memiliki dampak tersendiri di sekitarnya. Mereka
mendapatkan penghargaan karena kemauan dan usaha mereka untuk
melakukan perubahan. Mereka adalah wanita-wanita Indonesia yang
membuktikan bahwa ketika seorang wanita mau berupaya, mereka bisa.

Sementara, pesan bahwa wanita memang memiliki peran dan “warna” yang
unik dalam hidup ini dan bisa menjadi seorang agen perubahan disebarkan
oleh Unilever dalam acaranya yang bertajuk Warna Warni Kasih Ibu di Grand
Indonesia Shopping Town. Pada peresmian dibukanya acara ini, Kamis
(17/12) lalu, Okty Damayanti, Customer Development Director mengatakan,
“Bahwa jika kita menginginkan adanya perubahan di masyarakat, maka

3
mulailah dari wanita. Karena, perjuangan ibu adalah tanpa pamrih, dan
mereka melakukannya dengan hati. Wanita juga memiliki peran yang besar
dalam segala hal di kehidupan kita. Tanpa sadar, sentuh mereka bisa
mengubah banyak hal, dimulai dari keluarga.”

1.2 Rumusan Masalah


1) Apa Pengertian Perkawinan?
2) Apa itu perkawinan muda?
3) Apa Definisi wanita ditempat kerja?
4) Apa saja Jenis-jenis pekerjaan wanita?
5) Apa saja Konsep dan nilai kerja?
6) Apa saja Faktor yang mempengaruhi?
7) Apa saja Peraturan dan kebijakan?
8) Bagaimana terjadinya Kasus dan kecelakaan kerja?

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Keluarga


Konsep keluarga bukan lagi kaku secara teori konvensional bahwa keluarga
terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak kandung.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dalam suatu atap dalam
keadaan saling ketergantungan. (depkes RI 1998)

2.2 Fungsi keluarga menurut WHO


1. Fungsi biologis
2. Fungsi psikologis
3. Fungsi sosial budaya
4. Fungsi sosial ekonomi
5. Fungsi pendidikan

2.3 Sosiologi Keluarga


Gagasan lahirnya ilmu sosiologi keluarga berawal dari momentum revolusi
Perancis 1789 yang diikuti perubahan mendalam pada hubungan keluarga.
Perubahan-perubahan itu jauh lebih ekstrim tatkala dunia dilanda perang
dunia Ke-II di mana pemimpin negara-negara yang sedang menuju tahap/era
industrialisasi, mengeluarkan undang-undang baru yang bertujuan
membentuk pola-pola keluarga yang lebih sesuai dengan tuntutan kehidupan
kota dan industri (Hasyim,2004:3).

Sosiologi keluarga memandang bahwa setiap keluarga ialah fungsi pengantara


masyarakat besar. Daya tahan sebuah keluarga terletak pada pemenuhan
kebutuhan-kebutuhannya, baik yang bersifat primer maupun yang bersifat
tersier, seperti produksi dan pembagian makanan, perlindungan terhadap
kaum muda dan tua, yang sakit dan yang mengandung, persamaan hukum,

5
pengembangan generasi muda dalam kehidupan sosial, dan lain sebagainya
(Hasyim, 2004: 3).

Revolusi industri yang terjadi telah membawa perubahan-perubahan yang


sangat signifikan. Di satu sisi revolusi industri membawa dampak positif bagi
perkembangan ilmu dan pertumbuhan ekonomi, di sisi lain revolusi industri
membawa imbas negatif yang begitu dahsyat. Etos-etos tradisi terancam
tercabut dari akarnya dan kecemasan yang mendalam akan semakin hilangnya
kekuasaan dan wibawa gereja dan kerukunan hidup (Ihromi,2004:3). Pola-
pola keluarga tradisional yang mapan memperoleh kesaksian yang dahsyat.
Kerukunan hidup keluarga terkoyak. Goode mengemukakan satu contoh
fenomena sosial yang melanda keharmonisan keluarga sebagai dampak
revolusi industri dan perkotaan. “Seperempat sampai sepertiga pasangan yang
menikah akan bercerai, mereka tidak menjunjung tinggi nilai monogami”.
Kinsey memperkirakan bahwa setengah dari semua laki-laki yang telah
menikah melakukan hubungan kelamin di luar perkawinan, tetapi barangkali
sebagian besar dari mereka percaya akan manfaat kesetiaan. (Hasyim,
2004:12)

Revolusi industri, pola keluarga konjunal serta masalah urbanisasi menjadi


variabel utama yang menggerogoti kerukunan keluarga sekalipun perkawinan
itu dibangun berdasarkan cinta dan kesetiaan. Terhadap fenomena itu Goode
menyatakan “sebagai contoh di Amerika, hampir semua perkawinan pertama
didasarkan atas hubungan cinta dan jarang yang akan mengakui bahwa
mereka menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya”. (Hasyim ,
2004:13).

