Anda di halaman 1dari 26

Nama : Mutammima Rizqiyani

NPM : 1102014173
I. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN KELUARGA

I.1 Definisi Keluarga


1. Duvall dan Logan (1986) : Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan
perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, memper-
tahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional,
serta sosial dari tiap anggota keluarga.
2. Bailon dan Maglaya (1978) : Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup
dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau
adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran mas-
ing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya.
3. Departemen Kesehatan RI (1988) : Keluarga merupakan unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul
dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergan-
tungan.

I.2 Fungsi keluarga

Menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) bahwa fungsi


keluarga dibagi menjadi 8. Fungsi keluarga yang dikemukakan oleh BKKBN ini senada dengan
fungsi keluarga menurut Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1994, yaitu :

1. Fungsi Keagamaan dengan memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga
yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan
bahwa ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah
di dunia ini.

2. Fungsi Sosial Budaya dilakukan dengan membina sosialisasi pada anak, membentuk
norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak, meneruskan
nilai-nilai budaya keluarga,

3. Fungsi Cinta Kasih diberikan dalam bentuk memberikan kasih sayang dan rasa aman,
serta memberikan perhatian diantara anggota keluarga.

4. Fungsi Melindungi bertujuan untuk melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak
baik, sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.

5. Fungsi Reproduksi merupakan fungsi yang bertujuan untuk meneruskan keturunan, me-
melihara dan membesarkan anak, memelihara dan merawat anggota keluarga.

6. Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan merupakan fungsi dalam keluarga yang dilakukan
dengan cara mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya, menyekolahkan
anak. Sosialisasi dalam keluarga juga dilakukan untuk mempersiapkan anak menjadi
anggota masyarakat yang baik.
7. Fungsi ekonomi adalah serangkaian dari fungsi lain yang tidak dapat dipisahkan dari
sebuah keluarga. Fungsi ini dilakukan dengan cara mencari sumber-sumber penghasi-
lan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pengaturan penggunaan penghasilan keluarga
untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan menabung untuk memenuhi kebutuhan
keluarga di masa datang.

8. Fungsi Pembinaan Lingkungan memberikan kepada setiap keluarga kemampuan


menempatkan diri secara serasi, selaras, seimbang sesuai dengan daya dukung alam dan
lingkungan yang berubah secara dinamis.

Menurut Undang-Undang 1992 membagi Fungsi Keluarga sebagai berikut

Fungsi keagamaan :

1. membina norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh anggota
keluarga,
2. menerjemahkan ajaran dan norma agama kedalam tingkah laku hidup sehari-hari bagi
seluruh anggota keluarga,
3. memberi contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari dalam pengalaman ajaran agama,
4. melengkapi dan menambah proses belajar anak tentang keagamaan yang tidak/kurang
diperoleh disekolah atau masyarakat,
5. membina rasa, sikap ,dan praktik kehidupan beragama.

Fungsi Budaya :

1. membina tugas keluarga sebagai sarana untuk meneruskan norma budaya masyarakat
dan bangsa yang ingin dipertahankan,
2. membina tugas keluarga untuk menyaring norma dan budaya asing yang tidak sesuai,
3. membina tugas keluarga sebagai saran anggota nya untuk mencari pemecahan masalah
dari berbagai pengaruh negatif globalisasi dunia,
4. membina tugas keluarga sebagai sarana bagi anggotanya untuk mengadakan kom-
promi/adaptasi dan praktik (positif) serta globalisasi dunia ,
5. membina budaya keluarga yang sesuai ,selaras , dan seimbang dengan budaya masyara-
kat /bangsa untuk menunjang terwujudnnya norma keluarga kecil bahagia dan se-
jahtera.

Fungsi Cinta kasih :

1. menumbuhkembangkan potensi simbol cinta kasih sayang yang telah ada diantara ang-
gota keluarga dalam simbol yang nyata, seperti ucapan dan tingkah laku secara optimal
dan terus menerus ,
2. membina tingkah laku ,saling menyayangi diantara anggota keluarga maupun antara
keluarga yang satu dengan yang lainnya secara kuantitatif dan kualitatif.
3. membina praktik kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan uhkrawi dalam keluarga
secara serasi, selaras , dan seimbang,
4. membina rasa ,sikap, dan praktik hidup keluarga yang mampu memberikan dan
menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju keluarga kecil bahagia dan
sejahtera.
Fungsi perlindungan :

1. memenuhi kebutuhan akan rasa aman diantara anggota keluarga.Bebas dari rasa tidak
aman yang tumbuh dari dalam maupun dari luar keluarga,
2. membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman
dan tantangan yang datang dari luar maupun dalam,
3. membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal menuju
keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

Fungsi reproduksi :

1. membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi sehat baik bagi
anggota keluarga maupun keluarga sekitarnya.
2. memberikan contoh pengalaman kaidah-kaidah pembetukan keluarga dalam hal usia,
kedewasaan fisik dan mental,
3. mengamalkan kaidah-kaidah reproduksi sehat baik yang berkaitan dengan jangka
waktu melahirkan, jarak antara kelahiran dua anak , dan jumlah ideal anak yang di-
inginkan dalam keluarga,
4. mengembang kan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang kondusif menuju
keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

Fungsi sosialisasi :

1. menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga sebagai wahana pen-


didikan dan sosialisasi anak yang pertama dan utama,
2. menyadari ,merencanakan , dan menciptakan kehidupan keluarga sebagai pusat tempat
anak dapat mencari pemecahan masalah dari berbagai konflik dan permasalahan yang
dijumpainya baik lingkungan masyarakat maupun sekolahnya. Membina proses pen-
didikan dan sosialisasi anak tentang hal yang perlu dilakukannya untuk meningkatkan
kemantangan dan kedewasaan baik fisik maupun mental, yang tidak/kurang diberikan
lingkungan sekolah maupun masyarakat.
3. membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga sehingga tidak
saja bermamfaat positif bagi anak, tetapi juga orang tua untuk perkembangan dan ke-
matangan hidup bersama menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

Fungsi Ekonomi :

1. melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun didalam kehidupan keluarga dalam
rangka menopang perkembangan hidup keluarga, mengelola ekonomi keluarga se-
hingga terjadi keserasian , keselamatan dan keseimbangan antara pemasukan dan
pengeluaran keluarga, mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua diluar rumah dan
perhatiaanya terhadap anggota rumah tangga bejalan serasi , selaras ,dan seimbang ,
membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai modal untuk mewujudkan
keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
Fungsi pelestarian lingkungan :

1. membina kesadaran dan praktik kelestarian lingkungan internal keluarga , membina


kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkunga hidup yang serasi , selaras, dan
seimbang antara lingkungan keluarga dan lingkungan hidup sekitarnya.

I.3 Peran Anggota Keluarga

Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal yang berhubungan


dengan posisi dan situasi tertentu. Berbagai peran ayng terdapat dalam keluarga adalah sebagai
berikut:
a) Peran ayah sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman,
kepala rumah tangga, anggota dari kelompok sosialnya dan anggota masyarakat.
b) Peran ibu sebagai isteri, ibu dari anaknya, mengurus rumah tangga, pengasuh, pen-
didik dan pelindung bagi anak-anaknya, anggota kelompok social dan anggota
masyarakat serta berperan sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarga.
c) Peran anak-anak sebagai pelaksana peran psikososial sesuai dengan tingkat
perkembangan baik fisik, mental dan spiritual.
Friedman (2002) membagi lima peran kesehatan dalam keluarga yaitu :
a) Mengenal gangguan perkembangan kesehatan tiap anggota
b) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat
c) Memberikan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit, dan yang tidak
dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda
d) Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkem-
bangan kepribadian anggota keluarga
e) Mempertahankan hubungan kepribadian anggota keluarga dan lembaga-lembaga
kesehatan, yang menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas
kesehatan yang ada
I.4 Struktur Keluarga

Dominasi jalur hubungan darah

a) Patrilineal Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ayah.
Suku-suku di Indonesia rata-rata menggunakan struktur keluarga patrilineal.

b) Matrilineal Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ibu.
Suku padang salah satu suku yang yang mengunakan struktur keluarga matri-
lineal.

Dominasi keberadaan tempat tinggal

a) Patrilokal Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan


keluarga sedarah dari pihak suami.
b) Matrilokal Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan
keluarga sedarah dari pihak istri.

Dominasi pengambilan keputusan


a) Patriakal Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak suami.

b) Matriakal Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak istri. (Setiawati &
Dermawan, 2008)

Ciri-ciri struktur keluarga


a) Terorganisasi Keluarga adalah cerminan organisasi, dimana masing-masing
anggota keluarga memiliki peran dan pungsi masing-masing sehingga tujuan
keluarga dapat tercapai. Organisasi yang baik ditandai dengan adanya hubungan
yang kuat antara anggota sebagai bentuk saling ketergantungan dalam mencapai
tujuan.

b) Keterbatasan Dalam mencapai tujuan, setiap anggota keluarga memiliki peran


dan tanggung jawabnya masing-masing sehingga dalam berinteraksi setiap ang-
gota tidak semena-mena, tetapi mempunyai keterbatasan yang dilandasi oleh
tanggung jawab masing-masing anggota keluarga.

c) Perbedaan Adanya peran yang beragam dalam keluarga menunjukan masing-


masing anggota keluarga mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dan khas
seperti halnya peran ayah sebagai pencari nafkah utama, peran ibu yang me-
rawat anak-anak.

I. 5 Hak dan Kewajiban Keluarga


Hak dan Kewajiban anatara orang tua dan anak serta hak kewajiban antara orang tua
menurut undang RI no 1 tahun 1974 tentang perkawinan
Pasal 45
1) Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-
baiknya.
2) Kewajiban orang tua yang di maksud ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak
ini kawin atau dapat berdiri sendiri. Kewajiban mana berlaku terus meskipun
perkawinan antara kedua orang tua putus.

Pasal 46
1) Anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendak mereka yang baik.
2) Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya,orang
tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas,bila mereka itu memerlukan bantu-
annya.
Pasal 47
1) Anak yang belum mencapai umur 18(delapan belas) tahun atau belum pernah
melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama
mereka tidak di cabut dari kekuasaannya.
2) Orang tua mewakili anak tersebut mengenai perbuatan hukum di dalam dan
di luar pengadilan.
Pasal 48
1) Orang tua tidak di perbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan ba-
rang-barang tetap yang di miliki anaknya yang belum berumur 18(delapan
belas) tahun atau belum melangsungkan perkawinan kecuali apabila kepent-
ingan anak itu menghendakinya.
Pasal 49
2) Salah seorang atau kedua orang tua dapat di cabut kekuasaannya terhadap
seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang
tua yang lain keluarga anak dalam garis lurus keatas dan saudara kandung
yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang dengan keputusan Penga-
dilan dalam hal-hal:
a. Ia sangat melalaikan kewajiban nya terhadap anaknya;
b. Ia berkelakuan buruk sekali.
3) Meskipun orang tua di cabut kekusaannya, mereka masih berkewajiban un-
tuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.

