Anda di halaman 1dari 22

1 Peradilan Pajak

Sumber hukum dan Tata Urutan


Peraturan Perundang-undangan
dan Kekuasaan Kehakiman
Negara Hukum
2

■ Pasal 1 UUD 1945


■ Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang
berbentuk Republik.
■ Kedaulatan adalah ditangan rakyat, dan dilakukan
sepenuhnya oleh Madjelis Permusjawaratan rakyat.
■ Negara Indonesia adalah Negara Hukum

■ Tujuan
■ Suatu Keinginan untuk memberikan perlindungan
terhadap HAM dari tindakan sewenang-wenang para
penguasa.
Negara Hukum
3

■ Friedrich Julius Stahl mengemukakan empat unsur


rechtstaats (negara hukum)dalam arti klasik,
yaitu: (Miriam Budiardjo, 1998: 57-58)
1. Perlindungan hak-hak asasi manusia;
2. Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk
menjamin hak-hak itu (di negara-negara Eropa
Kontinental biasanya disebut trias politica);
3. Tindakan Pemerintah berdasarkan peraturan-
peraturan (wetmatigheid van bestuur);
4. Peradilan administrasi dalam perselisihan (Peradilan
Tata Usaha Negara).
Sumber Hukum
4

■ Sumber hukum adalah sumber yang dijadikan bahan


penyusunan peraturan perundang-undangan.
■ Sumber hukum terdiri atas sumber hukum tertulis (UU,
Perjanjian) dan tidak tertulis (Kebiasaan, doktrin).
■ Sumber hukum dasar nasional adalah Pancasila
sebagaimana yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945,
yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil
dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan / perwakilan, serta dengan mewujudkan
suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan
batang tubuh UUD 1945.
Tata Urutan Perundang-undangan
5

Berdasarkan TAP MPR No. III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata
Urutan Peraturan Perundang-undangan, tata urutan peraturan
perundang-undangan Republik Indonesia adalah:
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
3. Undang-Undang/ Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
4. Peraturan Pemerintah
5. Peraturan Presiden
6. Peraturan Daerah Provinsi
7. Peraturan Daerah Kabupaten/kota
Tata Urutan Perundang-undangan
6

UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan


Perundang-undangan, TAP MPR dihapus, diubah menjadi
Peraturan Presiden, sehingga tata urutan perundang-
undangan menjadi :
1. Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
2. Undang Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang
Undang;
3. Peraturan Pemerintah;
4. Peraturan Presiden;
5. Peraturan Daerah.
Tata Urutan Perundang-undangan
7

 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang


Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang ini, jenis dan
hierarki peraturan perundang-undangan Republik Indonesia
adalah sebagai berikut :
1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun1945;
2) Ketetapan MPR;
3) UU/Perppu;
4) Peraturan Presiden;
5) Peraturan Daerah Provinsi;
6) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
8

Teknik
Perencan Pembaha Pengesah Pengunda Penyebarlua
Persiapan penyusun Perumusan
aan san an ngan san
an
Azas Pembentukan Peraturan Perundang-
9
undangan
a. kejelasan tujuan
b. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat
c. kesesuaian antara jenis, hirarki dan materi
muatan
d. dapat dilaksanakan
e. kedayagunaan dan kehasilgunaan
f. kejelasan rumusan dan
g. keterbukaan
Azas Materi Muatan Peraturan
10

1. pengayoman
2. kemanusiaan
3. kebangsaan
4. kekeluargaan
5. kenusantaraan
6. bhinneka tunggal ika
7. keadilan
8. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan
9. ketertiban dan kepastian hukum atau
10. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.
Materi Muatan Perundang-undangan
11

hak-hak asasi manusia

hak dan kewajiban warga negara

pelaksanaan dan penegakan kedaulatan


negara serta pembagian kekuasaan negara

wilayah dan pembagian daerah

kewarganegaraan dan kependudukan

keuangan negara
KEKUASAAN KEHAKIMAN
12
 Pasal 1 ayat (2) dan (3) UUD 1945 menegaskan bahwa “kedaulatan
berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang”dan
“negara Indonesia adalah negara hukum”
 Dengan demikian, maka hukum yang berlaku di suatu negara hukum
adalah hukum yang dibuat oleh rakyat sebagai pemegang kekuasaan
tertinggi dalam suatu negara hukum.
 Sejatinya hukum dibuat oleh rakyat melalui wakil-wakilnya untuk
menegakkan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
 Untuk menegakkan keadilan ini, tidak semua orang dapat melakukannya,
kecuali yang oleh negara diberi wewenang atau kekuasaan untuk
mengadili.
 Kewenangan atau kekuasaan untuk mengadili diberikan kepada pejabat
negara yang disebut “Hakim”. Kekuasaan yang dimiliki oleh para hakim
disebut “Kekuasaan Kehakiman”

