Anda di halaman 1dari 30

PROPOSAL FILSAFAT MANUSIA

ETIKA PROFESI PEDAGANG PENTOL

Disusun oleh:

1. Fani (6103016007)

2. Natalie Veronika (6103016012)

3. Chelsea Angela (6103016048)

4. Ghea Devi (6103016

5.Sonia Ratnasari (6103016060)

6.Gina Melita (6103016065)

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

PROGAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN

UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA

SURABAYA
2017

BAB I

DESKRIPSI LAPORAN KEGIATAN

1.1 Kesulitan yang dilalui selama kegiatan PKL dan cara mengatasinya

Selama pkl ada banyak hambatan yang kami lalui seperti kegiatan pkl yang
seharusnya dilaksanakan di perpustakaan universitas tetapi harus berpindah lokasi ke
perpustakaan daerah agar kegiatan pkl kami tetap dapat dilaksanakan sesuai jadwal.
Selain itu pada saat kami melakukan percobaan salah satu metode pengujian
menampilkan hasil yang rancuh maka kami memutuskan untuk memperkuat
pengujian dengan metode yang lain yang lebih efektif dan terlihat perbedaan yang
jelas pada sampel sampel yang kami uji. Pada salah satu sampel ada yang terlihat
sudah berlendir dan bau karena metode penyimpanan yang salah ataupun waktu yang
terlalu lama dari pembelian sampai saat pengujian. Maka kami memutuskan untuk
tidak menggunakan 1 sampel yang sudah tidak baik lagi kondisinya.

1.2 ALUR PKL


Di era sekarang ini banyak sekali produk pangan yang beredar. Produk
pangan yang diminati oleh masyarakat membuat para produsen pangan berlomba-
lomba untuk menghasilkan suatu produk yang digemari oleh masyarakat. Untuk
menghasilkan produk pangan yang diminati oleh masyarakat, maka produsen
menambahkan bahan-bahan tertentu yang disebut dengan Bahan Tambahan
Pangan.
Bahan Tambahan Pangan tidak semuanya bersifat baik bagi tubuh
manusia. Banyak produsen yang kedapatan menggunakan Bahan Tambahan
Pangan yang tidak baik untuk tubuh manusia. Penggunaan bahan-bahan seperti
itu tentu saja membuat konsumen menjadi cemas.
Banyak kasus seperti penggunaan boraks sebagai pengenyal pada bakso,
formalin sebagai pengawet pada bakso, dan Rhodamin B sebagai pewarna pada
saus. Bahan-bahan seperti boraks, formalin, dan bakso bukanlah merupakan
bahan-bahan yang cocok untuk digunakan pada produk pangan.
Boraks biasanya digunakan dalam industri gelas, pelicin porselin, alat
pembersih, dan antiseptik. Boraks juga digunakan sebagai zat antiseptik, obat
pencuci mata, salep untuk menyembuhkan penyakit kulit dan bibir, dan pembasmi
semut. Boraks dalam tubuh manusia akan fatal akibatnya. Dosis yang dapat
membuat seseorang mengalami keracunan boraks adalah 0.1-0.5 g/kg berat badan.
Akibat adanya boraks dalam tubuh manusia sungguh berbahaya. Boraks dapat
menyebabkan anoreksia, berat badan turun, muntah, diare, ruam kulit, alposia,
anemia, konvulsi, gangguan gerak pencernaan usus, kelainan pada sususan saraf,
bahkan kematian.
Formalin biasanya digunakan sebagai pengawet untuk mayat. Harga
formalin yang cenderung murah dan pengetahuan masyarakat yang miskin akan
efek samping dari boraks membuat masyarakat banyak yang salah menggunakan
bahan ini. Jika seseorang mengkonsumsi pangan yang telah terkontaminasi oleh
formalin, maka akan mengalami iritasi lambung, alergi, kerusakan saraf,
kemandulan, dan gangguan menstruasi. Selain itu formalin memiliki sifat
karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) dan mutagenik (dapat menyebabkan
mutasi;perubahan fungsi sel-sel dalam tubuh.
Rhodamin B merupakan suatu bahan kimia yang digunakan sebagai
pewarna merah dalam industri tekstil. Penggunaan Rhodamin B dapat
menyebabkan kanker, keracunan, iritasi paru-paru, mata, tenggorokan, hidung,
dan usus.
Kasus penggunaan ketiga bahan berbahaya tersebut pada produk pangan
bukanlah sebuah hal yang baru. Banyak berita dimana pedangang yang ditangkap
karena dalam produk dagangan makanannya terbukti mengandung bahan-bahan
tersebut. Akan tetapi tak menampik diluar sana masih banyak yang belum terbukti
adanya.
Berangkat dari masalah ini, kelompok kami berinisiatif untuk melakukan
pengujian pada pedangang bakso yang berjualan di area sekitar WM dan di
Surabaya. Kami memutuskan untuk mengumpulkan juga beberapa sampel dari
pedangang pentol yang ada di daerah Surabaya adalah karena kami merasa bahwa
sampel dari sekitar WM jumlahnya tidak memenuhi jumlah sampel yang ingin
kami uji.
Kami mengumpulkan 10 sampel yang berbeda dari area sekitar WM dan
di daerah Surabaya. Pengujian ini kami lakukan dengan metode kualitatif karena
keterbatasan peralatan yang kami gunakan. Pengujian ini dilakukan selama sehari
berturut-turut dengan harapan hasil yang kami peroleh dapat kami bahas pada
keesokan harinya.
Hasil pengujian kami menyatakan bahwa beberapa sampel pentol positif
mengandung boraks dan beberapa sampel saus bakso positif mengandung
Rhodamin B. Hasil uji formalin diperoleh hasil negatif dari semua sampel.
Dari hasil pengujian kami dapat melihat bahwa separuh dari sampel
memiliki hasil negatif pada pengujiannya. Hal ini berarti bahwa para pedagang
yang memiliki hasil negatif ini telah memenuhi etika profesi dan menghargai
kerja. Dalam suatu pekerjaan meskipun hanya seorang pedangang pentol memiliki
aturan-aturannya. Produsen dilarang untuk menambahkan bahan-bahan tambahan
pangan yang berbahaya. Maka dari itu, juga telah diatur di dalam perundang-
undangan.

