Anda di halaman 1dari 125

PENGARUH PENERAPAN LATIHAN RANGE OF MOTION

(ROM) AKTIF TERHADAP PERGERAKAN SENDI PASIEN


PASCA STROKE DI RUANG FISIOTERAPI
RSUD FAKFAK KABUPATEN FAKFAK
TAHUN 2016

SKRIPSI

Oleh :
HASDIMAN SAMANIA
NPM : 123050912043

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
MALUKU HUSADA
KAIRATU
2016
PENGARUH PENERAPAN LATIHAN RANGE OF MOTION
(ROM) AKTIF TERHADAP PERGERAKAN SENDI PASIEN
PASCA STROKE DI RUANG FISIOTERAPI
RSUD FAKFAK KABUPATEN FAKFAK
TAHUN 2016

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Pemenuhan Syarat Untuk Mendapatkan Gelar


Sarjana Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada

Oleh :
HASDIMAN SAMANIA
NPM : 123050912043

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
MALUKU HUSADA
KAIRATU
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas Karunia Tuhan Yang Maha Esa, atas
limpahan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas skripsi yang
berjudul “Pengaruh Penerapan Latihan Gerakan Range Of Motion (ROM) Aktif
Terhadap Pergerakan Sendi Pasien Pasca Stroke Di Ruang Fisioterapi RSUD
Fakfak Kabupaten Fakfak” tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Sebagai manusia yang memiliki ketidaksempurnaan, penulis menyadari
bahwa dalam mempersiapkan, menyusun sampai dengan menyelesaikan tugas
skripsi ini bukan cuma ide penulis saja yang tertuang didalam skripsi ini, tetapi
juga ide-ide dari para penulis pendahulu sebelum ini. Tanpa hasil tangan dari
mereka, skripsi ini tidak akan mendapatkan hasil yang berarti. Tiada imbalan yang
dapat penulis berikan, hanya Tuhan-lah yang dapat membalas jasa-jasa mereka
yang sudah mempermudah dalam penyusunan skripsi ini.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih dan
penghargaan yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah berjasa dalam
memberikan ilmu pengetahuan selama masa studi maupun dalam penyusunan
skripsi ini, kepada :
1. Orang tuaku tercinta bapak LA SAMANIA dan Ibu JASNIH LA BAENTE yang
telah merawat, membimbing, menyekolahkan, serta selalu mendorong penulis
sampai bisa pada titik ini.
2. Rasma Tunny, S.Sos selaku Ketua Yayasan Sekolah Tinggi yang telah menyediakan
kampus STIKes Maluku Husada.
3. Lukman La Bassy, S.Farm. M.Sc. Apt selaku Ketua STIKes Maluku Husada yang
telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti perkuliahan dan
selaku Pembimbing I yang telah membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan
skripsi dengan baik.
4. Ira Sandi Tunny, S.Si, M.Kes selaku Ketua Program Studi Keperawatan yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penyusunan skripsi ini.
5. M. Taufan Umasugi, S.Kep, M.Biomed selaku Dosen Pembimbing Akademik yang
telah banyak membantu memberikan masukan sehingga dapat menyelesaikan skripsi
ini.
6. Idham Soamole, S.Kep selaku Dosen Pembimbing II, bagi penulis yang dengan
sepenuh hati dan tanpa mengenal lelah telah meluangkan waktu serta pikiran untuk
membimbing penulis dalam penyusunan skripsi.
7. dr.Yohanes Tappang, M. Kes selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan
masukan yang bermanfaat kepada peneliti.
8. Maritje S.J. Malisngorar, S.Si. M.Sc selaku Dosen Penguji II yang telah bersedia
menyempatkan waktu untuk memberikan saran serta membantu peneliti dalam
merevisi skripsi. Tanpa beliau skripsi ini tidak akan seperti ini.
9. Seluruh Staf karyawan dan karyawati STIKes Maluku Husada yang telah membantu
penulis dalam penyusunan skripsi ini.
10. Sahabat dalam suka dan duka yang tidak akan pernah terlupakan sampai akhir hayat
yaitu Khairul Haidir Maasily, Bambang Cahyo Alimoyo dan Nanang Adi Santoso.
Serta kawan-kawan yang selalu menjadi penyemangat Jubeda Unihehu, Puasa
Soepele, Citra Harum S.L, Rahma Paila, Karmila Wailisa, Karmila, Wa Ode Nurlisa,
Dudi Wama, Safrul Maasily, M. Ali Akbar S, Fikri F Lussy serta seluruh rekan-
rekan angkatan 2012 yang selalu dalam kebersamaan dan kekompakan selama
menjalani masa perkuliahan
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat
banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
dari semua pihak sangat penulis harapkan guna penyempurnaan dalam penulisan
skripsi yang sesungguhnya. Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila
terdapat kesalahan dalam penulisan karena penulis juga selaku manusia biasa
yang tak luput dari kesalahan.
Akhirnya penulis berharap semoga penulisan tugas skripsi ini dapat
diterima oleh dosen mata kuliah dan juga dapat bermanfaat dalam pengembangan
ilmu pengetahuan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyertai kita
dalam setiap tugas dan pengabdian.

Kairatu, 08 Oktober 2016

Penulis
Pengaruh Penerapan Latihan Range Of Motion (Rom) Aktif Terhadap
Pergerakan Sendi Pasien Pasca Stroke Di Ruang Fisioterapi RSUD Fakfak
Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat Tahun 2016

Samania Hasdiman1, La Bassy Lukman2, Soamole Idham3


Email : diman12@stikesmh.ac.id
1
Mahasiswa Program Study Keperawatan STIKes Maluku Husada
2
Ketua STIKes Maluku Husada
3
Dosen STIKes Maluku Husada

ABSTRAK
Stroke adalah penyakit gangguan fungsional otak, berupa kelumpuhan saraf yang
diakibatkan oleh gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak. Pada konferensi ahli saraf
internasional di Inggris dilaporkan bahwa terdapat > 1000 penderita stroke berusia kurang dari 30
tahun. Pasien stroke mengalami kelemahan pada satu sisi anggota tubuhnya akibat penurunan
tonus otot sehingga tidak mampu menggerakkan tubuhnya (imobilisasi). Imobilisasi yang tidak
ditangani secapatnya akan mengakibatkan kontraktur. Latihan range of motion merupakan bentuk
latihan pergerakan yang dilakukan dengan menggerakkan semua bagian persendian dengan
rentang penuh tanpa menimbulkan rasa nyeri pada persendian. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh penerapan latihan range of motion (ROM) aktif terhadap Pergerakan Sendi
pasien pasca stroke. Penelitian menggunakan desain penelitian eksperimental dengan pendekatan
one group pretest posttest, sampel ditentukan menggunakan metode porpuse sampling yang
berjumlah 8 orang. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan goniometer dan lembar penilaian.
Pengolahan SPSS menggunakan uji paired simple t-test dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil
penelitian yang diperoleh nilai signifikan untuk semua pergerakan p=0,000 (α=0,05), sehingga ada
perbedaan yang bermakna antara pergerakan sendi sebelum dan sesudah diberikan latihan Range
of Motion (ROM) aktif. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara penerapan latihan ROM
aktif terhadap Pergerakan Sendi pasien pasca stroke.

Kata Kunci : Stroke, Pergerakan Sendi, Imobilisasi, Kontraktur, Latihan ROM Aktif
THE APPLICATION EFFECT OF RANGE OF MOTION (ROM) ACTIVE
EXERCISE TOWARDS JOINT MOVEMENT OF POST-STROKE
PATIENTS IN PHYSIOTERAPHY ROOM RSUD (LOCAL PUBLIC
HOSPITAL) FAKFAK, WEST PAPUA PROVINCE 2016

Samania Hasdiman1, La Bassy Lukman2, Soamole Idham3


Email:diman12@stikesmh.ac.id
1 Student of Nursing Study Program of STIKes (Colleges of Health Science) Maluku Husada
2 Lecturer of STIKes Maluku Husada
3Lecturer of STIKes Maluku Husada

ABSTRACT
Stroke is a disease of functional disorders of the brain, such as nerve paralysis caused by
annoyance of blood flow on one part of the brain. In an international conference in British
neurologist reported that there are> 1000 stroke patients aged less than 30 years. Stroke patients
experience weakness on one side of their body due to a decrease in muscle tone that cannot move
her body (immobilization). Immobilization that is not handled quickly will lead to contractures.
Range of motion exercisesis a form of exercise movements performed by moving all the parts of
the joint with the full range without causing pain in the joints. This study aims to figure out the
application effect on range of motion (ROM) active exercise towards joint movement of post-
stroke patients. This study is an experimental research with one group pretest posttest approach,
while the sample is determined using purposivesampling methodwhich numbered 8 persons. The
instruments of this study are goniometer and marking sheet. The SPSS processing uses paired
simple t-test with a significance level of 0.05. The result shows thatthe significant value to all
movements is p = 0.000 (α = 0.05), Thus, there is a significant difference between the movement
of the joints before and after active exerciseof Range of Motion (ROM). From the result, it can be
concluded that there is an effect between of active ROM exercises towardsjoint movement of post-
stroke patients.

Keywords: Stroke, JointsMovement, Immobilization, Contractures, Active exercisesof ROM


DAFTAR ISI

halaman
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
HALAMAN JUDUL DALAM .............................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL .............................................................. iii
LEMBAR PERSETUJUAN MEMBIMBING ....................................................... iv
LEMBAR PENGESAHAN HASIL PENELITIAN .............................................. v
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN ...................................... vi
KATA PENGANTAR ........................................................................................... vii
ABSTRAK ............................................................................................................. ix
DAFTAR ISI .......................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL .................................................................................................. xiv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xv
DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN ....................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... xix

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1


1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .................................................................................... 5
1.3. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 5
1.3.1. Tujuan Umum .............................................................................. 5
1.3.2. Tujuan Khusus ............................................................................. 6
1.4. Manfaat Penelitian ................................................................................... 6
1.4.1. Manfaat Teoritis ........................................................................... 6
1.4.2. Manfaat Praktis ............................................................................ 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 7


2.1. Tinjauan Tentang Stroke .......................................................................... 7
2.1.1. Definisi Stroke ............................................................................. 7
2.1.2. Etiologi Stroke ............................................................................. 8
2.1.3. Klasifikasi Stroke ......................................................................... 10
2.1.4. Manifestasi Klinis Stroke ............................................................. 11
2.1.5. Patofisiologi Stroke ...................................................................... 13
2.1.6. Faktor Resiko Stroke .................................................................... 14
2.1.7. Komplikasi Stroke ........................................................................ 20
2.1.8. Pencegahan Stroke ....................................................................... 24
2.2. Tinjauan Tentang Pergerakan Sendi ........................................................ 26
2.2.1. Definisi Pergerakan Sendi ............................................................ 26
2.2.2. Komponen Penunjang Sendi ........................................................ 27
2.2.3. Macam-Macam Sendi dan Pergerakan ......................................... 27
2.2.4. Jenis-Jenis Pergerakan Sendi ....................................................... 32
2.3. Tinjauan Tentang Range Of Motion (ROM) ........................................... 34
2.3.1. Pengertian Latihan ROM ............................................................. 34
2.3.2. Tujuan Latihan ROM ................................................................... 34
2.3.3. Manfaat Latihan ROM ................................................................. 34
2.3.4. Klasifikasi Latihan ROM ............................................................. 35
2.3.5. Indikasi dan Kontraindikasi Latihan ROM .................................. 36
2.3.6. Prinsip Latihan ROM ................................................................... 37
2.3.7. Program Latihan ROM ................................................................. 38
2.3.8. Alat Ukur Nilai Pergerakan Sendi ROM ..................................... 39
2.4. Kerangka Konsep ..................................................................................... 40
2.5. Hipotesis .................................................................................................. 40

BAB III METODE PENELITIAN ......................................................................... 42


3.1. Desain Penelitian ..................................................................................... 42
3.2. Populasi, Sampel dan Sampling ............................................................... 42
3.2.1. Populasi ........................................................................................ 42
3.2.2. Sampel .......................................................................................... 43
3.2.3. Sampling ...................................................................................... 43
3.3. Variabel Penelitian ................................................................................... 44
3.3.1. Variabel Independen .................................................................... 44
3.3.2. Variabel Dependen ....................................................................... 45
3.4. Definisi Operasional ................................................................................ 45
3.5. Tempat Penelitian .................................................................................... 45
3.6. Waktu Penelitian ...................................................................................... 45
3.7. Instrumen Penelitian ................................................................................ 46
3.8. Prosedur Pengumpulan Data .................................................................... 46
3.8.1. Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 46
3.8.2. Pengolahan Data ........................................................................... 47
3.9. Analisis Data ............................................................................................ 48
3.9.1. Analisis univariat ......................................................................... 48
3.9.2. Analisis Bivariat ........................................................................... 49
3.10. Etika Penelitian ............................................................................ 50

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 51


4.1. Hasil ......................................................................................................... 51
4.1.1. Gambaran Umur Rumah Sakit ..................................................... 51
4.1.2. Hasil Penelitian ............................................................................ 53
4.2. Pembahasan .............................................................................................. 59
4.3. Keterbatasan Penelitian ............................................................................ 67

BAB V PENUTUP ................................................................................................. 68


5.1. Kesimpulan .............................................................................................. 68
5.2. Saran ........................................................................................................ 69

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 71


LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

3.1 Desain Penelitian ............................................................................................. 42

3.2 Defenisi Operasional ....................................................................................... 45

4.1 Karakteristik Responden Menurut Umur ........................................................ 53

4.2 Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin .......................................... 53

4.3 Karakteristik Responden Menurut Pendidikan ............................................... 54

4.4 Karakteristik Responden Menurut Pekerjaan .................................................. 54

4.5 Gambaran Pergerakan Sendi Sebelum dan Sesudah Latihan .......................... 55

4.6 Uji Normalitas Pergerakan Sendi Menggunakan Shapiro-Wilk ...................... 56

4.7 Perbedaan Pergerakan Sendi Sebelum dan Sesudah Latihan ROM Aktif pada

Pasien Pasca Stroke ......................................................................................... 57


DAFTAR GAMBAR

2.1 Fleksi, Ekstensi dan Hiperekstensi Lengan ..................................................... 33

2.2 Fleksi dan Ekstensi Siku ................................................................................. 33

2.3 Fleksi dan Ekstensi Lutut ................................................................................ 33

2.4 Abduksi dan Adduksi Bahu ............................................................................ 33

2.5 Abduksi dan Adduksi Panggul ........................................................................ 33

2.6 Goniometer ...................................................................................................... 39

2.7 Kerangka Konsep ............................................................................................ 40


DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN

ROM : Range Of Motion

WHO : World Health Organization

AHA : American Heart Association

Et all : dkk (dan kawan-kawan)

CVD : Cerebro Vaskular Disease

TIA : Transient Ischemic Atteck

RIND : Reversible Ischemic Neurologic Deficit

Afasid : kata-kata sulit dimengerti

Ateroma : plak fibrosis

Modifiable : dapat dimodifikasi

Nonmodifiable : tidak dapat dimodifikasi

DM : Diabetes Melitus

PJK : Penyakit Jantung Kronik

GPDO : Gangguan Peredaran Darah Otak

FA : fibrilasi atrium

LDL : Low density lipoprotein


HDL : Hight density lipoprotein

DVT : deep vein thrombosis)

ISK : Infeksi saluran kencing

Inkontinensia urin : ketidakmampuan untuk menahan urin

Knock knee : kurva kaki yang masuk ke dalam sehingga lutut rapat

ketika berjalan

Bowlegs : satu atau dua kaki bengkok keluar pada lutut

Clubfoot : kaki kaku, seperti menggunakan gips atau balut bidai.

Equinovorus : plantar fleksi kaki

Foot drops : ketidakmampuan kaki menekuk

Pigeon-toes : rotasi dalam kaki ke depan

Endurance : ketahanan otot

AAROM : Aktif Asistif Range of Motion

ARROM : Aktif Resistif ROM

Isometrik exercise : kontraksi aktif dari otot tanpa menggerakkan persendian

atau fungsi pergerakan

Isotonik Exercise (Aktif ROM dan Pasif ROM) : kontraksi terjadi jika otot dan

yang lainnya memendek (konsentrik) atau memanjang


(ensentrik) melawan tahanan tertentu atau hasil dari

mobilisasi

Isokinetik exercise : latihan dengan kecepatan dinamis

Kontraktur : hilangnya atau menurunnya rentang gerak sendi, baik

dilakukan secara pasif maupun aktif karena keterbatasan

sendi, fibrosis jaringan penyokong, otot dan kulit.


