Anda di halaman 1dari 16

DAFTAR ISI

BAB I ............................................................................................................. 2
PENDAHULUAN ......................................................................................... 2
A. Latar Belakang .................................................................................... 2
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ................................................................................. 2
BAB II ............................................................................................................ 3
PEMBAHASAAN ......................................................................................... 3
A. Definisi ................................................................................................ 3
B. Farmakodinamik ................................................................................. 7
C. Farmakokinetik ................................................................................... 7
D. Dasar-dasar Farmakodinamik dan Farmakokinetik .......................... 10
BAB III ........................................................................................................ 15
PENUTUP .................................................................................................... 15
A. Kesimpulan ....................................................................................... 15
B. Saran .................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 16

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Farmakologi mencakup pengetahuan tentang sejarah, sumber, sifat
kimia dan fisik, komposisi, efek fisiologi dan biokimia, mekanisme kerja,
absorpsi, distribusi, biotransformasi, ekskresi dan penggunaan obat. Seiring
berkembangnya pengetahuan, beberapa bidang ilmu tersebut telah
berkembang menjadi ilmu tersendiri. Cabang farmakologi diantaranya
farmakognosi ialah cabang ilmu farmakologi yang memepelajari sifat-sifat
tumbuhan dan bahan lain yang merupakan sumber obat, farmasi ialah ilmu
yang mempelajari cara membuat, memformulasikan, menyimpan, dan
menyediakan obat. farmakologi klinik ialah cabang farmakologi yang
mempelajari efek obat pada manusia. farmakoterapi cabang ilmu yang
berhubungan dengan penggunaan obat dalam pencegahan dan pengobatan
penyakit, toksikologi ialah ilmu yang mempelajari keracunan zat kimia,
termasuk obat, zat yang digunakan dalam rumah tangga, pestisida dan lain-
lain serta farmakokinetik ialah aspek farmakologi yang mencakup nasib
obat dalam tubuh yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresinya
dan farmakodinamik yang mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan
biokimia berbagai oran tubuh serta mekanisme kerjanya. Pada penulisan
makalah ini akan di bahas tentang aspek farmakologi yaitu farmakokinetik
dan farmakodinamik.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep Farmakologi?
2. Bagaimana konsep Farmakodnamik dan Farmakokinetik?
3. Bagaimana perkembangan obat?

C. Tujuan Penulisan
1. Mampu memperjelas konsep Farmakologi
2. Mampu memperjelas Farmakodinamik dan Farmakokinetik
3. Mampu menjabarkan Perkembangan obat

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Farmakologi mempelajari efek zat-zat asing/eksogen dan zat-zat
endogen terhadap suatu organisme. Topik utamanya adalah pengamatan
terhadap efek-efek Farmaka (bahan-bahan obat = zat-zat tunggal yang dapat
digunakan untuk terapi, profilaksis maupun diagnosis; dalam bahasa inggris
“drugs”). ( Gery Schmitz,dkk)

Farmakologi didefinisikan sebagai mata pelajaran mengenai


substansi yang berinteraksi dengan sebuah system yang hidup melalui
proses-proses kimia, terutama berupa ikatan dengan molekul-molekul
regulator, dan yang mengaktivasi atau menginhibisi proses-proses tubuh
alamiah. Substansi-substansi tersebut merupakan bahan-bahan kimia yang
dapat menimbulkan efek terapeutik yang bermanfaat bagi proses
kesembuhan pasien dan bersifat toksik bagi proses leguratorik parasit yang
menginfeksi manusia aplikasi terapeutik tersebut merupakan kajian dalam
farmakologi medis, yang sering di definisikan sebagai suatu ilmu tentang
substansi yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, dan mengobati
penyakit. Toksikologi merupakan cabang farmakologi yang menjelaskan
efek yang tidak diinginkan dari zat kimia terhadap system kehidupan, mulai
dari sel-sel tungga sampai ekosistem yang majemuk.(Bertram G Katzung
dkk)

