Anda di halaman 1dari 13

Abses Paru Suspek HIV pada Laki-Laki Dewasa

Rizki Siti Fitria


C5/102012263
Email : rizkisitifitria@gmail.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061. Fax. 021-5631731

Pendahuluan

Penyakit infeksi paru masih merupakan penyebab kematian yang sangat penting di
Indonesia. Baik yang mengenai cabang-cabang pembuluh paru (bronkus, bronkiolus) atau yang
mengenai jaringan paru-paru.1
Abses paru merupakan salah satu penyakit infeksi paru yang didefinisikan sebagai kematian
jaringan paru-paru dan pembentukan rongga yang berisi sel-sel mati atau cairan akibat infeksi
destruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas
yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru pada satu lobus atau lebih.

Abses paru dapat diklasifikasikan berdasarkan perlangsungan dan penyebabnya.


Berdasarkan perlangsungannya abses paru diklasifikasikan menjadi akut dan kronik. Disebut
akut apabila perlangsungannya terjadi dalam waktu 4 minggu. Abses disebut kronik apabila
perlangsungannya terjadi dalam waktu > 4-6 minggu. Sedangkan menurut penyebabnya abses
paru dibagi menjadi abses primer dan sekunder. Abses primer muncul karena nekrosis jaringan
paru (akibat pnumonitis, infeksi dan neoplasma) ataupun pneumonia pada orang normal. Disebut
abses sekunder apabila disebabkan kondisi sebelumnya seperti septik emboli (misalnya
endokarditis sisi kanan), obstruksi bronkus (misalnya aspirasi benda asing), bronkiektasis
ataupun pada kasus imunokompromis.1

1|Page
Skenario

Pasien laki-laki 27 tahun datang ke poliklinik dengan batuk lama 2 bulan

Anamnesis

Didefinisikan sebagai sesi wawancara yang seksama terhadap pasiennya atau keluarga
dekatnya mengenai masalah yang menyebabkan pasien mendatangi pusat pelayanan kesehatan.
Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien (auto-anamnesis) atau terhadap
keluarganya atau pengantarnya (allo-anamnesis) bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk
diwawancarai.2

Anamnesis yang baik akan terdiri dari:2

 Identitas – nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, nama orang tua
atau suami atau istri atau penanggungjawab, alamat, pendidikan pekerjaan, suku bangsa
dan agama.

 Keluhan utama – keluhan yang dirasakan pasien yang membawa pasien pergi ke dokter
atau mencari pertolongan.

 Riwayat penyakit sekarang – riwayat perjalanan penyakit merupakan cerita yang


kronologis, terinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan
utama sampai pasien datang berobat.

 Riwayat penyakit dahulu – mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya hubungan


antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakitnya sekarang.

 Riwayat penyakit dalam keluarga – penting untuk mencari kemungkinan penyakit


herediter, familial atau penyakit infeksi.

 Anamnesis susunan sistem – mengumpulkan data-data positif dan negatif yang


berhubungan dengan penyakit yang diderita pasien berdasarkan alat tubuh yang sakit.2

Pada anamnesis di dapatkan

Batuk dahak sulit keluar, darah (-), kontak sekitar (-), demam (+) mriang hilang timbul,
keringat malam (-), sesak (-), narkoba suntik(+) bergantian dengan teman kuliah.

2|Page
Pemeriksaan fisik

Pertama-tama, lihat keadaan umum dan tingkat kesadaran pasien. Kemudian, lakukan
pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi suhu, frekuensi pernapasan, frekuensi nadi, dan tekanan
darah. Setelah itu, lakukan pemeriksaan paru normal dan patologis untuk melihat apakah ada
nyeri pada daerah lapang paru untuk menegakkan diagnosis. Setelah itu, lakukan inspeksi dan
auskultasi pada pasien.2
Pemeriksaan yang telah didapatkan yaitu :
Keadaan utama tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, TTV tekanan darah
110/70mmhg, nadi 84x/menit, respirasi 28x/menit, suhu 37oC, BB 42, TB 165 menurun sejak 3
bulan terakhir.
Inspeksi : oral trust
Palpasi : KGB normal
Auskultasi: Wheeze (-), ronki basah kasar pada paru kana tengah.

Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium
Hitung leukosit umumnya tinggi berkisar 10.000-30.000/mm3
Pemeriksaan dahak dapat membantu dalam menemukan mikrorganisme penyebab abses ,
namun dahak tersebut hendaknya diperoleh dari aspirasi transtrakheal , transtorakal , atau
bilasan bronkus, karena dahak yang dibatukkan akan terkontaminasi dengan organisme
anaerobik normal pada rongga mulut dan saluran napas atas.
2. Bronkoskopi
Bilasan bronkus merupakan cara yang paling baik dengan akurasi diagnostik
bakteriologi melebihi 80%.
3. Aspirasi jarum perkutan
Cara ini mempunyai akurat tinggi untuk diagnosis bakteriologis , dengan spesifitas
melebihi aspirasi transtrakeal.
densitas homogen yang berbentuk bulat. Kemudian kana ditemukan gambaran
radiolused dalam bayangan infiltrat yang padat. Selanjutnya bila abses tersebut mengalami
ruptur sehingga mengalami drainase abses yang tidak sempurna ke dalam bronkus, maka

3|Page
akan tampak kavitas ireguler dengan batas cairan dan permukaan udara (air fluid level)
didalamnya.3
4. Radiologi
Foto dada PA dan lateral sangat membantu untuk melihat lokasi lesi dan bentuk abses
paru. Pada hari-hari pertama penyakit, foto dada hanya menunjukan gambaran opak dari satu
atau lebih segmen paru, atau hanya berupa gambaran densitas homogen yang berbentuk bulat.
Kemudian akan ditemukan gambaran radiolusen dalam bayangan infiltrate yang padat.
Selanjutnya bila abses tersebut mengalami rupture sehingga terjadi drainase abses yang tidak
sempurna ke dalam bronkus, maka baru akan tampak kavitas iregular dengan batas cairan dan
permukaan udara (air fluid level) di dalamnya. Khas pada abses paru anaerobic kavitasnya
kavitasnya single (soliter) yang biasanya ditemukan pada infeksi paru primer, sedangkan abses
paru sekunder (aerobic, nosokomial atau hematogen) lesinya bisa multiple.

CT-Scan adalah modalitas pencitraan yang paling sensitif dalam menegakkan diagnosis
abses paru. Kontras yang diberikan adalah kontras yang dapat bercampur dengan perselubungan
disekitar lesi sehingga batas margin dapat diidentifikasi.2,3,
Gambaran khas CT scan abses paru adalah berupa lesi dens bundar dengn kavitas berdinding
tebal, tidak teratur, dan terletak di daerah jaringan paru yang rusak. Tampak bronkus dan
pembuluh darah paru berakhir secara mendadak pada dinding abses, tidak tertekan atau
berpindah letak.
CT Scan bisa menunjukan tempat lesi yang menyebabkan obstruksi endobrokial, dan
gambaran abses tampak seperti massa bulat dalam paru dengan kavitasi sentral. CT Scan juga
bisa menunjukan lokasi abses berada dalam parenkim paru yang membedakannya dengan
empiema.3

Gambar 1.Gambaran abses paru dengan CT-scan. CT memperlihatkan kavitasi pada lobus atas
paru kiri dengan jelas (kiri). Gambaran abses paru dengan pemeriksaan CT kontras (kanan)

4|Page
Diagnosis banding
Tuberculosis
Gejala klinisnya hampir sama atau lebih menahun daripada abses paru. Pada tuberkulosis
didapatkan BTA.5
Secara umum, kavitas yang terdapat pada abses paru dan tuberculosis adalah hampir
sama. Oleh karena tuberculosis lebih sering terjadi di lapangan paru atas, maka kavitas pada
tuberculosis juga sering terdapat pada lapangan paru atas. Lain halnya dengan kavitas pada abses
paru yang dapat terjadi di seluruh lapangan paru. Selain itu, air-fluid level lebih sering terdapat
pada kavitas yang terjadi oleh abses paru sedangkan air-fluid level dilaporkan terjadi hanya pada
9%-21% dari kavitas pada TB.5
Pcp (pneumocystis pneumonia)
Adalah infeksi serius yang menyebabkan peradangan dan penumpukan cairan pada paru
paru, pcp disebabkan oleh jamur yang disebut pneumocystis jiroveci, jamur ini sering ditemukan
dan terdapat lewat udara. Kebanyakan orang yang terpapar jamur ini tidak akan sakit jika sistem
imunnya sehat namun demikian, pada orang orang yang sistem imunnya lemah seperti orang
dengan HIV/AIDS, jamur ini dapat menyebabkan pneumonia, karena karakteristik ini, pcp juga
dikenal dengan penyakit infeksi oportunitis, pcp dapat mempengaruhi bagian lain dari tubuh
seperti kelenjar getah bening, hati, dan tulang sumsum.
Gejalanya kesulitan bernafas, batuk kering dan demam

