Anda di halaman 1dari 12

UJI SENSITIVITAS

Uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan
bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas
anti bakteri. Metode uji sensitivitas bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan
mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai
kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang
rendah. uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan
bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas
antibakteri. Pada umumnya metode yang dipergunakan dalam uji sensitivitas bakteri adalah
metode Difusi Agar yaitu dengan cara mengamati daya hambat pertumbuhan mikroorganisme
oleh ekstrak yang diketahui dari daerah di sekitar kertas cakram (paper disk) yang tidak
ditumbuhi oleh mikroorganisme. Zona hambatan pertumbuhan inilah yang menunjukkan
sensitivitas bakteri terhadap bahan anti bakteri (Gaman. dkk, 2002).

Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap tes kepekaan


Penentuan tes laboratorium terhadap mikroorganisme, untuk hasil yang lebih akurat
harus memperhatikan faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi baik terhadap
mikroorganisme ataupun pengaruh terhadap daya kerja antimikroba, sehingga harus dihindari
faktor-faktor lingkungan yang kemungkinan merpengaruhi,
Faktor lingkungan tersebut diantaranya:
1. pH
Beberapa antimikroba dipengaruhi oleh pH lingkungan, contohnya aktifitas
antibakteri eritromisin dan aminoglikosida berkurang apabila terjadi penurunan pH,
sedangkan aktifitas tetrasiklin akan menurun bila terjadi peningkatan pH. Aktifitas
aminoglikosida yang daya kerjanya menghambat sintesis protein bakteri melalui
membran sel dengan proses oksidasi, sehingga apabila tidak terdapat oksigen akan
mengurangi aktifitas antimikroba tersebut.
2. Kation
Aktifitas aminoglikosida juga aktifitas antimikroba yang penting adalah absorpsi
antimikroba ke permukaan sel bakteri dipengaruhi oleh konsentrasi kation Ca++ dan
Mg++. Tahapan. Aminoglikosida bermuatan positif dan bekerja terutama untuk
bakteri gram negatif, misalnya membran luar Pseudomomonas aeruginosa yang
bermuatan negative
3. Tersedianya bahan gizi tertentu
Bahan gizi tertentu dapat mempengaruhi aktifitas antimikroba, misalnya bakteri
enterococcus mampu menggunakan timin dan asam folat hasil metabolisme untuk
menghindari pengaruh aktifitas sulfoamida dan trimetroprim, yang dihambat oleh
jalur metabolik asam folat.

Dasar pemeriksaan uji kepekaan

1. Merupakan metode yang langsung mengukur aktifitas satu atau lebih antimikroba
terhadap inokulum bakteri

2. Merupakan metode yang secara langsung mendeteksi keberadaan mekanisme resitensi


spesifik pada inokulum bakteri

3. Merupakan metode khusus untuk mengukur interaksi antara mikroba dan antimikroba

Metode-metode pengukuran aktifitas antimikroba

Kemampuan antimikroba dalam melawan bakteri dapat diukur menggunakan metode


yang biasa dilakukan yaitu :

A. Metode konvensional : dilusi (agar atau kaldu), difusi dan Etest


B. Uji kepekaan komersial

Persiapan sebelum uji dilakukan


Beberapa persiapan yang diperlukan untuk melaksanakan uji dengan metode dilusi
dan difusi yaitu meliputi persiapan inokulum dan antimikroba yang akan digunakan

Persiapan inokulum

Persiapan inokulum yang tepat penting untuk uji kepekaan untuk mendapatkan hasil yang
akurat dan konsisten. Ada dua persiapan yang harus dilakukan yaitu: biakan murni dan
pembuatan inokulum standar.
Biakan murni diperlukan karena interpretasi berdasarkan inokulum yang tercampur
tidak dapat diterima dan akan menghambat mendapatkan hasil. Biakan murni dilakukan
dengan mengambil empat atau lima koloni yang sama secara morfologi dan ditanam pada
media perbenihan cair dan dibiarkan tumbuh subur, pada umumnya memerlukan waktu
inkubasi 3 sampai 5 jam. Bisa juga sebagai alternative 4 sampai 6 koloni berusia 16 sampai
24 jam dipilih dari media agar dan dibuat suspensi dengan NaCl 0,85% untuk mendapatkan
suspensi yang keruh. Kemudian kekeruhan dibandingkan dengan suspensi standar Mc
Farland, pada latar belakang hitam. Standar Mc Farland dibuat dengan mencampur asam
sulfat 1% dan barium klorida 1,175% untuk mendapatkan kekeruhan standar. Standar
kekeruhan 0,5 Mc Farland telah tersedia secara komersial, yang memiliki kekeruhan
sebanding dengan 1,5 x 108 colony forming unit (CFU)/ml.

