Anda di halaman 1dari 1

TABEL

Angka Partisipasi SMA berdasarkan Gender di Jembrana

Kabupaten/ 2015 2016 2017


No
Kota
L P L P L P
1 Negara 3522 3131 3820 3250 4455 3500
2 Melaya 1845 1200 2543 1355 2650 1450
3 Pekutatan 1354 1205 1539 1325 1789 1421
4 Mendoyo 2089 1564 2245 1766 2553 1988
5 Jembrana 2234 1765 2468 1823 2783 2001
Jumlah siswa 11.044 8.865 12.615 9.519 14.230 10.360

Keterangan :

Laki-Laki = 37.889

Perempuan = 28.744

ANALISIS :

Berdasarkan tabel diatas dapat kami simpulkan bahwa jumlah siswa laki laki yang mengenyam
pendidikan di Sekolah Menengah Atas di wilayah Jembrana selalu meningkat dari tahun ke tahun,
begitu pula dengan jumlah siswa perempuan yang juga selalu meningkat dari tahun ke tahun namun
dari data yang kami kumpulkan jumlah siswa Laki-laki yang bersekolah di SMA selalu lebih banyak
dari pada siswa perempuan. Contohnya diwilayah Negara pada tahun 2017 jumlah siswa laki-laki
meningkat 635 orang dari tahun 2016 sedangakan jumlah siswa perempuan meningkat hanya
sebesar 250 orang. Hal ini tentu menunjukkan kesenjangan antara peningkatan jumlah laki-laki dan
perempuan yang mengenyam pendidikan di bangku SMA. Kami melihat bahwa kesenjangan yang
terjadi ini merupakan dampak dari Isu Gender yaitu sub-ordinasi dan pandangan stereotipe yang
tidak dapat dipungkiri bahwa telah menjadi gejala sosial dikalangan masyarakat terkhususnya
Jembrana.

Timbulnya sub-ordinasi yang menjadi gejala sosial dalam masyarakat tidak lepas dari budaya
patrilineal yang dianut oleh masyarakat Bali yang mana menempatkan kedudukan perempuan selalu
lebih rendah dari laki-laki, bukan hanya dalam hal pembagian warisan laki-laki diprioritaskan namun
dalam bidang pendidikan pun laki-laki selalu di nomor satukan.

Pandangan Stereotipe yang melulu menganggap perempuan hanya mampu mengerjakan pekerjaan
domestik ( ibu rumah tangga ) juga sangat berperan terhadap kurangnya jumlah perempuan yang
mengenyam pendidikan dibangku sekolah menengah atas anggapan bahwa perempuan yang ujung-
ujungnya hanya mengurus rumah tangga sehingga perempuan dianggap tidak perlu
“Berpendidikan”.