DAFTAR LAMPIRAN

1. Gerakan Normal Persendian

2. Lembaran Penilaian (Goniometer)

3. Lembar Inform Consent

4. Surat Pengambilan Data Awal

5. Lembaran Disposisi RSUD Fakfak

6. Surat Izin Penelitian

7. Surat Rekomendasi Penelitian

8. Surat Keterangan Selesai Penelitian

9. Master Tabel

10. Hasil Uji Statistik

11. Foto Dokumentasi

12. Denah Rumah Sakit


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kesehatan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia,

namun pada kenyataannya masih banyak orang belum memenuhi standar

kesehatan yang optimal disebabkan faktor lingkungan yang buruk, faktor

ekonomi yang belum memenuhi, maupun gaya hidup mulai dari pola

makan, kebiasaan sampai dengan aktivitas olahraga yang kurang. Hal inilah

yang dapat memicu berbagai macam penyakit termasuk penyakit stroke

(Surahmah, 2012).

Menurut World Health Organization (WHO), stroke adalah tanda-

tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau

global), dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih,

dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain selain vaskuler.

Stroke adalah penyakit gangguan fungsional otak fokal maupun general

secara akut, lebih dari 24 jam kecuali pada intervensi bedah atau meninggal,

berasal dari gangguan sirkulasi serebral. Stroke merupakan salah satu

penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama di Indonesia.

Sebagian besar kejadian stroke tersebut adalah stroke nonhemoragik.

(Riyadina & Rahajeng, 2013)

Stroke berada di urutan ketiga sebagai penyebab kematian di dunia

setelah jantung dan kanker, selain itu stroke juga merupakan penyebab
kecacatan jangka panjang nomor satu di dunia. Di beberapa negara

berkembang 10 – 12% dari seluruh total kematian setiap harinya disebabkan

oleh stroke. Data beberapa rumah sakit besar di Indonesia menunjukkan

bahwa jumlah pasien stroke senantiasa meningkat, diperkirakan hampir 50%

ranjang bangsal pasien saraf diisi oleh penderita stroke, yang didominasi

oleh pasien dengan usia lebih dari 40 tahun (Handayani, 2013).

Menurut American Heart Association (AHA, 2010) dalam

Burhanuddin et all (2013), Jumlah penderita stroke di seluruh dunia yang

berusia dibawah 45 tahun terus meningkat. Pada konferensi ahli saraf

internasional di Inggris dilaporkan bahwa terdapat lebih dari 1000 penderita

stroke berusia kurang dari 30 tahun. Badan kesehatan dunia memprediksi

bahwa kematian akibat stroke akan meningkat seiring dengan kematian

akibat penyakit jantung dan kanker kurang lebih 6 juta pada tahun 2010

menjadi 8 juta di tahun 2030.

Stroke merupakan penyakit tidak menular penyebab kematian

menduduki peringkat atas di wilayah perkotaan menurut data Departemen

Kesehatan (2011) sekitar 28,5% penderita stroke meninggal dunia,

selebihnya lumpuh sebagian atau bahkan lumpuh total dan sisanya 15%

dapat sembuh total. Stroke mulai terjadi pada orang yang berusia produktif

(Wardhani & Martini, 2014).

Jumlah penderita penyakit stroke di Indonesia tahun 2013 berdasarkan

diagnosis tenaga kesehatan (Nakes) diperkirakan sebanyak 1.236.825 orang

(7,0%), sedangkan berdasarkan diagnosis Nakes menurut gejala


diperkirakan sebanyak 2.137.941 orang (12,1%). Berdasarkan diagnosis

Nakes maupun diagnosis menurut gejala, Provinsi Jawa Barat memiliki

estimasi jumlah penderita terbanyak yaitu sebanyak 238.001 orang (7,4%)

yang sudah terdiagnosis dan 533.895 orang (16,6%) yang didiagnosis

gejala, sedangkan Provinsi Papua Barat memiliki jumlah penderita paling

sedikit yaitu sebanyak 2.007 orang (3,6%) yang sudah terdiagnosis dan

2.955 orang (5,3%) yang didiagnosis gejala (Kementrian Kesehatan RI,

2014).

Persendian atau artikulasio adalah suatu hubungan antara dua buah

tulang atau lebih yang dihubungkan melalui pembungkus jaringan ikat pada

bagian luar dan pada bagian dalam terdapat rongga sendi dengan permukaan

tulang yang dilapisi oleh tulang rawan (Lumongga, 2011).

Pasien stroke mengalami kelemahan pada satu sisi anggota tubuhnya

akibat penurunan tonus otot sehingga tidak mampu menggerakkan tubuhnya

(imobilisasi). Imobilisasi yang tidak diberikan penanganan dalam waktu

yang lama akan menimbulkan komplikasi, salah satunya adalah kontraktur.

Kontraktur adalah hilangnya atau menurunnya rentang gerak sendi, baik

dilakukan secara pasif maupun aktif karena keterbatasan sendi, fibrosis

jaringan penyokong, otot dan kulit. Kontraktur menyebabkan terjadinya

gangguan fungsional, gangguan mobilisasi, gangguan aktivitas kehidupan

sehari-hari, dan cacat yang tidak dapat disembuhkan. Rehabilitasi yang

dapat diberikan pada pasien stroke yang mengalami kontraktur berupa

rehabilitasi fisik. Kegiatan rehabilitasi fisik salah satunya adalah mobilisasi.


Bentuk mobilisasi yang dapat diberikan pada pasien stroke salah satunya

adalah latihan range of motion (ROM). Latihan range of motion merupakan

bentuk latihan pergerakan yang dilakukan dengan menggerakkan semua

bagian persendian dengan rentang penuh tanpa menimbulkan rasa nyeri

pada persendian. Latihan range of motion bermanfaat untuk meningkatkan

dan mempertahankan pergerakan pada persendian, mencegah kontraktur

sendi dan atropi otot, mempelancar aliran darah, mencegah pembentukan

trombus dan embolus, mempertahankan dan meningkatkan kekuatan otot

serta membantu pasien mencapai aktivitas normal. (Surahmah, 2012)

Penelitian Ulliya (2007), merupakan penelitian eksperimen dengan pre

post test design. Subyek sebanyak 8 yang dilakukan latihan ROM sebanyak

5 kali dalam seminggu selama 3 minggu. Fleksibilitas sendi diukur pada

sebelum dan setelah 3 minggu latihan ROM. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa ada peningkatan yang signifikan antara lutut kanan dan kiri dan

antara pengukuran sebelum dan setelah 3 minggu pada fleksi sendi lutut kiri

(Siswoyowati, 2014).

Kabupaten Fakfak masih terdapat banyak penderita stroke dari tahun

ke tahun, tidak terkecuali di RSUD Fakfak. Pada tahun 2014 penderita

stroke mencapai 98 pasien sedangkan pada tahun 2015 presentasi pasien

stroke di RSUD Fakfak menjadi 42 pasien. Sedangkan di tahun 2016 dari

bulan Januari sampai bulan Mei sudah terdapat 30 pasien stroke (RSUD

Fakfak, 2016).
Berdasarkan data yang didapatkan dari Ruang Di RSUD Fakfak masih

terdapat beberapa pasien Stroke yang jauh dari kata mobilisasi yang baik.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengambil judul sebagai

bahan penelitian tentang ”Pengaruh Penerapan Latihan Range Of Motion

(ROM) aktif Terhadap Pergerakan Sendi Pasien Pasca Stroke Di Ruang

Fisioterapi RSUD Fakfak Kabupaten Fakfak”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka peneliti

merumuskan masalah dalam penelitian yaitu ”Apakah ada Pengaruh

Penerapan Latihan Range Of Motion (ROM) aktif Terhadap Pergerakan

Sendi Pasien Pasca Stroke Di Ruang Fisioterapi RSUD Fakfak Kabupaten

Fakfak”

1.3. Tujuan Penulisan

1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan umum dalam penelitian ini yaitu bertujuan untuk

mengetahui pengaruh penerapan latihan range of motion (ROM) aktif

terhadap Pergerakan Sendi pasien pasca stroke.


1.3.2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam penelitian ini yaitu bertujuan untuk :

a. Untuk mengetahui kemampuan Fleksi dan Abduksi ekstremitas

pasien pasca stroke sebelum dilakukan latihan range of motion

(ROM) aktif

b. Untuk mengetahui kemampuan Fleksi dan Abduksi ekstremitas

pasien pasca stroke sesudah dilakukan latihan range of motion

(ROM) aktif

c. Untuk menganalisis pengaruh antara Fleksi dan Abduksi

ekstremitas pasien pasca stroke sebelum dan sesudah dilakukan

latihan range of motion (ROM) aktif

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah

satu sumber bacaan bagi para peneliti di masa yang akan datang

terutama yang berhubungan dengan latihan range of motion (ROM)

aktif dan juga mengenai Pergerakan Sendi pasien pasca stroke.

1.4.2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan agar dapat dijadikan sebagai

bahan acuan untuk melakukan tindakan praktisi keperawatan sesuai

Terhadap prosedural dalam hal ini prosedur latihan range of motion

(ROM) aktif untuk pasien pasca stroke.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Tentang Stroke

2.1.1. Definisi Stroke

Penyakit Stroke atau Cerebro Vaskular Disease (CVD)

(stroke) mencakup semua proses patologik yang mengenai pembuluh

darah otak, sebagian besar terjadi karena trombolisis, embolisis atau

hemoragik. CVD menyebabkan kerusakan/kematian sel otak akibat

kekurangan suplai darah. Pendapat lain, kelainan karena perdarahan

dari pembuluh darah/gangguan sirkulasi serebral akibat oklusi lumen

pembuluh darah partial/complete yang mengakibatkan pengaruh

sementara atau permanen (Rosjidi & Nurhidayat, 2014).

Sedangkan menurut Irianto (2014), Stroke adalah penyakit

gangguan fungsional otak, berupa kelumpuhan saraf yang

diakibatkan oleh gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak.

Gangguan saraf maupun kelumpuhan yang terjadi tergantung pada

bagian otak mana yang terkena.

Jadi, Stroke atau Cerebro Vaskular Disease (CVD) adalah

gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh oklusi (sumbatan),

embolisme serta perdarahan (patologi faktor intrinsik sirkulasi

serebral) yang mengakibatkan gangguan permanen atau sementara.

Berat ringannya tergantung pada pembuluh darah yang terkena dan


organ yang divaskularisasi. Demikian juga tanda dan gejala juga

tergantung pusat mana yang mengalami gangguan perfusi, iskemia

atau nekrosis.

2.1.2. Etiologi Stroke

Menurut Smeltzer dan Bare (2002) dalam Rosjidi &

Nurhidayat (2014), menjelaskan stroke biasanya diakibatkan dari

salah satu dari empat kejadian :

a. Trombosis (bekuan darah di dalam pembuluh darah atau leher)

Arteiosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi serebral

adalah penyebab utama trombosis serebral dn merupakan

penyebab terbanyak terjadinya serangan CVD. Adanya

sumbatan atau oklusi akan menghambat aliran darah ke bagian

distal, terjadi hipoperfusi, hipoksia, terganggu nutrisi selular dan

akhirnya menimbulkan infark.

b. Embolisime serebral (bekuan darah atau material lain yang

dibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain)

Penyakit jantung, seperti endokarditis, infektif, penyakit

jantung reumatik, infark miokard serta infeksi pulmonal

merupakan tempat-tempat yang sering menjadi sumber emboli.

Pemasangan katub jantung prostetik juga diduga menjadi

penyebab emboli karena setelah pemasangan alat ini terdapat

peningkatan insiden.
Menurut Harsono (2005) dalam Rosjidi & Nurhidayat

(2014), Emboli dapat berupa jendalan darah, kristal kolesterol,

deposit metastasis, embolus septik, embolus traumatik (karena

trauma) atau karena gelembung nitrogen (Caisson disease:

sering pada penyelam dan penerbangan).

c. Iskemia (penurunan aliran darah ke otak)

Insufisiensi emboli serebral adalah awitan hemiparesis

atau hemiplegia tiba-tiba dengan atau tanpa afasia atau

kehilangan kesadaran pada pasien dengan penyakit jantung atau

paru. Emboli dapat terjadi pada saat sedang istirahat maupun

aktivitas.

Insufisiensi suplai darah ke otak, terutama karena

konstriksi ateroma pada arteri yang mensuplai darah ke otak.

Manifestasi paling umum adalah serangan iskemik sementara.

d. Hemoragik serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan

perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak).

Letak hemoragi dapat di ekstradural/hemoragi epidural di

bawah durameter, di ruang sub arachnoid, atau di dalam jaringan

otak.

1) Hemoragi Subarachnoid

Dapat terjadi karena trauma atau hipertensi, penyebab

tersering adalah kebocoran anurisma pada area sirkulus

willisi dan malformasi arteri, vena kongenental.


2) Hemoragi Intraserebral

Perdarahan di dalam substansi otak paling umum

terjadi pada pasien yang mengalami hipertensi dan

aterosklerosis serebral dengan ruptur/pecahnya pembuluh

darah. Pada kasus mengenai pasien yang lebih muda,

biasanya umur 40 tahun, perdarahan intraserebral biasanya

disebabkan oleh malvormasi arteri-vena, hemangioblastoma

dan trauma. Tumor otak, dan penggunaan obat tertentu

seperti antikoagulan oral, amfetamin dan berbagai obat

aditif juga menjadi penyebab perdarahan intra serebral usia

muda.

Prognosis tergantung pada derajat perdarahan dan

luasnya kerusakan otak. Apabila ukuran hematom kecil

maka tandan gejala adanya masa intraserebral tidak nyata

dan pasien tidak sadar. Serangan hampir selalu dalam

keadaan aktif atau emosional dan hampir tidak pernah

terjadi selama tidur (Harsono;2005 dalam Rosjidi &

Nurhidayat;2014)

2.1.3. Klasifikasi Stroke

Menurut Irianto (2014) mengklasifikasikan stroke kedalam 4

jenis stroke, antara lain:


a. TIA (Transient Ischemic Atteck), Merupakan stroke yang ringan,

berupa serangan iskemik sepintas

b. RIND (Reversible Ischemic Neurologic Deficit), Merupakan

stroke yang ringan berua gangguan saraf oleh iskemik yang

pulih dan gejalanya dapat sembuh sempurna dalam waktu 24

jam.

c. Stroke Non Hemorhagica (stroke tanpa perdarahan), Merupakan

stroke infark iskemik, yang terjadi karena aliran darah berkurang

atau terhenti pada sebagian daerah otak. Biasanya penderita

masih sadar.

d. Stroke Hemorhagica (stroke dengan perdarahan), Merupakan

stroke perdarahan yang terjadi karena dinding pembuluh darah

otak robek. Biasanya kesadaran penderita menurun.

2.1.4. Manifestasi Klinis Stroke

Irianto (2014), menjelaskan tanda dan gejala stroke sangat

bervariasi, tergantung bagian otak yang terkena. Namun, secara

umum dapat dikemukakan tanda dan gejala yang sering dijumpai,

antara lain:

a. Timbul rasa kesemutan pada sesisi badan, mati rasa, terasa

seperti terbakar, atau terkena cabai.

b. Lemas, atau bahkan kelumpuhan pada sesisi badan, sebelah

kanan atau kiri saja.


c. Mulut, lidah mencong bila diluruskan. Mudah diamati jika

berkumur, tidak sempuna atau air muncrat dari mulut.

d. Gangguan menelan, atau bila minum sering tersedak

e. Gangguan berbicara, berupa pelo, atau eksentuasi kata-kata sulit

dimengerti (afasid) bahkan bicara tidak lancar, hanya sepatah-

sepatah.

f. Tidak mampu membaca dan menulis. Kadang-kadang diawali

dengan sembarangan tulisan yang tidak seperti biasa, karena

tulisan lebih jelek.

g. Berjalan menjadi sulit, langkahnya kecil-kecil

h. Kurang mampu memahami pembicaraan orang lain.

i. Kemampuan intelektual menurun drastis, bahkan tidak mampu

berhitung, menjadi pelupa.

j. Fungsi indra terganggu sehingga bisa terjadi gangguan

penglihatan berupa sebagian lapangan pandang tidak terlihat

atau gelap, juga pendengaran berkurang

k. Gangguan pada suasana emosi, menjadi lebih mudah menangis

atau tertawa.

l. Kelopak mata sulit dibuka, atau dalam keadaan terkatup.

m. Gerakan badan tidak terkoordinasi sehingga jika berjalan

sempoyongan, atau kehilangan koordinasi pada sesisi badan.

n. Gangguan kesadaran, pingsan, bahkan sampai koma.


