Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Tidak dapat dipungkiri bahwa umat Islam di Indonesia adalah unsur paling
mayoritas. Dalam tataran dunia Islam internasional, umat Islam Indonesia bahkan
dapat disebut sebagai komunitas muslim paling besar yang berkumpul dalam satu
batas teritorial kenegaraan. Karena itu, menjadi sangat menarik untuk memahami
alur perjalanan sejarah hukum Islam di tengah-tengah komunitas Islam terbesar di
dunia itu. Pertanyaan-pertanyaan seperti: seberapa jauh pengaruh kemayoritasan
kaum muslimin Indonesia itu terhadap penerapan hukum Islam di Tanah Air –
misalnya-, dapat dijawab dengan memaparkan sejarah hukum Islam sejak
komunitas muslim hadir di Indonesia.
Di samping itu, kajian tentang sejarah hukum Islam di Indonesia juga
dapat dijadikan sebagai salah satu pijakan –bagi umat Islam secara khusus- untuk
menentukan strategi yang tepat di masa depan dalam mendekatkan dan
“mengakrabkan” bangsa ini dengan hukum Islam. Proses sejarah hukum Islam
yang diwarnai “benturan” dengan tradisi yang sebelumnya berlaku dan juga
dengan kebijakan-kebijakan politik-kenegaraan, serta tindakan-tindakan yang
diambil oleh para tokoh Islam Indonesia terdahulu setidaknya dapat menjadi
bahan telaah penting di masa datang. Setidaknya, sejarah itu menunjukkan bahwa
proses Islamisasi sebuah masyarakat bukanlah proses yang dapat selesai seketika.
Setelah Islam mulai memiliki pengaruh yang kokoh di Nusantara, maka
hukum Islam mulai dipraktekkan dengan luas. Masa kejayaan hukum Islam
mencapai puncaknya ketika berdiri kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara yang
mengimplementasikan hukum Islam. Namun kejayaan hukum Islam mulai pudar
seiring dengan takluknya kerajaan-kerajaan Islam oleh bangsa Eropa, terutama
Belanda yang gigih hendak menghapus hukum Islam di Nusantara.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana praktik hukum Islam pada masa kerajaan Islam?
2. Bagaimana eksistensi hukum Islam pada masa Belanda?
3. Bagaimana eksistensi hukum Islam pada masa Jepang?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pemberlakuan Hukum Islam pada Masa Kerajaan Islam


Periode ini bermula sejak munculnya Kerajaan Islam pertama di Nusantara
pada abad ke-13 M (Kerajaan Samudra Pasai di Aceh) sampai kedatangan bangsa
Eropa yang menjajah Nusantara pada permulaan abad ke-17 M.
Ada banyak kerajaan Islam di Nusantara, seperti:1
1. Aceh, seperti Kesultanan Samudra Pasai (abad ke-13 s.d. ke-16 M.), Kerajaan
Perlak (didirikan sekitar abad ke-9 M. dengan nama Kerajaan Lamuri dan
menjadi kerajaan Islam sekitar abad ke-13 M.), Kesultanan Aceh Darussalam
(tahun 1511 s.d. 1903 M.), dan sebagainya.
2. Sumatera, seperti Kesultanan Malaka yang berpusat di Malaka (Malaysia)
namun mewilayahi sebagian perairan dan daratan yang sekarang ini masuk
wilayah Indonesia (abad ke-14 s.d. ke-17 M.), Kerajaan Deli yang berada di
bagian timur pulau Sumatera (didirikan tahun 1630 M. dan berubah menjadi
Kesultanan Islam tahun 1814 M.), Kesultanan Jambi (1690-1901 M.),
Kesultanan Minangkabau (abad ke-13 s.d. 17 M.), Kesultanan Melayu Riau,
Kesultanan Lingga (didirikan tahun 1824 M.), dan Kesultanan Melayu Riau.
3. Kalimantan, seperti Kesultanan Bandar (didirikan pada abad 14 M. dan
menjadi Kesultanan Islam pada tahun 1520 M.), Kesultanan Kutai
Kartanegara ing Martapura, Kerajaan Pontianak (dibentuk tahun 1771 M.),
dan lain-lain.
4. Sulawesi, seperti Kerajaan Gowa-Tallo (dua kerajaan kembar yang dibentuk
awal abad ke-16 M. dan menjadi Kesultanan Islam pada tahun 1605 M.),
Bone (Kerajaan taklukan Gowa-Tallo dan berdiri sendiri sebagai Kerajaan
Islam pada abad ke-17 M.), kerajaan-kerajaan Islam di wilayah Mandar,
Sulawesi Barat (Majene dan Mamuju), kerajaan-kerajaan Islam di wilayah