Farmakologi dapat didefinisikan sebagaai ilmu tentang bahan-bahan


yang berinteraksi dengan makhluk hidup melalui proses kimiawi, khususnya
melalui ikatan dengan molekuk-molekul pengatur (regulatory molecules)
serta mengaktifkan atau menghambat proses-proses normal tubuh. Bahan-
bahan ini dapat berupa bahan kimia yang diberikan untuk mencapai suatu
efek terapeutik yang berguna pada suatu proses dalam tubuh pasien atau
untuk efek toksiknya terhadap proses-proses regulatorik dalam tubuh parasit
yang menginfeksi pasien. Aplikasi terapeutik yang disengaja ini dapat
dianggap sebagai peran benar dari farmakologi medis, yang sering

3
didefinisikan sebagai ilmu tentang bahan-bahan yang digunakan untuk
mencegah, mendagnosis, dan mengobati penyakit. Toksikologi adallah
cabang farmakologi yang mempelajari tentang efek merugikan (tak-
diinginkan) bahan kimia pada makhluk hidup, dari sel individual hingga
manusia hingga ekosistem yang kompleks (Leon Shargel dkk)

B. Sejarah Farmakologi
Dapat dipastikan bahwa manusia prasejarah sudah mengenal efek yang
menguntungkan maupun efek yang merugikan dari berbagai bahan tumbuh-
tumbuhan dan hewan catatan sejarah tertua yang berasal dari Cina dan
Mesir memuat daftar berbagai jenis obat-obatan, termasuk sebagian kecil
obat-obatan yang dikenal dan digunakan sampai sekarang. Namun, sebagian
besar obat-obatan dalam daftar tersebut ternyata tidak bermanfaat atau
bahkan berbahaya. Sekitar 1500 tahun sebelum era modern, terdapat
berbagai usaha untuk memperkenalkan metode rasional ke dalam
kedokteran, tetapi tidak berhasil karena adanya dominasi sistem pemikiran
yang mendukung pendapat bahwa penjelasan masalah biologi dan penyakit
tidak memerlukan suatu penelitian ataupun observasi yang sulit. Kelompok
ini menimbulkan pemikiran-pemikiran yang aneh seperti pemikiran bahwa
penyakit disebabkan oleh empedu atau cairan darah dalam tubuh yang
jumlahnya berlebihan; luka-luka dapat disembuhkan dengan membalur
senjata yang menyebabkan luka tersebut, dan sebagainya.

Di sekitar akhir abad ke-17, kepercayaan terhadap nilai observasi dan


eksperimen mulai menggantikan teori-teori kedokteran kuno, mengikuti
konsep sains fisik. Setelah metode observasi dan eksperimen ini terbukti
benar, barulah para dokter-dokter di Inggris dan Eropa daratan lainnya
menggunakan metode ilmiah untuk menilai efek obat-obat tradisional yang
dipakai dalam praktik mereka jadi, materia medica-ilmu tentang preparat
obat dan kegunaannya mulai berkembang sebagai perintis farmakologi.
Akan tetapi pengertian mekanisme kerja obat yang sesungguhnya masih
terhambat oleh belum adanya metode untuk memurnikan zat aktif dari
materi kasar obat-obatan yang tersedia saat itu, dan belum ada metode yang
dapat menguji hipotesa tentang cara kerja obat-obatan.

4
Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, Francois Magendi dan
dilanjutkan oleh muridnya, Claude Bernard, mengembangkan metode
eksperimen fisiologi dan farmakologi pada hewan. Kemajuan ilmu kimia
dan perkembangan fisiologi pada abad ke-18,19 dan awal 20 telah
meletakan dasar-dasar mengetahui bagaimana obat bekerja di tingkat organ
dan jaringan. Selama abad ke-19 ini terjadi banyak kemajuan dalam
farmakologi dasar, namun dalam waktu yang relative, beberapa produsen
mengadakan promosi mengenai “obat-obatan paten” yang tidak mempunyai
dasar-dasar ilmiah konsep terapi yang rasional, terutama yang telah melalui
uji klinis terkontrol (controlled clinical trial) baru diperkenalkan sekitar 50
tahun yang lalu. Uji klinis ini mampu membuktikan efek terapeutik suatu
obat secara akurat.