2.1.5. Patofisiologi

Stroke non hemoragik disebabkan oleh trombosis akibat plak

aterosklerosis yang memberi vaskularisasi pada otak atau oleh

emboli dari pembuluh darah diluar otak yang tersangkut di arteri

otak. Saat terbentuknya plak fibrosis (ateroma) di lokasi yang

terbatas seperti di tempat percabangan arteri. Trombosit selanjutnya

melekat pada permukaan plak bersama dengan fibrin, perlekatan

trombosit secara perlahan akan memperbesar ukuran plak sehingga

terbentuk trombus. Trombus dan emboli di dalam pembuluh darah

akan terlepas dan terbawa hingga terperangkap dalam pembuluh

darah distal, lalu menyebabkan pengurangan aliran darah yang

menuju ke otak sehingga sel otak akan mengalami kekurangan nurisi

dan juga oksigen, sel otak yang mengalami kekurangan oksigen dan

glukosa akan menyebabkan asidosis lalu asidosis akan

mengakibatkan natrium, klorida, dan air masuk ke dalam sel otak

dan kalium meninggalkan sel otak sehingga terjadi edema setempat.

Kemudian kalsium akan masuk dan memicu serangkaian radikal

bebas sehingga terjadi perusakan membran sel lalu mengkerut dan

tubuh mengalami defisit neurologis lalu mati (Esther, 2010 dalam

Fauzi 2013).
2.1.6. Faktor Resiko Stroke

Rosjidi & Nurhidayat (2014) menjelaskan faktor resiko stroke,

pada saat terjadi seranagan CVD pada dasarnya telah terjadi

gangguan lain yang mendahului, seperti diabetes mellitus, hipertensi

dan lain-lain.pencegahan CVD adalah pendekatan yang paling baik

dan merupakan tujuan utama program kesehatan individu dan

masyarakat. Dengan demikian pengendalian faktor risiko merupakan

langkah penting untuk mencegah serangan CVD.

Beberapa faktor risiko sulit bahkan tidak bias di ubah atau

dopengaruhi dan beberapa faktor bias diubah karena berhubungan

dengan lingkungan dan pola hidup, atau ada faktor risiko yang

merupakan kombinasi faktor lingkungan dan genetic misalnya

hipertensi, diperkirakan hamper 85% dari stroke dapat dicegah

dengan mengendalikan faktor risiko yang dapat dimodifikasi.

Secara garis besar faktor risiko stroke dibagi atas faktor risiko

yang dapat dimodifikasi (modifiable) dan yang tidak dapat

dimodifikasi (nonmodifiable). Faktor risiko stroke yang dapat

dimodifikasi diantaranya adalah hipertensi, penyakit, diabetes

melitus, Penyakit jantung, gangguan aliran darah sepintas,

hiperkolesterolemi, infeksi, obesitas, merokok dan kelainan

pembuluh darah otak. Sedangkan faktor risiko yang tidak dapat

dimodifikasi antara lain usia, dan faktor genetik.


1. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi (modifiable)

a. Hipertensi

Hipertensi merupakan faktor risiko utama. Hipertensi

dapat mengakibatkan pecahnya maupun penyempitan

pembuluh darah otak. Pecahnya pembuluh darah otak akan

menimbulkan perdarahan, dan inj sangat fatal karena akan

terjadi interupsi aliran darah ke bagian distal disamping itu

darah ekstravasal akan tertimbunsehingga akan

menimbulkan tekanan intracranial yang meningkat

sedangkan penyempitan pembuluh darah otak dan sel-sel

otak akan mengalami kematian.

Hipertensi meningkatkan beban kerja jantung yang

membeuat dinding jantung menjadi semakin membesar dan

akhirnya melemah. Tekanan darah yang tinggi terus

menerus akan menyebabkan kerusakan system pembuluh

darah arteri secara perlahan-lahan denganmengalami proses

pengerasan yang akan diperberat oleh adanya peningkatan

lipid, akhirnya lumen pembuluh darah arteri menyempit dan

aliran darah berkurang bahkan bias berhenti. Jika arteri

koroner yang mengalami penyempitan maka akan terjadi

kerusakan otot jantung. Di samping itu hipertensi juga

merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke dengan


kemungkinan 4-6 kali (Sutarto;2003 dalam Rosjidi &

Nurhidayat;2014).

b. Diabetes Melitus

Diabetes mellitus akan berakibat menebalkan dinding

pembuluh darah otak yang berukuran besar. Penebalan ini

akan mengakibatkan terjadinya penyempitan lumen

pembuluh darah sehingga akan menganggu aliran darah

serebra dengan akibat terjadinya iskemia dan infark.

Diabetes mellitus menyebabkan gangguan vaskuler

berupa mikroangiopati, terjadinya penebalan dinding

pembuluh darah pada semua organ, mata, ginjal,otak, dan

jantung, sehingga terjadi aterosklerosis hebat. Kelebihan

BB, usia lanjut, konsumsi karbohidrat berlebihan, kerusakan

pancreas merupakan penyebab terjadinya penyakit DM.

Penyakit DM yang tidak terkontrol menyimpang 80%

angka kematian akibat PJK dan stroke (Kusmana;2006

dalam Rosjidi & Nurhidayat;2014). Pengendalian DM

(guka darah yang tinggi) merupakan kunci mengurangi

risiko serangan CVD

c. Penyakit jantung

Berbagai penyakit jantung merupakan faktor risiko

terjadinya GPDO, seperti penyakit jantung reumatik,

penyakit jantung korone, gangguan irama jantung. Penyakit


diatas umumnya akan melepas gumpalan darah atau sel-sel

jaringan yang telah mati ke dalam aliran darah menuju ke

otak. Emboli ini akan menyumbat aliran pembuluh darah

atau tempat-tempat terjadinya trombosis. Slah satu faktor

risiko yang paling penting stroke adalah fibrilasi atrium

(FA). FA yang tidak diobati akan meningkatkan risiko

stroke 4-7 kali (Feigin;2004 dalam Rosjidi &

Nurhidayat;2014).

d. Gangguan aliran darah sepintas (TIA=Transient iskemic

attack)

Berbagai faktor risiko GPDO yang ada pada

seseorang dapat mengakibatkan gangguan aliran darah otak

sepintas yang menimbulkan gejala-gejala sementara (kurang

dari 24 jam) gejala yang bervariasi tergantung daerah mana

yang mengalami gangguan faktor vaskularisasi. Gejala yang

sering muncul seperti: hemiparesis, disartria, kelumpuhan

otot-otot mulut/pipi merot, kebutaan mendadak,

hemiparestesi, dan afasia. Makin sering seseorang

mengalami serangan sepintas ini maka akan semakin besar

pula kemungkinan terkena serangan GPDO.

Sepersepuluh pasca serangan TIA jika tidak

mendapatkan pengobatan yang tepat akan mengalami

serangan stroke dalam 3 bulan dan sepertiga akan


mengalami stroke dalam 5 tahun pasca serangan TIA yang

pertama.

e. Hiperkolesterolemi

Meningkatnya kadar klesterol dalam darah, terutama

LDL (Low density lipoprotein), merupakan faktor risiko

penting terjadinya aterosklerosis. Konsentrasi LDL

memiliki sensitifitas 47% untuk memprediksi angka

kematian setelah 10 tahun pada penderita PJK (

Sargowo;2003 dalam Rosjidi & Nurhidayat;2014).

Perbandingan antara kadar LDL dan HDL darah menjadi

indikasi seseorang berisiko terjadinya penyakit jantung

koroner yang merupakan faktor risiko GPDO.

f. Infeksi

Tuberculosis malaria, lues, leptospirosis dan infeksi

cacing merupakan faktor risiko terjadinya serangan GPDO.

Negara Indonesia penyakit infeksi masih menduduki

ranking pertama.

g. Obesitas

Obesitas masih menjadi perdebatan apakah

merupakan faktor risiko yang atau tidak. Tetapi yang jelas

obesitas merupakan faktor risiko penyakit jantung.

Kelebihan berat badan akan meningkatkan risiko stroke

15% karena meningkatnya penyakit hipertensi, penyakit


jantung, DM tipe II, dan aterosklerosis (Veigin;2004 dalam

Rosjidi & Nurhidayat;2014).

h. Merokok

Merokok meningkatkan risiko stroke empat kali lipat,

hal ini berlaku untuk semua jenis rokok, sigaret, pipa, atau

cerutu (Veigin;2004 dalam Rosjidi & Nurhidayat;2014).

Merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen,

peningkatan ini akan mempengaruhi terjadinya penebalan

dinding pembuluh darah juga peningkatan viskositas darah.

Rokok merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit

jantung koroner.

Dari berbagai penelitian perokok pasif meningkatkan

kemungkinan terkena stroke hamper 20%-30%

dibandingkan orang yang tinggal dengan bukan perokok.

Mereka yang merokok lebih dari 20 batang memiliki risiko

sebesar dua sampai tiga kali lebih tinggi dari populasi

umum (Veigin;2004 dalam Rosjidi & Nurhidayat;2014).

Rokok dapat merangsang proses aterosklerosis Karen

efek langsung karbon monoksida pada dinding arteri,

kemudian nikotin dapat menyebabkan mobilisasi

katekolamin juga meyebabkan kerusakan endotel arteri.


i. Kelainan pembuluh darah otak

Pada umumnya kelainan pembuluh darah otak bersifat

bawaan atau karena infeksi. Pembuluh darah yang abnormal

dapat pecah, robek atau mengganggu aliran darah spontan

sehingga akan menimbulkan perdarahan otak atau infark.

2. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi

a. Lanjut usia : Proses degenerasi akan selalu mengiringi

proses menua, termasuk pembuluh darah otak.

b. Penyakit paru-paru menahun terutama asma bronchial

c. Penyakit darah tertentu: polisetemia dapat menghambat

aliran darah ke otak, leukemia dapat mengakibatkan

perdarahan otak.

d. Asam urat yang berlebihan akan menimbulkan masalah

yang pada persendian dan ginjal. Tetapi mekanisme

terjadinya belum jelas. Tidak sedikit penderita GPDO yang

kadar asam uratnya sangat tinggi.

e. Kombinasi berbagai faktor risiko secara teori akan

memperkuat kemungkinan terjadinya GPDO.

2.1.7. Komplikasi Stroke

Menurut Susanto, Dewi, Winoto et all (2014) menyebutkan

selain kematian, komplikasi stroke meliputi:


a. Aritmia dan infark miokard

Aritmia merupakan masalah pada jantung. Yang terjadi

ketika organ tersebut berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau

tidak teratur. Hal ini disebabkan oleh impuls elektrik yang

berfungsi mengatur detak jantung tidak bekerja dengan baik.

Infark miokard akut dapat mengakibatkan syok

kardiogenik karena otot jantung tidak mendapatkan suplai darah

yang cukup sehingga otot jantung mati atau nekrosis. Hal ini

akan berefek pompa jantung tidak dapat memompa darah secara

optimal ke seluruh tubuh. Jika tubuh tidak mendapatkan suplai

oksigen yang cukup, maka tubuh akan mengalami syok. Infark

miokard akut dapat berlanjut menjadi gagal jantung terlebih

dahulu sebelum syok.

b. Disfagia

Disfagia merupakan istilah medis yang artinya sulit

menelan. Kerusakan yang disebabkan oleh stroke dapat

mengganggu reflek menelan, akibatnya partike-partikel

makanan bisa masuk kedalam saluran pernapasan. Proses

penyaluran makanan atau minuman ke dalam lambung akan

membutuhkan usaha lebih besar dan waktu lebih lama. Disfagia

berpotensi menjadi ancaman serius terhadap kesehatan. Pada

sebagian kasus, penderita bahkan tidak bisa makan atau minum


sama sekali dikarenakan gejala rasa sakit yang menyertai sudah

sangat parah.

c. Trombosis vena dalam

Trombosis vena dalam adalah penggumpalan darah yang

terjadi di dalam pembuluh darah vena dalam. Kondisi ini umum

muncul pada pembuluh vena besar yang terdapat di bagian paha

dan bitis.

Trombosis vena juga dapat muncul di pembuluh darah

vena lainya, seperti lengan, dan dapat menyebar ke paru-paru.

DVT (deep vein thrombosis) atau trombosis vena dalam yang

menyerang paru-paru ini dapat menyumbat separuh atau seluruh

bagian dari arteri paru dan menyebabkan timbulnya komplikasi

yang berbahaya bernama emboli paru.

d. Infeksi saluran kencing dan inkontinensia urin

Infeksi saluran kemih adalah peradangan pada kandung

kemih. ISK umumnya disebabkan oleh bakteri, infeksi ini bisa

menjadi semakin parah jika bakteri menyebar sampai ke ginjal.

Dibandingkan pria, wanita sering mengalami ISK. Hal ini

disebabkan karena saluran uretra (saluran yag membawa urin

dari kandung kemih ke luar tubuh) pada wanita lebih pendek

dan mulut uretra wanita terletak sangat dekat dengan anus.

Tidak ada batasan umur wanita yang bisa mengalami infeksi

kandung kemih. Namun, wanita yang hamil, aktif secara


seksual, dan syang sudah melewati menopause memiliki resiko

lebih besar.

Inkontinensia urin atau ketidakmampuan seseorang untuk

menahan urin yang keluar disebabkan oleh banyak hal.

Inkontinensia urin lebih banyak diderita oleh kaum wanita

dibandingkan dengan kaum pria. Beberapa hal yang

menyebabkan terjadinya inkontinensia urin:

1) Tekanan di rongga perut seperti saat batuk, bersin, tertawa

2) Lemahnya otot dasar panggul

3) Memiliki BB berlebih

4) Menopause

5) Meminum obat-oatan tertentu

6) Beberapa makanan dan minuman tertentu

7) Gangguan pada persarafan di saluran kemih

8) Adanya penyakit lain

9) Riwayat operasi histerektomi

e. Hidrosefalus

Sekitar 10% orang mengalami stroke hemoragik akan

terkena hidrosefalus. Hidrosefalus adalah komplikasi yang

terjadi akibat berlebihannya produksi cairan serebrospinal di

dalam rongga otak. Produksi berlebihan tersebut disebabkan

oleh dampak stroke hemoragik. Gejalanya adalah mual dan

muntah, kehilangan keseimbangan dan sakit kepala.


2.1.8. Pencegahan Stroke

Menurut Susanto, Dewi, Winoto et all (2014) menjelaskan

mengenai pencegahan stroke meliputi :

a. Mencegah Stroke Melalui Pola Makan

Makanan yang buruk adalah penyebab utama seseorang

terkena stroke. Makanan yang mengandung lemak jenuh dan

garam tinggi harus dihindari. Makanan-makanan tersebut bisa

menyebabkan terjadinya penimbunan kolesterol didalam arteri,

obesitas, diabetes dan darah tinggi yang semuanya merupakan

pemicu stroke. Konsumsi garam yang baik adalah 6 gram atau 1

sendok teh perhari.

Makanan yang disarankan bagi kesehatan adalah makanan

yang mengandung lemak tidak jenuh, protein vitamin dan serat.

Seluruh makanan tersebut bisa peroleh dari sayur, buah, biji-

bijian utuh dan daging rendah lemak seperti dada ayam.

Berikut ini adalah daftar makanan yang sebaiknya

diwaspadai karena mengandung lemak jenuh yang tinggi :

1) Potongan daging berlemak

2) Makanan atau minuman yang bersantan

3) Krim

4) Kue dan biskuit

5) Makanan yang mengandung kelapa atau minyak sawit

6) Keju
7) Mentega

Agar kadar kolesterol dalam tubuh berkurang, maka diet

harus simbang. Diet seimbang mencakup makanan yang kaya

akan makanan tidak jenuh diantaranya :

1) Buah advokad

2) Minyak ikan

3) Minyak zaitun, minyak nabati, minyak dari bunga

matahari seta biji rapa.

b. Mencegah Stroke Dengan Olahraga

Olahraga secara teratur dapat membuat jantung dan sistem

peredaran darah bekerja lebih efisien. Olahraga juga dapat

menurunkan kadar kolesterol dan menjaga berat badan serta

tekanan darah pada tingkat yang sehat.

Tingkat kolesterol yang disarankan pada para ahli

kesehatan adalah 5 milimol/liter darah, sedangkan tekanan darah

yang sehat berada dikisaran 90/60 mmHg sampai 120/80

mmHg.

