Anda di halaman 1dari 5

Tips & Trik Belajar IELTS (5): Writing

Posted on March 4, 2018 by Mushonnifun Faiz Sugihartanto

Tulisan ini sekaligus menjadi bagian terakhir alias menuntaskan tips trik belajar IELTS. Setelah
sebelumnya saya bahas di bagian pertama tentang material preparation, kemudian bagian kedua
mengenai listening, bagian ketiga tentang reading, lalu di bagian keempat mengenai speaking.
Sengaja yang susah saya taruh di akhir :p .
Overall Writing
Bisa dibilang, ini adalah bagian tersulit pada tes IELTS. Umumnya, orang-orang Indonesia hanya
mampu mencapai skor 6.0 dalam writing. Yups, karena bisa dibilang style kepenulisannya setengah
academic style. Waktu yang disediakan adalah selama 60 menit atau 1 jam.

Terdapat 2 macam task pada writing. Task 1 dan task 2. Task 1 kita diperintahkan menulis minimal
150 kata (tidak boleh kurang, tapi jangan terlalu panjang juga). Pada task ini untuk IELTS academic
kita diminta mendeskripsikan semacam pie chart, bar chart, table, dst. Idealnya, dalam 20 menit,
task 1 ini harus sudah selesai. Sedangkan task 2, kita diperintahkan menulis minimal 250 kata.
Isinya tentang opini kita terhadap soal yang diberikan. Bisa dalam bentu agree-disagree, discussion,
dan lainnya.

Secara garis besar, ada 3 bagian pada struktur writing IELTS. Yang pertama tentang introduction,
berisikan mengenai topik yang akan kamu bahas, biasanya ini dituliskan dengan mem-paraphrase
soal. Juga masukkan pendapatmu di situ ke arah setuju atau tidak setuju.

Bagian kedua adalah Body. Berisikan penjelasan mengenai pendapatmu. Ada Body 1 dan Body 2,
yang terbagi di dua paragraf. Misal paragraf pertama menunjukkan positifnya, paragraf kedua
menunjukkan negatif. Atau dua duanya positif, dst.
Bagian ketiga adalah conclusion, yaitu kesimpulan. Kesimpulan dari penjelasan dan pendapatmu
semua, disertai alasan. Ini juga harus menggunakan lagi-lagi parafrase dari kalimat sebelumnya.

Band Descriptor : Pahami untuk Strategi


Seperti yang pernah saya tekankan di tulisan saya sebelumnya tentang speaking, pada writing pun
kita harus memahami band descriptor. Lagi-lagi dalam bahasa saya sebenarnya band descriptor itu
bisa dibilang kunci jawaban untuk meraih skor yang kita inginkan.
Berikut ini merupakan band descriptor IELTS Task 1 :

Nah, kalau yang di bawah ini merupakan band descriptor IELTS Task 2:

1. Task Response : MOST IMPOTANT


Saya katakan bagian ini paling penting, karena bagian ini sebenarnya adalah menguji pemahaman
kita akan soal. Istilahnya soalnya minta pendapat tentang ini, kamu jawabnya ya tentang ini. Hal
inilah dulu saat saya di pare yang sering dilatih terus menerus. Terutama ada di paragraf pertama,
yaitu Introduction.

Kesalahan meresponse soal, bisa fatal bahkan merembet ke yang lainnya. Karena apa, karena ya
jawabanmu nggak nyambung. Misal ditanya pendapat tentang pendidikan, kamu jawabnya tentang
politik.
Nah, saat meresponse pun juga terdapat beberapa kategori pada band tersebut. Jika teman-teman
melihat band – band tersebut, terdapat yang minimal, address partially, address fully but not
balance, adress fully, sufficiently addres, dst. Hal itu menunjukkan di sini setidaknya kita bisa fully
address. Benar-benar penuh menjawab pertanyaan tersebut.
Seringkali yang terjadi ketinggalan karena kurang teliti. Misal pada soal di bawah ini :

