Anda di halaman 1dari 37

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Tinjauan Umum tentang Persalinan

a. Pengertian Persalinan

1) Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks

dan janin turun kedalam jalan lahir. Persalinan dan kelahiran

normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada

kehamilan yang cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan

dengan presentasi belakang kepala tanpa komplikasi baik ibu

maupun janin.12

2) Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput

ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan normal adalah

persalinan yang terjadi pada usia kehamilan cukup bulan

(>37 minggu) tanpa adanya penyulit.13

3) Persalinan adalah asuhan yang bersih dan aman selama

persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan

komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan,

hipotermia, dan asfiksia bayi baru lahir.14

4) Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks

dan janin turun ke dalam jalan lahirdan kemudian berakhir

13
dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hamper

cukup bulan atau dapat hidup di luar kandugan di susul

dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh

ibu melalui jalan lahir dengan kekuatan ibu sendiri.15

5) Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput

ketuban keluar dari uterus ibu. Prosesnya dianggap normal

jika prosesnya terjadi di usia kehamilan cukup bulan (37

minggu) tanpa adanya penyulit.16

b. Sebab-Sebab Terjadinya Persalinan

Teori kompleks yang menyebabkan terjadinya persalinan:

1) Teori Penurunan Kadar Hormon Progesteron

Hormon progesteron merupakan hormon yang

mengakibatkan relaksasi pada otot-otot rahim, sedangkan

hormone esterogen meningkatkan kerentanan otot rahim.

Selama kehamilan, terdapaat keseimbangan pada

progesteron dan esterogen didalam rahim. Progesterone

menghambat kontraksi selama kehamilan sehingga

mencegah ekspulsi fetus. Sebaliknya esterogen mempunyai

kecenderungan meningkatkan derajat kontraktilitas uterus.

Baik progesteron maupun esterogen disekresikan dalam

jumlah yang secara progresif makin bertambah selama

kehamilan. Namun saat kehamilan mulai masuk usia 7 bulan

14
dan seterusnya, sekresi esterogen terus meningkat,

sedangkan sekresi progesteron tetap konstan atau sedikit

menuruun sehingga terjadi kontraksi brakton hiks saat akhir

kehamilan yang selnjutnya bertindak sebabai kontraksi

persalinan.

2) Teori Oksitosin

Menjelang persalinan terjadi peningkatan reseptor

oksitosin dalam otot rahim sehingga mudah terangsang saat

disuntikkan oksitosin dan menimbulkan kontrasi, di duga

bahwa oksitosin dapat menimbulkan pembentukan

prostaglandin dan persalinan dapat berlangsung.

3) Teori Prostaglandin

Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua menjadi

salah satu sebab permulaan persalinan. Hal ini juga disokong

dengan adanya kadar prostaglandin yang tinggi, baik dalam

air ketuban maupun darah perifer ibu hamil sebelum

melahirkan atau selama persalinan.

4) Teori Plasenta Menjadi Tua

Plasenta yang menjadi tua seiring bertambahnya usia

kehamilan menyebabkan kadar esterogen dan progesteron

turun.hal ini juga menyebabkan kejang pada pembuluh darah

sehingga akan menimbulkan kontrkasi.

15
5) Distensi Rahim

Seperti halnya kandung kemih yang bila dindingnya

meregang karena isinya, demikian pila dengan rahim. Seiring

dengan bertambahnya umur kehamilan maka otot-otot rahim

akan semakin meregang. Rahim yang membesar dan

meregang menyebabkan iskemi otot-otot rahim sehingga

menganggu sirkulasi utero plasenter kemudian timbullah

kontrkasi.

6) Teori Iritasi Mekanik

Di belakang serviks terletak gangilon servikale (fleksus

franker hauser). Bila gangilon ini digeser dan ditekan,

misalnya oleh kepala janin maka akan timbul kontrasi.

7) Pengaruh Janin

Hipofisis dan kelenjar suprarenal janin juga memegang

peranan dalam terjadinya persalinan pada janin

anansepalus kehamilan lebih lama dari biasanya.15

c. Macam-Macam Persalinan

1) Persallinan Spontan

Bila persalinan ini berlangsung dengan kekuatan ibu

sendiri melalui jalan lahir.

16
2) Persalinan Buatan

Bila persalinan dibantu dengan tenaga dari luar

misalnya ekskresi dengan forceps/ vacum, atau dilakukan

operasi sectio caesarea.

3) Persalinan Anjuran

Pada umumnya persalinan terjadi bila bayi sudah

cukup besar untuk hidup di luar, tetapi tidak sedemikian

besarnya sehingga menimbulkan kesulitan dalam persalinan.

Persalinan kadang-kadang tidak mulai segera dengan

sendirinya tetapi baru bisa berlangsung dengan dilakukannya

amniotomi/ pemecahan ketuban atau dengan induksi

persalinan yaitu pemberian pitocin atau prostaglandin.15

d. Tanda-Tanda Mulainya Persalinan

1) Lightening

Menjelang minggu ke 36 pada primigravida terjadi penrunan

fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk ke dalam

panggul.