Fenomena tentang perceraian dan peran single parent tidak hanya menarik
perhatian para pakar sosiologi untuk dijadikan objek kajian ilmiah, namun
seorang sastrawan yang handal seperti La Vyrle Spencer merekam realitas itu
ke dalam bentuk yang lebih unik, yang dikemas dalam kandungan estetika

6
yang tinggi dan menjadi sebuah novel sebagai corong perwakilan bagi selaksa
nilai yang mengkristal dalam wilayah kehidupannya.

2.4 Definisi Single Parents


Single parent adalah seorang ayah atau seorang ibu yang memikul tugasnya
sendiri sebagai kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga. Orang tua
tunggal atau biasa disebut dengan istilah single parent adalah orang tua yang
hanya terdiri dari satu orang saja, dimana didalam rumah tangga ia berperan
sebagai ibu dan juga berperan sebagai ayah. Saat ini keluarga orang tua
tunggal memiliki serangkaian masalah khusus. Hal ini disebabkan karena
hanya ada satu orang tua yang membesarkan anak. Bila diukur dengan angka
mungkin lebih sedikit sifat positif yang ada dalam diri suatu keluarga dengan
satu orang tua dibandingkan dengan keluarga dengan orang tua tunggal.
Orang tua tunggal ini menjadi lebih penting bagi anak dan perkembangannya
karena orang tua tunggal ini tidak mempunyai pasangan untuk saling
menopang.

Pilihan untuk menjadi orang tua tunggal adalah pilhan yang sangat berat,
walaupun demikian daripada aborsi dan menambah beban dosa, mereka lebih
ikhlas menjadi oarng tua tunggal. Untuk iini mereka juga harus siap
menerima reaksi dari orang tua, keluarga dan dikucilkan entah untuk
sementara atau untuk selamanya. Belum lagi menjadi gunjingan maupun
dicibirkan oleh teman, tetangga maupun rekan kerja. Untuk menjalani semua
itu dibutuhkan kekuatan hati dan daya juang yang tinggi, termasuk mengikis
perasaan dendam kepada silelaki notabene ayah dari anaknya sendiri.
Sedangkan bagi perempuan yang sudah menikah siap atau tidak predikat
janda dengan anak yang disandangnya. Untuk menjadi orang tua tunggal itu
tidaklah mudah.

2.5 Penyebab Orang Tua Tunggal


Ada dua jenis kategori orang tua tunggal yaitu yang sama sekali tidak pernah
menikah dan sempat atau pernah menikah. Mereka menjadi orang tua tunggal

7
bisa saja disebabkan, karena ditinggal mati lebih awal oleh pasangan
hidupnya, ataupun akibat perceraian atau bisa juga ditinggal oleh sang
kekasih yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya, dan
kebanyakan terjadi dikalangan remaja yang terlibat dalam pergaulan bebas.
Penyebab single parent antara lain :
1. Perceraian
2. Kematian
3. Kehamilan diluar nikah
4. Bagi seorang wanita atau laki-laki yang tidak mau menikah, kemudian
mengadopsi anak orang lain (majalah ayah bunda)

Seorang ibu dapat menjadi orang tua tunggal mungkin karena kematian
suaminya atau perceraian, dan beberapa ibu tentu tidak pernah menikah lagi,
termasuk mereka yang memilih memlih menjadi ibu tunggal. Saat ini
percerraian menjadi cara yang umum untuk menjadi orang tua tunggal. Ibu
yang bercerai lebih banyak mengalami kesulitan dalam masalah kekuasaan
dan kedisiplinan. Beberapa ibu menjelaskan tentang beratnya mengemban
tugas tersebut. Para ibu ini mulai terpaksa mulai bekerja diluar rumah untuk
pertama kalinya guna memenuhi kebutuhan keuangan keluarganya dengan
gaji pertama yang tidak begitu banyak. Beberapa diantaranya juga tidak dapat
lagi menggantungkan kebutuhan keuangan dan emosonalnya kemantan
suaminya.