1.3 METODE PENGUJIAN


1.3.1 Uji Kandungan Boraks Pada Pentol
1.3.1.1 Alat dan Bahan:
 Kunyit
 Tusuk Gigi
 Sampel Pentol
1.3.2 Cara Kerja:
 Mengupas Kunyit
 Memotong kunyit menjadi dua bagian
 Menusukan tusuk gigi pada kunyit yang sudah di kupas
 Menunggu ± 10menit
 Menusukan tusuk gigi yang telah ditusukan pada kunyit, pada sampel
pentol yang akan di uji
 Menunggu selama ±15menit
 Menyiapakan kontrol tusuk gigi, sebagai pembanding
 Hasil uji yang positif ditunjukan dengan perubahan warna dari jingga ke
merah
1.3.2 Uji Kandungan Formalin pada Pentol
1.3.2.1 Alat dan Bahan:
 Kulit buah naga
 Pisau
 Sendok
 Mangkuk
 Mortal
 Sampel Pentol
1.3.2.2 Cara Kerja
 Mengambil bagian dalam kulit buah naga dengan cara di keruk
 Menghancurkan kulit buah naga
 Melarutkan dalam air
 Merendam sampel dengan air kulit buah naga
 Menunggu selama ± 15 menit
 Menyiapkan kontrol, sebagia pambanding
 Hasil uji yang positif menunjukan perubahan warna menjadi lebih muda
1.3.3 Uji Kandungan Rhodamin B pada saus
1.3.3.1 Alat dan Bahan:
 Air Hangat
 Garam
 Sendok
 Kertas Saring
 Penggaris
 Pensil

1.3.3.2 Cara Kerja


 Melarutkan garam dalam air garam, Homogenkan
 Menunggu hingga dingin
 Menyiapkan kertas saring,memberi garis horizontal pada kertas dengan
menggunakan pensil pada bagian tengah kertas saring
 Meneteskan saus pada bagian tengah kertas saring, (sejajar dengan garis
pensil)
 Mencelupkan kertas pada air garam yang telah dingin, samapi mendekati
garis (garis pensil tidak tercelup)
 Mengamati perubahan warna atau gradasi warna
 Hasil sampel yang positif menunjukangradasi warna, contoh: merah ke
hijau

1.3.4 Hasil Pengamatan


Sampel Uji Boraks Uji Formalin Uji Rhodamin-B
A + - +
B - + -
C
D - - -
E ++ - -
F +++ + +
G - + -
H - - -
I ++ + +
J - - -
*) Sampel C mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dipakai dan
diuji.
1.3.5 Pembahasan
Pengujian boraks pada pentol sampel A,B,D,E,F,G,H,I dan J kami
menggunakan kunyit sebaga bahan uji. Jika kunyit direaksikan dengan
boraks akan menghasilkan warna merah/orange.Dari hasil pengujian
yang kami lakukan, sampel pentol A,E,F dan I menghasilkan perubahan
warna tusuk gigi yang awalnya berwarna kuning cerah (warna kunyit)
berubah menjadi warna orange ke merahan. Hal ini menunjukan bahwa
sampel pentol A,E,F dan I diduga mengandung boraks.
Pengujian formalin pada pentol sampel A,B,D,E,F,G,H,I dan J
kami menggunakan air rendaman kulit buh naga sebagai bahan uji. Jika
air rendaman buah naga direaksikan dengan formalin akan mengalami
perubahan warna . Dari hasil pengujian yang kami lakukan, sampel
B,F,G dan I yang direndam dengan air rendaman kulit buah naga tidak
mengalami perubahan warna. Hal ini mennunjukan bahwa sampel B,F,G
dan I diduga mengandung formalin.
Pengujian Rhodamin-B pada saos tomat sampel A,B,D,E,F,G,H,I
dan J kami menggunakan kertas saring sebagai alat uji. Sampel saus
mengandung Rhodamin-B apabila terjadi peningkatan atau pergeseran
warna pada kertas saring. Dari hasil pengujian yang kami lakukan ,
sampel A, F dan I mengalami pergeseran warna pada kertas saring. Ha
ini menunjukkan bahwa saus sampel A,F dan I mengandung Rhodamin-
B.
1.4 STUDI PUSTAKA
1.4.1 Pengertian Etika,Profesi dan Etika Profesi

1.4.1.1PENGERTIAN ETIKA

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata ‘etika’
yaitu ethossedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak
arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat,
akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat
kebiasaan.Menurut Brooks (2007), etika adalah cabang dari filsafat yang
menyelidiki penilaian normatif tentang apakah perilaku ini benar atau apa yang
seharusnya dilakukan. Kebutuhan akan etika muncul dari keinginan untuk
menghindari permasalahan – permasalahan di dunia nyata.
Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut di atas dapat
diklasifikasikan menjadi tiga (3) jenis definisi, yaitu sebagai berikut:
1. Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus
membicarakan tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.
2. Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan
baik buruknya perilaku manusia dalam kehidupan bersama.
Definisi tersebut tidak melihat kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena
adanya ketidaksamaan waktu dan tempat, akhirnya etika menjadi ilmu yang
deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.
3. Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat
normatif, dan evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap
perilaku manusia. Dalam hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup
informasi, menganjurkan dan merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat
informatif, direktif dan reflektif.