2) Terjadi His persalinan

a) Pinggang terasa sakit menjalar kedepan

b) Sifat his teratur, interval semakin pendek dan kekuatan

biasanya terjadi 2x10 menit selama 40-50 detik

c) Terjadi perubahan serviks

17
3) Pengeluaran lendir darah (penanda persalinan)

Dengan adanya serviks persalinan, terjadi perubahan pada

serviks yang menimbulkan:

a) Pembukaan menyebabkan selaput lendir yang terdapat

pada kanalis servikalis terlepas

b) Terjadi perdarahankarena kapiler pembuluh darah pecah

4) Pengeluaran cairan

Sebagian pasien mengeluarkan air ketuban akibat pecahnya

selaput ketuban. Jika ketuban sudah pecah, maka

ditargetkan persalinan dapat berlangsung dalam 24 jam.15

e. Faktor yang Mempengaruhi Persalinan

1) Faktor Passage (jalan lahir)

Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yaitu bagian tulang

padat, dasar pangul, vagina dan introitus vagina (lubang luar

vagina). Meskipun jaringan lunak, khususnya lapisan-lapisan

otot dasar panggul ikut menunjang keluarnya bayi tetapi

panggul ibu lebih berperan dalam proses persalinan.

2) Power (kekuatan ibu)

3) Faktor Passenger

a) Janin

b) Ketuban

c) Plasenta.16

18
4) Faktor Psikologi

Faktor psikologis meliputi hal-hal berikut ini:

a) Melibatkan psikologi ibu, emosi, dan persiapan

intelektual.

b) Pengalaman melahirkan bayi sebenarnya

c) Kebiasaan adat

d) Dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu

5) Posisi Meneran

Faktor yang harus di perhatikan dalam memilih posisi

adalah kenyamanan, keamanan, dan bantuan medis. Posisi

meneran dalam persalinan di antaranya sebagai berikut :

a) Posisi Miring

Posisi ini mengharuskan ibu miring ke kiri atau

miring ke kanan. Setelah satu kaki di angkat sedangkan

kaki lainnya lurus.posisi ini biasanya akrab disebut posisi

lateral, umumnya dilakukan bila posisi kepala bayi belum

tepat.

b) Posisi Jongkok

Posisi ini di kenal sebagai posisi bersalin yang alami.

19
c) Posisi Merangkak

Pada posisi ini, ibu merebahkan badan dengan

merangkak, kedua tangan menyangga tubuh, kedua kaki

di tekuk dan di buka.

d) Posisi Semi Duduk

Posisi ini merupakan posisi yang sering di terapkan

e) Posisi Duduk

Pada posisi ini, ibu duduk diatas bantal atau bersandar

pada tubuh suami.

f) Posisi Berdiri

Posisi ini, ibu disangga oleh suami di belakangnya.

g) Penolong

Peran penolong persalinan adalah mengantisipasi

dan menangani komplikasi yang memungkinkan terjadi

pada ibu dan janin, dalam hal ini tergantung dari

kemampuan dan kesiapan penolong dalam menghadapi

proses persalinan.17,

f. Tahap-Tahap Persalinan

Persalinan di bagi menjadi 4 tahap yaitu :

1) Kala I

Kala I disebut juga dengan kala pembukaan yang

berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaaan

20
lengkap. Pada permulaan His, kala pembukaan tidak begitu

kuat sehingga parturien masih dapat berjalan-jalan. Proses

pembukaan serviks sebagi akibat his dibaagi menjadi 2 fase

yaitu :

a) Fase Laten

Berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat

lambat sampai ukuran diameter 3 cm.

b) Fase aktif, dibagi menjadi 3 fase yaitu :

(1) Fase sekresi, dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm

tadi menjadi 4 cm.

(2) Fase dilatasi maksimal, dalam waktu 2 jam

pembukaan berlangsung sangat cepat, dari 4

menjadi 9 cm.

(3) Fase diselarasi, pembukaan menjadi lambat sekali.

Dalam waktu 2 jam pembukaan 9 menjadi

lengkap. Fase-fase tersebut dijumpai pada primi

gravida, pada multigravida pun terjadi demikian tetapi

fase laten, fase aktif,dan fase deselarasi terjadi lebih

pendek.

Mekanisme pembukaan serviks berbeda

diantara primi dan multigravida. Pada primi

21
ostiumuteri internum akan membuka lebih daahulu,

sehingga serviks akan mendatar dan menipis, dan

kemudian ostium uteri eksterna membuka.pada

primigravida ostium uteri interna sudah sedikit

membuka. Ostium uteri internum dan eksternum serta

penipisan dan mendatar serviks terjadi dalam saat

yang sama.

Kala I selesai apabila pembukaan serviks

telah lengkap pada primigravida kala I berlangsung

kira-kira 12 jam sedangkan pada multigravida kira-

kira 7 jam.

b) Kala II

Kala II di sebut juga dengan kala pengeluaran.gejala utama

dari kala II adalah :

(1) His semakin ade kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit

dengan durasi 50 sampai 100 detik.

(2) Menjelang akhir 1 ketuban pecah yang ditandai dengan

pengeluaran cairan secara mendadak.

(3) Ketuban pecah pada saat membukan mendeteksi

lengkap diikuti dengan keinginan mengejan, karena

tertekannya fleksus frankenhauser.

