Anda di halaman 1dari 6

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian


5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Medan ini beralamat di jalan putri
hijau nomor 17 Medan, Provinsi Sumatera Utara. Rumah Sakit Tk II Putri
Hijau merupakan rumah sakit tipe B. Rumah Sakit Tk II Putri Hijau
Medan mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya
guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan
pemulihan yang dilaksanakan secara terpadu dengan upaya peningkatan
dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.
Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Medan juga bekerja sama dengan
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara dan lembaga
lainnya dalam menyelenggarakan pendidikan klinik calon dokter dan
pendidikan dokter keahlian, calon dokter spesialis serta tenaga kesehatan
lainnya.

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden


Penelitian ini dilakukan pada semua penderita OMA pada anak
berumur 1 hari - 18 tahun, yang berobat ke Poli THT Rumah Sakit Tk II
Putri Hijau Medan pada tahun 2016. Sebanyak 85 data telah dikumpulkan
dari rekam medis.

5.1.3. Distribusi Frekuensi Penderita OMA pada Anak Berdasarkan Umur


Distribusi frekuensi penderita OMA pada anak berdasarkan umur
di RS Tk II Putri Hijau Medan pada tahun 2016 dapat dilihat pada table
5.1 berikut :

31
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Penderita OMA pada Anak Berdasarkan
Umur di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Medan Tahun 2016 (Rekam Medis
RSPH, 2016)

Jumlah
No. Umur (Tahun)
F %
1. ≤2 26 30,6
2. >2–5 14 16,5
3. > 5 – 12 28 32,9
4. > 12 – 18 17 20,0
Jumlah 85 100,0

Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa proporsi umur penderita


tertinggi dijumpai pada umur >5-12 tahun, yaitu 28 orang (32,9%). Proporsi
terendah terdapat pada umur >2-5 tahun, yaitu 14 orang (16,5%).

5.1.4. Distribusi Frekuensi Penderita OMApada Anak Berdasarkan Jenis


Kelamin
Distribusi frekuensi penderita OMA pada anak berdasarkan jenis
kelamin di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Medan tahun 2016 dapat dilihat
pada tabel 5.2 berikut.

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Penderita OMA pada Anak Berdasarkan


Jenis Kelamin di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Medan Tahun 2016
(Rekam Medis RSPH, 2016)

Jumlah
No. Jenis Kelamin
F %
1. Laki-laki 47 55,3

32
2. Perempuan 38 44,7
Jumlah 85 100,0

Berdasarkan tabel 5.2 dapat dilihat bahwa proporsi jenis kelamin


tertinggi pada laki-laki, yaitu 47 orang (55,3%). Perempuan adalah 38
orang (44,7%).

5.1.5. Distribusi Frekuensi Telinga yang Menderita OMA pada Anak


Berdasarkan Stadium OMA
Distribusi frekuensi telinga yang menderita OMA pada anak
berdasarkan stadium OMA di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Medan tahun
2016 dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut. Dari 85 orang penderita, terdapat
16 orang penderita yang kedua-dua telinganya terkena OMA. Stadium
OMA dari kedua-dua telinga dicatat. 69 orang penderita lain terkena OMA
pada satu telinga sahaja. Oleh itu, jumlah telinga yang menderita OMA
pada anak berdasarkan stadium adalah 101.

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Telinga yang Menderita OMA pada Anak
Berdasarkan Stadium OMA di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Medan
Tahun 2016 (Rekam Medis RSPH, 2016)

No. Stadium OMA Jumlah Telinga


F %
1. Oklusi Tuba 4 4,0
2. Hiperemis 18 17,8
3. Supurasi 10 9,9
4. Perforasi 67 66,3
5. Resolusi 2 2,0
Jumlah 101 100,0

33
Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat bahwa proporsi tertinggi telinga
penderita OMA pada anak berdasarkan stadium OMA adalah stadium
perforasi yaitu 67 telinga (66,3%), dan yang terendah adalah stadium resolusi
yaitu 2 telinga (2,0%).