I.6 Bentuk Keluarga


1. TRADISIONAL :
a. The nuclear family (keluarga inti)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
b. The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu
rumah
c. Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah memisahkan diri
d. The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat
waktunya, yang disebabkan karena mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita
e. The extended family (keluarga luas/besar)
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti
nuclear family disertai : paman, tante, orang tua (kakak-nenek), keponakan, dll)
f. The single-parent family (keluarga duda/janda)
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini terjadi bi-
asanya melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum per-
nikahan)
g. Commuter family
Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai
tempat tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota
keluarga pada saat akhir pekan (week-end)
h. Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam
satu rumah
i. Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling
menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi,
televisi, telpon, dll)
j. Blended family
Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali dan membesarkan
anak dari perkawinan sebelumnya
k. The single adult living alone / single-adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau
perpisahan (separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati

2. NON-TRADISIONAL :
a. The unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa
nikah
b. The stepparent family
Keluarga dengan orangtua tiri
c. Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara, yang
hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang
sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok / membesarkan anak bersama
d. The nonmarital heterosexual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan
e. Gay and lesbian families
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana pasangan suami-
istri (marital partners)
f. Cohabitating couple
Orang dewasa yang hidup bersama di luar ikatan perkawinan karena beberapa alasan ter-
tentu
g. Group-marriage family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang merasa
telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan
membesarkan anaknya
h. Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain
dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan dan ber-
tanggung jawab membesarkan anaknya

i. Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara dalam waktu semen-
tara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan
kembali keluarga yang aslinya
j. Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena
krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan
mental
k. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang mencari ikatan
emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi berkembang dalam kekerasan
dan kriminal dalam kehidupannya.
I.7 Siklus keluarga
Menurut Duval (Niacholas 1984) ada 8 tingkat/siklus perkembangan keluarga
A. Tahap I, Keluarga pemula (pasangan pada tahap pernikahan)
B. Tahap II,Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua bayi-30 bln).
C. Tahap III, Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berusia 2-6 tahun).
D. Tahap IV, Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua berumur 6-13 tahun)
E. Tahap V, Keluarga dengan anak remaja (anak tertua berumur 13-20 tahun).
F. Tahap VI, Keluarga melepas anak usia dewasa muda (anak yang meninggalkan ru-
mah).
G. Tahap VII, Orangtua usia pertengahan (pensiunan).
H. Tahap VIII, Keluarga dalam masa pensiun dan lansia.

Siklus Hidup Keluarga (Family Life Cycle) adalah istilah yang digunakan untuk meng-
gambarkan perubahan-perubahan dalam jumlah anggota, komposisi dan fungsi keluarga sepan-
jang hidupnya. Siklus hidup keluarga juga merupakan gambaran rangkaian tahapan yang akan
terjadi atau diprediksi yang dialami kebanyakan keluarga.
Siklus hidup keluarga terdiri dari variabel yang dibuat secara sistematis meng-
gabungkan variable demografik yaitu status pernikahan, ukuran keluarga, umur anggota
keluarga, dan status pekerjaan kepala keluarga.

Menurut Duvall (1977) terdapat 8 tahapan perkembangan keluarga (Eight-Stage Family Life
Cycle) dan setiap tahap perkembangan keluarga mempunyai tugas tersendiri:

1. “Married couples (without children)” (Pasangan nikah dan belum memiliki anak).
a. Membina hubungan intim dan memuaskan.
b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial.
c. Mendiskusikan rencana memiliki anak.Keluarga baru ini merupakan anggota
dari tiga keluarga, yakni: keluarga suami, keluarga istri, dan keluarga sendiri.
2. “Childbearing Family (oldest child birth-30 month)” (Keluarga dengan seorang anak
pertama yang baru lahir).
a. Persiapan menjadi orang tua.
b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan
seksual, dan kegiatan.
c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
3. “Families with preschool children (oldest child 2,5-6 years)” (Keluarga dengan anak
pertama yang berusia prasekolah).
a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, pri-
vasi dan rasa aman.
b. Membantu anak untuk bersosialisasi
c. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak lain juga
harus terpenuhi.
d. Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam keluarga maupun
dengan masyarakat.
e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan, dan anak.
f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang.
4. “Families with School Children (Oldest child 6-13 years )” (Keluarga dengan anak
yang telah masuk sekolah dasar).
a. Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkungan.
b. Mempertahankan keintiman pasangan.
c. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, terma-
suk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga. Pada tahap
ini anak perlu berpisah dengan orang tua, memberi kesempatan pada anak un-
tuk bersosialisasi dalam aktivitas baikdi sekolah maupun di luar sekolah.
5. “Families with teenagers (oldest child 13- 20 years)” (Keluarga dengan anak yang
telah remaja).
a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab.
b. Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.
c. Mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua. Hin-
dari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.
d. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.
Tahap ini merupakan tahap paling sulit karena orangtua melepas otoritasnya
dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik
orang tua dan anaknya yang berusia remaja.
6. “Families launching young adults (first child gone to last child’s leaving home)”
(Keluarga dengan anak yang telah dewasa dan telah menikah).
a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
b. Mempertahankan keintiman pasangan.
c. Membantu orang tua memasuki masa tua.
d. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
e. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
7. “Middle Aged Parents (empty nest to retirement)” (Keluarga dengan orang tua yang
telah pensiun).
a. Mempertahankan kesehatan.
b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan
anak-anak.
c. Meningkatkan keakraban pasangan. Fokus utama dalam usia keluarga ini an-
tara lain: mempertahankan kesehatan pada pola hidup sehat, diet seimbang,
olah raga rutin, menikmati hidup, pekerjaan dan sebagainya.
8. “Aging family members (retirement to death of bothspouse)” (Keluarga dengan orang
tua yang telah lanjut usia).
a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
b. Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan
pendapatan.
c. Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat.
d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
e. Melakukan life review.
f. Mempertahankan penataan yang memuaskan merupakan tugas utama
keluarga pada tahap ini.
I.8 Struktur Keluarga
Elemen struktur keluarga menurut Friedman
1) Struktur peran keluarga Menggambarkan peran masing-masing anggota keluarga baik
didalam keluarganya sendiri maupun peran dilingkungan masyarakat.

