Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada
fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang
menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan
peran sosial. Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber
dari berhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan
tidak adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbalas, kehilangan seseorang
yang dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada juga gangguan
jiwa yang disebabkan faktor organik, kelainan saraf dan gangguan pada otak
(Djamaludin, 2001). Jiwa atau mental yang sehat tidak hanya berarti bebas dari
gangguan. Seseorang bisa dikatakan jiwanya sehat jika ia bisa dan mampu untuk
menikmati hidup, punya keseimbangan antara aktivitas kehidupannya, mampu
menangani masalah secara sehat, serta berperilaku normal dan wajar, sesuai
dengan tempat atau budaya dimana dia berada. Orang yang jiwanya sehat juga
mampu mengekpresikan emosinya secara baik dan mampu beradaptasi dengan
lingkungannya, sesuai dengan kebutuhan.
Gangguan jiwa dan perilaku menurut The Health Report 2011, dialami kira-
kira 25% dari seluruh penduduk pada suatu saat dalam hidupnya dan lebih dari
40% diantaranya didiagnosis secara tidak tepat, sehingga menghabiskan biaya
untuk pemeriksaan laboratorium dan pengobatan yang tidak tepat. Kurang lebih
24% dari pasien yang mengunjungi dokter pada pelayanan kesehatan dasar
ternyata mengalami gangguan jiwa. 69% dari pasien tersebut datang dengan
keluhan keluhan fisik dan banyak diantaranya ternyata tidak ditemukan gangguan
fisiknya.
Indonesia telah menghadapi berbagai transformasi dan transisi di berbagai
bidang yang mengakibatkan terjadinya perubahan gaya hidup, pola perilaku dan
tata nilai kehidupan. Dalam bidang kesehatan terjadi transisi epidemiologik di
masyarakat dengan bergesernya kelompok penyakit menular ke kelompok penyakit
tidak menular termasuk berbagai jenis gangguan akibat perilaku manusia dan
gangguan jiwa. Gangguan jiwa dalam pandangan masyarakat masih identik dengan
“gila” (psikotik), sementara kelompok gangguan jiwa lain seperti ansietas, depresi,
dan gangguan jiwa yang tampil dalam bentuk berbagai keluhan fisik kurang dikenal.
Kelompok gangguan jiwa inilah yang banyak ditemukan dimasyarakat, sehingga
pengobatan menjadi tidak efektif.
Di Ponorogo, pasung masih digunakan sebagai alat untuk menangani klien
gangguan jiwa di rumah, terutama untuk gangguan jiwa berat. Saat ini, masih
banyak klien gangguan jiwa yang di diskriminasikan haknya baik oleh keluarga
maupun masyarakat sekitar melalui pemasungan. Kata pasung mengacu kepada
pengekangan fisik atau pengurungan terhadap pelaku kejahatan, orang-orang
dengan gangguan jiwa dan yang melakukan tindak kekerasan yang dianggap
berbahaya (Broch, 2001, dalam Minas & Diatri, 2008). Pengekangan fisik terhadap
individu dengan gangguan jiwa mempunyai riwayat yang panjang dan memilukan.
Masalah kesehatan jiwa tidak menyebabkan kematian secara langsung,
namun akan menyebabkan penderitaan berkepanjangan baik dari individu,
keluarga, masyarakat dan negara karena penderitanya menjadi tidak produktif dan
bergantung dari orang lain. Sedangkan dampak sosial yang timbul dari masalah
kesehatan jiwa antara lain meningkatnya angka kekerasan, kriminalitas, bunuh diri,
penganiayaan anak, perceraian, kenakanan remaja, penyalahgunaan zat,
HIV/AIDS, perjudian, pengangguran dan lain-lain.
Penemuan dini penderita jiwa, ketaatan dalam pengobatan, penanganan
penderita jiwa pasung untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan yang lebih
baik merupakan tanggung jawab bersama semua lintas sektor.