1.4.1.2PENGERTIAN PROFESI
Profesi sendiri berasal dari bahasa latin “Proffesio” yang mempunyai dua
pengertian yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian
yang lebih luas menjadi kegiatan “apa saja” dan “siapa saja” untuk memperoleh
nafkah yang dilakukan dengan suatu keahlian tertentu. Sedangkan dalam arti
sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu
dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan
baik. Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan
kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi
kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang
benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan
dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas,
mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya serta
adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok
anggota yang menyandang profesi tersebut.
1.4.1.3PENGERTIAN ETIKA PROFESI
Etika profesi adalah sikap etis sebagai bagian integral dari sikap hidup
dalam menjalankan kehidupan sebagai pengemban profesi.Etika profesi adalah
cabang filsafat yang mempelajari penerapan prinsip-prinsip moral dasar atau
norma-norma etis umum pada bidang-bidang khusus (profesi) kehidupan
manusia.Etika Profesi adalah konsep etika yang ditetapkan atau disepakati pada
tatanan profesi atau lingkup kerja tertentu, contoh : pers dan jurnalistik,
engineering (rekayasa), science, medis/dokter, dan sebagainya.Etika profesi
Berkaitan dengan bidang pekerjaan yang telah dilakukan seseorang sehingga
sangatlah perlu untuk menjaga profesi dikalangan masyarakat atau terhadap
konsumen (klien atau objek). Etika profesi adalah sebagai sikap hidup untuk
memenuhi kebutuhan pelayanan profesional dari klien dengan keterlibatan dan
keahlian sebagai pelayanan dalam rangka kewajiban masyarakat sebagai
keseluruhan terhadap para anggota masyarakat yang membutuhkannya dengan
disertai refleksi yang seksama, (Anang Usman, SH., MSi.)

Prinsip-Prinsip Etika Profesi


Tuntutan profesional sangat erat hubungannya dengan suatu kode etik untuk
masing-masing profesi. Kode etik itu berkaitan dengan prinsip etika tertentu
yang berlaku untuk suatu profesi. Di sini akan dikemukakan empat prinsip etika
profesi yang paling kurang berlaku untuk semua profesi pada umumnya. Tentu
saja prinsip-prinsip ini sangat minimal sifatnya, karena prinsip-prinsip etika
pada umumnya yang paling berlaku bagi semua orang, juga berlaku bagi kaum
profesional sejauh mereka adalah manusia.
1. Pertama, prinsip tanggung jawab.
Tanggung jawab adalah satu prinsip pokok bagi kaum profesional, orang
yang profesional sudah dengan sendirinya berarti orang yang bertanggung
jawab. Pertama, bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaannya
dan terhadap hasilnya. Maksudnya, orang yang profesional tidak hanya
diharapkan melainkan juga dari dalam dirinya sendiri menuntut dirinya
untuk bekerja sebaik mungkin dengan standar di atasrata-rata, dengan hasil
yang maksimum dan dengan moto yang terbaik. Ia bertanggung jawab
menjalankan pekerjaannya sebaik mungkin dan dengan hasil yang
memuaskan dengan kata lain. Ia sendiri dapat mempertanggungjawabkan
tugas pekerjaannya itu berdasarkan tuntutan profesionalitasnya baik
terhadap orang lain yang terkait langsung dengan profesinya maupun yang
terhadap dirinya sendiri. Kedua, ia juga bertanggung jawab atas dampak
profesinya itu terhadap kehidupan dan kepentingan orang lain khususnya
kepentingan orang-orang yang dilayaninya. Pada tingkat dimana profesinya
itu membawa kerugian tertentu secara disengaja atau tidak disengaja, ia
harus bertanggung jawab atas hal tersebut, bentuknya bisa macam-macam.
Mengganti kerugian, pengakuan jujur dan tulus secara moral sebagai telah
melakukan kesalahan: mundur dari jabatannya dan sebagainya.