George Levinger mengambil 600 sampel pasangan suami-istri yang


mengajukan perceraian dan mereka paling sedikit mempunyai satu orang
anak di bawah usia 14 tahun. Levinger menyusun sejumlah kategori keluhan
yang diajukan, yaitu:
(1) pasangannya sering mengabaikan kewajiban rumah tangga dan anak,
seperti jarang pulang ke rumah, tidak ada kepastian waktu berada di
rumah, serta tidak adanya kedekatan emosional dengan anak dan
pasangan;

8
(2) masalah keuangan (tidak cukupnya penghasilan yang diterima untuk
menghidupi keluarga dan kebutuhan rumah tangga);
(3) adanya penyiksaan fisik terhadap pasangan;
(4) pasangannya sering berteriak dan mengeluarkan kata-kata kasar serta
menyakitkan;
(5) tidak setia, seperti punya kekasih lain dan sering berzina dengan orang
lain;
(6) sering mabuk dan judi;
(7) ketidakcocokan dalam melaksanakan hubungan seksual;
(8) keterlibatan/ campur tangan dan tekanan sosial dari pihak kerabat
pasangannya;
(9) kecurigaan, kecemburuan serta ketidakpercayaan dari pasangannya;
(10) berkurangnya perasaan cinta sehingga jarang berkomunikasi, kurangnya
perhatian dan kebersamaan di antara pasangan;
(11) tuntutan yang dianggap berlebihan sehingga pasangannya sering menjadi
tidak sabar, tidak ada toleransi dan dirasakan terlalu “menguasai”;
(melalui Ihromi, 2004; 155)

2.6 Dampak Orang Tua Tunggal Terhadap Kehidupan Wanita Termasuk


Reproduksi
Ibu yang bercerai ataupun wanita yang memutuskan untuk menjadi ibu
tunggal seringkali terlalu dibebani dengan masalah ekonomi, mereka
cenderung tidak memliki uang untuk menikmati hidup, dan tak bisa
memikirkan dirinya sendiri karena terlalu banyak pikiran yang tercurah untuk
anak-anaknya. Adapun dampak terhadap tarhadap reproduksinya yaitu
kebutuhan seksual oarng tua tunggal tidak terpenuhi, sehingga terkadang
merka berfikir untuk mencari pendamping hidup ataupun sekedar mmencari
pelarian, namun adapula sebgian wanita yang merasa trauma dengan lelaki
sehingga mreka lebih cendrung menyukai sesame jenisnya.

Banyak ibu tunggal saat ini belum pernah menikah. Peningkatan jumlah
perempuan menghabiskan 20-an mereka membangun diri dalam karir mereka

9
dan tidak serius keinginan anak-anak sampai mereka mencapai usia 30-an.
Pada saat itu mereka mungkin merasa bahwa jika mereka menunggu sampai
mereka bertemu jodoh yang cocok, mungkin terlalu terlambat untuk
melahirkan anak. Ide memiliki anak di luar perkawinan juga menjadi lebih
luas diterima oleh wanita yang lebih muda.

Beberapa wanita yang memilih untuk ibu tanpa perkawinan memilih untuk
menjadi hamil dengan cara inseminasi buatan. Tetapi banyak menemukan
bahwa beberapa dokter tidak mau artifisial membuahi seorang wanita yang
belum menikah. Beberapa yang memilih inseminasi buatan benar-benar tidak
ingin menjadi emosional terlibat dengan ayah dari anak dan merasa ini akan
dihindari jika mereka tahu dia. Lainnya, terutama perempuan lesbian,
memilih inseminasi buatan hanya karena tidak memerlukan hubungan pribadi
dengan pasangan laki-laki. Yang lain ingin membesarkan anak sendiri dan
takut bahwa jika mereka tahu ayah, ia kemudian bisa membuat klaim pada
anak.

Beberapa wanita yang menginginkan anak tanpa menikah memilih mitra yang
bersedia untuk ayah anak dengan tanpa pamrih. Lain setuju ayah diakui akan
terlibat dalam kehidupan anak walaupun orang tua tidak akan menikah.

Apapun pilihan mereka, bagaimanapun, ibu-ibu ini bebas untuk membesarkan


anak-anak mereka sesuai dengan ide-ide mereka sendiri dan nilai-nilai, dan
mereka menuai banyak manfaat orangtua. Di sisi lain, mereka melakukan
tanggung jawab yang berat dan risiko kesepian pengasuhan tanpa mitra
dengan siapa untuk berbagi baik beban dan waktu yang baik. Untuk alasan
ini, dukungan kelompok untuk ibu tunggal tersebut telah mulai musim semi
up-setidaknya di beberapa kota besar (dan juga di Internet).