2) Nilai atau norma keluarga Menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan di-
yakini dalam keluarga.

3) Pola komunikasi keluarga Menggambarkan bagaimana cara pola komunikasi diantara


orang tua, orang tua dan anak, diantara anggota keluarga ataupun dalam keluarga.

4) Struktur kekuatan keluarga Menggamgarkan kemampuan anggota keluarga untuk men-


gendalikan atau mempengaruhi orang lain dalam perubahan perilaku ke arah positif.

Ciri-ciri struktur keluarga

1) Terorganisasi Keluarga adalah cerminan organisasi, dimana masing-masing anggota


keluarga memiliki peran dan pungsi masing-masing sehingga tujuan keluarga dapat
tercapai. Organisasi yang baik ditandai dengan adanya hubungan yang kuat antara ang-
gota sebagai bentuk saling ketergantungan dalam mencapai tujuan.

2) Keterbatasan Dalam mencapai tujuan, setiap anggota keluarga memiliki peran dan
tanggung jawabnya masing-masing sehingga dalam berinteraksi setiap anggota tidak
semena-mena, tetapi mempunyai keterbatasan yang dilandasi oleh tanggung jawab
masing-masing anggota keluarga.
3) Perbedaan Adanya peran yang beragam dalam keluarga menunjukan masing-masing
anggota keluarga mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dan khas seperti halnya
peran ayah sebagai pencari nafkah utama, peran ibu yang merawat anak-anak.

Dominasi struktur keluarga

Dominasi jalur hubungan darah


1) Patrilineal Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ayah. Suku-
suku di Indonesia rata-rata menggunakan struktur keluarga patrilineal.

2) Matrilineal Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ibu. Suku pa-
dang salah satu suku yang yang mengunakan struktur keluarga matrilineal.

Dominasi keberadaan tempat tinggal


1) Patrilokal Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga
sedarah dari pihak suami.

2) Matrilokal Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga
sedarah dari pihak istri.

Dominasi pengambilan keputusan


1) Patriakal Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak suami.

2) Matriakal Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak istri. (Setiawati & Derma-
wan, 2008)

I.9 Bentuk Keluarga


Menurut Sudiharto (2007), beberapa bentuk keluarga adalah sebagai berikut:
1) Keluarga Inti (nuclear family) keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang
direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan anak- anak baik karena kelahiran (natu-
ral) maupun adopsi.
2) Keluarga asal (family of origin) suatu unit keluarga tempat asal seseorang dilahirkan.
3) Keluarga Besar (extended family) keluarga inti ditambah keluarga yang lain (karena
hubungan darah), misalnya kakek, nenek, bibi, paman, sepupu termasuk keluarga mod-
ern, seperti orang tua tunggal, keluarga tanpa anak, serta keluarga pasangan sejenis
(guy/lesbian families).
4) Keluarga Berantai keluarga yang terbentuk karena perceraiandan/atau kematian pasan-
gan yang dicintai dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan
suatu keluarga inti.
5) Keluarga duda atau janda (single family) keluarga yang terjadi karena perceraian
dan/atau kematian pasangan yang dicintai.
6) Keluarga komposit ( composite family) keluarga dari perkawinan poligami dan hidup
bersama.
7) Keluarga kohabitasis ( Cohabitation ) dua orang menjadi satu keluarga tanpa per-
nikahan, bisa memiliki anak atau tidak. Di Indonesia bentuk keluarga ini tidak lazim
dan bertebtangan budaya timur. Namun, lambat laun, keluarga kohabitasi ini mulai
dapat diterima.
8) Keluarga inses (incest family) seiring dengan masuknya nilai-nilai global dan pengaruh
informasi yang sangat dahsyat, dijumpai bentuk keluarga yang tidak lazim, misalnya
anak perempuan menikah dengan ayah kandungnya, ibu menikah dengan anak kandung
laki-laki, paman menikah dengan keponakannya, kakak menikah dengan adik dari satu
ayah dan satu ibu, dan ayah menikah dengan anak perempuan tirinya. Walaupun tidak
lazim dan melanggar nilai-nilai budaya, jumlah keluarga inses semakin hari semakin
besar. Halini dapat kita cermati melalui pemberitaan dari berbagai media cetak dan el-
ektronik.
9) Keluarga tradisional dan nontradisional dibedakan berdasarkan ikatan perkawinan.
Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan, sedangkan keluarga nontradisional tidak
diikat oleh perkawinan. Contoh keluarga tradisional adalah ayah-ibu dan anak hasil dari
perkawinan atau adopsi. Contoh keluarga nontradisional adalah sekelompok orang ting-
gal di sebuah asrama

