Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

ORGANISASI-ORAGANISASI ISLAM DI INDONESIA

Ditujukan untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah Kemathlaulanwaran

Disusun Oleh :

NIM : E11170019

NAMA : Abdul Latif

PORGRAM STUDI SISTEM INFORMASI


FAKULTAS INFORMATIKA DAN KOMPUTER
UNIVERSITAS MATHLA’ULANWAR BANTEN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah
ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya
miliki sangat kurang.Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah
ini.

Pandeglang, 26 Desember 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... ii

DAFTAR ISI ............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................... 2

2.1 Pengertian Organisasi Islam (ORMAS) ........................................... 2

2.2 Beberapa Contoh Ormas, Sejarah dan Ajarannya ............................. 3

2.2.1 Nahdlatul Ulama (NU) .............................................................. 3

2.2.2 Muhammadiyah (MD) .............................................................. 5

2.2.3 Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) ................................ 5

2.2.4 Salafi ........................................................................................ 5

BAB III PENUTUP ................................................................................................... 7

3.1 Kesimpulan ..................................................................................... 7

3.2 Saran .............................................................................................. 7

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 8

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sejak 1980-an, perkembangan Islam di Indonesia ditandai oleh munculnya fenomena


menguatnya religiusitas umat islam. Fenomena yang sering ditengarai sebagai
Kebangkitan Islam (Islamic Revivalism) ini muncul dalam bentuk meningkatnya kegiatan
peribadatan, menjamurnya pengajian, merebaknya busana yang islami, serta munculnya
partai-partai yang memakai platform islam. Fenomena mutakhir yang mengisyaratkan
menguatnya kecenderungan ini adalah tuntutan formalisasi Syariat Islam.

Selain fenomena diatas, setelah Reformasi, kebangkitan islam ini juga ditandai oleh
munculnya aktor gerakan islam baru. Aktor baru ini berbeda dengan aktor gerakan islam
yang lama, seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Al-Washliyah, Jamaat Khair
dan sebagainya. Gerakan mereka berada diluar kerangkamainstream proses politik,
maupun wacana dalam gerakan islam dominan. Fenomena munculnya aktor baru ini sering
disebut “Gerakan Islam Baru” (New Islamic Movement).

Organisasi-organisasi baru ini memiliki basis ideologi, pemikiran, dan strategi gerakan
yang berbeda dengan ormas-ormas islam yang ada sebelumnya. Mereka ditengarai
berhaluan puritan, memiliki karakter yang lebih militant, radikal, skripturalis, konservatif,
dan eksklusif. Berbagai ormas baru tersebut memang memiliki platform yang beragam,
tetapi pada umumnya memiliki kesamaan visi, yakni pembentukan “Negara islam” (daulah
islamiyah) dan mewujudkan penerapan syariat islam, baik dalam wilayah masyarakat,
maupun negara.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam makalah ini masalah yang akan dikaji adalah sebagai berikut:

1. Apakah ORMAS itu ?


2. Apa saja contoh Ormas di Indonesia ? dan Bagaimana sejarah dan ajaran-ajaran
didalamnya ?
3. Bagaimana peran Ormas dalam Islam ? dan Bagaimana sikap umat islam terhadap
munculnya Ormas ?

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Organisasi Islam (ORMAS)

Organisasi massa atau disingkat ormas adalah suatu istilah yang digunakan di Indonesia
untuk bentuk organisasi berbasis massa yang tidak bertujuan politis. Bentuk organisasi ini
digunakan sebagai lawan dari istilah partai politik. Ormas dapat dibentuk berdasarkan
beberapa kesamaan atau tujuan, misalnya: agama, pendidikan,sosial. Maka ormas Islam
dapat kita artikan sebagai organisasi berbasis massa yang disatukan oleh tujuan untuk
memperjuangkan tegaknya agama Islam sesuai al-qur’an dan as-sunnah serta memajukan
umat Islam dalam bidang agama, pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya (Sumber:
www.blog.umy.ac.id)

2.2 Beberapa Contoh Ormas, Sejarah dan Ajarannya

Berikut ini merupakan contoh-contoh Ormas Islam yang eksis di Indonesia sebagai
gambaran adanya gerak ormas di kalangan umat Islam dalam melakukan dakwahnya.

