Anda di halaman 1dari 40

Pemeriksaan pada Korban Pembunuhan dengan Cara Diracun

Robert Tupan us Abatan


102012335
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

Pendahuluan
Pemeriksaan suatu perkara pidana di dalam suatu proses peradilan pada hakikatnya adalah
bertujuan untuk mencari kebenaran materil terhadap perkara pidana tersebut. Untuk
pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah hukum ini, diperlukan bantuan ahli
didalam bidang kedokteran forensik untuk membuat jelas jalannya rangkaian peristiwa
perkara pidana tersebut. Hal ini dapat dilihat dari ilmu yang berkaitan dengan, aspek hukum,
prosedur medikolegal, tanatologis, teknik pemeriksaan dan segala sesuatu yang terkait supaya
dapat benar-benar memanfaatkan pengetahuan kedokteran untuk kepentingan pengadilan.
Dalam melakukan penyidikan, polisi dapat meminta bantuan dokter untuk memeriksa tempat
kejadian perkara. Dimana tempat kejadian perkara ( TKP) adalah tempat ditemukannya
benda bukti dan/atau tempat tempat terjadinya peristiwa kejahatan atau yang diduga
kejahatan menurut suatu kesaksian. Diperlukan atau tidaknya kehadiran dokter di TKP oleh
penyidik sangat bergantung pada kasusnya, yang pertimbangannya dapat dilihat dari sudut
korbannya, tempat kejadian, atau kejadiannya. Peran dokter di TKP adalah membantu
penyidik dalam mengungkap kasus dari sudut kedokteran forensik. 1

Skenario
Suatu hari anda di datangi penyidik untuk membantu mereka dalam memeriksa suatu tempat
kejadian perkara (TKP). Menurut penyidik, TKP adalah sebuah rumah yang cukup besar
milik seorang pengusaha dan istrinya ditemukan meninggal dunia di dalam kamar yang
terkunci didalam. Anaknya yang pertama kali mencurugai hal itu (08.00) karena si ayah yang
biasanya bangun untuk lari pagi, hari ini belum keluar dari kamarnya. Ia bersama dengan pak
ketua RT melaporkannya pada polisi.

Penyidik telah membuka kamar tersebut dan menemukan kedua orang tersebut tiduran
ditempat tidurnya dan dalam keadaan mati. Tidak ada tanda-tanda perkelahian diruang
tersebut, segalanya masih tertata rapi sebagaiman biasa, tutur anaknya. Dari pengamatan
sementara tidak ditemukan luka-luka pada kedua mayat dan tidak ada barang yang hilang.
Salah seorang penyidik ditelpon oleh petugas asuransi bahwa ia telah dihubungi oleh anak si
pengusaha berkaitan dengan kemungkinan klaim asuransi jiwa pengusaha tersebut.

Rumusan Masalah

Pasangan suami isteri pengusaha perkayuan sukses ditemukan dalam keadaan meninggal
tanpa adanya tanda-tanda luka dan barang yang hilang di dalam kamar tidur yang terkunci
dari dalam oleh anaknya yang mencoba mengklaim asuransi jiwa milik orangtuanya

Hipotesis

Pasangan suami isteri pengusaha perkayuan sukses meninggal di dalam kamar tidur yang
terkunci dari dalam tanpa adanya tanda-tanda luka dan barang yang hilang karena diracuni
oleh anaknya untuk mendapatkan asuransi jiwa milik orangtuanya.

Aspek hukum
Kejahatan Terhadap Tubuh dan Jiwa Manusia: 2.3

 Pasal 89 KUHP
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan
kekerasan.
 Pasal 90 KUHP
Luka berat berarti:
- jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama
sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut;
- tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencarian;
- kehilangan salah satu pancaindra;
- mendapat cacat berat;
- menderita sakit lumpuh;
- terganggunya daya piker selama empat minggu lebih;
- gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.
 Pasal 338 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
 Pasal 339 KUHP
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang
dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya,
atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal
tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya
secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama
waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.
 Pasal 340 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang
lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima
tahun.
 Pasal 351 KUHP
1. Penganiyaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan
atau pidana denda paling banyak 4500 rupiah.
2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama 5 tahun.
3. Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama7 tahun.
4. Dengan penganiyaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
 Pasal 353 KUHP
1. Penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara
paling lama 4 tahun.
2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana
penjara paling lama tujuh tahun.
3. Jika perbuatan mengakibatkan mati, dia dikenakan pidana penjara paling lama 9
tahun.
 Pasal 354 KUHP
1. Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan
penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
2. Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara
paling lama sepuluh tahun.
 Pasal 355 KUHP
1. Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan
pidana penjara paling lama 12 tahun.
2. Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara
paling lama 15tahun.

Aspek Medikolegal

Kewajiban Dokter Membantu Peradilan: 2,3

 Pasal 133 KUHAP


1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Penjelasan Pasal 133 KUHAP

2. Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli,
sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman
disebut keterangan.
 Pasal 179 KUHAP
1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah
atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenanr-benarnya
menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.
Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya :2,3

 Pasal 183 KUHAP


Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-
kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana
benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya.
 Pasal 184 KUHAP
1. Alat bukti yang sah adalah:
- Keterangan saksi
- Keterangan ahli
- Surat
- Pertunjuk
- Keterangan terdakwa
2. Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
 Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
 Pasal 180 KUHAP
1. Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta
agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
2. Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim
memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
3. Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2)

Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter

 Pasal 216 KUHP


1. Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda
paling banyak sembilan ribu rupiah.2,3
2. Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas
menjalankan jabatan umum.2,3
3. Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya
dapat ditambah sepertiga.2,3
 Pasal 222 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.2,3
 Pasal 224 KUHP
Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau
jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-
undang ia harus melakukannnya:
- Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.
- Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan.
 Pasal 522 KUHP
Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau jurubahasa, tidak
datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan
ratus rupiah.

Tanatologi
Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari tanda – tanda kematian dan perubahan yang terjadi
setelah seseorang mati serta faktor yang mempengaruhinya. Tanatologi merupakan ilmu
paling dasar dan paling penting dalam ilmu kedokteran kehakiman terutama dalam hal
pemeriksaan jenazah (visum et repertum).1

Jenis-Jenis Kematian

Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu mati somatic (mati klinis), mati
suri, mati seluler, mati serebral, dan mati otak (mati batang otak).
1. Mati somatis (mati klinis) terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga fungsi sistem penunjang
kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskular, dan sistem pernafasan yang
menetap (irreversible). Secara klinis tidak didapatkan refleks-refleks, EEG mendatar, nadi
tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak pernafasan, dan suara nafas
tidak terdengar pada asukultasi.1
2. Mati suri (suspended animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistem
kehidupan di atas yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan
kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih
berfungsi. Mati suri sering ditemukan pada ksaus keracunan obat tidur, tersengat aliran
listrik, dan tenggelam.1
3. Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul
beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ berbeda-
beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak bersamaan.
Pengetahuan ini penting untuk transplantasi organ.1
 Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami mati
seluler dalam waktu 4 menit; otot masih dapat dirangsang (listrik) sampai kira-kira 2
jam pasca mati, dan mengalami mati seluler stelah 4 jam; dilatasi pupil masih terjadi
pada pemberian adrenalin 0,1% atau penyuntikan sulfas atropin 1% ke dalam kamera
okuli anterior; pemberian pilokarpin 1% atau fisostigmin 0,5% akan mengakibatkan
miosis hingga 20 jam pasca mati.
 Kulit masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam pasca mati dengan cara
menyuntikan subkutan pilokarpin 2% atau asetilkolin 20%; spermatozoa masih
bertahan hidup beberapa hari dalam epididimis; kornea masih dapat
ditransplantasikan dan darah masih dapat dipakai untuk transfusi sampai 6 jam pasca
mati.
4. Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible, kecuali batang otak
dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sitem pernafasan dan sistem
kardiovaskular masih berfungsi dengan bantuan alat.1
5. Mati otak (mati batang otak) adalah bila telah terjadi kerusakan seluruh isi neuronal
intrakranial yang irreversible, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya
mati otak maka dapat dikatakan sesorang secara keseluruhan tidak dapat hidup lagi,
sehingga alat bantu dapat dihentikan.1
Tanda Pasti Kematian