Diagnosis kerja
Abses paru suspek HIV

Abses paru didefinisikan sebagai semua lesi di parenkim paru dengan proses supurasi dan
nekrosis jaringan.2Abses paru adalah infeksi destruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru
yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru pada
satu lobus atau lebih. Abses paru dapat dibagi menjadi dua yaitu primer dan sekunder. Abses
paru primer biasanya diawali dari infeksi paru, seperti pneumonia. Sedangkan, abses paru
sekunder bisa terjadi akibat adanya gangguan atau kelainan pada paru, menghirup benda asing
atau infeksi dari organ lainnya yang menyebar ke paru.

5|Page
EPIDEMILOGI
Mortalitas/Morbiditas
Kebanyakan pasien dengan abses paru primer dapat sembuh dengan antibiotik, dengan
tingkat kesembuhan rata-rata sebanyak 90-95%. Faktor host yang menyebabkan prognosis
memburuk antara lain usia lanjut, kekurangan tenaga, malnutrisi, infeksi HIV atau bentuk lain
imunosupresi, keganasan, dan durasi gejala. lebih dari 8 minggu. Tingkat kematian untuk pasien
dengan status imunokompromis mendasar atau obstruksi bronkial yang kemudian membentuk
abses paru dapat mencapai 75%. Organisme aerobik, yang biasanya didapat di rumah sakit, juga
dapat menghasilkan prognosa yang buruk. Sebuah studi retrospektif melaporkan tingkat
kematian abses paru yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan gram negatif digabungkan
adalah sekitar 20%.
 Seks : Laki-laki mempunyai prevalensi yang dominan dalam kejadian abses paru yang
dilaporkan dalam beberapa seri kasus yang sudah dipublikasikan.
 Umur: Abses paru pada umumnya terjadi pada pasien usia lanjut dikarenakan meningkatnya
penyakit periodontal dan peningkatkan prevalensi disfagi dan aspirasi pada usia ini. Namun,
serangkaian kasus dari warga yang tinggal di pusat perkotaan dengan prevalensi alkoholisme
tinggi melaporkan usia rata-rata yang mengalami abses paru adalah 41 tahun.6
PATOFISIOLOGI
Terjadinya abses paru biasanya melalui dua cara, yaitu aspirasi dan hematogen.
Yang paling sering dijumpai adalah kelompok abses paru bronkogenik yang termasuk
akibat aspirasi, stasis sekresi, benda asing, tumor, dan struktur bronkial. Keadaan ini
menyebabkan obstruksi bronkus dan terbawanya organisme virulen yang akan
menyebabkan infeksi pada daerah distal obstruksi tersebut. Dalam keadaan tegak, bahan
aspirasi akan mengalir menuju ke lobus medius atau segmen posterior lobus inferior paru
kanan, tetapi dalam keadaan berbaring aspirat akan menuju ke segmen apikal lobus
superior atau segmen superior lobus inferior paru kanan, hanya kadang-kadang saja aspirat
dapat mengalir ke paru kiri.
Kebanyakan abses paru muncul sebagai komplikasi dari pneumonia aspirasi akibat
bakteri anaerob di mulut. Penderita abses paru biasanya memiliki masalah periodontal
(jaringan di sekitar gigi). Sejumlah bakteri yang berasal dari celah gigi yang sampai ke
saluran pernapasan bawah akan menimbulkan infeksi. Tubuh memiliki sistem pertahanan