22
(4) Kedua kekuatan, his dan mengejan lebih

mendorongkepala bayisehingga terjadi: kepala membuka

pintu, subocsiput bertindak sebagai hipomoglion berturut-

turut lahir ubub-ubun besar, dahi, hidung dan muka serta

kepala seluruhnya.

(5) Kepala lahir seluruhnya dan di ikuti oleh putaran paksi

luar, yaitu penyesuaian kepala dengan punggung

(6) Setelah putaran paksi luar berlangsung. Maka persalinan

bayi di tolong dengan jalan :

(a) Kepala di pegang pada ocsiput dan dibawah dagu, di

tarik curam kebawah untuk melahirkan bahu depan

dan tarik ke atas untuk melahirkan bahu belakang

(b) Setelah kedua bahu lahir, ketiak di kait untuk

melahirkan sisa badan bayi.

(c) Bayi lahir

(7) Pada primigravida kala II berlangsung rata-rata 1,5 jam

dan pada multigravida rata-rata 0,5 jam.

c) Kala III

Setelah kala II,kontraksi uterus berhenti sekitar 5 sampai 10

menit, dengan lahirnya bayi, sudah mulai pelepasan

plasenta pada lapisan nitabush, karena sifat retraksi otot

23
rahim. Lepasnya plasenta sudah dapat di perkirakan dengan

mempehatikan taanda-tanda :

(1) Uterus menjadi bundar

(2) Uterus terdorong ke atas karena plasenta di lepas

kesegmen bawah rahim.

(3) Tali pusat memanjang

(4) Terjadi perdarahan

Melahirkan plasenta dilakukan dengan dorongan ringan

secara erede pada fundus uteri. Biasanya plasenta lepas

dalam 6 sampai 25 menit

d) Kala IV

Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena

perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2 jam

pertama. Observasi yang dilakukan adalah : pemeriksaan

tanda-tanda vital, kontrasi uterus dan perdarahan.18

g. Mekanisme persalinan

Gerakan-gerakan janin dalam persalinan/ gerakan kardial adalah

sebagai berikut:

1) Engagement (masuknya kepala) : kepala janin berfiksir pada

pintu atas panggul.

24
2) Descent (penurunan)

Penurunan dilaksanakan oleh satu/ lebih :

a) Tekanan cairan amnion

b) Tekanan langsung fundus pada bokong kontraksi otot

abdomen

c) Ekstraksi dan penelusuran badan janin

d) Kekuatan mengejan.

3) Fleksion (fleksi)

Pada awal persalinan, kepala bayi fleksi ringan seiring

kepala yang maju, biasanya fleksi juga bertambah. Pada

pergerakan tersebut dagu dibwah lebih dekat kearah dada

janin sehingga ubun-ubun kecil lebih rendah dari ubun-ubun

besar. Hal tersebut disebabkan oleh tahanan dinding serviks,

dinding pelviks, dengan adanya fleksi diameter

suboksipitobregmatika (9,5 cm) menggantikan diameter

subokcipitofrontalis (11 cm). sampai didasar panggul, kepala

bayi biasanya berada dalam fleksi maksimal

4) Internal rotation (rotasi dalam)

Putaran paksi dalam adalah pemutaran ubun-ubun kecil

(UKK) dari bagian depan yang menyebabkan bagian terendah

dari bagian depan janin memutar kearah depan bawah

simpisis. Pada presentasi belakang kepala, kepala bagian

25
terendah adalah daerah ubun-ubun kecil dan bagian tersebut

akan memutar kedepan, kearah simpisis. Rotasi dalam penting

untuk menyelesaikan persalinan, karena rotasi dalam

merupakan usaha untuk menyelesaikan posisi kepala dengan

bentuk jalan lahir, khususnya bidang tengah dan pintu bawah

panggul

5) Extention (ekstensi)

Setelah kepala sampai didasar panggul dan UUK berada

dibawah simpisis, terjadi ekstensi dari kepala janin. Hal

tersebut di sebabkan oleh sumbu jalan lahir pada pintu bawah

panggul mengarah kedepan dan keatas sehingga kepala

harus mengadakan fleksi untuk melewatinya. Kalau kepala

yang fleksi penuh pada waktu mencapai dasar panggul tidak

melakukan ekstensi, kepala akan tertekan pada perineum dan

dapat menembusnya. Suboksiput yang tertahan pada pinggir

bawah simpisis dapat menjadi pusat pemutaran (hipomoklion),

sehingga lahir berturut-turut ubun-ubun besar, dahi, hidung,

mulut, dan daguu bayi dengan gerakan ekstensi.

6) External rotation (putaran luar)

Kepala telah lahir selanjutnya mengalami restitusi, yaitu

kepala bayi memutar kembali kearah punggungnya untuk

menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena putaran

26
paksi dalam. Bahu melintasi pintu dalam keadaan miring dan

menyesuaikan diri dengan bentuk pinggul yang dilaluinya

didalam rongga panggul. Dengan demikian, setelah kepala

lahir bahu mengaalami putaran didasar pangguldan ukuran

bahu menempatkan diri dalam diameter anteriorposterior dari

pintu bawah pangggul.

7) Expultion (ekspulsi) :

Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah

simpisis dan menjadi hipomoklin untuk lahirkan bahu belakang.