5.1.6. Distribusi Frekuensi Penderita OMA pada Anak Berdasarkan Sisi


Telinga yang Terkena OMA
Distribusi frekuensi telinga penderita OMA pada anak berdasarkan sisi
telinga yang terkena OMA di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Medan tahun
2016 dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut.

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Penderita OMA pada Anak Berdasarkan Sisi
Telinga yang Terkena OMA di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Medan Tahun
2016 (Rekam Medis RSPH, 2016)

Sisi Telinga yang Terkena Jumlah


No.
OMA F %
1. Unilateral 69 81,2
2. Bilateral 16 18,8
Jumlah 85 100,0

Berdasarkan tabel 5.5 dapat dilihat bahwa proporsi tertinggi


penderita OMA pada anak berdasarkan sisi telinga yang terkena, unilateral
adalah sebanyak 69 orang (81,2%), dan bilateral adalah 16 orang (18,8%).

5.2. Pembahasan
5.2.1. Distribusi Frekuensi Penderita OMA pada Anak Berdasarkan Umur
Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa proporsi umur penderita
tertinggi dijumpai pada umur > 5-12 tahun, yaitu 28 orang (32,9%), dan
proporsi terendah terdapat pada umur > 2-5 tahun, yaitu 14 orang (16,5%).

34
5.2.2. Distribusi Frekuensi Penderita OMA pada Anak Berdasarkan Jenis
Kelamin
Berdasarkan tabel 5.2 dapat dilihat bahwa proporsi jenis kelamin
tertinggi pada laki-laki, yaitu 47 orang (55,3%). Perempuan tercatat 38
orang (44,7%). Rasio laki-laki dibandingkan dengan perempuan adalah
47:38, yaitu 1,24. Menurut Titissari (2005) di Poli THT sub-bagian
Otologi THT RSCM dan Poli THT RSAB Harapan Kita, proporsi untuk
perempuan adalah lebih tinggi, yaitu 51,2% dibandingkan dengan laki-laki
48,8%. Hasil penelitian Onion (1997) menunjukkan rasio laki-laki
dibandingkan dengan perempuan adalah 1,35. Hasil penelitian Zakzuok et
al (2002) di Saudi Arabia menunjukkan anak laki-laki lebih cenderung
menderita OMA, yaitu 57 orang, dibandingkan perempuan, 43 orang.

5.2.3. Distribusi Frekuensi Telinga yang Menderita OMA pada Anak


Berdasarkan Stadium OMA
Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat bahwa proporsi tertinggi telinga
penderita OMA pada anak berdasarkan stadium OMA adalah stadium
perforasi yaitu 67 telinga (66,3%), dan yang terendah adalah stadium
resolusi yaitu 2 telinga (2,0%).
Secara teoritis, pada stadium oklusi tuba tidak menunjukkan gejala
klinis yang khas dan tidak demam. Pada stadium hiperemis terjadi
inflamasi, penderita OMA akan mengeluhkan nyeri telinga/otalgia, rasa
penuh dan demam. Pada stadium supurasi, terbentuk sekret eksudat
purulen, pasien akan nyeri telinga, demam, dan juga akan terjadi
pendengaran menurun akibat gangguan pendengaran konduktif. Pada
stadium perforasi, terjadi keluar cairan ditandai oleh ruptur membran
timpani. Pada stadium resolusi,
keluhan nyeri telinga akan berkurang dan pendengaran menjadi normal
kembali (Djaafar, 2005).

35
5.2.4. Distribusi Frekuensi Penderita OMA pada Anak Berdasarkan
Sisi Telinga yang Terkena OMA
Berdasarkan tabel 5.5 dapat dilihat bahwa proporsi tertinggi
penderita OMA pada anak berdasarkan sisi telinga yang terkena, unilateral
adalah sebanyak 69 orang (81,2%), sedangkan bilateral hanya 16 orang
(18,8%).

36