1. Lebam mayat (livor mortis)


Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya tarik
bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak warna merah ungu (livide)
pada bagian terbawah tubuh yang tertekan alas keras. 1
Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluh
darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama
intensitasnya bertambah menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu
ini, lebam mayat masih hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi
mayat diubah. Memucatnya lebam mayat akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila
penekanan atau posisi tubuh dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi
walaupun setelah 24 jam, darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih
dapat terus mengalir dan membentuk lebam mayat di tempat terendah yang baru. Kadang-
kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh
darah. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh bertimbunnya sel-sel darah dalam
jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain itu kekakuan otot-otot dinding
pembuluh darah ikut mempersulit perubahan tersebut.1
Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian dan memperkirakan sebab
kematian, misalnya lebam berwarna merah terang pada keracunan CO atau CN, warna
kecokelatan pada keracunan aniline, nitrit, nitrat, sulfonal.
Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap dilakukan
perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk lebam
mayat baru di daerah dada dan perut.1
Mengingat pada lebam mayat darah terdapat di dalam pembuluh darah, maka keadaan ini
digunakan untuk membedakannya dengan resapan darah akibat trauma (ekstravasasi).bila
pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram air, maka warna merah darah
akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan pada resapan darah tidak
menghilang.1
2. Kaku mayat (rigor mortis)
Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolism tingkat seluler
masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi.
Energi ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP
maka serabut aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis,
maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku.
Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kira-
kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) kearah
dalam (sentripental). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar
kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan
selama 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat
umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat
otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk akan terjadi
pemendekan otot. Faktor-faktor yang mempengaruhi kaku mayat adalah aktivitas fisik
sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot kecil dan
suhu lingkungan tinggi. Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda pasti
kematian dan memperkirakan saat kematian.1
Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat:
 Cadaveric spasm (instantaneous rigor), adalah bentu kekauan otot yang terjadi pada
saat kematian dan menetap.cadaveric spasm sesungguhnya merupakan kaku mayat
yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer.
Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP ysng bersifat
setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum
meninggal. Cadaveric spasm ini jarang dijumpai, tetapi serig terjadi pada masa
perang. Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa
hidupnya. Misalnya, tangan yang menggenggam erat benda yang diraihnya pada
kasus tenggelam, tangan yang menggenggam senjata pada kasus bunuh diri.1
 Heat stiffening, yaitu kekuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot-otot
berwarna merah muda dan kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat
dijumpai pada korban mati terbakar. Pada heat stiffening serabut-serabut ototnya
memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha, lutut, membentuk sikap
petinju (pugillstic attitude). Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi
sikap semasa hidup, penyebab atau cara kematian.1
 Cold stiffening, yaitu kekuan otot tubuh akibat lingkungan dingin sehingga terjadi
pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan
dan otot, shingga bila sendi ditekuk akan terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga
sendi.
3. Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke benda
yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi.
Grafik penurunan suhu tubuh ini hampir berbentuk kurva sigmoid atau seperti huruf S.
kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembapan udara,
bentuk tubuh, posisi tubuh, pakaian. Selain itu, suhu saat mati perlu diketahui untuk
perhungan perkiraan saat kematian. Penurunan suhu akan lebih cepat pada suhu keliling
yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembapan rendah, tubuh yang kurus, posisi
terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang tua serta
anak kecil.1
Formula Marshall dan Hoare (1962) yang dibuat dari hasil penelitian terhadap mayat
telanjang dengan suhu lingkungan 15,5 derajat celcius, yaitu penurunan suhu dengan
kecepatan 0,55 derajat celcius tiap jam pad 3 jam pertama pasca mati, 1,1 derajat celcius
tiap jam pada 6 jam berikutnya, dan kira-kira 0,8 derajat celcius tiap jam pada periode
berikutnya. Kecepatan penurunan suhu ini menurun hingga 60% bila mayat berpakaian.
Penggunaan formula ini harus dilakukan hati-hati mengingat suhu lingkungan di
Indonesia biasanya lebih tinggi.1
Penelitian akhir-akhir ini cenderung untuk memperkirakan saat mati melalui pengukuran
suhu tubuh pada lingkungan yang menetap di tempat kejadian perkara. Caranya adalah
dengan 4-5 kali penentuan suhu rectal dengan interval waktu yang sama (minimal 15
menit). Suhu lingkungan diuur dan dianggap konstan karena faktor-faktor lingkungan
dibuat menetap, sedangkan suhu mati dianggap 37 derajat celcius bila tidak ada penyakit
demam. Penelitian membuktikan bahwa perubahan suhu lingkungan kurang dari 2 derajat
celcius tidak mengakibatkan perubahan yang bermakna. 1
4. Pembusukan (decomposition, putrefaction).
Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolysis dan kerja
bakteri. Autolisis adalah pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan
steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel pascamati dan
hanya dapat dicegah dengan pembusukan jaringan.1
Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh akan segera masuk
ke jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk bertumbuh.
Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium weichii.
Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2S, HCN, serta asam amino dan
asam lemak.
Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada perut
kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta
terletak dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulf-met-
hemoglobin. Secara bertahap warna hijau ini akan menyebar ke seluruh perut dan dada,
dan bau busuk pun mulai tercium. Pembuluh darah bawah kuit akan tampak seperti
melebar dan berwarna hijau kehitaman. Selanjutnya kulit ari akan terlepas dan
membentuk gelembung berisi cairan kemerahan berbau busuk.1
Pembentukan gas di dalam tubuh dimulai di dalam lambung dan usus, akan
mengakibatkan tegangnya perut dan keluarnya cairan dari mulut dan hidung. Gas yang
terdapat di dalam jaringan tubuh akan mengkibatkan terabanya derik (krepitasi). Gas ini
menyebabkan pembengkakan tubuh yang menyeluruh, tetapi ketegangan terbesar terdapat
di daerah dengan jaringan longgar seperti skrotum dan payudara. Tubuh berada dalam
sikap seperti petinju (pugillstic attitude), yaitu kedua lengan dan tungkai dalam sikap
setengah fleksi akibat terkumpulnya gas pembusukan di dalam rongga sendi.
Selanjutnya rambut akan mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah menggembung
dan berwarna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi tembem, bibir tebal, lidah
membengkak dan serng terjulur diantara gigi. Keadaan ini sangat berbeda dengan wajah
asli korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali oleh keluarga.
Hewan pengerat akan merusak tubuh mayat dalam beberapa jam pasca mati, terutama bila
mayat dibiarkan tergeletak di daerah rumpun. Luka akibat gigitan binatang pengerat khas
berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi bergeligi.
Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira 36-
48 jam pasca mati. Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan beberapa jam pasca mati
di alis mata, sudut mata, lubang hidung, dan diantara bibir.telur lalat tersebut akan
menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi spesies lalat dan
mengukur panjang larva maka dapat diketahui usia larva tersebut, yang dipergunakan
untuk memperkirakan saat mati dengan asumsi bahwa lalat biasanya secepatnya
meletakan telur setelah seseorang meninggal (dan tidak dapat lagi mengusir lalat yang
hinggap).1
Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan kecepatan yang
berbeda.perubahan warna terjadi pada lambung terutama di daerah fundus, usus menjadi
ungu kecokelatan, mukosa saluran nafas menjadi kemerahan, ednokardium dan intima
pembuluh darah juga kemerahan akibat hemolisis darah. Difusi empedu dari kandung
empedu mengakibatkan warna cokelat kehijauan di jaringan sekitarnya. Otak melunak
dan mudah robek, kemudian alat dalam akan mengerut. Prostat dan uterus non gravid
merupakan organ padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan pembusukan.1
Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal (26,5 derajat celcius
hingga sekitar suhu normal tubuh), kelembapan udara yang cukup, banyak bakteri
pembusuk, tubuh gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. Media tempat mayat
juga berperan, mayat yang terdapat di udara bebas akan lebih cepat membusuk
dibandingkan yang terdapat dalam air atau dalam tanah. Perbandingan kecepatan
pembusukan mayat yang berada dalam udara, air dan tanah adalah 1:2:8. Bayi baru lahir
umumnya lebih lambat membusuk karena hanya memiliki sedikit bakteri dalam tubuhnya
an hilangnya panas tubuh yang cepat pada bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri.1

Tanda Tidak Pasti Kematian

1. Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi).
2. Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.
3. Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin terjadi
spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan.
4. Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dari otot-otot wajah menyebabkan kulit
menimbul sehingga kadang membuat orang menjadi tampak lebih muda. Kelemasan otot
sesaat setelah kematian disebut relaksasi primer. Hal ini mengakibatkan pendataran
daerah-daerah yang tertekan, misalnya daerah belikat dan bokong pada mayat yang
terlentang.
5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian. Segmen-
segmen tersebut bergerak kea rah tepi retina kemudian menetap.
6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat
dihilangkan dengan meneteskan air.

Traumatologi
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya
dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan yang dimaksud dengan luka adalah
terjadinya diskontinuitas jaringan tubuh akibat kekerasan.1

Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas kekerasan yang
bersifat:1,2,3

 Luka karena kekerasan mekanik : Benda tajam, tumpul dan senjata api
 Luka karena kekerasan fisik : Luka karena arus listrik, petir, suhu (tinggi dan
rendah), perubahan tekanan udara, akustik, radiasi.
 Luka karena kekerasan kimiawi : Asam dan Basa.

Luka Akibat Benda Tumpul

Luka akibat benda tumpul terjadi akibat benda yang memiliki permukaan tumpul. Faktor-
faktor yang mempengaruhi keparahan benturan:4,5

 Usia
 Besarnya kekuatan kekerasan
 Kondisi benda penyebab (karet, kayu, besi, benda yang datar)
 Kondisi dan jenis jaringan (jaringan ikat longgar, jaringan lemak)
 Waktu hantaran energi tumbukan
 Luas permukaan objek yang terkena
 Kerapuhan pembuluh darah dan kondisi medis tertentu (hipertensi, penyakit
kardiovaskuler, diatesis hemoragik,sirosis, konsumsi obat-obatan tertentu)

Pada bayi, hematom cenderung lebih mudah terjadi karena sifat kulit yang longgar dan masih
tipisnya jaringan lemak subkutan, demikian pula halnya dengan orang dengan usia lanjut
yang memiliki lapisan lemak sub kutan yang menipis dan pembuluh darah yang kurang
terlindung.

Bila senjata yang digunakan patah pada saat tumbukan dengan objek, maka energi yang
dihasilkan untuk menimbulkan jejas akan semakin kecil karena sebagian energi digunakan
untuk untuk mematahkan senjata yang digunakan. Begitupula, bila tubuh bergerak bersama
pukulan saat tumbukan terjadi akan mengakibatkan peningkatan waktu hantaran energi
benturan sehingga menurunkan dampak tumbukan.5

Dengan jumlah energi yang sama, semakin luas area tumbukan, maka semakin kecil tingkat
keparahan luka. Luasnya area yang terkena dampak tumbukan juga dipengaruhi oleh kondisi
benda penyebab. Sebagai contoh, bila benda yang digunakan adalah benda yang
berpermukaan datar seperti papan, maka energi akan berdifusi ke seluruh permukaan benda
penyebab sehingga akan menghasilkan jejas yang lebih ringan daripada permukaan benda
yang runcing atau meruncik (Penulis : Ini sejalan dengan konsep fisika dimana besarnya gaya
tekan (P) berbanding lurus dengan gaya (F), namun berbanding terbalik dengan luas
permukaan (A) benda yang terkena tumbukan).5

Luka yang dapat terjadi :

 Memar (kontusio, hematom injury)


 Luka lecet (ekskoriasi, abrasi)
 Luka retak, robek atau koyak (vulnus laseratum)
 Fraktur sistem rangka

Namun tetap perlu diperhatkan bahwa jejas yang muncul bisa lebih dari satu kategori luka.
Sebagai contoh luka robek bisa terdapat memar disekitarnya. Jadi, sangat diperlukan
ketelitian dalam analisa luka.

