Anda di halaman 1dari 2

Alkaloid

Alkaloid adalah suatu golongan senyawa yang tersebar luas hampir pada semua jenis
tumbuhan. Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat
basa dan membentuk cincin heterosiklik (Harborne, 1984). Alkaloid dapat ditemukan pada biji,
daun, ranting dan kulit kayu dari tumbuh-tumbuhan. Kadar alkaloid dari tumbuhan dapat mencapai
10-15%. Alkaloid merupakan senyawa tanpa warna, sering kali bersifat optik aktif, kebanyakan
berbentuk kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotin) pada suhu kamar
(Sabirin, et al.,1994).
Uji alkaloid pada praktikum kali ini dilakukan dengan terlebih dahulu melarutkan senyawa
alkaloid dari daun papaya (Carica papaya) dengan cara mengambil 5 sendok spatel logam serbuk
simplisia yang dilembabkan dengan 5 ml ammonia kemudian digerus dalam lumpang, kemudian
ditambahkan ±20 mL etil asetat dan digerus kembali dengan kuat. Campuran tersebut lalu disaring
dan filtrate diambil dimana diharapkannya filtrate tersebut sudah mengandung senyawa alkaloid
sehingga mudah diidentifikasi. larutan A dibagi menjadi 2, bagian pertama diteteskan pada kertas
saring dan ditetesi dengan pereaksi dragendorf dan mayer. Dari hasil tersebut, didapatkan senyawa
berwarna merah kecoklatan pada pereaksi dragendorf sedang pada mayer tidak terjadi apapun.
Walaupun pada pereaksi dragendorf berwarna merah kecoklata, hal ini tidak dapat dipastikan
bahwa positif alkaloid, karena warna dari pereaksi dragendorf sendiri juga coklat kehitaman
sehingga dikhawatirkan memberikan warna positif palsu.
Bagian kedua, larutan A diekstraksi dengan 10 ml HCL atau H2SO4 dalam tabung reaksi
dan dikocok pelan lalu diamkan beberapa saat (Larutan B). Tujuan penambahan asam pada uji
alkaloid ini karena alkaloid bersifat basa sehingga diekstrak dengan pelarut yang mengandung
asam (Harborne, 1996). larutan B kemudian dibagi ke dalam 2 tabung reaksi yang masing-
masingnya diberi pereaksi dragendorf dan mayer. Setelah itu, dapat diamati bahwa keduanya tidak
menunjukkan positif alkaloid padahal di dalam literature, daun papaya (Carica Papaya)
mengandung alkaloid (Milind dan Gurdita, 2011). Pada praktikum ini kemungkinan kompleks
kalium alkaloid yang terbentuk tidak sampai batas jenuh sehingga tidak mampu membentuk
endapan karena pada uji positif alkaloid dengan pereaksi Mayer, diperkirakan nitrogen pada
alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K+ dari kalium tetraiodomerkurat (II) membentuk
kompleks kalium-alkaloid yang mengendap. Sedang pada pereaksi dragendorf, hasil uji positif
ditandai dengan terbentuknya endapan coklat muda sampai kuning, yaitu kalium alkaloid. (Eko
Budi Minarno, 2015) Namun, pada praktikum ini, tidak terjadi endapan karena kemungkinan
kurangnya waktu dalam proses ekstraksi menggunakan asam atau kemungkinan lain ialah serbuk
simplisia yang kurang karena hanya 5 sendok spatel logam.

Minyak Atsiri
Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak ini disebut juga
minyak menguap, minyak eteris, minyak esensial karena pada suhu kamar mudah menguap. Istilah
esensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya. Dalam keadaan segar
dan murni, minyak atsiri umumnya tidak berwarna. Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri
dapat teroksidasi. Untuk mencegahnya, minyak atsiri harus disimpan dalam bejana gelas yang
berwarna gelap, diisi penuh, ditutup rapat, serta disimpan di tempat yang kering dan sejuk
(Gunawan & Mulyani, 2004) pada praktikum kali ini, Sampel daun Carica papaya tidak
mengandung minyak atsiri karena tidak diperoleh residu dengan bau yang khas.

Daftar Pustaka

Didik Gunawamn., Sri Mulyani. 2004. Ilmu Obat Alam. Bogor: Penerbit Swadaya
Harborne, J.B., 1984. Phitochemical Method. Chapman and Hall ltd. London
Harbone, J.B., 1987, Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan,
Terbitan Kedua, ITB Bandung
Minarno, Eko Budi. 2015. SKRINING FITOKIMIA DAN KANDUNGAN TOTAL
FLAVANOID PADA BUAH Carica pubescens Lenne & K. Koch DI KAWASAN BROMO,
CANGAR, DAN DATARAN TINGGI DIENG. El-Hayah Vol. 5, No.2 Maret 2015. Jurusan
Biologi Fakultas Saintek, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Milind, P., dan Gurditta. 2011. Basketful Benefits of Papaya. IRJP, 2(7): 6-12.
Sabirin, M., Hardjono S., dan Respati S., 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik II. UGM-
Yogyakarta.