Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mekanika Tanah adalah salah satu mata kuliah utama yang harus diketahui
oleh seluruh mahasiswa Teknik Pertambangan. Pada saat proses belajar-
mengajar dikelas mahasiswa akan diajarkan tentang pengenalan tanah dan
mengetahui batas cair, batas plastis, berat jenis, kadar air, falling head , dan
berat isi dari tanah tersebut. Pada saat dikelas mahasiswa diajarkan lebih
fokus kepada teori dari materi serta perhitungan yang dibahas tetapi tidak
terlibat langsung dalam pengerjaannya. Sehingga, dilakukan praktikum agar
mahasiswa tidak hanya paham tentang teori dari materi-materi yang dibahas
tapi juga paham tentang proses mendapatkan nilai-nilai tersebut dilapangan.

1.2 Tujuan Percobaan


Pada praktikum Mekanika Tanah ini akan dilakukan Pengujian batas cair
(liquid limit ), batas palstis ( plastic limit ), berat jenis ( spesific grafity ),
kadar air ( water content ), falling head , dan berat isi. Dalam proses
pengujian ada berapa tujuan yang akan di capai, seperti berikut :
1. Kadar air
a) Untuk dapat melakukan pengujian kadar air
b) Untuk menentukan kadar air suatu sampel tanah
2. Berat jenis
a) Untuk memahami faktor – faktor yang mempengaruhi berat berat
jenis tanah.
b) Untuk memahami cara menentukan berat jenis padatan dengan
piknometer.
3. Batas Cair
a) Mengetahui batas nilai suatu tanah berubah dari keadaan cair
menjadi keadaan plastis.
b) Menentukan kadar air suatu tanah pada keadaan batas cair.

1
4. Batas Plastis
a) Mengetahui kadar air suatu tanah pada keadaan batas plastis.
b) Mengetahui batas terendah dari tingkat keplastisan tanah.
5. Falling Head
a) Mengetahui kecepatan air mengalir melalui contoh tanah berbutir
halus.
b) Mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas.
6. Berat isi
a) Mahasiswa bisa mengetahui berat isi tanah pada kondisi asli pada
suatu tanah.
b) Mengetahui pengaruh dari berat isi tanah.
7. Pengujian Suhu Tanah
a) Mengetahui cara pengukuran suhu tanah.
b) Mengetahui tingkatan suhu tanah.

Diharapkan setelah melakukan percobaan ini, praktikan dapat memahami


fungsi pengujian kadar air, berat jenis, batas cair, batas plastis, falling head,
berat isi, dan pengukuran suhu tanah serta dapat mengaplikasikannya baik di
dalam kegiatan laboratorium maupun di lapangan.

1.3 Alat Dan Bahan


1.3.1 Batas cair (Liquit Limit)
1. Alat batas cair standar
2. Groofing Tool
3. Sendok dempul
4. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram
5. Jangka sorong
6. Air
7. Oven yang dapat dilengkapi dengan pengatur suhu sampai (110
±5) 0C

2
Gambar 1.1 Alat uji liquit limit (cassagrande)

1.3.2 Batas Plastis (Plastis Limit)


1. Plat kaca 45 x 45 x 0,9 cm
2. Sendok dempul panjang 12,5 cm
3. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram
4. Jangka sorong
5. Cawan untuk menentukan kadar air
6. Botol tempat air
7. Air
8. Oven

Gambar 1.2 alat uji plastis limit


1.3.3 Spesific Gravity
1. Picnometer
2. Neraca

3
3. Air suling
4. Kompor listrik

Gambar 1.3 Picnometer


1.3.4 Kadar Air (Water Content)
1. Oven
2. Cawan
3. Neraca

Gambar 1.4 Timbangan digital Gambar 1.5 Oven listrik

1.3.5 Falling Head


1. Tabung parameter yang terdiri dari:
- Batu pori 2 buah

4
- Siil dari pegas 2 buah
- Pegas (peer)
2. Pipa vertikal
3. Gelas ukur
4. Jangka sorong
5. Penggaris
6. Timbangan
7. Alat pencatat waktu
8. Sampel tanah