1) Luka Memar (Kontusio)


Merupakan perdarahan di daerah jaringan lunak bawah kulit yang muncul karena ruptur
pembuluh darah baik kapiler maupun vena yang diakibatkan oleh trauma / benturan
dengan benda tumpul seperti pukulan dengan tangan, jatuh pada permukaan yang datar ,
cedera akibat senjata tumpul, dan lain-lain. Pada jenis luka ini, terjadi ektravasasi
pembuluh darah dan mngakibatkan darah merembes ke jaringan di sekitarnya. Permukaan
kulit utuh dan biasanya terjadi kerusakan pada jaringan di bawah kulit. Luka memar
kadangkala memberikan gambaran bentuk benda penyebabnya, misalnya jejas beban
yang sebenarnya adalah suatu perdarahan tepi (Marginal Haemorrhage).5
Memar pada suatu tempat tidak selalu mengindikasikan lokasi terjadinya trauma karena
perdarahan akan mengalir ke jaringan yang lebih longgar dan dipengaruhi oleh gaya
gravitasi. Misalnya, kekerasan benda tumpul pada dahi menimbulkan hematom palpebra.
Juga kekerasan benda tumpul pada paha dengan patah tulang paha menimbulkan
hematom pada sisi luar tungkai bawah.5
Memar yang dalam mungkin tidak bisa terlihat melalui pemeriksaan luar sehingga kadang
dibutuhkan insisi jaringan lunak untuk memastikan ada/tidaknya memar. Memar juga
sulit dinilai pada orang berkulit hitam.
Kontusio tidak hanya terjadi di kulit namun juga dapat terjadi pada organ dalam seperti
paru-paru, jantung, otak, dan otot. Bahkan kadang memar tidak bisa terlihat kecuali
beberapa jam setelah korban meninggal. Memar pada kulit kepala sering tidak terlihat
kecuali jika ada pembengkakan.
Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada
saat timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah
sampai 4-5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam
7-10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14-15 hari. Perubahan tersebut berlangsung
mulai dari tepi dan waktunya dapat bervariasi tergantung tingkat keparahan, kedalaman
jejas, warna kulit, dan berbagai faktor lainnya. Sehingga tidak ada standar baku untuk
menentukan waktu perlukaan berdasarkan perubahan warna.5
Hematom ante-mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian biasanya akan
menunjukkan pembengkakkan dan infiltrasi darah dalam jaringan sehingga dapat
dibedakan dari lebam mayat dengan cara melakukan penyayatan kulit. Pada lebam mayat
(hipostasis pascamati) darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat dan
sehingga bila dialiri air, penampang sayatan akan tampak bersih, sedangkan pada
hematom penampang sayatan akan tetap berwarna merah kehitaman. Tetapi, harus diingat
bahwa pada pembusukan juga terjadi ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan
pemeriksaan ini.5
2) Luka Lecet (Abrasi)
Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis berupa robeknya jaringan yang
bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing, misalnya pada
kejadian kecelakaan lalu lintas, tubuh terbentur aspal jalan, atau sebaliknya benda
tersebut yang bergerak dan bersentuhan dengan kulit. Luka bersifat superfisial yang
terbatas hanya pada lapisan kulit yang paling luar / kulit ari epidermis.5

Pembagian Luka Lecet:4,5

1. Luka Lecet Gores (Scratch)


Luka lecet gores merupakan luka lecet yang diakibatkan oleh benda runcing
(misalnya kuku jari yang menggores kulit) yang menggeser lapisan permukaan kulit
(epidermis) di depannya dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat sehingga dapat
menunjukkan arah kekerasan yang terjadi.
2. Luka Lecet Gesek / Serut (Graze)
Variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan permukaan kulit
lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel.
3. Luka Lecet Tekan
Luka lecet tekan disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena kulit
adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama dengan
bentuk permukaan benda tumpul tersebut, tetapi masih memungkinkan identifikasi
benda penyebab yang mempunyai bentuk khas misalnya kisi-kisi radiator mobil, jejas
gigitan dan sebagainya. Luka akibat gigitan (bite-mark) sering juga diklasifikasikan
sebagai luka akibat kekerasan benda setengah tajam. Gambaran luka lecet tekan yang
ditemukan pada mayat adalah daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dari
sekitarnya akibat menjadi lebih padatnya jaringan yang tertekan serta terjadinya
pengeringan yang berlangsung pasca mati.
4. Luka Lecet Geser
Luka lecet geser disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser,
misalnya pada kasus gantung atau jerat serta pada korban pecut. Luka lecet geser yang
terjadi semasa hidup mungkin sulit dibedakan dari luka lecet geser yang terjadi segera
pasca mati.
3) Luka Robek
Merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul, yang menyebabkan kulit teregang
ke satu arah dan bila batas elastisitas kulit terlampaui, maka akan terjadi robekan pada
kulit. Luka ini mempunyai ciri: 5
 Bentuk luka yang umumnya tidak beraturan
 Tepi atau dinding tidak rata
 Tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka
 Bentuk dasar luka tidak beraturan
 Sering tampak luka lecet atau luka memar di sekitar luka.
4) Fraktur
Fraktur pada daerah mandibula, maxilla, zygoma, dan arkus zygomaticus oleh karena
tindak kekerasan maupun karena kecelakaan lalu lintas. Semuanya bisa hancur sekaligus
hanya dalam satu kali tumbukan. Fraktur maxilla biasanya dikaegorikan menjadi 4
macam : Fraktur Dentoalveolar, Fraktur Lefort I, Fraktur Le Fort II, Fraktur Le Fort III,
Fraktur Sagital. Fraktur juga dapat terjadi pada tulang-tulang ekstremitas baik karena
tumbukan langsung maupun tumbukan tidak langsung.
Cedera pada leher (Whiplash Injury) dapat terjadi pada penumpang kendaraan yang
ditabrak dari belakang. Penumpang akan mengalami percepatan mendadak, sehingga
terjadi hiperekstensi kepala yang disusul dengan hiperfleksi. Cedera terjadi terutama pada
ruas tulang leher keempat dan kelima yang membahayakan susmsum tulang belakang.
Kerusakan pada medula oblongata dapat berakibat fatal. Timbulnya cedera leher ini juga
dipengaruhi oleh bentuk sandaran tempat duduk.

Asfiksia

Asfiksia merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran
udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang, disertai dengan peningkatan
karbon dioksida (hiperkapnea). Dan dengan demikian, organ tubuh menjadi kekurangan
oksigen (hipoksia hipoksik) sehingga terjadi kematian.

Asfiksia dapat dibagi kepada:1

1. Asfiksia mekanik
2. Asfiksia kimia (keracunan)
3. Asfiksia alamiah
4. Asfiksia environmental

Asfiksia akibat mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara terhalang memasuki
saluran napas oleh kerkerasan yang bersifat mekanik, misalnya:

1. Penutupan lubang saluran pernapasan bagian atas:1


 Pembekapan (smothering)
Pembekapan merupakan penutupan lubang hidung dan mulut yang menghambat
pemasukan udara ke paru-paru. Pembekapan menimbulkan kematian akibat asfiksia.
 Penyumbatan (Gagging dan choking)
Pada keadaan ini, terjadi sumbatan jalan napas oleh benda asing, yang mengkibatkan
hambatan udara untuk masuk ke paru-paru. Pada gagging, sumbatan terdapat dlm
orofaring, sedangkan pada choking sumbatan terdapat lebih dalam pada laringofaring.
Mekanisme kematian yang mungkin terjadi adalah asfiksia atau reflex vagal akibat
rangsangan pada reseptoe nervus vagus di arkus faring, yang menimbulkan inhibisi
kerja jantung dengan akibat cardiac arrest dan kematian.
2. Penekanan dinding saluran pernapasan:1
 Penjeratan (strangulation)
Penjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, stagen,
kawat, kabel dan sebagainya, melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin
kuat, sehingga saluran pernapasan tertutup. Berbeda dengan gantung diri, yang
biasanya merupakan suicide maka penjeratan biasanya adalah pembunuhan, kecuali
akibat autoerotic asphyxiation. Mekanisme penjeratan adalah akibat asfiksia atau
reflex vasovagal.
- Suicidal Strangulation
Bunuh diri secara strangulasi sangat jarang terjadi. Terdapat beberapa jenis cara
yang dilakukan korban untuk membunuh diri. Yang tersering dilakukan adalah
dengan mengikat tali seperti tourniket pada leher dengan bantuan tuas. Dapat juga
berupa strangulasi dimana korban mengikat tali pada batang leher dan ujung
talinya di ikat pada satu titik seperti pohon.
Pada strangulasi suicidal ini, dapat dilihat tanda congesti vena diatas dari jejas
jerat dan sangat jelas terlihat pada pangkal lidah (root of tongue). Ini adalah
disebabkan oleh kuatnya jerat melilit leher walaupun setelah mati sehingga
meghalang drainase darah sewaktu post mortem. Cedera juga tidak berat
dikarenakan kurang daya (less force) yang digunakan untuk membunuh diri.
Dalam semua kasus suicidal strangulation, jerat harus ditemukan in situ dan tiada
cedera defensive pada korban serta tiada tanda pergelutan pada TKP.1
- Homicidal Strangulation
Strangulasi homicidal adalah penyebab tersering dalam kasus pembunuhan.
Dalam kasus strangulasi ini, dapat dilihat abrasi pada kulit akibat pergerakan jerat
pada kulit. Dapat juga dilihat jejas kuku (fingernail marks) samada dari korban
yang mencoba melepaskan jerat atau dari pelaku yang mencuba menghalang leher
dari bergerak atau juga akibat pencekikan. Jejas jerat dapat meliliti seluruh batang
leher atau hanya dapat dilihat pada bagian depan leher saja. Ini merupakan
indikasi bahawa jerat tersebut ditarik dari belakang. Jejas juga dapat sloping ke
atas jika jerat ditarik keatas (pelaku lebih tinggi dari leher korban saat penjeratan).
Seringkali, tanda pergelutan dapat dilihat samada pada TKP atau dari baju
korban.1
Pada strangulasi homicidal, pelaku sering menggunakan daya (force) yang
berlebihan sehingga dapat dilihat cedera pada otot leher bagian dalam. Jejas jerat
pada strangulasi yang dilakukan post mortem tidak menimbulkan memar, hanya
jejas (grooved impression) atau abrasi berwarna kuning atau coklat.
 Pencekikan (manual strangulation, throttling)
Pencekikan adalah penekanan leher dengan tangan, yang menyebabkan dinding
saluran napas bagian atas tertekan dan terjadi penyempitan saluran napas sehingga
udara pernapasan tidak dapat lewat. Mekanisme kematian terbagi menjadi 2:
- Asfiksia
- Refleks vagal terjadi akibat rangsangan pada reseptor nervus vagus pada crpus
caroticus (carotid body) di percabangan arteri karotis interna dan eksterna. Reflex
vagal ini jarang sekali terjadi.
 Gantung (hanging)
Kasus gantung hamper sama dengan penjeratan. Perbedaanya terdapat pada asal
tenaga yang dibutuhkan untuk memperkecil lingkaran jerat. Pada penjeratan tenaga
tersebut dating dari luar, sedangkan pada kasus gantung, tenaga tersebut dating dari
berat badan korban sendiri, meskipun tidak perlu seluruh berat badan digunakan.1

Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala yang dapat dibedakan dalam 4 fase,
yaitu:

1. Fasa dispnea: penurunan kadar oksigen sel darah merah dan penimbunan CO2 dalam
plasma akan merangsang pusat pernapasan di medulla oblongata, sehingga amplitude
pernapasan akan menjadi tinggi, nadi cepat, tekanan darah meninggi dan mulai tampak
tanda-tanda sianosis terutama pada muka dan tangan.
2. Fasa konvulsi: Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap
susunan saraf pusat sehingga terjadinya konvulsi, yang mula-mula berupa kejang klonik
tetapi kemudia kejang tonik, dan akhirnya timbul spasme opistotonik. Pupil mengalami
dilatasi, denyut jantung menurun, tekanan darah juga menurun. Efek ini berkaitan dengan
paralisis pusat yang lebih tinggi dalam otak akibat kekurangan 02.
3. Fasa Apnea: Depresi pusat pernapasan menjadi lebih hebat, pernapasan melemah dan
dapat berhenti. Kesadaran menurun dan akibat relaksasi sfingter, dapat terjadi
pengeluaran cairan sperma, urin dan tinja
4. Fasa akhir:Terjadi paralisis pusat pernapasan yang lengkap. Pernapasan berhenti setelah
kontraksi otomatis otot pernapasan kecil pada leher. Jantung masih berdenyut beberapa
saat setelah pernapasan berhenti.

Masa dari saat asfiksia timbul hingga terjadinya kematian sangat bervariasi. Umumnya
berkisar antara 4-5 minit. Fase 1 dan 2 berlangsung lebih kurang 3-4 menit, tergantung dari
tingkat penghalangan oksigen, bila tidak 100% maka waktu kematian akan lebih lama dan
tanda-tanda asfiksia akan lebih jelas dan lengkap. Secara patologi, berikut merupakan
perubahan yang dapat terjadi :
 Kapiler akan berdilatasi sebagai respons hipoksia dan anoksia. Ini seterusnya akan
menyebabkan stagnasi darah dalam kapiler dan venules sehingga terjadi pembesaran
capillovenous.
 Cedera pada dinding kapiler akan menyebabkan perdarahan petechie pada jaringan.
 Sianosis
 Oedem pada kapiler
 Darah menjadi encer post mortem
 Dilatasi cardiac

Kelainan yang umum ditemukan pada pembedahan jenazah korban mati akibat akfiksia
adalah:1

 Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer, kerana fibrinolisin darah yang meningkat
pasca mati.
 Busa halus di dalam saluran pernapasan.
 Perbendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi lebih berat,
berwarna lebih gelap dan pada pengirisan banyak mengeluarkan darah.
 Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikardium pada bagian belakang
jantung daerah aurikuloventrikular, subpleura viseralis paru terutama di lobus bawah pars
diafragmatika dan fisura interlobaris, kulit kepala sebelah dalam terutama daerah otot
temporal, mukosa epiglottis dan daerah subglotis.
 Edema paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan dengan kekerasan, seperti
fraktur laring langsung atau tidak langsung, perdarahan faring terutama bagian belakang
rawan krikoid (pleksus vena submukosa dengan dinding tipis)
Pemeriksaan
Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi pemeriksaan terhadap
bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya
cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebab
kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan yang ditemukan dengan
penyebab kematian.4

Autopsi Medikolegal

Autopsi medikolegal dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat
suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan, pembunuhan, maupun bunuh
diri. Autopsi ini dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan adanya penyidikan
suatu perkara. Tujuan dari autopsi medikolegal adalah :4
• Untuk memastikan identitas seseorang yang tidak diketahui atau belum jelas.
• Untuk menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian
• Untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan identitas
benda penyebab dan pelaku kejahatan.
• Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum et
repertum.

Hasil pemeriksaan adalah temuan obyektif pada korban, yang diperoleh dari pemeriksaan
medis. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada autopsi medikolegal :4

1. Tempat untuk melakukan otopsi adalah pada kamar jenazah.


2. Autopsi hanya dilakukan jika ada permintaan untuk otopsi oleh pihak yang
berwenang.
3. Autopsi harus segera dilakukan begitu mendapat surat permintaan untuk autopsi.
4. Hal-hal yang berhubungan dengan penyebab kematian harus dikumpulkan dahulu
sebelum memulai autopsi. Tetapi kesimpulan harus berdasarkan temuan-temuan dari
pemeriksaan fisik.
5. Pencahayaan yang baik sangat penting pada tindakan autopsi.
6. Identitas korban yang sesuai dengan pernyataan polisi harus dicatat pada laporan.
Pada kasus jenazah yang tidak dikenal, maka tanda-tanda identifikasi, photo, sidik
jari, dan lain-lain harus diperoleh.
7. Ketika dilakukan autopsi tidak boleh disaksikan oleh orang yang tidak berwenang.
8. Pencatatan perincian pada saat tindakan autopsi dilakukan oleh asisten.
9. Pada laporan autopsi tidak boleh ada bagian yang dihapus.
10. Jenazah yang sudah membusuk juga bisa diautopsi.

Adapun persiapan yang dilakukan sebelum melakukan autopsi forensik/medikolegal adalah:4

1. Melengkapi surat-surat yang berkaitan dengan autopsi yang akan dilakukan, termasuk
surat izin keluarga, surat permintaan pemeriksaan/pembuatan visum et repertum.
2. Memastikan mayat yang akan diautopsi sesuai surat tersebut.
3. Mengumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian selengkap
mungkin untuk membantu memberi petunjuk pemeriksaan dan jenis pemeriksaan
penunjang yang harus dilakukan.
4. Memastikan alat-alat yang akan dipergunakan telah tersedia seperti timbangan besar
untuk menimbang mayat, timbangan kecil untuk menimbang organ, pisau (pisau
belati atau pisau dapur yang tajam ), gunting (berujung runcing dan tumpul), pinset ,
gergaji, forseps , gelas takar 1 liter, pahat, palu, meteran, jarum, benang, sarung
tangan, dan baskom
5. Mempersiapkan format autopsi, hal ini penting untuk memudahkan dalam pembuatan
laporan autopsi.

I. Pemeriksaan Luar4
Bagian pertama dari teknik autopsi adalah pemeriksaan luar, dengan Sistematika
pemeriksaannya sebagai berikut :
1. Label mayat
Memeriksa label mayat (dari pihak kepolisian) yang biasanya diikatkan pada jempol
kaki mayat. Gunting label mayat pada tali pengikat dan simpan bersama berkas
pemeriksaan. Catat warna, bahan, dan isi label selengkap mungkin. Sedangkan label
rumah sakit yang digunakan untuk identifikasi di kamar jenazah harus tetap ada pada
tubuh mayat atau bungkus mayat. Catat tali pengikatnya bila ada.4
2. Pakaian
Mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang dikenakan di atas sampai di
bawah dan dari yang terluar sampai terdalam. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar,
warna dan corak tekstil, bentuk/model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu,
monogram/inisial, dan tambalan/tisikan bila ada. Catat juga letak dan ukuran pakaian
bila ada tidaknya bercak/pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat isinya.4
3. Perhiasan
Mencatat perhiasan yang digunakan mayat meliputi jenis, bahan, warna, merek,
bentuk serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan tersebut.
4. Mencatat benda di samping mayat misalnya tas ataupun bungkusan.
5. Mencatat perubahan tanatologi :
 Lebam mayat; letak/distribusi, warna, dan intensitas lebam.
 Kaku mayat; distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi, dan ada tidaknya
spasme kadaverik.
 Suhu tubuh mayat; memakai termometer rektal dam dicatat juga suhu ruangan pada
saat tersebut.
 Pembusukan, mumifikasi, atau adiposera
6. Mencatat identitas mayat,
seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan umur, warna kulit, status gizi, tinggi
badan, berat badan, disirkumsisi/tidak, striae albicantes pada dinding perut.4
7. Identitas khusus
Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas khusus,
meliputi rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit, anomali dan cacat pada
tubuh.4
8. Pemeriksaan rambut
Memeriksa distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari rambut. Rambut kepala
harus diperiksa, contoh rambut diperoleh dengan cara memotong dan mencabut
sampai ke akarnya, paling sedikit dari enam lokasi kulit kepala yang berbeda.
Potongan rambut ini disimpan dalam kantong yang telah ditandai sesuai tempat
pengambilannya.4
9. Pemeriksaan mata
Memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup, tanda kekerasan atau
kelainan. Periksa selaput lendir kelopak mata dan bola mata, warna, cari pembuluh
darah yang melebar, bintik perdarahan, atau bercak perdarahan. Kornea jernih/tidak,
adanya kelainan fisiologik atau patologik. Catat keadaan dan warna iris serta kelainan
lensa mata. Catat ukuran pupil, bandingkan kiri dan kanan.4
10. Pemeriksaan daun telinga dan hidung
Mencatat bentuk dan kelainan/anomali pada daun telinga dan hidung.
11. Pemeriksaan mulut dan rongga mulut
Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi dengan
lengkap, termasuk jumlah, hilang/patah/tambalan, gigi palsu, kelainan letak,
pewarnaan, dan sebagainya.
12. Pemeriksaan leher
Bagian leher diperiksa jika ada memar, bekas pencekikan atau pelebaran pembuluh
darah. Kelenjar tiroid dan getah bening juga diperiksa secara menyeluruh.
13. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan.
Pada pria dicatat kelainan yang ditemukan, dan apakah keluar cairan atau tidak.
Perhatikan bentuk lubang pelepasan, perhatikan adanya luka, benda asing, darah dan
lain-lain. 4
14. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda perbendungan, ikterus, sianosis,
edema, bekas pengobatan, bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh.4
15. Bila terdapat tanda-tanda kekerasan/luka harus dicatat lengkap. Setiap luka pada
tubuh harus diperinci dengan lengkap, yaitu perkiraan penyebab luka, lokasi, ukuran,
kedalaman luka . Lokalisasi luka dilukis dengan mengambil beberapa patokan, antara
lain : garis tengah melalui tulang dada, garis tengah melalui tulang belakang, garis
mendatar melalui kedua papilla mamae, dan garis mendatar melalui umbilikus. 4
16. Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya.4