2. Prinsip kedua adalah prinsip keadilan .


Prinsip ini terutama menuntut orang yang profesional agar dalam
menjalankan profesinya ia tidak merugikan hak dan kepentingan pihak
tertentu, khususnya orang-orang yang dilayaninya dalam rangka profesinya
demikian pula. Prinsip ini menuntut agar dalam menjalankan profesinya
orang yang profesional tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap
siapapun termasuk orang yang mungkin tidak membayar jasa
profesionalnya .prinsip “siapa yang datang pertama mendapat pelayanan
pertama” merupakan perwujudan sangat konkret prinsip keadilan dalam arti
yang seluas-luasnya .jadi, orang yang profesional tidak boleh membeda-
bedakan pelayanannya dan juga kadar dan mutu pelayanannya itu jangan
sampai terjadi bahwa mutu dan itensitas pelayanannya profesional
dikurangi kepada orang yang miskin hanya karena orang miskin itu tidak
membayar secara memadai. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa kasus
yang sering terjadi di sebuah rumah sakit, yang mana rumah sakit tersebut
seringkali memprioritaskan pelayanan kepada orang yang dianggap mampu
untuk membayar seluruh biaya pengobatan, tetapi mereka melakukan hal
sebaliknya kepada orang miskin yang kurang mampu dalam membayar
biaya pengobatan. Penyimpangan seperti ini sangat tidak sesuai dengan
etika profesi, profesional dan profesionalisme, karena keprofesionalan
ditujukan untuk kepentingan orang banyak (melayani masyarakat) tanpa
membedakan status atau tingkatkekayaanorangtersebut.
3. Prinsip ketiga adalah prinsip otonomi.
Ini lebih merupakan prinsip yang dituntut oleh kalangan profesional
terhadap dunia luar agar mereka diberi kebebasan sepenuhnya dalam
menjalankan profesinya. Sebenarnya ini merupakan kensekuensi dari
hakikat profesi itu sendiri. Karena, hanya kaum profesional ahli dan
terampil dalam bidang profesinya, tidak boleh ada pihak luar yang ikut
campur tangan dalam pelaksanaan profesi tersebut. ini terutama ditujukan
kepada pihak pemerintah. Yaitu, bahwa pemerintah harus menghargai
otonomi profesi yang bersangkutan dan karena itu tidak boleh mencampuri
urusan pelaksanaan profesi tersebut. Otonomi ini juga penting agar kaum
profesional itu bisa secara bebas mengembangkan profesinya, bisa
melakukan inovasi, dan kreasi tertentu yang kiranya berguna bagi
perkembangan profesi itu dan kepentingan masyarakat luas. Namun begitu
tetap saja seorang profesional harus diberikan rambu-rambu / peraturan
yang dibuat oleh pemerintah untuk membatasi / meminimalisir adanya
pelanggaran yang dilakukan terhadap etika profesi, dan tentu saja peraturan
tersebut ditegakkan oleh pemerintah tanpa campur tangan langsung
terhadap profesiyangdikerjakanolehprofesionaltersebut.
Hanya saja otonomi ini punya batas-batasnya juga. Pertama, prinsip otonomi
dibatasi oleh tanggung jawab dan komitmen profesional (keahlian dan moral)
atas kemajuan profesi tersebut serta (dampaknya pada) kepentingan
masyarakat. Jadi, otonomi ini hanya berlaku sejauh disertai dengan tanggung
jawab profesional. Secara khusus, dibatasi oleh tanggung jawab bahwa orang
yang profesional itu, dalam menjalankan profesinya secara otonom, tidak
sampai akan merugikan hak dan kewajiban pihak lain. Kedua, otonomi juga
dibatasi dalam pengertian bahwa kendati pemerintah di tempat pertama
menghargai otonom kaum profesional, pemerintah tetap menjaga, dan pada
waktunya malah ikut campur tangan, agar pelaksanaan profesi tertentu tidak
sampai merugikan kepentingan umum. Jadi, otonomi itu hanya berlaku sejauh
tidak sampai merugikan kepentingan bersama. Dengan kata lain, kaum
profesional memang otonom dan bebas dalam menjalankan tugas profesinya
asalkan tidak merugikan hak dan kepentingan pihak tetentu, termasuk
kepentingan umum. Sebaliknya, kalau hak dan kepentingan pihak tertentu
dilanggar, maka otonomi profesi tidak lagi berlaku dan karena itu pemerintah
wajib ikut campur tangan dengan menindak pihak yang merugikan pihak lain
tadi. Jadi campur tangan pemerintah disini hanya sebatas pembuatan dan
penegakan etika profesi saja agar tidak merugikan kepentingan umum dan
tanpa mencampuri profesi itu sendiri. Adapun kesimpangsiuran dalam hal
campur tangan pemerintah ini adalah dapat dimisalkan adanya oknum salah
seorang pegawai departemen agama pada profesi penghulu, yang misalnya saja
untuk menikahkan sepasang pengantin dia meminta bayaran jauh lebih besar
daripada peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.
4. Prinsip integritas moral.
Berdasarkan hakikat dan ciri-ciri profesi di atas terlihat jelas bahwa orang
yang profesional adalah juga orang yang punya integritas pribadi atau moral
yang tinggi. Karena, ia mempunyai komitmen pribadi untuk menjaga
keluhuran profesinya, nama baiknya dan juga kepentingan orang lain dan
masyarakat. Dengan demikian, sebenarnya prinsip ini merupakan tuntutan
kaum profesional atas dirinya sendiri bahwa dalam menjalankan tugas
profesinya ia tidak akan sampai merusak nama baiknya serta citra dan
martabat profesinya. Maka, ia sendiri akan menuntut dirinya sendiri untuk
bertanggung jawab atas profesinya serta tidak melecehkan nilai yang
dijunjung tinggi dan diperjuangkan profesinya. Karena itu, pertama, ia tidak
akan mudah kalah dan menyerah pada godaan atau bujukan apa pun untuk
lari atau melakukan tindakan yang melanggar niali uang dijunjung tinggi
profesinya. Seorang hakim yang punya integritas moral yang tinggi
menuntut dirinya untuk tidak mudah kalah dan menyerah atas bujukan apa
pun untuk memutuskan perkara yang bertentangan dengan prinsip keadilan
sebagai nilai tertinggi yang diperjuangkan profesinya. Ia tidak akan mudah
menyerah terhadap bujukan uang, bahkan terhadap ancaman teror, fitnah,
kekuasaan dan semacamnya demi mempertahankan dan menegakkan
keadilan. Kendati, ia malah sebaliknya malu kalau bertindak tidak sesuai
dengan niali-nilai moral, khususnya nilai yang melekat pada dan
diperjuangkan profesinya. Sikap malu ini terutama diperlihatkan dengan
mundur dari jabatan atau profesinya. Bahkan, ia rela mati hanya demi
memepertahankan kebenaran nilai yang dijunjungnya itu. Dengan kata lain,
prinsip integritas moral menunjukan bahwa orang tersebut punya pendirian
yang teguh, khususnya dalam memperjuangjan nilai yang dianut
profesinya. Biasanya hal ini (keteguhan pendirian) tidak bisa didapat secara
langsung oleh pelaku profesi (profesional), misalnya saja seorang yang baru
lulus dari fakultas kedokteran tidak akan langsung dapat menjalankan
seluruh profesi kedokterannya tersebut, melainkan dengan pengalaman
(jam terbang) dokter tersebut dalam melayani masyarakat.
Kode etik profesi merupakan sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi
yang bersangkutan. Maksudnya bahwa etika profesi dapat memberikan suatu
pengetahuan kepada masyarakat agar juga dapat memahami arti pentingnya
suatu profesi, sehingga memungkinkan pengontrolan terhadap para pelaksana
di lapangan kerja (kalanggan sosial).
Kode etik profesi mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi
tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Arti tersebut dapat
dijelaskan bahwa para pelaksana profesi pada suatu instansi atau perusahaan
yang lain tidak boleh mencampuri pelaksanaan profesi di lain instansi atau
perusahaan.
Tanggung jawab profesi yang lebih spesifik seorang professional diantaranya :
1. Mencapai kualitas yang tinggi dan efektifitas baik dalam proses maupun
produk hasil kerja profesional.
2. Menjaga kompetensi sebagai professional.
3. Mengetahui dan menghormati adanya hukum yang berhubungan dengan
kerja yang profesional.
4. Menghormati perjanjian, persetujuan, dan menunjukkan tanggung jawab.
Di Indonesia dalam hal kode etik telah diatur termasuk kode etik sebagai
seorang insinyur yang disebut kode etik insinyur Indonesia dalam “catur karsa
sapta dharma insinyur Indonesia. Dalam kode etik insinyur terdapat prinsip-
prinsip dasar yaitu :
1. Mengutamakan keluhuran budi.
2. Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan
kesejahteraan umat manusia.
3. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai
dengan tugas dan tanggungjawabnya.
4. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional
keinsinyuran.