Setelah kedua bahu lahir, selanjutnya seluruh badan bayi

dilahirkan searah dengan sumbu jalan lahir.19

2. Tinjauan Umum tentang Preeklamsia

a. Pengertian

1) Preeklamsia adalah peningkatan tekanan darah yang baru

timbul setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu, disertai

dengan penambahan berat badan ibu yang cepat akibat tubuh

membengkak dan pada pemeriksaan labolatorium dijumpai

protein didalamm urine (proteinuria).20

2) Preeklamsia adalah suatu sindrom kronik dalam kehamilan

> 20 minggu dengan berat janin 500 gram yang ditandai

dengan hipertensi, protein urine, oedema.21

27
3) Preeklamsia adalah kelainan multi sistemik yang terjadi pada

kehamilan yang ditandai dengan adanya hipertensidan

oedema. Serta terdapat proteinuria, biasanya terjadi pada usia

kehamilan 20 minggu ke atas atau dalam triwulan ketiga dari

kehamilan, tersering pada kehamilan 37 minggu ataupun

dapat terjadi segera sesudah persalinan.22

b. Etiologi preeklamsia

1) Penyebab penyakit ini sampai sekarang belum bisa diketahui

secara pasti. Namun banyak teori yang telah yang di

kemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan

tetapi tidak ada teori tersebut di anggap benar-benar mutlak.23

2) Faktor-faktor etiologis yang berperan dalam preeklmasia

masih belum diketahui dengan pasti. Sindrom preeklamsia

ditandai dengan adanya vasokonstriksi, hemakonsentrasi,

serta kemungkinan perubahan iskemik dalam plasenta, ginjal,

hati dan otak. Kondisi-kondisi ini biasanya tampak pada

wanita yang menderita preeklamsia berat.24

c. Faktor Resiko Ibu Terjadi Preeklamsia

1) Paritas

Kira-kira 85% preeklamsia terjadi pada kehamilan

pertama, paritas 2-3 merupakan paaritas paling aman ditinjau

dari kejadian preeklamsia dan resiko meningkat lagi pada

28
multigravida . selain itu primi tua, juga beresiko tinggi timbul

preeklamsia.

2) Usia

Usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 23-

35 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan bersalin

pada usia dibawah 20 tahun dan setelah usia 35 tahun

meningkat. Karena wanita yang memiliki usia kurang dari 20

tahun dan lebih dari 35 tahun dianggap masih rentan

terhadap terjadinya preeklamsia. Selain itu ibu hamil yang

berusia >35 tahun telah terjadi perubahan pada jaringan dan

alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak lentur lagi sehingga

lebih beresiko untuk terjadi preeklamsia.

3) Riwayat Hipertensi

Riwayat hipertensi adalah ibu yang pernah mengalami

hipertensi sebelum hamil atau sebelum umur kehamilan 20

minggu. Ibu yang mempunyai riwayat hipertensi beresiko

lebih besar mengalami preeklamsia, Preeklamsia di tegakkan

berdasarkan peningkatan tekaanan darah yang disertai

dengan proteinuria atau edema.

4) Sosial ekonomi

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa wanita yang

sosial ekonominya lebih maju jarang terjangkit penyakit

29
preeklamsia. Secara umum preeklamsia/eklamsia dapat

dicegah dengan asuhan pranatal yang baik. Namun pada

kalangan yang ekonomi rendah dan pengetahuan yang

kurang seperti di negara berkembang seperti indonesia

insiden preeklamsia/ eklamsia masih sering terjadi.

5) Genetik

Genotip lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam

kehamilan secara familiar jika di bandingkan dengan genotip

janin. Telah terbukti pada ibu yang mengalami preeklamsia

26% anak perempuannya akan mengalami preeklamsia pula,

sedangkan 8% anak menantunya mengalami preeklamsia.

Karena biasanya kelainan genetik juga dapat mempengaruhi

penurunan perfusi uteroplasenta yang selanjutnya

mempengaruhi aktivitas endotel yang dapat menyebabkan

terjadinya vasospasme yang merupakan dasar patofisiologi

terjadinya preeklamsia/ eklamsia.

6) Obesitas

Obesitas adalah adanya penimbunan lemak yang

berlebihan di dalam tubuh. Obesitas merupakan masalah gizi

karena berlebihan kalori, biasanya di sertai kelebihan lemak

dan protein hewani, kelebihan gula dan garam yang kelak

merupakan faktor resiko terjadinya berbagai jenis

30
penyakit.hubungan anatar berat badan ibu dengan resiko

preeklaamsia bersifat progresif, meningkat dari 4,3% untuk

wanita dengan indeks masa tubuh kurang dari 19,8% kg/m2

terjadi peningkatan 13 menjadi 13,3 % untuk mereka yang

indeksnya > 35 kg/m2.23

d. Patofisiologi

Patofisiologi preeklamsia dibagi menjadi dua tahap yaitu,

perubahan perfusi plasenta dan sidrom maternal. Tahap pertama

terjadi selama 20 minggu pertama kehamilan pada fase ini terjadi

perkembangan abnormal remodeling dinding arteri spiralis.

Abnormalitas dimulai pada saat perkembangan plasenta, diikuti

produksi substansi yang jika pencapai sirkulasi maternal

menyebabkan terjadinya sindrom maternal. Tahap ini merupakan

tahap kedua atau di sebut juga fase sistemik.