2.7 Peran Seks dalam Perkawinan


Seks memegang peran penting dalam sebuah perkawinan. Pasangan suami-
istri membutuhkan seks sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan biologis

10
mereka dan sarana untuk menghasilkan generasi baru. Berdasarkan berbagai
survei di Amerika, % dari perceraian yang terjadi diberikan kepada wanita.
Fenomena ini menggambarkan konsep/paradigma wanita dalam memandang
arti perkawinan yang lebih besar bagi mereka dari pada laki-laki,
ketergantungan mereka dan kepuasan untuk penyesuaian diri terhadap
kehidupan itu sendiri (Goode, 2004; 196). Sebaliknya, terdapat satu
pengembangan penelitian yang menemukan bahwa para suami lebih sering
melakukan perceraian. Argumentasinya adalah hampir semua waktu, energi
dan tenaga suami dihabiskan di luar rumahnya. Kesempatan atau keadaan
demikian membuka peluang kepada suami untuk terlibat dalam tingkah laku
yang rentan terhadap keharmonisan keluarganya. Suami boleh saja menjalin
banyak persahabatan dengan lawan jenisnya. Akibatnya, terjadi jarak atau
kurangnya keterikatan kepada rumahnya sebagaimana halnya, istrinya, dan
lebih banyak kemungkinan untuk memperoleh kegembiraan hiburan, dan juga
kesibukan di luar rumah. (Goode, 2004: 197).

Goode lebih lanjut menjelaskan bahwa norma-norma persamaan hak modern,


kelakuan sang suami itu mungkin membuat sang istri tidak bahagia.
Sementara, bagi sang suami, istrinya tidak mempunyai banyak
kekuasaan/otoritas untuk mengendalikan atau memaksanya agar mengikuti
kemauannya. Sang istri pada permulaan, sedikit kemungkinan menginginkan
perceraian, sedangkan sang suami kemungkinan merasa bersalah untuk
menuntut hal itu. Hasilnya ialah bahwa laki-laki mungkin mengembangkan
pola tingkah laku yang menimbulkan celaan, kutukan dan pelecehan bagi
sang istri sebagai bagian dari memuncaknya pertengkaran antar keduanya
yaitu membuat dirinya tidak disukai, ia menimbulkan dalam diri istrinya
(dengan sengaja atau tidak) keinginan untuk memutuskan hubungan
perkawinan (2004; 197).

2.8 Dampak Perceraian terhadap Mantan Pasangan Suami – Istri


Menurut Karim, konsekuensi utama yang ditanggung oleh mantan pasangan
suami-istri pasca perceraian adalah masalah penyesuaian kembali terhadap

11
peranan masing-masing serta hubungan dengan lingkungan sosial (social
relationship) (melalui Ihromi, 2004:156).

Goode mengamati proses penyesuaian kembali (readjustment) dalam hal


perubahan peran sebagai suami-istri dan memperoleh peran baru. Perubahan
lain adalah perubahan hubungan sosial ketika mereka bukan lagi sebagai
pasangan suami-istri. Penyesuaian kembali ini termasuk upaya mereka yang
bercerai untuk menjadi seseorang yang mempunyai hak dan kewajiban
individu, jadi tidak lagi sebagai mantan suami atau mantan istri (melalui
Karim, 2004:156).

Krantzler menyatakan perceraian bagi kebanyakan orang dipandang sebagai


masa transisi yang penuh kesedihan, artinya masyarakat atau komunitas
sekitar ikut berperan sebagai “wasit atau pengadilan” dalam menilai
perceraian itu sebagai sesuatu yang “tidak patut” (melalui Karim, 2004:157).

Waller menilai pasca perceraian sebagai masa yang kurang dan hilang dalam
kehidupan pasangan suami-istri yang bercerai. Seseorang pada masa ini
dilanda perasaan “ambivalen” antara melihat perceraian sebagai sesuatu yang
membahagiakan dan membebaskan dan munculnya rasa sedih mengenang
kebersamaan pada masa-masa indah dulu (melalui Karim, 2004:157).
Sementara, Scanzoni dan Scanzoni (lewat Karim) menilai setelah perceraian
seseorang tidak perlu bersedih dan tidak perlu menghampiri kembali mantan
pasangannya. Alasannya adalah perceraian itu sendiri menandakan rasa benci
dan ketidaksenangan hidup bersama lagi (melalui 2004:157).

Terdapat dua hal utama yang menjadi fokus pengamatan Goode terhadap
pasangan suami istri yang bercerai yaitu perubahan-perubahan yang terjadi di
dalam hubungan sosial di mana mereka bukan lagi sebagai pasangan suami
istri serta peran sebagai suami atau istri dan memperoleh peran baru (2004:
165).