1.3.6 Berat Isi Tanah


1. Cincin 3 buah
2. Jangka sorong
3. Timbangan

Gambar 1.6 Cincin/Ring Gambar 1.7 Jangka sorong

1.3.7 Pengukur Suhu Tanah


1. Thermocouple
2. Penggaris
3. Palu besi

Gambar 1.8 Thermocouple

5
1.4 Langkah Kerja
1.4.1 Batas Cair (Liquit Limit)
1. Aduk benda uji sebanyak 100 g dengan menggunakan spatula, dan
tambahkan air sambil di aduk hingga tanah menjadi homogen.
2. Setelah merata, letakkan sebagian benda uji diatas mangkuk batas
cair, dan ratakan permukaan hingga bagian paling tebal sekitar 1
cm.
3. Buat alur dengan membagi 2 tanah sample tersebut dengan
groofing tool.
4. Putar tuas alat dengan kecepatan jatuhan mangkuk 2 putaran
perdetik.
5. Lakukan putaran terus hingga belahan sample bersinggungan
sepanjang 1.25 cm dan catat jumlah ketukannya.
6. Ulangi pekerjaan c dan e beberapa kali hingga didapat jumlah
ketukan yang sama.
7. Kembalikan lagi sample uji, dan buat adonan baru dengan
merubah kadar airnya hingga dapat perbedaan jumlah pukulan
sebesar 8 sampai 10 pukulan.

6
Flowchart Percobaan

Liquit Limit

Tanah dicampur air

Ratakan di atterberg setebal 1 cm

Garuk dengan grooving tool casagrande

Mangkuk atterberg di putar antara 10 – 40 kali

Putar hingga tanah menutup lagi sepanjang 1.3 cm

Ulang percobaan di atas dengan sampel berbeda

Hasil percobaan di timbang dan catat beratnya

Oven selama 20 menit , timbang kembali hasil oven dan catat

7
1.4.2 Batas Plastis (Plastis Limit)
1. Letakkan 100 gram benda uji yang sudah dipersiapkan di dalam
sebuah wadah .
2. Aduklah benda uji tersebut sambil menambahkan air sedikit
demi sedikit sampai kadar air merata.
3. Setelah contoh menjadi campuran yang rata, buat bola-bola
tanah dari benda uji itu seberat ± 8 gram, kemudian bola-bola
tanah itu di giling-giling di atas plat kaca. Penggilingan
dilakukan dengan telapak tangan sampai membentuk batang
dengan diameter ± 3 mm.
4. Jika pada saat penggilingan ternyata sebelum benda uji
mencapai diameter ± 3 mm sudah retak, maka benda uji di
satukan kembali, kemudian ditambah sedikit air dan di aduk
sampai merata. Setelah itu, buat bola-bola lagi dan lakukan
kembali penggilingan hingga mencapai diameter ± 3 mm.
5. Jika ternyata penggilingan bola-bola itu bisa mencapai diameter
lebih dari ± 3 mm tanpa menunjukkan retakan-retakan, maka
contoh tanah perlu dibiarkan beberapa menit di udara agar kadar
airnya berkurang sedikit.
6. Pengadukan dan penggilingan terus sampai retakan-retakan itu
terjadi tepat pada saat pilinan mempunyai diameter ± 3 mm.

8
Flowchart Percobaan Batas Limit Plastis
(Plastic Limit)

Aduk benda uji hingga kadar air merata

Letakkan benda uji diatas plat kaca

Buat bola-bola tanah dari uji seberat ± 8 gram, kemudian digeleng-gelengkan


diatas plat kaca dengan telapak tangan dengan kecepatan 80-90 gelengan per
menit

Pergelengan dilakukan terus hingga benda uji membentuk batang dengan diameter
3 mm. jika benda uji sudah retak sebelum itu maka satukan kembali ditambah air
sedikit lalu diaduk sampai merata. Jika penggelengan bola lebih kecil dari 3 mm
tanpa menunjukkan keretakan, maka benda uji perlu dibiarkan beberapa saat di
udara agar kadar airnya berkurang

Pengadukan dan penggelengan diulangi terus hingga retakan-retakan itu terjadi


tepat pada saat gelengan mempunyai diameter 3 mm

Periksa kadar air tanah diatas, pemeriksaan dilakukan tiap percobaan benda uji
untuk perbedaan kadar air 5 % ( maksimum)

