Anda di halaman 1dari 5

Pendidikan Anti Korupsi

KELOMPOK 8

NAMA ANGGOTA :
1. Cindy F. Hawu
2. Beatrice P. Demon
3. Bernadus Boy
4. Windy Boimau

SEMESTER : VI

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2018
1. Sejarah Korupsi di Masa Lampau
a. Mesir Kuno
Perilaku korupsi di Mesir mulai ada sejak penguasaan Muhammad Ali Pasha
1765. Sampai pada saat Revolusi Mesir 23 Juli 1952 dicetuskan, topik yang paling
hangat dibicarakan adalah tentang korupsi.
b. Romawi
Pada zaman Romawi korupsi dilakukan oleh para jenderal dengan cara memeras
daerah jajahannya, untuk memperkaya dirinya sendiri. Pada abad pertengahan
para bangsawan istana kerajaan juga melakukan praktek korupsi.
c. Indonesia
Korupsi Masa VOC ( Verenigde oost indische Compagnie)
Benedict Anderson ( 1792) dalam tulisanya yang berjudul “ The ideal of power ini
javanese culture” menyatakan bahwa korupsi di indonesia suda ada sebelum
belanda menjajah indonesia, menurutnya budaya korupsi sudah di mulai sejak
zaman VOC ( Verenigde oost indische Compagnie). VOC adalah ssebuah asosiasi
dagang yang perna menguasai dan memonopoli perekonomian nusantara,asosiasi
ini bahkan bertindak sebagai “pemerintah” yang mengatur dan berkuasa atas
wilayah nusantara, praktek dagang yang di kembangkan sangat monopolis,
sehingga hubungan dagang diwarnai kecurangan dan persengkongkolan yang
cenderung korup, karena tingganya tingkat korupasi di dalam tubuh VOC itulah
maka Akhinya VOC mengalami kebangkrutan.
Korupsi Masa Penjajahan Belanda
korupsi di zaman belanda dapat di telusuri dengan munculnya istilah (terminoogi)
“katabelece”57 sebagai salah satu modus operandi korupsi pada zaman belanda,
katebelence sendiri berasal dari kosa kata belanda yang berarti “surat sakti”,
gunanya untuk mempengaruhi kebijakan/keputusan untuk kepentingan yang
sifatnya menguntungkan pribadi atau kelompok tertentu.
Korupsi pada zaman belanda dengan modus berbeda dapat di lihat pada kebijakan
tanam paksa pemerintah hindia belanda terhadap warga pribumi, rakyat pibumi di
paksa untuk menanam komuditi-komoditi yang laku dan di butuhkan di pasar
eropa,seperti kopi, teh, nila dan cabai, menurut peraturan pemerintah hindia
belanda, pribumu wajib menanan 1/3 dari sawa mereka untuk di tanami komudity
yang sudah di tentukan oleh pemerintah hindia belanda. Dan meluangkan 1/3
waktunya untuk mengawasi tanaman tersebut, tapi pada prakteknya petani harus
menanam 2/3 tanahnya untuk di tanami tanaman komodity pasar eropa, para
kepala desa,demang, wedana memaksa para petani untuk menanam 2/3 tanaman
yang di inginkan oleh hindia belanda, yang sudah barang tentu keuntunan akan
masuk kantong pribadi mereka, sementara itu para pengawas utusan pemerintah
belandan membiarkan praktek korupsi tersebut terus berjalan. Tentunya mereka
juga dapat bagian yang tidak sedikit dari persengkokolan tersebut. Dan praktrek
seperti ini berlangsung selama beratusratus tahun, sehingga sudah menjadi budaya
bagi pemerintah hindia belanda.
Korupsi pada masa penjajahan jepang.
Menurut para ahli sejarah, di perkirakan masa jepang adalah masa mewabahnya
korupsi di indonesia sebelum masa kemerdekaan. Bahkan akibat dari langkahnya
minyak tanah bagi kebutuhan tentara jepang, mereka menyuruh dan memaksa
rakyat pribumi untuk menanm pohon jarak yang digunakan untuk kepentingan
penerangan tentara jepang.
Korupsi Dimasa Orde lama.
korupsi juga terjadi pada pemerintahan pra kemerdakaan, yakni pemerintahan
orde lama, pemerintahan era soekarno juga di landa banyak kasus-kasus korupsi,
setidaknya tercatat sudah dua kali pemerintah pada masa itu membentuk badan
pemberantasa korupsi, yakni paran dan operasi budhi. PARAN singkatan dari
panitia Retooling aparatu negara di bentuk atas dasar undang-undang keadaan
bahaya, dipimpin oleh Abdu Harist Nasution, salah satu tugasnya adalah agar para
pejabat pemerintah mengisi formulir, sama dengan pelaporan kekayaan pejabatan
publik pada masa sekarang.
Korupsi pada masa orde baru.
Menurut prof. Ulul Albab (rektor Universitas Dr.soetomo surabaya) dalam
makalahnya menyebutkan bahwa setidaknya ada dua periode untuk menganalisis
kebijakan pemerintah orde baru 59. Pertama, tahun 1966-1980 pemerintahan
soeharto di tandai dengan monopoli negara atas urusan ekonomi yang strategis,
kedua, tahun 1980-1998 Pemerintahan soeharto ditandai dengan privatisasi
ekomomi. Korupsi yang tejadi tahun 1996-1980 di warnai terjadinya kolusi antara
pejabat pemerintah dengan para cukong dari etnis tionghoa, sedangkan pada tahun
1980-1998 di picu adanya nepotisme antara soeharto, anak-anak dan keluarganya.