Kira-kira 50 tahun yang lalu juga, penelitian-penelitian di semua bidang


biologi mulai dikerjakan besar-besaran. Seiring dengan ditemukan konsep
dan teknik pengujian yang baru, terjadi akumulasi informasi mengenai kerja
obat, substrat biologis yang menimbulkan suatu efek obat, serta reseptor-
reseptor obat. Dalam setengah abad terakhir, telah banyak golongan obat
baru yang diperkenalkan; dimikian pula beberapa obat baru dari kelompok
obat lama. Dalam tiga decade terakhir ini, makin banyak diperoleh
informasi dan pengertian mengenai kerja obat hingga di tingkat molekuler.
Mekanisme kerja berbagai obat di tingkat molekuler ini sudah banyak di
ketahui, demikian pula berbagai jenis reseptor obat sudah dikenali
strukturnya, dan bahkan dapat diklon sebenarnya, metode identifikasi
reseptor obat menuntun kita pada banyak temuan reseptor-reseptor baru
yang liganya belum diketemukan dan yang fungsinya hanya baru dapat di
kira-kira. Penelitian-penelitian mengenai lingkungan molekuler lokal
reseptor menunjukan bahwa reseptor dan efektor tidak saling berfungsi
begitu saja; reseptor-reseptor sangat dipengaruhi oleh berbagai protein
regulator. Memetakan genom berbgai spesies bakteri hingga genom manusia
memberi kita pengertian bahwa ternyata terdapat berbagi relasi antara
reseptor familial dengan banyak protein yang terlibat. Farmakogenomik-
hubungan genetik seorang individu dengan responnya terhadap sebuah obat

5
tertentu akan menjadi area terapi dalam praktik kedokteran di masa yang
akan datang (lihat Kotak Farmakologi & Genetik). Sebagian besar
kemajuan-kemajuan tersebut disarikan dalam buku ini

Pengembangan prinsip-prinsip ilmiah untuk terapi praktis sehari-hari


masih terus berlangsung, meskipun masyarakat yang menggunakannya,
sungguh disayangkan, masih sering mendapat informasi yang tidak akurat,
tidak lengkap, dan tidak ilmiah mengenai efek farmakologik bahan kimia
tersebut. Hal ini menimbulkan penggunaan obat-obat mahal yang sebetulnya
tidak perlu, tidak efektif, digunakan sebagai obat rutin yang sebetulnya
berbahaya, dan diikuti oleh tumbuhnya industri”pelayanan kesehatan
alternatif” secara besar-besaran. Sebaliknya, kurangnya pengertian
mengenai prinsip-prinsip kimia dasar biologi dan tastistik, di tambah
kurangnya pemikiran kritis mengenai masalah kesehatan masyarakat, telah
menimbulkan penolakan terhadap ilmu kedokteran dalam suatu kelompok
masyarakat dan timbulah tendensi untuk menyatakan bahwa semua reaksis
simpang obat (adverse drug effect) merupakan akibat dari malpraktik.