Dalam soal itu menurut saya ada 5 poin yang tidak boleh missing atau hilang. Pertama, orang tua
tidak boleh menekan anak. Kedua, masalah pemilihan profesi tertentu. Ketiga, anak muda punya
kebebasan. Keempat, memilih track / jalan karir yang mereka suka. Kelima, cenderung ke setuju
atau ke tidak setuju. Nah lho, keempat-empatnya harus ada dan terjelaskan di tulisan teman-teman.
Kadang missing di satu kata misal parents, teman-taman ada yang lupa tidak menyebutkan bahwa
yang tidak boleh menekan itu orang tua, atau salah teman-teman menyebut “orang-orang”, dst.

Nah bayangkan ketika teman-teman pada section ini sudah gagal paham sama soalnya, otomatis
bakal bakal benar-benar berimbas ke yang lain.

2. Coherence and Cohession


Nah, kalau teman-teman sudah mampu mengerti maksud soal, dan sudah kebayang, ini yang nggak
kalah penting. Coherence artinya adalah keterkaitan antara ide satu dengan ide yang lain (biasanya
antar paragraf). Sedangkan cohession adalah keterkaitan atau konektivitas antara kalimat satu
dengan kalimat yang lain.

Pada IELTS, tentu kita mengenal kata-kata yang digunakan untuk mengkoneksikan antara satu
kalimat dengan yang lain, misal In addition (sebagai tambahan), Moreover (lebih dari itu), Firstly,
Secondly, Thirdly, However (namun demikian), In contrast (sebaliknya), dan kata-kata yang lain.

Nah, ini juga meruapakan bagian yang gampang-gampang susah. Kelihatannya gampang, namun
sebenarnya cukup susah juga. Jangan sampai ide kita loncat antara satu kalimat dengan kalimat
lain nggak nyambung. Buat yang terbiasa menulis, hal ini biasanya tidak menjadi masalah. Intinya
antar satu kalimat dan kalimat yang lain itu harus berhubungan, dan jangan sampai pembahasannya
meloncat.
3. Lexical Resource.
Nah, ini sama dengan di speaking. Tentang kekayaan kosakata kita. Bedanya adalah jangan
sekali-sekali memasukkan idiom ke writing, karena itu sifatnya unformal.
Seperti yang saya sarankan, gunakan kosakata ini jangan yang terlau advanced dan susah, kecuali
kalau teman-teman tahu penggunaan kosakata itu collocation-nya untuk kalimat seperti apa.
Pastikan juga spellingnya benar, karena kalau dalam IELTS, typo itu tidak bisa dimaklumi, dan bisa
dianggap salah. Penilaiannya overall sama dengan speaking, semakin banyak less common-nya
semakin bagus. Asal ya itu tadi, sesuai penggunanya.

4. Grammatical Range and Accuracy


Overall sama dengan speaking. Yang harus teman-teman waspadai adalah seringkali missing di
singular – plural (nulis nya kurang huruf “s” untuk plural / jamak). Kemudian bentuk kalimat ini past,
present, atau future. Yang seringkali tidak teliti adalah past tapi dipakai present. Ini benar benar
amat disayangkan.