Bagi mereka yang baru sembuh dari stroke sebaiknya

berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai kegiatan

olahraga. Olahraga teratur biasanya mustahil dilakukan di

beberapa minggu atau bulan pertama setelah stroke, namun

sudah bisa berolahraga setelah rehabilisasi mengalami

kemajuan.
c. Berhenti Merokok

Resiko stroke meningkat dua kali lipat jika merokok

karena rokok dapat mempersempit arteri dan mebat darah

cenderung menggumpal. Dengan tidak merokok, maka

kesehatan dapat meningkat serta terhindar dari maslah kesehatan

lainnya, seperti paru-paru dan jantung.

d. Hindari Konsumsi Minuman Keras

Minuman keras mengandung kalori tinggi. Jika minuman

keras dikonsumsi secaa berlebihan maka akan rentang terhdap

berbagai penyakit pemicu stroke seperti diabetes, tekanan darah

tinggi, dan penyumbatan pembuluh arteri. Konsumsi minuman

keras berlebihan juga dapat membuat detak jantung tidak teratur

2.2. Tinjauan Tentang Sendi

2.2.1. Definisi Sendi

Persendian atau artikulasio adalah suatu hubungan antara dua

buah tulang atau lebih yang dihubungkan melalui pembungkus

jaringan ikat pada bagian luar dan pada bagian dalam terdapat

rongga sendi dengan permukaan tulang yang dilapisi oleh tulang

rawan (Lumongga, 2011).

Sedangkan Wikipedia (2015) Sendi merupakan perhubungan

antartulang sehingga tulang dapat digerakkan. Hubungan dua tulang

disebut persendian (artikulasi).


2.2.2. Komponen Penunjang Persendian

Dalam Wikipedia (2015) Beberapa komponen penunjang sendi:

a. Kapsula sendi adalah lapisan berserabut yang melapisi sendi. Di

bagian dalamnya terdapat rongga.

b. Ligamen (ligamentum) adalah jaringan berbentuk pita yang

tersusun dari serabut-serabut liat yang mengikat tulang satu

dengan tulang lain pada sendi

1) Tulang rawan hialin (kartilago hialin) adalah jaringan tulang

rawan yang menutupi kedua ujung tulang. Berguna untuk

menjaga benturan.

2) Cairan sinovial adalah cairan pelumas pada kapsula sendi.

2.2.3. Macam-Macam Sendi dan Pergerakan

Menurut Ana (2012) macam-macam sendi dikelompokan

dalam beberapa 4 macam yakni macam-macam sendi berdasarkan

arah gerakannya, berdasarkan struktur, berdasarkan fungsi,

berdasarkan anatomi lokasinya. untuk mengetahui penjelasannya

dapat dilihat dibawah ini.

a. Macam-Macam Sendi Berdasarkan Arah Gerakannya

Macam-macam sendi berdasarkan Arah gerakannya antara

lain sebagai berikut :

1) Sendi Engsel adalah hubungan antartulang yang

memungkinkan gerakan satu arah maju atau mundur.


Contoh sendi engsel adalah persendian pada siku, lutut, dan

persendian antara ruas jari tangan.

2) Sendi Peluru adalah hubungan antar tulang yang

memungkinkan gerak ke segala arah. Contoh sendi peluru

adalah persendian antara tulang paha dan tulang gelang

panggul serta antara persendian pangkal lengan atas dan

gelang bahu.

3) Sendi Putar adalah hubungan antartulang yang

memungkinkan gerakan tulang yang satu mengelilingi

tulang lainnya sebagai poros. Contoh sendi putar adalah

persendian tulang tengkorak dan tulang atlas serta

persendian tulang hasta dan tulang pengumpul.

4) Sendi Geser adalah hubungan antartulang yang

memungkinkan gerakan tulang yang satu menggeser pada

tulang yang lain. Contoh sendi geser adalah persendian

antartulang karpal.

5) Sendi Pelana adalah antartulang yang memungkinkan

gerakan tulang ke dua arah yang saling tegak lurus seperti

gerakan orang naik kuda. Contoh sendi pelana adalah

persendian tulang tumit dan tulang kering.


b. Macam-Macam Sendi Berdasarkan Sifat

Macam-macam sendi berdasarkan sifat dan biasa pula

dikatakan dengan pergerakan atau fungsinya, antara lain sebagai

berikut.

1) Sinartosis (Synarthrosis) atau Sendi mati adalah hubungan

antartulang yang tidak memungkinkan terjadinya gerakan,

dapat dibedakan menjadi dua (wikipedia, 2015) :

 Sinartrosis sinfibrosis: sinartrosis yang tulangnya

dihubungkan jaringan ikat fibrosa. Contoh: persendian

tulang tengkorak.

 Sinartrosis sinkondrosis: sinartrosis yang dihubungkan

oleh tulang rawan. Contoh: hubungan antarsegmen

pada tulang belakang.

2) Amfiartrosis (Amphiarthrosis) atau Sendi kaku adalah

hubungan antartulang yang hanya sedikit memungkinkan

terjadinya gerakan. Amfiartrosis terbagi atas (wikipedia,

2015) :

 Sindesmosis: Tulang dihubungkan oleh jaringan ikat

serabut dan ligamen. Contoh:persendian antara fibula

dan tibia.

 Simfisis: Tulang dihubungkan oleh jaringan tulang

rawan yang berbentuk seperti cakram. Contoh:

hubungan antara ruas-ruas tulang belakang.


3) Diartrosis atau Sendi gerak adalah hubungan antartulang

yang memungkinkan terjadinya gerak, baik gerak satu arah,

dua arah, maupun ke segala arah. Dapat dikelempokkan

menjadi (Wikipedia, 2015):

 Sendi Peluru : Sendi yang memungkinkan pergerakan

ke segala arah. Contoh: hubungan tulang lengan atas

dengan tulang belikat, & ( tulang paha dengan gelang

panggul )

 Sendi Pelana : Sendi yang memungkinkan beberapa

gerakan rotasi, namun tidak ke segala arah. Contoh:

hubungan tulang telapak tangan dan jari tangan.

 Sendi Putar : Sendi yang memungkinkan gerakan

berputar (rotasi). Contoh: hubungan tulang tengkorak

dengan tulang belakang I (atlas).

 Sendi Luncur : Sendi yang memungkinkan gerak rotasi

pada satu bidang datar. Contoh: hubungan tulang

pergerlangan kaki.

 Sendi Engsel : Sendi yang memungkinkan gerakan satu

arah. Contoh: sendi siku antara tulang lengan atas dan

tulang hasta.

c. Macam-Macam Sendi Berdasarkan Strukturnya

Macam-macam sendi berdasarkan Strukturnya antara lain

sebagai berikut :
1) Sendi Fibrosa adalah sendi yang terdiri atas serat-serat

kolagen yang sebagian besar dari sendi fibrosa tidak dapat

digerakkan sama sekali karna jarak antar tulang sangat

dekat yang dipisahkan selapis jaringan ikat fibrosa. Contoh

letak sendi fibrosa adalah sutura pada antara tulang

tengkorak.

2) Sendi Kartilaginosa adalah persendian yang arahnya

gerakannya kurang atau terbatas. yang hubungkan oleh

tulang rawan hialin. Contohnya Tulang iga.

3) Sendi Sinovial adalah sendi yang arah gerakannya leluasa

atau bebas, sendi sinovial adalah sendi yang paling banyak

pada tubuh manusia. Contohnya sikut dan lutut, bahu dan

panggul, pergelangan tangan dan kaki, sendi pada tulang

jari tangan dan kaki.

d. Macam-Macam Sendi Berdasarkan Anatomi Lokasi

1) Sendi artikulasi Tangan

2) Sendi pergelangan

3) Sendi siku

4) Sendi Bahu aksila (Gleno humeral dan sendi akromio

klavikularis)

5) Sendi sterno klavikularis

6) Sendi artikulatoris vertebra

7) Sendi Sakroiliaka panggul


8) Sendi temporo mandibular rahang

9) Sendi artikulasi Kaki

10) Sendi pinggul

11) Sendi lutut

2.2.4. Jenis-Jenis Pergerakan Sendi

Menurut Kurnia (2010), Gerakan pada sendi terbagi menjadi

osteokinetik dan arthrokinematik. Gerakan osteokinetik adalah

gerakan pada tulang, dimana gerakan tersebut diwakili oleh

perubahan sudut artikuler dan bersifat volunter. Gerakan ini terdiri

dari fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, rotasi interna, dan rotasi

eksterna.

a. Fleksi dan Ekstensi

Fleksi Merupakan gerakan menekuk antara tulang yang

satu dengan yang lain, menyebabkan kedua bagian mendekat.

Biasanya terjadi pada permukaan anterior tulang (kecuali pada

lutut)

Ekstensi Merupakan gerakan meluruskan/ menjauhkan

satu tulang dengan yang lain. Gerakan ini biasanya digunakan

untuk mengembalikan bagian tubuh ke posisi anatomis setelah

telah tertekuk. Hiperekstensi adalah kelanjutan dari ekstensi di

luar kemampuan secara anatomis.


Gambar 2.1 Fleksi, Ekstensi dan Gambar 2.2 Fleksi dan
Hiperektensi lengan Ekstensi siku

Gambar 2.3 Fleksi dan


Ekstensi lutut

b. Abduksi dan Adduksi

Abduksi adalah gerakan menjauh dari garis tengah tubuh,

sedang adduksi adalah gerakan menuju garis tengah. Sendi bahu

dan pinggul dapat melakukan gerakan abduksi dan adduksi. Pada

jari tengah pada tangan dan kaki, titik acuan untuk gerakan ini

adalah jari kedua.

Gambar 2.4 Abduksi dan Gambar 2.5 Abduksi dan


Adduksi Bahu Adduksi Pinggul
2.3. Tinjauan Tentang Latihan Range Of Motion (ROM) aktif

2.3.1. Pengertian Latihan ROM

Range of Motion, or ROM is the range through which a joint

can be moved yang artinya “ROM adalah latihan yang bertujuan

untuk meningkatkan pergerakan” (Hamilton Health Sciences, 2011).

Sedangkan Menurut Eldawati (2011) dalam Anggraeni (2015),

Range Of Motion (ROM) aktif adalah latihan gerak sendi untuk

meningkatkan darah perifer dan mencegah kekakuan otot/sendi.

2.3.2. Tujuan Latihan ROM

Menurut Anelia (2013) dalam Anggraeni (2015), menjelaskan

tujuan ROM adalah untuk memperbaiki dan mencegah kekakuan

otot, memelihara atau meningkatkan fleksibilitas sendi, memelihara

atau meningkatkan pertumbuhan tulang dan mencegah kontraktur.

Latihan sendi dapat segera dilakukan untuk meningkatkan kekuatan

otot dan ketahanan otot (endurance) sehingga memperlancar aliran

darah serta suplai oksigen untuk jaringan sehingga akan

memperlancar proses penyembuhan.

2.3.3. Manfaat Latihan ROM

Menurut Basit (2011), menjelaskan tujuan dari latihan Range

Of Motion (ROM) aktif adalah sebagai berikut :


a. Mempertahankan atau meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan

otot (efek rehabilitatif)

b. Mencegah kontraktur dan kekakuan pada sendi (efek preventif)

c. Mempertahankan fungsi jatung dan pernapasan

d. Menemukan kelainan-kelainan pada sendi (diagnostik)

2.3.4. Klasifikasi Latihan ROM

Menurut Eldawati (2011) dalam Anggraeni (2015),

mengklasifikasikan latihan gerak sendi (LGS) atau Range Of Motion

(ROM) aktif adalah sebagai berikut :

a. Aktif Asistif Range of Motion (AAROM) adalah kontraksi aktif

dari otot dengan bantuan kekuatan eksternal seperti terapis, alat

mekanik atau ekstremitas yang tidak sakit. AAROM

meningkatkan fleksibilitas, kekuatan otot, meningkatkan

koordinasi otot dan mengurangi ketegangan pada otot sehingga

dapat mengurangi rasa nyeri.

b. Aktif Resistif ROM (ARROM) kontraksi aktif dari otot melawn

tahanan yang diberikan, tahanan dari otot dapat diberikan

dengan berat/beban, alat, tahanan manual atau berat badan.

Tujuannya meningkatkan kekuatan otot dan stabilitas.

c. Isometrik exercise adalah kontraksi aktif dari otot tanpa

menggerakkan persendian atau fungsi pergerakan. Isometrik


exercise digunakan jika ROM persendian dibatasi karena injuri

atau immobilisasi

d. Isotonik Exercise (Aktif ROM dan Pasif ROM) adalah kontraksi

terjadi jika otot dan yang lainnya memendek (konsentrik) atau

memanjang (ensentrik) melawan tahanan tertentu atau hasil dari

mobilisasi. Contoh isotonic exercise, fleksi atau ekstensi

ekstremitas, isotonik exercise tetap menyebabkan ketegangan

pada otot yang menimbulkan rasa nyeri pada otot.

e. Isokinetik exercise adalah latihan dengan kecepatan dinamis dan

adanya tahanan pada otot serta persendian dengan bantuan alat

isokinetik menggunaan consentrik dan ensentrik kontraksi.

2.3.5. Indikasi dan Kontraindikasi Latihan ROM

Menurut Basit (2011), menjelaskan indikasi dan kotraindikasi

dalam melakukan latihan ROM sebagai berikut :

a. Indikasi

1) Penurunan tingkat kesadaran ( misal ; stroke )

2) Kelemahan otot

3) Fase rehabilitasi fisik

4) Bedrest ( tirah baring ) lama

b. Kontra – indikasi

1) Kelainan tulang / sendi

2) Gangguan jantung
3) Trombus atau emboli pada pembuluh darah

2.3.6. Prinsip Latihan ROM

Menurut Potter & Perry (2006) dalam Anggraeni (2015),

menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perawat pada

saat akan melakukan latihan ROM sebagai berikut :

a. Untuk melakukan ROM aktif klien dianjurkan untuk melakukan

gerakan sesuai yang sudah dianjurkan, hindari perasaan

ketidaknyamanan saat latihan dilakukan, gerakan dilakukan

secara sistematis dengan urutan yang sama setiap sesi, setiap

gerak dilakukan 3 kali dengan frekuensi tiga kali sehari.

b. Berikan penjelasan manfaat dan tujuan ROM pada pasien dan

keluarga.

c. Sendi tidak boleh digerakkan dan dihentikan pada titik nyeri

d. Posisikan pasien dalam posisi tubuh lurus normal

e. Gerakan latihan harus dilakukan secara lembut perlahan dan

berirama

f. Tidak melakukan latihan pada sendi yang mengalami nyeri

g. Amati respon non verbal pasien

h. Latihan harus dihentikan dan berikan kesempatan pada klien

untuk beristirahat apabila terjadi spasme otot yang

dimenifestasikan kontraksi otot yang tiba-tiba dan terus-

menerus.
2.3.7. Program Latihan ROM

Potter & Perry (2006), menganjurkan untuk melakukan latihan

ROM minimal 2 kali/hari. Sedangkan menurut Smeltzzer & Bare

(2008), menyebutkan bahwa latihan ROM dapat dilakukan 4 sampai

5 kali sehari, dengan waktu 10 menit untuk setiap latihan. Dari hasil

penelitian Purwanti dan Purwaningsih (2013), dalam jurnal pengaruh

latihan range of motion (ROM) aktif terhadap kekuatan otot pada

pasien dengan post operasi fraktur humerus, terjadi peningkatan

kekuatan otot yang signifikan dengan melakukan latihan ROM 9 kali

dalam waktu 3 hari (Anggraeni, 2015).

Menurut Cahyati (2011) dalam Anggraeni (2015), pada

jurnalnya yang berjudul “perbandingan latihan ROM bilateral

terhadap kekuatan otot pasien stroke” prosedur latihan ROM pada

ekstremitas atas :

a. Latihan bahu

Luruskan siku, angkat siku dari posisi di samping tubuh pasien

ke arah depan sampai ke posisi di atas kepala, turunkan dan

kembalikan ke posisi semula dengan siku tetap lurus.

b. Latihan siku

Lakukan gerakan menekuk meluruskan siku

c. Latihan lengan

Gerakkan tangan ke arah luar (telentang) dan ke arah dalam

(telungkup)
d. Latihan pergelangan tangan

Tekuk pergelangan tangan pasien ke atas dan ke bawah

e. Latihan jari-jari tangan

1) Buat gerakan mengepal atau menekuk jari-jari dan kemudian

luruskan jari-jari tangan

2) Lakukan gerakan memutar ibu jari

3) Lebarkan jari-jari tangan kemudian merapatkan kembali.