1
H.A. Mustafa dan Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia untuk Fakultas Tarbiyah
Komponen MKDK(Cet. II; Bandung: Pustaka Setia, 1999), h. 53-65; Kerajaan Islam di Nusantara
dapat dilihat pada http:www.irshadi-bagas.blogspotcc, didownload tanggal 20 Desember 2008.
Sulawesi Tengah (Banawa, Parigi, Moutong, Sigi, Banggai, Toli-Toli, dan
Buol) dan sebagainya, Kerajaan-Kerajaan Islam di wilayah Sulawesi Utara
dan Gorontalo (Gorontalo, Limboto, Atinggola, Bualemo, Bolaang
Mongondow) dan lain-lain.
5. Jawa, seperti Kesultanan Demak (1500-1550 M.), Kesultanan Pajang (1568-
1618 M.), Kesultanan Mataram Islam (1586-1755 M.), Kesultanan Cirebon
(berdiri sekitar abad ke-16 M.), Kesultanan Banten (berdiri sekitar abad 16),
dan sebagainya.
6. Maluku, seperti Kesultanan Ternate (1257 – 1583 M.), Kesultanan Tidore
(1110 – 1947 M.) Kesultanan Jailolo, Kesultanan Bacan, Kerajaan Tanah Hitu
(1470-1682 M.).
7. Nusa Tenggara, seperti Bima (berdiri sekitar abad ke-17 M.), Manggarai dan
lain-lain.
Karakteristik keberlakukan hukum Islam pada era zaman kerajaan
tersebut, antara lain :
1. Agama Islam dijadikan agama negara sejak rajanya masuk Islam (seperti
kerajaan Gowa Tallo, Bone dan lain-lain) maupun didirikannya kerajaan
tersebut bersendikan Islam (seperti Samudera Pasai, Demak dan sebagainya).
2. Hukum Islam diberlakukan secara positif sebagai hukum kerajaan, sekali pun
pada beberapa Kerajaan dan Kesultanan Nusantara ada yang melaksanakan
dengan tidak ketat. A.C. Milner mengatakan bahwa Kerajaan Aceh dan
Kesultanan Banten yang melaksanakannya secara ketat, baik dalam masalah
perdata dan pidana.2 Kerajaan Mataram Islam di Jawa dipandang paling
longgar dalam melaksanakan hukum Islam, khususnya dalam masalah hukum
pidana dan hukum yang berkenaan dengan raja yang masih mengikuti tradisi
pra-Islam. Namun dalam masalah hukum keluarga, seperti nikah, talak, dan
rujuk dilaksanakan secara merata di seluruh kerajaan dan kesultanan Islam di
Nusantara. Perbedaan pelaksanaan hukum Islam pada kerajaan dan
kesultanan Islam di Nusantara hanya terlihat dalam konteks pelaksanaan
hukum pidana. Pada kerajaan atau kesultanan tertentu, hukum-hukum pidana
ada yang masih mengikuti hukum adat atau hukum adat dipadukan dengan
2
A.C. Milner, “Islam dan Negara Muslim,” dalam Azyumardi Azra (ed.), Perspektif Islam Asia
Tenggara (Cet. I; Jakarta: Yayasan Obor, 1989), h. 149.
hukum Islam, terutama kasus-kasus yang tidak secara jelas diatur oleh hukum
Islam.3
3. Telah dibentuk lembaga peradilan Islam yang menjalankan hukum Islam,
baik perdata maupun pidana, misalnya, Wizar Al-hukkām yang dipimpin oleh
Wazir al-Hukkām di Kerajaan Perlak,4 Mahkamah Agama yang dipimpin oleh
Qadi di Kerajaan Samudra Pasai,5 Balai Majlis Mahkamah yang dipimpin
oleh Sri Panglima Wazir Mizan serta Balai Kadhi Malikul Adil pada
Kesultanan Aceh Darussalam,6 Pengadilan Pradata yang berubah menjadi
Pengadilan Surambi di Kerajaan Mataram Islam,7 dan sebagainya.
4. Telah dilakukan kodifikasi hukum Islam yang diundang-undangkan oleh
negara. Kesultanan Malaka memiliki kodifikasi hukum Risalah Hukum
Kanun yang disusun pada masa pemerintahan Sultan Muzaffar Syah (1446-
1456) yang memuat tentang banyak hal untuk mengatur kehidupan
masyarakat. Risalah Hukum Kanun dari Kesultanan Malaka ini diduga secara
luas diduga diterapkan oleh berbagai kerajaan dan kesultanan Islam Melayu
karena beberapa salinannya ditemukan di Riau, Pahang, Pontianak, dan
Brunai; Kesultanan Aceh Darussalam memiliki kodifikasi hukum Islam yang
dinamakan Kitab Adat Mahkota Alam yang diduga disusun pada masa Sultan
Iskandar Muda (1607-1636); Kerajaan Mataram Islam memiliki Hukum
Kisas yang disusun pada masa Sultan Agung; Kesultanan Cirebon memiliki
undang-undang yang disebut pepakem; sedangkan Kesultanan Banten
sebagaimana laporan seorang pengamat Belanda memiliki kitab hukum Islam
sendiri yang diundangkan oleh Kesultanan Banten yang tidak diketahui nama
kitab tersebut.8