1.4.2 PENGERTIAN, EFEK PENGGUNAAN BORAKS DAN RHODAMIN


B

Menurut KBBI, pengertian boraks adalah bahan pembersih (antiseptik; zat


pembantu melelehkan zat padat) yang berupa hablur (kristal) berwarna kuning atau
serbuk berwarna cokelat. Boraks merupakan senyawa kimia dengan nama natrium
tetraborat dan berbentuk kristal lunak. Boraks bila dilarutkan dalam air akan terurai
menjadi natrium hidroksida serta asam borat.Baik boraks maupun asam borat memiliki
sifat antiseptik, dan biasa digunakan oleh industri farmasi sebagai ramuan obat misalnya
dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut dan obat pencuci mata. Secara lokal
boraks dikenal sebagai ’bleng’ (berbentuk larutan atau padatan/kristal) dan ternyata
digunakan sebagai pengawet misalnya pada pembuatan mie basah, lontong dan bakso.

Boraks dapat menimbulkan efek racun pada manusia, tetapi mekanisme


toksisitasnya berbeda dengan formalin. Toksisitas boraks yang terkandung di dalam
makanan tidak langsung dirasakan oleh konsumen atau bersifat akumulasi
(penumpukan). Boraks yang terdapat dalam makanan akan diserap oleh tubuh dan
disimpan secara kumulatif dalam hati, otak, atau testis (buah zakar). Pemakaian dalam
jumlah banyak dapat menyebabkan demam, depresi, kerusakan ginjal, nafsu makan
berkurang, gangguan pencernaan, kebodohan, kebingungan, radang kulit, anemia, kejang,
pingsan, koma bahkan kematian. Pada dosis cukup tinggi, boraks dalam tubuh akan
menyebabkan demam, anuria, koma, depresi, dan apatis (gangguan yang bersifat
sarafi). Bagi anak kecil dan bayi, bila dosis dalam tubuhnya mencapai 5 gram atau lebih,
akan menyebabkan kematian. Pada orang dewasa, kematian akan terjadi jika dosisnya
telah mencapai 10 – 20 g atau lebih.

Sedangkan pengertian Rhodamin B adalah salah satu zat pewarna sintesis yang bisa
digunakan pada industri tekstil dan kertas. Zat ini ditetapkan sebagi zat yang dilarang
penggunaannya pada mekanan melalui Mentri Kesehatan (Permenkes)
No.722/Menkes/Per/V/85. Zat yang sangat dilarang penggunaanya dalam makanan ini
berbentuk kristal hijau atau serbuk ungu kemerahan, sangat larut dalam air yang akan
menghasilkan warna merah kebiruan dan berfluorensi kuat. Rhodamin B juga merupakan
zat yang larut dalam alkohol, HCl, dan NaOH, selain dalam air (Depkominfo, 2010). Ciri-
ciri makanan dengan pewarna rhodamin B antara lain; warna mencolok, dam cendrung
berpendar, banyak memberikan titik-titik warna kerena tidak homogen (POM, 2010).
Rhodamin B memiliki nama dagang/nama lain, adalah sebagai berikut:
1. Tetra athyl.
2. Rheonine B.
3. D & C red No. 19.
4. CI Basic Violet 10.
5. CI No. 45179.
Pewarna ini mengandung senyawa-senyawa pengotor yang telah terbukti menimbulkan
kanker, namun hasil survei YLKI ditemukan bahwa pewarna ini masih banyak terdapat
di dalam makanan meskipun dilarang penggunaannya (Farida, 2004). Pada manusia zat
warna teksti bukan untuk makanan seperti rhodamin B, dapat melukai mata, merusak hati,
tumor hati, dan karsinogenik (Syamsurizal, 2007).