Dua prinsip utama yang harus diingat oleh siswa yaitu :

1. Semua zat dalam keadaan tertentu dapat bersifat toksik


2. Semua suplemen makanan dan semua obat yang dikatakan dapat
meningkatkan kesehatan harus memenuhi standar efikasi dan keamanan
obat, oleh karenanya seharusnya tidak ada perbedaan antara kedokteran
ilmiah dengan kedokteran “alternatif”atau “comple mentary”. ( Bertram
G. Katzung )
C. Cabang-Cabang Farmakologi
Farmakologi mempunyai cabang-cabang ilmu yang mempelajari obat
secara lebih spesifik. Cabang-cabang farmakologi adalah sebagai
berikut:
1. Farmakodinamik, adalah ilmu yang mempelajari cara kerja obat, efek
obat terhadap faal tubuh dan perubahan biokimia tubuh.
2. Farmakokinetik, adalah ilmu yang mempelajari cara pemberian obat,
biotranformasi atau perubahan yang dialami obat di dalam tubuh dan
cara obat di keluarkan dari tubuh (ekskresi).

6
3. Farmakoterapi, merupakan cabang ilmu farmakologi yang mempelajari
penggunaan obat untuk pencegahan dan menyembuhkan penyakit
4. Farmakognosi, adalah cabang ilmu farmakologi yang mempelajari
sifat-sifat tumbuhan dan bahan lain yang merupakan sumber obat.
5. Khemoterapi, adalah cabang ilmu farmakologi yang mempelajari
pengobatan penyakit yang disebabkan oleh mikroba patogen termasuk
pengobatan neoplasma.
6. Toksikologi, adalah ilmu yang mempelajari keracunan zat kimia
termasuk obat, zat yang digunakan dalam rumah tangga, industri,
maupun lingkungan hidup lain. Dalam cabang ini juga dipelajari cara
pencegahan, pengenalan dan penanggulangan kasus-kasus keracunan.
7. Farmasi, adalah membidangi ilmu yang meracik obat, penyediaan dan
penyimpan obat, pemurnian, penyempurnaan dan penyajian obat.

D. Farmakodinamik
Farmakodinamika merujuk pada hubungan antara konsentrasi obat
pada site aksi ( reseptor ) dan respons farmakologis, termasuk efek biokimia
dan fisiologis yang mempengaruhi interaksi obat dengan reseptor. Interaksi
suatu obat dengan suatu reseptor menyebabkan inisiasi suatu urutan
kejadian molekuler yang menghasilkan suatu respons farmakologis atau
toksik. Model farmakokinetik-farmakodinamik disusun untuk mengkaitkan
kadar obat dalam plasma dengan konsentrasi obat pada site aksi dan
menetapkan intensitas dan perjalanan obat. Model-model farmakodinamik
dan farmakokinetik – farmakodinamik. (Leon Shargel dkk)

Farmakodinamik membahas efek obat di dalam dan terhadap suatu


organisme. Hal-hal yang dibahas antara lain tempat kerja obat, mekanisme
kerja seperti aksi reseptor, kopling reseptor-efektor, transduksi sinyal,
intensitas efek (“potency”), efek maksimal(“efficacy”) dan jenis efek missal
analgesic, antipiretik, antiflogistik. ( Gery Schmitz,dkk)

E. Farmakokinetik
Setelah suatu obat dilepas dari bentuk sediaannya, obat diabsorpsi ke
dalam jaringan sekitarnya, tubuh, atau keduanya. Distribusi dan eliminasi
obat dalam tubuh berbeda untuk tiap pasien tetapi dapat dikarakterisasi

7
dengan menggunakan model matematika dan statistika. Farmakokinetika
adalah ilmu dari kinetika absorpsi, distribusi, dan eliminasi (yakni, ekskresi
dan metabolisme) obat. Deskripsi distribusi dan eliminasi obat sering
disebut disposisi obat. Karakterisasi disposisi obat merupakan suatu
persyaratan penting untuk penentuan atau modifikasi aturan pendosisan
untuk individual dan kelompok pasien.

Studi farmakokinetika mencakup baik pendekatan eksperimental dan


teoritis. Aspek eksperimental farmakokinetika meliputi pengembangan
tehnik sampling biologis, metode analitik untuk pengukuran obat dan
metabolit, dan prosedur yang memfasilitasi pengumpulan dan manipulasi
data. Aspek teoritis farmakokinetika meliputi pengembangan model
farmakokinetika yang memprediksi disposisi obat setelah pemakaian obat.
Penerapan statistic merupakan suatu bagian integral dari studi
farmakokinetika. Metode statistika digunakan untuk mengestimasi
parameter farmakokinetika dan akhirnya menginterpretasi data untuk
maksud perancangan dan prediksi aturan dosis optimal untuk pasien
individual atau kelompok pasien. Metode statistik diterapkan pada model
farmakokinetika untuk menentukan kesalahan data dan penyimpangan
model structural. Matematika dan teknik computer membentuk dasar teoritis
dari beberapa metode farmakokinetik. Farmakokinetika klasik adalah suatu
studi model teoritis yang memfokuskan pada pengembangan dan
parameterisasi model.

8
Farmakokinetika Klinis

Selama proses pengembangan obat, sejumlah besar pasien diuji untuk


menentukan aturan dosis optimum, yang kemudian direkomendasikan oleh
pabrik untuk menghasilkan respons farmakologis yang diinginkan pada
sebagian besar populasi pasien yang diharapkan. Akan tetapi variasi intra
dan interinvidual sering akan mengakibatkan respons subterapeutik
(konsentrasi obat dibawah MEC) atau toksik (konsentrasi obat diatas
konsentrasi toksik minimum-MTC), yang selanjutnya memerlukan
penyesuaian aturan dosis. Farmakokinetika klinis merupakan penerapan
metode farmakokinetik untuk terapi obat. Farmakokinetik klinis mencakup
suatu pendekatan multidisiplin untuk strategi pendosisan optimal individual
yang didasarkan pada kondisi penyakit pasien dan pertimbangan spesifik-
pasien.

Studi farmakokinetik klinis terhadap obat-obat pada keadaan sakit


memerlukan masukan dari penelitian medik dan farmasetik. Pengaruh dari
berbagai penyakit pada disposisi obat tidak dipelajari secara memadai.
Perbedaan usia,gender, genetik dan etnik juga dapat mengakibatkan
perbedaan farmakokinetik yang dapat mempengaruhi keluaran terapi obat.
Studi perbedaan farmakokinetik obat pada berbagai kelompok populasi
disebut farmakokinetika populasi (Sheiner dan ludden, 1992).

9
Farmakokinetika juga diterapkan untuk pemantauan obat terapeutik
(therapeutic drug monitoring – TDM) untuk obat-obat yang sangat poten
seperti obat-obat dengan rentang terapeutik sempit, untuk mengoptimasi
kemanjuran dan mencegah berbagai toksisitas yang merugikan. Untuk obat-
obat ini, perlu memantau pasien, baik dengan pemantauan konsentrasi obat
dalam plasma (missal teofilin ) atau dengan pemantau hasil farmakodinamik
khas seperti waktu pembekuan protrombin ( misal warfarin ). Pelayanan
farmakokinetika dan analisis obat perlu untuk pemantauan keamanan obat
yang pada umumnya diberikan melalui pelayanan farmakokinetika klinis
(clinical pharmacokinetic service – CPKS ). Beberapa obat yang sering
dipantau adalah aminogikosida dan antikonvulsan. Obat-obat lain yang
dipantau secara ketat adalah obat-obat yang digunakan pada kemoterapi
kanker, untuk meminimalkan efek samping yang merugikan ( Rodman dan
Evans, 1991 ).

Farmakokinetik menguraikan apa yang terjadi dengan suatu zat di


dalam organisme. Farmakokinetik mengamati jenis-jenis proses sebagai
berikut : absorpsi (“absorption”), distribusi (“distribution”), biotransformasi
atau metabolisme (“metabolism”) dan ekskresi (“excretion”). Perubahan
konsentrasi obat yang terjadi selama proses tersebut didalam organisme
(khususnya dalam plasma) dibuat grafik terhadap waktu. ( Gery
Schmitz,dkk).

F. Dasar-dasar Farmakodinamik dan Farmakokinetik


a. Hubungan Dosis-Efek

Pada umumnya efek obat tergantung pada besarnya dosis. Potensi


(“potency”) adalah dosis atau konsentrasi suatu zat berkhaziat yang
menghasilkan suatu efek farmakologis tertentu ( misal: spasmolisis pada
otot polos bronki ). Potensi sering digunakan untuk membandingkan
intensitas efek relatif suatu zat terhadap zat-zat lain. Efisiensi (“efficacy”)
suatu zat berkhasiat dinyatakan oleh efek maksimal yang tercapai.

10
Farmakokinetik suatu obat adalah proses absorpsi, distribusi,
biotransformasi atau metabolisme dan eliminasi (ekskresi). Dalam
farmakokinetik, suatu organisme dipandang sebagai sistim terbuka atau
sistim mengalir : dengan ruang di luar organisme senantiasa terjadi
pertukaran zat dan energi.

a) Absorpsi

Setelah pemberian, obat harus diabsorpsi dari ruang di luar ke dalam


organisme, untuk selanjutnya ( dalam kebanyakan kasus) didistribusikan
oleh darah ke tempat kerjanya. Pada proses ini membran sel harus dilewati
(permeasi). Struktur membran sel (model cairan-mosaik), suatu lapisan
lemak ganda dengan protein di atasnya atau didalamnya, yang menentukan
apakah suatu zat dapat menembus membran atau tidak.

Mekanisme absorpsi lewat membran sel yang terpenting adalah :

 Difusi bebas tanpa bantuan carrier (transpor pasif murni )


 Difusi yang dipermudah (dengan perantaraan carrier)(juga pasif)
 Transpor aktif
 Pinositosis, Fagositosis, Persorpsi.

11
Bahan-bahan obat nonpolar dengan kelarutan dalam lemak yang baik
mempunyai ciri-ciri:

 Absorpsi usus yang baik


 Penetrasi yang baik ke dalam SSP (lewat sawar darah-otak)
 Dapat masuk dengan mudah ke dalam ruang intraseluler.
 Ekskresi ginjal yang rendah (reabsorpsi tubular yang baik )
 Ikatan protein plasma yang tinggi.

Bahan-bahan obat yang bersifat asam dan basa terutama diabsorpsi dalam
bentuk tidak terionisasi dan larut dalam lemak.

b) Bioavailabilitas

Yang dimaksud dengan bioavailabilitas (ketersediaan hayati; F)


adalah bagian obat (dalam %), yang dilepaskan dari suatu sediaan farmasi
dalam bentuk yang memiliki efek terapeutik ( pada umumnya sebagai zat
yang belum berubah), mengalami absorpsi dan akhirnya masuk ke dalam
peredaran darah besar, sehingga tersedia secara sistemik.

c) First Pass Effect ( metabolisme prasistemik )

First Pass Effect sebagian besar berlangsung di hati, tempat pertama-


tama obat diabsorpsi dari saluran lambung-usus sampai leawat pembuluh
darah porta (Vena porta) (lintas hati pertama).

Zat yang mengalami first pass effect besar sehingga ada relevansi klinis :

 Gliseroltrinitrat, Isosorbiddinitrat
 Bloker B-reseptor yang lipofil seperti Propanolol, Oksprenolol, dan
Metoprolol
 Antagonis kalsium tipe 1,4 – dihidropiridin seperti Nitrendipin,
Nimodipin, Nisoldipin atau Felodipin.
 Antagonis kalsium lain seperti Verapamil, Galopamil dan Diltiazem
 Lidokain
 Morfin

12
d) Bioekuivalensi

Dua obat dengan zat berkhasiat yang identik adalah biokuivalen, artinya
berefek sama dan dengan demikian dapat saling menggantikan, apabila
dalam hal bioavailabilitas tidak berbeda dalam batas-batas yang sempit.