Memilih antimikroba untuk uji kepekaan

Pemilihan antimikroba dilakukan oleh staf medis terutama dokter spesialis penyakit infeksi
dan bila perlu disertai ahli farmasi. Pemilihan berdasarkan kelompok bakteri, hasil
identifikasi bakteri (karena ada beberapa antimikroba spesifik hanya untuk bakteri tertentu,
misalnya ceftadizime spesifik untuk Pseudomonas aeruginosa), spektrum antimikroba dan
tempat asal infeksi (misalnya untuk infeksi saluran urinaria dipilih nitofurantoin). Deretan
antimikroba secara umum didasarkan pada kelompok organisme ,secara umum dibagi
menjadi:

1. Enterobacteriaceae
2. Pseudomonas aeruginosa dan Acinetobacter spp
3. Staphylococcus spp
4. Enterococcus spp
5. Streptococcus spp (kecuali S. pneumoniae)
6. Streptococcus pneumonia
7. Haemophilus influenza
8. Neisseria gonorrhoeae
A. Metode konvensional
1. Metode dilusi
Metode dilusi terdiri dari dua teknik pengerjaan yaitu teknik dilusi perbenihan cair
dan teknik dilusi agar. Yang bertujuan untuk penentuan aktifitas antimikroba
secara kuantitatif, antimikroba dilarutkan kedalam media agar atau kaldu, yang
kemudian ditanami bakteri yang akan dites. Setelah diinkubasi semalam,
konsentrasi terendah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri di sebut
dengan MIC (minimal inhibitory concentration). Nilai MIC dapat pula
dibandingkan dengan konsentrasi obat yang didapat di serum dan cairan tubuh
lainnya untuk mendapatkan perkiraan respon klinik.
a. Dilusi perbenihan cair
Dilusi perbenihan cair terdiri dari makrodilusi dan mikrodilusi. Pada
prinsipnya pengerjaannya sama hanya berbeda dalam volume. Untuk
makrodilusi volume yang digunakan lebih dari 1 ml, sedangkan mikrodilusi
volume yang digunakan 0,05 ml sampai 0,1 ml. Antimikroba yang digunakan
disediakan pada berbagai macam pengenceran biasanya dalam satuan µg/ml,
konsentrasi bervariasi tergantung jenis dan sifat antibiotik. (misalnya
cefotaxime untuk uji kepekaan terhadap Streptococcus pneumonia,
pengenceran tidak melebihi 2 μg/ml, sedangkan untuk Escherichia coli
pengenceran dilakukan pada 16 µg/ml atau lebih).
Secara umum untuk penentuan MIC pengenceran antimikroba dilakukan
penurunan konsentrasi setengahnya misalnya mulai dari 16, 8, 4, 2, 1, 0,5,
0,25 µg/ml) konsentrasi terendah yang menunjukkan hambatan pertumbuhan
dengan jelas baik dilihat secara visual atau alat semiotomats dan otomatis,
disebut dengan konsentrasi daya hambat minimum/ MIC (minimal inhibitory
concentration).Kondisi untuk uji kepekaan teknik perbenihan cair terdapat
pada lampiran 1.
b. Dilusi agar
Pada teknik dilusi agar, antibiotik sesuai dengan pengenceran akan
ditambahkan kedalam agar, sehingga akan memerlukan perbenihan agar sesuai
jumlah pengeceran ditambah satu perbenihan agar untuk kontrol tanpa
penambahan antibiotik , konsentrasi terendah antibiotik yang mampu
menghambat pertumbuhan bakteri merupakan MIC antibiotik yang di uji.
Kondisi untuk uji kepekaan teknik agar dilusi terdapat pada lampiran 2. Salah
satu kelebihan metode agar dilusi untuk penentuan MIC Neisseria
gonorrhoeae yang tidak dapat tumbuh pada teknik dilusi perbenihan cair.