Fase ini merupakan fase klinis preeklamsia, dengan

elemen pokok respon inflasi sistemik maternal dan disfungsi

endotel. Selain itu, didapatkan perubahan irama sirkadian normal,

yaitu tekanan darah sering kali lebih tinggi pada malam hari

disebabkan terjadi peningkatan aktifitas vasokonstriktor simpatis,

yang akan kembali normal setelah persalinan. Hal ini mendukung

penggunaan metildopa sebagai anti hipertensi. Tirah baring

31
sering dapat memperbaiki hipertensi pada kehamilan mungkin

karena perbaikan fusi uteroplasenta.25

Obesitas merupakan salah satu faktor risiko penting

terjadinya preeklamsia. Dislipidemia dan diabetees melitus

gestasional meningkatkan resiko preeklmasia dua kali lipat,

mungkin berhubungan dengan disfungsi endotel. Pada

preeklamsia, fraksi filtrasi renal menurun sekitar 25% padahal

selama kehamilan normal, fungsi renal biasanya meningkat 35-

50%. Klirens asam urat serum menurun, biasanya sebelum

menisfestasi klinis. Dasar asam urat >5,5 mg/dl akibat penurunan

klirens renal dan filtrasi glumerulus merupakan penanda

preeklamsia.25

e. Diagnosa Preeklamsia

1) Kenaikan tekanan darah 140/90 mmHg pada kehamilan 20

mingguatau lebih .

2) Proteinuria secara kuantitatif lebih 0,3 ggr/liter dalam 24 jam

atau secara kualitatif positif 2 (+2).

3) Edema pada pretibia, dinding abdomen, luumboosakral, wajah

dan tangan.

4) Kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih perminggu selama 2

kali berturut-turut

32
5) Timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda tanda

preeklamsia berat.26

f. Klasisfikasi Preeklamsia

Klasifikasi preeklamsia terbagi atas 2 yaitu :

1) Preeklamsia Ringan

a) Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15

mmHg dan kenaikan sistolik 30 mmHg.

b) Proteinuria +1 atau +2.

c) Edema pada kaki, jari, muka dan berat badan naik >1 kg

2) Preeklamsia Berat

a) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih

b) Proteinuria +3

c) Oliguria (Jumlah Urine < 500 cc per jam)

d) Terdapat edema paru dan sianosis

e) Adanya gangguan serebral, gangguan visus dan nyeri di

epigastrium.27

g. Komplikasi

Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensi

akut dan lebih sering terjadi pada preeklmsia.

33
1) Pada Ibu

a) Hipofibrinogenemia

Biasanya terjadi pada preeklamsia berat. Oleh

karen itu dianjurkan untuk pemeriksaan kadar fibrinogen

secara berkala.

b) Hemolisis

Penderita dengan PEB kadang-kadang

menunjukan gejala klinik hemolisis yang di kenal dengan

ikterus. Belum di ketahui dengan pasti apakah ini

merupakan kerusakan sel hati atau destruksi sel darah

merah. Nekrosis periportal hati yang sering ditemukan

pada autopsy penderita eklmasia dapat menerangkan

ikterus tersebut.

c) Perdarahan Otak

Komplikasi ini merupakan penyebab utama

kematian maternal penderita eklamsia.

d) Kelainan Mata

Kehilangan penglihatan untuk sementara yang

berlangsung sampai seminggu dapat terjadi. Perdarahan

kadang-kadang terjadi pada retina. Hal ini merupakan

tanda gawat akan terjadi apopleksia serebri.

34
e) Edema Paru-Paru

Paru-paru menunjukan berbagai tingkat edema

dan perubahan karena bronkopnemonia sebagai akibat

aspirasi. Kadang-kadang ditemukan abses paru-paru.

f) Nekrosis Hati

Nekrosis periportal hati pada preeklamsia/

eklamsia merupakan akibat vasopasme arteriole umum.

Kelainan ini di duga khas untuk eklamsia, tetapi jga dapat

terjadi pada penyakit lain. Kerusakan sel-sel hati dapat di

ketahui dengan pemeriksaan faal hati, terutama

penurunan enzim-enzimnya.

g) Sindrom HELLP (Haemolisys eleveted liver enzymes dan

low paletelet) merupakan sidrom kumpulan gejala klinis

berupa gangguan fungsi hati, hepatoseluler (peningkatan

enzim hati) gejala subjektif cepat mual, lelah, muntah,

nyeri epigastrium.23

2) Pada Janin

Janin yang dikandung ibu hamil preeklamsia akan hidup

dalam rahim dengan nutrisi dan oksigen dibawah normal.

Keadaan ini bisa terjadi karena pembuluh darah yang

menyalurkan darah ke plasenta menyempit, karena buruknya

nutrisi pertumbuhan janin akan terhambat sehingga akan

35
terjadi bayi dengan berat lahir rendah. Bisa juga janin

dilahirkan dengan kurang bulan (prematuritas), komplikasi

lanjut dari prematuritas adalah keterlambatan belajar, dan

masalah pendengaran dan penglihatan, bayi saat di lahirkan

akan asfiksia dan sebagaainya.23

h. Penanganan Preeklamsia

1) Ibu dianjurkan banyak istrahat (berbaring,tidur/miring)

2) Diet : cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan gaaraam

pemberian sedativa ringan : tablet phenobarbitaal 3x30 mg

atau diazepam 3x2 mg/oral selama 7 hari (atas intruksi

dokter).