2.3.8. Alat Ukur Nilai Pergerakan Sendi ROM

Gambar 2.6 Goniometer

Goniometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur range

of motion/ ruang lingkup sendi. Alat ini dapat mengukur baik ROM

aktif maupun pasif. Goniometer membantu dalam:

a. Menentukan ada atau tidak adanya disfungsi pada sendi

b. Menegakkan diagnosis

c. Menentukan tidakan intervensi

d. Mengevaluasi peningkatan atau penurunan dari target intervensi


2.4. Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian “Pengaruh penerapan latihan range

of motion (ROM) aktif Terhadap Pergerakan Sendi pasca stroke” adalah

sebagai berikut:

Variabel Independen Variabel Dependen

Latihan ROM aktif


Pergerakan Sendi
Ekstremitas :
 Fleksi
 Abduksi
 Pasien Pasca Stroke

Gambar 2.7 Kerangka Konsep Penelitian

Keterangan :

: Variabel Bebas

: Variabel Terikat

: Mempengaruhi

: Dilakukan Kepada

2.5. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian yang berjudul pengaruh Penerapan Latihan

Range Of Motion (ROM) aktif Terhadap Pergerakan Sendi Pasien Pasca

Stroke, adalah sebagai berikut :

H0 : Tidak ada pengaruh penerapan latihan range of motion (ROM) aktif

terhadap Pergerakan Sendi pasien pasca stroke


H1 : Ada pengaruh penerapan latihan range of motion (ROM) aktif terhadap

Pergerakan Sendi pasien pasca stroke


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam

melakukan prosedur penelitian. Desain yang digunakan dalam penelitian ini

yaitu desain penelitian eksperimental Terhadap pendekatan one group

pretest posttest (Suryana, 2010).

Pretest Intervensi Posttest


(O1) (X) (O2)
Pergerakan Sendi Latihan Range Of Pergerakan Sendi
Ektremitas Pasien Pasca Motion (ROM) aktif Ektremitas pasien pasca
Stroke Stroke
Tabel : 3.1 Desain Penelitian

keterangan :

O1 = Variabel Dependen 1 (pretest)

X = Variabel Independen (Intervensi)

O2 = Variabel Dependen 2 (Posttest)

3.2. Populasi, Sampel dan Sampling

3.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau yang akan

diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pasca

stroke yang berada di ruang fisioterapi di RSUD Fakfak Kabupaten

Fakfak pada saat penelitian, yaitu sebanyak 15 orang.


3.2.2. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek

yang diteliti dan dianggap yang mewakili seluruh populasi. Sampel

dalam penelitian ini diambil menggunakan teknik purposive

sampling yaitu sebanyak 8 orang.

3.2.3. Sampling

Pengambilan sampel secara purposive sampling adalah

Sampling yang dilakukan berdasarkan keputusan peneliti, yang

menurut pendapatnya nampak mewakili populasi, dengan kriteria :

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi merupakan kriteria dimana subjek

penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Hidayat;2009

dalam Pramono;2015). Kriteria dalam penelitian ini adalah :

1) Mengalami hambatan pergerakan sendi, fase rehabilitasi

fisik, tirah baring (bedrest) lama

2) Belum pernah melakukan latihan rentang gerak sendi

3) Bisa melakukan pergerakan sendi minimal 20o

4) Bersedia menjadi subjek penelitian

b. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subjek

penelitian tidak mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat


sebagai sampel pilihan (Hidayat;2009 dalam Pramono;2015).

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah :

1) Mengalami kelainan tulang, gangguan jantung, trombus atau

emboli pada pembuluh darah

2) Sudah pernah melakukan latihan rentang gerak sendi

3) Tidak bersedia menjadi subjek penelitian

3.3. Variabel Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh

antara variabel independen terhadap veriabel dependen. Menurut Jaedun

(2011) menjelaskan tentang variabel independen dan variabel dependen

adalah sebagai berikut :

3.3.1. Variabel Independen

Variabel independen/variabel bebas (variabel

perlakuan/eksperimen) merupakan variabel yang akan dilihat

pengaruhnya terhadap variabel terikat/dependen, atau variabel

dampak. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen

adalah Latihan Range Of Motion (ROM) aktif.

3.3.2. Variabel Dependen

Variabel Terikat/dependen (variabel dampak) merupakan

variabel hasil/dampak/akibat dari variabel bebas/perlakuan. Variabel

terikat umumnya menjadi tujuan penelitian, sumber masalah, yang


ingin ditingkatkan kualitasnya. Dalam penelitian ini yang menjadi

variabel dependen adalah Pergerakan Sendi pasien pasca stroke.

3.4. Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penelitian “pengaruh penerapan latihan

range of motion (ROM) aktif Terhadap Pergerakan Sendi pasca stroke

adalah sebagian berikut:

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Skala


Independen:
Latihan Range of Motion Latihan yang bertujuan untuk Goniometer Rasio
(ROM) aktif meningkatkan Pergerakan
Sendi
Dependen:
Pergerakan Sendi : Kemampuan untuk Lembar Rasio
menggerakkan anggota gerak Penilaian
yang telah dilatih dengan
metode latihan rom aktif
1. Fleksi  Suatu gerak sendi yang
memperkecil sudut sendi di
antara dua tulang atau lebih.
2. Abduksi  gerak ke samping, menjauhi
tubuh pada posisi anatomis.
Tabel : 3.2 definisi operasional

3.5. Tempat Penelitian

Tempat yang dilaksanakan penelitian adalah pada Ruang Fisioterapi di

RSUD Fakfak Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat.

3.6. Waktu Penelitian

Waktu yang digunakan peneliti untuk melaksanakan penelitian ini

adalah 1 bulan yaitu dari tanggal 21 juni – 21 juli 2016. Untuk peneltian,
peneliti memerlukan waktu 3 minggu sesuai dengan lama waktu penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh Siswoyowati (2014) dan ditambah 10 hari

untuk pengolahan dan analisa data menggunakan SPSS.

3.7. Intrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Goniometer

Pengukuran terhadap luas gerak sendi dapat dilakukan dengan

goniometer yaitu suatu busur derajat yang dirancang khusus untuk

mengevaluasi gerakan sendi (Muttaqin;2010 dalam Mudrikhah;2012).

2) Lembar Penilaian

Suatu lembaran yang digunakan untuk mengisi hasil dari suatu

pengukuran.

3.8. Prosedur Pengumpulan Data

3.8.1. Teknik Pengumpulan Data

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari

responden dengan menggunakan goniometer dimana hasil

pengukuran akan ditulis dalam lembar penilaian. Lembar

penilaian dilengkapi dengan karakteristik responden yang berisi

inisial nama, umur, pendidikan, pekerjaan dan tanggal.

Rekapitulasi responden berisi: nomor urut klien, klien sebelum


dilakukan latihan ROM, dan klien sesudah dilakukan latihan

ROM.

b. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang

diperoleh dari Ruang Fisioterapi RSUD Fakfak mengenai pasien

stroke yang melakukan latihan range of motion.

3.8.2. Pengolahan Data

Menurut Arifin (2013), menjelaskan tahapan-tahapan

pengolahan data adalah sebagai berikut :

a. Mengedit data (Editing).

Sebelum diolah, data perlu diedit terlebih dahulu. Data

yang terkumpul yang dikumpulkan dalam buku catatan (record

book), atau daftar pertanyaan (questionnaire), atau pedoman

wawancara (interview guide), perlu dibaca dengan teliti, dan jika

ditemukan kesalahan atau hal-hal yang meragukan, maka data

tersebut perlu diedit, yakni diperbaiki kualitasnya dan

menghilangkan keraguraguan pada data.

b. Mengkode data (Coding).

Mengkode data yang berupa jawaban-jawaban yang

diberikan oleh responden, artinya memberikan angka-angka pada

setiap jawaban yang diberikan. Jawaban yang diberikan akan

sangat bervariasi dari mulai kalimat yang cukup panjang sampai


kalimat yang pendek atau hanya berupa “ya” atau “tidak”.

Pemberian kode kepada setiap jawaban akan sangat penting jika

data akan dianalisis dengan menggunakan komputer.

c. Mentabulasi data (Tabulation).

Mentabulasi data artinya memasukkan data ke dalam

tabel-tabel. Yang dimaksud dengan tabel di sini bukan tabel yang

biasa disajikan dalam karya ilmiah seperti skripsi, meskipun

banyak kesamaannya. Dilihat dari isinya, tabel yang dibuat pada

waktu menganalisis data adalah data mentah, sedangkan yang

ada pada tabel yang disajikan pada laporan penelitian adalah data

yang sudah diproses. Guananya pentabulasian data dalam

menganalisis data adalah untuk mengelompokkan data sehingga

memudahkan dalam menghitung jumlah kasus termasuk

kategori-kategorinya.

3.9. Analisis Data

Data dianalisis dan diinterpretasikan dengan menguji hipotesa

menggunakan program komputer SPSS 16 for windows dengan langkah

sebagai berikut :

3.9.1. Analisis univariat

Dilakukan pada masing masing variabel untuk mengetahui

karakteristik, distribusi dan frekuensi masing-masing variabel.

Variabel dalam penelitian ini digambarkan dalam bentuk ukuran


tendensi sentral yaitu nilai mean atau rata-rata, median, minimum,

maksimum dan standar deviasi. Analisis univariat dalam penelitian

ini digunakan untuk menggambarkan variabel independen (Latihan

ROM) dan dependen (Pergerakan Sendi Pasien stroke).

3.9.2. Analisis Bivariat

Penelitian ini menggunakan Uji paired sample t-test untuk

menguji penerapan latihan ROM Pergerakan Sendi Pasien stroke.

Data yang digunakan adalah data yang berasal dari responden yang

diukur Pergerakan Sendi sebelum diberi latihan ROM aktif (nilai

pre test) dan diukur Pergerakan Sendi setelah diberi latihan ROM

aktif pada pasien pasca stroke, kemudian nilai masing-masing

responden dibandingkan antara sebelum latihan ROM aktif (pre

test) dan setelah latihan ROM aktif (post test).

Data dari hasil penelitian dilakukan analisis uji normalitas

dengan Shapiro-Wilk untuk melihat apakah data berdistribusi

normal atau tidak. Setelah didapatkan data berdistribusi normal,

maka dilakukan uji untuk melihat hubungan antara variabel dengan

menggunakan Uji t-test berpasangan atau depernden (paired simple

t-test) yang digunakan untuk melihat Pergerakan Sendi pre dan post

latihan ROM Aktif dengan derajad kesalahan 5% (α = 0.05) dan uji

kemaknaan 95%. Jika hasil analisis uji paired t-test pada

perbandingan pergerakan sendi pre dan post latihan ROM Aktf


mendapatkan nilai P<0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, dan

jika nilai P>0,05 maka H1 ditolak.

3.10. Etika Penelitian

Penelitian ini menjamin hak-hak responden, peneliti sebelumnya

memberikan penjelasan tentang tujuan dan manfaat peneliti. Etika yang

meliputi (Notoatmodjo, 2010) :

3.10.1. Informed concent, diberikan sebelum melakukan penelitian.

Informed concent adalah lembar persetujuan untuk menjadi

responden.

3.10.2. Anonymity, berarti tidak perlu mencantumkan nama pada lembar

pengumpulan data (kuisioner). Peneliti hanya menulis kode pada

lembar pengumpulan data tersebut.

3.10.3. Confidentiality, kerahasiaan informasi responden dijamin oleh

peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan

dalam hasil peneliti (hidayat, 2012).


BAB IV

PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.1. Gambaran Umum Rumah Sakit

c. Sejarah Singkat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

RSUD Fakfak didirikan oleh pertama kali oleh Pemerintah

Hindia Belanda pada tahun 1970-an dan berlokasi di jalan

Diponegoro 1 guna melayani masyarakat yang berada dalam

wilayah jajahannya, serta mendapatkan SK pertama kali pada tahun

1979 dengan akreditasi tipe D oleh Suarjono Suaningrat. Akan

tetapi akibat perkembangan situasi, Rumah Sakit yang didirikan

oleh Pemerintah Hindia Belanda sudah tidak mampu melayani

masyarakat disebabkan kondisi gedung yang tidak memadai untuk

menampung banyaknya jumlah pasien, sehingga didirikan kembali

RSUD Fakfak pada tahun 1988 di jalan Jendral Sudirman yang

tanahnya dihibahkan oleh masyarakat adat fakfak. Kemudian pada

tahun 2013 RSUD Fakfak direnovasi kembali dan mendapatkan

akreditasi Tipe C .

d. Identitas Rumah Sakit

1) Nama Rumah Sakit : RSUD Fakfak

2) Kelas/Type : Type – C
3) Nama Direktur : dr. Maulana K Patiran

4) Kode Rumah Sakit : 8205013

5) Tahun Pembangunan : 1988

6) Pemilik/Pengelola : Pemerintah Kab. Fakfak

7) Alamat : Jl. Jelndral Sudirman Fakfak

Telp/Fax : 0956 – 22373,22222.

Kab. Fakfak, Provinsi Papua Barat

e. Data Geografis

1) Luas Wilayah : 42.616 m2

2) Luas Bangunan : 24.127 m2

3) Jumlah Ruangan : 29 Ruangan

4) Jumlah Tempat Tidur : 130

f. Batas Wilayah

1) Sebelah utara berbatasan dengan : Jl. Nuri

2) Sebelah selatan berbatasan dengan : Jl. Jendral Sudirman

3) Sebelah barat berbatasan dengan : Jl. Imam Bonjol

4) Sebelah timur berbatasan dengan : Perumahan Warga


4.1.2. Hasil Penelitian

a. Karakteristik Responden

1) Karakteristik Responden Menurut Umur

Tabel 4.1
Karakteristk Responden Menurut Umur di Ruang Fisioterapi
RSUD Fakfak Kabupaten Fakfak
Tahun 2016
Umur n %
40 - 50 Tahun 2 25.0
51 - 60 Tahun 4 50.0
61 - 70 Tahun 2 25.0
Total 8 100.0
Sumber : Data primer (2016)

Berdasarkan tabel 4.1 diatas menjelaskan bahwa dari 8

responden, mayoritas pasien stroke berumur 51-60 tahun yang

jumlah 4 responden (50,0%).

2) Karakteristik Resonden Menurut Jenis Kelamin

Tabel 4.2
Karakteristk Responden Menurut Jenis Kelamin di Ruang
Fisioterapi RSUD Fakfak Kabupaten Fakfak
Tahun 2016
Jenis Kelamin N %
Laki-Laki 3 37.5
Perempuan 5 62.5
Total 8 100.0
Sumber : Data primer (2016)

Berdasarkan tabel 4.2 diatas menjelaskan bahwa dari 8

responden, mayoritas pasien stroke berjenis kelamin

perempuan dengan persentase sebanyak 5 responden (62,5%).


3) Karakteristik Responden Menurut Pendidikan

Tabel 4.3
Karakteristk Responden Menurut Pendidikan di Ruang
Fisioterapi RSUD Fakfak Kabupaten Fakfak
Tahun 2016
Pendidikan N %
SD 3 37.5
SMP 3 37.5
SMA 2 25.0
Total 8 100.0
Sumber : Data primer (2016)

Berdasarkan tabel 4.3 diatas menjelaskan bahwa dari

keseluruhan 8 responden, mayoritas berpendidikan SD dan

SMP dengan persentase SD sebanyak 3 responden (37,5%) dan

SMP sebanyak 3 responden (37,5%).