I.10 Genogram
Genogram adalah suatu alat bantu berupa peta skema (visual map) dari silsilah keluarga
pasien yang berguna bagi pemberi layanan kesehatan untuk segera mendapatkan infor-
masi tentang nama anggota keluarga pasien, kualitas hubungan antar anggota keluarga.
Genogram adalah biopsikososial pohon keluarga, yang mencatat tentang siklus ke-
hidupan keluarga, riwayat sakit di dalam keluarga serta hubungan antar anggota keluarga.
Di dalam genogram berisi: Nama, umur, status menikah, riwayat perkawinan, anak-
anak, keluarga satu rumah, penyakit-penyakit spesifik, tahun meninggal, dan pekerjaan.
Juga terdapat informasi tentang hubungan emosional, jarak atau konflik antar anggota
keluarga, hubungan penting dengan profesional yang lain serta informasi-informasi lain
yang relevan. Dengan genogram dapat digunakan juga untuk menyaring kemungkinan
adanya kekerasan (abuse) di dalam keluarga.
Genogram idealnya diisi sejak kunjungan pertama anggota keluarga, dan selalu
dilengkapi (update) setiap ada informasi baru tentang anggota keluarga pada kunjungan-
kunjungan selanjutnya. Dalam teori sistem keluarga dinyatakan bahwa keluarga sebagai
sistem yang saling berinteraksi dalam suatu unit emosional. Setiap kejadian emosional
keluarga dapat mempengaruhi atau melibatkan sediktnya 3 generasi keluarga. Sehingga
idealnya, genogram dibuat minimal untuk 3 generasi.
Dengan demikian, genogram dapat membantu dokter untuk:
- Mendapat informasi dengan cepat tentang data yang terintegrasi antara
kesehatan fisik dan mental di dalam keluarga
- Pola multigenerasi dari penyakit dan disfungsi
I.11 Dinamika keluarga
1) Adanya interaksi (hubungan) antara individu dengan lingkungan sehingga tersebut
dapat diterima dan menyesuaikan diri baik dalam lingkungan keluarga maupun
kelompok sosial yang sama.

2) Dinamika keluarga adalah interaksi atau hubungan pasien dengan anggota keluarganya
dan juga bisa mengetahui bagaimana kondisi keluarga di lingkungan sekitarnya.
Keluarga diharapkan mampu memberikan dukungan dalam upaya kesembuhan pasien.

Ada empat aspek yang selalu muncul dalam dinamika keluarga

A. Pertama, tiap anggota keluarga memiliki perasaan dan idea tentang diri sendiri
yang biasa dikenal dengan harga diri atau self-esteem.
B. Kedua, tiap keluarga memiliki cara tertentu untuk menyampaikan pendapat dan
pikiran mereka yang dikenal dengan komunikasi.
C. Ketiga, tiap keluarga memiliki aturan permainan yang mengatur bagaimana
mereka seharusnya merasa dan bertindak yang berkembang sebagai sistem nilai
keluarga.
D. Yang terakhir, tiap keluarga memiliki cara dalam berhubungan dengan orang luar
dan institusi di luar keluarga yang dikenal sebagai jalur ke masyarakat.

II. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN 5 ASPEK DIAGNOSIS HOLISTIK

1. Aspek Personal: alasan kedatangan, harapan, kekhawatiran dan persepsi pasien


2. Aspek Klinis: Masalah medis, diagnosis kerja berdasarkan gejala dan tanda
3. Aspek risiko internal : seperti pengaruh genetik, gaya hidup, kepribadian, usia, gender
4. Aspek risiko eksternal dan psikososial: berasal dari lingkungan (keluarga, tempat kerja,
tetangga, budaya)
5. Derajat Fungsional: Kualitas Hidup Pasien . Penilaian dengan skor 1 – 5, berdasarkan
disabiltas dari pasien

Aspek Personal
1) Keluhan utama (reason of encounter) /simptom/ sindrom klinis yang ditampil-
kan
2) Apa yang diharapkan pasien atau keluarganya
3) Apa yang dikhawatirkan pasien atau keluarganya

Aspek Klinis
1) Diagnosis klinis biologis, psikologis, intelektual, nutrisi, sertakan derajat
keparahan

2) Bila diagnosis klinis belum dapat ditegakkan cukup dengan diagnosis kerja/
diagnosis banding

3) Diagnosis berdasarkan ICD 10, dan ICPC-2

Aspek Risiko Internal


1) Perilaku individu dan gaya hidup (life style) pasien, kebiasaan yang menun-
jang terjadinya penyakit, atau beratnya penyakit

2) kebiasaan merokok

3) kebiasaan jajan, kebiasaan makan

4) kebiasaan individu mengisi waktu dengan perihal yang negatif

5) (dietary habits;tinggi lemak, tinggi kalori)

Aspek risiko eksternal dan psikososial


Pemicu biopsikososial keluarga dan lingkungan dalam kehidupan pasien hingga men-
galami penyakit seperti yang ditemukan
1. Dukungan keluarga (family support)
2. Tidak ada bantuan/perhatian/ perawatan/ suami & istri, anak, menantu, cucu atau
pelaku rawat lainnya
3. Perilaku makan keluarga (tak masak sendiri), menu keluarga yang tak sesuai
kebutuhan
4. Perilaku tidak menabung / perilaku konsumtif
5. Tidak adanya perencanaan keluarga (tak ada pendidikan anak , tak ada pengara-
han pengembangan karier, tak ada pembatasan jumlah anak )
6. Masalah perilaku keluarga yang tidak sehat
7. Masalah ekonomi yang mempunyai pengaruh terhadap penyakit/masalah
kesehatan yang ada
8. Akses pada pelayanan kesehatan yang mempengaruhi penyakit (jarak/trans-
portasi/asuransi)
9. Pemicu dari lingkungan fisik (debu, asap rokok)
10. Masalah bangunan dan kepadatan pemukiman yang mempengaruhi penya-
kit/masalah kesehatan yang ada