Zat warna ini diabsorpsi dari dalam saluran pencernaan makanan dan sebagian dapat
mengalami metabolisme oleh mikroorganisme dalam usus. Dari saluran pencernaan
dibawa langsung kehati, melalui vena portal atau melalui sistem limpatik. Di dalam hati,
senyawa metabolisme lalu ditransfortasikan ke ginjal untuk diekskresikan bersama urine.
Senyawa-senyawa tersebut dibawa dalam aliran darah sebagai molekul-molekul yang
tersebar dan melarut dalam plasma, sebagai molekul-molekul yang terikat dengan protein
dan serum dan sebagai molekul-molekul bebas atau yang terkait tanpa mengandung
eritrosit dan unsur-unsur lain pembentuk darah. Zat warna yang dimetabolisme dan
dikonjugasi di hati dalam waktu yang lama akan dapat menyebabkan efek kronis yaitu
kanker (Cahyadi, 2006).

Adapun gejala akut bila terpapar rhodamin B, yaitu:


1. Jika terkena kulit dalam jumlah banyak menimbulkan iritasi pada kulit.
2. Jika terkena mata akan mengalami gangguan penglihatan.
3. Jika terhirup akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, dalam jumlah
banyak menimbulkan kerusakan jaringan dan peradangan pada ginjal.

1.4.3 PENJELASAN KUNYIT DETEKSI BORAKS


Kunyit dapat digunakan untuk mendeteksi boraks karena kunyit mengandung
senyawa kurkumin. Kurkumin dapat mendeteksi adanya kandungan boraks pada
makanan karena kurkumin mampu menguraikan ikatan-ikatan boraks menjadi asam
borat dan mengikatnya menjadi kompleks warna rosa atau yang biasa disebut dengan
senyawa boron cyano kurkumin kompleks. Maka, ketika makanan yang mengandung
boraks ketika diberi tusuk gigi yang terlebih dahulu ditusukkan pada kunyit akan
mengalami perubahan warna menjadi merah kecoklatan.

1.4.4 PENJELASAN LARUTAN GARAM MENDETEKSI RHODAMIN B


Rhodamin B merupakan pewarna sintetik yang terdapat pada bahan pewarna yang
bersifat toksik atau racun bahkan ada yang bersifat karsinogenetik ( dapat menstimulir
timbulnya kanker), salah satu rhodamin b yang telah dilarang untuk digunakan dalam
makanan adalah amarath (merah), rhodamin b sering di tambahkan sebgagi pewarna
makanan seperti kerupuk, saos, kembang gula, sirup ,biskut, sosis, dan masih banyak lagi.
Di laboratorium yang maju anlisis pewarna makanan telah dilakukan dengan berbagai
macam metode, antara lain metode yang digunakan adalah dengan menggunakan
spektrofotometer dan suatu prinsip kromatografi, metode tersebut dapat mendeteksi zat
warna secara teliti, karena itu di butuhkan tersedianya peraltan yang canggih dan pelarut
organik yang cukup mahal harganya, disamping itu metode tersebut memerlukan tenaga
yang profesiona/ahli. Karena beberapa alasan tersebut kelompok kami memilih untuk
mendeteksi kandungan rodhamin b yang ada pada sampel makanan, dengan metode yang
sederhana yaitu dengan menggunakan larutan garam. Alasan digunakan nya larutan
garam di karenakan rhodamin b merupakan senyawa yang sangat mudah larut dalam air
garam (Kelarutan rhodamin b dalam air garam adalah ~50g/L), dan menghasilkan gradasi
warna bila pada sampel yang di uji positif mengandung rodhamin b. Selain larut dalam
air garam rhodamin b juga larut dalam etanol, HCl, NaOH. Kelarutan rhodamin b dalam
air garam adalah ~50g/L.

1.4.5 PENJELASAN LARUTAN BUAH NAGA DETEKSI FORMALIN

Pada kulit buah naga terdapat pigmen antosianin yang berwarna merah hingga biru
yang dapat ditemukan secara luas pada tanaman. Ada beberapa faktor kestabilan
antosianin salah satunya adalah adanya protein. Pigmen antosianin yang bertemu dengan
protein akan bereaksi membentuk endapan,uap ataupun perubahan warna tetapi jika tidak
ada protein atau protein sudah berikatan dengan senyawa lain maka pigmen antosianin
akan tetap terlihat berwarna merah. Dalam kasus ini adalah adanya formalin dalam
sampel makanan. Formalin yang ditambahkan pada bahan pangan akan berikatan dengan
protein yang terkandung dalam bahan pangan tersebut. Oleh karena itu ketika
ditambahkan pigmen antosianin pada sampel, maka pigmen antosianin akan stabil pada
sampel tersebut. Oleh karena itu kulit buah naga dapat digunakan sebagai identifikasi
adanya formalin dalam suatu sampel makanan.