B. TUJUAN
1. TUJUAN UMUM
Tertanganinya kasus-kasus kesehatan jiwa pada pasien baik yang datang
berobat ke Puskesmas Jambon, maupun yang terjadi di masyarakat di wilayah
kerja Puskesmas Jambon.
2. TUJUAN KHUSUS
a. Puskesmas Jambon bebas Penderita Jiwa Pasung
b. Deteksi Dini Penderita Jiwa di wilayah kerja Puskesmas Jambon
c. Ketaatan berobat Pasien Jiwa

C. MANFAAT
1. Dapat menjadi bahan perencanaan tahunan Program Kesehatan Jiwa di
Puskesmas Jambon sehingga lebih fokus dalam melaksanakan kegiatan
program pelayanan kesehatan.
2. Sebagai bahan masukan (usulan) kegiatan/program dalam penyusunan
Rencana Kerja dan Anggaran Puskesmas Jambon Kabupaten Ponorogo
BAB II
ANALISA SITUASI

A. GAMBARAN UMUM PROGRAM KESEHATAN JIWA PUSKESMAS JAMBON


Program Kesehatan Jiwa di Puskesmas Jambon untuk saat ini kelola oleh Perawat
yang juga menangani atau bertugas di bagian poli umum di Puskesmas Jambon.
Kegiatan Program Kesehatan Jiwa antara lain :
1. Pengobatan Penderita Jiwa yang berkunjung di Puskesmas Jambon melalui Poli
Umum Puskesmas Jambon.
2. Kunjungan Penderita Jiwa Pasung.

B. WILAYAH KERJA PROGRAM KESEHATAN JIWA PUSKESMAS JAMBON

Gambar 1. Wilayah kerja Puskesmas Jambon

Wilayah kerja Puskesmas Jambon dilalui oleh 1 buah anak sungai yang
melalui desa Blembem, Pulosari. Wilayah kerja Puskesmas Jambon merupakan
daerah dataran rendah. Adapun batas-batas wilayah Puskesmas Jambon adalah
sebagai berikut:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Sampung
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kauman
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Balong
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Badegan
C. Tabel 2.1 PENEMUAN PENDERITA JIWA DAN PENDERITA JIWA PASUNG DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS JAMBON 2016
kondisi
Jml Tidak
No. DESA Tidak pasung Ket.
Penderita berobat taat
berobat
berobat
1. SRANDIL 8 5 3
2. MENANG 4 2 2
3. PULOSARI 15 3 12
4. BLEMBEM 27 5 22 1
5. JAMBON 18 5 13 1
6. KREBET 23 4 19 1
7. SIDOHARJO 26 3 23
8. BULU 15 4 11 1
9. KARANGLO KIDUL 15 4 11
10. SENDANG 22 9 21 2
11. BRINGINAN 4 2 2
12 POKO 4 - 4
13 JONGGOL 17 8 9
TOTAL 198 54 152 6

D. Tabel 2.2 DATA CAKUPAN PROGRAM JIWA 2016

No Jenis kegiatan Target Hasil


Absolut % Absolut %
1 Pengobatan 198 100 54 27,3 %
pasien jiwa
2 Pembebasan 6 100 0 0%
pasien pasung

Penetapan target capaian program jiwa Puskesmas Jambon tahun 2016 mengacu pada
target PKP (Pencapaian Kinerja Puskesmas) serta survei harapan dan kebutuhan
masyarakat. Berikut ini target yang dicapai program jiwa masyarakat pada tahun 2015
serta hasil survei kebutuhan masyarakat tahun 2016

E. Tabel 2.3 TARGET CAPAIAN PROGRAM JIWA 2016

No Indikator program jiwa Target 2016 Target absolut


1 Pasien jiwa yang berobat 198 54
2 Pembebasan pasien pasung 6 0
F. Tabel 2.3 HASIL SURVEI KEBUTUHAN MASYARAKAT DAN HARAPAN
MASYARAKAT
No Masukan dari masyrakat
1 Menambah sosialisasi penyuluhan jiwa
2 Pembentukan kader jiwa
3 Pembebasan pasung
BAB III
ANALISA MASALAH

Penyusunan rencana usulan kegiatan dilaksanakan dengan memperhatikan hal-


hal sebagai berikut yaitu menyusun rencana kegiatan yang bertujuan untuk
mempertahankan kegiatan yang sudah dicapai pada periode sebelumnya dan
memperbaiki program yang masih bermaslaah dan menyusun rencana kegiatan baru
yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi.

