Anda di halaman 1dari 22

PERADABAN HINDU BUDHA NUSANTARA

DI INDONESIA

OLEH :
NENIK SILVAYANI
X IPS 2

SMAN 4 PRAYA
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Dengan senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga dapat menulis makalah ini dengan baik. Tak
lupa pula haturkan sholawat serta salam kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW,
yang telah memberikan petunjuk pada umat manusia serta menghantarkan umat dari zaman
kegelapan ke zaman yang terang benerang ini.
Penulis menyadari, bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini.
Penulis mengharapkan berbagai masukan kritik dan saran membangun yang kiranya dapat
membantu dalam penulisan makalah selanjutnya. Penulis juga berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.
DAFTAR ISI

Halaman Judul....................................................................................................................... i
Kata Pengantar....................................................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................... 1
A. Latar Belakang................................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah........................................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan............................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................... 3
A. proses masuknya kebudayaan dan agama Hindu Budha di Indonesia............................ 3
B. Perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Indonesia........................................ 5
C. Peninggalan kerajaan Hindu Budha.............................................................................. 15
BAB III PENUTUP............................................................................................................ 16
A. Kesimpulan................................................................................................................... 16
B. Saran............................................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................... 17
BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Indonesia adalah bangsa yang majemuk, terkenal dengan keanekaragaman dan
keunikannya. Terdiri dari berbagai suku bangsa, yang mendiami belasan ribu pulau yang
tidak terlepas dari pengaruh budaya luar, salah satunya pengaruh budaya India.
Kebudayaan India masuk ke Indonesia pada saat Indonesia masih mengalami masa pra-
sejarah. Masuknya kebudayaan India ini sekaligus menandai berakhirnya masa pra-sejarah
dan mulai membawa bangsa Indonesia ke jaman sejarah, karena sejak saat itu bangsa kita
mulai mengenal tulisan. Pengaruh hindu-budha ini dapat terlihat dari berbagai macam
peninggalan-peninggalan yang tersebar hampir disetiap pulau-pulau di Indonesia yang kini
menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa ini yang berasal dari berbagai kerajaan Hindu-
Budha yang merupakan cikal bakal terbentuknya bangsa ini. Dengan hadirnya kebudayaan
India di Indonesia banyak sekali aspek yang dipengaruhinya antara lain seni, agama,
tradisi, bangunan dan lain-lain. Sebagai generasi penerus bangsa pertama kita wajib
mengetahui sejarah bangsa ini. Sehingga penyusun merasa perlu untuk menyusun artikel
ini agar dapat membantu dan memudahkan pembaca untuk mengetahui sejarah dan
pengaruh kebudayaan India di Indonesia

1.1 RUMUSAN MASALAH


1.1.1 Bagaimana proses masuknya kebudayaan dan agama Hindu Budha di Indonesia?
1.1.2 Bagaimana perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Indonesia ?
1.1.3 Peninggalan apa saja yang dihasilkan dari kerajaan Hindu Budha ?
1.1.4 Bagaimana pengaruh kebudayaan dan agama Hindu Budha di Indonesia ?
1.2 TUJUAN PENULISAN
1.2.1 Mengetahui proses masuknya kebudayaan dan agama Hindu Budha di Indonesia.
1.2.2 Mengetahui perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Indonesia.
1.2.3 Mengetahui peninggalan kerajaan Hindu Budha.
1.2.4 Mengetahui pengaruh kebudayaan dan agama Hindu Budha di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PROSES MASUKNYA KEBUDAYAAN DAN AGAMA HINDU BUDHA DI