6|Page
terhadap infeksi semacam ini, sehingga infeksi hanya terjadi jika sistem pertahanan tubuh
sedang menurun, seperti yang ditemukan pada seseorang yang tidak sadar atau sangat
mengantuk karena pengaruh obat penenang, obat bius, atau penyalahgunaan alkohol. Selain
itu dapat pula terjadi pada penderita gangguan sistem saraf.
Jika bateri tersebut tidak dapat dimusnahkan oleh mekanisme pertahanan tubuh,
maka akan terjadi pneumonia aspirasi dan dalam waktu 7-14 hari kemudian akan
berkembang menjadi nekrosis yang berakhir dengan pembentukan abses.2,3
Secara hematogen yang paling banyak terjadi adalah akibat septikemi atau sebagai
fenomena septik emboli, sekunder dari fokus infeksi pada bagian lain tubuhnya seperti
tricuspid valve endocarditis. Penyebaran hematogen ini umumnya akan berbentuk abses
multipel dan biasanya disebabkan oleh stafilokokus.
Abses hepar bakterial atau amubik bisa mengalami ruptur dan menembus diafragma
yang akan menyebabkan abses paru pada lobus bawah paru kanan dan rongga pleura.1
Disebut abses primer bila infeksi diakibatkan aspirasi atau pneumonia yang terjadi
pada orang normal, sedangkan abses sekunder bila infeksi terjadi pada orang yang
sebelumnya sudah mempunyai kondisi seperti obstruksi, bronkiektasis dan gangguan
imunitas.1
Diameter abses bervariasi dari beberapa milimeter sampai kavitas besar dengan
ukuran 5-6 cm. Lokalisasi dan jumlah abses bergantung pada bentuk perkembangannya.
Abses paru yang diakibatkan oleh aspirasi lebih banyak terjadi pada paru kanan (lebih
vertikal) daripada paru kiri, serta lebih banyak berupa kavitas tunggal. Abses yang terjadi
bersamaan dengan adanya pneumonia atau bronkiektasis umumnya bersifat multipel,
terletak di basal dan tersebar luas. Septik emboli dan abses yang diakibatkan oleh
penyebaran hematogen umumnya bersifat mulitipel dan dapat menyerang bagian paru
manapun.
Abses bisa mengalami ruptur ke dalam bronkus, dengan isinya diekspektoransikan ke
luar dengan meninggalkan kavitas yang berisi air dan udara. Kadang-kadang abses ruptur
ke rongga pleura sehingga terjadi empiema yang diikuti dengan terbentuknya fistula
bronkopleura.7,8

7|Page
GAMBARAN KLINIS
Gejala penyakit biasanya berupa:
a. Malaise
Malaise merupakan gejala awal disertai tidak nafsu makan yang lama kelamaan
menyebabkan penurunan berat badan.
b. Demam
Demam berupa demam intermitten bisa disertai menggigil bahkan ‘rigor’
dengan suhu tubuh mencapai 39.40C atau lebih. Tidak ada demam tidak
menyingkirkan adanya abses paru
c. Batuk
Batuk pada pasiean abses paru merupakan batuk berdahak yang setelah
beberapa dapat berubah menjadi purulen dan bisa mengandung darah. Sputum
yang berbau amis dan berwarna anchovy menunjukkan penyebabnya bakteri
anaeraob dan disebut dengan putrid abscesses, tetapi tidak didapatkannya
sputum dengan ciri di atas tidak menyingkirkan kemungkinan infeksi anaerob.
Batuk dara bisa dijumpai, biasanya ringan tetapi ada yang masif.
d. Nyeri pleuritik
Nyeri pleuritik atau nyeri yang dirasakan dalam dada menunjukkan adanya
keterlibatan pleura.
e. Sesak
Sesak disebabkan oleh adanya pus yang menumpuk menutupi jalan napas
f. Anemia
Anemia yang terjadi dapat berupa anemia defisiensi yang disebabkan oleh
kurangnya asupan akibat penurunan nafsu makan, namun lebih sering
disebabkan oleh perdarahan pada saluran nafas khususnya pada hemoptisis
masif.
Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan nyeri tekan lokal. Pada daerah terbatas
perkusi terdengar redup dengan suara napas bronkial, biasanya akan terdengar suara ronki.
Pada abses paru juga dijumpai jari tabuh, yang proses terjadinya berlangsung cepat.1

8|Page
ETIOLOGI
Abses paru dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, yaitu :
a. Kelompok bakteri anaerob, biasanya diakibatkan oleh pneumonia aspirasi
- Bacteriodes melaninogenus
- Bacteriodes fragilis
- Peptostreptococcus species
- Bacillus intermedius
- Fusobacterium nucleatum
- Microaerophilic streptococcus
Bakteri anaerobik meliputi 89% penyebab abses paru dan 85%-100% dari
spesimen yang didapat melalui aspirasi transtrakheal.
b. Kelompok bakteri aerob
Gram positif: sekunder oleh sebab selain aspirasi
- Staphillococcus aureus
- Streptococcus micraerophilic
- Streptococcus pyogenes
- Streptococcus pneumoniae1,2,3,5
Abses sekunder adalah abses yang terjadi sebagai akibat dari kondisi lain. Seperti
contoh: Obstruksi bronkial (karsinoma bronkogenik); penyebaran hematogen
(endokarditis bakterial, IVDU); penyebaran infeksi dari daerah sekitar
(mediastinum, subphrenic).3
Gram negatif : biasanya merupakan sebab nosokomial
- Klebsiella pneumoniae
- Pseudomonas aeroginosa
- Escherichia coli
- Actinomyces species
- Nocardia species
- Gram negatif bacilli
c. Kelompok jamur (mucoraceae, aspergillus species), parasit, amuba,
mikobakterium