1.4.6 HUKUM YANG MENGATUR PELANGGARAN PENAMBAHAN


BAHAN PANGAN
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 472/ Menkes/ Per/ V/ 1996 tentang
Pengamanan Bahan Berbahaya Bagi Kesehatan menyatakan bahwa
terdapat larangan penggunaan bahan kimia tertentu dalam produk pangan
antara lain adalah penggunaan boraks, rhodamin B, formalin, dan kuning
metanil.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan no. 722/Menkes/Per/IX tahun 1988
hanya terdapat 26 jenis bahan pengawet yang diperbolehkan dalam pangan.
Bahan-bahan tersebut antara lain adalah:

• Asam benzoate
• Asam propionate
• Asam sorbat
• Belerang Oksida
• Etil p-Hidroksida Benzoat
• Kalium Benzoat
• Kalium Bisulfit
• Kalium Meta Bisulfit
• Kalium Nitrat
• Kalium Nitrit
• Kalium Propionat
• Kalium Sulfat
• Kalium Sulfit
• Kalsium Benzoat
• Kalsium Propionat
• Kalsium Sorbat
• Natrium Benzoat
• Metil p-Hidroksi Benzoat
• Natrium Bisulfit
• Natrium Metabisulfit
• Natrium Nitrat
• Natrium Nitrit
• Natrium Propionat
• Natrium Sulfit
• Nisin
• Propil-p-Hidroksi Benzoat
UU No 7 tahun 1996 tentang Pangan menyatakan bahwa pangan adalah
segala sesuatu yang berasal dari sumper hayati & air, baik yang diolah, yang
diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia,
termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan & bahan lain yang
digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, & atau pembuatan
makanan atau minuman.
UU No 8 tahun 1999 berbicara tentang Perlindungan Konsumen. Dalam
UU ini dikatakan dengan jelas bahwa pelaku usaha dilarang untuk
memproduksi & atau memperdagangkan barang & atau jasa yang tidak
memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam UU No 18 tahun 2012 yang mengatur tentang keamanan pangan
menyatakan bahwa terdapat sanksi yang akan diberikan (Pasal 76).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1169/Menkes/Per/X/1999 mengatakan bahwa terdapat bahan-bahan yang
dilarang penggunaannya, antara lain:
• Asam Borat (Boric Acid) dan senyawanya
• Asam Salisilat dan garamnya (Salicylic Acid and its salt)
• Dietilpirokarbonat (Diethylpirocarbonate DEPC)
• Dulsin (Dulcin)
• Kalium Klorat (Potassium Chlorate)
• Kloramfenikol (Chloramphenicol)
• Minyak Nabati yang dibrominasi (Brominated vegetable oils)
• Nitrofurazon (Nitrofurazone)
• Formalin (Formaldehyde)
• Kalium Bromat (Potassium Bromate)
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012
mengatur mengenai bahan tambahan pangan. Dalam peraturan ini
disebutkan bahan-bahan apa saja yang boleh digunakan sebagai bahan
tambahan pangan dan bahan apa saja yang tidak boleh digunakan sebagai
tambahan bahan pangan. Bahan yang tidak boleh digunakan dalam
tambahan pangan antara lain ada boraks, formalin, dan rhodamine B
CONTOH KASUS:
1. Kepala BBPOM Medan Ali Bata Harahap menunjukkan bakso yang
mengandung boraks, MTVN - Budi warsito
Metrotvnews.com, Medan: Bakso mengandung boraks ditemukan dijual di
Ramadan Fair di Medan, Sumatera Utara, Senin 13 Juni 2016. Kandungan
itu ditemukan setelah petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan
(BBPOM) Medan melakukan uji coba laboratorium.

"Bakso ini diambil dari dua pedagang yang berjualan di Ramadan Fair,"
kata Kepala BBPOM Medan Ali Bata Harahap.
Ali Bata mengatakan menyita makanan itu agar tak dijual ke masyarakat.
BBPOM juga memberi peringatan pada pedagang dan panitia Ramadan
Fair untuk lebih mewaspadai dagangan.

Petugas BBPOM Medan menggelar pemeriksaan makanan dan minuman


yang dijual di Ramadan Fair di Jalan Masjid Raya Medan.

Petugas membeli sejumlah makanan dari stand para pedagang untuk diuji
langsung dilokasi tersebut dengan Laboratorium Mobil Keliling. Sidak ini
dilakukan pihak BBPOM untuk mencegah masuknya makanan dan
minuman mengandung bahan berbahaya oleh pedagang.Warga perlu
mewaspadai makanan yang mengandung boraks. Sebab, boraks merupakan
bahan pengawet yang mengandung zat berbahaya bila diserap tubuh.
Bahaya itu di antaranya mengakibatkan depresi, mengganggu fungsi otak,
mengganggu sistem metabolisme tubuh, menyebabkan kanker, bahkan
berujung
Kematian

2. Terindikasi Pakai Formalin dan Borak

Hengky Chandra Agoes

Jum'at, 27 Februari 2015 - 18:15 WIB Sebanyak 10 penjual mi dan bakso


di Musi Rawas terindikasi barang dagangannya mengandung bahan
pengawet boraks dan formalin. Ilustrasi. Sindonews.
A+ A-
MUARABELITI - Sebanyak 10 penjual mi dan bakso di Musi Rawas
terindikasi barang dagangannya mengandung bahan pengawet boraks dan
formalin.

Hal ini setelah dilakukan pengecekan di lapangan oleh petugas Dinas


Perindustrian, Perdagangan dan Pasar (Disperindagsar) Kabupaten Mura
dengan mengambil sampel 10 mi dan bakso di penjual ada.
Kasi Pengawasan Pasar Disperindagsar Kabupaten Mura Arman
mengatakan pihaknya turun kedua lokasi yang banyak terdapat penjual
bakso dan mi yakni di Kecamatan Tugumulyo dan Megang Sakti.

Alasannya karena kedua kecamatan tersebut dianggap rawan disusupi oleh


jaringan industri makanan skala besar.

Saat dilakukan pengecekan di lapangan menggunakan peralatan yang ada.