A. IDENTIFIKASI MASALAH
Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Identifikasi
masalah dilaksanakan dengan membuat daftar masalah. Adapun hasil identifikasi
masalah adalah sebagai berikut:
No Jenis Kegiatan Target % Pencapaian % Kesenjangan
1 Pasien jiwa taat berobat 198 100 54 27,3 72,7
2 Bebas jiwa pasung 6 100 0 0 100

B. MENETAPKAN PRIORITAS MASALAH


Mengingat keterbatasan kemampuan mengatasi masalah sekaligus, maka perlu
dilakukan preoritas masalah berdasarkan pendekatan metode USG. Berikut ini
adalah hasil penetapan preoritas masalah,
Yaitu sebagai berikut :
PENEPATAN PREORITAS MASALAH
Kreteria Masalah 1 Masalah 2
Tingkat urgensi (urgency) 5,4,3 =12/3=4 5,5,4=14/3=4,6
Tingkat keseriusan 5,4,3=12/3=4 5,4,5=14/3=4,6
(seriousnees)
Tingkat perkembangan 4,4,4=12/3=4 5,4,4=13/3=4,3
(Growt)
TOTAL (UxSxG) 64 (II) 90,9 (I)

C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan hasil penentuan prioritas masalah, maka rumusan masalahnya adalah
sebagai berikut:
1. Masih rendahnya angka cakupan pembebasan pasien pasung dipuskesmas
Jambon (.100%)
2. Masih rendahnya angka cakupan pasien yang kontrol atau berobat teratur
dipuskesmas Jambon (72,7%)
D. PENENTUAN PENYEBAB

METODE MANUSIA

Kurangnya kesadaran keluarga


dan pasien untuk taat berobat
dipuskesmas
Koordinasi dengan lintas
sektor dan lintas program Petugas merangkap
kurang program lain

Tingkat pengetahuan
masyarakat tentang
penyakit jiwa rendah Masih rendahnya
cakupan
pembebasan pasien
pasung di Puskesmas
Stigma masyarakat yang
Jambon 0 %
buruk terhadap
pembebasan pasien
pasung Kurangnya
Kurangnya dukungan dari
pendanaan
keluarga

LINGKUNGAN DANA
E. Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah
a. Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah (Metode CARL)

Program UKM
Tabel 3.6. Penyebab 1 : Tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit jiwa rendah
NO PEMECAHAN MASALAH SKOR HASIL RANKING
C A R L C xAxRxL
1 Meningkatkan LINSEK tentang 4;4;3=11/ 4;4;4=12/ 2;3;3=8/3 3;2;3=8/3 97,344 1
pembebasan pasung 3=3,6 3=4 =2,6 =2,6
2 Sosialisasi penyakit jiwa 4;4;3=11/ 4;3;3=10/ 2;3;3=8/3 2;2;2=6/3 67,392 2
3=3,6 3=3,6 =2,6 =2

Tablel 3.7. Penyebab 2 : Kurangya kesadaran keluarga dan pasien untuk berobat ke PUSKESMAS
NO PEMECAHAN MASALAH SKOR HASIL RANKING
C A R L C xAxRxL
1 Pembentukan kader pasien 4;4;3=11/ 4;4;3=11/ 2;3;2=7/3 3;2;3=8/3 97,344 1
jiwa 3=3,6 3=3,6 =2,3 =2,6