Gunakan juga beberapa advanced grammar. Se-sederhana-sederhananya adalah complex


sentence. Jangan simple sentence.
Tips & Trick
1. Berlatih, berlatih dan berlatih. Writing sendiri merupakan pembiasaan. Silahkan berlatih dengan
berbagai jenis macam soal writing. (Ini bisa googling). Mulai dari agree disagree, discuss both views,
advantages disadvantages, dan lainnya. Termasuk untuk task 1 juga banyak macamnya. Teman-
teman harus pernah mencoba semua tipe soal agar tidak kaget saat ujian nanti.
2. Gunakan lima menit awal untuk mengkonsep. Nah ini berguna agar saat mengerjakan, tiba-
tiba teman-teman merasa blank. Rencanakan teman-teman akan menulis apa di paragraf 1, 2, 3,
hinga ke-empat. Ini tidak akan membuang waktu teman-teman. Penyakit yang seringkali terjadi
pada IELTS Taker adalah, mereka tidak merencanakan dulu, karena takut waktunya nggak cukup.
Namun akibatnya akhirnya jatuh di coherence dan cohession-nya. Flow essay-nya nggak dapat.
Antar kalimat nggak nyambung, karena bisa saja di tengah-tengah kehabisan ide.
3. Selalu petakan SOAL dengan menggarisbawahi tiap poin penting pada soal. Ini penting
untuk menjawab task response. Seperti yang saya contohkan di atas, task response itu bisa
terbagi dalam beberapa poin, sehingga dengan teman-teman menandainya, maka tidak ada bagian
yang missing yang tidak tercantum di tulisan teman-teman.
4. Selalu update di internet soal-soal terbaru. Nah, ini banyak sekali kok. Keyword di google
tinggal ketik saja : IELTS recent writing test. Banyak sekali, dan teman-teman tinggal cek saja
postingan tersebut di post tanggal berapa, pilih yang paling baru. Agar tahu model-model soal
terbaru.
5. Jangan terlalu fokus ke Vocab. Teman-teman, sepandai-pandainya kita, tetap saja lebih pandai
penutur bahasa inggris langsung. Hal yang seringkali salah kita lakukan adalah menghafal vocab-
vocab yang susah, lalu banyak sekali kita gunakan, seolah kita benar-benar tahu penggunannya.
Akhirnya justru itu bisa menghancurkan flow sentence kita, kemudian malah tidak menjawab task
response, dst. Gunakan vocab advanced yang aman, dan general bisa dipakai ke banyak konteks.
Lebih baik play safe aja.
6. Hati-hati, jangan menghabiskan banyak waktu di task 1. Seringkali karena terlalu asyik,
akhirnya task 2 dikorbankan. Padahal secara bobot nilai, task 2 kalau tidak salah mencapai 70%.
Nah makannya saran saya benar-benar perhatikan waktu. Batasi task 1 maksimal hanya 20 menit.
Untuk ini, teman-teman harus berlatih.
7. Sediakan waktu untuk melakukan cross check grammar. Ini optional, namun sangat-sangat
dianjurkan. Selesai menulis, usahakn gunakan 3 – 5 menit akhir untuk membaca kembali semua
tulisan kita. Perbaiki yang missing “s” (ini seringkali, untuk kalimat he-she-it, plural), lalu cek apabila
past jangan sampai menggunakan present (ini juga sering, kurang imbuhan “ed”).
8. Banyak membaca sample writing di internet yang band tinggi.Nah, teman-teman ini
disarankan juga membaca untuk sample writing dengan band 9 misalnya. Temukan bagaimana pola
kalimatnya.
9. Avoid Slang & Idiom. Nah jangan sekali-sekali menuliskan bahasa atau kosakata kasar, serta
idiom. Karena itu sangat-sangat tidak academic style.
10. Hindari perulangan. Di sinilah kosakata teman-teman juga perlu kaya. Jangan sampai banyak
kata-kata yang terlalu diulang. Se-maksimal maksimalnya adalah tiga kali lah. Jangan sampai lebih
dari itu.
Well, akhirnya selesai sudah tips dan trik IELTS ini. Jika ada kurang mohon maaf sebesar-besarnya.
Bagi saya, belajar IELTS itu menyenangkan karena menantang kita untuk dapat berbahasa inggris
dengan baik.

Oh ya pesan terakhir juga,seperti yang dipesankan oleh tentor saya di Pare dulu bahwa :

“Jangan kejar skor-nya. Tapi kejar skill-nya. Skor itu bakal mengikuti dari skill
yang kita punyai”.
Skor tinggi tak ada jaminan saat diluar negeri, apalagi yang ke negara Inggris akan bisa menulis
dengan baik dan benar. Banyak sekali kisah mahasiswa S-2 yang awal-awal stress gara-gara
paper-nya dibuang oleh supervisornya karena menurut mereka yang buruk itu tata bahasanya.
Semoga bermanfaat. Jika ada yang kurang jelas, feel free untuk bertanya