Keuntungan dan kerugian metode dilusi:


Dengan teknik dilusi memungkinkan penentuan kualitatif dan kuantitatif
dilakukan bersama-sama.MIC dapat membantu dalam penentuan tingkat
resistensi dan dapat menjadi petunjuk penggunaan antimikroba .Kerugiannya
metode ini tidak efisien karena pengerjaannya yang rumit, memerlukan
banyak alat-alat dan bahan serta memerlukan ketelitian dalam proses
pengerjaannya termasuk persiapan konsentrasi antimikroba yang bervariasi

2. Metode difusi.
Cakram kertas, yang telah dibubuhkan sejumlah tertentu antimikroba,
ditempatkan pada media yang telah ditanami organism yang akan di uji secara
merata. Tingginya konsentrasi dari antimikroba ditentukan oleh difusi dari
cakram dan pertumbuhan organism uji dihambat penyebarannya sepanjang difusi
antimikroba (terbenuk zona jernih disekitar cakram), sehingga bakteri tersebut
merupakan bakteri yang sensitif terhadap antimikroba. Ada hubungan persamaan
yang hampir linear (berbanding lurus) antara log MIC, seperti yang diukur oleh
metode dilusi dan diameter zona daya hambat pada metode difusi.

Uji kepekaan Metode agar difusi Kirby-Bauer


Bahan yang diperlukan :
 Agar Muller Hinton
 Cakram antibiotic
 Inokulum Standar Mc farland 0,5

Cara kerja:

1. Disiapkan agar Muller Hinton kondisikan pada suhu ruangan dan permukaan
agar kering
2. Persiapkan inokulum 0,5 Mc Farland (dibuat baru dari 4-6 koloni dalam 2 ml
NaCl fisiologis, digunakan tidak lebih dari 15 menit dan supaya homogen bisa
dibantu dengan vortex
3. Penanaman pada agar Muller Hinton. Celupkan swab steril ke dalam inokulum
bakteri , angkat swab kemudian di atas permukaan suspensi inokulum pada
sisi tabung putar swab dengan sedikit ditekan agar tidak berlebih
4. Goreskan swab pada agar Muller Hinton dengan memutar agar sekitar 60
derajat 2 sampai 3 kali untuk memastikan seluruh permukaan agar tergores
5. Putarkan swab pada pinggiran agar untuk mengambil kelebihan suspensi
bakteri pada sekeliling cawan petri
6. Tempatkan cakram antibiotik pada permukaan agar yang telah ditanami
bakteri dengan memperhatikan jarak penyimpanan cakram. Dapat dilakukan
menggunakan pinset steril atau disk feeder

Keuntungan dan kerugian metode difusi:

Metode ini sangat mudah dilakukan karena tidak rumit dalam penegrjaannya dan
efisien karena dalm satu perbenihan agar dapat menguju maksimal 12 macam
antimikroba.Tidak membutuhkan alat dan bahan yang banyak seangkan
kerugiannya tidak dapat diketahui secara tepat tingkat resistensi atau kepekaan
bakteri terhadap antimikroba

3. E-test
Metode yang digunakan selain metode Kirby-Bauer dalam uji kepekaan adalah E-
test (Epsilometer test) yang juga berdasarkan prinsip difusi. E-test digunakan
untuk pemeriksaan mikrobiologis untuk kepekaan bakteri dan jamur. Etest
menggunakan strip persegipanjang yang telah mengandung antibiotik. Bakteri
ditanam pada perbenihan agar kemudian diletakkan strip Etest pada permukaan
agar, setelah antibiotik berdifusi ke dalam agar akan terbentuk zona hambat pada
konsentrasi antibiotik yang bertingkat terdapat pada strip Etest. Setelah 24 jam
inkubasi akan tampak zona hambat yang berbentuk elips, ketika sampai pada garis
zona yang telah melekat pada strip (tidak ada zona hambat lagi) pada konsentrasi
tersebut merupakan pembacaan hasil MIC