2.2.1 Nahdlatul Ulama (NU)

2.2.1.1 Latar Belakang Lahirnya Nahdlatul Ulama (NU)

Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat


NU, adalah sebuah organisasi Islam besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31
Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan,sosial, dan ekonomi. Sebab jauh sebelum
NU lahir dalam bentuk jam’iyyah(organisasi), ia terlebih dahulu mewujud dalam bentuk
jama’ah (community) yang terikat kuat oleh aktivitas sosial keagamaan yang mempunyai
karakter tersendiri (Ridwan, 2004: hal.169).

Dalam Anggaran Dasar hasil Muktamarnya yang ketiga pada tahun 1928 M, secara tegas
dinyatakan bahwa kehadiran NU bertujuan membentengi artikulasi fiqh empat madzhab di
tanah air. Sebagaimana tercantum pada pasal 2 Qanun Asasi li Jam’iyat Nahdhatul al-
Ulama (Anggaran Dasar NU), yaitu :

a. Memegang teguh pada salah satu dari madzhab empat (yaitu madzhabnya Imam
Muhammad bin Idris Al-Syafi’I, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah an-Nu’man,
dan Imam Ahmad bin Hanbal);

b. Menyelenggarakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agama Islam.

2
2.2.2.1 Manhaj Fikrah Nahdliyah (Metode berpikir ke-NU-an)

Dalam merespon persoalan, baik yang berkenaan dengan persoalan keagamaan maupun
kemasyarakatan, Nahdlatul Ulama memiliki manhaj Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah sebagai
berikut :

1. Dalam bidang Aqidah/teologi, Nahdlatul Ulama mengikuti Manhaj dan pemikiran


Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi.

2. Dalam bidang Fiqih/Hukum Islam, Nahdlatul Ulama bermadzhab secara qauli dan
manhaji kepada salah satu al-Madzahib al-‘Arba’ah (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali)

3. Dalam Bidang Tasawuf, Nahdlatul Ulama mengikuti Imam al-Junaid al-Baghdadi


(w.297H) dan Abu Hamid al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M). (Tim Aswaja NU Center
PWNU Jawa Timur, 2012: 161-169).

2.2.2 Muhammadiyah (MD)

2.2.2.1 Berdirinya Muhammadiyah (MD)

Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi Islam modern yang berdiri di Yogyakarta


pada 18 November 1912. Organisasi ini terbentuk karena masyarakat islam yang
berpandangan maju menginginkan terbentuknya sebuah organisasi yang menampung
aspirasi mereka dan menjadi sarana bagi kemajuan umat islam. Keberadaan tokoh-tokoh
Islam yang berpandangan maju tersebut terbentuk karena pendidikan serta pergaulan
dengan kalangan Islam di seluruh dunia melalui ibadah haji. Salah seorang tokoh tersebut
ialah KH. Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan organisasi ini.

Muhammadiyah didirikan atas dasar agama dan bertujuan untuk melepaskan agama Islam
dari adat kebiasaan yang jelek yang tidak berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasul (Nana
Supriatna, Jil.2, 2008: 171-172).

2.2.2.2 Macam Paham Muhammadiyah

Hal-hal yang berkaitan dengan paham agama dalam Muhammadiyah secara garis besar
dan pokok-pokoknya ialah sebagai berikut:

a) ‘Aqidah; untuk menegakkan aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala
kemusyrikan, bid’ah dan khurafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran
Islam;

b) Akhlaq; untuk menegakkan nilai-nilai akhlaq mulia dengan berpedoman kepada


ajaran-ajaran Alquran dan Sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan
manusia;

3
c) ‘Ibadah; untuk menegakkan ‘ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah S.A.W.
tanpa tambahan dan perubahan dari manusia;

d) Mu’amalah dunyawiyat; untuk terlaksananya mu’amalah dunyawiyat (pengolahan


dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadikan
semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ‘ibadah kepada Allah SWT. (MKCH, butir ke-4).
(Sumber:www.blog.umy.ac.id).