3
Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Ed. I; Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2005), h. 135-136.
4
Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, “Proses Islamisasi dan Munculnya Kerajaan-Kerajaan Islam
di Aceh,” dalam A. Hasymy (ed.), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia
(Kumpulan Prasaran pada Seminar di Aceh) (Cet. III; Bandung: Al-Ma’arif, 1993) , h. 414.
5
Ibid., h. 428.
6
A. Rani Usman, Sejarah Pera-daban Aceh: Suatu Analisis Interaksionis, Integrasi dan
Konflik (Ed. I; Cet. I; Jakarta: Yayasan Obor, 2003), h. 58.
7
Zaini Ahmad Noeh, “Kepustakaan Jawa sebagai Sumber Sejarah Perkembangan Hukum Islam,”
dalam Amrullah Ahmad, et.al. (ed.), Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional:
Mengenang 65 Tahun Prof. Dr. H. Busthanul Arifin, SH (Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1996),
h. 80.
8
Musyrifah Sunanto, op. cit., h. 137 dan 166-167.
B. Eksistensi Hukum Islam Era Kolonial Belanda
Periode keberlakuan hukum Islam di Indonesia pada zaman kolonial
Belanda di Nusantara dimulai sejak kedatangan bangsa Eropa yang menjajah
Nusantara pada permulaan abad ke-17 M, khususnya keberhasilan VOC
(Vereenigde Oost-Indische Compagnie atau Persekutuan Dagang Hindia Timur)
Belanda yang praktis menduduki Malaka sampai tahun 1943 ketika Pemerintah
Kolonial Belanda takluk dan menyerahkan daerah jajahannya di Indonesia pada
bangsa Jepang.
Pada masa Belanda, keberlakuan hukum Islam mengalami dua fase, yaitu :
Pertama; Pemberlakuan Hukum Islam secara Penuh sebagai Hukum
Materiil Peradilan. Ketika bangsa Belanda datang menjajah Nusantara, mereka
melihat bahwa hukum Islam telah menjadi hukum yang hidup(living law) pada
rakyat Indonesia dan telah dipraktekkan bertahun-tahun, bahkan telah menjadi
”adat yang diadatkan.” Seorang ahli hukum Belanda, yaitu Lodewijk Willem
Christiaan van den Berg (1845-1927) meneliti keberadaan hukum Islam di
Nusantara antara tahun 1870 s.d. 1887, kemudian mengemukakan teori receptie in
complexu. Teori receptie in complex menyatakan bahwa bagi orang Islam berlaku
penuh hukum Islam sebab ia telah memeluk agama Islam, walaupun dalam
pelaksanaannya terdapat penyimpangan-penyimpangan. Van den Berg melihat
umat Islam Indonesia sejak masa dahulu telah menerima hukum Islam dan
menjadi hukum yang hidup (living law) pada masyarakat adat dan kesultanan-
kesultanan Islam di Indonesia. Namun adat-istiadat yang telah lama hidup dalam
masyarakat tetap pula dipertahankan bersama dengan hukum Islam, bahkan dalam
beberapa hal disinkretisasi dan diakulturalisasi dengan ajaran Islam, sehingga
dalam pelaksanaan hukum Islam terdapat penyimpangan-penyimpangan, misalnya
hukum adat warisan yang bersifat matrilineal di Minangkabau, tradisi kejawen
pada suku Jawa, dan sebagainya.9
Teori receptie in complexu sebenarnya bukan dilatarbelakangi oleh
keinginan orientalis dan pemerintah kolonial Belanda untuk melindungi dan
mengembangkan hukum Islam. Paradigma orientalisme yang berkembang pada