9|Page
Prevalensi tertinggi berasal dari infeksi saluran pernapasan dengan mikroorganisme
penyebab umumnya berupa campuran dari bermacam-macam kuman yang berasal dari
flora mulut, hidung, dan tenggorokan.
Faktor predisposisi terjadinya abses paru seorang pasien:
 Kondisi-kondisi yang memudahkan terjadinya aspirasi:
 Gangguan kesadaran: Alkoholisme, epilepsi/kejang sebab lain, gangguan
serebrovaskular, anestesi umum, penyalahgunaan obat intravena, koma,
trauma, sepsis
 Gangguan esofagus dan saluran cerna lainnya: Gangguan motilitas
 Fistula trakeoesopageal
 Infeksi saluran napas atas dan bawah yang belum teratasi. Psien HIV yang terkena abses
paru pada umumnya mempunyai status immunocompromised yang sangat jelek (kadar
CD<50/mm3), dan kebanyakan didahului oleh infeksi terutama infeksi paru.1

1. Ada sumber infeksi saluran pernafasan.


Infeksi mulut, tumor laring yang terinfeksi, bronkitis, bronkiektasis dan kanker paru
yang terinfeksi.
2. Daya tahan saluran pernafasan yang terganggu
Pada paralisa laring, aspirasi cairan lambung karena tidak sadar, kanker esofagus,
gangguan ekspektorasi, dan gangguan gerakan sillia.
3. Obstruksi mekanik saluran pernafasan karena aspirasi bekuan darah, pus, bagian gigi
yang menyumbat, makanan dan tumor bronkus. Lokalisasi abses tergantung pada
posisi tegak, bahan aspirasi akan mengalir menuju lobus medius atau segmen
posterior lobus inferior paru kanan, tetapi dalam keadaan berbaring aspirat akan
menuju ke segmen apikal lobus superior atau segmen superior lobus interior paru
kanan, hanya kadang-kadang aspirasi dapat mengalir ke paru kiri.7
Studi yang dilakukan Bartlett et al. (1974) mendapatkan 46% abses paru disebabkan
hanya oleh bakteri anaerob, sedangkan 43% campuran anaerob dan aerob. Spektrum kuman
patogen penyebab abses paru pada pasien immunocompromissed sedikit berbeda. Pada pasien
AIDS kebanyakan kumannya adalah bakteri aerob, P. Carinii dan jamur termasuk Cryptococcus
neoforman dan mycobacterium tuberculosis.1

10 | P a g e
PENATALAKSANAAN
a. Terapi antibiotik
Penisilin merupakan pilihan dengan dosis satu juta unit, 2-3 kali sehari
intramuskular. Bila diperkirakan terdapat kuman gram negatif dapat ditambahkan
kloramfenikol 500 mg empat kali sehari. Respons terapi yang baik akan terjadi dalam 2-4
minggu, dan selanjutnya bisa dilanjutkan dengan terapi antibiotik peroral. Pada terapi
peroral diberikan:
Penisilin oral 750 mg empat kali sehari.
Apabila hasil terapi kurang memuaskan, terapi dapat dirubah dengan:
Klindamisin 600 mg tiap 8 jam,
Metronidazol 4x500 mg, atau
Gentamisin 5 mg/kg BB dibagi dalam 3 dosis tiap hari.7
b. Drainase postural
Selalu dilakukan bersama dengan pemberian terapi antibiotik. Tubuh diposisikan
sedemikian rupa sehingga drainase pun menjadi lancar. Pada kebanyakan pasien, drainase
spontan terjadi melalui cabang bronkus, dengan produksi sputum purulen.7
c. Bronkoskopi
Penting untuk membersihkan jalan napas sehingga drainase pun menjadi lancar.3,4 Di
samping itu, dengan bronkoskopi dapat dilakukan aspirasi dan pengosongan abses yang
tidak mengalam drainase yang adekuat, serta dapat diberikannya larutan antibiotik
melewati bronkus langsung ke lokasi abses.1
d. Bedah
Pembedahan dilakukan bila terapi antibiotik gagal, yaitu bila :
- Abses menjadi menahun
- Kavitas, produksi dahak, dan gejala klinik masih tetap ada setelah terapi intensif
selama 6 minggu, atau
- Abses yang sudah sembuh tapi meninggalkan sisa jaringan parut yang cukup luas
dan mengganggu faal paru.7
Lobektomi merupakan prosedur yang paling sering, sedangkan reseksi segmental
biasanya cukup untuk lesi-lesi yang kecil. Pneumoektomi diperlukan terhadap abses
multipel atau gangren paruyang refrakter terhadap penanganan dengan obat-obatan.1

