Anda di halaman 1dari 15

Kelompok IV

LAPORAN TUTORIAL III


Gatal dan merah setelah memakan obat

DISUSUN OLEH
KELOMPOK IV

KETUA : NICHOLAS HUTABARAT


SEKRETARIS : WIDYA G SIMANJUNTAK
ANGGOTA : ANDRI TAMBUNAN
KARTINI M SIBURIAN
WIDYA G SIMANJUNTAK
FRANSISKUS DAMANIK
MARIA BUNGA A SITEPU
EVA SIMARSOIT
BERLIAN M SILALAHI
ABED NEGO OKTHARA SEBAYANG
HOTDIA NOVINIA SIAHAAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HKBP NOMENSEN

2014/ 2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karunia-Nya karena akhirnya
laporan tutorial III dari kami kelompok IV dapat diselesaikan. Adapun tujuan dari penulisan laporan
tutorial III ini adalah melaporkan kepada bapak/ ibu dosen mengenai hasil tutorial kami kelompok IV
yang berlangsung selama dua hari yakni pada hari Senin, 19 Januari 2015 dan Kamis, 22 Januari
2015.

Laporan ini berisikan pokok- pokok bahasan yang kami bahas mengenai reaksi yang terjadi
antara tubuh dan obat yang dapat menyebabkan efek alergi seperti gatal- gatal dan merah.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada tutor kami atas kesediaan dan pengorbanan
waktunya untuk mendampingi tutorial kami ini.

Harapan kami, hasil dari laporan kami ini dapat diterima dengan baik oleh bapak/ ibu dosen
dan apabila ada kesalahan pada laporan ini kami minta kesediaan bapak/ ibu dosen untuk
mengoreksinya dan memberitahukannya kepada kami. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Medan, 23 Januari 2015

Kelompok IV
DAFTAR ISI
Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab 1. Pendahuluan
1.1 Pemicu.
1.2 Unfamilliar terms.
1.3 Masalah.
1.4 Analisis Masalah.
1.5 Hipotesa.

Bab 2. Learning Isu dan Pembahasan


2.1 Farmakokinetik obat dan farmakodinamik obat .

2.2 Interaksi obat terhadap reseptor.

2.3 Efek samping obat, diperkirakan dan tidak diperkirakan.

2.4 Faktor yang mempengaruhi terjadinya efek samping obat.

2.5 Pencegahan terhadap efek samping obat.

2.6 Penanganan terhadap efek samping yang terjadi.

Bab 3. Kesimpulan
3.1 Kesimpulan

Daftar Pustaka
1.1 Pemicu

Seorang laki-laki berusia 21 tahun, datang berobat dengan keluhan bercak-bercak


kemerahan disertai rasa gatal pada seluruh bagian tubuh, meliputi badan, lengan, tangan, dan
kaki. Pemeriksaan pada vital diperoleh tekanan darah 100/70 mm Hg. Denyut nadi 110x/
frekuensi nafas 20x/. Dari pemeriksaan alloanamesisi diketahui bahwa keluhan yang diderita
pasien dialamai setlah mengkonsumsi obat-obatan. Suatu hari yang lalu pasien berobat ke
dokter dengan keluhan sakit perut dan oleh dokter diberikan obat oral contrimoksazole,
omeprazole, paracetamol.

Apa yang teradi pada pasien?

1.2 Unfamiliar terms

1. Alloanamesis
Alloanamesis adalah anamesis yang dilakukan tidak lansung kepada pasien atau
pederita. Bisa kepada keluarga atau tetangga dari pasien
2. Cotrimoksazole
Contrimoksazole adalah antibiotic kombinasi Sulfamethoxzole dan Trimethoprin
dengan perbandingan 5 : 1. Kominasi tersebut mempunyai aktivitas bakterisid yang
besar karena menghambat pada dua tahap sintesis asam nukleat dan protein yang
sangat esensial untuk mikroorganisme.
3. Omeprazole
Omeprazole merupakan obat yang termasuk dalam golongan antisekresi / seringkali
disebut termasuk dalam golongan penghambat pompa proton (proton pump inhibitor /
PPI) yang mempunyai tempat kerja dan bekerja langsung pada pompa asam
(H+ K+ ATPase) yang merupakan tahap akhir proses sekresi asam lambung dari sel –
sel parietal di lambung.

1.3 Masalah

 Bercak-bercak kemerahan disertai gatal


 Tekanan darah rendah
 Denyut nadi tinggi
1.4 Analisis Masalah

Mengkonsumsi obat

Alergi Interaksi antar obat Over dosis

Efek samping obat

Bercak merah dan gatal Tekanan darah rendah Denyut nadi tinggi

1.5 Hipotesa

Reasi antar obat, over dosis, dan alergi

Bab 2. Learning issue dan pembahasan

2.1 Farmakokinetik dan Farmakodinamik


A. FARMAKOKINETIK

Farmakokinetik adalah proses pergerakan obat untuk mencapai kerja obat.Dalam


melakukan fungsinya obat memiliki tahap atau proses dalam melakukan fungsi sampai
menimbulkan efek utama yang diinginkan.4 berikut Empat proses farmakokinetik:

1.ABSORBSI

Adalah pergerakan partikel-partikel obat dari saluran gastrointestinal ke dalam cairan tubuh
melalui :

Absorbsi pasif
Umumnya terjadi melalui difusi (perpindahan zat dari konsentrasi tinggi ke
rendah).dengan proses difusi obat tidak membutuhkan energi untuk menembus
membran.4

Absorbsi aktif

Membutuhkan karier(pembawa) untuk bergerak melawan gradien konsentrasi. Sebuah


enzim/protein dapat membawa obat untuk dapat menembus membran.4

Pinositosis

Berarti membawa obat menembus membran dengan cara menelan. Absorbsi obat
dapat dipengaruhi oleh aliran darah, stress,makanan, dan penyakit.4

2. DISTRIBUSI

Adalah proses dimana obat menjadi berada dalam cairan tubuh dan jaringan
tubuh.distribusi obat dapat di pengaruhioleh afinitas ( kekuatan penggabungan) terhadap
jaringan, aliran darah, dan efek pengikatan dengann protein.4

Ketika obat di distribusi di dalam plasma , kebanyakan berikatan dengan protein


(terutama albumin) dalam derajat yang berbada-beda. 4 Bagian obat yang berikatan engan
protein bersifat inaktif dan obat yang berikatan dengan protein itulah nantinya yang akan di
rubah agar dapat di buang oleh tubuh melalui proses eliminasi, kemudian b agian obat yang
tidak berikatan dengan protein disebut obat bebas dan obat inilah yang nantinya akan
bereaksi di dalam tubuh sehingga menimbulkan efek terhadap tubuh (menimbulkan efek
farmakologik).4

3. METABOLISME

Hati merupakan tempat utama untuk metabolisme. Kebanyakan obat di inaktifkan


oleh enzim hati dan kemudian diubah oleh enzim hati menjadi metabolit inaktif atau zat yang
larut dalam air untuk di ekskreikan. Tetapi beberapa obat di transformasidi metabolit
aktif,menyebabkan peningkatan respon farmakologik.2

4. ELIMINASI
Rute utama dari eliminasi obat adalah melalui ginjal, rute lain meliputi
empedu,feses,paru-paru,saliva,keringat dan ASI. Obat bebas, yang tidaberikatan,yang larut
dalam air, dan obat yang tidak diubah, di filtrasi oleh ginjal. 2 Obat yang berikatan dengan
protein tidak dapat di filtrasi oleh ginjal.2 Sekali obat di lepaskan ikatannya denan protein,
maka obat menjadi bebas, dan akhirnya akan di ekskresikan melalui urin. Yang dapat
mempengaruhi ekskresi adalah ph. Ph yanng asam akan meningkatkan eliminasi obat yang
bersifat asam lemah misalnya aspirin.2

B. Farmakodinamik

Farmakodinamik adalah bagian dari farmakologi yang mempelajari tentang efek


biokimiawi dan fisiologi obat,serta mekanisme obatnya. Tujuan dari mempelajari mekanisme
kerja obat ialah meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan
mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respons yang terjadi. Pengetahuan ini
menjadi dasar terapi rasional dan berguna dalam sintesis obat baru.1

Mekanisme Kerja Obat.

Kebanyakan obat menimbulkan efek melalui interaksi dengan reseptornya pada sel
organisme.1 Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan
fisiologi yang merupakan respons khas untuk obat tersebut.1 Obat memiliki dua fungsional
yakni pertama obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua obat tidak
menimbulkan fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada. Setiap manusia
memiliki respon yang berbeda terhadap suatu jenis obat, tergantung umur, jenis kelamin,
genetic dan lain- lain.1 Tubuh manusia juga memiliki batasan dalam menerima obat yang
diterima, ini karena jumlah reseptor manusia yang terbatas.1

Berikut kurva yang menunjukan dosis obat dengan respon yang dimiliki tubuh

2.2 Interaksi obat terhadap reseptor


Reseptor adalah komponen sel atau organisme yang berinteraksi dengan obat dan memicu
rangkaian kejadian yang berujung pada efek obat yang dapat diamati.

Fungsi Reseptor :

1. mengenal dan mengikat suatu ligan/obat dengan spesifisitas yang tinggi


2. meneruskan signal ke dalam sel melalui:
3. perubahan permeabilitas membran
4. pembentukansecond messenger
5. mempengaruhi transkripsi gen

Agonis
Agonis adalah molekul obat yang berinteraksi dengan reseptor (pengikat, aktovator)
Obat agonis berikatan dengan reseptor serta sedikit banyak mengagtifkannya, yang secara
langsung atau tidak langsung menimbulkan efek.5

Berdasarkan respons farmakologik maksimal yang dapat terjadi ketika semua reseptor
ditempati, agonis dapat di bagi menjadi dua kelas yaitu agonis parsial, menghasilkan respons
lebih rendah meskipun semua reseptor ditempati, dibandingkan dengan agonis penuh.5

Antagonis
Antagonis kompetitif adalah Suatu obat yang mengikat reseptor secara reversibel
pada daerah yang sama dengan tempat ikatan agonis, tetapi tidak menyebabkan efek. Efek
antagonis kompetitif dapat diatasi dengan peningkatan konsentrasi agonis, sehingga
meningkatkan proporsi reseptor yang dapat diduduki oleh agonis.5
Antagonis irreversibel adalah Antagonis yang dapat mengikat reseptor secara kuat
dan bersifat. Antagonis irreversibel tidak bisa diatasi dengan penambahan agonis.5
Antagonis non-kompetitif adalah Suatu antagonis yang dapat mengurangi efektifitas
suatu agonis melalui mekanisme selain berikatan dengan tempat ikatan agonis pada reseptor.
Antagonisme fisiologis adalah suatu antagonis yang memiliki reseptor berbeda tetapi
pada suatu organ yang sama, seperti contoh Histamin dan autokoid lainnya yang dilepaskan
tubuh sewaktu terjadi syok anafilatik dapat diantagonisasi dengan pemberian adrenalin.5

Mekanisme lain Antagonisme obat


Tidak semua mekanisme antagonisme melibatkan interaksi obat atau ligan endogen
dengan satu jenis reseptor, dan sebagian dari antagonisme sama sekali tidak melibatkan
reseptor. Dalam beberapa hal obat bekerja sebagai antagonisme kimiawi. Jenis antagonisme
lainnya adalah antagonisme fisiologik antara jalur – jalur regulatik endogen yang di
perantarai oleh beragam reseptor.5

2.3 Efek samping obat, diperkirakan dan tidak diperkirakan


Efek samping obat dapat timbul dengan sendirinya pada tubuh setiap orang, hal ini dapat
terjadi karena reaksi yang ditimbulkan obat, memiliki efek lain selain efek yang diinginkan.
Efek samping tersebut terbagi atas dua yakni, efek samping obat yang dapat diperkirakan dan
tidak dapat diperkirakan.5

Efek samping yang dapat diperkirakan

a. Efek farmakologik yang berlebihan


Terjadinya efek farmakologik yang berlebihan (disebut juga efek toksik) dapat
disebabkan karena dosis relatif yang terlalu besar bagi pasien yang bersangkutan. Keadaan ini
dapat terjadi karena dosis yang diberikan memang besar, atau karena adanya perbedaan
respons kinetik atau dinamik pada kelompok-kelompok tertentu, misalnya pada pasien
dengan gangguan faal ginjal, gangguan faal jantung, perubahan sirkulasi darah, usia,genetik
dsb., sehingga dosis yang diberikan dalam takaran lazim, menjadi relatif terlalu besar pada
pasien-pasien tertentu (lihat modul Pemakaian obat pada kelompok khusus: anak, usia lanjut,
kehamilan, dan modul Farmakokinetika klinik dan dasar-dasar pengaturan dosis obat dalam
klinik). Selain itu efek ini juga bisa terjadi karena interaksi farmakokinetik maupun
farmakodinamik antar obat yang diberikan bersamaan, sehingga efek obat menjadi lebih
besar (lihat A-11/03/CKD-2 Interaksi Obat dalam Klinik).
Efek samping jenis ini umumnya dijumpai pada pengobatan dengan depresansia
susunan saraf pusat, obat-obat pemacu jantung, antihipertensi dan
hipoglikemika/antidiabetika. Beberapa contoh spesifik dari jenis efek samping ini misalnya:

- Depresi respirasi pada pasien-pasien bronkitis berat yang menerima pengobatan dengan
morfin atau benzodiazepin.
- Hipotensi yang terjadi pada stroke, infark miokard atau kegagalan ginjal pada pasien yang
menerima obat antihipertensi dalam dosis terlalu tinggi.
- Bradikardia pada pasien-pasien yang menerima digoksin dalam dosis terlalu tinggi.
- Palpitasi pada pasien asma karena dosis teofilin yang terlalu tinggi.
- Hipoglikemia karena dosis antidiabetika terlalu tinggi.
- Perdarahan yang terjadi pada pasien yang sedang menerima pengobatan dengan warfarin,
karena secara bersamaan juga minum aspirin.
- Dsb.

Semua pasien mempunyai risiko untuk mendapatkan efek samping karena dosis yang terlalu
tinggi ini, dan upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan perhatian khusus
terhadap kelompok-kelompok pasien dengan risiko tinggi tadi (penurunan fungsi ginjal,
penurunan fungsi hepar, bayi dan usia lanjut). Selain itu riwayat pasien dalam pengobatan
yang mengarah ke kejadian efek samping juga perlu diperhatikan.3

b. Gejala penghentian obat


Gejala penghentian obat (= gejala putus obat, withdrawal syndrome) adalah munculnya
kembali gejala penyakit semula atau reaksi pembalikan terhadap efek farmakologik obat,
karena penghentian pengobatan. Contoh yang banyak dijumpai misalnya:
- agitasi ekstrim, takikardi, rasa bingung, delirium dan konvulsi yang mungkin terjadi pada
penghentian pengobatan dengan depresansia susunan saraf pusat seperti barbiturat,
benzodiazepin dan alkohol.3
- krisis Addison akut yang muncul karena penghentian terapi kortikosteroid,
- hipertensi berat dan gejala aktivitas simpatetik yang berlebihan karena penghentian terapi
klonidin
- gejala putus obat karena narkotika,
- dsb.

Reaksi putus obat ini terjadi, karena selama pengobatan telah berlangsung adaptasi
pada tingkat reseptor.3 Adaptasi ini menyebabkan toleransi terhadap efek farmakologik obat,
sehingga umumnya pasien memerlukan dosis yang makin lama makin besar (sebagai contoh
berkurangnya respons penderita epilepsi terhadap fenobarbital/fenitoin, sehingga dosis perlu
diperbesar agar serangan tetap terkontrol). Reaksi putus obat dapat dikurangi dengan cara
menghentikan pengobatan secara bertahap misalnya dengan penurunan dosis secara
berangsur-angsur, atau dengan menggantikan dengan obat sejenis yang mempunyai aksi lebih
panjang atau kurang poten, dengan gejala putus obat yang lebih ringan.3

c. Efek samping yang tidak berupa efek farmakologik utama


Efek-efek samping yang berbeda dari efek farmakologik utamanya, untuk sebagian
besar obat umumnya telah dapat diperkirakan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah
dilakukan secara sistematik sebelum obat mulai digunakan untuk pasien.3 Efek-efek ini
umumnya dalam derajad ringan namun angka kejadiannya bisa cukup tinggi. Sedangkan efek
samping yang lebih jarang dapat diperoleh dari laporan-laporan setelah obat dipakai dalam
populasi yang lebih luas (lihat bagian IV).3
Data efek samping berbagai obat dapat ditemukan dalam buku-buku standard,
umumnya lengkap dengan perkiraan angka kejadiannya. Sebagai contoh misalnya:
- Iritasi lambung yang menyebabkan keluhan pedih, mual dan muntah pada obat-obat
kortikosteroid oral, analgetika-antipiretika, teofilin, eritromisin, rifampisin, dll.3
- Rasa ngantuk (drowsiness) setelah pemakaian antihistaminika untuk anti mabok perjalanan
(motion sickness).3
- Kenaikan enzim-enzim transferase hepar karena pemberian rifampisin.3
- Efek teratogenik obat-obat tertentu sehingga obat tersebut tidak boleh diberikan pada wanita
hamil (lihat Modul A-04/CKD Farmakoterapi pada Kehamilan).3
- Penghambatan agregasi trombosit oleh aspirin, sehingga memperpanjang waktu
pendarahan.3
- Ototoksisitas karena kinin/kinidin, dsb.3

Efek samping yang tidak dapat diperkirakan


a. Reaksi alergi
Alergi obat atau reaksi hipersensitivitas merupakan efek samping yang sering terjadi,
dan terjadi akibat reaksi imunologik. Reaksi ini tidak dapat diperkirakan sebelumnya,
seringkali sama sekali tidak tergantung dosis, dan terjadi hanya pada sebagian kecil dari
populasi yang menggunakan suatu obat. Reaksinya dapat bervariasi dari bentuk yang ringan
seperti reaksi kulit eritema sampai yang paling berat berupa syok anafilaksi yang bisa fatal.3
Reaksi alergi dapat dikenali berdasarkan sifat-sifat khasnya, yaitu:

- gejalanya sama sekali tidak sama dengan efek farmakologiknya,


- seringkali terdapat tenggang waktu antara kontak pertama terhadap obat dengan timbulnya
efek,
- reaksi dapat terjadi pada kontak ulangan, walaupun hanya dengan sejumlah sangat kecil
obat,
- reaksi hilang bila obat dihentikan,
- keluhan/gejala yang terjadi dapat ditandai sebagai reaksi imunologik, misalnya rash (=ruam)
di kulit,
serum sickness, anafilaksis, asma, urtikaria, angio-edema, dll.

Dikenal 4 macam mekanisme terjadinya alergi, yakni:


Tipe I. Reaksi anafilaksis: yaitu terjadinya interaksi antara antibodi IgE pada sel mast dan
leukosit basofil dengan obat atau metabolit, menyebabkan pelepasan mediator yang
menyebabkan reaksi alergi, misalnya histamin, kinin, 5-hidroksi triptamin, dll. Manifestasi
efek samping bisa berupa urtikaria, rinitis, asma bronkial, angio-edema dan syok anafilaktik.
Syok anafilaktik ini merupakan efek samping yang paling ditakuti. Obat-obat yang sering
menyebabkan adalah penisilin, streptomisin, anestetika lokal, media kontras yang
mengandung jodium.3

Tipe II. Reaksi sitotoksik: yaitu interaksi antara antibodi IgG, IgM atau IgA dalam sirkulasi
dengan obat, membentuk kompleks yang akan menyebabkan lisis sel, Contohnya adalah
trombositopenia karena kuinidin/kinin, digitoksin, dan rifampisin, anemia hemolitik karena
pemberian penisilin, sefalosporin, rifampisin, kuinin dan kuinidin, dll.

Tipe III. Reaksi imun-kompleks: yaitu interaksi antara antibodi IgG dengan antigen dalam
sirkulasi, kemudian kompleks yang terbentuk melekat pada jaringan dan menyebabkan
kerusakan endotelium kapiler. Manifestasinya berupa keluhan demam, artritis, pembesaran
limfonodi, urtikaria, dan ruam makulopapular. Reaksi ini dikenal dengan istilah "serum
sickness", karena umumnya muncul setelah penyuntikan dengan serum asing (misalnya anti-
tetanus serum).3

Tipe IV. Reaksi dengan media sel: yaitu sensitisasi limposit T oleh kompleks antigen-hapten-
protein, yang kemudian baru menimbulkan reaksi setelah kontak dengan suatu antigen,
menyebabkan reaksi inflamasi. Contohnya adalah dermatitis kontak yang disebabkan salep
anestetika lokal, salep antihistamin, antibiotik dan antifungi topikal.
Walaupun mekanisme efek samping dapat ditelusur dan dipelajari seperti diuraikan
di atas, namun dalam praktek klinik manifestasi efek samping karena alergi yang akan
dihadapi oleh dokter umumnya akan meliputi:

1. Demam.
Umumnya demam dalam derajad yang tidak terlalu berat, dan akan hilang dengan sendirinya
setelah penghentian obat beberapa hari.
2. Ruam kulit (skin rashes).
Ruam dapat berupa eritema, urtikaria, vaskulitis kutaneus, purpura, eritroderma dan
dermatitis eksfoliatif, fotosensitifitas, erupsi, dll.
3. Penyakit jaringan ikat.
Merupakan gejala lupus eritematosus sistemik, kadang-kadang melibatkan sendi, yang dapat
terjadi pada pemberian hidralazin, prokainamid, terutama pada individu asetilator lambat
(lihat b).
4. Gangguan sistem darah.
Trombositopenia, neutropenia (atau agranulositosis), anemia hemolitika, dan anemia
aplastika merupakan efek yang kemungkinan akan dijumpai, meskipun angka kejadiannya
mungkin relatif jarang.
5. Gangguan pernafasan:
Asma akan merupakan kondisi yang sering dijumpai, terutama karena aspirin. Pasien yang
telah diketahui sensitif terhadap aspirin kemungkinan besar juga akan sensitif terhadap
analgetika atau antiinflamasi lain.

b. Reaksi karena faktor genetik


Pada orang-orang tertentu dengan variasi atau kelainan genetik, suatu obat mungkin dapat
memberikan efek farmakologik yang berlebihan. Efek obatnya sendiri dapat diperkirakan,
namun subjek yang mempunyai kelainan genetik seperti ini yang mungkin sulit dikenali
tanpa pemeriksaan spesifik (yang juga tidak mungkin dilakukan pada pelayanan kesehatan
rutin). Sebagai contoh misalnya:
- Pasien yang menderita kekurangan pseudokolinesterase herediter tidak dapat
memetabolisme suksinilkolin (suatu pelemas otot), sehingga bila diberikan obat ini mungkin
akan menderita paralisis dan apnea yang berkepanjangan.
- Pasien yang mempunyai kekurangan enzim G6PD (glukosa-6-fosfat dehidrogenase)
mempunyai potensi untuk menderita anemia hemolitika akut pada pengobatan dengan
primakuin, sulfonamida dan kinidin. Kemampuan metabolisme obat suatu individu juga dapat
dipengaruhi oleh faktor genetik. Contoh yang paling populer adalah perbedaan kemampuan
metabolisme isoniazid, hidralazin dan prokainamid karena adanya peristiwa polimorfisme
dalam proses asetilasi obat-obat tersebut. Berdasarkan sifat genetik yang dimiliki, populasi
terbagi menjadi 2 kelompok, yakni individu-individu yang mampu mengasetilasi secara cepat
(asetilator cepat) dan individu-individu yang mengasetilasi secara lambat (asetilator lambat).
Di Indonesia, 65% dari populasi adalah asetilator cepat, sedangkan 35% adalah asetilator
lambat. Pada kelompok-kelompok etnik/sub-etnik lain, proporsi distribusi ini berbeda-beda.

Efek samping umumnya lebih banyak dijumpai pada asetilator lambat daripada asetilator
cepat. Sebagai contoh misalnya:
- neuropati perifer karena isoniazid lebih banyak dijumpai pada asetilator lambat,
- sindroma lupus karena hidralazin atau prokainamid lebih sering terjadi pada asetilator
lambat. Pemeriksaan untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam kelompok
asetilator cepat atau lambat sampai saat ini belum dilakukan sebagai kebutuhan rutin dalam
pelayanan kesehatan, namun sebenarnya prosedur pemeriksaannya tidak sulit, dan dapat
dilakukan di Laboratorium Farmakologi Klinik.

c. Reaksi idiosinkratik
Istilah idiosinkratik digunakan untuk menunjukkan suatu kejadian efek samping yang tidak
lazim, tidak diharapkan atau aneh, yang tidak dapat diterangkan atau diperkirakan mengapa
bisa terjadi. Untungnya reaksi idiosinkratik ini relatif sangat jarang terjadi. Beberapa contoh
misalnya:
- Kanker pelvis ginjal yang dapat diakibatkan pemakaian analgetika secara serampangan.
- Kanker uterus yang dapat terjadi karena pemakaian estrogen jangka lama tanpa pemberian
progestogen sama sekali.
- Obat-obat imunosupresi dapat memacu terjadinya tumor limfoid.
- Preparat-preparat besi intramuskuler dapat menyebabkan sarkomata pada tempat
penyuntikan.
- Kanker tiroid yang mungkin dapat timbul pada pasien-pasien yang pernah menjalani
perawatan iodium-radioaktif sebelumnya.
2.4 Faktor yang mempengaruhi terjadinya efek samping obat
1. Terapi Obat Ganda

Polifarmasi atau Penggunaan lebih dari satu jenis obat merupakan faktor
resiko yang dikenal sebagai penyebab efek samping, terutama pada orang tua. Selain
menimbulkan efeka samping, resep terapi obat ganda dapat meningkatkan resiko
interaksi antar obat.3

2. Usia

Usia yang sangat muda dan sangat tua rentan terkena efek samping.Cerminan
dari usia ini terkait dengan perbedaan dalam komposisi tubuh, aktivitas alur
metabolisme, dan perubahan farmakokinetik. Terlebih pada lansia, perubahan
farmakokinetik terjadi akibat dari perubahan anatomi dan fsiologis yang terjadi
dengan berjalannya waktu, seperti hilangnya unit-unit ( misalnya nefron dan neuron)
yang mengakibatkan penurunan fungsi sistem tubuh. Contohnya : berkurangnya ruang
bagi obat-obatan yang memiliki pengaruh terhadap fungsi ginjal.3

3. Jenis Kelamin

Perempuan tampaknya berisiko lebih besar terhadap efek sampng obat


dibandingkan dengan pria. Alasan perbedaan jenis kelamin ini dikaitkan dengan
pengaturan spesifik saluran ion oleh pengaruh hormon steroid.3

4. Penyakit

Penyakit yang membutuhkan obat ganda memiliki resiko terkena efek saming
obat. Penyakit degeneratif dapat mengubah penanganan farmakokinetik
obat,sentivitas jaringan , atau respons terhadap suatu obat. 3 Artinya, penyakit bisa
mengubah peyerapan obat,metabolisme, eliminasi, dan respon tubuh terhadap obat.

5. Perbedaan Farmakokinetik

Obat memiliki resiko efek samping pada saat terjadi perbedaan farmakokinetik
( proses melalui obat yang diserap,didistribusikan, dimetabolisme, dan dieliminasi
oleh tubuh) . Perbedaan ini antara lain, peningkatan toksisitas dan teraupetik karena
faktor genetik ( misalnya perbedaan dalam akivitas enzim ), dan adanya pengaruh
lingkungan ( misalnya asupan alkohol tinggi ).3

6. Rekonsiliasi Obat yang Tidak Lengkap

Rekonsiliasi obat mengacu pada pemeriksaan terhadap obat-obatan yang


dipakai pasien, baik obat yang diresepkan, tidak resmi, obat-obat umum. 3

2.5 Pencegahan terhadap efek samping


Pencegahan yang dilakukan terhadap efek samping yang mungkin timbul dapat
dilakukan dengan berbagai cara, walaupun pada kenyataannya efek samping yang timbul
tanpa diketahui waktu yang pasti, namun pencegahan sangat perlu dilakukan. 3 Berikut cara
yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya efek samping obat.3

-menjaga dosis obat berlebihan.


-memberikan terapi obat yg benar.
-mengedukasikan antara interaksi obat dengan makanan.
-menanyakan riwayat alergi pasien.

2.6 Penanganan terhadap efek samping yang terjadi


Penanganan terhadap efek samping obat dapat dilakukan dengan beberapa cara.
Penanganan ini sangat diperlukan karena seorang dapat terkena efek samping tanpa diketahui
pada saat kapan orang tersebut terkena efek samping, ini karena berkaitan dengan antibodi
tubuh seseorang.3

 Edukasi pasien
Edukasi sangat penting bagi pasien karena hal ini bertujuan agar pasien memilliki
pengetahuan tentang mekanisme obat dan agar dapat terhindar dari efek samping yang
dapat merugikan orang tersebut.3

 Jangan memakan obat yang menyebabkan alergi


Ketika seseorang telah memakan suatu jenis obat dan ternyata obat itu menimbulkan
efek alergi, maka di kemudian hari seseorang tersebut dapat memberitahu kepada
tenaga medis yang menanganinya untuk tidak menggunakan obat tersebut.3

 Gunakan obat sesuai dosis dan durasi


Seorang dokter harus memberitahu pemakaian obat yang benar kepada pasiennya, hal
ini agar efek yang diharapkan dari pemakaian obat tersebut dapat mencapai titik
maksimal sehingga pasien tersebut mengalami kesembuhan dari keluhannya.3

 Upaya penanganan klinik tergantung bentuk efek samping dan kondisi penderita.3
Bab 3. Kesimpulan

3.1 Kesimpulan

Pasien berusia 21 tahun mengalami gatal- gatal dan kemerahan di seluruh bagian
tubuh diakibatkan karena efek samping obat yang tidak bisa diperkirakan dan obat yang
pasien konsumsi seperti paracetamol adalah obat yang paling sering menimbulkan efek
alergi.

Daftar Pustaka
1. Tozer Thomas N & Rowland Malcolm. FARMAKOKINETIK DAN
FARMAKODINAMIK.Jakarta; Penerbit buku kedokteran EGC;2012.1-20p.
2. Goodman & Gilman. Manual Farmakologi dan terapi. Jakarta; Penerbit buku
kedokteran EGC;2011.1- 25p.

3. Syamsudin. Buku Ajar Farmakologi; Efek Samping Obat. Penerbit Salemba Medika
4. Elysabeth, Gunawan Gan Sulistiwa. Farmakologi dan Terapi.
5th.ed.Jakarta;Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia;2007.11-27p
5. Katzung, Bertam G. Farmakologi Dasar & Klinis. 12th.ed : Jakarta EGC ; 2012.