9
1.4.3 Spesific Gravity (GS)
Benda Uji Yang Dipersiapkan:
Benda uji (tanah) dalam keadaan kering oven dan diambil 20 gram
untuk botol ukuran 50 gram untuk picnometer

Kalibrasi Labu Ukur:


1. Menimbang labu ukur dengan ketelitian 0,01 gram
2. Labu diisi dengan air sampai 2/3 bagian kemudian didihkan
3. Ketika air dalam labu mendidih, tambahkan air dingin sampai
labu terisi penuh kemudian diangkat
4. Timbang labu dengan ketelitian 0,01 gram
5. Ukur suhu dengan thermometer suhu
6. Ulangi langkah-langkah diatas sampai suhu mencapai 30 0C
7. Kemudian dari data yang ada dibuat grafik kalibrasi labu ukur

10
Flowchart Percobaan
Kalibrasi Alat Spesific Gravity

Siapkan labu / picnometer yang sudah dikalibrasi

Siapkan sampel tanah kering 20 gram

Masukkan sampel ke dalam labu ukur tambahkan air sampai setengah bagian dan
didihkan

Setelah mendidih tambahkan air pelan-pelan kemudian angkat


(perhatikan saat mendidih, tutup jangan dipasang)

Tambahkan air sampai penuh, tutup kemudian timbang

Ukur suhu labu tersebut dengan menggunakan thermometer suhu

Ulangi langkah di atas untuk percobaan berikutnya

11
1.4.4 Kadar Air (Water Content)
1. Sampel tanah ditempatkan pada cawan yang bersih yang telah
diketahui beratnya kemudian diukur berapa penambahan berat
setelah ditambahkan pertikel sampel tanah
2. Sampel tanah kemudian dimasukkan kedalam oven selama ± 20
menit sampai keadaan sampel mencapai berat konstan
3. Setelah ± 20 menit dikeluarkan dari oven, ditimbang dan
beratnya dicatat

1.4.5 Falling Head


1. Tanah yang dipakai dalam keadaan undisturbed sample atay
tanah asli
2. Ambil contoh dilapangan yang sudah ditentukan dengan cetakan
(ring) permeabilitas
3. Ratakan pada ujung dan pangkalnya dengan pisau
4. Masukkan contoh tanah dengan extruder kedalam tabung
permeameter yang sudah dilengkapi dengan porostone (batu
pori) pada ujung dan pangkalnya
5. Setelah itu ukur tinggi sampel lalu timbang ( berat contoh +
tabung saja)
6. Diatas batu pori diletakkan kertas filter, lalu contoh tanah
diatasnya beri lagi kertas filter baru batu pori, lalu kertas
7. Kemudian tutup tabung permeameter sampai menekan pegas
sehingga pegas member tekanan pada contoh tanah, selain itu
juga untuk menjaga tanah tetap pada tempatnya sewaktu tanah
menjadi jenuh
8. Air dialirkan pada pisometer, hilangkan gelembung-gelembung
udaranya
9. Pembacaan pertama setelah contoh tanah jenuh, ukur tinggi air
(Ho) dari datum sampai tinggi mula-mula, catat waktunya (To)
10. Pembacaan kedua dari datum sampai tinggi setelah penurunan
air (H1), catat waktunya (T1)

12
1.4.6 Berat Isi
1. Haluskan sampel tanah.
2. Aduklah benda uji (sample tanah) sambil menambahkan air sedikit
demi sedikit, sembari mengaduk timbanglah berat cincin kosong.
3. Cetaklah benda uji ke dalam cincin.
4. Kemudian timbang cincin yang sudah diisi benda uji tersebut dan
catat.

1.4.7 Pengukuran Suhu Tanah


1. Siapkan titik dimana akan melakukan tempat pengukuran suhu
tanah.
2. Tancapkan besi padu yang sudah disambungkan kabel dari
thermocouple.
3. Lihat angka yang tertera dimonitor thermocouple dan catat.
4. Begitu seterusnya sesuai dengan kedalaman yang mau di uji.