11 | P a g e
KOMPLIKASI
Komplikasi abses paru meliputipenyebaran infeksi melalui aspirasi lewat bronkus atau
penyebaran langsung melalui jarinag sekitarnya. Abses paru yang drainasenya kurang baik, bisa
mengalami ruptur ke segmen lain dengan kecenderungan infeksi staphylococcus, dan apabila
ruptur ke rongga pleura menjadi piotoraks (empiema). Komplikasi sering lainnya berupa abses
otak, hemoptisis masif, ruptur pleura viseralis sehingga terjadi piopneumotoraks dan
bronkopleura.1,7
Abses paru resisten (kronik), yaitu yang resisten denagn pengobatan selama 6 minggu,
akan menyebabkan kerusakan paru yang permanen. Dan mungkin akan menyisakan suatu
bronkiektasis, kor pulmonal dan amiloidosis. Abses paru kronik juga dapat mengakibatkan
anemia, malnutrisi, kakesia, gangguan cairan dan elektrolit serta gagal jantung terutama pada
manula.1,7

PROGNOSIS
Bila tidak terlambat ditangani prognosisnya baik. Lebih dari 90% dari abses paru-paru
sembuh dengan manajemen medis saja, kecuali disebabkan oleh obstruksi bronkial sekunder
untuk karsinoma. Angka kematian yang disebabkan oleh abses paru terjadi penurunan dari 30 –
40 % pada era preantibiotika dan sampai 15 – 20 % pada era sekarang.9
Pada penderita dengan beberapa faktor predisposisi mempunyai prognosis yang lebih jelek
dibandingkan dengan penderita dengan satu faktor predisposisi. Beberapa faktor yang
memperbesar angka mortalitas pada Abses paru sebagai berikut :
1. Anemia dan Hipoalbuminemia
2. Abses yang besar (φ > 5-6 cm)
3. Lesi obstruksi
4. Bakteri aerob
5. Immunocompromised
6. Usia tua
7. Gangguan intelegensia
8. Perawatan yang terlambat

12 | P a g e
KESIMPULAN
Abses paru adalah infeksi destruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang terlokalisir
sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru pada satu lobus atau
lebih. Untuk memastikan diagnosa dari abses paru maka dilakukan serangkaian pemeriksaan dari
anamnesa, pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan radiologi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rasyid, Ahmad. Abses Paru. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi V.
Jakarta : Interna Publishing. 2009. Hal 2323-8.
2. Gleadle J. Anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: EMS;2007.h.11-16.
3. Niederman, Michael S. Pneumonia, including community-acquired and nosocomial
pneumonia in:Crapo, james D. Glassroth, Jeffrey. Karlinsky, Joel. King, JR, Talmadge.
Textbook of pulmonary diseases. Seventh Edition. Philadelphia:Little Brown &
Company. 2004. Hal 409-412
4. Felson, Benjamin. Chest roentgenology. Philadelphia: W.B. Saunders Company.
1973.Hal 319.
5. Budjang N. Radang. Radang Paru Yang Tidak Spesifik. Dalam: Ekayuda I, editor.
Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 2005. Hal. 100-5
6. Datin, Abhijit. Lung Abscess. Updated on [May 2, 2008] cited on Jan 3, 2013.
Available at URL: http://radiopaedia.org/articles/lung_abscess
7. Alsagaff, Hodd. Mukty, H. Abdul(ed). Dasar-dasar ilmu penyakit paru. Surabaya:
Airlangga University Press. 2005. Hal 136-40
8. Kumar, Vinay. Abbas, Abul. Robbins Basic Pathology, 8th edition. Philadelphia:
Saunders. 2007. Hal 515
9. Howlett, David. Ayers, Brian. The hands-on Guide to Imaging. Blackwell Publishing.
2004. Hal 48-9

13 | P a g e