Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

I. Konsep Kebutuhan
1.1 Defenisi Penyakit
Hernia adalah protusi (penonjolan) ruas organ , isi organ ataupun
jaringan melalui bagian lemah dari dindingrongga yang bersangkutan
atau lubang abnormal.
1.2 Defenisi Kebutuhan
Kenyamanan/rasa nyaman adalah suatu keadaan telah terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan ketentraman (suatu
kepuasan yang meningkatkan penampilan sehari-hari), kelegaan
(kebutuhan telah terpenuhi), dan transenden (keadaan tentang sesuatu
yang melebihi masalah dan nyeri). Kenyamanan mesti dipandang secara
holistik yang mencakup empat aspek yaitu:
a. Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh.
b. Sosial, berhubungan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan
sosial.
c. Psikospiritual, berhubungan dengan kewaspadaan internal dalam diri
sendiri yang meliputi harga diri, seksualitas, dan makna kehidupan.
d. Lingkungan, berhubungan dengan latar belakang pengalaman
eksternal manusia seperti cahaya, bunyi, temperatur, warna, dan
unsur alamiah lainnya.
Meningkatkan kebutuhan rasa nyaman (bebas nyeri) diartikan
perawat telah memberikan kekuatan, harapan, hiburan, dukungan,
dorongan, dan bantuan.
Nyeri adalah sensori yang tidak menyenangkan dan penagalaman
emosional yang muncul secara aktual atau potensial kerusakan jaringan
atau menggambarkan adanya kerusakan.
1.3 Fisiologi Sistem
1. Krista illika berfungsi sebagai penopang seikum dan sebelah depan
menyentuh kolon desendes.
2. Mukulus obliges externus abdominus fungsinya adalah
mengencangkan dan melindunngi organ intra abdomen.
3. Saluran ingunialis atau lingkaran ingunialis berfungsi sbagai tempat
berjalan tali mani (funukulus spermatikus) pada pria dan ligamen
bundar dari uterus pada wanita dan juga beberapa urat saraf dan
pembuluh darah.
4. Liena alba atau garis putih berfungsi memisahkan otot relatus
abdominus.
5. Tembuk lubang dalam atau internal berfungsi sebagai tempat pada
fosia otot tranfersal dimana tali mani masuk melintasi salura ingunial,
tembuk lubang tepi atau external adalah tempat di dalam abdominal
oblik external dimana tali mani muncul atau turun ke lipat paha atau
masuk skrotum.
6. Vena safena magma yang panjang fungsinya untuk mengalirkan darah
kotor dari seluruh tubuh ke jantung.
1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Fungsi
Faktor yang dapat dipandang berperan kausal adalah adanya
peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding
perut karena usia, jika kantung hernia inguinalis lateralis mencapai
scrotum disebut hernia scrotalis.
Penyebab lain yang memungkinkan terjadinya hernia adalah:
a. Hernia inguinalis indirect, terjadi pada suatu kantong kongenital
sisa dan prosesus vaginalis.
b. Kerja otot yang terlalu kuat.
c. Mengangkat beban yang berat.
d. Batuk kronik.
e. Mengejan sewaktu miksi dan defekasi.
f. Peregangan otot abdomen karena meningkatkan tekanan intra
abdomen (TIA) seperti: obesitas dan kehamilan.
1.5 Macam-macam Gangguan yang Mungkin Terjadi
a. Resiko rasa sakit permanen pasca operasi hernia, hal ini tampaknya
menjadi lebih umum setelah operasi hernia yang berulang. Nyeri
kronis ini mungkin memerlukan pengobatan jangka panjang.
b. Infeksi luka, meskipun jarang terjadi namun infeksi luka yang
menimbulkan peningkatan kemerahan, bengkak atau nyeri harus
segera menghubungi dokter, karena bisa saja infeksi disebabkan
oleh plastik mesh yang berada dalam tubuh, sehingga
mengharuskan untuk dihapus.
c. Resiko kerusakan pada pembuluh darah yang memasok testis pada
pasien laki-laki yang melakukan operasi hernia inguinalis. Resiko
akan lebih tinggi sekitar 5% jika hernia telah dioperasi
sebelumnya, hal ini dapat menyebabkan pembengkakan atau
penyusutan testis bahkan bisa bersifat permanen.
d. Resiko pembekuan darah pada daerah sekitar kaki pasca operasi
(deep vein thrombosis), pembekuan darah yang terjadi pada daerah