B. Uji kepekaan Metode komersial


Pada dasarnya metode komersial merupakan penggabungan metode konvensial dilusi
dan difusi dan keakuratan metode komersial ini dievaluasi dengan cara
membandingkan dengan metode konvensional. Media perbenihan , kondisi
lingkungan disesuaikan dengan standar metode konvensional dan ujuan dari metode
tetap sama seperti metode konvensional, hanya pengerjaan dan cara penggunaan
alatnya yang lebih praktis, dimana pencapaian tujuan bervariasi tergantung kepada:
 Susunan bakteri dan komposisi antimikroba yang digunakan
 Tingkat otomatisasi dalam penanaman, inkubasi, interpretasi dan pelaporan
 Metode yang digunakan untuk mengukur hambatan pertumbuhan bakteri
 Kecepatan memperoleh hasil
 Akurasi

Jenis-jenis Metode komersial :

1. Metode mikrodilusi perbenihan cair (broth microdilution methods)


Secara umum metode ini didesain untuk menrima inokulum dan diinkubasi pada
kondisi sesuai petunjuk penggunaan, biasanya untuk pembacaannya memerlukan
alat semiotomatis.
2. Agar dilusi derivatif (agar dilution derivations)
Pada metode ini telah disediakan perbenihan agar yang telah mengandung
antimikroba melingkar, dimulai dari tengah-tengah /pusat lingkaran perbenihan
agar dengan konsentrasi tertinggi, terus melingkar ke arah tepi dengan konsentrasi
semakin menurun. Penanaman bakteri dimulai dari tepi perbenihan dengan satu
goresan tegak lurus. Difusi antibiotik akan tampak zona hambat dari konsentrasi
tinggi (pusat lingkaran) ke rendah (tepi)
3. Difusi pada agar derivatif (diffusion in agar derivations)
Pada metode ini digunakan perbenihan Muller Hinton yang diletakkan di atasnya
strip antibiotik secara melingkar
4. System pengujian otomatis (automated antimicrobial susceptibility test system)
Contoh metode pengujian otomatis ini adalah Vitek legacy system dan vitek 2
system. Metode ini dalam persiapan inokulum dan penanamam bakteri dilakukan
secara otomatis, cara pembacaan dan interpretasi kategori menggunakan system
algoritma
5. Metode pengujian alternative dan suplemen. Metode pengujian yang bertujuan
untuk mengetahui mekanisme resistensi
6. Metode yang langsung mendeteksi mekanisme resistensi spesifik
Metode dengan pengukuran antimikroba berdasarkan keberadaan mekanisme
khusus, misalnya berdasarkan metode fenotip, deteksi asetiltransferase
kloramfenikol.
7. Metode khusus untuk mendeteksi kompleks interaksi antimikroba-organisme
8. Tes kombinasi aktifitas antimikroba
Spiral Gradient Endpoint Test (SGE), merupakan uji kepekaan pada satu agar
terdiri dari 15 suspensi mikroba dapat digoreskan swab dengan arah memutar
melalui beberapa konsentrasi. Software dibutuhkan untuk menghitung konsentrasi
yang sebenarnya dari setiap mikroba yang tumbuh yang menghambat
pertumbuhan. Teknik ini digunakan untuk menghilangkan keterbatasan metode
konvensional dimana setiap media agar hanya satu konsentrasi, menghemat waktu
dan bahan karena satu plate SGE sama dengan 8 plate pada metode konvensional

PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK BERDASARKAN DAYA KERJA


Berdasarkan daya kerjanya, antibiotik dibagi menjadi :
Bakterisid :
Antibiotika yang bakterisid secara aktif membasmi kuman, dengan kata lain antibiotik ini
dapat membunuh bakteri. Termasuk dalam golongan ini adalah penisilin, sefalosporin,
aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol , polipeptida, rifampisin, isoniazid dll.
Bakteriostatik :
Antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah atau menghambat pertumbuhan atau
perkembangbiakan bakteri, tidak membunuhnya, sehingga pembasmian bakteri sangat
tergantung pada daya tahan tubuh. Termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida,
tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, makrolida, klindamisin, asam
paraaminosalisilat, dll. Antibiotik tertentu (misalnya INH dan eritromisin) aktivitasnya dapat
meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya ditingkatkan
melebihi kadar hambat minimal (KHM) (Ganiswarna, 1995).
Manfaat dari pembagian ini dalam pemilihan antibiotika mungkin hanya terbatas, yakni
pada kasus pembawa kuman (carrier), pada pasien-pasien dengan kondisi yang sangat lemah
(debilitated) atau pada kasus-kasus dengan depresi imunologik tidak boleh memakai
antibiotika bakteriostatik, tetapi harus bakterisid.
PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK BERDASARKAN SPEKTRUM KERJA
Spektrum luas (aktivitas luas) :
Antibiotik yang bersifat aktif bekerja terhadap banyak jenis mikroba yaitu bakteri gram
positif dan gram negative. Contoh antibiotik dalam kelompok ini adalah sulfonamid,
ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol, tetrasiklin, dan rifampisin.
Spektrum sempit (aktivitas sempit) :
Antibiotik yang bersifat aktif bekerja hanya terhadap beberapa jenis mikroba saja, bakteri
gram positif atau gram negative saja. Contohnya eritromisin, klindamisin, kanamisin, hanya
bekerja terhadap mikroba gram-positif. Sedang streptomisin, gentamisin, hanya bekerja
terhadap kuman gram-negatif.

Standar Turbiditas McFarland


Standard McFarland merupakan suatu bentuk skala yang memiliki ukuran dari nomor
satu hingga sepuluh, skala ini menunjukkan konsentrasi bakteri per mili liter. Standard ini
dibuat untuk memperkirakan konsentrasi bakteri Gram negatif (Whitman and MacNair,
2004). Menurut Haris dkk. (2013) standard McFarland adalah penyetaraan konsentrasi
mikroba dengan menggunakan larutan BaCl21% dan H2SO4 1%. Standar kekeruhan
McFarland ini dimaksudkan untuk menggantikan perhitungan bakteri satu per satu dan untuk
memperkirakan kepadatan sel yang akan digunakan pada prosedur pengujian antimikroba.

Standard McFarland dapat digunakan untuk menentukanperkiraan konsentrasi sel


pada suspensi atau larutan. Hasil perkiraan konsentrasinya dalam satuan CFU/mL, dan
standar ini digunakan untuk mengukur konsentrasi bakteri Gram negatif seperti E. coli.
Tetapi penggunaannya menjadi kurang akurat bila digunakan pada jenis bakteri lain yang
berbeda ukuran dan berat, demikian juga bila digunakan pada jamur dan ragi. Perlu dilakukan
kalibrasi dan validasi lagi agar diperoleh hasil yang benar (Sutton, 2011).

Pada umumnya standard McFarland ditempatkan pada tabung dengan label nomor 1
hingga 10 yang diisi dengan larutan garam Barium. Setiap tabung diperkirakan kepadatan
bakteri dengan membandingkan nomor skala McFarland. Jadi, tabung nomor 7 menunjukkan
kepadatan bakteri pada konsentrasi 2,1 x 109/ml. Untuk menunjukkan perkiraan populasi
bakteri, kepadatannya dapat dibandingkan secara visual menggunakan standard McFarland.
Jika kepadatannya antara skala nomor tujuh dan delapan, maka kepadatan bakteri per mililiter
antara 2,1 dan 2,4 milyar/ml. (Whitman and MacNair, 2004).

