Anda di halaman 1dari 2

Korupsi dan Pertumbuhan Ekonomi

Korupsi berkontribusi dalam mengurangi pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan


kualitas infrastruktur dan pelayanan publik, mengurangi pajak, membuat pemerintah justru
bergandengan dengan para pencari rente daripada melakukan aktivitas yang produktif,
dan akhirnya mendistorsi komposisi pengeluaran pemerinta

Korupsi berimplikasi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi karena korupsi berpengaruh


langsung terhadap tingkat investasi, rendahnya tingkat investasi swasta karena
besarnya biaya suap dalam perizinan usaha, dan terdistorsinya investasi pemerintah oleh
kelompok kepentingan. Dampak korupsi baik langsung maupun tidak langsung akan
memengaruhi indikator-indikator makro ekonomi suatu negara. Korupsi dapat menciptakan
kesenjangan yang lebar antara pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai dengan potensi
pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya bisa dicapai, sehingga memengaruhi proses
pertumbuhan ekonomi nasional. Analisanya adalah korupsi menimbulkan inefisiensi dan
pemborosan dari sumber ekonomi periode sebelumnya, karena hasil dari pengelolaan
sumberdaya ekonomi yang ada tidak semuanya dikembalikan sebagai modal perputaran
ekonomi secara multiplier, keuntungan yang diperoleh dari korupsi kemungkinan
besar digunakan bermewah-mewah atau dilarikan ke rekening pribadi di luar negeri
bukan dialihkan ke sektor investasi. Secara sederhana korupsi pada dasarnya adalah
sebuah misalokasi sumberdaya, yang artinya, korupsi memindahkan sumberdaya dari
kegiatan produktif atau memiliki manfaat sosial tinggi ke kegiatan tidak produktif dan
menciptakan biaya sosial. Biaya ekonomi korupsi dapat dikaitkan sebagai sumber daya yang
terbuang, yang dapat digambarkan pada kurva batas kemungkinan produksi ( Production
Posibility Frontier/ PPF).

Alasan pertama, korupsi dapat menjadi uang pelicin atau speed money
sehingga dapat menghindari terjadinya penundaan birokrasi.
Lui (1985) yang menggunakan keseimbangan Nash pada
noncooperative game adanya suap dapat meminimalisasi biaya tunggu atau waiting cost
sehingga dapat mengurangi biaya-biaya, yang pada akhirnya menurunkan inefisiensi dari
pemerintah. Namun Myrdal (1968) membantah pandangan tersebut, menurutnya
teori speed money tidak terjadi. Pada kenyataannya para birokrat dapat
memperlambat kerja mereka untuk mendapatkan lebih banyak suap.
Alasan yang kedua adalah para pegawai struktural yang mendapat pembayaran
rendah, ditambah kurangnya tanggung jawab mereka, tidak termotivasi untuk bekerja
lebih efisien. Namun dengan adanya suap akan mendorong mereka untuk bekerja lebih
efisien.
Alasan yang ketiga dari sisi kesejahteraan (welfare), banyak layanan atau barang publik
masih dimonopoli oleh pemerintah, tapi apabila ada aparat pemerintah yang menjualnya
di pasar gelap (secara illegal), maka konsumen bisa mendapatkan barang atau pelayanan publik
tersebut dibawah harga resmi. Oknum aparat akan menerima seluruh pembayaran untuk dirinya
sendiri, sehingga Negara kehilangan pendapatan, namun konsumen mendapatkan harga di
bawah harga resmi sehingga terjadi relokasi keuntungan dari negara ke konsumen (peningkatan
kesejahteraan masyarakat).