Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. sebuah penelitian

mengestimasi infeksi menyumbang 19% dari total kematian global. Seluruh kematian

akibat infeksi di karenakan oleh faktor obat-obatan antibiotik sebagai agen terapi.

Penggunaan antibiotik pada infeksi tidak selalu berhasil, karena adanya resistensi

bakteri terhadap antibiotik. Resistensi tersebut salah satunya disebabkan penggunaan

antibiotik yang tidak rasional dan terlalu bebas (Martha and Tejasari, 2014).

Beberapa bakteri resisten terhadap antibiotik sudah banyak ditemukan di

seluruh dunia, yaitu Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA),

Vancomycin-Resistant Enterococci (VRE), Penicillin-resistant Pneumococci,

Klebsiella pneumoniae yang menghasilkan enzim Extended Spectrum Beta Lactamase

(ESBL), Carbapenem-Resistant Acinetobacter baumannii dan Multiresistant

Mycobacterium tuberculosis (Kemenkes, 2011).

Angka kejadian bakteri penghasil enzim ESBL sangat bervariasi dari Negara

ke Negara, dari tempat ke tempat. Di Amerika Serikat, kejadian bakteri penghasil

enzim ESBL, bervariasi dari 0 sampai 25 % tergantung institusinya, demikian pula di

Eropa, kecuali di Belanda angka ini kurang dari 1 %. Di Perancis, 40% bakteri

penghasil enzim ESBL adalah Klebsiella pneumonia resisten terhadap Seftazidim. Di

1
2

Jepang kejadian bakteri penghasil enzim ESBL yang dihasilkan oleh Escherichia coli

dan Klebsiella Pneumonia masih rendah (masing-masing 0,1% dan 0,3%). Di negara

Asia lainnya kejadian bakteri penghasil enzim ESBL yang diproduksi oleh Escherichia

Coli bervariasi, Korea sebesar 4,8%, Taiwan sebesar 8,5%, dan Hongkong sebesar

12% (Tsang, 2007). Di Indonesia sendiri, selama kurun waktu 2004-2005 didapatkan

proporsi bakteri penghasil enzim ESBL sebesar 50,6% berdasarkan tes skrining awal.

infeksi oleh bakteri memberikan akibat yang signifikan bagi pasien rawat inap (Pajariu,

2010).

Penyebab resistensi pada bakteri salah satunya adalah karena bakteri tersebut

mampu menghasilkan enzim beta lactamase. Fungsi dari enzim beta lactamase untuk

memecah cincin oxyimino beta lactama, oleh karena itu bakteri yang menghasilkan

enzim ESBL resisten terhadap antibiotik golongan beta lactam (Aryadnyani, 2010).

Bakteri memiliki beberapa mekanisme sehingga bisa dikatakan resistensi terhadap

antibiotik. Resistensi ini dibagi menjadi tiga kelompok, resistensi primer, sekunder dan

episomal. Resistensi primer yaitu suatu sifat bakteri yang memang kurang atau tidak

aktif terhadap suatu antibiotik, sedangkan resistensi didapat yaitu resistensi yang

terjadi pada bakteri yang sebelumnya sensitif kemudian bisa berubah menjadi resisten,

sedangkan resistensi episomal yaitu resistensi terhadap plasmid yang dapat menular

pada bakteri lain yang memiliki kaitan spesies melalui kontak sel secara konjugasi

maupun transduksi (Davis and Davis, 2010).


3

Antibiotik seharusnya merupakan obat yang kuat untuk membunuh bakteri,

namun penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan berlebihan dapat merugikan

manusia, karena menyebabkan bakteri resistensi (kebal) terhadap antibiotik. Bakteri

yang kebal terhadap antibiotik akan mereproduksi jutaan bekteri yang resistensi hanya

dalam waktu sehari. Bakteri yang resistensi membuat obat yang kuat menjadi tidak

berguna, karena tidak dapat membunuh bakteri patogen (Marhamah, 2016).

Penggunaan antibiotik golongan Sefalosporin generasi ke-3 secara luas untuk

pengobatan infeksi di Rumah Sakit disebutkan menjadi salah satu faktor resiko infeksi

oleh bakteri penghasil enzim ESBL. Selain resistensi terhadap antibiotik golongan

Sefalosporin, bakteri penghasil enzim ESBL juga sering menunjukkan resistensi pada

penggunaan Fluoroquinolone. Selain penggunaan antibiotik secara berlebihan, pasien

dengan penyakit berat, Length of Stay (LOS) yang lama dan di rawat dengan alat-alat

medis yang sifatnya invasif (kateter urin, kateter vena dan endotracheal tube) untuk

waktu yang lama juga merupakan resiko tinggi untuk terinfeksi oleh bakteri penghasil

ESBL (Pajariu, 2010).