INDONESIA.
Pada permulaan tarikh masehi, di Benua Asia terdapat dua negeri besar yang tingkat
peradabannya dianggap sudah tinggi yaitu India dan Cina. Kedua negara ini menjalin
hubungan ekonomi dan perdangan yang baik. Arus lalu lintas perdagangan dan pelayaran
berlangsung melalui darat dan laut. Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilewati India-
Cina adalah Selat Malaka. Indonesia yang terletak di jalur posisi silang dua benua dan
dua samudera, serta berada didekat Selat Malaka memiliki keuntungan, yaitu:
a. Sering dikunjungu bangsa-bangsa asing seperti India, Cina, Arab dan Persia.
b. Kesempatan melakukan hunungan perdagangan internasional terbuka lebar.
c. Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas.
d. Pengaruh asing masuk ke Indonesia, seperti Hindu-Budha
Keterlibatan bangsa Indonesia dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional
menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India merupakan negara pertama yang
memberikan pengaruh kepada Indonesia, yaitu dalam bentuk budaya Hindu. Ada
beberapa hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang proses masuknya budaya Hindu-
Budha ke Indonesia
a. Hipotesis Brahmana
Hipotesis ini mengungkapkan bahwa kaum brahmana amat berperan dalam upaya
penyebaran budaya Hindu di Indonesia. Para brahmana mendapat undangan dari
penguasa Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara
keagamaan. Pendukung hipotesis ini adalah Van Leur.
b. Hipotesis Ksatria
Pada hipotesis ksatria, peranan penyebaran agama dan budaya Hindu dilakukan oleh
kaum ksatria. Menurut hipotesis ini, di masa lampau di India sering terjadi
peperangan antargolongan di dalam masyarakat. Para prajurit yang kalah atau jenuh
menghadapi perang, lantas meninggalkan India. Rupanya, diantara mereka ada pula
yang sampai ke wilayah Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha
mendirikan koloni-koloni baru sebagai tempat tinggalnya. Di tempat itu pula terjadi
proses penyebaran agama dan budaya Hindu. F.D.K. Bosch adalah salah seorang
pendukung hipotesis ksatria.
c. Hipotesis Waisya
Menurut para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang berasal dari kelompok
pedagang telah berperan dalam menyebarkan budaya Hindu ke Nusantara. Para
pedagang banyak berhubungan dengan para penguasa beserta rakyatnya. Jalinan
hubungan itu telah membuka peluang bagi terjadinya proses penyebaran budaya
Hindu. N.J. Krom adalah salah satu pendukung dari hipotesis waisya.
d. Hipotesis Sudra
Von van Faber mengungkapkan bahwa peperangan yang tejadi di India telah
menyebabkan golongan sudra menjadi orang buangan. Mereka kemudian
meninggalkan India dengan mengikuti kaum waisya. Dengan jumlah yang besar,
diduga golongan sudralah yang memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu ke
Nusantara.
Selain pendapat di atas, para ahli menduga banyak pemuda di wilayah Indonesia yang
belajar agama Hindu dan Buddha ke India. Di perantauan mereka mendirikan
organisasi yang disebut Sanggha. Setelah memperoleh ilmu yang banyak, mereka
kembali untuk menyebarkannya. Pendapat semacam ini disebut Teori Arus Balik.
Pada umumnya para ahli cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa
masuknya budaya Hindu ke Indonesia itu dibawa dan disebarluaskan oleh orang-
orang Indonesia sendiri. Bukti tertua pengaruh budaya India di Indonesia adalah
penemuan arca perunggu Buddha di daerah Sempaga (Sulawesi Selatan). Dilihat dari
bentuknya, arca ini mempunyai langgam yang sama dengan arca yang dibuat di
Amarawati (India). Para ahli memperkirakan, arca Buddha tersebut merupakan barang
dagangan atau barang persembahan untuk bangunan suci agama Buddha. Selain itu,
banyak pula ditemukan prasasti tertua dalam bahasa Sanskerta dan Malayu kuno.
Berita yang disampaikan prasasti-prasasti itu memberi petunjuk bahwa budaya Hindu
menyebar di Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi.
2.2 PERKEMBANGAN KERAJAAN-KERAJAAN HINDU BUDHA DI INDONESIA
2.2.1 Kerajaan Kutai
Berdirinya Kerajaan Kutai
Letak Kerajaan Kutai berada di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur yang
merupakan Kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Ditemukannya tujuh buah batu tulis
yang disebut Yupa yang mana ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta
tersebut diperkirakan berasal dari tahun 400 M (abad ke-5). Prasasti Yupa tersebut
merupakan prasasti tertua yang menyatakan telah beridirinya suatu Kerajaan Hindu
tertua yaitu Kerajaan Kutai..
Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para
Brahmana atas kedermawanan Raja Mulawarman. Dituliskan bahwa Raja
Mulawarman, Raja yang baik dan kuat yang merupakan anak dari Aswawarman dan
merupakan cucu dari Raja Kudungga, telah memberikan 100 ekor sapi kepada para
Brahmana.
Dari prasati tersebut didapat bawah Kerajaan Kutai pertama kali didirikan oleh
Kudungga kemudian dilanjutkan oleh anaknya Aswawarman dan mencapai puncak
kejayaan pada masa Mulawarman (Anak Aswawarman). Menurut para ahli sejarah
nama Kudungga merupakan nama asli pribumi yang belum tepengaruh oleh
kebudayaan Hindu. Namun anaknya, Aswawarman diduga telah memeluk agama
Hindu atas dasar kata 'warman' pada namnya yang merupakan kata yang berasal dari
bahasa Sanskerta.
Kejayaan Kerajaan Kutai
Menurut prasasti Yupa, puncak kejayaan Kerajan Kutai berada pada masa
kepemerintahan Raja Mulawarman. Pada masa pemerintahan Mulawarman,
kekuasaan Kerajaan Kutai hampir meliputi seluruh wilayah Kalimantan Timur.
Rakyat Kerajaan Kutai pun hidup sejahtera dan makmur.

Yupa
Keruntuhan Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas
dalam peperangan melawan Aji Pangeran Sinum Panji yang merupakan Raja dari
Kerajaan Kutai Kartanegara. Kerajaan Kutai dan Kerajaan Kutai Kartanegara
merupakan dua buah kerajaan yang berbeda. Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri pada
abad ke-13 di Kutai Lama. Terdapatnya dua kerajaan yang berada di sungai Mahakam
tersebut menimbulkan friksi diantara keduanya. Pada abad ke-16 terjadi peperangan
diantara kedua Kerajaan tersebut.