Tabel 3.8. Penyebab 3 : Koordinasi dengan lintas sektor dan lintas program kurang
NO PEMECAHAN MASALAH SKOR HASIL RANKING
C A R L C xAxRxL

1 Mengadakan koordinasi 4;4;3=11/ 4;4;3=11/ 2;3;3=8/3 2;2;2=6/3 67,92 1


dengan pemegang program 3=3,6 3=3,6 =2,6 =2
lainnya
2 Meningkatkan pelayanan 3;3;3=9/3 3;3;3=9/3 2;3;3=8/3 2;2;2=6/3 46,8 2
terpadu =3 =3 =2,6 =2
b. Penentuan Pemecahan Masalah Terpilih

Tabel 3.9. Penentuan masalah terpilih

No Prioritas Masalah Penyebab Masalah Alternatif Pemecahan Pemecahan Ket


Masalah Masalah Terpilih
1. Masih rendahnya cakupan Tingkat pengetahuan - Meningkatkan linsek Meningkatkan
tentang pembebasan linsek tentang
pembebasan pasien pasung masyarakat tentang
penyakit jiwa rendah pasung pembebasan
di Puskesmas Jambon 0 % - Sosialisasi penyakit jiwa pasung
Kurangya kesadaran Penyuluhan pada keluarga Penyuluhan pada
keluarga dan pasien dan masyarakat tentang keluarga dan
untuk berobat ke penyakit jiwa masyarakat
PUSKESMAS tentang penyakit
jiwa
Koordinasi dengan - Mengadakan koordinasi Meningkatkan
lintas sektor dan dengan pemegang program pelayanan
lintas program kurang lainnya terpadu
- Meningkatkan pelayanan
terpadu
BAB 4
RENCANA USULAN KEGIATAN ( RUK )

Tabel 4.1. Rencana usulan kegiatan


NO UPAY KEGIATA TUJU SASAR TARGET PENANG KEBUTUHAN JUM HARGA VOLUME MITR WAKTU KEBUTU INDIKA SUMB
A N AN AN SASARAN GUNG SUMBER LAH SATUAN KEGIATA A PELAKSA HAN TOR ER
KESE JAWAB DAYA N KER NAAN ANGGAR KINERJ PEMBI
HATA JA AN A AYAA
N N
1 JIWA Sosialisas Pasien Seluruh Seluruh Programe Transportasi 1 40.000 5 kali Pera Januari, 400.000 90%
i dan pasun penderit pasien r petugas dalam wat Maret,Mei penderit
penyuluh g bisa a jiwa pasung dan rangka bebas dan ,Juli, a
an KIE dibeba penderita pasung bidan Desembe pasung
KESWA skan jiwa lainya desa r dan
dan dan penderit
NAPZA semua a jiwa
pender lainya
ita jiwa mau
mau berobat
beroba ke
t ke Puskes
puskes mas
mas

1 30.000 4 kali 120.00


Konsumsi 30 10.000 2 kali 600.000
BAB VI

PENUTUP

Demikian Rencana Usulan Kegiatan (RUK) Program JIWA Tahun 2016 UPTD

Puskesmas Jambon Kabupaten Ponorogo ini kami susun, kritik dan saran yang bersifat

membangun sangat kami harapkan demi kemajuan dan peningkatan mutu pelayanan

Program JIWA di UPTD Puskesmas Jambon.

Semoga Rencana Usulan Kegiatan (RUK) dapat terlaksana dengan baik pada

tahun 2017 yang akan datang, sehingga dukungan dana dan partisipasi dari semua

pihak sangat kami harapkan.

Ponorogo, Desember 2016

Mengetahui Penanggung Jawab Program JIWA


Puskesmas Jambon
Kepala Puskesmas Jambon

Dr. PENI SAYEKTI AGUS PRAYITNO, Amd.Kep.


NIP.19750618 200801 2 008 NIP 19760308 201406 1 003