KEKUASAAN KEHAKIMAN
13

 Menurut Pasal 24 UUD 1945, kekuasaan kehakiman


merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan
keadilan.
 Di dalam penjelasannya disebutkan bahwa kekuasaan
kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas
dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Sehubungan dengan hal
tersebut, harus diadakan jaminan dalam UU tentang
kedudukan para hakim.
 Kekuasaan kehakiman (lembaga yudikatif) terlepas dari
kekuasaan pemerintah (badan legislatif dan eksekutif seperti
DPR, MPR, dan presiden)
PELAKSANA KEKUASAAN
14
KEHAKIMAN
 Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 telah membawa perubahan
dalam kehidupan ketatanegaraan. Berdasarkan perubahan tersebut
ditegaskan bahwa kekuasaan kehakiman dilaksanakan oleh:

1. Mahkamah Agung dan badan peradilan yang ada di bawahnya dalam :

a. lingkungan peradilan umum,

b. lingkungan peradilan agama,

c. lingkungan peradilan militer,

d. lingkungan peradilan tata usaha negara.

2. Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi
15

Mahkamah agung adalah peradilan negara tertinggi dari


semua lingkungan peradilan, yang dalam melaksanakan
kewajibannya lepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruh
pengaruh lainnya.

Ref:
UU No. 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung
Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi
16

Tugas dan Fungsi Mahkamah Agung


1. Fungsi Peradilan
2. Fungsi Pengawasan
3. Fungsi Mengatur
4. Fungsi Nasehat
5. Fungsi Administratif
6. Fungsi Lain
Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi
17

Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu lembaga negara


yang melakukan kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan
keadilan

Ref:
UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi
18

Tugas dan Wewenang Mahkamah Konstitusi menurut UUD


1945 adalah :
1. Berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir
yang keputusannya bersifat final untuk menguji Undang-
Undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus
sengketa kewenangan lembaga Negara yang
kewenangannya diberikan oleh UUD1945, memutus
pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan
tentang hasil Pemilihan Umum.
2. Wajib memberi keputusan atas pendapat Dewan
Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh
Presiden atau Wakil Presiden menurut UUD 1945.
Empat Lingkungan Peradilan
19

Terdapat 4 (empat) lingkungan peradilan di Indonesia berdasarkan Pasal 24


ayat (2) UUD 1945, antara lain sebagaimana disebutkan dibawah ini :
1. Lingkungan Peradilan Umum, meliputi sengketa perdata dan pidana.
2. Lingkungan Peradilan Agama, meliputi hukum keluarga seperti
perkawinan, perceraian, dan lain-lain.
3. Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, meliputi sengketa antar
warga Negara dan pejabat tata usaha Negara.
4. Lingkungan Peradilan Militer, hanya meliputi kejahatan atau
pelanggaran yang dilakukan oleh militer.
Azas Umum Kekuasaan Kehakiman
20

1. Asas kebebasan hakim


2. Hakim bersikap menunggu
3. pemeriksaan berlangsung terbuka
4. hakim aktif
5. hakim bersikap pasif
6. kesamaan
7. objektivitas
8. putusan disertai alasan
9. tidak ada keharusan untuk mewakilkan
10. beracara dikenakan biaya
11. peradilan dilakukan “ demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa”
12. peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan
13. susunan persidangan dalam bentuk majelis
14. pemeriksaan dalam dua tingkat
15. praduga tak bersalah
Peradilan Pajak
21

 Roechmat Soemitro, merumuskan Peradilan Pajak sebagai suatu


proses dalam hukum pajak yang bermaksud memberikan keadilan
dalam sengketa pajak, baik kepada Wajib Pajak maupun kepada
pemungut pajak, sesuai dengan ketentuan undang-undang yang
berlaku.
 Proses tersebut merupakan rangkaian perbuatan yang harus
dilakukan oleh Wajib Pajak atau oleh pemungut pajak di hadapan
suatu instansi yang berwenang untuk menyelesaikan sengketa pajak.
 Peradilan pajak mencakup hal yang luas, meliputi baik peradilan
untuk menyelesaikan perkara tindak pidana fiskal maupun sengketa
administrasi pajak sengketa yang timbul karena tidak adanya
kecocokan tentang jumlah utang pajak antara Wajib Pajak dengan
fiskus
Pengadilan Khusus
22

Dalam pasal 15 ayat 1 UU No. 4 Tahun 2004 disebutkan Pengadilan khusus


hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 10 yang diatur dengan undang-undang.
Contoh :
Pengadilan pajak, Peradilan Syari’ah khususnya konsep peradilan syari’ah
(Nanggroe Aceh Darussalam)
Yang dimaksud dengan ”pengadilan khusus” dalam ketentuan UU No. 4
tahun 2004, antara lain, adalah pengadilan anak, pengadilan niaga,
pengadilan hak asasi manusia, pengadilan tindak pidana korupsi,
pengadilan hubungan industrial yang berada di lingkungan peradilan
umum, dan pengadilan pajak di lingkungan peradilan tata usaha negara.