3) Kunjungan ulang selama 1 mg

4) Pemeriksaan labolatorium: hemoglobin, hematokrit,

trombosit, urin lengkap, asam urat darah, fungsi hati, fungsi

ginjal.

5) Pentalaksanaan rawat tinggal pasien preeklamsia ringan

berdasarkan kriteria: setelah dua minggu pengobatan rawat

jalan tidak menunjukan adanya perbaikan dari gejala-gejala

preeklamsia; kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih/

minggu selama 2 kali berturur-turut (2 minggu); timbul salah

satu atau lebih gejala atau tanda-tanda preeklamsia berat.

36
6) Bila setelah satu minggu perawatan diatas tidak ada

perbaikan maka preeklamsia ringan dianggap sebagai

preeklamsia berat jika dalam perawatan dirumah sakit sudah

ada perbaikan selama 1 minggu dan kehamilan masih

preterm maka penderita tetap dirawat selam 2 hari lagi baru

dipulangkan. Perawatan obstetri pasien preeklamsia

a) Kehamilan preterm (kurang 37 minggu) bila desakan

darah mencapai normotensi selama perawatan,

persalinan di tunggu sampai aterm bila desakan darah

turun tetapi belummencapai normatensi selama

perawataan maka kehamilan dapat di akhiri pada umur

kehamilan 37 minggu atau lebih.

b) Kehamilan aterm (37 minggu atau lebih) persalinan

ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau

dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada

tanggal tafsiran.

7) Cara persalinan: persalinan dapat dilakukan secara spontan

bila perlu memperpendek kala II.23

37
3. Tinjauan umum tentang kecemasan

a. Definisi kecemasan

Kecemasan adalah konndisi emosi dengan timbulnya rasa tidak

nyaman pada diri seseorang, dan merupakan pengalaman yang

samar-samar disertai dengan perasaan yang tidak berdaya serta

tidak menentu yang disebabkan oleh sesuatu hal yang belum

jelas.

b. Tingkat kecemasan

1) Cemas ringan

Berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa sehari-hari,

respon perilaku dan emosi, tidak dapat duduk tenang, tremor

halus pada tangan, dan suara kadang-kadang meninggi.

2) Cemas sedang

Individu lebih memfokuskan hal-hal penting saat itu

menyampingkan hal lain. Respon perilaku emosi, gelisah,

gerakan tersentak-sentak, bicara banyak dan lebih cepat,

susah tidur dan perasaan cemas.

3) Cemas berat

Persepsi menjadi sempit, indivindu cenderung memikirkan hal

yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak

mampu lagi berfikir realistisdan membutuhkan banyak

pengarahan untuk memusatkan perhatian.

38
4) Panik

Pada tingkatan ini persepsi individu sudah sangat penyempit

dan sudah terganggu sehinggga tidak dapat mengendalikan

lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun sudah

diberikan pengarahan.28

B. Tinjauan Kehamilan dalam Islam

Dalam Al-Quran surah Al-Mu’minun ayat 12-14 dijelaskan tentang

fase penciptaan manusia.

Terjemahan:

) 14 – 12 : ‫) ( المؤمنون‬14( ‫فكسوناالعظام لحما ثم انشأناه خلقا اخر فتبارك هللا احسن الخالقين‬

“Dan sesungguhnya, kami telah menciptakan manusia sari pati


(berasal) dari tanah. Kemudaian kami menjadikannya air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu kami
jadikan sesuatu melekat, lalu sesuatu yang melekat itu kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang,
lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging, kemudian, kami
menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, pencipta
yang paling baik” (QS. Al-Mu’minun : 12-14).

Kandungan dalam ayat Al-Quran surah Al-Mu’minun ayat 12-14 yaitu:

1. Allah SWT menjadikan saripati tanah yang terdapat dalam tubuh

manusia sebagai nutfah (air yang berisi spermatozoa atau disebut

sprema), yang kemudian ditumpahkan dalam Qarar (Rahim atau

kandungan).

2. Allah SWT menjadikan nutfah sebagai alaqah yang berbentuk

gumpalan darah yang menyertai buah lecis atau lintah.

39
3. Dari alaqah Allah SWT menjadikan sebagai mudgah, yaitu

segumpalan daging yang menyerupai daging hancur yang sudah

dikunyah.

4. Dari mudgah Allah SWT menjadikannya sebagai idzam. Yaitu tulang

atau rangka.

5. Kemudian tulang atau rangka itu dibalut oleh daging.

6. Setelah itu Allah menjadikannya sebagai mahluk dalam bentuk lain

yaitu dalam bentuk manusia yang telah berkepala, berbadan,

bertangan dan berkaki.29

C. Tinjauan Tentang Manajemen Asuhan Kebidanan

1. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan

Manajemen asuhan kebidanan adalah pendekatan dan

kerangka berpikir yang digunakan oleh bidan dalam menerapka

metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari

pengumpulan data, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan,

pelaksaan dan evaluasi.

2. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan

Proses manajemen asuhan kebidanan terdiri atas pemikiran

dan tindakan saja, melainkan juga perilaku pada setiap langkah agar

pelayanan yang komprehensif dan aman dapat tercapai. Proses

manajemen terdiri atas tujuh langkah yang berurutan dimana setiap

langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan

40
mengumpulkan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh

langkah tersebut membentuk suatu langkah yang dapat diuraikan lagi

menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan langkah-langkah

tersebut bisa berubah sesuai dengan kebutuhan klien.

Langkah-langkahnya sebagai berikut :

a. Langkah I. Identifikasi Data Dasar

Pada langkah pertama, dilakukan pengkajian dengan

mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi

keadaan klien secara lengkap. Untuk memperoleh data tersebut

dapat dilakukan dengan cara anamnesia yang meliputi biodata

bertujuan memperjelas identitas pasien, riwayat menstruasi,

riwayat kehamilan sekarang dan riwayat psikososial untuk

mendapatkan informasi tentang keluhan-keluhan yang biasa

dialami oleh ibu kekhawatiran khusus yang muncul akibat adanya

perubahan fisiologis maupun psikologi, pemeriksaan fisik sesuai

dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vitaljuga

pemeriksaan khusus yang meliputi pemeriksaan inspeksi untuk

mengamati penampilan ibu, emosi serta sikap.

b. Langkah II. Identifikasi Diagnosa dan Masalah

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap

diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan

interpretasi yang benar atas data-data diagnosa keduanya

41
digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan

seperti diagnosis,data dasar yang sudah di kumpulkan

diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diangnosa

yang spesifik.30

c. Langkah III Mengidentifikasi Diagnosis atau Masalah Potensial

Pada langkah ini kita mengidentifikasikan masalah atau

diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan

diagnosa yang sudah diindentifikasikan. Langkah ini membutuhkan

antisipasi, bila kemungkinan dilakukan pencegahan sambil

mengamati klien bidan diharapkam dapat bersiap-siap bila

diagnosa dari masalah potensial ini benar-benar terjadi.

d. Langkah IV Identifikasi Segera/Kolaborasi

Pada langkah ini, bidan menetapkan kebutuhan terhadap

tindakan segera, melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga

kesehatan lain berdasarkan kondisi klien. Setelah itu

mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter

dan untuk konsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota

tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.

Langkah keempat ini mencerminkan kesinambungan dari

proses manajemen kebidanan yang terjadi dalam kondisi darurat

dan diperlukan data baru yang lebih spesifik agar dapat

mengetahui penyebab langsung diagnosa dan masalah yang ada.

42
Dalam melakukan tindakan harus sesuai dengan prioritas

masalah/kebutuhan yang dihadapi oleh klien.30

e. Langkah V Rencana Tindakan/Intervensi

Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa

yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap

masalah yang berkaitan, tetapi juga dari kerangka pedoman

antisipasi terhhadap wanita tersebut, seperti apa yang diperkirakan

akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling,

dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang

berkaitan dengan aspek asuhan kesehatan.

f. Langkah VI. Implementasi

Pada langkah ini dilakukan peleksanaan asuhan langsung

secara efisien dan aman. Pada langkah ini rencana asuhan

menyeluruh. Perencanaan ini bidan bertanggung jawab dalam

manajemen asuhan klien untuk terlaksananya rencana asuhan

bersama. Manajemen yang efesien, menyikat waktu dan biaya,

serta meningkatkan mutu dan asuhan klien.31

g. Langkah VII. Evaluasi

Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan asuhan

yang telah diberikan. Hal yang dievaluasi meliputi apakah

kebutuhan telah terpenuhi dan mengatasi diagnosa dan masalah

yang telah diidentifikasi. Rencana tersebut dapat dianggap efektif

memang benar-benar efektif dalam pelaksanaannya.31

43
3. Pendokumentasian hasil asuhan kebidanan

Metode keempat langkah yang dinamakan SOAP ini

disaringkan dari proses pemikiran penatalaksanaan kebidanan.

Metode ini dipakai untuk mendokumetasikan asuhan pasien dan

rekam medis pasien sebagai catatan kemajuan. SOAP adalah

catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis, dan tertulis.

a. Data subjektif (S)

Mengambarkan dokumentasi hasil pengumpulan data klien

melalui anamnesis sebagai langkah I Varney.

b. Data Objektif (O)

Mengambarkan dokumentasi pemeriksaan fisik klien, hasil

laboratorium, dan uji diagnostik lain yang dirumuskan dalam data

fokus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney.

c. Analisa (A)

1) Diagnosa / masalah

2) Antisipasi diagnosa / kemungkinan masalah

3) Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/

kolaborasi, dan atau perlu rujukan sebagai langkah 2,3,4

Varney.

d. Perencanaan (P)

Menggambarkan dokumentasi tingkatan dan evaluasi

perencanaan beradasarkan pengkajian langkah 5, 6, dan 7

Varney.31

44
Bagan 2.1 Manajemen kebidanan dan system pendokumentasian

Alur Fikir Bidan Pencatatanasuhankebidanan

Proses manajemen Pendokumentasian


kebidanan asuhan kebidanan

5LANGKAH
KOMPETENSI
7 LANGKAH VARNEY SOAP NOTES
(BIDAN)
A. kumpulan data dasar Data Subjek (hasil anamnesis)
objektif (pemeriksaan
B. identifikasi diagnose Assesment/ Assessment (analisis
atau masalah actual Diagnose dan interpretasi data)
a. diagnose dan masalah
C. Identifikasi diagnose b. diagnose atau
atau masalah masalah potensial
potensial kebutuhan
D. Identifikasi kebutuha c. tindakan segera
yang memerlukan
penaganan segera
secara mandiri,
konsultasi atau
kolaborasi