1.5 Teori Singkat


1.5.1 Batas Cair (Liquit Limit)
Untuk mengatur kadar air tanah yang bersangkutan agar memenuhi
persyaratan sangatlah sulit. Oleh karena itu, akan lebih baik jika
dilakukan uji batas cair paling sedikit empat kali pada tanah yang
sama tetapi pada kadar air yang berbeda-beda sehingga jumlah
pukulan N yang dibutuhkan untuk menutup goresan bervariasi antara
15 – 35.
Hubungan antar kadar air dan log N dapat dianggap sebagai suatu
garis lurus. Garis lurus tersebut dapat dinamakan sebagai kurva
aliran (Flow Curve) kadar air yang bersesuaian dengan N=25, yang
ditentukan dari kurva aliran adalah batas cair tanah yang
bersangkutan. Sedangkan kemiringan garis aliran (Flow Line)
didefinisikan sebagai indeks aliran.

13
1.5.2 Batas Plastis (Plastis Limit)
Batas plastis didefinisikan sebagai kadar air, dinyatakan dalam
persen, dimana tanah apabila digulung sampai dengan diameter 1/8”
(3,2 mm) menjadi retak-retak. Batas plastis merupakan batas
terendah dari tingkat keplastisan suatu tanah.

1.5.3 Spesific Gravity (GS)


Berat jenis tanah dapat ditentukan dengan cara membandingkan
antara berat butir tanah tersebut dengan berat air (aquades) yang
mempunyai isi sama pada suhu standart.Berat jenis didefenisikan
sebagai rasio (perbandingan) dari berat isi bahan terhadap berat isi
air

1.5.4 Kadar Air (Water Content)


Suatu contoh tanah kering dicampur dengan air sampai menyatu
dalam keadaan plastis. Contoh tanah ini dibentuk dalam suatu tabung
dengan berat ( W ), kemudian dicelupkan ke dalam air raksa dan
dengan demikian volumenya ( V ) dapat ditentukan.
Kadar air ditentukan dengan menimbang contoh tanah kemudian
dikeringkan dalan oven bertemperatur 1050 - 1000 C dan ditimbang
kembali. Pengeringan harus dilakukan terus sampai tercapai selisih
antara dua penimbangab berturut – turut tidak lebih dari 0,1 % massa
mula – mula dengan intterval penimbangan empat jam. Kebanyakan
tanah cukup dikeringkan dalam oven selama 24 jam kadar air tanah
bersangkut paut dengan kondisi air tanah.

1.5.5 Falling Head


Permeabilitas didefenisikan sebagai sifat bahan berongga yang
kemungkinan air atau cairan lainnya untuk menembus atau
merembes melalui hubungan antar pori. Bahanyang mempunyai
pori-pori kontinu disebut dapat tembus (permeable). Semua jenis
tanah bersifat permeabilitas dimana air merembes melalui
ruang'ruang kosong (pori-pori) yang terdapat diantara butiran tanah.

14
Koefisien permeabilitas tergantung pada ukuran rata-rata pori yang
dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan
struktur tanah.

1.5.6 Berat Isi


Berat isi tanah adalah berat tanah utuh (undisturbed) dalam keadaan
kering dibagi dengan volume tanah, dinyatakan dalam gr/cm3. Nilai
berat isi tanah sangat bervariasi antaara satu titik dengan titik lainnya
karena perbedaan kandungan bahan organic, tekstur tanah,
kedalaman tanah, jenis fauna tanah, dan kadar air tanah

1.5.7 Pengukuran Suhu Tanah


Suhu tanah merupakan hasil dari keseluruhan radiasi yang
merupakan kombinasi emisi panjang gelombang dan aliran panas
dalam tanah. Suhu tanah juga disebut intensitas panas dalam tanah
dengan satuan derajat celcius, derajat farenheit, derajat Kelvin dan
lain-lain. (Kemala Sari Lubis, 2007). Suhu tanah berpengaruh
terhadap penyerapan air. Makin rendah suhu, makin sedikit air yang
di serap oleh akar, karena itulah penurunan suhu tanah mendadak
dapat menyebabkan kelayuan tanaman. Pengukuran suhu tanah
dalam klimatologi harus dihindarkan dari beberapa gangguan, baik
itu gangguan likal maupun gangguan lain.