12
Mel Krantzler (lewat Ihromi 2004), seorang konsultan masalah perceraian
mengamati bahwa perceraian merupakan sebuah masa transisi yang penuh
kesedihan. Masa penuh kesedihan atau kedukaan apabila dikaitkan dengan
harapan-harapan masyarakat. Apabila masyarakat memandang perceraian
sebagai sesuatu yang “tidak patut”, maka dalam proses penyatuan kembali,
seseorang akan merasakan beratnya tantangan yang harus dihadapi karena
perceraian.Perceraian antara pasangan suami-istri menghasilkan dampak lain
yaitu masalah penyesuaian kembali terhadap peranan masing-masing serta
hubungan dengan lingkungan sosial (social relationship), (Goode lewat
Ihromi, 2005: 156)

Scanzoni and Scanzoni kemudian membuat sintesa atas konsep-konsep


pemikiran Krantzler (lewat Ihroni 2004: 157) dalam tulisan “creative
Divorce”. Menurut Kranztler perceraian memberikan peluang kepada
seseorang untuk memperoleh pengalaman-pengalaman serta kreativitas baru
guna mengisi kehidupan menjadi lebih baik dan menyenangkan dari
sebelumnya. Krantzler berpendapat bahwa perceraian tidak harus diartikan
sebagai kegagalan yang membawa kesedihan bagi seseorang. Untuk
menguatkan pandangannya, ia mengutip tulisan Herman Hesse (penulis puisi
dan novel) yang pernah mengalami perceraian sebanyak dua kali yaitu “Be
ready bravely and without remorse to fin now light that old ties cannot give'”

Scanzoni and Scanzoni (lewat Ihroni 2004) mengatakan pasca perceraian


seseorang tidak perlu bersedih dan tidak perlu mengharapkan kembali mantan
pasangannya. Alasannya adalah perceraian itu sendiri menandakan adanya
rasa benci dan tidak senang hidup bersama lagi. Perceraian tidak harus
ditangisi dan seseorang tidak perlu membenamkan dirinya dalam kesedihan
atau kedukaan secara berlebihan karena kehilangan banyak yang pernah
dimilikinya dan dirasakannya selama hidup bersama pasangannya. Scanzoni
dan Scanzoni kembali mendengarkan, mantan pasangan suami istri
seyogyanya menyadari bawah “kebersamaan” dan saling ketergantungan
diantara mereka telah berakhir.

13
2.9 Masalah orang tua tunggal
Masalah utama bagi orang tua tunggal khususnya bagi wanita yaitu pada
masalah ekonomi, dan bagi pria mereka lebih cenderuung mengalami
kesulitan menjadi seorang ibu, yang tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan
rumah tangga. Bagi wanita yang bersatatus ibu tunggal, yang diakibatkan
oleh pergaulan bebas ataupun karena korban perkosaan, mereka cenderung
sulit menerima kehadiran anaknya, belum siap menerima kenyataan bahwa
dirinya kini sudah berstatus ibu, cibiran tetangga, dan masalah-masalah yang
timbul selanjutnya yang beerhubungan dengan status anaknya, bahkan
mungkin pertanyaan anaknya yang ingin mengetahui dimana ayah mereka. Hl
inilah yang membuat sebagian besar wanita mengalami depresi yang
menyandang sebagai ibu tunggal. Namun tidak semua pula para ibu tunggal
yang berfikiran seperti itu, misalnya salah satu selebriti papan atas yang
mengaku siap menjadi orang tua tunggal, dan siap menerima segala
konsekuensinya sebagai ibu tunggal dan baginya ia menikmati perannya
sebagai ibu walaupun tanpa adanya sesosok ayah untuk anaknya.

2.10Pengertian Pernikahan
1. Pengertian pernikahan adalah :
1) Lambang disepakatinya suatu perjanjian (akad) antara seorang laki-
laki dan perempuan (dalam masyarakat tradisional hal itu juga
merupakan perjanjian antar keluarga) atas dasar hak dan kewajiban
yang setara antara kedua belah pihak.
2) Penyerahan diri total seorang perempuan kepada laki-laki.
3) Peristiwa saat seorang ayah secara resmi menyerahkan anak
perempuannya kepada laki-laki untuk “dipakai” sesuka hati laki-laki
itu.
2. Tujuan Pernikahan adalah :
1) Untuk secara hukum mengesahkan hubungan seksual antara laki-laki
dan perempua.