2.2.3 Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)

2.2.3.1 Awal Mula Berdirinya LDII

Penggagas dan penghimpun tertinggi pertama LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia)
adalah Al-Imam NurHasan Ubaidah Lubis Amir (nama kebesaran dalam jama’ahnya).
Nama kecilnya ialah Madekal/Madigol atau Muhammad Madigol, keturunan asli pribumi
Jawa Timur.

Faham yang dianut oleh LDII telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada
tahun 1971. Setelah aliran tersebut dilarang, kemudian berganti nama dengan Lembaga
Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972. Lalu pada tahun 1981 berganti nama
dengan Lembaga Karyawan Dakwah Islam yang juga di singkat dengan LEMKARI.

Kemudian LEMKARI berganti nama lagi sesuai keputusan kongres/muktamar tahun 1990
dengan nama Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Perubahan nama tersebut dengan
maksud menghilangkan citra lama LEMKARI yang tidak baik dimata masyarakat. (M.
Amin Djamaluddin, 2008: 1-2).

2.2.3.2 Ajaran-Ajaran LDII

Sebagian ajaran-ajaran dan konsepsi LDII :

1. Kalau disuatu wilayah (negara) minimal ada 3 orang dan salah satunya tidak mau
mengangkat imam, maka dikatakan bahwa hidupnya tidak halal (nafasnya haram,
shalatnya haram, hajinya haram, dan bahkan jima’nya haram), dan kemudian statusnya
disamakan dengan orang-orang kafir.

2. Dikatakan bahwa presiden bukanlah seorang imam, karena presiden hanya


mengurusi masalah dunia saja, tidak pernah mengajak rakyatnya, meramut rakyatnya
untuk mengaji Al-Qur’an dan al-Hadits yang hal itu berbeda dengan imam-imam mereka.

3. Mengharamkan taqlid dalam fiqh.

4. Mengharamkan budaya-budaya seperti yasinan, tahlilan, maulid Nabi Muhammad


dan lain-lain.

4
5. Mereka hanya mau mendengar pengajian isi kandungan/arti Al-Qur’an dan Al-Hadits
hanya dari orang-orang yang mengaji dengan guru/imam mereka. Bagi mereka arti yang
disampaikan oleh imamnya adalah bak wahyu yang tidak boleh dibantah. Keluar dari
pemahaman yang diartikan oleh imamnya adalah sesat (Nur Hidayat Muhammad, 2012:
hal. 15).

2.2.4 Salafi

2.2.4.1 Mengenal Salafi

Kata Salafi adalah sebuah bentuk penisbatan kepada as-salaf. Kata as-salaf sendiri secara
bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita.

Adapun makna teminologis As-Salaf adalah generasi yang dibatasi oleh sebuah penjelasan
Rasulullah SAW. Dalam haditsnya, “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku,
kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi’at-
tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelompok yang sekarang mengaku-aku sebagai Salafi ini, dahulu dikenal dengan nama
Wahabi. Tidak ada perbedaan antara Salafi yang ini dengan Wahabi. Mereka lebih tepat
jika disebut Salafi Wahabi, yakni pengikut Muhammad ibnu Abdul Wahab yang lahir di
Uyainah, Najd, Saudi Arabia tahun 1115 H (1703 M) dan wafat tahun 1206 H (1792 M).
Pendiri Wahabi ini sangat mengagumi Ibnu Taimiyah, seorang ulama kontroversial yang
hidup di abad ke-8 H dan banyak mempengaruhi cara berpikirnya (Syaikh Idahram,
2011:23-28).

2.2.4.2 Ajaran-Ajaran Salafi

1. Mengkafirkan sufi seperti Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in, Ibnu Faridh, Abu Yazid al-
Busthami, Ma’ruf al-Karkhi dan lain-lain.