Antimicrobial Resistence Global Report of Survaill Tahun 2014 dilakukan oleh

World Healt Organization (WHO) menunjukkan tingginya resistensi bakteri terhadap

antibiotik pada daerah-daerah yang disurvei. Bakteri yang paling banyak resistensinya

terhadap antibiotik adalah Escherichia coli. Bakteri tersebut yang paling banyak

resistensi dengan antibiotik golongan Sefalosporin generasi ke-3 dan golongan

Fluoroquinolon. Salah satu obat yang termasuk golongan Sefalosporin generasi ke-3
4

adalah Seftriakson. Kedua antibiotik tersebut banyak dipakai di Rumah Sakit di

Indonesia karena harganya terjangkau. Penelitian yang di lakukan di beberapa negara

di Eropa menyebutkan bahwa kedua antibiotik tersebut sudah banyak yang tidak

bekerja (Martha and Tejasari, 2014).

Hasil penelitian dari Antimicrobial Resistant in Indonesia (AMRIN-Study) dari

2494 individu di masyarakat, 43% Escherichia coli resistensi terhadap berbagai jenis

antibiotik antara lain: Ampisilin (34%), Kotrimoksazol (29%) dan Kloramfenikol

(25%). Hasil penelitian 781 pasien yang dirawat di Rumah Sakit didapatkan 81%

Escherichia coli resistensi terhadap berbagai jenis antibiotik, yaitu Ampisilin (73%),

Kotrimoksazol (56%), Siprofloksasin (22%) dan Gentamisin (18%) (kemenkes, 2011).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Siti Aminah tahun 2008, di UPTD Balai

Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung dari Januari 2006-Juni 2008 menunjukan

bahwa antibiotik golongan penicilin yaitu Ampicilin dan Amoxicillin serta

Tetracycline adalah golongan antibiotik yang paling tinggi peningkatan resistensinya

yang diujikan pada beberapa jenis kuman, yaitu Escherichia coli, Proteus sp,

Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella sp, Staphylococus aureus dimana ke lima bakteri

tersebut adalah bakteri yang paling sering ditemukan di Rumah Sakit (Aminah, 2012).

Di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Bandar Lampung sendiri sudah

pernah dilakukan pengujian resistensi terhadap antibiotik terhadap bakteri penghasil

enzim ESBL. Berdasarkan data tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian tentang analisis pola resistensi terhadap antibiotik pada kelompok bakteri
5

penghasil enzim ESBL di RSUD dr. H. Abdul Moelok Provinsi Bandar Lampung

periode tahun 2017.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalahnya secara jelas yaitu: “Analisis

pola resistensi antibiotik pada kelompok bakteri penghasil enzim ESBL di RSUD

Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung pada periode Oktober-Desember tahun

2017”.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Bagaimana pola resistensi antibiotik pada kelompok bakteri penghasil enzim

ESBL di RSUD dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung pada periode Oktober-

Desember tahun 2017.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui distribusi frekuensi jenis sampel periode Oktober-Desember tahun

2017 di RSUD Dr. dr. H. Abdul Moeloek.

2. Mengetahui positivitas pertumbuhan bakteri di RSUD Dr. dr. H. Abdul Moeloek.

3. Mengetahui distribusi jenis bakteri di RSUD Dr. dr. H. Abdul Moeloek.

4. Mengetahui jenis bakteri berdasarkan asal sampel di RSUD Dr. dr. H. Abdul

Moeloek.
6

5. Mengetahui jenis bakteri suspek penghasil enzim ESBL di RSUD Dr. dr. H. Abdul

Moeloek.

6. Mengetahui pola resistensi masing-masing bakteri terhadap antibiotik di RSUD Dr.

dr. H. Abdul Moleok.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Menambah wawasan bagi peneliti mengenai analisis pola resistensi bakteri

terhadap antibiotik.

1.4.2 Bagi Universitas

Dapat dijadikan sebagai bahan referensi khususnya bagi Mahasiswa

Kedokteran Universitas Malahayati yang ingin mengetahui tentang analisis pola

resistensi bakteri terhadap antibiotik.

1.4.3 Manfaat Bagi Rumah Sakit

Memberika gambaran analisis pola resistensi antibiotik dan jenis-jenis bakteri

yang sudah resistensi terhadap antibiotik.