4) Karakteristik Responden Menurut Pekerjaan

Tabel 4.4
Karakteristk Responden Menurut Pekerjaan di Ruang
Fisioterapi RSUD Fakfak Kabupaten Fakfak
Tahun 2016
Pekerjaan N %
PNS 1 12.5
Pedagang 1 12.5
Petani 3 37.5
Nelayan 1 12.5
Lain-Lain 2 25.0
Total 8 100.0
Sumber : Data primer (2016)

Dari tabel 4.4 diatas menjelaskan bahwa pekerjaan dari 8

responden, mayoritas pasien stroke bekerja sebagai Petani

dengan persentase sebanyak 3 resonden (37,5%).


b. Analisis Univariat

Tabel 4.5
Gambaran pergerakan sendi sebelum dan sesudah diberikan
latihan ROM aktif pada pasien pasca stroke di Ruang
Fisioterapi RSUD Fakfak Kabupaten Fakfak
Tahun 2016
Pergerakan Sendi
Latihan ROM Aktif Pretest Posttest
Mean (Std.dev) Mean (Std.dev)
Shoulder Joint Fleksi 22.25 (1.581) 32.62 (1.061)
Shoulder Joint Abduksi 24.00 (1.414) 33.00 (1.414)
Elbow Joint Fleksi 24.00 (0.756) 34.12 (0.835)
Hip Joint Fleksi 24.00 (1.512) 33.75 (1.282)
Hip Joint Abduksi 23.25 (2.053) 33.00 (2.000)
Knee Joint Fleksi 23.38 (1.598) 34.12 (1.356)
Sumber : Data primer (2016)

Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa pergerakan sendi

pasien pasca stroke sebelum (pretest) dan sesudah (posttest)

dilakukan latihan ROM aktif di Ruang Fisioterapi RSUD

Fakfak dengan rata-rata shoulder joint fleksi pretest 22,25º

(1,581) dan posttest 32,62o (1,061), rata-rata shoulder joint

abduksi pretest 24,00o (1,414) dan postest 33.00 (1.414), rata-

rata elbow joint fleksi pretest 24,00o (0,756) dan posttest 34.12

(0.835), rata-rata hip joint fleksi 24,00o (1,512) dan postest

33.75 (1.282), rata-rata hip joint abduksi pretest 23,25o (2,053)

dan posttest 33.00 (2.000), dan rata-rata knee joint fleksi

23,38o (1,598) dan postest 34.12 (1.356).


c. Uji Normalitas

Tabel 4.6
Uji Normalitas pergerakan sendi menggunakan Shapiro-Wilk
Shapiro-Wilk (n<50)
Latihan ROM Aktif
Mean (SD) Sig.
Shoulder Joint Fleksi 22.25 (1.581) 0.175
Shoulder Joint Abduksi 24.00 (1.414) 0.273
Elbow Joint Fleksi 24.00 (0.756) 0.093
Pretest
Hip Joint Fleksi 24.00 (1.512) 0.093
Hip Joint Abduksi 23.25 (2.053) 0.542
Knee Joint Fleksi 23.38 (1.598) 0.162
Shoulder Joint Fleksi 32.62 (1.061) 0.366
Shoulder Joint Abduksi 33.00 (1.414) 0.201
Elbow Joint Fleksi 34.12 (0.835) 0.067
Pottest Hip Joint Fleksi 33.75 (1.282) 0.082
Hip Joint Abduksi 33.00 (2.000) 0.069
Knee Joint Fleksi 34.12 (1.356) 0.195
Shoulder Joint Fleksi 32.62 (1.061) 0.175
Sumber : Data Primer (2016)

Berdasarkan tabel 4.6 didapatkan bahwa data statistika

dari pergerakan sendi pada pretest dan posttest latihan ROM

Aktif dengan uji normalitas Shapiro-Wilk memiliki rata-rata

memiliki nilai sig. > α = 0,05, sehingga data tersebut dapat

disimpulkan berdistribusi normal. Dengan demikian, uji

bivariat dapat menggunakan uji paired simple t-test.


d. Analisis Bivariat

Tabel 4.7
Perbedaan pergerakan sendi sebelum dan sesudah latihan ROM
aktif pada pasien pasca stroke di Ruang Fisioterapi RSUD Fakfak
Kabupaten Fakfak
Tahun 2016
Pergerakan Sendi
Latihan ROM Aktif
Mean (SD) p-value
Shoulder Joint Pretest 22.25 (1.581)
0,00
Fleksi Posttest 32.62 (1.061)
Shoulder Joint Pretest 24.00 (1.414)
0,00
Abduksi Posttest 33.00 (1.414)
Elbow Joint Pretest 24.00 (0.756)
0,00
Fleksi Posttest 34.12 (0.835)
Pretest 24.00 (1.512)
Hip Joint Fleksi 0,00
Posttest 33.75 (1.282)
Hip Joint Pretest 23.25 (2.053)
0,00
Abduksi Posttest 33.00 (2.000)
Knee Joint Pretest 23.38 (1.598)
0,00
Fleksi Posttest 34.12 (1.356)
Sumber : Data Primer (2016)

Berdasarkan Tabel 4.7 tersebut dapat diketahui bahwa dari 8

pasien pasca stroke di Rung Fisioterapi RSUD Fakfak, pergerakan

sendi pretest dan posttest latihan Range of Motion (ROM) aktif

untuk mean Shoulder Joint Fleksi pretest sebesar 22,50º (1,581)

dan posttest 32,62º (1,061) dengan peningkatan sebesar 10,12

derajat. Untuk mean Shoulder Joint Abduksi pretest sebesar 24,00º

(1,414) dan posttest 33,00º (1,414) dengan peningkatan sebesar 9

derajat. Untuk mean Elbow Joint Fleksi pretest sebesar 24,00º

(0,756) dan posttest 34,12º (0,835) dengan peningkatan sebesar

10,12 derajat. Untuk mean Hip Joint Fleksi pretest sebesar 24,00º

(1,512) dan posttest 33,75º (1,282) dengan peningkatan sebesar


9,75 derajat. Untuk mean Hip Joint abduksi pretest sebesar 23,25º

(2,053) dan posttest 33,00º (2,000) dengan peningkatan sebesar

9,75 derajat. Untuk mean knee joint fleksi pretest sebesar 23,38º

(1,598) dan posttest 34,12º (1,356) dengan peningkatan sebesar

10,74 derajat.

Berdasarkan uji paired t-test menunjukkan pula bahwa nilai

rata-rata p value untuk shoulder joint fleksi, shoulder joint abduksi,

elbow joint fleksi, hip joint fleksi, hip joint abduksi dan knee joint

fleski sebesar 0,00 (α=0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa

ada perbedaan yang bermakna antara shoulder joint fleksi, shoulder

joint abduksi, elbow joint fleksi, hip joint fleksi, hip joint abduksi

dan knee joint fleksi sebelum dengan sesudah diberikan latihan

Range of Motion (ROM) aktif di ruang Fisioterapi RSUD Fakfak.


4.2. Pembahasan

4.2.1. Gambaran Pergerakan Sendi Sebelum diberikan latihan ROM Aktif

Hasil penelitian berdasarkan tabel 4.5 menunjukan bahwa

pergerakan sendi pasien pasca stroke sebelum (pretest) dilakukan

latihan ROM aktif di Ruang Fisioterapi RSUD Fakfak rata-rata

mengalami kelemahan pada pergerakan sendi dikarenakan hasil

pengukuran pergerakan sendi yang didapatkan sebelum melakukan

latihan masih jauh sekali dari nilai-nilai normal pergerakan.

Kelemahan pergerakan sendi tersebut disebabkan oleh beberapa

faktor, baik dari faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor

internal bisa berupa usia dan penyakit yang diderita sedangkan faktor

eksternal bisa berupa dorongan keluarga untuk melakukan latihan

kurang. Faktor-faktor tersebut yang dapat mengakibatkan penurunan

rentang gerak dan dapat berakibat pada hambatan pergerakan sendi

(kontraktur).

Kontraktur terjadi dikarenakan oleh beberapa faktor

diantaranya usia dan riwayat penyakit yang diderita. Dilihat dari sisi

usia, pergerakan sendi seseorang meningkat pada masa kanak-kanak

dan berkurang bersamaan dengan bertambahnya usia. Flesksibilitas

sendi akan meningkan waktu anak-anak dikarenakan aktivitas anak-

anak yang relatif aktif, kemudian akan menetap pada masa remaja

dan kemudian menurun secara perlahan-lahan seiring bertambahnya

usia.
Hal diatas sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh

Bloomfield, dkk (2004) dalam Siswoyowati (2014) bahwa,

fleksibilitas meningkat pada waktu kanak-kanak sampai masa remaja

kemudian menetap, selanjutnya dengan bertambahnya usia, terjadi

penurunan mobilitas secara berangsur-angsur. Bertambahnya usia

merupakan faktor yang dapat menyebabkan penurunan pada

fleksibilitas. Hal ini disebabkan karena dengan bertambahnya usia,

maka otot-otot, tendon-tendon dan jaringan ikat memendek dan

terjadinya proses pengerasan menjadi kapur dari beberapa tulang

rawan yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan ruang gerak

sendi.

Saferi & Meriza (2013) memiliki pandangan mengenai stroke

yaitu pada pasien dengan perdarahan subaraknoid didapatkan gejala

prodromal berupa nyeri kepala hebat dan akut. Kesadaran sering

terganggu dan sangat bervariasi. Ada gejala atau tanda rangsangan

meningeal. Edema papil dapat terjadi bila ada perdarahan subhialoid

karena pecahnya anorisma pada arteri komunikans anterior atau

arteri karotis interna. Gejala nerurologis yang timbul tergantung pada

berat ringannya gangguan pembuluh darah dan lokasinya.

Manifestasi stroke dapat berupa; 1) kelumpuhan wajah dan anggota

badan yang timbul mendadak, 2) gangguan sendibilitas pada satu

atau lebih anggota badan, 3) perubahan mendadak status mental, 4)

afasia (bicara tidak lancar, kurangnya ucapan atau kesulitan


memahami ucapan), 5) ataksia anggota badan, 6) vertigo, mual,

muntah atau nyeri kepala. Jika dilihat dari riwayat penyakit yang

diderita seperti stroke, kebanyakan dari penderita stroke mengalami

kelumpuhan akibatnya mempengaruhi pada pergerakan sendi, hal ini

sesuai dengan hasil penelitian oleh Surahmah (2012) yang

menyatakan bahwa pasien stroke mengalami kelemahan pada salah

satu sisi anggota tubuhnya yang akibat terjadinya penurunan tonus

otot sehingga tidak mampu menggerakkan tubuhnya, imobilisasi

yang tidak diberikan penanganan dalam waktu yang lama akan

menimbulkan komplikasi dan salah satunya adalah terjadi

kontraktur.

Berdasarkan beberapa ulasan diatas, dapat diasumsikan bahwa

hambatan pergerakan sendi-sendi terjadi akibat pertambahan usia

dan penyakit yang pernah diderita yaitu penyakit stroke. Jadi stroke

merupakan salah satu penyebab terjadinya hambatan mobilisasi

sendi-sendi.

4.2.2. Gambaran Pergerakan Sendi Sesudah diberikan latihan ROM Aktif

Hasil penelitian Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa

pergerakan sendi pasien pasca stroke sebelum (posttest) dilakukan

latihan ROM aktif di Ruang Fisioterapi RSUD Fakfak rata-rata

pergerakan setelah latihan selama waktu 3 minggu didapatkan hasil

yang cukup memuaskan, dikarenakan terdapat peningkatan yang


cukup signifikan dengan rata-rata peningkatan pergerakan sendi

9,91o dalam waktu 3 minggu. Hal ini menunjukan bahwa setelah

latihan (rehabilitasi) pasien pasca stroke mengalami peningkatan

dalam pergerakan sendi.

Peningkatan pergerakan sendi yang terjadi dipengaruhi juga

oleh motivasi, berat ringan penyakit yang diderita, jenis kelamin dan

pekerjaan sehari-hari. Motivasi yang baik dan pemikiran ingin cepat

sembuh akan memacu responden dalam melakukan latihan dengan

penuh semangat. Berat ringan penyakit juga menjadi faktor cepatnya

pemulihan, penyakit yang relatif ringan akan mendapatkan

peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan penyakit yang relatif

berat. Selain motivasi dan berat ringan penyakit yang diderita,

pekerjaan sehari-hari juga menjadi faktor yang mempengaruhi. Akan

tertapi ketiga faktor tersebut ditungjang juga dengan keikutsertaan

dalam latihan (rehabilitasi) yang baik.

Rehabilitasi yang dapat diberikan pada pasien stroke yang

mengalami kontraktur berupa rehabilitasi fisik (mobilisasi). Bentuk

mobilisasi yang dapat diberikan pada pasien stroke salah satunya

adalah latihan ROM. Latihan ROM adalah latihan yang dilakukan

dengan cara menggerakan semua anggota gerak. Hal ini sesuai

dengan hasil penelitian Surahmah (2012), Latihan ROM merupakan

bentuk latihan pergerakan yang dilakukan dengan menggerakkan

semua bagian persendian dengan rentang penuh tanpa menimbulkan


rasa nyeri pada persendian. Latihan range of motion bermanfaat

untuk meningkatkan dan mempertahankan pergerakan pada

persendian, mencegah kontraktur sendi dan atropi otot, mempelancar

aliran darah, mencegah pembentukan trombus dan embolus,

mempertahankan dan meningkatkan kekuatan otot serta membantu

pasien mencapai aktivitas normal.

Jacob at all (2014) menjelaskan tujuan dari latihan ROM yaitu;

1) meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot, 2) menjaga fungsi

fisiologis normal, 3) mencegah komplikasi akibat kontraktur

imobilisasi, 4) meningkatkan partisipasi pasien aktivitas sehari-hari,

5) meningkatkan aktivitas fisik, 6) meningkatkan fleksibilitas sendi.

Oleh karena itu, dengan mengikuti latihan ROM secara rutin dan

terjadwal dengan baik, pasien stroke dapat meningkatkan pergerakan

sendi secara perlahan-lahan dan dapat meminimalisis kekakuan

sendi. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumya yang

menggunakan latihan ROM pada pasien stroke yaitu Penelitian

Ulliya (2007) dalam Siswoyowati (2014). Penelitian tersebut

merupakan eksperimen dengan pre post test design. Subyek

sebanyak 8 yang dilakukan latihan ROM sebanyak 5 kali dalam

seminggu selama 6 minggu. Fleksibilitas sendi diukur pada sebelum,

setelah 3 minggu dan setelah 6 latihan ROM. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan antara

pengukuran pertama-kedua pada fleksi sendi lutut kanan dan kiri dan
antara pengukuran pertama-ketiga pada fleksi sendi lutut kiri.

Simpulan pada penelitian ini adalah latihan ROM dapat

meningkatkan fleksibilitas sendi lutut kiri sebesar 35° atau 43,75%.

Berdasarkan ulasan-ulasan diatas dapat diasumsikan bahwa

dengan mengikuti latihan ROM aktif secara rutin, pasien pasca

stroke dapat meningkatkan dan meminimalisir kekakuan pada

pergerakan sendi.

4.2.3. Pengaruh latihan ROM aktif pada pasien pasca stroke di Ruang

Fisioterapi RSUD Fakfak Kabupaten Fakfak Tahun 2016

Hasil penelitian berdasarkan tabel 4.8 menunjukkan bahwa

dari 8 pasien pasca stroke di ruang fisioterapi RSUD Fakfak

pergerakan sendi pretest dan posttest latihan Range of Motion

(ROM) aktif pada saat pretest rata-rata mengalami hambatan

pergerakan sendi-sendi akan tetapi setelah dilakukan latihan ROM

aktif secara rutin, maka bisa dilihat ada peningkatan pergerakan

sendi yaitu sebesar 9,91o dalam waktu 3 minggu.

Jika dilihat dari rata-rata nilai p value masing-masing

pergerakan sebesar 0,00 (α=0,05). Sehingga dapat disimpulkan

bahwa ada perbedaan yang bermakna antara Shoulder Joint Fleksi,

Shoulder Joint Abduksi, Elbow Joint Fleksi, Hip Joint Fleksi, Hip

Joint abduksi dan knee joint fleksi sebelum dengan sesudah

diberikan latihan Range of Motion (ROM) aktif. Dengan demikian


dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara latihan Range of

Motion (ROM) aktif terhadap pergerakan sendi pasien pasca stroke.

Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh latihan yang diberikan

yaitu latihan ROM aktif. Latihan Range of Motion (ROM) aktif

adalah latihan ROM yang dilakukan sendiri oleh pasien tanpa

bantuan perawat dari setiap gerakan yang dilakukan. Indikasi latihan

aktif adalah semua pasien yang dirawat dan mampu melakukan

ROM sendiri dan kooperatif. Manfaat dari latihan ROM aktif

memperbaiki tonus otot, meningkatkan mobilisasi sendi,

memperbaiki toleransi otot untuk latihan, meningkatkan massa otot

dan mengurangi kehilangan tulang. Untuk latihan ROM aktif, klien

dianjurkan untuk melakukan gerakan sesuai yang sudah diajarkan,

hindari perasaan ketidaknyamanan saat latihan dilakukan, gerakan

dilakukan secara sistematis dengan urutan yang sama dalam setiap

sesi, setiap gerakan dilakukan tiga kali dengan frekuensi satu kali

sehari dalam waktu 20-30 menit dengan jadwal 5-6 kali latihan

seminggu.

Dosis dan intensitas latihan ROM yang dianjurkan

menunjukkan hasil cukup bervariasi. Secara teori tidak disebutkan

secara spesifik mengenai dosis dan intensitas latihan ROM tersebut,

namun dari berbagai literatur dan hasil penelitian tentang manfaat

latihan ROM dapat dijadikan sebagai rujukan dalam menerapkan

latihan ROM sebagai salah satu intervensi. Penelitian Potter & Perry
(2006) dalam Anggraeni (2015), menganjurkan untuk melakukan

latihan ROM minimal 2 kali/hari. Sedangkan menurut Smeltzzer &

Bare (2008), menyebutkan bahwa latihan ROM dapat dilakukan 4

sampai 5 kali sehari, dengan waktu 10 menit untuk setiap latihan.

