Anda di halaman 1dari 8

PEMBELAJARAN MELALUI BERMAIN

BERBASIS KECERDASAN JAMAK PADA ANAK USIA DINI


Emmy Budiartati
Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, FIP Unnes
E-mail:lik@unnes.ac.id

Abstract
Play is a joyful activity and an inherent need for children so that children may
learn many skills in pleasure without any pressure. Trough play, children will be well
prepared for their environment and be ready on their next educational levels.
Children’s intelligence is not only determined by a single score based on an
intelligence test which measures the verbal, linguistic, and logical mathematical
competence. Children also have an intelligence which is called multiple intelligences.
People have more or less 8 intelligences, which are verbal linguistic, logic
mathematic, visual spatial, kinesthetic, music, interpersonal, intrapersonal, and
naturalistic. The multiple intelligences should be well understood by teachers, parents,
and other educators. They should not develop only verbal, linguistic, and logical
mathematical intelligences. Developing multiple intelligences during early childhood
can be conducted through a joyful play. Multiple intelligences apply in several steps,
such as instruction plan, development of instruction strategies, and development of
instruction evaluation.

Kata kunci: pembelajaran melalui bermain, kecerdasan jamak, anak usia dini

PENDAHULUAN lingkungan sekitarnya. Menurut Miller


Dunia anak adalah dunia bermain. (dalam Seto Mulyadi, 1997), setiap anak
Bermain pada anak merupakan sarana memiliki insting untuk bermain, yaitu
untuk belajar sebab bagi anak bermain dan kebutuhan untuk berkreativitas dalam pola
belajar merupakan suatu kesatuan dan suatu tertentu yang sangat membantu proses
proses yang terus menerus terjadi dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Proses
kehidupannya. Melalui bermain, anak dapat tersebut tidak hanya menyangkut
mengorganisasikan berbagai pengalaman pertumbuhan fisik, tetapi juga berkaitan
dan kemampuan kognitifnya dalam upaya dengan perkembangan mental, sosial, dan
menyusun kembali gagasan-gagasannya kematangan emosional. Jadi melalui
yang indah. Dengan kata lain, bermain bermain anak mengembangkan semua
merupakan tahap awal dari proses belajar kecerdasan yang telah dimiliki sejak lahir.
pada anak yang dialami semua manusia. Sebenarnya kecerdasan anak tidak
Pendidikan anak usia dini hanya ditentukan oleh skor tunggal yang
dilaksanakan melalui bermain. Melalui diungkap oleh tes inteligensi, yang hanya
bermain anak belajar tentang berbagai hal mengukur kemampuan anak dalam bidang
yang bermanfaat untuk mengembangkan verbal linguistik dan logis matematis, dan
kemampuan yang telah dimiliki sejak lahir. hasilnya berupa skor yang tidak memadai
Melalui kegiatan bermain yang untuk menentukan cerdas tidaknya anak
menyenangkan, anak-anak berusaha untuk (Gardner, 1983). Jadi, pada dasarnya anak
menyelidiki dan mendapatkan pengalaman memiliki sejumlah kecerdasan (kecerdasan
yang kaya. Baik pengalaman dengan diri jamak) berupa keterampilan dan
sendiri, orang lain, maupun dengan kemampuan yang mewakili berbagai cara