Raja-raja Kerajaan Kutai


Berikut di bawah ini merupakan daftar raja-raja yang pernah memimpin Kerjaan
Kutai, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Maharaja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman (pendiri)
2. Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)
3. Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman)
4. Maharaja Marawijaya Warman
5. Maharaja Gajayana Warman
6. Maharaja Tungga Warman
7. Maharaja Jayanaga Warman
8. Maharaja Nalasinga Warman
9. Maharaja Nala Parana Tungga
10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
11. Maharaja Indra Warman Dewa
12. Maharaja Sangga Warman Dewa
13. Maharaja Candrawarman
14. Maharaja Sri Langka Dewa
15. Maharaja Guna Parana Dewa
16. Maharaja Wijaya Warman
17. Maharaja Sri Aji Dewa
18. Maharaja Mulia Putera
19. Maharaja Nala Pandita
20. Maharaja Indra Paruta Dewa
21. Maharaja Dharma Setia
Dalam hal kebudayaan sendiri ditemukan dalam salah satu prasasti Yupa
menyebutkan suatu tempat suci dengan nama "Wapakeswara" (tempat pemujaan
Dewa Siwa). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kutai memeluk
agama Siwa.

2.2.2 Kerajaan Tarumanegara


Beridirnya Kerajaan Tarumanagara
Menurut Naskah Wangsakerta, pada abad ke-4 Masehi, pulau dan beberapa wilayah
Nusantara lainnya didatangi oleh sejumlah pengungsi dari India yang mencari
perlindungan akibat terjadinya peperangan besar di sana. Para pengungsi itu
umumnya berasal dari daerah Kerajaan Palawa dan Calankayana di India, pihak
yang kalah dalam peperangan melawan Kerajaan Samudragupta (India).
Salah satu dari rombongan pengungsi Calankayana dipimpin oleh seorang Maharesi
yang bernama Jayasingawarman. Setelah mendapatkan persetujuan dari raja yang
berkuasa di barat Jawa (Dewawarman VIII, raja Salakanagara), maka
Jayasingawarman membuka tempat pemukiman baru di dekat sungai Citarum.
Pemukimannya oleh Jayasingawarman diberi nama Tarumadesya (desa Taruma).
Sepuluh tahun kemudian desa ini banyak didatangi oleh penduduk dari desa lain,
sehingga Tarumadesya menjadi besar. Akhirnya dari wilayah setingkat desa
berkembang menjadi setingkat kota (Nagara). Semakin hari, kota ini semakin
menunjukan perkembangan yang pesat, karena itulah Jayasingawarman kemudian
membentuk sebuah Kerajaan yang bernama Tarumanagara.
Kejayaan Kerajaan Tarumanagara
Kerajaan Tarumanagara mencapai puncak kejayaannya ketika dipimpin oleh
Purnawarman. Dimasa kepemerintahan Purnawarman, luas Kerajaan Tarumanagara
diperluas dengan menaklukan kerajaan-kerajaan yang berada disekitarnya. Tercatat
Luas Kerajaan Tarumanagara hampir sama dengan luas daerah Jawa Barat sekarang.
Selain itu Raja Purnawarman juga menyusun pustaka yang berupa undang-undang
kerjaana, peraturan angkatan perang, siasat perang serta silsilah dinasti Warman.
Raja Purnawarman juga dikenal sebagai raja yang kuat dan bijak kepada rakyatnya
Keruntuhan Kerajaan Tarumanagara
Raja ke-12 Tarumanagara, Linggawarman, memiliki dua orang putri. Putri
pertamanya bernama Dewi Manasih yang kemudian menikah dengan Tarusbawa dan
Sobakencana yang kemudian menjadi isteri Dapunta Hyang Sri Jayanasa, pendiri
Kerajaan Sriwijaya. Tangku kepemimpian Kerajaan Tarumanegara pun jatuh pada
suami Manasih yaitu Tarusbawa. Pada masa kepemerintahan Tarusbawa, pusat
kerajaan Tarumanagara ke kerajaanya sendiri yaitu Kerajaan Sunda (Kerajaan
bawahan Tarumanagara) dan kemudian mengganti Kerajaan Tarumanagara menjadi
Kerajaan Sunda.