sekitar kaki menuju ke daerah paru-paru dimana akan
menyebabkan rasa sakit dan sesak nafas (emboli paru).
e. Seperti operasi lainnya, resiko untuk jantung atau paru-paru selalu
menjadi ketakutan tersendiri karena regangan yang terjadi pada
jantung dan paru-paru selalu diletakkan di bawah selama operasi.
Kematian pasca operasi hernia memang jarang didengar, namun
tidak ada operasi yang benar-benar terbebas dari resiko.
II. Rencana Asuhan Klien dengan Gangguan Kebutuhan
2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat Keperawatan
1. Data demografi
Nama
Usia
Jenis kelamin : tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin
Jenis pekerjaan : tidak dipengaruhi jenis pekerjaan
Alamat
Suku/bangsa
Agama
Tingkat pendidikan : bagi orang yang tingkat pendidikan
rendah/minim mendapatkan pengetahuan tentang hernia, maka
akan menganggap remeh penyakit ini.
2. Riwayat sakit dan kesehatan
a. Keluhan utama
b. Riwayat penyakit saat ini
c. Riwayat penyakit dahulu
2.1.2 Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
 Hernia reponibel terdapat benjolan dilipat paha yang muncul
pada waktu berdiri, batuk, bersin atau mengedan dan
mneghilang setelah berbaring.
 Hernia inguinal
a. Lateralis : muncul benjolan di regio inguinalis yang
berjalan dari lateral ke medial, tonjolan berbentuk
lonjong.
b. Medialis : tonjolan biasanya terjadi bilateral, berbentuk
bulat.
 Hernia skrotalis : benjolan yang terlihat sampai skrotum yang
merupakan tojolan lanjutandari hernia inguinalis lateralis.
 Hernia femoralis : benjolan dibawah ligamentum inguinal.
 Hernia epigastrika : benjolan dilinea alba.
 Hernia umbilikal : benjolan diumbilikal.
 Hernia perineum : benjolan di perineum.
2. Palpasi
 Titik tengah antar SIAS dengan tuberkulum pubicum (AIL)
ditekan lalu pasien disuruh mengejan. Jika terjadi penonjolan
di sebelah medial maka dapat diasumsikan bahwa itu hernia
inguinalis medialis.
 Titik yang terletak di sebelah lateral tuberkulum pubikum
(AIM) ditekan lalu pasien disuruh mengejan jika terlihat
benjolan di lateral titik yang kita tekan maka dapat
diasumsikan sebagai nernia inguinalis lateralis.
 Titik tengah antara kedua titik tersebut di atas (pertengahan
canalis inguinalis) ditekan lalu pasien disuruh mengejan jika
terlihat benjolan di lateralnya berarti hernia inguinalis
lateralis jika di medialnya hernia inguinalis medialis.
3. Perkusi
Bila didapatkan perkusi perut kembung maka harus
dipikirkan kemungkinan hernia strangulata. Hipertimpani,
terdengar pekak.
4. Auskultasi
Hiperperistaltis didapatkan pada auskultasi abdomen pada
hernia yang mengalami obstruksi usus (hernia inkarserata).
2.1.3 Pemeriksaan Penunjang
a. Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik.
b. Herniografi.
c. USG.
d. CT dan MRI.
e. Laparaskopi.
f. Operasi Eksplorasi.
2.2 Diagnosa Keperawatan
 Diagnosa 1: Nyeri akut
Nomor : 00132
Domain : 12
Class : 1
 Defenisi
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual
atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan.
(NANDA NIC-NOC 2015-2017).
 Batasan Karakteristik
 Bukti nyeri dengan menggunakan standar daftar periksa nyeri
untuk pasien yang tidak dapat mengungkapkan.
 Diaphoresis
 Dilatasi pupil
 Ekspresi wajah nyeri (mis., mata kurang bercahaya, tampak
kacau, gerakan mata berpencar atau tetap pada satu focus,
meringis)
 Fokus menyempit (mis., persepsi waktu, proses berpikir,
interaksi dengan orang dan lingkungan)
 Fokus pada diri sendiri
 Keluhan tentang intensitas menggunakan standar skala nyeri.
 Keluhan tentang karakteristik nyeri dengan menggunakan
standar instrument nyeri
 Laporan tentang perilaku nyeri/perubahan aktivitas (mis.,
anggota keluarga, pemberi asuhan)
 Mengekspresikan perilaku (mis., gelisah, merengek,
menangis, waspada)
 Perilaku distraksi
 Perubahan pada parameter fisiologi (mis., tekanan darah,
frekuensi jantung, frekuensi pernafasan, saturasi oksigen,
end-tidal karbondioksida)