9
Ichtijanto, “Pengembangan Teori Berlakunya Hukum Islam di Indonesia,” dalam Juhaya S. Praja
(ed.), Hukum Islam di Indonesia: Perkembangan dan Pembentukannya (Cet. I; Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1991), h. 117-118.
abad ke-18 M. s.d. sampai memasuki abad 19 M. masih cenderung
mengobjektivikasi Islam sebagai ajaran yang dikonstruksi oleh Rasulullah SAW.,
sehingga Islam disebut sebagai Mohammadanische (ajaran Muhammad saw.),
sehingga lebih berorientasi pejoratif. Hukum Islam juga bagi banyak orientalis
yang hidup pada kurun abad tersebut masih dipandang sebagai hukum yang
dikonstruksi oleh ajaran Rasulullah SAW. pribadi, bukan hukum Tuhan.
Meski pun teori receptie in complexu bukan didasarkan pada keinginan
melindungi dan mengembangkan hukum Islam, tetapi teori ini telah memberikan
konstribusi bagi eksisnya hukum Islam dalam administrasi hukum dan peradilan
era kolonial Belanda. Teori receptio in complexu ini sesuai dengan Regeerings
Reglement (Staatsblad 1884 No. 129 di Negeri Belanda jo. S.1885 No. 2 di
Indonesia, terutama diatur dalam Pasal 75, Pasal 78 jo, Pasal 109 RR disebutkan:
Pasal 75 ayat (3) R.R tersebut mengatur:
“Apabila terjadi sengketa perdata antara orang-orang Indonesia yang beragama
Islam oleh hakim Indonesia haruslah diperlakukan Hukum Islam gonsdientig
wetten dan kebiasaan mereka.
Sedangkan dalam ayat (4) Pasal 75 R.R. disebutkan: “Undang-undang
agama, adat dan kebiasaan itu juga dipakai untuk mereka oleh Hakim Eropa pada
pengadilan yang Huger Beroep (banding), bahwa dalam hal terjadi perkara
perdata antara sesama orang Indonesia atau mereka yang dipersamakan dengan
orang Indonesia, maka mereka tunduk kepada keputusan hakim agama atau kepala
masyarakat mereka menurut undang-undang agama atau ketentuan lama mereka.
Menurut Pasal 109 R.R. ditentukan pula: “Ketentuan seperti tersebut dalam Pasal
75 dan Pasal 78 itu berlaku juga bagi mereka yang dipersamakan dengan orang-
orang Indonesia, yaitu orang-orang Arab, Moor, orang Cina dan semua mereka
yang beragama Islam, maupun orang-orang yang tidak beragama. Menurut Pasal
7 Rechterlijke Organisatie ditetapkan: “Sidang-sidang pengadilan negeri
(landraad) harus dihadiri oleh seorang fungsionarie yang mengetahui seluk beluk
agama Islam, kalau yang dihadapakan itu tidak beragama Islam, maka penasehat
itu adalah kepala masyarakat dari orang itu.10