Prasasti Ciareteun

 Sumber Sejarah Kerajaan Tarumanagara


Kerajaan Tarumanagara banyak meninggalkan bukti sejarah, diantaranya
ditemukannya 7 buah prasati yaitu:
1. Prasasti Ciareteun yang ditemukan di Ciampea, Bogor.
2. Prasasti Pasri Koleangkak yang ditemukan di perkebunan Jambu.
3. Prasasti Kebonkopi yang ditemukan di kampung Muara Hilir, Cibungbulang
4. Prasasti Tugu yang ditemukan di dareah Tugu, Jakarta.
5. Prasasti Pasir Awi yang ditemukan di daerah Pasir Awi, Bogor.
6. Prasasti Muara Cianten yang juga ditemukan di Bogor.
7. Prasasti Cidanghiang atau Lebak yang ditemukan di kampung Lebak, pinggir
Sungai Cidanghiang,
Selain dari prasasti, terdapat juga suber-sumber lain yang berasal dari Cina,
diantarnya:
1. Berita dari Fa-Hien, seorang musafir Cina (pendeta Budha) yang terdampar di
Yepoti (Yawadhipa/Jawa) tepatnya Tolomo (Taruma) pada tahun 414. Dalam
catatannya di sebutkan rakyat Tolomo sedikit sekali memeluk Budha yang banyak di
jumpainya adalah Brahmana dan Animisme.
2. Berita dari Dinasti Soui yang menyatakan bahwa pada tahun 528 dan 535 datang
utusan dari negeri Tolomo (Taruma) yang terletak disebelah selatan.
3. Berita dari Dinasti Tang Muda yang menyebutkan tahun 666 dan tahun 669 M
datang utusan dari Tolomo.
 Raja-raja Kerajaan Tarumanagara
Selama berdirinya Kerajaan Tarumanagara dari abad ke-4 sampai abad ke-7 Masehi,
kerajaan tersebut pernah dipimpin oleh 12 orang raja, diantaranya:
1. Jayasingawarman (358-382 M.)
2. Dharmayawarman (382-395 M.)
3. Purnawarman (395-434 M.)
4. Wisnuwarman (434-455 M.)
5. Indrawarman (455-515 M.)
6. Candrawarman (515-535 M.)
7. Suryawarman (535-561 M.)
8. Kertawarman (561-628 M.)
9. Sudhawarman (628-639 M.)
10. Hariwangsawarman (639-640 M.)
11. Nagajayawarman (640-666 M.)
12. Linggawarman (666-669 M.)
3. Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit Didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa
Jayawardana yang merupakan keturunan Ken Arok raja Singosari.

 Masa Kejayaan Kerajaan Majapahit


Kerajaan Majapahit ini mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Raja Hayam
Wuruk (1350-1389). Kebesaran kerajaan ditunjang oleh pertanian sudah teratur, perdagangan
lancar dan maju, memiliki armada angkutan laut yang kuat serta dipimpin oleh Hayam
Wuruk dengan patih Gajah Mada.
Di bawah patih Gajah Mada Majapahit banyak menaklukkan daerah lain. Dengan semangat
persatuan yang dimilikinya, dan membuatkan Sumpah Palapa yang berbunyi “Ia tidak akan
makan buah palapa sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara”.
Mpu Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama menceritakan tentang zaman gemilang
kerajaan di masa Hayam Wuruk dan juga silsilah raja sebelumnya tahun 1364 Gajah Mada
meninggal disusun oleh Hayam Wuruk di tahun 1389 dan kerajaan Majapahit mulai
mengalami kemunduran.

 Penyebab kemunduran
Majapahit kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada meletusnya Perang
Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan daerah
bawahan mulai melepaskan diri.
 Raja-raja pada kerajaan Majapahit
Kerajaan Maja pahit dipimpin oleh
1. Raden Wijaya 1273 – 1309
2. Jayanegara 1309-1328
3. Tribhuwanatunggaldewi 1328-1350
4. Hayam Wuruk 1350-1389
5. Wikramawardana 1389-1429
6. Kertabhumi 1429-1478

4. Kerajaan Singasari
 Berdirinya Kerajaan Singasari
Kerajaan Singhasari atau s ering pula ditulis Singasari atau Singosari, adalah sebuah kerajaan
di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini sekarang
diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang. Kerajaan ini bercorak Hindu.
 Masa Kejayaan
Kertanagara adalah raja terakhir dan raja terbesar dalam sejarah Singhasari (1272 - 1292). Ia
adalah raja pertama yang mengalihkan wawasannya ke luar Jawa. Pada tahun 1275 ia
mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu untuk menjadikan Sumatra sebagai benteng
pertahanan dalam menghadapi ekspansi bangsa Mongol. Saat itu penguasa Sumatra
adalah Kerajaan Dharmasraya (kelanjutan dari Kerajaan Malayu). Kerajaan ini akhirnya
dianggap telah ditundukkan, dengan dikirimkannya bukti arca Amoghapasa yang dari
Kertanagara, sebagai tanda persahabatan kedua negara.
Pada tahun 1284, Kertanagara juga mengadakan ekspedisi menaklukkan Bali. Pada
tahun 1289 Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari meminta
agar Jawa mengakui kedaulatan Mongol. Namun permintaan itu ditolak tegas
oleh Kertanagara. Nagarakretagam amenyebutkan daerah-daerah bawahan Singhasari di
luar Jawa pada masa Kertanagara antara lain, Melayu, Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura.
 Kerutuhan kerajaan Singasari
Kerajaan Singhasari yang sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa akhirnya
mengalami keropos di bagian dalam. Pada tahun 1292 terjadi
pemberontakan Jayakatwang bupati Gelanggelang, yang merupakan sepupu, sekaligus ipar,
sekaligus besan dari Kertanagara sendiri. Dalam serangan itu Kertanagara mati terbunuh.
Setelah runtuhnya Singhasari, Jayakatwang menjadi raja dan membangun ibu kota baru di
Kerajaan Kadiri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singhasari pun berakhir.

 Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Singasari


Arok mati dibunuh Anusapati (anak tirinya). Anusapati mati dibunuh Tohjaya (anak Ken
Arok dari selir). Tohjaya mati akibat pemberontakan Ranggawuni (anak Anusapati). Hanya
Ranggawuni yang digantikan Kertanagara (putranya) secara damai.
5. Ken Arok alias Rajasa Sang Amurwabhumi (1222 - 1247)
6. Anusapati (1247 - 1249)
7. Tohjaya (1249 - 1250)
8. Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1250 - 1272)
9. Kertanagara (1272 – 1292)
4. Kerajaan Sriwijaya
 Berdirinya Kerajaan Sriwijaya
Bukti tertua datangnya dari berita Cina yaitu pada tahun 682 M terdapat seorang pendeta
Tiongkok bernama I-Tsing yang ingin belajar agama Budha di India, singgah terlebih dahulu
di Sriwijaya untuk mendalami bahasa Sanskerta selama 6 Bulan. Tercatat juga Kerajaan
Sriwijaya pada saat itu dipimpin oleh Dapunta Hyang.
Selain berita dari luar, terdapat juga beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya,
diantaranya adalah prasasti Kedukan Bukit (605S/683M) di Palembang. Isi dari prasasti
terseubt adalah Dapunta Hyang mengadakan ekspansi 8 hari dengan membawa 20.000
tentara, kemudian berhasil menaklukkan dan menguasai beberapa daerah. Dengan
kemenangan itu Sriwijaya menjadi makmur. Dari kedua bukti tertua di atas bisa disimpulkan
Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7 dengan raja pertamanya adalah Dapunta Hyang.
Lokasi Kerajaan Sriwijaya di wilayah Sumatera bagian selatan, Pusat pemerintahannya
kemungkinan besar di sekitar `Palembang, Sumatera, meskipun ada pendapat lain yang
menyebutkan Ligor di Semenanjung malaya sebagai pusatnya.
 Faktor Pendorong Perkembangan Kerajaan Sriwijaya
1. Letaknya yang strategis
2. Kemajuan kegiatan perdagangannya.
3. Keruntuhan Kerajaan Funan di Vietnam Selatan memberikan kesempatan bagi
perkembangan Sriwijaya sebagai negara maritim (sarwajala) yang selama abad ke- 6
dipegang oleh kerajaan Funan.
4. Memiliki armada laut yang kuat
5. Melayani distribusi ke berbagai wilayah nusantara
 Sumber sejarah
1. Berita Asing yaitu Berita Cina, Berita Arab, Dan Berita India
2. Dari dalam negeri berwujud prasasti yaitu prasasti kedukan bukit, prasasti talang tuo
,prasasti kota kapur ,prasasti telaga batu, prasastikarang berahi dan prasasti ligor

 Mundurnya Kerajaan Sriwijaya


Faktor Politik Kedudukan Kerajaan Sriwijaya makin terdesak, karena munculnya kerajaan-
kerajaan besar yang juga memiliki kepentingan dalamdunia perdagangan, seperti Kerajaan
Siam di sebelah utara. Pada akhir abad ke-13 M, Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran.
Hal ini disebabkan oleh faktor politik dan ekonomi.
Kerajaan Siam memperluas kekuasaannya ke arah selatan dengan
menguasai daerah-daerah diSemenanjung Malaka termasuk Tanah Genting Kra. Jatuhnya
Tanah Genting Kra ke dalam kekuasaan Kerajaan Siam mengakibatkan kegiatan pelayaran
perdagangan di Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang.

 Sebab-sebab keruntuhan Kerajaan Sriwijaya


Kebesaran Kerajaan Sriwijaya mulai surut sejak abad ke-11. Kemunduran itu bermula dari
serangan besar – besaran yang dilancarkan Kerajaan Cola (India) di bawah pimpinan Raja
Rajendra Coladewa pada tahun 1017 dantahun 1025. Perisitiwa serangan Kerajaan Cola dapat
diketahui dari prasasti Tanjore ( 1030 )
a. Pada saat tahun 990 M Kerajaan Sriwijaya diserang oleh raja Dharmawangsa dari P.
Jawa
b. Banyak daerah atau kekuasaan Sriwijaya yang melepaskan diri.
c. Pernah diserang oleh raja Rajendra Coladewa dari Colamandala India dua kali, yaitu
tahun 1025 M dan 1030 M
d. Adanya ekspedisi Pamalayu dari kerajaan Singasari pada tahun 1275 M
e. Muncul dan berkembangnya kerajaan Islam Samudra Pasai.
f. Serangan kerajaan Majapahit dipimpin Adityawarman atas perintah Mahapatih Gajah
Mada, 1477. Sehingga Sriwijaya menjadi taklukkan Majapahit Terjadinya serangan dari
kerajaan Majapahit pada tahun 1477M Pada sekitar pertengahan abad ke-14, nama Sriwijaya
sudah tidak pernah lagi disebut – sebut dalam sumber sejarah. Kerajaan Sriwijaya benar –
benar runtuh akibat serangan Kerajaan Majapahit dari Jawa