96
Emmy Budiartati, Pembelajaran Melalui Bermain 97

anak dalam belajar dan berinteraksi dengan perkembangan emosi, sosial, fisik, dan
diri dan lingkungannya. Pengembangan intelektualnya.
kecerdasan jamak pada anak usia dini Dari uraian di atas, bermain dapat
adalah melalui bermain. disimpulkan sebagai kegiatan yang
PENTINGNYA BERMAIN BAGI menyenangkan, terjadi secara spontan,
PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI tanpa paksaan, dan mendatangkan rasa
Bagi anak-anak bermain adalah gembira, serta dilakukan oleh anak usia dini
kegiatan yang bersungguh-sungguh, dengan atau tanpa alat permainan. Bermain
melalui bermain anak menjelajahi dunianya penting untuk :
dan memperoleh manfaat belajar sesuatu 1. merangsang perkembangan motorik
yang baru. Ketika seorang anak ingin anak
bermain tampak dorongan keinginan yang Anak-anak yang memperoleh
demikian besar dalam dirinya. Anak kesempatan bermain bebas untuk
melakukannya dengan sukarela, tanpa mendapatkan kesempatan yang lebih
paksaan, atau mengharapkan penghargaan. luas untuk mengembangkan gerakan
Kehausan seorang anak untuk bermain motorik secara lebih optimal. Bermain
dengan bereksplorasi menemukan sesuatu bebas memungkinkan anak memperoleh
yang baru merupakan cerminan kerja rangsangan yang kaya bagi
seorang ilmuwan. Bermain merupakan perkembangan motoriknya, suatu hal
potensi terbaik dalam diri anak untuk yang amat positif bagi perkembangan
menumbuhkembangkan minat belajar dan kejiwaan. Anak-anak yang lebih lincah
kreativitasnya, maka perlu dan tangkas akan tampil lebih percaya
ditumbuhkembangkan potensi bermainnya diri. Kalau anak memiliki konsep diri
sejak dini. yang positif, akan terdorong untuk
Bermain bagi anak adalah suatu berprestasi di masa yang akan datang.
kegiatan yang bermakna. Bermain 2. merangsang perkembangan bahasa anak
merupakan proses belajar dan cara untuk Kegiatan bermain merangsang
memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, perkembangen bahasa anak. Melalui
seperti warna, bentuk, dan bilangan. kegiatan bermain anak memperoleh
Bermain menumbuhkan hasrat kesempatan yang luas untuk berani
bereksplorasi, melatih pertumbuhan fisik berbicara. Kemampuan untuk
dan imajinasi, menawarkan peluang untuk mengkoordinasikan antara apa yang
berinteraksi dengan orang dewasa dan anak terpikir dalam otak dengan gerakan
lain, berlatih menggunakan kata-kata, dan motorik mulut memang harus dilatih
membuat belajar menjadi sesuatu yang secara terus menerus sejak usia dini.
menyenangkan. Hal ini sangat penting 3. merangsang perkembangan sosial anak
karena pada saat anak masuk sekolah, Melalui kegiatan bermain yang
belajar menjadi formal dan menghendaki menyenangkan, entah itu permainan
upaya sungguh-sungguh. fisik, simbolik, atau bermain games,
Dockett (1999), mengemukakan anak bersosialisasi dengan teman-teman
bahwa bagi anak, bermain merupakan sebaya yang ada di sekelilingnya, dan
kesempatan yang menyenangkan. Ia menikmati kebersamaan dalam suasana
melakukannya dengan sukarela. Ketika bermain. Mereka saling berkomunikasi,
bermain anak bereksplorasi, menemukan saling bertanya atau bertukar
sendiri hal yang sangat membanggakannya. pengalaman. Situasi ini sangat
Bermain merupakan kegiatan spontan, diperlukan untuk mengembangkan
tanpa beban. Ketika bermain anak kemampuan anak dalam bersosialisasi.
mengembangkan diri dalam berbagai Kemampuan untuk saling menerima
98 LEMBARAN ILMU KEPENDIDIKAN JILID 36, NO. 2, DESEMBER 2007

dan memberi, kemampuan untuk belajar. Misalnya untuk mengenalkan


mengerti perasaan orang lain, warna dan ukuran bisa digunakan
kemampuan untuk mengalah atau kegiatan bermain memancing ikan yang
sebaliknya mempertahankan diri apabila terdiri dari macam-macam warna dan
dilanggar hak-haknya, semua ini sangat ukuran.
diperlukan anak dalam kehidupannya 6. bermain dapat berfungsi sebagai terapi
kelak. Bermain dapat digunakan sebagai
4. merangsang perkembangan emosi ke media terapi atau ‘pengobatan’ terhadap
arah yang positif anak yang dikenal dengan sebutan
Melalui kegiatan bermain anak Terapi Bermain. Bermain dapat
akan memperoleh suatu perasaan digunakan sebagai media terapi karena
mampu mengalahkan musuh. Dengan selama bermain perilaku anak akan
demikian anak merasa memiliki suatu tampil lebih bebas dan bermain adalah
“kekuatan”, kekuatan yang sesuatu yang secara alamiah sudah
menimbulkan kebanggaan. Suatu hal terberi pada seorang anak. Untuk
yang sangat dibutuhkan oleh setiap melakukan terapi ini diperlukan
anak, dan keadaan ini akan pendidikan dan pelatihan khusus dari
menumbuhkan rasa percaya diri dan ahli yang bersangkutan dan tidak boleh
kompetensi. Di sisi lain, kegiatan dilakukan dengan sembarangan.
bermain juga dapat merupakan ajang
penyaluran emosi marah atau PEMBELAJARAN MELALUI
agresivitas pada anak. Setiap anak pada BERMAIN PADA ANAK USIA DINI
dasarnya memiliki berbagai nuansa Bermain merupakan suatu aktivitas
emosi seperti marah, sedih, takut, untuk mengembangkan kreativitas anak
cemas, dan sebagainya. Emosi tersebut sehingga memperoleh kepuasan secara
perlu mendapatkan penyaluran yang instrinsik, dan bermain semata-mata untuk
tepat. Melalui kegiatan bermain emosi mendapatkan kesenangan. Aktivitas
tersebut ditata dengan baik, yaitu bermain merupakan peran yang penting
ditampilkan secara wajar dengan dalam keseluruhan kehidupan anak dalam
mempertimbangkan norma-norma yang rangka mengoptimalkan perkembangan.
berlaku dalam lingkungannya. Menurut Shirley C, setidaknya ada empat
5. merangsang perkembangan kognitif hal penting dalam bermain, yaitu :
anak 1. Melalui klarifikasi terhadap konsep,
Banyak konsep dasar yang peran dan ide-ide, secara kognitif anak
dipelajari atau diperoleh anak usia dini berkembang.
melalui bermain. Anak perlu menguasai 2. Pada saat menggunakan bahan-bahan
berbagai konsep seperti warna, ukuran, yang menantang keterampilan motorik
bentuk, arah, besar dan lain-lain. halus dan kasar maka fisik anak
Pengetahuan akan konsep-konsep ini berkembang.
jauh lebih mudah diperoleh melalui 3. Melalui sharing dengan teman, melihat
kegiatan bermain. Anak usia dini cara pandang orang lain, anak
mempunyai rentang perhatian yang berkembang secara sosial.
terbatas dan masih sulit diatur atau 4. Ketika anak dapat mengontrol pikiran
masih sulit belajar dengan “serius”. dan perasaan mereka, mereka
Tetapi bila pengenalan konsep-konsep berkembang secara emosional.
tersebut dilakukan melalui bermain, Sesungguhnya banyak sekali
maka anak akan merasa senang, tanpa perbedaan-perbedaan dalam kecepatan serta
disadari ternyata anak sudah banyak keterampilan, minat dan perkembangan
Emmy Budiartati, Pembelajaran Melalui Bermain 99

anak (Bronson, 1995). Oleh karena itu, yang berbudaya dan menghargai budaya
pemberian berbagai kemungkinan bagi anak lain, sehingga mampu hidup berdampingan
untuk melakukan aktivitas bermain akan dalam masyarakat yang beraneka kultur dan
sangat menguntungkan. Seperti yang menghadapi tantangan masa depan.
dilakukan di kelompok bermain dan taman TEORI KECERDASAN JAMAK
kanak-kanak, melalui sentra-sentra (MULTIPLE INTELLIGENCE)
pengembangan sebagai upaya untuk Teori kecerdasan jamak (multiple
mengembangkan kemampuan dan minat intelligence) adalah teori kecerdasan yang
anak secara optimal. dikembangkan Howard Gardner (1983).
Kemampuan dan minat yang Teori ini merupakan reaksi ketidaksetujuan
berkembang secara cepat pada anak-anak Howard Gardner terhadap pandangan yang
dapat didukung dan didorong dengan alat- telah berkembang sejak awal abad ke-20,
alat permainan yang layak. Seperti: alat-alat bahwa kecerdasan anak hanya ditentukan
bermain air dan pasir, alat konstruksi oleh skor tunggal sebagaimana diungkap
bangunan, puzzle, membuat pola roncean, oleh tes inteligensi. Menurut Gardner, tes
menjahit. Anak-anak pada tingkatan ini inteligensi hanya mengukur kemampuan
tertarik menamai dan mengklasifikasikan anak dalam bidang verbal-linguistik dan
warna, bentuk, angka, huruf dan bentuk- logis matematis yang hasilnya disimpulkan
bentuk alami, serta bereksplorasi dengan dalam skor, karena itu skor tersebut tidak
ruang. Anak tertarik dengan dunia fisik dan memadai untuk menentukan cerdas
senang menjelajahinya. tidaknya anak. Ia mengemukakan bahwa
Perkembangan kemampuan imajinasi anak memiliki sejumlah kecerdasan yang
pada anak usia dini mendukung minat dapat mewujud dalam berbagai
dalam berbagai macam musik, seni, dan keterampilan dan kemampuan, yang bukan
kegiatan gerakan dengan menggunakan hanya berupa kemampuan verbal-linguistik
alat-alat kreatif yang sesuai. Anak dapat dan kemampuan logis matematis.
menggambarkan garis-garis tipis dan Kemampuan-kemampuan tersebut mewakili
menjiplak bentuk-bentuk sederhana. berbagai cara anak dalam belajar dan
Menurut Ki Hajar Dewantara, bermain berinteraksi dengan diri dan lingkungannya.
sangat penting dalam masa kanak-kanak. Teori kecerdasan jamak ini penting
Dalam kehidupan bangsa Indonesia dikemukakan untuk membantu para guru /
permainan kanak-kanak bersifat kesenian, pendidik dalam menyiapkan kegiatan
yang diekspresikan melalui gerak ritmik, pembelajaran yang dapat menstimulasi
nyanyian dan permainan dramatisasi berbagai jenis kecerdasan yang dimiliki
ataupun ekspresi dalam tatanan garis dan anak sehingga seluruh kemampuan dapat
warna. Permainan yang bersifat kesenian berkembang secara optimal.
mengandung faktor pendidikan estetis yang Kecerdasan adalah kemampuan
dalam kebudayaan Indonesia dianggap memecahkan masalah dan membuat suatu
perlu untuk perkembangan jiwa pribadi produk yang bermanfaat bagi kehidupan
anak pada umumnya dan perkembangan (Amstrong, 1994; MCGrath & Nicole,
rasa ethik pada khususnya yaitu untuk 1996). Kecerdasan jamak adalah teori
membangun budi pekerti. Selanjutnya Ki kecerdasan yang mengemukakan bahwa
Hajar Dewantara menyatakan bahwa individu memiliki paling tidak 8 jenis
permainan kanak-kanak sebagai usaha kecerdasan, yaitu kecerdasan verbal-
pendidikan bersemboyan dari “kodrat ke linguistik, logis matematis, visual-spasial,
arah adab”. Dengan demikian pendidikan kinestetik, musik, intrapribadi, antarpribadi,
harus menyiapkan anak usia dini untuk dan naturalis.
berkembang menjadi manusia Indonesia Kecerdasan verbal linguistik adalah
100 LEMBARAN ILMU KEPENDIDIKAN JILID 36, NO. 2, DESEMBER 2007

kemampuan untuk menggunakan kata-kata jika diberikan dorongan, pengayaan,


secara efektif baik lisan dan/atau tulisan. dan pembelajaran yang layak.
Kecerdasan logis matematis adalah 3. Setiap kecerdasan biasanya bekerja
kemampuan menggunakan angka secara bersama secara kompleks.
efektif dan penalaran dengan baik. Dalam kehidupan tidak ada
Kecerdasan visual-spasial adalah kecerdasan yang berdiri sendiri kecuali
kemampuan untuk mempersepsi pola, pada kasus tertentu yang sangat langka
ruang, warna, garis dan bentuk serta dalam berfungsinya kecerdasan
mewujudkan gagasan visual dan keruangan berinteraksi antara satu kecerdasan
secara grafis. Kecerdasan kinestetik adalah dengan kecerdasan yang lain dalam
kemampuan menggunakan badan untuk kehidupan individu.
mengekspresikan gagasan dan perasaan dan 4. Ada berbagai cara untuk menjadi cerdas
penyelesaian problem (Amstrong, 1994; dalam setiap kategori kecerdasan
Gardner, 1993; Lazear, 1991). Tidak ada satu daftar karakteristik
Kecerdasan musik adalah yang harus digunakan sebagai kriteria
kemampuan memahami dan menguasai untuk menentukan kecerdasan dalam
pola titi nada, irama, dan melodi. satu bidang tertentu. Bisa saja seorang
Kecerdasan intrapribadi adalah kemampuan anak tidak bisa membaca namun sangat
memahami diri dan bertindak sesuai dengan cerdas dari segi kemampuan kebahasaan
kemampuannya. Kecerdasan antarpribadi karena mampu menceritakan suatu
adalah kemampuan memahami perasaan, kisah menakjubkan atau karena
maksud, dan motivasi orang lain. memiliki kosakata yang sangat banyak.
Kecerdasan naturalis adalah kemampuan
memahami dan mengklasifikasikan APLIKASI KECERDASAN JAMAK
tumbuhan, bahan tambang, dan binatang Teori kecerdasan jamak memiliki
(Cristison & Kenedy, 1999; Gardner, implikasi bagi guru dalam pembelajaran.
1999). Teori tersebut mengatakan bahwa
Ada berbagai prinsip yang perlu kedelapan kecerdasan tersebut diperlukan
diperhatikan para guru dalam agar anak didik berfungsi secara produktif
mengembangkan kecerdasan jamak. dalam masyarakat. Oleh karena itu
Prinsip-prinsip tersebut (Amstrong, 1994) guru/pendidik hendaknya memandang
adalah sebagai berikut. bahwa semua kecerdasan sama pentingnya
1. Setiap anak memiliki semua jenis dalam kehidupan. Hal ini berbeda dari
kecerdasan sistem pendidikan tradisional yang
Teori kecerdasan jamak menempatkan pentingnya pengembangan
mengemukakan bahwa setiap anak dan penggunaan kecerdasan verbal-
memiliki kemampuan dari kedelapan linguistik dan logis-matematis. Dengan
jenis intelligensi. Kedelapan kecerdasan demikian, teori kecerdasan jamak
tersebut berfungsi secara bersama-sama mempunyai implikasi bahwa guru/pendidik
pada setiap individu secara unik hendaknya menyadari dan mengajarkan
2. Kebanyakan anak berkemampuan dalam perspektif kemampuan anak didik
mengembangkan berbagai jenis yang lebih luas dari kegiatan pembelajaran
kecerdasan pada tingkat kemampuan selama ini (Brualdi, 1999).
yang memadai.
Howard Gardner meyakini bahwa PERENCANAAN PEMBELAJARAN
setiap anak memiliki kemampuan untuk Perencanaan pembelajaran berbasis
mengembangkan semua jenis kecerdasan jamak adalah kegiatan
kemampuan pada tingkat yang memadai perancangan pembelajaran dengan
Emmy Budiartati, Pembelajaran Melalui Bermain 101

memperhatikan dan menggunakan yang dipilih, kemudian ditetapkan


kedelapan jenis kecerdasan yang rencana pembelajaran di sekitar topik
dikemukakan Gardner. Untuk merancang atau sasaran belajar yang telah dipilih.
pembelajaran yang memuat kecerdasan 7. Implementasi rencana pembelajaran
jamak dapat mengikuti tahap-tahap sebagai melalui bermain
berikut (Amstrong, 1994). Rencana pembelajaran dilakukan
1. Penetapan suatu sasaran belajar atau dan dimodifikasi sesuai keperluan untuk
topik yang spesifik. mengakomodasi perubahan yang terjadi
Sasaran belajar atau topik yang selama pelaksanaan pembelajaran.
menjadi pusat kegiatan belajar
hendaknya ditetapkan secara jelas dan PENGEMBANGAN STRATEGI
spesifik. PEMBELAJARAN
2. Pengajuan pertanyaan-pertanyaan pokok Teori kecerdasan jamak memberikan
berkaitan dengan kecerdasan jamak kesempatan berbagai strategi pembelajaran
Berdasarkan topik yang telah yang dapat dengan mudah
ditetapkan, guru/pendidik membuat diimplementasikan dalam kegiatan
pertanyaan-pertanyaan pengarah yang pembelajaran. Dalam banyak hal, strategi
dapat memasukkan kedelapan jenis tersebut adalah yang telah digunakan
kecerdasan untuk mengkaji topik selama ini oleh para guru / pendidik yang
tersebut. baik dalam beberapa hal lain. Teori
3. Pembuatan pertimbangan berbagai kecerdasan jamak memberikan kesempatan
kemungkinan kepada para guru mengembangkan strategi
Guru/pendidik mempelajari teknik pembelajaran yang relatif baru dalam
dan materi belajar yang paling layak kegiatan pembelajaran.
digunakan untuk mengkaji topik dari Di antara beberapa strategi
berbagai jenis kecerdasan serta pembelajaran pokok untuk setiap
mempertimbangkan kemungkinan- kecerdasan adalah sebagai berikut. Strategi
kemungkinan lainnya, apakah layak pembelajaran bagi kecerdasan verbal
bagi keefektifan kegiatan pembelajaran. linguistik antara lain bercerita, curah
4.. Curah pendapat pendapat, perekaman, penulisan jurnal, dan
Guru/pendidik melakukan penerbitan. Strategi pembelajaran untuk
identifikasi strategi pembelajaran apa kecerdasan logis matematis adalah
saja yang cocok untuk setiap kecerdasan kuantifikasi dan kalkulasi, pertanyaan
dalam rangka mempelajari topik yang Socrates heuristic dan berpikir ilmiah.
telah ditetapkan. Untuk meningkatkan Strategi pembelajaran bagi kecerdasan
hasil curah pendapat ini akan lebih baik visual spasial adalah visualisasi, isyarat,
bila bercurah pendapat dengan kolega warna, metapora, sketsa ide dan disain
sehingga dapat terstimulasi pemikiran grafis. Strategi pembelajaran untuk
kolega tersebut. kecerdasan kinestetik adalah jawaban
5. Pemilihan aktivitas yang layak dengan menggunakan isyarat tubuh, teater
Berdasarkan hasil curah pendapat kelas, konsep-konsep kinestetik, manipulasi
mengenai strategi pembelajaran objek dan peta tubuh. Strategi pembelajaran
sebelumnya, kemudian dipilih strategi untuk kecerdasan musik adalah irama dan
yang paling efektif bagi tujuan lagu, diskografis, musik supermemori,
pembelajaran. konsep-konsep musik dan musik layak
6. Penetapan rencana pembelajaran suasana (Amstrong, 1994).
melalui bermain Strategi pembelajaran untuk
Berdasarkan strategi pembelajaran kecerdasan antarpribadi adalah berbagi
102 LEMBARAN ILMU KEPENDIDIKAN JILID 36, NO. 2, DESEMBER 2007

dengan sebaya, simulasi, kelompok keterampilan dengan senang hati, tanpa


kooperatif, dan tutorial silang usia. Strategi merasa terpaksa atau dipaksa untuk
pembelajaran untuk kecerdasan intrapribadi mempelajarinya. Bermain mempunyai
adalah kagiatan satu menit refleksi, koneksi banyak manfaat dalam mengembangkan
pribadi, pilihan waktu, saat-saat ekspresi keterampilan anak. Sehingga anak lebih
emosi dan belajar mandiri. Adapun siap untuk menghadapi lingkungannya dan
beberapa Strategi pembelajaran bagi lebih siap untuk mengikuti pendidikan pada
kecerdasan naturalis adalah observasi, jenjang yang lebih tinggi.
klasifikasi, dan organisasi, komparasi, Kecerdasan anak tidak hanya
pajanflora dan fauna, dan wisata alam ditentukan oleh skor tunggal yang diungkap
(Amstrong, 1994; Hoerr, 1999). oleh tes inteligensi yang hanya mengukur
kemampuan anak dalam bidang verbal
PENGEMBANGAN PENILAIAN linguistik dan logis matematis. Akan tetapi
Pembelajaran berbasis kecerdasan anak memiliki sejumlah kecerdasan yang
jamak adalah kegiatan yang memberikan berwujud dalam berbagai keterampilan dan
kesempatan setiap anak mengembangkan kemampuan, yakni kecerdasan jamak.
semua jenis kecerdasannya berdasarkan Kecerdasan jamak adalah teori
kelemahan dan kekuatannya. Cara belajar kecerdasan yang menyatakan bahwa
anak beragam, tergantung pada kekuatan individu memiliki paling tidak 8 jenis
dan kelemahan masing-masing, karena itu kecerdasan, yaitu kecerdasan verbal
menilai kemajuan belajar dengan cara yang linguistik, logis matematis, visual spasial,
sama untuk setiap anak tidak akan kinestetik, musik, intrapribadi, antarpribadi,
mencerminkan kekuatan dan kelemahan dan naturalis. Masing-masing kecerdasan
anak secara tepat. dapat berkembang optimal secara
Diperlukan cara menilai kemajuan bersamaan jika mendapat kesempatan untuk
belajar yang cocok dengan cara belajar di kembangkan. Teori kecerdasan jamak
setiap anak, karena itu teknik penilaian perlu dipahami oleh guru, orang tua dan
otentik adalah teknik yang tepat untuk para pendidik lainnya agar dapat membantu
mengetahui kemajuan belajar dalam mengembangkan macam-macam
konteks ini. Teknik ini lebih menekankan kecerdasan yang dimiliki anak. Jadi tidak
pada penilaian yang disesuaikan dengan hanya mengembangkan kecerdasan verbal
kondisi anak. Dalam hal ini teknik tersebut linguistik dan logis matematis saja.
memberikan kesempatan kepada anak untuk Kecerdasan jamak dapat
menunjukkan performansi belajar sesuai diaplikasikan dengan berbagai cara dan
cara mereka sendiri dengan menggunakan berbagai aspek dalam kegiatan
kecerdasan yang berbeda-beda. Beberapa pembelajaran. Beberapa aplikasi kecerdasan
teknik penilaian otentik tersebut antara lain jamak antara lain berkaitan dengan
portofolio, proyek mandiri, jurnal anak, perencanaan pembelajaran, pengembangan
penyelesaian tugas kreatif, catatan anekdot, strategi pembelajaran, dan pengembangan
observasi, dan wawancara (Gardner, 1999: penilaian dalam kegiatan pembelajaran.
Amstrong, 1994).
DAFTAR PUSTAKA
SIMPULAN Albrecht Kay., Linda G. Miller. 2000.The
Bermain adalah suatu kegiatan yang Comprehensive Toddler Curriculum:
menyenangkan bagi anak dan bermain Early Childhood Education. A
adalah suatu kebutuhan yang sudah ada Gryphon House Book.
(inheren) dalam diri anak. Dengan Amstrong, Thomas, 2002.7 Kinds of Smart:
demikian, anak dapat mempelajari berbagai Terjemahan T. Hermaya – Jakarta.
Emmy Budiartati, Pembelajaran Melalui Bermain 103