10
Mohd .Idris Ramulyo, Asas-asas hukum Islam (Sejarah Timbul dan Berkembangnya Kedudukan
Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia) (Cet. II; Jakarta: Sinar Grafika, 1997), h. 55.
Pemerintah Hindia Belanda juga membentuk pengadilan agama dimana
berdiri pengadilan negeri dengan Staatsblad 1882 No. 152 dan 153, kemudian
diiringi terbentuknya pengadilan tinggi agama (Mahkamah Syar’iyyah) yang
berfungsi sebagai pengadilan agama tinggi banding dan terakhir berdasarkan Pasal
7 g Staatsblad 1937 No. 610 serta tahun 1937 dengan Staatsblad 1937 No. 638
dan 639 dibentuk pula peradilan agama di Kalimantan Selatan dan Kalimantan
Timur dengan nama Pengadilan Qadhi Kecil pada tingkat pertama dan Pengadilan
Qadhi Besar untuk tingkat banding dan terakhir.11 Pengadilan Agama juga
dibentuk di Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua Barat yang disebut Majelis
Syara’ atau Hakim Syara’, sedangkan di Sumatera disebut Mahkamah Syari’ah.12
Pemerintah kolonial Belanda malah memfasilitasi kodifikasi hukum Islam
yang nantinya akan dijadikan panduan oleh hakim-hakim Landraad dalam
menjalankan kekuasaan judikatifnya terhadap umat Islam di Nusantara, antara
lain;
1. Compendium Freijer yang merupakan kodifikasi hukum perkawinan dan
hukum kewarisan Islam yang dibuat oleh Pengadilan VOC , kemudian
dilegislasi melalui Resolutie der Indische Regering pada tanggal 25 Mei
1760.
2. Cirsbonscg Rechboek yang dibuat atas usul Residen Cirebon, yaitu Mr. P.C.
Hosselaar (1757-1765).
3. Compendium der Voornaamste Javaansche Wetten nauwkeurig gettrokken uit
her Mohammadaansche Wetboek Mogharrer yang dibuat pada tahun 1750
untuk Landraad Semarang.
4. Compendium Indlansche Wetten bij de Hoven van Bone en Goa yang
disahkan oleh VOC untuk diberlakukan pada wilayah Makassar.
5. Boedelsscheidingen of Java volgens de kitab Saphi’i yang dibuat oleh J.E.W.
Van Nes pada tahun 1850.
6. Handboek van het Mohammadaansche Recht yang dibuat oleh A. Meurenge
pada tahun 1844.
Kedua; Pemberlakuan Hukum Islam setelah Diresepsi Hukum Adat di
Lembaga Peradilan. Memasuki abad ke-19 M., Pemerintah Kolonial Belanda
11
Ibid., h. 56.
12
Ichtijanto, op. cit., h. 120.
sering berhadapan dengan perjuangan rakyat Indonesia yang dipelopori para
ulama dan tokoh-tokoh Islam, setelah para raja mereka dikalahkan oleh
Belanda.13 Di sisi lain, Pemerintah Kolonial Belanda khawatir terhadap pengaruh
Pan-Islamisme dan pembaharuan Islam pada awal abad ke-19 M. yang
dikhawatirkan membangkitkan perlawanan bangsa-bangsa terjajah yang beragama
Islam terhadap bangsa Eropa.14
Di dalam negeri Belanda sendiri muncul gerakan politik etis yang
menuntut kebijakan lebih etis dan moral terhadap rakyat jajahan. Dengan
munculnya gerakan ini, hubungan dengan daerah jajahan tidak lagi seperti negara
penjajah dan dijajah, tetapi hendak dikembangkan menjadi semacam aliansi atau
federasi dalam ketatanegaraan. Timbulah ide Kerajaan Nederland Raya yang
hendak mendudukkan daerah jajahan secara lebih baik dari masa-masa
sebelumnya yang tentu mempersyaratkan adanya kedekatan hubungan Belanda
dengan rakyat Indonesia.
Pemerintah Belanda pada tahun 1898 mengangkat seorang Orientalis asal
Belanda yang ahli dalam hukum Islam dan hukum adat, yaitu; Christian Snouck
Hurgronje (1857-1936) sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda tentang
soal-soal Islam dan anak negeri. Snouck sebagaimana umumnya dari kalangan
pemerintah Hindia Belanda pada masa itu memiliki kekhawatiran yang sama
tentang pengaruh Pan-Islamisme. Ia melihat bahwa sikap Pemerintah Hindia
Belanda sebagaimana dituangkan dalam Stbl. 1882 No. 152 yang dilandasi teori
receptie in complexu bersumber dari ketidakmengertian terhadap situasi
masyarakat pribumi, khususnya umat Islam. Menurutnya bahwa sikap pemerintah
Hindia Belanda selama ini lebih banyak merugikan pemerintah Hindia Belanda.
Snouck dengan kapasitasnya sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda
kemudian mengemukakan saran berbagai kebijakan dalam mengurus Islam di
Indonesia dengan berusaha menarik rakyat pribumi lebih dekat kepada
kebudayaan Eropa dan pemerintah Hindia Belanda yang dikenal dengan “Islam
Policy”, yaitu:

13
Lihat Musyrifah Sunanto, op. cit., h. 29-30.
14
Ichtijanto, op. cit., h. 123.
1. Dalam kegiatan agama dalam arti sebenarnya (agama dalam arti sempit),
pemerintah Hindia Belanda hendaknya memberikan kebebasan secara jujur
tanpa syarat bagi orang-orang Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya.
2. Dalam lapangan kemasyarakatan, pemerintah Hindia Belanda hendaknya
menghormati adat-istiadat dan kebiasaan rakyat yang berlaku dengan
membuka jalan yang dapat menuntut taraf hidup rakyat jajahan kepada suatu
kemajuan yang tenang ke arah mendekati pemerintah Hindia Belanda dengan
memberikan bantuan kepada mereka yang menempuh jalan ini.
3. Dalam lapangan ketatanegaraan mencegah tujuan yang dapat membawa atau
menghubungkan gerakan Pan-Islamisme yang mempunyai tujuan untuk
mencari kekuatan-kekuatan lain dalam hubungan menghadapi pemerintah
Hindia Belanda terhadap rakyat bangsa Timur.
Dalam rangka mewujudkan penerapan Islam Policy di bidang hukum,
maka Snouck mengemukakan teori receptie, kemudian dikembangkan oleh C. Van
Vollenhoven dan Ter Haar Brn. Teori ini menegaskan bahwa bahwa bagi rakyat
pribumi di Indonesia pada dasarnya berlaku hukum adat. Hukum Islam
diberlakukan apabila norma hukum Islam apabila di masyarakat telah diterima
sebagai hukum adat. Teori ini muncul dilegitimasi dengan penelitian Snouck
terhadap hukum adat Aceh dan Gayo dalam karya ilmiahnya De Atjehers dan De
Gajoland.15 Van Vollenhoven kemudian mengembangkan teori receptie dengan
membagi wilayah Indonesia menjadi 19 lingkungan hukum adat,16 sehingga
seakan-akan dikesankan bahwa hukum adat terpisah dengan hukum agama dalam
masyarakat Indonesia. Realisasi teori receptie ini yaitu terjadinya perubahan
secara sistematis Regeerings Reglement Stbl. 1855 No. 2 menjadi Wet Op De
Staats Inrichting Van Nederlands Indie Atau Indische Staats Regeling atau I.S.
pada tahun 1925 (Stbl. 1925 No. 416) seterusnya dengan Stbl. 1929 No. 221.
Pasal 134 (2) IS tahun 1929 menegaskan : Dalam hal terjadi perkara perdata
antara sesama orang Islam akan diselesaikan oleh hakim agama Islam apabila