14
2) Untuk secara hukum mengatur hak dan kewajiban masing-masing
termasuk di dalamnya pelarangan atau penghambatan terjadinya
poligami.
3) Untuk pendataan dan kepentingan demografi.
3. Kriteria Keberhasilan Suatu Pernikahan
1) Kebahagiaan Suami Isteri
2) Hubungan yang baik antara orang tua dan anak
3) Penyesuaian yang baik antara anak-anak
4) Kemampuan untuk memperoleh kepuasan dari perbedaan pendapat
5) Kebersamaan
6) Penyesuaian yang baik dalam masalah keuangan
7) Penyesuaian yang baik dari pihak keluarga pasangan

2.11Perkawinan Muda
Di Indonesia pernikahan dini sekitar 12-20% yang dilakukan oleh pasangan
baru. Biasanya, pernikahan dini dilakukan oleh pasangan usia muda yang
rata-rata umurnya antara 16-20 tahun. Secara nasional pernikahan dini dengan
pasangan usia di bawah 16 tahun sebanyak 26,95%.

Padahal pernikahan yang ideal untuk perempuan adalah 21-25 tahun


sementara laki-laki 25-28 tahun. Karena diusia itu organ reproduksi
perempuan secara psikologis sudah berkembang dengan baik dan kuat serta
siap untuk melahirkan keturunan secara fisik pun mulai matang. Sementara
laki-laki pada usia itu kondisi psikis dan fisiknya sangat kuat, hingga mampu
menopang kehidupan keluarga untuk melindungi baik secara psikis
emosional, ekonomi dan sosial.

Melakukan pernikahan tanpa kesiapan dan pertimbangan yang matang dari


ssatu sisi dapat mengindikasi sikap tidak appresiatif terhadap makna nikah
dan bahkan lebih jauh bisa merupakan pelecehan terhadap kesakralan dalam
pernikahan.

15
1. Dampak Perkawinan muda
1) Dampak biologis
Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses
menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan
hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika sampai hamil
kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma,
perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ
reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak. Patut
dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar
kesetaraan dalam hak reproduksi antara isteri dan suami atau adanya
kekerasan seksual dan pemaksaan (penggagahan) terhadap seorang
anak.
2) Dampak psikologis
Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan
seks, sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan
dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Anak akan murung dan
menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri
tidak mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan perkawinan
akan menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan (Wajar
9 tahun), hak bermain dan menikmati waktu luangnya serta hak-hak
lainnya yang melekat dalam diri anak.

3) Dampak sosial

Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam


masyarakat patriarki yang bisa gender, yang menempatkan
perempuan pada posisi yang rendah dan hanya dianggap pelengkap
seks laki-laki saja. Kondisi ini sangat bertentangan dengan ajaran
agama apapun termasuk agama Islam yang sangat menghormati
perempuan (Rahmatan lil Alamin). Kondisi ini hanya akan
melestarikan budaya patriarki yang bisa gender yang akan
melahirkan kekerasan terhadap perempuan.

4) Dampak perilaku seksual menyimpang

16
Adanya prilaku seksual yang menyimpang yaitu prilaku yang gemar
berhubungan seks dengan anak-anak yang dikenal dengan istilah
pedofilia. Perbuatan ini jelas merupakan tindakan ilegal
(menggunakan seks anak), namun dikemas dengan perkawinan
seakan-akan menjadi legal. Hal ini bertentangan dengan UU.No.23
tahun 2002 tentang Perlindungan Anak khususnya pasal 81,
ancamannya pidana penjara maksimum 15 tahun, minimum 3 tahun
dan pidana denda maksimum 300 juta dan minimum 60 juta rupiah.
Apabila tidak diambil tindakan hukum terhadap orang yang
menggunakan seksualitas anak secara ilegal akan menyebabkan tidak
ada efek jera dari pelaku bahkan akan menjadi contoh bagi yang lain.

5) Dampak terhadap suami


Tidak bisa dipungkiri bahwa pada pasangan suami istri yang telah
melangsungkan perkawinan di usia muda tidak bisa memnuhi atau
tidak mengetahui hak dan kewajibannya sebagai suami istri. Hal
tersebut timbul dikarenakan belum matangnya fisik maupun mental
mereka yang cenderung keduanya memiliki sifat keegoisan yang
tinggi.
6) Dampak terhadap anak-anaknya
Masyarakat yang telah melangsungkan perkawinan pada usia muda
atau di bawah umur akan membawa dampak. Selain berdampak pada
pasangan yang melangsungkan perkawinan pada usia muda,
perkawinan usia muda juga berdampak pada anak-anaknya. Karena
bagi wanita yang melangsungkan perkawinan di bawah umur 20
tahun, bila hamil akan mengalami gangguan pada kandungannya dan
banyak juga dari mereka yang melahirkan anak yang prematur.
7) Dampak terhadap masing-masing keluarga
Selain berdampak pada pasagan suami-istri dan anak-anaknya
perkawinan di usia muda juga akan membawa dampak terhadap
masing-masing keluarganya. Apabila perkawinan di antarta anak-
anak merka lancer, sudah barang tentu akan menguntungkan orang
tuanya masing-masing. Namun apabila sebaliknya keadaan rumah

17
tangga mereka tidak bahagia dan akhirnya akan terjadi perceraian.
Hal ini akan mengkibatkan bertambahnya biaya hidup mereka dan
yang palinng parah lagi akan memutuskan tali kekeluargaan diantara
kedua belah pihak.

2. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Perkawinan Dalam Usia


Muda
1) Ekonomi
Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di
garis kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak
wanitanya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu.
2) Pendidikan
Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak
dan masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan
anaknya yang masih dibawah umur.
3) Faktor orang tua
Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran
dengan laki-laki yang sangat lengket sehingga segera mengawinkan
anaknya.
4) Media massa
Gencarnya ekspose seks di media massa menyebabkan remaja
modern kian Permisif terhadap seks.
5) Faktor adat
Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya
dikatakan perawan tua sehingga segera dikawinkan.

3. Upaya Pencegahan terjadinya Pernikahan Muda


1) Undang-undang perkawinan
2) Bimbingan kepada remaja dan kejelasan tentang sex education
3) Memberikan penyuluhan kepada orang tua dan masyarakat
4) Bekerja sama dengan tokoh agama dan masyarakat
5) Model desa percontahan kedewasaan usia perkawinan

18
2.12Perkawinan Usia Tua
Telah didapatkan banyak bukti yang mengungkapkan bahwa semakintua
seseorang pria, semakin besar pula resiko memiliki anak yang tidak normal.
Berbagai hasil studi menemukan adanya berbagai resiko, termasuk autisme
dan schizophrenia pada anak yang lahir pada pria yang berusia 40 tahun.
Sejumlah studi juga mengemukakan bahwa kesuburan pria akan menurun
dengan bertambahnya usia.

Terdapat perbedaan antara pria dan wanita ; tidak bisa memiliki anak pada
setelah usia tertentu (menoupause) kata dr. Harry Fisch, direktur Male
Reproductive Centre di New york-Presbyterian Hospital, Columbia
University Medical Centre. ”Tetapi tidak semua pria dijamin akan baik-baik
saja”, tambahnya. ”Kesuburan akan menurun pada pria tertentu, namun pada
pria lain, kesuburan akan tetap bertahan tetapi terdapat kemungkinan berisiko
penurunan ketidak normalan genetis.

2.13Faktor yang Menyebabkan Pernikahan Tua


1. Belum bekerja
Ini masalah utama yang sering menghinggapi pemuda sehingga sekalipun
telah merasa cocok dengan seorang wanita, dan jika ditunda akan
menimbulkan fitnah, akan tetapi tenyata sang pemuda belum memiliki
pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarganya kelak, maka niat baik
tersebut terpaksa harus tertunda.
2. Belum lulus
Untuk alasan ini, berbeda dengan yang pertama. Masalah ini
menghinggapi pemuda dan pemudi. Terkadang seorang pemuda sudah
memiliki pekerjaan, dan sambil bekerja ia sekolah, akan tetapi studinya
belum selesai maka pernikahan terpaksa tertunda, sampai selasainya di
wisuda dan mendapatkan gelar, agar tampak ”terhormat” di undangan
kalau kedua pasangan memiliki gelar didepan dan dibelakang namanya.
Begitu pun pemudi, sekalipun dia telah sarjana, namun karena yang

19
datang melamarnya adalah pemuda yang belum selesai kuliahnya, maka
niat untuk menikah dicegah oleh keluarganya, ditunda sampai selesainya
pendidikan calon pasangannya.
3. Belum cocok
Mungkin sudah lulus, sudah bekerja, bahkan telah memiliki rumah
sendiri, dan berusaha mencari calon pasangannya. Akan tetapi karena
merasa belum ada yang cocok, sekalianpun keinginan untuk menikah
sangat tinggi, tetapi karena tidak cocok baik dari segi harta, pendidikan,
dan latar keturunan, ataupun lainnya sehingga niat baik untuk
menikahpun menjadi tertunda.
4. Belum mantap
Alasan belum mantap , biasanya didasarkan karena persiapan dirinya
kurang, baik ilmu tentang pernikahan, keluarga, dan orang-orang yang
ada disekitarnya. Termasuk didalam merasa belum mantap betul dengan
calon pasangannya karena belum dikenal dengan baik ”luar” dan
”dalam”.
5. Belum terlambat
Ada pemuda, begitu pun pemudi membuat standar usia dalam menuju
gerbang pernikahan. Biasanya menjadikan standar usia tertentu, atau
suatu target tertentu, misalnya usia remaja bagi laki-laki adalah 27 tahun,
sehingga ketika belum mencapai usia yang bernaksud atau target yang
dituju (S-2) atau belum tercapai cita-citanya, maka sebelum itu semua
terpenuhi, dianggap belum terlambat untuk menikah.