E. Rencana asuhan Plenning Planning (dokumentasi


i. melengkapi data : implementas dan
diagnostik evaluasi
/labolatorium a. Asuhan mandiri
ii. pendidikan/konseling b. Kolaborasi
iii. rujukan c. Tes labolatorium
iv. Follow up d. Konseling
F. Pelaksanan Implementasi e. Follow up
G. Evaluasi Eveluasi

45
D. Tinjauan Wewenang Bidan

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 tahun

2017, tentang izin dan pelanggaran praktik bidan, bidan berwenang

memberikan pelayanan yang meliputi:

1. Bab III pasal 18 bidan dalam menyelenggarakan praktik, berwenang

untuk memberikan pelayanan yang meliputi:

a. Pelayanan kesehatan ibu

b. Pelayanan kesehatan anak

c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga

berencana.

2. Pelayanan kesehatan ibu sebagaimna yang dimaksud dalam pasal 18

huruf a diberikan pada masa sebelum hamil, kehamilan, masa

persalinan, masa nifas, masa menyusui dan masa diantara dua

kehamilan.

3. Pelayanan kesehatan ibu sebagaimna yang dimaksud pada Bab III

pasal 19 ayat 1 meliputi:

a. Pelayanan konseling pada masa pra hamil

b. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal

c. Pelayanan persalinan normal

d. Pelayanan ibu nifas normal

e. Pelayanan ibu menyusui

f. Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan.

46
4. Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud pada

Bab III pasal 19 ayat 2 berwenang untuk:

a. Episiotomy

b. Pertolongan persalinan normal

c. Penjahitan luka jalan lahir tingak I dan tingkat II

d. Penanganan kegawat-daruratan, di lanjutkan dengan perujukan

e. Pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil

f. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas

g. Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusui dini dan promosi air susu ibu

esklusif.

h. Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan post

partum.

i. Penyuluhan dan konseling

j. Bimbingan pada kelompok ibu hamil

k. Pemberian surat keterangan kehamilan dan kelahiran.

5. Pelayanan kesehatan anak bagaimana di maksud dalam pasal 18

huruf b diberikan pada bayi baru lahir, bayi, balita, dan anak

prasekolah

6. Bidan dalam memberikan pelayan kesehatan anak sebagaimna yang

dimksud pada Bab III pasal 20 ayat 1 berwenang untuk:

a. Pelayanan neonatal esensial

b. Penanganan kegawat daruratan, dilanjutkan dengan perujukan

47
c. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, dan anak pra

sekolah

d. konseling dan penyuluhan

7. Pelayanan neonatal esensial sebagimana di maksud pada ayat 2 huruf

a meliputi inisiasi menyusui dini, pemotongan dan perawatan tali

pusat, pemberian suntik Vit K1, pemberian imunisasi HB 0,

pemeriksaan fisik bayi baru lahir, pementauan tanda bahaya,

pemberian tanda identitas diri, dan merujuk kasus yang tidak dapat di

tangani dalam kondisi stabil dan tepat waktu kefasilitas pelayanan

kesehatan yang mampu.

8. Penanganan kegawat daruratan,dilanjutkan dengan perujukan

sebaagimana dimaksud pada ayat 2 huruf b meliputi:

a. Penanganan awal asfiksia bayi baru lahir melalui pembersihan

jalan nafas, ventilasi tekanan positif, dan/atau kompresi jantung

b. Penanganan awal hipotermia pada bayi baru lahir dengan BBLR

melaalui penggunaan selimut atau fasilitasi dengan dengan cara

menghangatkan tubuh bayi dengan metode kangguru

c. Penaganan awal infeksi tali pusat dengan mengoleskan alkohol

atau povidon iodine serta bisa menjaga luka tali pusat tetap bersih

dan kering

d. Membersihkan dan pemberian salep mata pada bayi baru lahir

dengan infeksi gonore (GO).

48
9. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, dan anak prasekolah

sebagaimana di maksud pada ayat 2 huruf c meliputi kegiatan

penimbangan berat badan, pengukuran lingkar kepala, pengukuran

tinggi badan, stimulasi deteksi dini, dan intervensi dini penyimpangan

tumbuh kembang balita dengan menggunakan koesioner pra skrining

perkembangan (KPSP)

10. Konseling dan penyuluhan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 huruf

d meliputi pemberian komunikasi, informasi, edukasi (KIE) kepada ibu

dan keluarga tentang perawatan bayi baru lahir, ASI esklusif, tanda

bahaya bayi baru lahir, pelayanan kesehatan, imunisasi, gizi

seimbang, PHBS, dan tumbuh kembang.

11. Bab III pasal 21 pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan

keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 huruf c,

bidang wewenang memberikan:

a. Penyuluhan dan konseling kesehtan reproduksi perempuan dan

keluarga berencana.

b. Pelayanan kontrasepsi oral, kondom, dan suntikan.32

49