Sedangkan dari hasil penelitian Purwanti dan Purwaningsih (2013),

dalam jurnal pengaruh latihan range of motion (ROM) aktif terhadap

kekuatan otot pada pasien dengan post operasi fraktur humerus,

terjadi peningkatan kekuatan otot yang signifikan dengan melakukan

latihan ROM 9 kali dalam waktu 3 hari.

Berdasarkan Ulasan-ulasan terkait diatas, didapatkan bahwa

kemampuan pergerakan sendi pada pasien pasca stroke setelah

dilakukan latihan ROM aktif lebih meningkat dari sebelum

dilakukan latihan ROM aktif dengan peningkatan pergerakan sendi

yaitu sebesar 9,91o dalam waktu 3 minggu.


4.3. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan yang dihadapi peneliti dalam melakukan penelitian yaitu

sebagai berikut :

4.3.1. Sampel

Jumlah responden yang hanya berjumlah 8, diharapkan lebih

banyak sehingga hasil penelitian bisa lebih baik, lebih akurat dan

dapat di generalisasi.

4.3.2. Lokasi

Tempat penelitian yang jauh dari lokasi kampus sehingga

terjadi hambatan dalam transportasi pulang balik lokasi penelitian

dan kampus.

4.3.3. Dokumentasi

Hasil dokumentasi yang didapatkan untuk pembuktian

penelitian relatif sedikit dikarenakan tidak ada peminatan dari

responden dan keluarga untuk pengambilan gambar.


BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Range Of Motion (ROM) adalah latihan gerak sendi untuk

meningkatkan darah perifer dan mencegah kekakuan otot/sendi. tujuan

ROM adalah untuk memperbaiki dan mencegah kekakuan otot, memelihara

atau meningkatkan fleksibilitas sendi, memelihara atau meningkatkan

pertumbuhan tulang dan mencegah kontraktur. Latihan sendi dapat segera

dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot dan ketahanan otot

(endurance) sehingga memperlancar aliran darah serta suplai oksigen untuk

jaringan sehingga akan memperlancar proses penyembuhan (Anggraeni,

2015)

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat

disimpulkan bahwa :

5.1.1. Gambaran pergerakan sendi sebelum diberikan latihan Range of

Motion (ROM) aktif pada pasien pasca stroke di ruang Fisioterapi

RSUD Fakfak rata-rata pergerakan sendi mengalami hambatan

karena dipengaruhi oleh usia yang dominan diatas 50 tahun dan

penyakit yang diderita yaitu stoke.

5.1.2. Gambaran pergerakan sendi sesudah diberikan latihan Range of

Motion (ROM) aktif pada pasien pasca stroke di ruang Fisioterapi

RSUD Fakfak rata-rata pergerakan sendi mengalami peningkatan


pergerakan sendi 9,91o dalam waktu 3 minggu hal tersebut

ditunjang oleh beberapa faktor dan keikutsertaan yang baik dari

responden.

5.1.3. Dari hasil uji paired sample t-test dapat disimpulkan bahwa ada

Pengaruh antara penerapan latihan Range Of Motion (ROM) Aktif

terhadap Pergerakan Sendi Pasien Pasca Stroke di Ruang

Fisioterapi RSUD Fakfak Kabupaten Fakfak, dengan rata-rata P-

Value 0,00 (α = 0,05). Jadi, H1 diterima dan H0 ditolak.

5.2. Saran

Sesuai hasil penelitian lapangan yang diperoleh serta kesimpulan

yang dibuat, maka dapat dikemukakan beberapa saran yang sesuai dengan

penelitian adalah sebagai berikut :

5.2.1. Bagi Pasien Pasca Stroke

Agar senantiasa mengikuti latihan Range of Motion (ROM)

untuk meningkatkan anggota tubuh yang mengalami kontraktur

(hambatan dalam mobilisasi dan pergerakan sendi) baik di Rumah

Sakit, tempat rehabilitasi maupun di rumah sehingga dapat

memulihkan mobilisasi.

5.2.2. Bagi Instansi Terkait di RSUD Fakfak

Sebaiknya latihan terapi yang diberikan tidak monoton pada

satu latihan saja, akan tetapi harus ditingkatkan untuk semua latihan
pada anggota tubuh agar mobilisasi pasien pasca stroke dapat pulih

dengan baik.

5.2.3. Untuk Peneliti yang Akan Datang

Agar lebih mengembangkan penelitiannya yang lebih

mendalam mengenai pengaruh latihan Range of Motion (ROM) aktif

terhadap pergerakan sendi pasien pasca stroke.


DAFTAR PUSTAKA

Ana, Yulia. (2012). Pengertian Sendi, Macam-Macam Sendi & Jenis Pergerakan

Persendiannya. Artikelsiana.com, hlm. 5.

Anggraeni, N.W. (2015). Pemberian Latihan Active Range Of Motion (ROM) Terhadap

Peningkatan Kekuatan Otot Pada Asuhan Keperawatan Ny. S Dengan Post Op Orif

Fraktur Proximal Humerus Dextra Di Ruang Parang Seling RS. Orthopedi Prof. Dr.

R Soeharso Surakarta. Jurnal Kesehatan Surakarta, hlm. 36-39.

Arifin, Tajul. (2013). Teori Dan Teknik Pembuatan Desain Penelitian. Penelitian

Dosen Perguruan Tinggi Gama Islam Swasta (PTAIS), hlm. 6-7.

Basit, Muhammad (2011). Range Of Motion (ROM). Jurnal Kesehatan, hlm. 1-3.

Burhanuddin, M. Wahiduddin & Jumriani. (2013). Faktor Risiko Kejadian Stroke

Pada Dewasa Awal (18-40 Tahun) Di Kota Makassar Tahun 2010-2012.

Jurnal Kesehatan Masyarakat Univesitas Hasanuddin, hlm. 2.

Fauzi, R.A. (2013). Asuhan Keperawatan Pada Ny.W Dengan Gangguan Sistem

Neuro : Stroke Non Hemoragik Di Bangsal Anggrek-Bougenvile RSUD

Pandanarang Boyolali. Naskah Publikasi. Hlm. 6-7.

Hamilton Health Sciences. (2011). Range of Motion A guide for you after spinal

cord injury. Hamilton Health Sciences Patient Education (4), hlm. 1.

Handayani, Fitria. (2013). Angka Kejadian Serangan Stroke Pada Wanita Lebih

Rendah Dari pada Laki-Laki. Jurnal Keperawatan Medikal Bedah, 1(1), 2.

Irianto, Koes. (2014). Epidemiologi Penyakit Menular dan Tidak Menular

Panduan Klinis. Bandung : Alfabeta.


Jacob, Annamma at all. (2014). Buku Ajar Clinical NursingProcedures Jilid Satu.

Binapura Aksara Publisher : Tanggerang Selatan.

Jaedun, Amat. (2011). Metode Penelitian Eksperimen. Puslit Dikdasmen Lemlit

UNY, Hlm. 7.

Kementrian Kesehatan RI. (2014). Situasi Kesehatan Jantung. Pusat Data Dan

Informasi Kementrian Kesehatan RI, hlm. 3.

Kurnia, Nadia. (2010). Pengaruh Penerapan Latihan ROM Terhadap Pergerakan

Sendi Eksremitas Atas pada Lansia. Jurnal Kesehatan Universitas

Diponegoro, hlm. 10-11

Lumongga, Fitriani. (2011). Sendi Lutut. Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara, hml. 1.

Mudrikhah. (2012). Pengaruh Latihan Range Of Motion Aktif Terhadap

Peningkatan Rentang Gerak Sendi Dan Kekuatan Otot Kaki Pada Lansia Di

Panti Wreda Dharma Bakti Surakarta. Jurnal Kesehatan. Hml. 5-6.

Notoatmodjo, Soekidijo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :

Rineka Cipta.

Riyadina, W & Rahajeng, E. (2013). Determinan Penyakit Stroke. Jurnal

Kesehatan Masyarakat Nasional, 7(7), 1.

Rosjidi, H.C. & Nurhidayah, S. (2014). Buku Ajar Peningkatan Tekanan

Intrakranial dan Gangguan Peredaran Darah Otak. Yogyakarta : Gosyen

Publishing.

Saferi. W.A. & Mariza P.Y. (2013). KMB2 Keperawatan Medikal Bedah

(Keperawatan Dewasa). Yogyakarta : Nuha Medika.


Surahmah. (2012). Pengaruh Latihan Range Of Motion (ROM) Terhadap

Peningkatan Rentang Gerak Sendi Siku Pada Pasien Stroke Di Desa

Andongsari Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. Jurnal Keperawatan

Universitas Jember, hlm. 9.

Suryana. (2010). Buku Ajar Perkuliahan Metode Penelitian Model Prakatis

Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif. Jakarta : UPI

Susanto, Dewi, Winoto, dkk. (2015), http://www.alodokter.com/stroke.html,

diperoleh 19 Mei 2016.

Siswoyowati, Indhah. (2014). Pengaruh Latihan Range Of Motion (ROM) Aktif

Terhadap Fleksibilitas Sendi Lutut Pada Lansia Di Desa Layangan

Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang. Jurnal Keperawatan

Waluyo Ungaran, hml. 8.

Wardhani, R.N. & Martini, S. (2014). Faktor Yang Berhubungan Dengan

Pengetahuan Tentang Stroke Pada Pekerja Institusi Pendidikan Tinggi.

Jurnal Berkala Epidemiologi, 2(1), 1.

Wikipedia. (2015). https://id.wikipedia.org/sendi.html, diperoleh 19 Mei 2016.


Lampiran 1

GERAKAN NORMAL PERSENDIAN


No Bagian Tubuh Gerakan Penjelasan Rentan
1. Leher (Spinal Fleksi Menggerakkan dagu 45o
Serfikal) menempel ke dada
Ekstensi Mengembalikan kepala ke 45o
posisi tegak
Hiperekstensi Menekuk kepala ke belakang 40o-45o
sejauh mungkin
Fleksi lateral Memiringkan kepala sejauh 40o-45o
mungkin kearah setiap bahu
Rotasi Memutar kepala sejauh 180o
mungkin dalam gerakan
sirkuler
2. Bahu Fleksi Menaikan lengan dari posisi di 180o
samping tubuh ke depan ke
posisi di atas kepala
Ekstensi Mengembalikan lengan ke 180o
posisi di samping tubuh
Hiperekstensi Menggerakkan lengan ke 45o-60o
belakang tubuh, siku tetap
lurus.
Abduksi Menaikan lengan ke posisi 180o
samping di atas kepala dengan
tangan jauh dari kepala
Adduksi Menurunkan lengan ke 320o
samping dan menyilang tubuh
sejauh mungkin
Rotasi dalam Dengan siku fleksi, memutar 90o
bahu dengan menggerakkan
lengan sampai ibu jari
menghadap kedalam dan ke
belakang
Rotasi luar Dengan siku fleksi, 90o
menggerakkan lengan sampai
ibu jari ke atas dan samping
kepala
Sirkumduksi Menggerakkan lengan dengan 360o
lingkaran penuh
3. Siku Fleksi Menggerakkan siku sehingga 150o
lengan bahu bergerak ke depan
dan tangan sejajar bahu
Ekstensi Meluruskan siku dengan 150o
menurunkan tangan
4. Lengan bawah Supinasi Memutar lengan bawah dan 70o-90o
tangan sehingga telapak tangan
menghadap ke atas
Pronasi Memutar lengan bawah 70o-90o
sehingga telapak tangan
menghadap ke bawah
5. Pergelangan Fleksi Menggerakkan telapak tangan 80o-90o
tangan ke sisi bagian dalam lengan
bawah
Ekstensi Menggerakkan jari-jari tangan 80o-90o
sehingga jari-jari, tangan,
lengan bawah berada dalam
arah yang sama
Hiperekstensi Membawa permukaan tangan 89o-90o
dorsal ke belakang sejauh
mungkin
Abduksi Menekuk pergelangan tangan 30o
miring ke ibu jari
Adduksi Menekuk pergelangan tangan 30o-50o
miring ke arah lima jari
6. Jari-jari tangan Fleksi Membuat genggaman 90o
Ekstensi Meluruskan jari-jari tangan 90o
Hiperekstensi Menggerakkan jari-jari tangan 30o-60o
ke belakang sejauh mungkin
Abduksi Meregangkan jari-jari yang 30o
satu dengan yang lain
Adduksi Merapatkan kembali jari-jari 30o
tangan
7. Ibu jari Fleksi Menggerakan ibu jari 90o
menyilang permukaan telapak
tangan
Ekstensi Menggerakkan ibu jari lurut 90o
menjauh dari tangan
Abduksi Menjauhkan ibu jari ke 30o
samping
Adduksi Menggerakan ibu jari ke depan 30o
tangan
Oposisi Menyentuhkan ibu jari ke
setiap jari-jari tangan pada
tangan yang sama
8. Pinggul Fleksi Menggerakan tungkai ke 90o-
depan atas 120o
Ekstensi Menggerakkan kembali ke 90o-
samping tungkai yang lain 120o
Hiperekstensi Menggerakkan tungkai ke 30o-50o
belakang tubuh
Abduksi Menggerakkan tungkai ke 30o-50o
samping menjauhi tubuh
Adduksi Menggerakkan tungkai 30o-50o
kembali ke posisi media dan
melebihi jika mungkin
Rotasi dalam Memutar kaki dan tungkai ke 90o
arah tungkai lain
Rotasi luar Memutar kaki dan tungkai 90o
menjauhi tungkai lain
Sirkumduksi Menggerakkan tungkai
melingkar
9. Lutut Fleksi Menggerakan tumit ke arah 120o-
belakang paha 130o
Ekstensi Mengembalikan tungkai ke 120o-
lantai 130o
10. Mata kaki Dorsifleksi Menggerakkan kaki sehingga 20o-30o
jari-jari kaki menekuk ke atas
Plantarfleksi Menggerakkan kaki sehingga 45o-50o
jari-jari kaki menekuk ke
bawah
11. Kaki Inversi Memutar telapak kaki ke 10o
samping dalam
Eversi Memutar telapak kaki ke 10o
samping luar
12. Jari-jari kaki Fleksi Menekukkan jari-jari ke bawah 30o-60o
Ekstensi Meluruskan jari-jari kaki 30o-60o
Abduksi Menggerakan jari-jari kaki 15o
satu dengan yang lain
Adduksi Merapatkan kembali bersama- 15o
sama
Lampiran 2

LEMBARAN PENILAIAN

Alat Ukur : Goniometer

Gambar 1.1 Goniometer

A. Identitas Responden

1. Inisial Nama :

2. Umur :

3. Jenis Kelamin

4. Pendidikan :

5. Pekerjaan :

6. Alamat :
B. Rekapitulasi Responden

1. Nomor Umur Responden :

2. Hasil Sebelum Latihan ROM :

No Bagian Tubuh Gerakan Penjelasan Rentan


1. Bahu Fleksi Menaikan lengan dari posisi di
samping tubuh ke depan ke
posisi di atas kepala
Ekstensi Mengembalikan lengan ke
posisi di samping tubuh
Hiperekstensi Menggerakkan lengan ke
belakang tubuh, siku tetap
lurus.
Abduksi Menaikan lengan ke posisi
samping di atas kepala dengan
tangan jauh dari kepala
Adduksi Menurunkan lengan ke
samping dan menyilang tubuh
sejauh mungkin
2. Siku Fleksi Menggerakkan siku sehingga
lengan bahu bergerak ke depan
dan tangan sejajar bahu
Ekstensi Meluruskan siku dengan
menurunkan tangan
3. Pinggul Fleksi Menggerakan tungkai ke
depan atas
Ekstensi Menggerakkan kembali ke
samping tungkai yang lain
Hiperekstensi Menggerakkan tungkai ke
belakang tubuh
Abduksi Menggerakkan tungkai ke
samping menjauhi tubuh
Adduksi Menggerakkan tungkai
kembali ke posisi media dan
melebihi jika mungkin
4. Lutut Fleksi Menggerakan tumit ke arah
belakang paha
Ekstensi Mengembalikan tungkai ke
lantai
3. Hasil Sesudah 3Minggu Latihan ROM :

No Bagian Tubuh Gerakan Penjelasan Rentan


1. Bahu Fleksi Menaikan lengan dari posisi di
samping tubuh ke depan ke
posisi di atas kepala
Ekstensi Mengembalikan lengan ke
posisi di samping tubuh
Hiperekstensi Menggerakkan lengan ke
belakang tubuh, siku tetap
lurus.
Abduksi Menaikan lengan ke posisi
samping di atas kepala dengan
tangan jauh dari kepala
Adduksi Menurunkan lengan ke
samping dan menyilang tubuh
sejauh mungkin
2. Siku Fleksi Menggerakkan siku sehingga
lengan bahu bergerak ke depan
dan tangan sejajar bahu
Ekstensi Meluruskan siku dengan
menurunkan tangan
3. Pinggul Fleksi Menggerakan tungkai ke
depan atas
Ekstensi Menggerakkan kembali ke
samping tungkai yang lain
Hiperekstensi Menggerakkan tungkai ke
belakang tubuh
Abduksi Menggerakkan tungkai ke
samping menjauhi tubuh
Adduksi Menggerakkan tungkai
kembali ke posisi media dan
melebihi jika mungkin
4. Lutut Fleksi Menggerakan tumit ke arah
belakang paha
Ekstensi Mengembalikan tungkai ke
lantai
Lampiran 3
PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Yang bertanda tangan di bawah ini


Nama :
Umur :

Setelah mendapatkan informasi tentang tujuan dan manfaat penelitian,


maka saya (bersedia/tidak bersedia) untuk berperan serta dalam penelitian sebagai
responden.
Apabila terdapat suatu hal yang merugikan saya akibat dari penelitian,
maka saya akan bertanggung jawab atas pilihan saya sendiri dan tidak akan
menuntut dikemudian hari.