2.14Dampak Pernikahan Tua


Dampak negatif
1. Masa tua merupakan perpanjangan dari masa sekarang, bedanya adalah
kekuatan sudah jauh berkurang sehingga beban terasa lebih berat.
2. Masa tua memperjelas ketidak harmonisan di antara pasangan menikah.
3. Masa tua juga dapat melahirkan kebiasaan baru yang tidak dapat
ditoleransi pasangan.

20
4. Masa tua penuh kelemahan fisik yang menambah kerepotan, dulu repot
mengurus anak sekarang repot mengurus pasangan sendiri. Bedanya
adalah kerap kali lebih mudah mengurus anak daripada mengurus
pasangan sendiri. Juga kelemahan fisik sering kali memperburuk frustrasi
sehingga kita mudah jengkel dengan diri sendiri dan pasangan.
5. Hormon-hormon reproduksi mulai berkurang sehingga kesehatan juga
akan menurun.

Dampak positif
1. Di masa tua cenderung tidak tergesa-gesa dan lebih sabar menunggu
karena lebih dapat berbicara dengan lebih berlahan.
2. Di masa tua cenderung lebih berhikmat dan memahami prioritas hidup
dengan lebih tepat. Lebih menyadari hal-hal apa yang penting dan tidak
penting dan apa itu yang merupakan kesia-sian hidup.
3. Di masa tua seharusnya lebih takut akan tuhan dan lebih memntingkan hal
rohani. Ini dapat menjadi kekuatan dan motivasi kita untuk membereskan
masalah.

21
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perkawinan muda adalah pernikahan yang dilakukan seorang laki-laki dan
perempuan yang di bawah umur. Dampak yang terjadi pada pernikahan muda
yaitu dampak biologis, dampak psikis, dampak sosial, dampak perilaku
seksual menyimpang, terhadap suami, terhadap anak-anaknya, dan dampak
terhadap masing-masing keluarga. Faktor- faktor yang mempengaruhi
terjadinya perkawinan dalam usia muda yaitu ekonomi, pendidikan, orang
tua, media massa, dan adat.
Perkawinan usia tua adalah perkawinan yang dilakukan seorang laki-laki dan
perempuan yang dengan umur yang sudah matang atau sudah dewasa. Faktor
yang menyebabkan pernikahan tua yaitu belum bekerja, belum lulus, belum
cocok, belum mantap, dan belum terlambat. Dampak dari pernikahan usia tua
ada dampak negatif dan positif.
Wanita bekerja jauh lebih lama dari pada pria, berbagai penelitian yang
telah dilakukan di seluruh dunia rata-rata wanita bekerja 3 jam lebih lama.
Akibatnya wanita mempunyai sedikit waktu istirahat, lebih lanjut terjadinya
kelelahan kronis, stress, dan sebagainya. Peran jender yang menganggap status
wanita yang rendah berakumulasi dengan indikator-indikator lain seperti
kemiskinan, pendidikan, kawin muda dan beban kerja yang berat
mengakibatkan wanita juga kekurangan waktu, informasi, untuk
memperhatikan kesehatan reproduksinya.

3.2 Saran
Agar para remaja mengetahui seabagaimana sebaiknya melakukan
perkawinan dan agar tidak adanya perkawinan di bawah umur karena
mempunyai dampak yang bisa merugikan mereka.
Terus semangat buat para wanita karir, karena tak selamanya wanita
hanya bisa menerima dan berpangku tangan kepada pemimpin dalam rumah
tangga yaitu suami.

22
DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-
a&channel=s&rls=org.mozilla%3Aen-US
%3Aofficial&q=wanita+di+tempat+kerja&btnG=Telusuri&meta=

http:// geloraviolet.blogger.com, 05 April 2012


© Copyright 2012 Scribd Inc.WANITA DITEMPAT KERJA

http://agungsantoso77.wordpress.com/2009/02/24/memasyarakatkan-kesehatan-
reproduksi-wanita/

http://urfisyifa.blog.friendster.com/2007/07/wanita-di-tempat-kerja/

http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-
a&channel=s&rls=org.mozilla%3Aen-US
%3Aofficial&q=makalah+kesehatan+reproduksi+wanita+bekerja&btnG=Te
lusuri&meta

http://www.kesehatanreproduksi.com/

http://hadikuntoro.blogspot.com/2007/09/single-parent.html

http://retnowati.blogspot.com/2005/03/single-parent-menyiapkan-
kemandirian.html

23