15
Ibid., h. 123-124.
16
Bewa Ragawino, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat Indonesia (t.t.: Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, t.th.), h. 35-38.
hukum adat menghendakinya dan sejauh itu tidak ditentukan lain dengan sesuatu
ordonansi.17
Hukum Islam sebagai salah satu basis kesadaran keberagamaan hendak
ditanggalkan dari kehidupan masyarakat Indonesia yang beragama Islam dengan
memunculkan hukum adat sebagai tandingannya. Di sisi lain, pemunculan hukum
adat diharapkan dapat mendekatkan pemerintah kolonial Belanda terhadap kaum
adat di Nusantara untuk mewujudkan taktik devide et empera (politik pecah
belah). Pemerintah Hindia Belanda secara sistematis kemudian melumpuhkan
dan menghambat pengembangan hukum Islam di Indonesia dengan berbagai cara,
yaitu:18
1. Dalam lapangan hukum pidana Islam (fiqh al-jināyah) tidak diberlakukan
sama sekali dari tata hukum dan digantikan dengan hukum pidana Belanda
atau Wetbock van Stafrect yang diberlakukan sejak Januari 1919 dengan Stbl.
1915 no. 732.
2. Hukum tata negara Islam (fiqh al-siyāsah) tidak dipakai sama sekali.
Pengkajian ayat al-Qur’an atau hadis yang menyangkut politik Islam atau
ketatanegaraan dilarang.
3. Dalam hukum kewarisan Islam (fiqh al-mawāris). Hukum kewarisan Islam
diupayakan agar tidak berlaku dengan cara menanggalkan kewenangan
Pengadilan Agama di Jawa dan Kalimantan Selatan yang mengadili masalah
waris dan memberikan kewenangan masalah waris kepada pengadilan umum
(Landraad), serta melarang penyelesaikan perkara dengan menggunakan
hukum Islam jika di tempat adanya perkara tidak diketahui bagaimana bunyi
hukum adat.
4. Mempersempit hukum keluarga yang menyangkut hukum perkawinan Islam
(fiqh al-munākahat).

C. Eksistensi Hukum Islam pada Era Jepang


Periode ini dimulai sejak pada tahun 1943 ketika pemerintah kolonial
Belanda bertekuk lutut terhadap tentara Jepang sampai kemerdekaan R.I pada

17
Ismail Suny, “Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia”, dalam
Amrullah Ahmad, op. cit., h. 132.
18
Ichtijanto, op. cit., h. 125.
tanggal 17 Agustus 1945.Pemerintah Pendudukan Jepang tidak melakukan
perubahan terhadap kebijakan hukum di Indonesia setelah mereka menguasai
Nusantara. Hal ini disebabkan singkatnya masa pendudukan mereka terhadap
Nusantara (3 ½ tahun) dan situasi Peramg Dunia II saat itu yang menjadikan
Pemerintah Pendudukan Jepang lebih terfokus untuk mengarahkan segala potensi
yang dimiliki oleh bangsa Indonesia agar dapat membantu mereka memenangi
Perang Dunia II. Kebijakan Pemerintah Pendudukan Jepang terhadap peradilan
agama tetap meneruskan kebijakan sebelumnya (masa kolonial Belanda).
Kebijakan tersebut dituangkan dalam peraturan peralihan Pasal 3 Undang-Undang
Bala Tentara Jepang (Osamu Sairei) tanggal 7 Maret 1942 No.1. hanya terdapat
perubahan nama Pengadilan Agama, sebagai peradilan tingkat pertama yang
disebut “Sooryoo Hooim” dan Mahkamah Islam Tinggi, sedangkan tingkat
banding disebut “kaikyoo kootoohoin”.19
Namun Pemerintah pendudukan Jepang berupaya menarik simpati umat
Islam sebagai umat mayoritas di Indonesia, sehingga memberikan peluang bagi
para ulama dan tokoh-tokoh Islam untuk mengembangkan pemberlakuan kembali
hukum Islam di Indonesia, antara lain:20
1. Upaya untuk memulihkan kewenangan Pengadilan Agama dalam masalah
kewarisan dan perwakafan tetap dilakukan melalui Sanyo Kaigi (Dewan
Pertimbangan) oleh para ulama dan tokoh-tokoh agama Islam, meskipun
mendapat penentangan dari tokoh-tokoh nasionalis sekuler.
2. Mulai dirintis lembaga resmi pemerintah yang mengurus keberadaan umat
Islam melalui Kantoor Voor Het Islanddsche Zaken menjadi Sumubu dan
diperluas kewenangannya sampai mengurus masalah kehakiman bagi orang
Islam. Pada tanggal 1 April 1944 dimulai pembentukan Sumubu di setiap
keresidenan. Sumubu inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal bagi lahirnya
Kementerian Agama R.I. dan Kantor Urusan Agama (KUA).