II. Pemeriksaan Dalam4


Insisi pada pemeriksaan dalam dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut ini :
• Insisi I dimulai di bawah tulang rawan krikoid di garis tengah sampai prosesus
xifoideus kemudian 2 jari paramedian kiri dari umbilikus sampai simfisis, dengan
demikian tidak perlu melingkari umbilikus.
• Insisi Y, merupakan salah satu tehnik khusus otopsi.
• Insisi melalui lekukan suprastenal menuju simfisis pubis, lalu dari lekukan
suprasternal ini dibuat sayatan melingkari bagian leher.
Pada pemeriksaan dalam, organ tubuh diambil satu persatu dengan hati-hati dan dicatat :4

1. Ukuran : Pengukuran secara langsung adalah dengan menggunakan pita pengukur.


Secara tidak langsung dilihat adanya penumpukan pada batas inferior organ. Organ
hati yang mengeras juga menunjukkan adanya pembesaran.
2. Bentuk
3. Permukaan : Pada umumnya organ tubuh mempunyai permukaan yang lembut,
berkilat dengan kapsul pembungkus yang bening. Carilah jika terdapat penebalan,
permukaan yang kasar , penumpulan atau kekeruhan.
4. Konsistensi: Diperkirakan dengan cara menekan jari ke organ tubuh tersebut.
5. Kohesi: Merupakan kekuatan daya regang anatar jaringan pada organ itu. Caranya
dengan memperkirakan kekuatan daya regang organ tubuh pada saat ditarik. Jaringan
yang mudah teregang (robek) menunjukkan kohesi yang rendah sedangkan jaringan
yang susah menunjukkan kohesi yang kuat.
6. Potongan penampang melintang: Disini dicatat warna dan struktur permukaan
penampang organ yang dipotong. Pada umumnya warna organ tubuh adalah keabu-
abuan, tapi hal ini juga dipengaruhi oleh jumlah darah yang terdapat pada organ
tersebut. Warna kekuningan, infiltrasi lemak, lipofisi, hemosiferin atau bahan pigmen
bisa merubah warna organ. Warna yang pucat merupakan tanda anemia.

Struktur organ juga bisa berubah dengan adanya penyakit. Pemeriksaan khusus juga bisa
dilakukan terhadap sistem organ tertentu, tergantung dari dugaan penyebab kematian. Insisi
pada masing-masing bagian-bagian tubuh yaitu :

1. Dada :

Tulang dada diangkat dengan memotong tulang rawan iga 1 cm dari sambungannya dengan
cara pisau dipegang dengan tangan kanan dengan bagian tajam horizontal diarahkan pada
tulang rawan iga dan dengan tangan yang lain menekan pada punggung pisau. Pemotongan
dimulai dari tulang rawan iga no. 2. Tulang dada diangkat dan dilepaskan dari diafragma
kanan dan kiri kemudian dilepaskan mediastinum anterior. Rongga paru-paru diperiksa
adanya perlengketan, darah, pus atau cairan lain kemudian diukur. Kemudian pisau dengan
tangan kanan dimasukkan dalam rongga paru-paru, bagian tajam tegak lurus diarahkan ke
tulang rawan no.1 dan tulang rawan dipotong sedikit ke lateral, kemudian bagian tajam pisau
diarahkan ke sendi sternoklavikularis dengan menggerak-gerakkan sternum, sendi
dipisahkan. Prosedur diulang untuk sendi yang lainnya. Mediastinum anterior diperiksa
adanya timus persistens. Perikardium dibuka dengan Y terbalik, diperiksa cairan perikardium,
normal sebanyak kurang lebih 50 cc dengan warna agak kuning. Apeks jantung diangkat,
dibuat insisi di bilik dan serambi kanan diperiksa adanya embolus yang menutup arteri
pulmonalis. Kemudian dibuat insisi di bilik dan serambi kiri. Jantung dilepaskan dengan
memotong pembuluh besar dekat perikardium.4

2. Perut :
Usus halus dipisahkan dari mesenterium, usus besar dilepaskan, duodenum dan rektum diikat
ganda kemudian dipotong. Limpa pula dipotong di hilus, diiris longitudinal, perhatikan
parenkim, folikel, dan septa.

i. Esofagus-Lambung-Doudenum-Hati :

Semua organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Esofagus diikat ganda dan
dipotong. Diafragma dilepaskan dari hati dan esofagus dan unit tadi dapat diangkat. Sebelum
diangkat, anak ginjal kanan yang biasanya melekat pada hati dilepaskan terlebih dahulu.
Esofagus dibuka terus ke kurvatura mayor, terus ke duodenum. Perhatikan isi lambung, dapat
membantu penentuan saat kematian. Kandung empedu ditekan, bulu empedu akan menonjol
kemudian dibuka dengan gunting ke arah papila Vater, kemudian dibuka ke arah hati, lalu
kandung empedu dibuka. Perhatikan mukosa dan adanya batu. Buluh kelenjar ludah diperut
dibuka dari papila Vater ke pancreas. Pankreas dilepaskan dari duodenum dan dipotong-
potong transversal. Pada hati perhatikan tepi hati, permukaan hati, perlekatan, kemudian
dipotong longitudinal. Usus halus dan usus besar dibuka dengan gunting ujung tumpul,
perhatikan mukosa dan isinya, cacing.4

ii. Ginjal, ureter, rektum, dan kandung urine

Organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Ginjal dengan suatu insisi lateral dapat
diangkat dan dilepaskan dengan memotong pembuluh darah di hilus, kemudian ureter
dilepaskan sampai panggul kecil. Kandung urine dan rektum dilepaskan dengan cara
memasukkan jari telunjuk lateral dari kandung urine dan dengan cara tumpul membuat jalan
sampai ke belakang rektum. Kemudian dilakukan sama pada bagian sebelahnya. Tempat
bertemunya kedua jari telunjuk dibesarkan sehingga 4 jari kanan dan kiri dapat bertemu,
kemudian jari kelingking dinaikkan ke atas dengan demikian rektum lepas dari sakrum.
Rektum dan kandung urine dipotong sejauh dekat diafragma pelvis. Anak ginjal dipotong
transversal. Ginjal dibuka dengan irisan longitudinal dari lateral ke hilus. Ureter dibuka
dengan gunting sampai kandung urine, kapsul ginjal dilepas dan perhatikan permukaannya.
Pada laki-laki rektum dibuka dari belakang dan kandung urine melalui uretra dari muka.
Rektum dilepaskan dari prostat dan dengan demikian terlihat vesika seminalis. Prostat
dipotong transversal, perhatikan besarnya penampang. Testis dikeluarkan melalui kanalis
spermatikus dan diiris longitudinal, perhatikan besarnya, konsistensi, infeksi, normal, tubuli
semineferi dapat ditarik seperti benang.4

3. Leher :

Lidah, laring, trakea, esofagus, palatum molle, faring dan tonsil dikeluarkan sebagai satu unit.
Perhatikan obstruksi di saluran nafas, kelenjar gondok dan tonsil. Pada kasus pencekikan
tulang lidah harus dibersihkan dan diperiksa adanya patah tulang.4

4. Kepala :

Kulit kepala diiris dari prosesus mastoideus kanan sampai yang kiri dengan mata pisau
menghadap keluar supaya tidak memotong rambut terlalu banyak. Kulit kepala kemudian
dikelupas ke muka dan ke belakang dan tempurung tengkorak dilepaskan dengan
menggergajinya. Pahat dimasukkan dalam bekas mata gergaji dan dengan beberapa ketukan
tempurung lepas dan dapat dipisahkan. Durameter diinsisi paralel dengan bekas mata gergaji.
Falx serebri digunting dibagian muka. Otak dipisah dengan memotong pembuluh darah dan
saraf dari muka ke belakang dan kemudian medula oblongata. Tentorium serebri diinsisi di
belakang tulang karang dan sekarang otak dapat diangkat. Selaput tebal otak ditarik lepas
dengan cunam. Otak kecil dipisah dan diiris horisontal, terlihat nukleus dentatus. Medula
oblongata diiris transversal, demikiaan pula otak besar setebal 2,5 cm. Pada trauma kepala
perhatikan adanya edema, kontusio, laserasi serebri.4

Pemeriksaan Toksikologi

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan tambahan. Karena mayat ditemukan dalam keadaan
mencurigakan, maka pemeriksaan ini diperlukan untuk mengetahui apakah korban meninggal
karena keracunan atau sebab lain.1,4

Sampel dari toksikologi forensik pada umumnya adalah spesimen biologi seperti: cairan
biologis (darah, urin, air ludah), jaringan biologis atau organ tubuh. Preparasi sampel adalah
salah satu faktor penentu keberhasilan analisis toksikologi forensik disamping kehadalan
penguasaan metode analisis instrumentasi. Berbeda dengan analisis kimia lainnya, hasil
indentifikasi dan kuantifikasi dari analit bukan merupakan tujuan akhir dari analisis
toksikologi forensik. Seorang toksikolog forensik dituntut harus mampu menerjemahkan
apakah analit (toksikan) yang diketemukan dengan kadar tertentu dapat dikatakan sebagai
penyebab keracunan (pada kasus kematian).1,4

Spesimen untuk analisis toksikologi forensik biasanya diterok oleh dokter, misalnya pada
kasus kematian tidak wajar spesimen dikumpulkan oleh dokter forensik pada saat melakukan
otopsi. Spesimen dapat berupa cairan biologis, jaringan, organ tubuh. Dalam pengumpulan
spesimen dokter forensik memberikan label pada masing-masing bungkus/wadah dan
menyegelnya. Label seharusnya dilengkapi dengan informasi: nomer indentitas, nama
korban, tanggal/waktu otopsi, nama spesimen beserta jumlahnya. Pengiriman dan penyerahan
spesimen harus dilengkapi dengan surat berita acara menyeran spesimen, yang ditandatangani
oleh dokter forensik. Toksikolog forensik yang menerima spesimen kemudian memberikan
dokter forensik surat tanda terima, kemudian menyimpan sampel/spesimen dalam lemari
pendingin “freezer” dan menguncinya sampai analisis dilakukan. Prosedur ini dilakukan
bertujuan untuk memberikan rantai perlindungan/pengamanan spesimen (chain of custody).1,4
Pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP)

Tempat kejadian perkara ( TKP) adalah tempat ditemukannya benda bukti dan/atau tempat
tempat terjadinya peristiwa kejahatan atau yang diduga kejahatan menurut suatu kesaksian.
Diperlukan atau tidaknya kehadiran dokter di TKP oleh penyidik sangat bergantung pada
kasusnya, yang pertimbangannya dapat dilihat dari sudut korbannya, tempat kejadian, atau
kejadiannya. Peran dokter di TKP adalah membantu penyidik dalam mengungkap kasus dari
sudut kedokteran forensik. Bila korban telah meninggal dunia maka tugas dokter adalah
menegakkan diagnosis kematian, memperkirakan saat kematian, memperkirakan sebab
kematian, memperkirakan cara kematian dan mengamankan bukti medis. Pemeriksaan
dimulai dengan membuat foto dan sketsa TKP, termasuk penjelasan mengenai letak dan
posisi korban, benda bukti dan interaksi lingkungan. Benda bukti yang ditemukan dapat
berupa pakaian, bercak darah, rambut, obat, racun. Benda bukti medis diamankan dan dikirim
ke laboratorium forensik untuk dilakukan pemeriksaan. 1

Interpretasi temuan
1. Temuan pada keracunan karbonmonoksida (CO) :1
1) Temuan pada pemeriksaan luar
 Lebam mayat berwarna merah muda terang ( cherry pink)
 Ditemukan eritema dan vesikel atau bula pada kulit dada, perut, muka, dan
anggota gerak badan
2) Temuan pada pemeriksaan dalam
 Jaringan otot visera dan darah berwarna merah terang
 Pada otak besar ditemukan petekie di substansia alba
 Pada miokardium ditemukan perdarahan dan nekrosis
3) Analisis toksikologi
 Ditemukan COHb pada darah
4) Histopatologi forensik
a. Otak
 Pembuluh- pembuluh halus mengandung trombi hialin
 Nekrosis halus dengan ditengahnya terdapat pembuluh darah yang
mengandung trombi hialin dengan perdarahan disekitarnya ( ring
haemorrhage)
 Ball haemorrhage yang terjadi karena dinding arteriol nekrotik

b. jantung
 Pada penampang memanjang tampak bagian ujung m. papilaris berbercak-
bercak perdarahan atau bergaris-garis seperti kipas berjalan dari tempat
insertion tendinosa ke dalam otot.
c. Ginjal
 Gambaran nekrosis pada tubuli ginjal
2. Temuan pada keracunan sianida :1
1) Temuan pada pemeriksaan luar
 Tercium bau amandel
 Sianosis pada wajah dan bibir
 Busa keluar dari mulut
 Lebam mayat berwarna merah terang
2) Temuan pada pemeriksaan dalam
 Tercium bau amandel saat membuka rongga dada, perut dan otak
 Darah dan otot berwarna merah terang
 Tanda asfiksia organ tubuh
 Kelainan mukosa lambung berupa korosi, merah kecoklatan, perabaan licin
seperti sabun
3) Pemeriksaan toksikologi forensik
 Pada uji kertas saring yang telah diteteskan 1 tetes isi lambung dan diteteskan
Na2CO3 10% 1 tetes didapatkan hasil terbentuk warna ungu  positif
 Pada uji isi lambung dengan rekasi Schonbein-pagenstecher didapatkan hasil
terbentuknya warna biru-hijau pada kertas saring  positif

3. Temuan pada keracunan arsen:1


1) Temuan pada pemeriksaan luar
 Ditemukan tanda-tanda dehidrasi
2) Temuan pada pemeriksaan dalam
 ditemukan tanda-tanda iritasi lambung, mukosa warna merah
 pada jantung ditemukan perdarahan subendokard pada septum
 ditemukan tanda tanda kegagalan kardio-respirasi akut
3) pemeriksaan toksikologi forensik
 ditemukan kadar dalam arsen dalam darah, urin, rambut dan kuku meningkat

Saat kematian, sebab kematian dan kemungkinan cara kematian


Sebab mati adalah penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab atas terjadinya
kematian. Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian.
Bila kematian terjadi sebagai akibat suatu penyakit semata-mata maka cara kematian adalah
wajar (natural death). Kematian tidak wajar (unnatural death) dapat terjadi sebagai akibat
kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Kadangkala pada akhir suatu penyidikan, penyidik
masih belum dapat menentukan cara kematian dari yang bersangkutan, maka dalam hal ini
kematian dinyatakan sebagai kematian dengan cara yang tidak ditentukan. Mekanisme
kematian adalah gangguan fisiologik dan atau biokimiawi yang ditimbulkan oleh penyebab
kematian sedemikian rupa sehingga seseorang tidak dapat terus hidup.1
berikut beberapa contoh zat yang menyebabkan kematian :
1. kematian akibat keracunan karbonmonoksida
berdasarkan hasil pemeriksaan otopsi forensik ditemukan terdapat lebam mayat
berwarna merah muda terang, otot visera dan darah berwarna merah dan darah
mengandung COHb maka dapat disimpulkan cara kematian korban adalah keracunan
karbonmonoksida dan sebab kematian korban adalah hipoksia jaringan akibat zat
karbonmonoksida dengan mekanisme kematiannya adalah zat karbonmonoksida
berikatan dengan haemoglobin menjadi COHb sehingga menyebabkan haemoglobin
menjadi inaktif dan kemampuan darah untuk mengikat O2 berkurang sehingga
jaringan akan mengalami hipoksia.
2. Kematian akibat keracunan sianida

Berdasarkan hasil pemeriksaan otopsi forensik ditemukan beberapa hal seperti


tercium bau amandel sianosis pada wajah dan bibir, busa keluar dari mulut, lebam
mayat berwarna merah terang, darah dan otot berwarna merah terang, tanda asfiksia
organ tubuh, kelainan mukosa lambung berupa korosi, merah kecoklatan, perabaan
licin seperti sabun, pada uji kertas saring yang telah diteteskan 1 tetes isi lambung dan
diteteskan Na2CO3 10% 1 tetes didapatkan hasil terbentuk warna ungu  positif ,
pada uji isi lambung dengan rekasi Schonbein-pagenstecher didapatkan hasil
terbentuknya warna biru-hijau pada kertas saring  positif maka dapat disimpulkan
bahwa cara kematian korban adalah keracunan sianida. Sebab kematian korban ini
adalah anoxia jaringan akibat zat sianida dengan mekanisme kematiannya adalah zat
sianida yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan dengan methemoglobin
membentuk sianmethemoglobin. Sianida akan akan menginaktifkan enzim oksidatif
dan merangsang bekerja lebih cepat sehingga zat sianida yang terhirup akan semakin
banyak. Hal ini menyebabkan oksigen tidak dapat dilepas ke jaringan sehingga terjadi
anoksia jaringan.

3. Kematian akibat keracunan arsen

Berdasarkan hasil pemeriksaan forensik didapatkan Ditemukan tanda-tanda dehidrasi,


ditemukan tanda-tanda iritasi lambung dengan mukosa warna merah, pada jantung
ditemukan perdarahan subendokard pada septum, ditemukan tanda tanda kegagalan
kardio-respirasi akut, dan ditemukan kadar dalam arsen dalam darah, urin, rambut dan
kuku meningkat. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan kematian korban
dengan cara keracunan zat arsen. Sebab kematian korban adalah kegagalan sistem
pernapasan dan sistem peredaran darah akibat zat arsen dengan mekanisme kematian
adalah zat arsen menyebabkan terjadinya hemolisis sel darah merah dan depresi
sistem saraf pusat sehingga terjadi kegagalan sistem pernapasan
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 7 Telp. (021) 56942061, Jakarta 11510

PROJUSTITIA Jakarta, 14 Desember 2017

Visum et Repertum
No. 244/ Bag. Forensik Ukrida/ XXI/ 2017

Yang bertanda tangan di bawah ini, Yoci Legi dokter ahli kedokteran forensik pada bagian
Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta,
menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Barat No.
Pol.: B/789/VR/XII/95/Serse tertanggal 12 Desember 2017, maka pada tanggal empat belas
desember tahun dua ribu tujuh belas, pukul dua belas tiga puluh menit Waktu Indonesia
bagian Barat, bertempat di ruang jenazah Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Kristen Krida Wacana telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat
permintaan tersebut adalah:

Nama : Ny Jennifer----------------------------------------------------------------------

Jenis kelamin : Perempuan----------------------------------------------------------------------

Umur : 52 tahun-------------------------------------------------------------------------

Warga Negara : Indonesia------------------------------------------------------------------------

Pekerjaan : Pengusaha-----------------------------------------------------------------------

Alamat : Kompleks Perumahan Puri Indah Jl. Puri Indah Raya no.30, Jakarta Barat

Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna kuning yang terikat pada ibu jari
kaki kanan------------------------------------------------------------------

HASIL PEMERIKSAAN

I. Pemeriksaan Luar
1. Mayat tidak terbungkus---------------------------------------------------------------------------

2. Mayat berpakaian sebagai berikut:--------------------------------------------------------------


a. Baju piyama berwarna merah dengan motif bunga putih, dengan merek Victoria
secret dengan ukuran M. Tidak ditemukan kelainan pada baju korban--------------
b. Celana dalam dari kaus warna putih dengan karet berwarna merah muda pada
pinggang dengan tulisan La Senza berwarna hitam------------------------------------
3. Kaku mayat terdapat pada seluruh tubuh, masih dapat dilawan. Lebam mayat
terdapat pada bagian punggung, berwarna merah gelap, hilang pada penekanan. Telah
terjadi penurunan suhu mayat disekujur tubuh------------------------------------------------
4. Mayat adalah seorang perempuan warga negara Indonesia, umur kurang lebih lima
puluh dua tahun , kulit berwarna kuning langsat, gizi baik, panjang badan seratus
tujuh puluh satu sentimeter dan berat badan lima puluh lima kilogram--------------------
5. Rambut kepala lurus panjang, bertumbuh lebat dan berwarna hitam. Alis berwarna
hitam, tumbuh lebat dengan panjang setengah sentimeter. Bulu mata berwarna hitam,
tumbuh lurus, panjang satu sentimeter. Kumis tidak ada. Jenggot tidak ada--------------
6. Kedua mata tertutup. Selaput bening mata jernih, kedua teleng mata bundar dengan
garis tengah empat milimeter. Tirai mata berwarna coklat. Selaput bola mata dan
selaput kelopak mata kanan dan kiri berwarna putih, tidak tampak perdarahan maupun
pelebaran pembuluh darah------------------------------------------------------------------------
7. Hidung berbentuk biasa. Kedua daun telinga berbentuk biasa dan mengenakan anting
dengan motif bentuk huruf YSL-----------------------------------------------------------------
8. Mulut terbuka lebar lima milimeter. Kedua bibir tampak tebal. Gigi geligi lengkap---
9. Dari lubang hidung, telinga, mulut, dan lubang tubuh lainnya tidak keluar apa-apa----
10. Alat kelamin berbentuk biasa tidak menunjukan kelainan. Lubang dubur berbentuk
biasa tidak menunjukan kelainan----------------------------------------------------------------
11. Pada tubuh tidak ditemukan adanya luka-luka------------------------------------------------
12. Tidak ditemukan adanya patah tulang dari keempat ekstrimitas tubuh--------------------

II. Pemeriksaan Dalam (Bedah Jenazah)

13. Jaringan lemak bawah kulit daerah dada dan perut berwarna kuning kecoklatan, tebal
di daerah dada lima milimeter sedangkan di daerah perut sebelas sentimeter. Otot-otot
berwarna merah terang dan cukup tebal-----------------------------------------
14. Sekat rongga badan sebelah kanan setinggi sela iga keempat dan yang kiri setinggi
sela iga kelima----------------------------------------------------------------------------------
15. Semua iga lain serta tulang dada tidak menunjukan kelainan. --------------------------
16. Jaringan bawah kulit daerah leher dan otot leher tidak menunjukan kelainan. -------
17. Kandung jantung tampak tiga jari di antara kedua tepi paru. Kandung jantung tidak
menunjukan adanya kelainan--------------------------------------------------------------------
a. Rongga dada tidak menunjukan kelainan--------------------------------------------------
b. Pada jantung ditemukan perdarahan sub-endokard pada septum-----------------------
18. Dinding rongga perut tampak licin, berwarna kelabu mengkilat dengan sedikit
berwarna merah terang. Dalam rongga perut tidak terdapat darah maupun cairan. Tirai
usus tampak menutupi sebagian besar usus. Lambung berwarna merah dan kadang-
kadang terjadi perdarahan dan usus berwarna merah terang---------------------------------
19. Lidah berwarna kelabu, perabaan lemas, tidak terdapat bekas tergigit maupun resapan
darah. Tonsil tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukan kelainan.
Kelenjar gondok berwarna coklat merah, tidak membesar dan penampangnya tidak
menunjukan kelainan, berat dua puluh gram---------------------------------------------------
20. Batang tenggorok dan cabangnya tidak tampak kelainan------------------------------------
21. Kerongkongan kosong, selaput lendirnya berwarna putih-----------------------------------
22. Paru kanan terdiri dari tiga bagian, berwarna kelabu kemerahan dan perabaan seperti
karet busa. Penampang parenkim kanan mengalami degenerasi bengkak keruh
Paru kiri terdiri dari dua bagian, berwarna kelabu kemerahan dan perabaan agak
kenyal, kurang mengandung udara. Paru kiri tampak agak menguncup. Berat paru kiri
tiga ratus gram dan kanan empat ratus gram---------------------------------------------------
23. Jantung tampak sebesar tinju kanan mayat. Selaput luar jantung tampak licin,
terdapat bintik perdarahan--------------------------------------------------------------------
Katup jantung tidak menunjukan kelainan. Lingkaran katup serambi bilik kanan
sebelas sentimeter sedangkan yang kiri sembilan sentimeter. Lingkaran katup nadi
paru sepanjang enam setengah sentimeter dan katup batang nadi sepanjang enam
sentimeter. Tebal otot bilik jantung kanan empat milimeter dan yang kiri dua belas
milimeter----------------------------------------------------------------------------------------
Otot puting cukup tebal. Pembuluh nadi jantung tidak tersumbat dan dindingnya tidak
menebal. Sekat jantung tidak menunjukan kelainan--------------------------------
Berat jantung tiga ratus gram-----------------------------------------------------------------
24. Hati berwarna merah gelap, permukaannya rata, tepinya tajam dan perabaan kenyal
padat. Penampang hati berwarna merah gelap dan gambaran hati tampak jelas. Berat
hati adalah seribu dua ratus gram-----------------------------------------------------
25. Kandung empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendirnya berwarna
hijau seperti beludru. Saluran empedu tidak menunjukan penyumbatan---------------
26. Limpa berwarna merah gelap, permukaannya keriput dan perabaan lembek.
Penampangnya berwarna merah terang dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa
seratus sepuluh gram------------------------------------------------------------------------------
27. Kelenjar liur perut berwarna putih kekuningan, permukaan menunjukan belah-belah
dan penampangnya tidak menunjukan kelainan. Berat kelenjar liur perut delapan
puluh lima gram-----------------------------------------------------------------------------------
28. Lambung berisi makanan yang setengah tercerna terdiri dari nasi dan sayur. Selaput
lendirnya berwarna kemerahan dan terdapat perdarahan------------------------------------
Usus dua belas jari, usus halus, dan usus besar tidak menunjukan kelainan-----------
29. Anak ginjal kanan berbentuk trapesium dan yang kiri berbentuk bulan sabit---------
Gambaran kulit dan sumsum jelas, tidak menunjukan kelainan. Berat anak ginjal
kanan delapan gram dan yang kiri sembilan gram--------------------------------------------
30. Ginjal kanan dan kiri bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata
dan licin, berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal kanan sembilan puluh
gram dan yang kiri seratus gram. Penampang ginjal menunjukan gambaran yang jelas,
piala ginjal dan saluran kemih tidak menunjukan kelainan----------------------------------
31. Kandung kencing berisi cairan berwarna kekuningan dan selaput lendirnya berwarna
putih, tidak menunjukan kelainan---------------------------------------------------------------
32. Kulit kepala bagian dalam bersih. Tulang tengkorak utuh. Selaput keras otak tidak
menunjukan kelainan. Tidak terdapat perdarahan di atas maupun di bawah selaput
keras otak. Permukaan otak besar menunjukan gambaran lekuk otak yang biasa,
terdapat bintik perdarahan pada daerah permukaan otak dan daerah putih otak . Otak
kecil dan batang otak tidak menunjukan perdarahan baik pada permukaan maupun
penampangnya-------------------------------------------------------------------------------------
33. Dilakukan pemeriksaan laboratorium uji dilusi alkali pada darah korban didapatkan
positif mengandung COHb dan dilakukan pula uji formalin ( Eachloiz-Liebmann)
pada darah korban dan didapatkan hasil positif mengandung COHb-----------------------

KESIMPULAN

Pada mayat perempuan berusia lima puluh dua tahun ini, ditemukan lebam mayat yang
berwarna merah muda terang, otot berwarna merah terang, darah berwarna merah terang dan
alat-alat dalam tubuh berwarna merah gelap. Pada otak ditemukan bintik perdarahan pada
bagian otak yang berwarna putih. Pada pemeriksaan laboratorium uji dilusi alkali pada darah
korban didapatkan positif mengandung COHb dan dilakukan pula uji formalin ( Eachloiz-
Liebmann) pada darah korban dan didapatkan hasil positif mengandung COHb -----------------
Sebab mati orang ini adalah keracunan zat karbonmonoksida yang menyebabkan jaringan
tubuh tidak mendapatkan oksigen------------------------------------------------------------------------

Demikianlah Visum et Repertum ini dibuat dengan sebenarnya berdasarkan keilmuan saya
dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.

Dokter yang memeriksa,

dr. Yoci Legi, Sp.F, SH, MH


Bagian Ilmu Kedokteran Forensik

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 7 Telp. (021) 56942061, Jakarta 11510

PROJUSTITIA Jakarta, 14 Desember 2017

Visum et Repertum
No. 245/ Bag. Forensik Ukrida/ XXI/ 2017

Yang bertanda tangan di bawah ini, Yoci Legi dokter ahli kedokteran forensik pada bagian
Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta,
menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Barat No.
Pol.: B/789/VR/XII/95/Serse tertanggal 12 Desember 2017, maka pada tanggal empat belas
desember tahun dua ribu tujuh belas, pukul dua belas tiga puluh menit Waktu Indonesia
bagian Barat, bertempat di ruang jenazah Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Kristen Krida Wacana telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat
permintaan tersebut adalah:

Nama : Tn Rizal Wijayanto------------------------------------------------------------

Jenis kelamin : Laki-laki-------------------------------------------------------------------------

Umur : 65 tahun-------------------------------------------------------------------------

Warga Negara : Indonesia------------------------------------------------------------------------

Pekerjaan : Pengusaha-----------------------------------------------------------------------

Alamat : Kompleks Perumahan Puri Indah Jl. Puri Indah Raya no.30, Jakarta Barat

Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna kuning, terikat pada ibu jari kaki
kanan------------------------------------------------------------------

HASIL PEMERIKSAAN

I. Pemeriksaan Luar
1. Mayat tidak terbungkus---------------------------------------------------------------------------
2. Mayat berpakaian sebagai berikut:--------------------------------------------------------------
a. Baju piyama lengan pendek berwarna biru dengan motif garis vertikal, tidak ada
merek dengan ukuran XL dan tidak terdapat saku. Tidak ditemukan kelainan
pada baju korban-----------------------------------------------------------------------------
b. Celana panjang kain tanpa merek berwarna biru dengan dua buah saku pada
bagian belakang dan satu buah saku masing-masing pada sisi kanan dan kiri.
Celana dalam dari kaus warna putih dengan karet berwarna putih pada pinggang
dengan tulisan calvin klein berwarna hitam----------------------------------------------
3. Kaku mayat terdapat pada seluruh tubuh, masih dapat dilawan. Lebam mayat terdapat
pada bagian punggung, berwarna merah gelap, tidak hilang pada penekanan. Telah
terjadi penurunan suhu mayat disekujur tubuh------------------------------------------------
4. Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur kurang lebih enam puluh lima
tahun, kulit berwarna sawo matang, gizi baik, panjang badan seratus enam puluh
delapan sentimeter dan berat badan tujuh puluh kilogram dan kemaluan disunat.
Selain itu ditemukan garis-garis putih di kuku tangan kiri---------
5. Rambut kepala tidak ada. Alis berwarna hitam, tumbuh lebat dengan panjang
setengah sentimeter. Bulu mata berwarna hitam, tumbuh lurus, panjang satu
sentimeter. Kumis tidak ada. Jenggot tidak ada-----------------------------------------------
6. Kedua mata tertutup. Selaput bening mata jernih, kedua teleng mata bundar dengan
garis tengah empat milimeter. Tirai mata berwarna coklat. Selaput bola mata dan
selaput kelopak mata kanan dan kiri berwarna putih, tidak tampak perdarahan maupun
pelebaran pembuluh darah------------------------------------------------------------------------
7. Hidung berbentuk biasa. Kedua daun telinga berbentuk biasa---------------------------
8. Mulut terbuka lebar lima milimeter. Kedua bibir tampak tebal. Gigi geligi lengkap----
9. Dari lubang hidung, telinga, mulut, dan lubang tubuh lainnya tidak keluar apa-apa-----
10. Alat kelamin berbentuk biasa tidak menunjukan kelainan. Lubang dubur berbentuk
biasa tidak menunjukan kelainan----------------------------------------------------------------
11. Pada tubuh tidak ditemukan adanya luka-luka-----------------------------------------------
12. Tidak ditemukan adanya patah tulang dari keempat ekstrimitas tubuh-----------------
Pemeriksaan Dalam (Bedah Jenazah)
13. Jaringan lemak bawah kulit daerah dada dan perut berwarna kuning kecoklatan, tebal
di daerah dada lima milimeter sedangkan di daerah perut sebelas sentimeter. Otot-otot
berwarna merah terang dan cukup tebal-----------------------------------------
14. Sekat rongga badan sebelah kanan setinggi sela iga keempat dan yang kiri setinggi
sela iga kelima----------------------------------------------------------------------------------
15. Semua iga lain serta tulang dada tidak menunjukan kelainan. --------------------------
16. Jaringan bawah kulit daerah leher dan otot leher tidak menunjukan kelainan. -------
17. Kandung jantung tampak tiga jari di antara kedua tepi paru. Kandung jantung tidak
menunjukan adanya kelainan-----------------------------------------------------------------
c. Rongga dada tidak menunjukan kelainan--------------------------------------------
d. Pada jantung ditemukan perdarahan sub-endokard pada septum-----------------
18. Dinding rongga perut tampak licin, berwarna kelabu mengkilat dengan sedikit
berwarna merah terang. Dalam rongga perut tidak terdapat darah maupun cairan. Tirai
usus tampak menutupi sebagian besar usus. Lambung berwarna merah dan kadang-
kadang terjadi perdarahan dan usus berwarna merah terang--------------------
19. Lidah berwarna kelabu, perabaan lemas, tidak terdapat bekas tergigit maupun resapan
darah. Tonsil tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukan kelainan.
Kelenjar gondok berwarna coklat merah, tidak membesar dan penampangnya tidak
menunjukan kelainan, berat dua puluh gram---------------------
20. Batang tenggorok dan cabangnya tidak tampak kelainan---------------------------------
21. Kerongkongan kosong, selaput lendirnya berwarna putih--------------------------------
22. Paru kanan terdiri dari tiga bagian, berwarna kelabu kemerahan dan perabaan seperti
karet busa. Penampang parenkim kanan mengalami degenerasi bengkak keruh
Paru kiri terdiri dari dua bagian, berwarna kelabu kemerahan dan perabaan agak
kenyal, kurang mengandung udara. Paru kiri tampak agak menguncup. Berat paru kiri
tiga ratus gram dan kanan empat ratus gram------------------------------------------

23. Jantung tampak sebesar tinju kanan mayat. Selaput luar jantung tampak licin,
terdapat bintik perdarahan--------------------------------------------------------------------
Katup jantung tidak menunjukan kelainan. Lingkaran katup serambi bilik kanan
sebelas sentimeter sedangkan yang kiri sembilan sentimeter. Lingkaran katup nadi
paru sepanjang enam setengah sentimeter dan katup batang nadi sepanjang enam
sentimeter. Tebal otot bilik jantung kanan empat milimeter dan yang kiri dua belas
milimeter----------------------------------------------------------------------------------------
Otot puting cukup tebal. Pembuluh nadi jantung tidak tersumbat dan dindingnya tidak
menebal. Sekat jantung tidak menunjukan kelainan--------------------------------

Berat jantung tiga ratus gram-----------------------------------------------------------------


24. Hati berwarna merah gelap, permukaannya rata, tepinya tajam dan perabaan kenyal
padat. Penampang hati berwarna merah gelap dan gambaran hati tampak jelas. Berat
hati adalah seribu dua ratus gram-----------------------------------------------------
25. Kandung empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendirnya berwarna
hijau seperti beludru. Saluran empedu tidak menunjukan penyumbatan---------------
26. Limpa berwarna merah gelap, permukaannya keriput dan perabaan lembek.
Penampangnya berwarna merah terang dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa
seratus sepuluh gram---------------------------------------------------------------------------
27. Kelenjar liur perut berwarna putih kekuningan, permukaan menunjukan belah-belah
dan penampangnya tidak menunjukan kelainan. Berat kelenjar liur perut delapan
puluh lima gram----------------------------------------------------------------------
28. Lambung berisi makanan yang setengah tercerna terdiri dari nasi dan sayur. Selaput
lendirnya berwarna kemerahan dan terdapat perdarahan-----------------------
Usus dua belas jari, usus halus, dan usus besar tidak menunjukan kelainan-----------

29. Anak ginjal kanan berbentuk trapesium dan yang kiri berbentuk bulan sabit---------
Gambaran kulit dan sumsum jelas, tidak menunjukan kelainan. Berat anak ginjal
kanan delapan gram dan yang kiri sembilan gram-----------------------------------------

30. Ginjal kanan dan kiri bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata
dan licin, berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal kanan sembilan puluh
gram dan yang kiri seratus gram. Penampang ginjal menunjukan gambaran yang jelas,
piala ginjal dan saluran kemih tidak menunjukan kelainan-----------------
31. Kandung kencing berisi cairan berwarna kekuningan dan selaput lendirnya berwarna
putih, tidak menunjukan kelainan------------------------------------------------
32. Kulit kepala bagian dalam bersih. Tulang tengkorak utuh. Selaput keras otak tidak
menunjukan kelainan. Tidak terdapat perdarahan di atas maupun di bawah selaput
keras otak. Permukaan otak besar menunjukan gambaran lekuk otak yang biasa,
terdapat bintik perdarahan pada daerah permukaan otak dan daerah putih otak . Otak
kecil dan batang otak tidak menunjukan perdarahan baik pada permukaan maupun
penampangnya-----------------------------------------------------------------------
33. Dilakukan pemeriksaan laboratorium uji dilusi alkali pada darah korban didapatkan
positif mengandung COHb dan dilakukan pula uji formalin ( Eachloiz-Liebmann)
pada darah korban dan didapatkan hasil positif mengandung COHb-----------------------
Kesimpulan

Pada mayat laki-laki berusia emam puluh lima tahun ini, ditemukan lebam mayat yang
berwarna merah muda terang, otot berwarna merah terang, darah berwarna merah terang dan
alat-alat dalam tubuh berwarna merah gelap. Pada otak ditemukan bintik perdarahan pada
bagian otak yang berwarna putih. Pada pemeriksaan laboratorium uji dilusi alkali pada darah
korban didapatkan positif mengandung COHb dan dilakukan pula uji formalin ( Eachloiz-
Liebmann) pada darah korban dan didapatkan hasil positif mengandung COHb -----------------
Sebab mati orang ini adalah keracunan zat karbonmonoksida yang menyebabkan jaringan
tubuh tidak mendapatkan oksigen------------------------------------------------------------------------

Demikianlah Visum et Repertum ini dibuat dengan sebenarnya berdasarkan keilmuan saya
dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.

Dokter yang memeriksa,

dr. Yoci Legi, Sp.F, SH, MH


Daftar Pustaka

1. Budiyanto.A, Widiaktama.W, Sudionoa.S, Hertian.S, Sempurna.B, et al. Ilmu Kedokteran


Forensik. Edisi Pertama cetakan kedua. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta:1997, hal 3, 5, 8, 25-35, 44-48, 203-205
2. Kejahatan terhadap Tubuh dan Jiwa Manusia. Peraturan Perundangan-Undangan Bidang
Kedokteran. Edisi pertama. Bagian Kedokteran Forensik FK Uni. Indonesia.
Jakarta:1994.pg 37-8.
3. Prosedur medikolegal. Peraturan Perundangan-Undangan Bidang Kedokteran. Edisi
pertama. Bagian Kedokteran Forensik FK Uni. Indonesia. Jakarta:1994.pg 11-20.
4. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tehnik autopsi
forensik. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2000. h. 2,4-5, 7-8, 12-20,
32-44.
5. Di Maio, Vincent J, Dominick Di Maio. Forensic pathology second edition. New York:
CRC Press; 2001.h. 89-224
6. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Mudah membuat visum et repertum kasus luka. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2013. h. 2.