Anda di halaman 1dari 1

2.

1 Gejala Klinis
Manifestasi awal yang ditemukan pada tetanus neonatorum dapat dilihat ketika bayi malas
minum dan menangis yang terus menerus. Bayi kemudian akan kesulitan hingga tidak sanggup
menghisap dan akhirnya mengalami gangguan menyusu. Hal tersebut menjadi tanda khas onset
penyakit ini. Kekakuan rahang (trismus) mulai terjadi, dan mengakibatkan tangisan bayi
berkurang dan akhirnya berhenti. Mulai terjadi kekakuan pada wajah (bibir tertarik kearah lateral,
dan alis tertarik ke atas) yang disebut risus sardonicus. Kaku kuduk,disfagia dan kekakuan pada
seluruh tubuh akan menyusul dalam beberapa jam berikutnya7.8.
Awalnya kekakuan tubuh yang terjadi bersifat periodik, dan dipicu oleh rangsangan-
rangsangan sensoris (suara atau sentuhan).Kemudian kejang akan terjadi secara spontan dan
akhirnya terus menerus. Spasme dan kejang berulang atau terus menerus yang terjadi akan
mempengaruhi sistem saraf simpatik sehingga terjadi vasokonstriksi pada saluran napasdan akan
terjadi apneu dan bayi menjadi sianosis. Hal ini merupakan penyebab kematian terbesar pada kasus
tetanus neonatorum7.8.
Pada saat spasme dan kejang berlangsung, kedua lengan biasanya akan fleksi padasiku dan
tertarik ke arah badan, sedangkan kedua tungkai dorsofleksi dan kaki akan mengalami hiperfleksi.
Spasme pada otot punggung menyebabkan punggung tertarik menyerupai busur panah
(opisthotonos)2.4.
Jarak antara gejala pertama muncul sampai munculnya gejala berikutnya pada kasus tetanus
neonatorum disebut periode onset. Periode onset ini berperan penting dalam menentukan
prognosis penyakit ini. Semakin pendek periode onset ini, semakin buruk prognosisnya. Periode
onset pada neonatus lebih pendek dibandingkan dengan pada anak atau dewasa (lebih ke arah
beberapa jam daripada beberapa hari seperti pada dewasa), hal ini mungkin disebabkan jarak akson
yang lebih pendek sehingga infeksi lebih cepat mencapai CNS6.