 Raja-raja yang Pernah Memerintah


Menurut sejarah kerajaan sriwijaya merupakan kerajaan yang megah dan jaya dimasa
lampau. Raja raja yang pernah memerintah adalah :
1. Dapunta Hyang Srijayanegara
2. Dharmasetu
3. Balaputradewa
4. Cudamani Warmadewa
5. Sanggrama Wijaya Tunggawarman

5. Kerajaan Mataram Kuno


 Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno
Menurut Prasasti Mantyasih (907) menyebutkan Raja pertama Kerajaan Mataram Kuno
adalah Sanjaya. Sanjaya sendiri mengeluarkan Prasasti Canggal (732) tanpa menyebut jelas
apa nama kerajaannya. Dalam prasasti itu, Sanjaya menyebutkan terdapat raja yang
memerintah di pulau Jawa sebelum dirinya. Raja tersebut bernama Sanna atau yang dikenal
dengan Bratasena yang merupakan raja dari Kerajaan Galuh yang memisahkan diri dari
Kerajaan Sunda (akhir dari Kerajaan Tarumanegara).
Kekuasaan Sanna digulingkan dari tahta Kerajaan Galuh oleh Purbasora dan kemudian
melarikan diri ke Kerjaan Sunda untuk memperoleh perlindungan dari Tarusbawa, Raja
Sunda. Tarusbawa kemudian mengambil Sanjaya yang merupakan keponakan dari Sanna
sebagai menantunya. Setelah naik tahta, Sanjaya pun berniat untuk menguasai Kerajaan
Galuh kembali. Setelah berhasil menguasai Kerajaan Sunda, Galuh dan Kalingga, Sanjaya
memutuskan untuk membuat kerajaan baru yaitu Kerajaan Mataram Kuno.
Dari prasasti yang dikeluarkan oleh Sanjaya pada yaitu Prasasti Canggal, bisa dipastikan
Kerajaan Mataram Kuno telah berdiri dan berkembang sejak abad ke-7 dengan rajanya yang
pertama adalah Sanjaya dengan gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.
 Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno
Kemunduran kerajaan Mataram Kuno pada Masa Raja Dharmawangsa yang disebabkan
karena kedudukan ibukota kerajaan yang semakin lama semakin lemah dan tidak
menguntungkan. Hal ini disebabkan oleh:
a. Tidak memiliki pelabuhan laut sehingga sulit berhubungan dengan dunia luar
b. Sering dilanda bencana alam oleh letusan Gunung Merapi
c. Mendapat ancaman serangan dari kerajaan Sriwijaya
Oleh karena itu pada tahun 929 M ibukota Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur (di
bagian hilir Sungai Brantas) oleh Empu Sindok. Pemindahan ibukota ke Jawa Timur ini
dianggap sebagai cara yang paling baik. Selain Jawa Timur masih wilayah kekuasaan
Mataram Kuno, wilayah ini dianggap lebih strategis. Hal ini mengacu pada letak sungai
Brantas yang terkenal subur dan mempunyai akses pelayaran sungai menuju Laut Jawa.
Kerajaan itu kemudian dikenal dengan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur atau Kerajaan
Medang Kawulan.

 Sumber Sejarah Kerajaan Mataram Kuno


1. Prasasti Canggal, ditemukan di halaman Candi Guning Wukir di desa Canggal berangka
tahun 732 M. Prasasti Canggal menggunakan huruf pallawa dan bahasa Sansekerta yang
isinya menceritakan tentang pendirian Lingga (lambang Syiwa) di desa Kunjarakunja oleh
Raja Sanjaya dan disamping itu juga diceritakan bawa yang menjadi raja sebelumnya adalah
Sanna yang digantikan oleh Sanjaya anak Sannaha (saudara perempuan Sanna).
2. Prasasti Kalasan, ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta berangka tahun 778M, ditulis
dalam huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sansekerta. Isinya menceritakan pendirian
bangunan suci untuk dewi Tara dan biara untuk pendeta oleh Raja Pangkaran atas permintaan
keluarga Syaelendra dan Panangkaran juga menghadiahkan desa Kalasan untuk para Sanggha
(umat Budha).
3. Prasasti Mantyasih, ditemukan di Mantyasih Kedu, Jawa Tengah berangka 907M yang
menggunakan bahasa Jawa Kuno. Isi dari prasasti tersebut adalah daftar silsilah raja-raja
Mataram yang mendahului Rakai Watukura Dyah Balitung yaitu Raja Sanjaya, Rakai
Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, rakai
Kayuwangi dan Rakai Watuhumalang.
4. Prasasti Klurak, ditemukan di desa Prambanan berangka 782M ditulis dalam huruf
Pranagari dan bahasa Sansekerta isinya menceritakan pembuatan Acra Manjusri oleh Raja
Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya.

Candi-candi peninggalan Kerajaan Medang antara lain, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi
Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sambisari, Candi Sari, Candi
Kedulan, Candi Morangan, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sojiwan, dan tentu saja yang
paling kolosal adalah Candi Borobudur.

 Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno


Selama berdiri, Kerajaan Mataram Kuno pernah dipimpin oleh raja-raja dinataranya sebagai
berikut:
1. Sanjaya, pendiri Kerajaan Mataram Kuno
2. Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Sailendra
3. Rakai Panunggalan alias Dharanindra
4. Rakai Warak alias Samaragrawira
5. Rakai Garung alias Samaratungga
6. Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
7. Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
8. Rakai Watuhumalang
9. Rakai Watukura Dyah Balitung
10. Mpu Daksa
11. Rakai Layang Dyah Tulodong
12. Rakai Sumba Dyah Wawa
13. Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
14. Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
15. Makuthawangsawardhana
16. Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Mataram Kuno berakhir
2.2.3 PENINGGALAN YANG DIHASILKAN DARI KERAJAAN HINDU BUDHA
Pada masa kerajaan Hindu-Budha di Nusantara, banyak meninggalkan sumber
sejarah, baik berupa bangunan kuno (seni bangun), prasasti, hasil kesusastraan.
Berikut beberapa peninggalan sejarah yang bercorak Hindu- Budha.
a. Seni bangun
Peninggalan-peninggalan sejarah ada beberapa jenisnya, seperti komplek percandian,
pemandian, keraton, makam. Candi adalah peninggalan berupa komplek bangunan
yang bersifat Hindu, sedangkan yang bersifat Budhis disebut Stupa, Stupika.
Contoh kompleks percandian atau candi adalah sebagai berikut :
1. Pada masa kerajaan Sriwijaya ditemukan candi Muara takus di daerah Jambi.
2. Di Jawa Tengah ada Stupa Borobudur, candi Mendut dan candi Pawon.
Bangunan bangunan ini berfungsi sebagai tempat ibadah. Sampai sekarang
peninggalan-peninggalan tersebut masih dipergunakan oleh umat Budha untuk
pelaksanaan upacara memperingati hari Waisak.
3. Candi Prambanan merupakan peninggalan yang bersifat Hindu yang didirikan
abad ke VIII M. Candi ini terletak di desa Prambanan Sleman, Jogjakarta. Candi ini
adalah candi Hindu. Fungsinya adalah sebagai tempat pemujaan (kuil).
4. Candi lain yang bercorak Hindu adalah candi Gedong Sango, percandian Dieng,
Ratu Baka, Candi Kalasan dan sebagainya. Di Jawa Timur terdapat candi Singasari,
candi Kidal, Candi Panataran, dan kompleks percandian di Trowulan Mojokero.

b. Seni Rupa dan Seni Ukir


Pengaruh India membawa perkembangan dalam bidang seni rupa dan seni ukir atau
pahat. Hal ini disebabkan adanya akulturasi. Misalnya relief yang dipahatkan pada
dinding candi Borobudur yang merupakan relief tentang riwayat Sang Budha. Relief
ini dikenal dengan Karma Wibangga yang dipahatkan dalam salah satu dinding Studa
Borobudur.

c. Seni Sastra dan Aksara


Hasil sastra berbentuk prosa atau puisi : isinya antara lain tentang tutur (pitutur : kitab
keagamaan), wiracarita (kepahlawanan), kitab Hukum (Undang-Undang).
Wiracarita yang terkenal di Indonesia yaitu Kitab Ramayana dan Mahabarata. Timbul
wiracarita gubahan pujangga Indonesia. Misalnya, Kitab Baratayuda yang digubah
oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.
Perkembangan aksara, perkembangan huruf Pallawa dari India ke Indonesia,
mengakibatkan berkembangnya karya-karya sastra. Misal, karya-karya sastra Jawa
kuno. Huruf Nagari (dari India) disertai huruf Bali kuno (dari Indonesia).