e) Distribusi obat

Interaksi obat yang mempunyai relevansi klinis sebagai akibat saling


mendesak dari ikatan protein plasma dapat terjadi, apabila ikatan protein
plasma dari obat-obat yang tersedia jelas lebih 90% dan obat yang terdesak
dari ikatan ini memiliki lebar terapeutik yang sempit.

f) Volume distribusi

Yang dimaksud dengan volume distribusi (V) adalah besarnya ruang ke


dalam suatu zat terdistribusi.

g) Biotransformasi (metabolisme)

Dengan jalan biotransformasi, zat yang diabsorpsi diubah sedemikian rupa


sehingga dapat diekskresi. Jadi, biotransformasi sudah merupakan suatu
bentuk eliminasi.

Biotransformasi ditandai oleh dua fase :

 Fase I : perubahan dengan cara oksidasi, reduksi atau hidrolisis (


pemecahan ester dan amida )
 Fase II : perubahan dengan cara konjugasi dengan asam glukuronat,
sulfat, cuka (pembentukan asetat), glutation ( pembentukan
merkapturat ), asam amino ( terutama glisin ), adenosilmetionin
(metilasi)

h) Pengeluaran ( ekskresi )

Pada ekskresi bahan-bahan obat dan metabolitnya, organ yang paling


penting adalah ginjal ( ekskresi ginjal ). Tingkat dan kecepatannya
ditentukan oleh 3 proses :

13
 Filtrasi di glomerulus
 Sekresi di tubulus
 Reabsorpsi di tubulus
i) Parameter farmakokinetik

Grafik konsentrasi-waktu dari obat-obatan dalam kompartemen pengukur


yang mudah tercapai, yaitu, darah atau urin, menghasilkan resultan tahap-
tahap proses farmakokinetik yaitu absorpsi, distribusi, biotransformasi dan
ekskresi.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Farmakologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari
interaksi obat dengan konstituen (unsur pokok) tubuh untuk menghasilkan
efek terapi (therapeutic). farmakologi mencakup semua ilmu pengetahuan
tentang sejarah, sumber, sifat-sifat fisik dan kimia, komposisi, efek-efek
biokimia dan fisiologi, mekanisme kerja, absorpsi, biotransformasi, ekresi,
penggunaan terapi, dan penggunaan lainnya dari obat. Beraneka ragam obat-
obatan yang telah ada sejak zaman dahulu.
Obat yang diberikan pada seorang pasien dan penggunaan nya dalam
pengobatan sesuai dengan penyakit, digambarkan dengan dua bidang khusus
farmakologi yaitu: farmakokinetik dan farmakodinamik. Farmakokinetik
mencakup 4 proses, yaitu proses absorpsi distribusi metabolisme dan
ekskresi. Tujuan mempelajari farmakodinamik adalah untuk meneliti efek
utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan
peristiwa serta spektrum efek dan respons yang terjadi. Dari tahun ke tahun
farmakologi berkembang dan mengalami percabangan yang baru seperti
farmakognosis, farmakokinetik dll.

B. Saran
Diharapkan agar mahasiswa lebih mengerti lagi dan lebih memahami
tentang ilmu farmakologi, cabang-cabang dari ilmu farmakologi serta semua
hal yang mencakup tentang ilmu farmakologi.

15
DAFTAR PUSTAKA

Shargel Leon dkk.2012.Biofarmasetika & Farmakokinetika edisi kelima.


Surabaya:Airlangga Univercity press.

Schmitz Gery dkk.2008.Farmakologi dan Toksikologi edisi


ketiga.Jakarta:buku kedokeran EGC

Katzung G. Bertram.2013.Farmakologi Dasar & Klinik Edisi


10.Jakarta:buku kedokteran EGC

16