Derajat Fungsional
1) Kemampuan individu untuk melakukan aktivitas sehari-hari baik secara fisik maupun
emosional di dalam dan di luar ruangan.
2) Ada 5 tingkatan, mulai dari dapat melakukanaktivitas sampai sangat sulit melakuka-
naktivitas sehari-hari (FKUI). Skala 1-5

Aktivitas menjalankan fungsi so- score Keterangan


sial dalam kehidupan

Mampu melakukan pekerjaan seperti 1 Mandiri dalam perawatan diri,


sebelum sakit bekerja di dalam dan luar rumah

Mampu melakukan pekerjaan rin- 2 Mulai mengurangi aktivitas kerja


gan sehari-hari di dalam dan luar kantor
rumah

Mampu melakukan perawatan diri, 3 Mandiri dalam perawatan diri,


tapi tidak mampu melakukan peker- tidak mampu bekerja ringan
jaan ringan

Dalam keadaan tertentu masih 4 Tidak melakukan aktivitas kerja,


mampu merawat diri, tapi sebagian tergantung pada keluarga
besar aktivitas hanya duduk dan ber-
baring

Perawatan diri oleh orang lain, 5 Tergantung pada pelaku rawat


hanya berbaring pasif

III. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PENERAPAN DIAGNOSTIK HOLISTIK


DALAM KASUS INI.
Aspek personal
1) Keluhan utama: batuk berulang, keluhan timbul terutama saat malam hari dan musim
hujan atau cuaca dingin
2) Yang diharapkan pasien atau keluarga: kesembuhan pasien
3) Yang dikhawatirkan pasien atau keluarga: penyakit dapat mengganggu pekerjaan
pasien sebagai guru honorer
Aspek klinis
1) Diagnosis klinis: asma bronkial
Aspek risiko internal
2) Jenis kelamin: laki-laki
3) Umur: 50 tahun
4) Penyakit keturunan: ibu pasien memiliki asma
5) Kebiasaan yang menunjang dan memperberat terjadinya penyakit: merokok 1
bungkus sehari, menggunakan motor untuk menuju tempat kerja yang berjarak jauh.
Aspek ekstenal
1) Masalah bangunan dan kepadatan pemukiman yang mempengaruhi penyakit: Pasien
tinggal di kawasan padat penduduk dengan ukuran 6x10 meter yang dihuni oleh 3 gen-
erasi (extended family). Kondisi rumah kurang pencahayaan dan ventilasi.
2) Masalah ekonomi yang mempunyai pengaruh terhadap penyakit: pekerjaan pasien yang
hanya sebagai guru honorer tidak memungkinkan pasien untuk memiliki tempat tinggal
yang ideal serta mencukupi kebutuhan nutrisi keluarga.
Aspek fungsional
1) Derajat fungsional 2: Mampu melakukan pekerjaan ringan sehari-hari di dalam dan di
luar rumah serta mulai mengurangi aktivitas kerja kantor.

IV. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HAK DAN KEWAJIBAN KELUARGA


Keluarga muslim adalah keluarga yang meletakkan segala aktivitas pembentukan keluar-
ganya sesuai dengan syari’at Islam yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Keluarga terse-
but dibangun di atas aqidah yang benar dan semangat untuk beribadah kepada Allah serta se-
mangat untuk menghidupkan syiar dan adab-adab Islam Islam sebagaimana telah dicontohkan
Rasulullah SAW. Menurut HammudahAbdul Al-Ati dalam bukunya “The Family Structure in
Islam” definisi keluarga dilihat secara operasional adalah: “Suatu struktur yang bersifat khusus
yang satu sama lain mempunyai ikatan khusus, baik lewat hubungan darah atau pernikahan.
Perikatan itu membawa pengaruh pada adanya rasa “saling berharap” (mutual expectation)
yang sesuai dengan ajaran agama, dikukuhkan dengan kekuatan hukum serta secara individual
saling mempunyai ikatan batin”.
Bentuk keluarga yang paling sederhana adalah keluarga inti yang terdiri atas suami istri
dan anak-anak yang biasanya hidup bersama dalam suatu tempat tinggal. Namun demikian
menurut Abdul Al ‘Ati pengertian keluarga tidaklah dibatasi oleh kerangka tempat tinggal.
Sebab anggota sebuah keluarga tidaklah selalu menempati tempat tinggal yang sama. Adanya
rasa saling harap sebagai unsur dalam perikatan keluarga itu lebih penting dari unsur tempat
tinggal.
Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyara-
kat adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan hikmahNya
telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan ten-
tram di dalamnya. FirmanNya: "dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia mencipa-
takan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepa-
danya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Ruum [30]: 21)

Tugas Suami
Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu
lemah secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia
akan buntu. Terlalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan membeng-
kokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: "Nasehatilah wanita dengan baik.
Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok dari rusuk adalah
bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti akan mematahkannya. Dan sean-
dainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok, untuk itu nasehatilah dengan baik." (HR.
Bukhari, Muslim).
Seorang suami seyogyanya tidak terus-menerus mengingat apa yang menjadi bahan kes-
empitan keluarganya, alihkan pada beberapa sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan sisi ke-
baikan niscaya akan banyak sekali. Dalam hal ini maka berperilakulah lemah lembut. Sebab
jika ia sudah melihat sebagian yang dibencinya maka tidak tahu lagi dimana sumber-sumber
kebahagiaan itu berada. Alloh berfirman; "Dan bergaullah bersama mereka dengan patut.
Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah Karena mungkin kamu tidak
menyukai sesuatu padahal Allah menjadikannya kebaikan yang banyak." (An Nisa' [4]: 19)