Keuntungan dari penggunaan standar McFarland adalah tidak dibutuhkannya waktu


inkubasi yang cukup untuk memperoleh jumlah kepadatan bakteri yang diinginkan.
Sedangkan kerugiannya, akan terjadi perbedaan pandangan untuk menilai tingkat kekeruhan
dari sel bakteri (Sutton, 2011).
Gambar 1. Standar McFarland berlabel skala 1–10

Standar McFarland secara umum berlabel 0,5–10 danberisilarutangaram Barium. Standar


McFarland dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi sel dalam suatu suspensi secara
visual. Skala McFarland di disain untuk memperkirakan konsentrasi bakteri Gram negatif
seperti E.coli. Kekurangan dari standar McFarland yaitu hasil perkiraan menjadi tidak akurat
dengan adanya organisme lain seperti khamir dan kapang.

Tabel 1. Jumlah bakteri dalam Skala McFarland

SkalaMcFarland Bakteri(x106/ml)
0,5 <300
1 300
2 600
3 900
4 1,200
5 1,500
6 1,800
7 2,100
8 2,400
9 2,700
10 3,000

Berikut ini cara membuat larutan standar Mac Farland dengan menggunakan standar Barium
Sulfat:

1. Buat larutan 1.175% (b/v) Barium klorida (BaCl2)


2. Buat larutan 1% (b/v) Asam sulfat (H2SO4)
3. Campurkan kedua larutan ini berdasarkan rasio, dengan pemberian H2SO4 terlebih
dahulu
4. Tutup tabung dengan rapat dan simpan pada suhu ruang di tempat gelap.

Larutan ini akan stabil paling tidak untuk 6 bulan. Penggunaannya yaitu kocok tabung
beberapa kali atau menggunakan vortex untuk mensuspensi ulang endapan barium sulfat.
Perbandingan terbaik antara bakteri dan standar Mac Farland dilakukan menggunakan kertas
dengan latar belakang garis horizontal hitam putih
Tabel 2.Standar McFarland

Standar McFarland
No. Komposisi Bahan
0.5 0,05 ml BaCl2 dalam 9,95 ml H2SO4
1 0,1 ml BaCl2 dalam 9,9 ml H2SO4
2 0,2 ml BaCl2 dalam 9,8 ml H2SO4
3 0,3 ml BaCl2 dalam 9,7 ml H2SO4
4 0,4 ml BaCl2 dalam 9,6 ml H2SO4
5 0,5 ml BaCl2 dalam 9,5 ml H2SO4
6 0,6 ml BaCl2 dalam 9,4 ml H2SO4
7 0,7 ml BaCl2 dalam 9,3 ml H2SO4
8 0,8 ml BaCl2 dalam 9,2 ml H2SO4
9 0,9 ml BaCl2 dalam 9,1 ml H2SO4
10 1,0 ml BaCl2 dalam 9,0 ml H2SO4

C. Alat dan bahan:

- 1% BaCl2 - Aquades
- 1% H2SO4 - Raktabung
- Bunsen - Jarumose
- 12 Tabungreaksi - Pipetukur
- Larutan PBS - Sentrifuge
- Media kulturcair - Isolat

D. Prosedur Kerja :

a. Pembuatan standar McFarland

1. Disiapkan 11 tabung reaksi pada rak tabung dan dilabeli sesuai dengan skala
McFarland (lihat pada Tabel 1.).
2. Setiap tabung diisi dengan menggunakan larutan 1% BaCl2dan 1% H2SO4 sesuai
standar McFarland (lihat pada Tabel 2.).

b. Pembuatan Kultur Bakteri

1. Disiapkan satu tabung yang berisi 10 ml media kultur cair.


2. Bahan isolate diambil menggunakan jarum ose, kemudian ditanam pada media dan
diinkubasi selama 24 jam.
3. Disentrifuge pada kecepatan 1500 rpm selama 3 menit. Super natan dibuang.
4. Endapan ditambah dengan larutan PBS sampai volumenya sama dengan volume awal
sebelum supernatant dibuang.
c. Pengamatan

Pengamatan dilakukan dengan membandingkan antara turbiditas kultur bakteri dengan


standard McFarland 0,5-10. Pilihlah standar McFarland mana yang memiliki turbiditas sama
dengan turbiditas bakteri dan lihat hasilnya pada table skala McFarland. Misalnya, apa bila
turbiditas bakteri sama dengan standard McFarland no. 2, artinya kepadatan bakteri tersebut
600 x 106/ml.