15
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Data Hasil Percobaan


2.1.1 Batas Cair (Liquit Limit)

Tabel 2.1 Data Hasil Percobaan Liquit Limit


Batas Cair (LL)
Banyak Pukulan Satuan 12 18 27 30
Nomor Cawan 1 2 3 4
Berat cawan (W1) gram 14,1 13,9 13,8 13,9
Berat cawan + tanah basah gram 30,2 27,9 27,7 29,5
(W2)
Berat cawan + tanah gram 27.8 26,3 25,9 26,7
kering (W3)
Berat air gram 2,4 1,6 1,8 2,8
Berat tanah kering gram 13,7 12,4 12,1 12,8
Kadar air % 17.518 12.903 14.876 21.87
5

2.1.2 Batas Plastis (Plastis Limit)


Tabel 2.2 Data hasil Percobaan Plastis Limit
Batas Plastis
Nomor Cawan 1 2 3
Berat cawan (W1) 14,1 14,0 14,2
Berat cawan + tanah basah (W2) 15,3 15,1 15,2
Berat cawan + tanah kering (W3) 15,0 14,9 15,0
Berat air 0,3 0,2 0,2
Berat tanah kering 0,9 0,9 0,8
Kadar air (%) 33,333 22,222 25

16
2.1.3 Spesific Gravity
Tabel 2.3 Data Hasil Percobaan Spesific Gravity
Labu Ukur Satuan 1 2 3
Berat tanah kering (Ws) (gram) 22,8 39,4 33,7
Berat labu + air + tanah (W1) (gram) 359,6 362,3 359,3
Suhu (0C) (0C) 60,8 68,1 64,9
Berat labu + air (W2) (gram) 348,4 348,4 348,4
Specific gravity 1,965 1,545 1,478
Rata-rata Gs 1,662

2.1.4 Kadar Air (Water Content)


Tabel 2.4 Data Hasil Percobaan Water Content
Cawan satuan rumus 1 2 3
Volume Air 50 100 150
Berat cawan (W1) (gram) 13,8 13,9 14,2
Berat cawan + tanah basah (gram) 37,9 34,6 29,0
(W2)
Berat cawan + tanah kering (gram) 37,3 33,9 27,8
(W3)
Berat air (Wa) (gram) (W2 - W3) 0,6 0,7 1,2
Berat tanah kering (Wt) (gram) (W3 - W1) 23,5 20 13,6
Kadar air (W) (%) ( Wa ) 2,5 3,5 8,82
Wt
Rata-rata kadar air (%) 4,94

2.1.5 Falling Head


Tabel 2.5 Data Hasil Percobaan Falling Head
No. Contoh Satuan 1 2
Φ Dalam Pipa cm 1,67 1,67
A Pot. Dalam Pipa cm2 2,189 2,189
Φ Contoh Tanah cm 6,33 6,33
A Pot. Contoh Tanah cm2 31,454 31,454

17
Panjang Contoh Tanah cm 6,965 6,965
Waktu 0,6 0,5
Tinggi Air Pada T1 H1 28,4 28,4
Tinggi Air Pada T2 H2 17 17
H1 / H2 1,670 1,670
Log H1/H2 0,223 0,223
2,3 / (T2 – T1) -23 -23
a . L .2,3 h1 cm/s 0,414 0,497
KT = Log
A . Δt h2

2.1.6 Berat Isi


Tabel 2.6 Data Hasil Percobaan Berat Isi
Nomor cincin Satauan 1 2 3
Berat cincin kosong (W1) Gram 10,9 9,9 9,7
Berat cincin + tanah (W2) Gram 79,6 71,2 66,4
Diameter cincin cm 4,340 4,345 4,435
Tinggi cincin cm 2,245 2,04 2,08
Volume cincin cm3 33,195 30,215 32,101
Berat isi tanah (γ) Gram/cm3 2,069 2,029 1,766

2.1.7 Pengukuran Suhu Tanah


Tabel 2.7 Data Hasil Percobaan Pengukuran Suhu Tanah
Kedalaman Percobaan Suhu
(cm) 1 2 3 Rata-Rata
Suhu (0C) (0C)
0 36,3 35,7 40,2 37,40
5 33,5 36,5 37,9 35,96
10 32,4 36,9 40,7 36,66
20 31 35,4 64,2 43,53
50 33,3 38,4 36,5 36,06
100 35 41,5 42,1 39,53

18
2.2 Pengolahan Dan Analisa Data
2.2.1 Batas Cair (Liquit Limit)
- Berat Air
Berat Air = W2 – W3
Berat air 1 = 30,2 – 27,8 = 2,4
Berat air 2 = 27,9 – 26,3 = 1,6
Berat air 3 = 27,7 – 25,9 = 1,8
Berat air 4 = 29,5 – 26,7 = 2,8

- Berat Tanah kering


Berat Tanah Kering = W3 – W1
Berat tanah kering 1 = 27,8 – 14,1 = 13,7
Berat tanah kering 2 = 26,3 – 13,9 = 12,4
Berat tanah kering 3 = 25,9 – 13,8 = 12,1
Berat tanah kering 4 = 26,7 – 13,9 = 12,8

- Kadar air
W3 − W2
W= x 100 %
𝑊3 − 𝑊1
2,4
W sample 1 = x 100 %
13.7
W sample 1 = 17,518 %

1,6
W sample 2 = x 100 %
12,4
W sample 2 = 12,903 %

1,8
W sample 3 = x 100 %
12,1
W sample 3 = 14,876 %

2,8
W sample 4 = x 100 %
12,8
W sample 4 = 21,875 %

19
2.2.2 Batas Pastis (Plastis Limit)
- Berat Air
Berat Air = W2 – W3
Berat air 1 = 15,3 – 15,0 = 0,3
Berat air 2 = 15,1 – 14,9 = 0,2
Berat air 3 = 15,2 – 15,0 = 0,2

- Berat Tanah kering


Berat Tanah Kering = W3 – W1
Berat tanah kering 1 = 15,0 – 14,1 = 0,9
Berat tanah kering 2 = 14,9 – 14,0 = 0,9
Berat tanah kering 3 = 15,0 – 14,2 = 0,8

- Kadar air
W3 − W2
W= x 100 %
𝑊3 − 𝑊1
0,3
W sample 1 = x 100 %
0,9
W sample 1 = 33,333 %

0,2
W sample 2 = x 100 %
0,9
W sample 2 = 22,222 %

0,2
W sample 3 = x 100 %
0,8
W sample 3 = 25 %

20
Gambar 2.1 Grafik Hubungan Jumlah Pukulan dan Kadar Air

2.2.3 Spesific Gravity


Perhitungan Spesific Gravity Tanah:

ws
Gs =
W2 + Ws − W1

Keterangan :
Gs = specific gravity
Ws = berat tanah kering (gram)
W1 = berat labu + air + tanah (gram)
W2 = berat labu + air (gram)

22,8
- Gs (1) = 348,4+22,8 −359,6

22,8
Gs (1) =
11,6
Gs (1) = 1,965
39,4
- Gs (2) = 348,4+39,4 −362,3
39,4
Gs (2) =
25,5
Gs (2) = 1,545

21
33,7
- Gs (3) = 348,4+33,7 −359,3

33,7
Gs (3) =
22,8
Gs (3) = 1,478

Gs1+Gs2+Gs3
- Gs (rata − rata) = 3

1,965 + 1,545 + 1,478


=
3
= 1,662

2.2.4 Kadar Air (Water Content)


Kadar air yang dapat dihitung sebagai berikut :
Berat cawan + tanah W2 gram
Berat cawan + tanah kering W3 gram
Berat cawan kosong W1 gram
Berat air Wa = ( W2 – W3) gram
Berat bahan kering Wt = ( W3 – W1) gram
W2−W3
Kadar air W= x 100%
W3−W1

- Berat Air
Berat Air = W2 – W3
Berat air 1 = 37,9 – 37,3 = 0,6
Berat air 2 = 34,6 – 33,90 = 0,7
Berat air 3 = 29,08 – 27,8 = 1,2

- Berat Tanah kering


Berat Tanah Kering = W3 – W1
Berat tanah kering 1 = 37,3 – 13,8 = 23,5
Berat tanah kering 2 = 33,9 – 13,9 = 20
Berat tanah kering 3 = 27,8 – 14,2 = 13,6