19
Hendra-umar-penghulu.blogspot.co.id , diakses hari senin, tanggal 05 oktober 2015
20
H.A. Mustafa dan Abdullah Aly, op. cit., h. 99-100.
BAB III
KESIMPULAN

Periode keberlakuan hukum Islam di Indonesia pada zaman kerajaan di


Nusantara dimulai sejak munculnya Kerajaan Islam pertama di Nusantara pada
abad ke-13 M (Kerajaan Samudra Pasai di Aceh) sampai kedatangan bangsa
Eropa yang menjajah Nusantara pada permulaan abad ke-17 M.
Pada era zaman kolonial Belanda tersebut dapat dibagi pada dua fase,
antara lain :
1. Fase pengakuan terhadap hukum Islam dan kompetensi Peradilan Agama,
khususnya sejak berhasilnya bangsa Belanda menjajah Nusantara sekitar abad
ke-17 M. dan ke-18 M di bawah pengaruh teori receptie in complexu.
2. Fase intervensi dan pembatasan terhadap kompetensi Peradilan Agama yang
telah terjadi sejak tahun 1830 dan menguat setelah lahirnya pasal 134 IS dan
Stbl. 1937 Nomor 116, 610, 638 dan 639 di bawah pengaruh teori receptie.
Periode keberlakuan hukum Islam di Indonesia pada zaman pendudukan
Jepang dimulai sejak pada tahun 1943 ketika kontrol terhadap Nusantara beralih
dari pemerintah kolonial Belanda kepada pemerintah pendudukan Jepang yang
memerintah secara fasisme sampai kemerdekaan R.I pada tanggal 17 Agustus
1945. Mulai dirintis upaya untuk memberlakukan kembali hukum Islam bagi umat
Islam Indonesia dengan memanfaatkan politik simpatik pemerintah pendudukan
Jepang kepada umat Islam di Nusantara.
DAFTAR PUSTAKA

Mustafa, H.A.dan Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia


untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK, Cet. II; Bandung: Pustaka Setia,
1999.
Milner, A.C., “Islam dan Negara Muslim,” dalam Azyumardi Azra
(ed.), Perspektif Islam Asia Tenggara, Cet. I; Jakarta: Yayasan Obor, 1989.
Ibrahim, Muhammad dan Rusdi Sufi, “Proses Islamisasi dan Munculnya
Kerajaan-Kerajaan Islam di Aceh,” dalam A. Hasymy (ed.), Sejarah Masuk dan
Berkembangnya Islam di Indonesia (Kumpulan Prasaran pada Seminar di
Aceh), Cet. III; Bandung: Al-Ma’arif, 1993..
Ichtijanto, “Pengembangan Teori Berlakunya Hukum Islam di Indonesia,”
dalam Juhaya S. Praja (ed.), Hukum Islam di Indonesia: Perkembangan dan
Pembentukannya, Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991.
Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan
Gerakan, Cet. XIX; Jakarta : Bulan Bintang, 1992.
Noeh, Zaini Ahmad, “Kepustakaan Jawa sebagai Sumber Sejarah
Perkembangan Hukum Islam,” dalam Amrullah Ahmad, et.al. (ed.), Dimensi
Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional: Mengenang 65 Tahun Prof. Dr. H.
Busthanul Arifin, SH, Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
Ramulyo, Mohd .Idris, Asas-asas hukum Islam (Sejarah Timbul dan
Berkembangnya Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia),
Cet. II; Jakarta: Sinar Grafika, 1997.
Ragawino, Bewa, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat Indonesia, t.t.:
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, t.th..
Sunanto, Musyrifah, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Ed. I; Cet. I;
Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005.
Usman, A. Rani, Sejarah Peradaban Aceh: Suatu Analisis Interaksionis,
Integrasi dan Konflik, Ed. I; Cet. I; Jakarta: Yayasan Obor, 2003.