Kairatu, 09 Juni 2016


Yang bersangkutan

(Responden)
Lampiran 10

KARAKTERISTIK RESPONDEN
Frequencies

Statistics

Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan


N Valid 8 8 8 8
Missing 0 0 0 0
Mean 2.00 1.62 1.88 3.25
Median 2.00 2.00 2.00 3.00
Std. Deviation .756 .518 .835 1.389
Sum 16 13 15 26

Frequency Table

Umur

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 40 - 50 Tahun 2 25.0 25.0 25.0
51 - 60 Tahun 4 50.0 50.0 75.0
61 - 70 Tahun 2 25.0 25.0 100.0
Total 8 100.0 100.0

Jenis Kelamin

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid Laki-Laki 3 37.5 37.5 37.5
Perempuan 5 62.5 62.5 100.0
Total 8 100.0 100.0

Pendidikan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid SD 3 37.5 37.5 37.5
SMP 3 37.5 37.5 75.0
SMA 2 25.0 25.0 100.0
Total 8 100.0 100.0
Pekerjaan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid PNS 1 12.5 12.5 12.5
Pedagang 1 12.5 12.5 25.0
Petani 3 37.5 37.5 62.5
Nelayan 1 12.5 12.5 75.0
Lain 2 25.0 25.0 100.0
Total 8 100.0 100.0

ANALISIS UNIVARIAT
PRETEST
T-Test

One-Sample Statistics

N Mean Std. Deviation Std. Error Mean


Fleksi Bahu Sebelum 8 22.25 1.581 .559
Abduksi Bahu Sebelum 8 24.00 1.414 .500
Fleksi Siku Sebelum 8 24.00 .756 .267
Fleksi Pinggang Sebelum 8 24.00 1.512 .535
Abduksi Pinggang
8 23.25 2.053 .726
Sebelum
Fleksi Lutut Sebelum 8 23.38 1.598 .565

One-Sample Test

Test Value = 0
95% Confidence Interval of the
Difference
Sig. (2- Mean
t df tailed) Difference Lower Upper
Fleksi Bahu Sebelum 39.802 7 .000 22.250 20.93 23.57
Abduksi Bahu Sebelum 48.000 7 .000 24.000 22.82 25.18
Fleksi Siku Sebelum 89.800 7 .000 24.000 23.37 24.63
Fleksi Pinggang Sebelum 44.900 7 .000 24.000 22.74 25.26
Abduksi Pinggang
32.034 7 .000 23.250 21.53 24.97
Sebelum
Fleksi Lutut Sebelum 41.374 7 .000 23.375 22.04 24.71
POSTTEST
T-Test

One-Sample Statistics

N Mean Std. Deviation Std. Error Mean


Fleksi Bahu Sesudah 8 32.62 1.061 .375
Abduksi Bahu Sesudah 8 33.00 1.414 .500
Fleksi Siku Sesudah 8 34.12 .835 .295
Fleksi Pinggang Sesudah 8 33.75 1.282 .453
Abduksi Pinggang
8 33.00 2.000 .707
Sesudah
Fleksi Lutut Sesudah 8 34.12 1.356 .479

One-Sample Test

Test Value = 0
95% Confidence Interval of the
Difference
Sig. (2- Mean
t df tailed) Difference Lower Upper
Fleksi Bahu Sesudah 87.000 7 .000 32.625 31.74 33.51
Abduksi Bahu Sesudah 66.000 7 .000 33.000 31.82 34.18
Fleksi Siku Sesudah 115.659 7 .000 34.125 33.43 34.82
Fleksi Pinggang Sesudah 74.476 7 .000 33.750 32.68 34.82
Abduksi Pinggang
46.669 7 .000 33.000 31.33 34.67
Sesudah
Fleksi Lutut Sesudah 71.169 7 .000 34.125 32.99 35.26
ANALISIS BIVARIAT
T-Test

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean


Pair 1 Fleksi Bahu Sebelum 22.25 8 1.581 .559
Fleksi Bahu Sesudah 32.62 8 1.061 .375
Pair 2 Abduksi Bahu Sebelum 24.00 8 1.414 .500
Abduksi Bahu Sesudah 33.00 8 1.414 .500
Pair 3 Fleksi Siku Sebelum 24.00 8 .756 .267
Fleksi Siku Sesudah 34.12 8 .835 .295
Pair 4 Fleksi Pinggang Sebelum 24.00 8 1.512 .535
Fleksi Pinggang Sesudah 33.75 8 1.282 .453
Pair 5 Abduksi Pinggang
23.25 8 2.053 .726
Sebelum
Abduksi Pinggang
33.00 8 2.000 .707
Sesudah
Pair 6 Fleksi Lutut Sebelum 23.38 8 1.598 .565
Fleksi Lutut Sesudah 34.12 8 1.356 .479

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.
Pair 1 Fleksi Bahu Sebelum & Fleksi
8 .490 .218
Bahu Sesudah
Pair 2 Abduksi Bahu Sebelum & Abduksi
8 .143 .736
Bahu Sesudah
Pair 3 Fleksi Siku Sebelum & Fleksi Siku
8 .679 .064
Sesudah
Pair 4 Fleksi Pinggang Sebelum & Fleksi
8 -.295 .478
Pinggang Sesudah
Pair 5 Abduksi Pinggang Sebelum &
8 .696 .055
Abduksi Pinggang Sesudah
Pair 6 Fleksi Lutut Sebelum & Fleksi
8 -.025 .954
Lutut Sesudah
Paired Samples Test

Paired Differences
95% Confidence
Interval of the
Difference
Std. Std. Error Sig. (2-
Mean Deviation Mean Lower Upper t df tailed)
Pair 1 Fleksi Bahu
Sebelum - Fleksi -10.375 1.408 .498 -11.552 -9.198 -20.843 7 .000
Bahu Sesudah
Pair 2 Abduksi Bahu
Sebelum - Abduksi -9.000 1.852 .655 -10.548 -7.452 -13.748 7 .000
Bahu Sesudah
Pair 3 Fleksi Siku Sebelum
- Fleksi Siku -10.125 .641 .227 -10.661 -9.589 -44.686 7 .000
Sesudah
Pair 4 Fleksi Pinggang
Sebelum - Fleksi -9.750 2.252 .796 -11.633 -7.867 -12.246 7 .000
Pinggang Sesudah
Pair 5 Abduksi Pinggang
Sebelum - Abduksi -9.750 1.581 .559 -11.072 -8.428 -17.441 7 .000
Pinggang Sesudah
Pair 6 Fleksi Lutut
Sebelum - Fleksi -10.750 2.121 .750 -12.523 -8.977 -14.333 7 .000
Lutut Sesudah

UJI NORMALITAS
Explore

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent


Fleksi Bahu Sebelum 8 100.0% 0 .0% 8 100.0%
Abduksi Bahu Sebelum 8 100.0% 0 .0% 8 100.0%
Fleksi Siku Sebelum 8 100.0% 0 .0% 8 100.0%
Fleksi Pinggang Sebelum 8 100.0% 0 .0% 8 100.0%
Abduksi Pinggang
8 100.0% 0 .0% 8 100.0%
Sebelum
Fleksi Lutut Sebelum 8 100.0% 0 .0% 8 100.0%
Fleksi Bahu Sesudah 8 100.0% 0 .0% 8 100.0%
Abduksi Bahu Sesudah 8 100.0% 0 .0% 8 100.0%
Fleksi Siku Sesudah 8 100.0% 0 .0% 8 100.0%
Fleksi Pinggang Sesudah 8 100.0% 0 .0% 8 100.0%
Abduksi Pinggang
8 100.0% 0 .0% 8 100.0%
Sesudah
Fleksi Lutut Sesudah 8 100.0% 0 .0% 8 100.0%

Descriptives

Statistic Std. Error


Fleksi Bahu Sebelum Mean 22.25 .559
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 20.93

Upper Bound 23.57

5% Trimmed Mean 22.28

Median 22.50

Variance 2.500

Std. Deviation 1.581

Minimum 20

Maximum 24

Range 4

Interquartile Range 3

Skewness -.542 .752


Kurtosis -1.024 1.481
Abduksi Bahu Sebelum Mean 24.00 .500
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 22.82
Upper Bound 25.18
5% Trimmed Mean 24.00
Median 24.00
Variance 2.000
Std. Deviation 1.414
Minimum 22
Maximum 26
Range 4
Interquartile Range 2
Skewness -.404 .752
Kurtosis -.614 1.481
Fleksi Siku Sebelum Mean 24.00 .267
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 23.37
Upper Bound 24.63
5% Trimmed Mean 24.00
Median 24.00
Variance .571
Std. Deviation .756
Minimum 23
Maximum 25
Range 2
Interquartile Range 2
Skewness .000 .752
Kurtosis -.700 1.481
Fleksi Pinggang Sebelum Mean 24.00 .535
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 22.74
Upper Bound 25.26
5% Trimmed Mean 24.00
Median 24.00
Variance 2.286
Std. Deviation 1.512

Minimum 22
Maximum 26
Range 4
Interquartile Range 3
Skewness .000 .752
Kurtosis -.700 1.481
Abduksi Pinggang Mean 23.25 .726
Sebelum 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 21.53
Upper Bound 24.97
5% Trimmed Mean 23.28
Median 23.00
Variance 4.214
Std. Deviation 2.053
Minimum 20
Maximum 26
Range 6
Interquartile Range 4
Skewness .083 .752
Kurtosis -.438 1.481
Fleksi Lutut Sebelum Mean 23.38 .565
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 22.04
Upper Bound 24.71
5% Trimmed Mean 23.42
Median 23.50
Variance 2.554
Std. Deviation 1.598

Minimum 21
Maximum 25
Range 4
Interquartile Range 3
Skewness -.258 .752
Kurtosis -1.742 1.481
Fleksi Bahu Sesudah Mean 32.62 .375
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 31.74
Upper Bound 33.51
5% Trimmed Mean 32.64
Median 32.50
Variance 1.125
Std. Deviation 1.061
Minimum 31
Maximum 34
Range 3
Interquartile Range 2
Skewness .045 .752
Kurtosis -.940 1.481
Abduksi Bahu Sesudah Mean 33.00 .500
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 31.82
Upper Bound 34.18
5% Trimmed Mean 33.00
Median 33.00
Variance 2.000
Std. Deviation 1.414
Minimum 31
Maximum 35
Range 4
Interquartile Range 2
Skewness .000 .752
Kurtosis -1.643 1.481
Fleksi Siku Sesudah Mean 34.12 .295
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 33.43

Upper Bound 34.82


5% Trimmed Mean 34.14
Median 34.00
Variance .696
Std. Deviation .835
Minimum 33
Maximum 35

Range 2
Interquartile Range 2
Skewness -.277 .752
Kurtosis -1.392 1.481
Fleksi Pinggang Sesudah Mean 33.75 .453
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 32.68
Upper Bound 34.82
5% Trimmed Mean 33.78
Median 34.00
Variance 1.643
Std. Deviation 1.282
Minimum 32
Maximum 35
Range 3
Interquartile Range 3
Skewness -.475 .752
Kurtosis -1.546 1.481
Abduksi Pinggang Mean 33.00 .707
Sesudah 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 31.33

Upper Bound 34.67


5% Trimmed Mean 32.94
Median 32.50
Variance 4.000
Std. Deviation 2.000
Minimum 31
Maximum 36

Range 5
Interquartile Range 4
Skewness .857 .752
Kurtosis -.700 1.481
Fleksi Lutut Sesudah Mean 34.12 .479
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 32.99
Upper Bound 35.26
5% Trimmed Mean 34.14
Median 34.00
Variance 1.839
Std. Deviation 1.356
Minimum 32
Maximum 36
Range 4
Interquartile Range 2
Skewness .165 .752
Kurtosis -.166 1.481

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.


Fleksi Bahu Sebelum .187 8 .200* .877 8 .175
Abduksi Bahu Sebelum .250 8 .150 .897 8 .273
Fleksi Siku Sebelum .250 8 .150 .849 8 .093
Fleksi Pinggang Sebelum .250 8 .150 .849 8 .093
Abduksi Pinggang
.173 8 .200* .933 8 .542
Sebelum
Fleksi Lutut Sebelum .220 8 .200* .873 8 .162
*
Fleksi Bahu Sesudah .222 8 .200 .912 8 .366
Abduksi Bahu Sesudah .260 8 .118 .883 8 .201
*
Fleksi Siku Sesudah .228 8 .200 .835 8 .067
Fleksi Pinggang Sesudah .210 8 .200* .843 8 .082
Abduksi Pinggang
.250 8 .150 .836 8 .069
Sesudah
Fleksi Lutut Sesudah .287 8 .052 .882 8 .195
a. Lilliefors Significance Correction

*. This is a lower bound of the true significance.

Fleksi Bahu Sebelum


Fleksi Bahu Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

8,00 2 . 00223344

Stem width: 10
Each leaf: 1 case(s)
Abduksi Bahu Sebelum
Abduksi Bahu Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

5,00 2 . 22444
3,00 2 . 556

Stem width: 10
Each leaf: 1 case(s)

Fleksi Siku Sebelum


Fleksi Siku Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

2,00 23 . 00
4,00 24 . 0000
2,00 25 . 00

Stem width: 1
Each leaf: 1 case(s)
Fleksi Pinggang Sebelum
Fleksi Pinggang Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

6,00 2 . 224444
2,00 2 . 66

Stem width: 10
Each leaf: 1 case(s)

Abduksi Pinggang Sebelum


Abduksi Pinggang Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

6,00 2 . 022334
2,00 2 . 66

Stem width: 10
Each leaf: 1 case(s)
Fleksi Lutut Sebelum
Fleksi Lutut Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

5,00 2 . 12234
3,00 2 . 555

Stem width: 10
Each leaf: 1 case(s)
Fleksi Bahu Sesudah
Fleksi Bahu Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

1,00 31 . 0
3,00 32 . 000
2,00 33 . 00
2,00 34 . 00

Stem width: 1
Each leaf: 1 case(s)

Abduksi Bahu Sesudah


Abduksi Bahu Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

7,00 3 . 1222444
1,00 3. 5

Stem width: 10
Each leaf: 1 case(s)
Fleksi Siku Sesudah
Fleksi Siku Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

2,00 33 . 00
3,00 34 . 000
3,00 35 . 000

Stem width: 1
Each leaf: 1 case(s)

Fleksi Pinggang Sesudah


Fleksi Pinggang Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

2,00 32 . 00
1,00 33 . 0
2,00 34 . 00
3,00 35 . 000
Stem width: 1
Each leaf: 1 case(s)

Abduksi Pinggang
Abduksi Pinggang Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

6,00 3 . 112233
2,00 3 . 66

Stem width: 10
Each leaf: 1 case(s)
Fleksi Lutut Sebelum
Fleksi Lutut Stem-and-Leaf Plot

Frequency Stem & Leaf

6,00 3 . 234444
2,00 3 . 66

Stem width: 10
Each leaf: 1 case(s)
lampiran 11
FOTO DOKUMENTASI
Latihan Dan Pengukuran