2. Mengkafirkan dan menganggap sesat pengikut madzab Asy’ariyah dan


Maturidiyyah.

3. Sebagian dari mereka ada yang anti qiyas.

4. Menolak segala bentuk bid’ah meskipun yang kategori baik (hasanah), karena
menurut mereka, semua bid’ah adalah sesat.

5. Menolak sholat qabliyah jum’at, yang menurut mereka tidak ada dalil dan hadistnya.

6. Mereka menilai acara yasinan dan tahlilan adalah ritual bid’ah.

7. Mereka juga ada yang menolak ziarah kubur,

5
8. Mereka menolak qunut subuh, dengan alas an hadist tentang qunut adalah dhaif
semua.

9. Mereka memvonis syirik akbar terhadap pengamal tawassul dengan lewat manusia
(Nur Hidayat Muhammad, 2012: 24-27).

6
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hampir semua ormas Islam yang muncul di dunia Islam dilatarbelakangi oleh faktor
kebutuhan yang mendesak dalam bidang keagamaan. Di antaranya adalah adanya
penyimpangan yang dilakukan oleh umat Islam sendiri dari agama yang lurus (Islam)
maupun serangan dari pihak luar yang berusaha mencemari pemikiran umat Islam dengan
akidah-akidah sesat serta budaya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.
Keterbelakangan umat Islam inilah yang mendorong para tokoh Muslim membentuk
organisasi untuk menghimpun kekuatan demi mengembalikan umat Islam ke jalan yang
lurus sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah.

3.2 Saran

Sikap merasa diri paling berhak dalam menafsirkan Al-Qur’an atau hadits semaunya,
merasa dialah yang paling benar dan yang lain salah, menganggap pemahaman umat Islam
tentang agama selama ini keliru, pandangan bahwa kebenaran itu milik Allah dan hanya
Dia yang berhak memvonis sesat, sampai kepada faham bahwa Allah tidak menilai ibadah
seseorang melainkan hatinya sehingga cenderung meremehkan agama dan sekuler, dan
lain sebagainya, semua dalih itu telah menyebabkan perbedaan pendapat yang memicu
perpecahan di kalangan umat Islam.

Satu yang perlu diketahui bahwa, suatu faham yang tidak difatwakan sebagai aliran sesat,
tidak selalu berarti faham itu lurus dan benar. Sebab apa yang hakikatnya lurus dan benar
seyogianya tidak memunculkan masalah dalam praktiknya.

7
DAFTAR PUSTAKA

Djamaluddin, M. Amin. Kupas Tuntas Kesesatan & Kebohongan LDII. Jakarta: Gema
Insani, 2008.

Idahram, Syaikh. Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi – Mereka Membunuh Semuanya,
Termasuk Para Ulama. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2011.

Majelis Diktilitbang dan LPI PP Muhammadiyah. 1 Abad Muhammadiyah – Gagasan


Pembaruan Sosial Keagamaan. Jakarta: Buku Kompas, 2010.

Muhammad, Nur Hidayat. Benteng Ahlussunah wal Jama’ah – Menolak Faham Salafi,
Wahabi, MTA, Hizbut Tahrir dan LDII. Kediri: Nasyrul `ILMI Publishing, 2012.

Navis, KH. Abdurrahman, Muhammad Idrus Ramli, Faris Khoirul Anam. Risalah
Ahlussunnah Wal-Jama’ah – dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan
Akidah-Amaliah NU. Surabaya: Khalista, 2012.

“Ormas Dalam Islam.” www.blog.umy.ac.id (akses 16 Maret 2013)

“Paham Muhammadiyah.” www.blog.umy.ac.id (akses 16 Maret 2013)

Rahmat, M. Imdadun. Arus Baru Islam Radikal – Transmisi Revivalisme Islam Timur
Tengah ke Indonesia. Jakarta: Erlangga, 2007.

Ramli, Muhammad Idrus. Pengantar Sejarah Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Surabaya: