Anda di halaman 1dari 3

ASMA

1. Pengertian
Asma adalah mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan karakteristik sebagai berikut:
timbul secara episodik, cenderung pada malam/dini hari (nokturnal), musiman, setelah
aktivitas fisik, serta terdapat riwayat asma atau atopi lain pada pasien dan/atau keluarganya.
Prevalens total asma di seluruh dunia diperkirakan 7,2% (10% pada anak) dan bervariasi
antar negara. Prevalens asma di Indonesia berdasarkan penelitian tahun 2002 pada anak usia
13-14 tahun adalah 6,7%.
Eksaserbasi (serangan asma) adalah episode perburukan gejala-gejala asma secara
progresif. Gejala yang dimaksud adalah sesak napas, batuk, mengi, dada rasa tertekan, atau
berbagai kombinasi gejala tersebut. Pada umumnya, eksaserbasi disertai distres pernapasan.
Serangan asma ditandai oleh penurunan PEF atau FEV1. Derajat serangan asma bervariasi
mulai dari yang ringan, sedang, berat dan serangan yang mengancam jiwa, perburukan
dapat terjadi dalam beberapa menit, jam, atau hari. Serangan akut biasanya timbul akibat
pajanan terhadap faktor pencetus (paling sering infeksi virus atau alergen), sedangkan
serangan berupa perburukan yang bertahap mencerminkan kegagalan pengelolaan jangka
panjang penyakit.

2. Anamnesis
Untuk memperkuat dugaan asma, anamnesis harus dilakukan dengan cermat agar
didapatkan riwayat penyakit yang tepat mengenai gejala sulit bernapas, mengi, atau dada
terasa berat yang bersifat episodik dan berkaitan dengan musim, serta adanya riwayat asma
atau penyakit atopi pada anggota keluarga. Pertanyaan berikut ini sangat berguna dalam
pertimbangan diagnosis asma (consider diagnosis of asthma):
- Apakah anak mengalami serangan mengi atau serangan mengi berulang?
- Apakah anak sering terganggu oleh batuk pada malam hari?
- Apakah anak mengalami mengi atau batuk setelah berolahraga?
- Apakah anak mengalami gejala mengi, dada terasa berat, atau batuk setelah terpajan
alergen atau polutan?
- Apakah jika mengalami pilek, anak membutuhkan >10 hari untuk sembuh?
- Apakah gejala klinis membaik setelah pemberian pengobatan antiasma?
Pola gejala harus dibedakan apakah gejala tersebut timbul pada saat infeksi virus atau
timbul tersendiri di antara batuk pilek biasa. Pencetus yang spesifik dapat berupa
aktivitas, emosi (misalnya menangis atau tertawa), debu, makanan/minuman, pajanan
terhadap hewan berbulu, perubahan suhu lingkungan atau cuaca, aroma parfum yang kuat
atau aerosol, asap rokok, atau asap dari perapian. Derajat berat ringannya gejala harus
ditentukan untuk mengarahkan pengobatan yang akan diberikan.

3. Pemeriksaan Fisis
- Kesadaran
- Suhu tubuh
- Sesak napas, apakah terdapat sesak napas
- Tanda gagal napas
- Tanda infeksi penyerta/komplikasi
- Penilaian derajat serangan asma: ringan/sedang/berat/mengancam jiwa

4. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan Fungsi Paru: Peak Flow Meter, spirometer
- Analisis gas darah: pada asma dapat terjadi asidosis respiratorik dan metabolik
- Darah lengkap dan serum elektrolit
- Foto Toraks: pada asma umumnya tampak hiperaerasi, bisa dijumpai komplikasi
berupa atelektasis, pneumotoraks, dan pneumomediastinum
5. Tata laksana
Serangan Asma Ringan
- Jika dengan sekali nebulisasi pasien menunjukkan respons yang baik (complete
response), berarti derajat serangannya ringan.
Pasien diobservasi selama 1-2 jam, jika respons tersebut bertahan, pasien dapat
dipulangkan. Pasien dibekali obat β-agonis (hirupan atau oral) yang harus diberikan tiap 4-6
jam.

- Jika pencetus serangannya adalah infeksi virus, dapat ditambahkan steroid oraljangka
pendek (3-5 hari). (Evidence D)
- Pasien kemudian dianjurkan kontrol ke klinik rawat jalan dalam waktu 24-48jam
untuk evaluasi ulang tata laksana.
Jika sebelum serangan pasien sudah mendapat obat pengendali, obat tersebut diteruskan
hingga evaluasi ulang yang dilakukan di klinik rawat jalan. Namun, jika setelah observasi 2
jam gejala timbul kembali, pasien diperlakukan sebagai serangan asma sedang.

Serangan Asma Sedang


- Jika dengan pemberian nebulisasi dua atau tiga kali pasien hanya menunjukkan respon
- parsial (incomplete response), kemungkinan derajat serangannya sedang. Untuk itu,
derajat serangan harus dinilai ulang sesuai pedoman.
- Jika serangannya memang termasuk serangan sedang, pasien perlu diobservasi
dan ditangani di ruang rawat sehari (RRS). Pada serangan asma sedang, diberikan
kortikosteroid sistemik (oral) metilprednisolon dengan dosis 0,5-1 mg/kgBB/hari
selama 3-5 hari. (Evidence A)
Walaupun belum tentu diperlukan, untuk persiapan keadaan darurat, pasien yang akan
diobservasi di RRS langsung dipasang jalur parenteral sejak di unit gawat darurat (UGD).

Serangan Asma Berat


- Bila dengan 3 kali nebulisasi berturut-turut pasien tidak menunjukkan respon (poor
response), yaitu gejala dan tanda serangan masih ada (penilaian ulang sesuai pedoman),
pasien harus dirawat di ruang rawat inap.
- Oksigen 2-4L/menit diberikan sejak awal termasuk saat nebulisasi. (Evidence B)
- Kemudian dipasang jalur parenteral dan dilakukan foto toraks.
- Bila pasien menunjukkan gejala dan tanda ancaman henti napas, pasien harus langsung
dirawat di ruang rawat intensif. Pada pasien dengan serangan berat dan ancaman henti
napas, foto toraks harus langsung dibuat untuk mendeteksi komplikasi pneumotoraks
dan/atau pneumomediastinum.
- Jika ada dehidrasi dan asidosis, diatasi dengan pemberian cairan intravena dan koreksi
terhadap asidosis.
- Steroid intravena diberikan secara bolus, tiap 6-8 jam. (Evidence A)
- Dosis steroid intravena 0,5-1 mg/kg BB/hari.
- Nebulisasi β-agonis + antikolinergik dengan oksigen dilanjutkan tiap 1-2 jam; jika
dengan 4-6 kali pemberian mulai terjadi perbaikan klinis, jarak pemberian dapat
diperlebar menjadi tiap 4-6 jam. (Evidence B)
- Aminofilin diberikan secara intravena dengan ketentuan sebagai berikut:
- Jika pasien belum mendapat aminofilin sebelumnya, diberikan aminofilin dosis awal
(inisial) sebesar 6-8 mg/kgBB dilarutkan dalam dekstrosa 5% atau garam fisiologis
sebanyak 20 ml, diberikan dalam 20-30 menit.
- Jika pasien telah mendapat aminofilin sebelumnya (kurang dari 4 jam), dosis yang
diberikan adalah setengah dosis inisial.
- Sebaiknya kadar aminofilin dalam darah diukur dan dipertahankan sebesar 10-20
mcg/ml;
- Selanjutnya, aminofilin dosis rumatan diberikan sebesar 0,5-1 mg/kgBB/jam.
(Evidence D)
- Jika telah terjadi perbaikan klinis, nebulisasi diteruskan setiap 6 jam, sampai dengan 24
jam.
- Steroid dan aminofilin diganti dengan pemberian per oral.
- Jika dalam 24 jam pasien tetap stabil, pasien dapat dipulangkan dengan dibekali obat
β-agonis (hirupan atau oral) yang diberikan tiap 4-6 jam selama 24-48 jam. Selain itu,
steroid oral dilanjutkan hingga pasien kontrol ke klinik rawat jalan dalam 24-48 jam
untuk evaluasi ulang tata laksana.
- Ancaman henti napas; hipoksemia tetap terjadi walaupun sudah diberi oksigen (kadar
PaO2<60 mmHg dan/atau PaCO2 >45 mmHg). Pada ancaman henti napas diperlukan
ventilasi mekanik.

6. Kepustakaan

1. Global Initiative for Asthma. Global strategy for asthma management and prevention. National
Institute of Health. National Heart, Lung, and Blood Institute; NIH publ. No. 02-3659, 2002 (revisi). 2.
Michael Sly. Asthma. In: Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM, penyunting. Nelson textbook of
pediatric, edisi ke-15, Philadelphia: Saunders, 1996, h. 628-40.
2. UKK Respirologi PP IDAI. Pedoman nasional penanganan asma pada anak. Indonesian Pediatric
Respiratory Meeting I: Focus on asthma, Jakarta, 2003.
3. Warner JO, Naspitz CK. Third international pediatric consensus statement on the management of
childhood asthma. Ped Pulmonol. 1998; 25:1-17.
4. Bush A. Chronic cough and/or wheezing in infants and children less than 5 years old: diagnostic
approaches. Dalam: Naspitz CK, Szefler SJ, Tinkelman, DG, Warner JO, penyunting. Textbook of
pediatric asthma. An international perspective. London: Martin Dunitz Ltd; 2001: h.99-120.
Cartier A. Anti allergic drugs. In: O’Byme PM, Thomson NC, Ed. Manual of asthma management, edisi
ke-2, London: Saunders, 2001.h.197-201.