Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS BANGUNAN MUSEUM BANK INDONESIA BERDASARKAN TEORI

KONSERVASI

Gambar 1. Museum Bank Indonesia


Sumber:http://www.sukita.info/museum-tertua-di-indonesia-yang-masih-bertahan-sampai-saat-ini/museum-bi/
Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang
dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia
pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak
kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Penyajiannya dikemas
sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display
elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga
menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu
terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia,
seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang
ditampilkan juga secara menarik.
Peresmian Museum Bank Indonesia dilakukan melalui dua tahap, yaitu
peresmian tahap I dan mulai dibuka untuk masyarakat (soft opening) pada tanggal 15 Desember
2006 oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin Abdullah, dan peresmian tahap II (grand
opening) oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21 Juli 2009. Museum Bank
Indonesia buka setiap hari kecuali Senin dan hari libur nasional dan mengunjunginya tidak dipungut
biaya. (hasil survey ke bank indonesia).

A. Revitalisasi Museum Bank Indonesia


Revitalisasi merupakan upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota
yang dulunya pernah vital/hidup, akan tetapi kemudian mengalami kemunduran/degradasi. Skala
revitalisasi ada tingkatan makro dan mikro. Proses revitalisasi sebuah kawasan mencakup
perbaikan aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial. Pendekatan revitalisasi harus mampu
mengenali dan memanfaatkan potensi lingkungan (sejarah, makna, keunikan lokasi dan citra
tempat) (Danisworo, 2002).
Awal mulanya bangunan objek wisata Museum Bank Indonesia adalah sebuah rumah sakit
umum yang bernama Binnen Hospitaal, hingga pada sekitar tahun 1828, bangunan tersebut di
ubah fungsinya menjadi tempat penyimpanan uang atau Bank dengan nama De Javashe Bank.
Selama satu abad berlangsung, tepatnya pada tahun 1953 setelah 9 tahun kemerdekaan Republik
Indonesia, bangunan DJB di tetapkan sebagai Bank Sentral Indonesia atau yang lebih dikenal
sebagai Bank Indonesia. Selang 9 tahun kemudian yaitu pada tahun 1962, pemerintah Indonesia
kemudian memindahkan Bank Indonesia tersebut ke lokasi baru dan lebih strategis, sehingga
tempat BI yang dahulu mejadi kosong tanpa di gunakan untuk keperluaan yang penting. Akhirnya
pada tahun 2006 Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah meresmikan bangunan kosong
tersebut sebagai Museum Bank Indonesia yang dapat di akses secara mudah oleh masyarakat
umum.