Sebanyak 10 mi dan bakso yang diambil sampelnya dari penjual terindikasi
mengandung bahan pengawet jenis borak dan formalin.

"Kita cek dilapangan dan sampel yang dites terindikasi dua bahan kimia
pengawet. Sehingga, pihaknya mengirim sampel ke BPOM Sumsel,"
ungkap Arman Jumat (27/2/2015).

Menurut dia, jika hasil BPOM terbukti mengandung bahan berbahaya


tersebut. Tindakan tegas dilakukan dan untuk sekarang pembinaan terhadap
mereka.

Sebab, pengusaha bakso dan mi di Mura berbeda dengan Kota


Lubuklinggau. Mereka menjual dengan skala kecil jika di Lubuklinggau
skala besar dan memiliki cabang yang cukup banyak.

"Dalam sehari pengusaha bakso di Mura hanya memproduksi sekitar tiga


dan satu kilogram. Jika di Lubuklinggau diproduksi dalam jumlah besar,"
jelas dia.

Arman menjelaskan, jika hasil dari BPOM keluar dan menyatakan bahan
makanan tersebut berbahaya maka pihaknya turun dan melakukan
pembinaan.
Jika memang tidak bisa sanksi tegas diberikan. Namun kami harapkan para
pengusaha benar-benar memperhatikan standar kesehatan terhadap produk
makanan yang diperjualbelikan.

Jika menggunakan bahan berbahaya tentunya membahayakan konsumen


yang mengkonsumsinya.

Sementara itu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)


Kabupaten Mura, Ngadi mengatakan dirinya mengimbau para penjual
bakso dan makanan lainnya hendaknya menggunakan bahan-bahan sesuai
aturan kesehatan. Jangan menggunakan bahan kimia berbahaya seperti
borak dan formalin.
BAB II

DOKUMENTASI

Kelompok kami mengumpulkan sampel


dan mulai melakukan pengujian

Kelompok kami mulai melakukan pengujian boraks terhadap pentol dengan


menggunakan tusuk gigi dan kunyit

Pentol yang telah diuji boraks


Salah satu sampel yang mengandung boraks

Tusuk gigi yang digunakan sebagai kontrol


Hasil uji boraks terhadap sampel—sampel yang telah diuji

Melakukan persisapan untuk melakukan uji formalin

Uji formalin yang dilakukan


Hasil uji formalin terhadap salah satu sampel

Melakukan persiapan untuk pengujian saus tomat


Melakukan pengujian terhadap adanya rhodamin-b pada saus tomat

Salah satu hasil uji saus tomat pada sampel yang dilakukan
Melakukan uji pustaka di Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Surabaya dikarenakan
perpustakaan kampus tutup

Ghea, Chelsea, dan Fani sedang melakukan uji pustaka di perpustakaan Widya Mandala

Natalie, Melita, dan Sonia sedang melakukan uji pustaka di perpustakaan


BAB III

DATA PRESENSI

No. No. Pokok Nama 10 Juli ‘17 11 Juli ‘17 12 Juli’17 12 Juli ‘17

1. 6103016007 Fani

2. 6103016012 Natalie Veronica

3. 6103016048 Chelsea Angela

4. 6103016

5. 6103016060 Sonia Ratnasari

6. 6103016065 Gina Melita


BAB IV
KESAN DAN PESAN
5.1 KESAN
 Kesan untuk Pak Suyono

Kegiatan PKL ini dapat dipertahankan karena pembelajaran diluar ruangan dapat
bermanfaat karena bisa mendapatkan wawasan yang baru seperti kelompok kami
mengetahui bahwa pentol yang dijual dipedagang ada yang mengadnung boraks dan saus
yang digunakan kebanyaakan menggunakan pewarna buatan tidak dibuat secara alami.

 Kesan untuk kelompok

Dari kegiatan PKL yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa belum semua pedagang
pentol memperhatikan etika profesi umum dalam pembuatan pentol. Berdasarkan SNI
pentol yang layak dikonsumsi tidak mengandung bahan pengawet maupun bahan
tambahan pangan berbahaya lainnya yang dapat merusak kesehatan tubuh. Jika diliat dari
segi saus yang digunakan oleh penjual pentol , penjual juga kurang memperhatikan etika
pofesi umum karena saus yang dijual mengandung Rhodamin-B. Hal ini dikarenakan
beberapa saus tersebut tidak dibuat langung oleh penjual pentol, namun penjual membeli
dari tempat lain.

5.2 PESAN

 UNTUK PEDAGANG PENTOL

Seharusnya para pedagang pentol lebih jujur dan bertanggung jawab dalam
berjualan. Para pedagang diharapkan lebih memperhatikan bahan apa saja yang ia
gunakan dalam pembuatan pentol tersebut dan lebih teliti dalam memilih saus yang akan
dijual sehingga para konsumen dapat mengkonsumsinya dengan aman.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayati, Diana dan Cahyo Saparinto. 2006. Bahan Tambahan Pangan. Yogyakarta:
Kanisius
Sari, Reni Wulan dkk. 2008. Dangerous Junk Food. Yogyakarta: O2
Eka,R.2013.RahasiaMengetahuiMakananBerbahaya.Jakarta:spasi media
Praja,D,I.2015.Zat Aditif Makanan Manfaat dan Bahayanya.Yogyakarta:Penerbit
Garudhawaca
Sari,R,W,dkk.2008.Bahaya Makanan Cepat Saji dan Gaya Hidup Sehat Dangerous Junk
Food.Yogyakarta:O2
Syamsurizal, 2007. Waspadai makanan Ber-BTP Berbahaya.