d. Prasasti
Prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan
lama. Penemuan prasasti pada sejumlah situs arkeologi, menandai akhir dari
zaman prasejarah, yakni babakan dalam sejarah kuno Indonesia yang masyarakatnya
belum mengenal tulisan, menuju zaman sejarah, dimana masyarakatnya sudah
mengenal tulisan. Ilmu yang mempelajai tentang prasasti disebut Epigrafi. Contoh
peninggalan Hindu Budha yang berbentuk prasasti :
˗ Prasasti Mulawarman, Kutai,
˗ Prasasti Kebon Kopi, Ciampea, Bogor,
˗ Prasasti Tugu, Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya,
Kabupaten Bekasi, abad ke-5
˗ Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, Desa Lebak, Kecamatan Munjul,
Kabupaten Pandeglang, Banten, abad ke-5
˗ Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
˗ Prasasti Sojomerto, Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Batang, Jawa Tengah,
awal abad ke-7 paling tua.
˗ Prasasti Kedukan Bukit, Palembang, Sumatera Selatan, 16 Juni 682
˗ Prasasti Talang Tuwo, Palembang, Sumatera Selatan, 23 Maret 684
˗ Prasasti Kota Kapur, Kota Kapur, Bangka, 686
˗ Prasasti Plumpungan, Dukuh Plumpungan, Desa Kauman Kidul, Kecamatan
Sidorejo, Salatiga, Jawa Tengah, 24 Juli 750
˗ Prasasti Sukabumi, Sukabumi, Pare, Kediri, Jawa Timur, 25 Maret 804
˗ Prasasti Siwagrha (Prasasti kakawin tertua Jawa), 856
e. Sistem Kemasyarakatan.
Sistem kasta merupakan penggolongan masyarakat berdasarkan tingkat atau derajad
orang yang bersangkutan. Setiap orang sudah ditentukan kastanya. Sistem kasta ini
muncul dalam masyarakat Indonesia setelah ada hubungan dengan India. Terdapat
empat kasta yaitu kasta Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra. Sistem kasta ini bukan
asli Indonesia.
f. Filsafat dan Sistem Kepercayaan
Kepercayaan asli bangsa Indonesia adalah animisme dan dinamisme, percaya adanya
kehidupan sesudah mati, yakni sebagai roh halus. Kehidupan roh halus memiliki
kekuatan maka roh nenek moyang dipuja. Masuknya pengaruh India tidak
menyebabkan pemujaan terhadap roh nenek moyang hilang. Hal ini dapat dilihat pada
fungsi candi. Fungsi candi di India sebagai tempat pemujaan. Di Indonesia, selain
sebagai tempat pemujaan, candi juga berfungsi sebagai makam raja dan untuk
menyimpan abu jenazah raja yang telah wafat.
Dapat terlihat adanya pripih tempat untuk menyimpan abu jenazah, dan diatasnya
didirikan patung raja dalam bentuk mirip dewa. Hal tersebut merupakan perpaduan
antara fungsi candi di India dengan pemujaan roh nenek moyang di Indonesia.
g. Sistem Pemerintahan
Pengaruh India di Indonesia dalam sistem pemerintahan, adalah adanya sistem
pemerintahan secara sederhana. Setelah pengaruh India masuk, kedudukan pemimpin
tersebut diubah menjadi raja serta wilayahnya disebut kerajaan. Rajanya dinobatkan
dengan melalui upacara Abhiseka, biasanya namanya ditambah “warman”. Contoh: di
Kerajaan Kutai, Taruma dan sebagainya.
Bukti akulturasi di bidang pemerintahan, misalnya : raja harus berwibawa dan
dipandang punya kesaktian (kekuatan gaib), seperti para Raja disembah menunjukkan
adanya pemujaan Dewa Raja.
BAB III
PENUTUP
3.1 SIMPULAN
Pendapat mengenai proses masuk dan berkembangnya kebudayaan Hindu-Budha di
Indonesia, yaitu hipotesis Waisya, Hipotesis Ksatria, Hipotesis Brahmana dan teori Arus
Balik. Masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Budha membawa
pengaruh besar di berbagai bidang. Kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha
merupakan salah satu bukti adanya pengaruh kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia.
Setiap kerajaan dipimpin oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan mutlak dan turun-
temurun. Kerajaan-kerajaan itu antara lain : Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara,
Kerajaan Sriwijaya, Mataram Kuno, Kerajaan Singhasari, Kerajaan Majapahit. Masuknya
kebudayaan India ke Indonesia telah membawa pengaruh terhadap perkembangan
kebudayaaan di Indonesia. Namun kebudayaan asli Indonesia tidak begitu luntur.
Kebudayaan yang datang dari India mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan,
maka terjadilah proses akulturasi kebudayaan.

3.2 SARAN

Kebudayaan yang berkembang di Indoneisa pada tahap awal diyakini berasal dari India.
Pengaruh itu diduga mulai masuk pada awal abad masehi. Apabila kita membandingkan
peninggalan sejarah yang ada di Indonesia akan ditemukan kemiripan itu. Sebelum kenal
dengan kebudayaan India, bangunan yang kita miliki masih sangat sederhana. Saat itu
belum dikenal arsitektur bangunan seperti candi atau keraton. Tata kota di pusat kerajaan
juga dipengaruhi kebudayaan hindu. Demikian pula dalam hal kebudayaan yang lain
seperti peribadatan dan kesastraan.Kita harus menjaga kelestarian dan budaya-budaya
yang ditinggalkan agama Hindu-Budha.
DAFTAR PUSTAKA

http://balaiedukasi.blogspot.com/2013/10/kerajaan-budha-di-indonesia-dan.html
http://duniapusaka.com/index.php?route=product/product&product_id=790&ext=141508136
8&hash=AckJl72fTIm5StR0Hrklng6mEn8GD5PKsoSWE3IIeFKU7Q
http://id.wikipedia.org/wiki/Tarumanagara
http://indonesiaindonesia.com/f/86078-sejarah-kerajaan-majapahit/
http://linggau21.blogspot.com/2012/12/perkembangan-kerajaan-hindu-di-indonesia.html
http://medanbung.wordpress.com/2008/12/17/proses-masuk-dan-berkembangnya-pengaruh-
hindu-buddha-di-indonesia/
http://wisataziarahcikundul.blogspot.com/2012/12/peninggalan-peninggalan-sejarah-
yang.html