Gambar 2. De Javashe Bank


Sumber:http://4.bp.blogspot.com/_KHtzy9ydXf0/S0SYKqS_wKI/AAAAAAAAABw/S4lnaeEmRzo/s1600-h/1925-
De-Javasche-Bank.jpg
Dilandasi dengan keinginan untuk dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat
mengenai peran BI dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk memberikan pemahaman tentang
latar belakang serta dampak dari kebijakan-kebijakan BI yang diambil dari waktu ke waktu secara
objektif, Dewan Gubernur BI telah memutuskan untuk membangun Museum Bank Indonesia
dengan memanfaatkan gedung BI Kota yang perlu dilestarikan. Pelestarian gedung BI Kota
tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang telah
mencanangkan daerah Kota sebagai daerah pengembangan kota lama Jakarta. Bahkan, BI di
harapkan menjadi pelopor dari pemugaran/revitalisasi gedung-gedung bersejarah di daerah Kota.
Perubahan yang ada pada Museum Bank Indonesia antara lain adalah, bagian lantai pertama
yang sebelumnya adalah rumah sakit dan kantor dirubah menjadi cafe dan kantor pengelola.
Bagian yang sebelumnya ruang-ruang sebagai tempat transaksi uang sebagaiannya telah menjadi
loket tempat penjualan tiket, dan sisa dari ruang-ruang transaksi dibiarkan kosong sebagai koleksi
dari Museum Bank Indonesia.
Menurut buku konsep penyajian museum alur pengunjung dan penanda arah adalah proses
kerja perencanaan pada fase konseptual. Disamping untuk ruang pamer dalam (interior) alur ini
juga berlaku untuk penataan luar (exterior) yang dalam perencanaannya harus dikaji secara holistik
atau terpadu. Ada beberapa hal utama yang harus diperhatikan dalam penyusunan gagasan pola
alur penyajian dan alur pengunjung, yaitu:
 Alur Sirkulasi, mulai dari pintu masuk hingga pintu keluar.
 Konsep dan Besaran ruang.
 Material (bahan bangunan), tekstur dan warna yang digunakan (textual dan visual concept).
Dalam membuat museum salah satu yang harus diperhatikan adalah besaran ruang dan
sirkulasi pada museum tersebut sehingga pengunjung yang ingin masuk tidak harus menunggu
pengunjung yang didalam museum keluar terlebih dahulu atau terjadinya penumpukan
pengunjung. Karena bangunan museum BI adalah bangunan hasil revitalisasi dari bangunan rumah
sakit dan kantor, maka terdapat adanya masalah yaitu ruangan dan sirkulasi yang tidak memenuhi
standar ketentuan dalam pembuatan museum. Untuk konsep yang disajikan pada Museum BI
sudah cukup baik artinya sesuai dengan konsep penyajian museum, menurut pendekatan konsep
alur penyajian, Museum BI ini menggunakan pendekatan taksonomik, yaitu lebih menekankan
pada penyajian koleksi yang memiliki kesamaan jenis serta berdasarkan kualitas, kegunaan, gaya,
periode, dan pembuat. Menurut textual dan visual konsepnya museum BI ini memiliki gaya
arsitektur neo-klasikal, dapat dikatakan neo-klasikal karena bangunan Museum BI memiliki ciri
bentuk bangunannya yang simetris, temboknya dibuat dengan ukuran tebal, plafonnya yang tinggi,
dan lantainya terbuat dari marmer. Meskipun bangunannya tua, bangunan tetap terlihat indah dan
terawat karena bangunan tersebut termasuk kedalam kategori bangunan Cagar Budaya. Kebersihan
pada fasad bangunan pun juga terjaga walaupun berada di lingkungan yang memiliki tingkat polusi
yang tinggi.
D. ILUSTRASI KASUS

Gambar 4. denah lantai 1 Museum Bank Indonesia


Sumber : http://denywiyono.blogspot.co.id/
Denah lantai 1 Museum Bank Indonesia yang terdiri dari beberapa ruang diantaranya:
1) Pintu masuk belakang
2) Ruang serba guna
3) Ruang gelar budaya
4) Ruang jeda
5) Ruang penerbitan & pengedaran uang
6) Ruang perpustakaan

Gambar 5. denah lantai 2 Museum Bank Indonesia


Sumber : http://denywiyono.blogspot.co.id/
Denah lantai 2 Museum Bank Indonesia yang terdiri dari beberapa ruangan diantaranya:
1) Pintu masuk utama 15) Ruang sejarah BI periode-6
2) Ruang penitipan barang 16) Ruang jeda & children corner
3) Ruang manager 17) Ruang direktur
4) Ruang lobby hall & loket 18) Ruang gubernur
5) Ruang pelayanan pengunjung 19) Ruang meeting
6) Ruang peralihan 20) Ruang gelar budaya
7) Ruang theater 21) Ruang inspirasi
8) Ruang informasi BI 22) Ruang jeda & children corner
9) Ruang sejarah pra BI 23) Ruang numismatik
10) Ruang sejarah BI periode-1 24) Ruang BI future
11) Ruang sejarah BI periode-2 25) Ruang kerja
12) Ruang sejarah BI periode-3 26) Ruang emas
13) Ruang sejarah BI periode-4 27) Ruang souvenir
14) Ruang sejarah BI periode-5

Gambar 6. Ruang Loket Pengelola Tiket yang Dulu Fungsinya adalah Sebagai Ruang Transaksi Uang.
Sumber : http://denywiyono.blogspot.co.id/
Gambar 7. Ruangan yang Masih Menjadi Bagian dari Ruang Lobby Penerimaan.
Sumber : http://denywiyono.blogspot.co.id/

Gambar 8.bagian eksterior ( depan, samping dan belakang ) Museum Bank Indonesia. Arsitektur Neo-klasik tetap
dipertahankan seperti awal mula gedung ini dibangun sebagai Rumah Sakit dan Kantor.
Sumber : http://denywiyono.blogspot.co.id/