Anderson C. Karen. 1995.Puzzles & More Kartadinata, Sunaryo. 2003.


Puzzles. A Big Book of Puzzle Games Konseptualisasi Pendidikan Anak
and Brainteasers. New York: Disney Dini Usia (Makalah Semlok PADU).
Press Bandung : Ditjen. Diklusepa dan UPI.
Aswin Hadis, Fawzia. 2003. Kajian Mulyadi, Seto. 1997. Bermain itu Penting.
Tentang Pendidikan Anak Usia Dini Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Ditinjau dari Segi Psikososiokultural Nurlaila N.Q. dan Yul Iskandar. 2004.
(Makalah Semlok PADU). Bandung: Pendidikan Anak Dini Usia (PADU)
Ditjen Diklusepa dan UPI. untuk mengembangkan Multipel
Borden, Marian Edelman. 2001. Smart Inteligensi. Jakarta: Dharma Graha
Start: Terjemahan Ary Nilandan. Group.
Bandung: Kaifa Rukky Santoso. 2002. Right Brain. Jakarta:
Bronson, Martha B. 1995. The Right Stuff Gramedia.
for Children Birth to 8 (Selective Play Semiawan, Conny R. 2004. Perkembangan
Materials to Support Development). Anak Usia Dini. Makalah Semlok.
USA: National Associative for the Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.
Education of Young Children. Jakarta: Ditjen Diklusepa Depdiknas
Bunanta, Murti. 2005. Dimanakah Aku. dan UNJ.
Penerbit Yayasan Murti Bunanta. Sudono, Anggani. 2004. Peranan Alat
Dewantara Ki Hajar. 1977. Pendidikan. Edukatif bagi Anak Usia Dini .
Cetakan Kedua. Yogyakarta: Majelis Makalah: Semlok Nasional
Luhur Persatuan Taman Siswa,. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta:
Docket, Sue and Fleer Marilyn. 1999.Play Ditjen Diklusepa Depdiknas dan
and Pedagogy in Early Childhood: UNJ.
Bending The Rules. Australia: Tangyong F. Agus, Fawzia Aswin Hadis, F.
Harcourt. 1997. Pengembangan Anak Usia
Gardner,Howard.1983. Frames of Mind. Taman Kanak-Kanak. Edisi Revisi.
The Theory of Multiple Inteligences. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana
New York: Basic Books Indonesia..