- Kadar air
W3 − W2
W= x 100 %
𝑊3 − 𝑊1

22
0,6
W sample 1 = x 100 %
23,5
W sample 1 = 2,5 %

0,7
W sample 2 = x 100 %
20
W sample 2 = 3,5 %

1,2
W sample 3 = x 100 %
13,6
W sample 3 = 8,82 %

2,5+3,5+8,82
- W rata − rat = 3
14,82
=
3
= 4,94 %

2.2.5 Falling Head


a . L .2,3 h1
KT = Log
A . Δt h2

KT = koefisien rembesan (cm/det)


a = luas pipa (cm2)
L = panjang contoh tanah (cm)
A = luas contoh tanah
h1 = tinggi air pada t1
h2 = tinggi air pada t2

- Percobaan Pertama
a . L .2,3 h1
KT = Log
A . Δt h2
1,189 .6,965 .2,3 28,4
= Log
31,454 . 0,6 17
35,066
= Log . 1,670
18,872
= 1,858 . 0,223
= 0,414

23
- Percobaan Kedua
a . L .2,3 h1
KT = Log
A . Δt h2
1,189 .6,965 .2,3 28,4
= Log
31,454 . 0,5 17
35,066
= Log . 1,670
15,727
= 2,230 . 0,223
= 0,497

2.2.6 Berat Isi

W2 − W1
Berat isi tanah (γ) =
V

- Cincin 1
79,6 − 10,9
Berat isi tanah (γ) =
33,195

Berat isi tanah (γ) = 2,069 gr/cm3

- Cincin 2
71,2 − 9,9
Berat isi tanah (γ) =
30,215

Berat isi tanah (γ) = 2,029 gr/cm3

- Cincin 3
66,4 − 9,7
Berat isi tanah (γ) =
32,101

Berat isi tanah (γ) = 1,766 gr/cm3

2.2.7 Pengukuran Suhu Tanah


- Rata-Rata Kedalaman 0 cm
36,3 + 35,7 + 40,2
=
3
112,2
=
3

24
= 37,40 ℃
- Rata-Rata Kedalaman 5 cm
33,5 + 36,5 + 37,9
=
3
107,9
=
3
= 35,96
- Rata-Rata Kedalaman 10 cm
32,4 + 36,9 + 40,7
=
3
110
=
3
= 36,66
- Rata-Rata Kedalaman 20 cm
31 + 35,4 + 64,2
=
3
130,6
=
3
= 43,53
- Rata-Rata Kedalaman 50 cm
33,3 + 38,4 36,5
=
3
108,18
=
3
= 36,06
- Rata-Rata Kedalaman 100 cm
35 + 41,5 + 42,1
=
3
118,59
=
3
= 39,53

25
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1) Dari percobaan ini dapat diketahui langkah-langkah untuk melakukan
pengujian kadar air. Sehingga praktikan benar-benar memahami cara
mendapatkan nilai kadar air, Berat Jenis, Batas cair, Batas Plastis,
bukan hanya melalui teori dalam kelas tetapi juga melalui praktikum
secara langsung. Sehingga praktikan dapat mengaplikasikannya baik di
dalam kegiatan laboratorium maupun di lapangan.
2) Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kadar
air rata-rata pada sampel tanah adalah 4,94 %.
3) Berat Jenis dipengaruhi oleh suhu dan komposisinya.pada percobaan
didapatkan berat jenis rata-rata adalah 1.662

3.2 Saran
1) Sebaiknya pada percobaan selanjutnya sampel yang diuji lebih banyak,
agar data yang diperoleh lebih akurat.
2) Sebaiknya ketelitian dalam praktikum diutamakan, sehingga dapat
meminimalisir kesalahan.

26
Daftar Pustaka

Satya,Awan.”Pengukuran Suhu Dan Kelembapan Udara Di Beberapa


Vegetasi”.14 Agustus 2018.
https://awansatya0711.wordpress.com/2013/01/10/laporan-praktikum-
agroklimatologi-pengukuran-suhu-dan-kelembapan-udara-di-beberapa-vegetasi-2/

Chandra,Pradana.”Pengujian Sifat Fisik Tanah”.14 Agustus 2018.


https://www.scribd.com/document/363387269/Gs-Water-Content

Philips,Lisa.”Laporan Uji Berat Isi Tanah”.14 Agustus 2018.


http://cithorues.blogspot.com/2014/04/bab-iii-berat-jenis-spesific-gravity.html

27