 Perubahan posisi untuk menghindari nyeri
 Perubahan selera makan
 Putus asa
 Sikap melindungi area nyeri
 Sikap tubuh melindungi
 Faktor yang Berhubungan
 Agen cedera biologis (mis., infeksi, iskemia, neoplasma)
 Agen cedera fisik (mis., abses, amputasi, luka bakar,
terpotong, mengangkat berat, prosedur bedah, trauma,
olahraga berlebihan)
 Agen cedera kimiawi (mis., luka bakar, kapsaisin, metilen
klorida, agens mustard)
 Diagnosa 2: Intoleran aktivitas
Nomor : 00092
Domain : 4
Class : 4
 Defenisi
Intoleran aktivitas adalah ketidakcukupan energi
psikologis atau fisiologis untuk mempertahankan atau
menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang harus atau
yang ingin dilakukan.
 Batasan Karakteristik
 Dispnea setelah beraktivitas
 Keletihan
 Ketidaknyamanan setelah beraktivitas
 Perubahan EKG (mis., aritmia, abnormalitas konduksi,
iskemia)
 Respons frekuensi jantung abnormal terhadap aktivitas
 Respons tekanan darah abnormal terhadap aktivitas
 Faktor yang Berhubungan
 Gaya hidup kurang gerak
 Imobilitas
 Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2
 Tirah baring
 Diagnosa 3: Ansietas
Nomor : 00146
Domain : 9
Class : 2
 Defenisi
Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran
yang samar disertai respons otonom (sumber sering kali tidak
spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan takut yang
disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.
 Batasan karakteristik
Perilaku
 Agitasi
 Gelisah
 Gerakan ekstra
 Insomnia
 Kontak mata yang buruk
 Melihat sepintas
 Mengekspresikan kekhawatiran karena perubahan dalam
peristiwa hidup
 Penurunan produktivitas
 Perilaku mengintai
 Tampak waspada
Afektif
 Berfokus pada diri sendiri
 Distress
 Gelisah
 Gugup
 Kesedihan yang mendalam
 Ketakutan
 Menggemerutukkan gigi
 Menyesal
 Peka
 Perasaan tidak adekuat
 Putus asa
 Ragu
 Sangat khawatir
 Senang berlebihan
Fisiologis
 Gemetar
 Peningkatan keringat
 Peningkatan ketegangan
 Suara bergetar
 Tremor
 Tremor tangan
 Wajah tegang
Simpatis
 Anoreksia
 Diare
 Dilatasi pupil
 Eksitasi kardiovaskular
 Gangguan pernafasan
 Jantung berdebar-debar
 Kedutan otot
 Lemah
 Mulut kering
 Peningkatan denyut nadi
 Peningkatan frekuensi pernafasan
 Peningkatan refleks
 Peningkatan TD
 Vasokontriksi superficial
 Wajah memerah
Parasimpatis
 Anyang-anyangan
 Diare
 Dorongan segera berkemih
 Gangguan pola tidur
 Kesemutan pada ekstremitas
 Letih
 Mual
 Nyeri abdomen
 Penurunan denyut nadi
 Penurunan TD
 Pusing
 Sering berkemih
Kognitif
 Bloking pikiran
 Cenderung menyalahkan orang lain
 Gangguan konsentrasi
 Gangguan perhatian
 Konfusi
 Lupa
 Melamun
 Menyadari gejala fisiologis
 Penurunan kemampuan untuk belajar
 Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah
 Penurunan lapang persepsi
 Preokupasi
 Faktor yang Berhubungan
 Ancaman kematian
 Ancaman pada status terkini
 Hereditas
 Hubungan interpersonal
 Kebutuhan yang tidak dipenuhi
 Konflik nilai
 Konflik tentang tujuan hidup
 Krisis maturasi
 Krisis situasi
 Pajanan pada toksin
 Penularan interpersonal
 Penyalahgunaan zat
 Perubahan besar (mis., status ekonomi, lingkungan, status
kesehatan, fungsi peran, status peran)
 Riwayat keluarga tentang ansietas
 Stressor
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M. 2013. Nursing Interventions Classifications (NIC) 6th


Edition. Missouri : Mosby Elsevier.

Brunner & Suddarth (2002). Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, volume


2, EGC. Jakarta.

Digiulio Mary, dkk (2007). Medical Surgical Nursing Demystified. New


York Chicago.

International NANDA. 2012. Diagnosis Keperawatan : Defenisi Dan


Klasifikasi 2012-2014. Editor, T.Heather Herdman; Alih Bahasa,
Made Sumarwati, Dan Nike Budi Subekti ; Editor Edisi Bahasa
Indonesia, Barrah Bariid, Monica Ester, Dan Wuri Praptiani. Jakarta ;
EGC.

Moorhed, (et al). 2013. Nursing Outcomes Classifications (NOC) 5th


Edition. Missouri: Mosby Elsevier.