2. Penyebab Terjadinya Korupsi


a. Upah
Upah atau gaji yang rendah merupakan inti persoalan korupsi. Naikkan gaji, dan
masalah akan lenyap. Demikianlah pandangan konvesional selama ini. Dalam
rangka memenuhi kebutuhan yang makin bertambah sementara gaji atau
penghasilan hanya pas-pasan, PNS terpaksa menyalahgunakan wewenang (abuse
of power) dikantornya secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.
Seorang pengamat dari Afrika mengatakan bahwa beberapa negara di Afrika
bukanlah negara demokrasi tetapi negara kleptokrasi. Namun, ini bukan berarti
bahwa menaikkan gaji pegawai negeri bukan salah satu faktor yang penting untuk
mengurangi korupsi. Tetapi, langkah itu bisa efektif hanya jika diambil sebagai
bagian dari paket tindakan yang menyeluruh dalam rangka reformasi birokrasi
pemerintahan, yang tidak saja mencakup memberi gaji yang cukup dan insentif
yang menarik tetapi juga menerapkan syarat kemampuan dalam mengangkat dan
menaikkan pangkat pegawai negeri, mengganti pegawai yang korup, dan
mengadakan pelatihan yang tepat.
b. Kebudayaan
Salah satu cara untuk membenarkan suap adalah menggunakan argumen
"relativisme budaya”. Di negara-negara maju sering dikatakan bahwa di banyak
negara sedang berkembang korupsi adalah bagian dari “kebudayaan”. Bahwa
rakyat di suatu negara mungkin mau membayar uang semir yang jumlahnya tidak
besar dengan senang hati (misalnya, untuk mendapat surat izin, lisensi dan
sebagainya) tidak berarti bahwa mereka menyetujui hal itu; memberi uang semir
mungkin mereka “anggap cara yang paling praktis untuk meperoleh apa yang
mereka inginkan atau butuhkan. Sebuah anggapan yang mungkin lama kelamaan
menjadi tidak benar lagi bila jumlah uang semir yang diminta makin besar. Atau
tersingkir dengan tiba-tiba jika konsumen yakin bahwa kelangkaan yang
melandasi uang semir itu sengaja diciptakan atau bahwa proses-proses yang lebih
baik sebenarnya bisa saja diciptakan.
c. Manajemen Kontrol
Pengendalian manajemen merupakan salah satu syarat bagi tindak pelanggaran
korupsi dalam sebuah organisasi. Semakin longgar/lemah pengendalian
manajemen sebuah organisasi akan semakin terbuka perbuatan tindak korupsi
anggota atau pegawai di dalamnya.
d. Modernisasi/Hedonisme
Hal yang menarik untuk dicermati dalam fenomena korupsi dewasa ini adalah
mereka yang terlibat korupsi adalah kalangan elite aparatus negara yang terdidik
dan memiliki penghasilan yang cukup memadai pula. Motif korupsi pada
kelompok elite ini jelas-jelas bukanlah untuk sekadar memenuhi tuntutan
kebutuhan hidup melainkan lebih bertujuan untuk memenuhi hasrat keinginan
mereka yang tiada batas. Akibatnya, jabatan dan kekuasaan yang semestinya
identik dengan tugas dan tanggungjawab untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat justru dijadikan arena penyemaian gaya hidup hedonis, yakni gaya hidup
yang lebih mengedepankan kenikmatan duniawi pribadi atau kelompok daripada
kepentingan rakyat banyak.
Bagi kaum hedonis, perburuan kedudukan atau jabatan bukanlah terdorong oleh
amanat penderitaan rakyat, melainkan untuk melampiaskan hasrat kekuasaan,
karena di dalamnya mereka memperoleh kenikmatan sebagai kelas penguasa (the
ruling class) yang memiliki kewenangan untuk memerintah atau mengatur kelas
yang dikuasainya (the ruled class). Dengan memanfaatkan kekuasaannya mereka
dengan mudah melakukan praktik abuse of power, yakni tindakan-tindakan untuk
mempertahankan kekuasaan dengan menggunakan instrumen-instrumen
kekuasaan yang melekat padanya termasuk membangun kolaborasi dengan elite
pengusaha (korporat) sebagai sponsor politik. Melalui relasi transaksional,
kolaborasi antara birokrat dan korporat sangat berpotensi melahirkan kleptokrasi
dalam bentuk tindakan korupsi yang dilakukan oleh kalangan birokrat dan
tindakan merugikan keuangan negara yang dilakukan oleh kalangan korporat.
Dengan demikian, antara penguasa dan pengusaha akhirnya berbagi kenikmatan
dari hasil permufakatan-jahat mereka.
Referensi

Pujastawa, G. L. I.2012. Kekuasaan di Atas Logika Uang. Makalah dipresentasikan pada


Seminar Nasional Membedah Korupsi sebagai Bencana Nasional, Universiats Udayana,5
Juli, Denpasar.

Tim Penulis Buku Pendidikan Anti Korupsi. 2011. Pendidikan Anti Korupsi untuk Perguruan
Tinggi/Anti Korupsi. Jakarta: Kemndikbud

Handyo, Eko. 2015. Pendidikan Anti Korupsi. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Pope, Jeremy. 2003. Strategi Memberantas Korupsi: Elemen Sistem Integritas Nasional.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Nafi, Abdun. 2009. Gambaran Umum Korupsi. Diambil dari:


http://digilib.uinsby.ac.id/8064/4/BAB%20II.pdf.

Diana, T. 2013. Mesir Pada Pemerintahan Raja Farouk. Diambil dari :


http://eprints.uny.ac.id/21742/3/BAB%20II.pdf.