Tugas Istri
Kebahagiaan, cinta dan kasih sayang tidaklah sempurna kecuali ketika istri menge-
tahuikewajiban dan tiada melalaikannya. Berbakti kepada suami sebagai pemimpin, pelindung,
penjaga dan pemberi nafkah. Taat kepadanya, menjaga dirinya sebagi istri dan harta suami.
Demikian pula menguasai tugas istri dan mengerjakannya serta memperhatikan diri dan ru-
mahnya. Inilah istri shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di rumah sua-
minya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Juga mengakui kecakapan suami
dan tiada mengingkari kebaikannya.
Untuk itu seyogyanya memaafkan kekeliruan dan mangabaikan kekhilafan. Jangan ber-
perilaku jelek ketika suami hadir dan jangan mengkhianati ketika ia pergi. Dalam hadits: "Per-
empuan mana yang meninggal dan suaminya ridha kepadanya maka ia masuk surga." (HR.
Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah).
Ada juga yang mengungkapkan beberapa karakteristik yang harus terwujud dalam se-
buah keluarga yang menjadikannya layak disebut sebagai model keluarga muslim. Karakteris-
tik tersebut adalah
 Keluarga yang dibangun oleh pasangan suami-istri yang shalih.
 Keluarga yang anggotanya punya kesadaran untuk menjaga prinsip dan norma Is-
lam.
 Keluarga yang mendorong seluruh anggotanya untuk mengikuti fikrah islami.
 Keluarga yang anggota keluarganya terlibat dalam aktivitas ibadah dan dakwah,
dalam bentuk dan skala apapun.
 Keluarga yang menjaga adab-adab Islam dalam semua sisi kehidupan rumah
tangga.
 Keluarga yang anggotanya melaksanakan kewajiban dan hak masing-masing.
 Keluarga yang baik dalam melaksanakan tarbiyatul aulad (proses mendidik anak-
anak).
 Keluarga yang baik dalam mentarbiyah khadimah (mendidik pembantu).

V. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FUNGSI DAN KEWAJIBAN KELUARGA


DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA YANG SAKIT
Ada dua hak orang sakit yang harus dipenuhi oleh anggota masyarakat atau keluarganya.
Hak orang sakit yang pertama dan utama adalah bebas dari segala tanggung jawab social yang
normal. Artinya orang yang sedang sakit mempunyai hak untuk tidak melakukan pekerjaan
sehari-hari yang biasa dia lakukan. Hal ini boleh dituntut, namun tidaklah selalu mutlak, ter-
gantung tingkat keparahan atau tingkat persepsi dari penyakit tersebut. Apabila tingkat kepara-
han sakitnya rendah maka orang tersebut mungkin saja tidak perlu menuntut haknya. Dan sean-
dainya menuntut haknya harus tidak secara penuh. Maksudnya, ia tetap dalam posisinya tetapi
perannya dikurangi, dalam arti volume dan frekuensi kerjanya dikurangi.
Tetapi bila tingkat keparahannya tinggi maka hak tersebut harus dituntutnya, misalnya
menderita penyakit menular. Hak tersebut haruslah dituntut karena bila tidak akan dapat men-
imbulkan konsekuensi ganda, yaitu disamping produktivitas kerja menurun atau bahkan dapat
menambah beratnya penyakit.
Hak yang kedua adalah hak untuk menuntut bantuan atau perawatan kepada orang lain.
Didalam masyarakat yang sedang sakit berada dalam posisi yang lemah, lebih-lebih bila sakit-
nya berada dalam derajat keparahan yang tinggi. Anggota keluarga dan anggota masyarakat
berkewajiban untuk membantu dan merawatnya. Oleh karena tugas penyembuhan dan perawa-
tan memerlukan keahlian tertentu, maka tugas ini didelegasikan kelpada lembaga-lembaga
masyarakat atau individu tertentui seperti dokter, perawat, bidan dan petugas lainnya.

Kewajiban keluarga merawat orang sakit :


 Mengenal gangguan kesehatan setiap anggotanya. Keluarga mempunyai peranan yang
amat penting dalam mengembangkan, mengenal, dan menemukan masalah kesehatan
dalam keluarga sebagai antisipasi menjaga kesehatan dalam keluarganya
 Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat. Keluarga merupakan
pusat pengambilan keputusan terpenting, termasuk membuat keputusan tentang masa-
lah kesehatan keluarga. Keluarga dalam tugasnya mengambil keputusan bagi anggota
keluarga disebut sebagai pelayanan rujukan kesehatan primer
 Memberikan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit dan tidak dapat mem-
bantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda
 Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan
kepribadian anggota keluarga
 Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan lembaga kesehatan, yang
menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada

VI. BIMBINGAN TERHADAP PASIEN YANG SAKARATUL MAUT


Orang sakit biasanya mengalami krisis psikologis dalam dirinya, oleh karena itu hen-
daknya didampingi dan diberi perhatian lebih, serta dorongan motivasi untuk kesembuhannya.
Doa-doa serta dzikir dirasa mampu mengurangi rasa sakit orang yang merasakannya. Karena
dalam doa dan dzikir tersebut terdapat ilmu ikhlas sebagai hamba Allah swt yang tidak mempu-
nyai daya dan upaya dihadapan-nya. Kita dapat mendampinginya sebagai wujud bertawaqal
dan menyerahkan diri kepada Allah swt dan menyadari segalanya kembali atas kehendaknya.
Mati adalah kata yang tidak disukai oleh kebanyakan orang. Banyak yang menghindar
darinya. Kematian itu sendiri tentunya lebih ditakuti dari sekadar kata mati. Tidak hanya oleh
manusia, binatang pun takut mati. Seakan tidak ada yang sudi mati. Hal ini wajar bagi makhluk
yang bernyawa, karena mati merupakan sebab berpisahnya seorang dari hal yang ia senangi,
berpisah dari dunia dan segala isinya. Sementara manusia memang mencintai dunia dan sei-
sinya. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wata'ala, yang artinya;
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-
binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tem-
pat kembali yang baik (surga).” (QS. Al-Imran: 14)
Di sisi lain, ada yang menyangka bahwa kematian menjanjikan ketenangan. Karenanya,
kita sering mendengar kasus bunuh diri. Orang itu mengira kematian merupakan solusi ampuh
untuk mengatasi semua masalah. Ada juga golongan manusia yang sepanjang harinya bermak-
siat, seakan-akan maut tidak akan menjemputnya.

VII. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN KONSEP KELUARGA ISLAMI.


Keluarga muslim adalah keluarga yang meletakkan segala aktivitas pembentukan
keluarganya sesuai dengan syari’at Islam yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Keluarga
tersebut dibangun di atas aqidah yang benar dan semangat untuk beribadah kepada Allah serta
semangat untuk menghidupkan syiar dan adab-adab Islam Islam sebagaimana telah
dicontohkan Rasulullah SAW. Menurut HammudahAbdul Al-Ati dalam bukunya “The Family
Structure in Islam” definisi keluarga dilihat secara operasional adalah: “Suatu struktur yang
bersifat khusus yang satu sama lain mempunyai ikatan khusus, baik lewat hubungan darah atau
pernikahan. Perikatan itu membawa pengaruh pada adanya rasa “saling berharap” (mutual
expectation) yang sesuai dengan ajaran agama, dikukuhkan dengan kekuatan hukum serta
secara individual saling mempunyai ikatan batin”.
Bentuk keluarga yang paling sederhana adalah keluarga inti yang terdiri atas suami istri
dan anak-anak yang biasanya hidup bersama dalam suatu tempat tinggal. Namun demikian
menurut Abdul Al ‘Ati pengertian keluarga tidaklah dibatasi oleh kerangka tempat tinggal.
Sebab anggota sebuah keluarga tidaklah selalu menempati tempat tinggal yang sama. Adanya
rasa saling harap sebagai unsur dalam perikatan keluarga itu lebih penting dari unsur tempat
tinggal.
Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan
masyarakat adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan
hikmahNya telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal
dengan tentram di dalamnya. FirmanNya: "dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia
mencipatakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa
tentram kepadanya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Ruum [30]: 21)

Hak dan Kewajiban Anak


Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua Pada dasarnya, kewajiban seorang anak
merupakan hak bagi orang tua begitu pula sebaliknya hak anak adalah merupakan kewajiban
dari orang tua sendiri. Diantara kewajiban anak untuk berbakti pada orang tuanya dibagi
menjadi dua yaitu ketika mereka masih hidup dan sesudah mereka wafat.
A. Saat Orang Tua Masih Hidup
 Menaati mereka selama tidak mendurhakai Allah. Ta’at, patuh dan hormat pada kedua
orang tua merupakan kewajiban bagi setiap anak Adam(manusia). Sedangkan
mendurhakai keduanya merupakan perbuatan yang diharamkan, kecuali jika mereka
menyuruh untuk berbuat syirik atau bermaksiat kepada Allah. Allah berfirman, artinya,
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang
tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, ….” Rasulullah SAW. bersabda, “Tidak
ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam
melakukan kebaikan”. Adapun contoh bentuk ketaatan pada orang tua diantaranya:

o Apabila orang tua meminta makan maka anak wajib memberikan.

o Memberikan sesuatu yang diinginkan orang tua baik yang diminta atupun tidak.

o Segera mendatangi panggilan orang tua.

o Melaksanakan semua perintah orang tua asalkan buka perintah maksiat.

o Tidak membentak, menghardik, memukul bahkan membunuh orang tua


meskipun orang tua salah.

 Berbakti terhadap kedua orang tua dapat direalisasikan dengan berbagia bentuk. Di
antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang
dapat menyakiti mereka, walaupun berupa isyarat atau dengan ucapan ‘ah’, tidak
mengeraskan suara melebihi suara mereka, mendahulukan keperluan orang tua dari
pada keperluan pribadi. Berbakti terhadap kedua orang tua dapat direalisasikan dengan
berbagai bentuk. Diantara wujud lain dari pada bakti pada orang tua diantaranya:
a) Tidak berkata “ah” dan tidak mengeraskan suara melebihi suara orang tua
b) Tidak mendahului jalan orang tua
c) Mendahulukan keperluan orang tua dari pada keperluan pribadi
d) Tidak berkata kasar

 Meminta izin kepada mereka sebelum berjihad dan pergi untuk urusan lainnya. Amat
penting kedudukan izin kepada orang tua dalam masalahjihad. Seorang laki-laki datang
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah
apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya, ‘Apakah kamu masih
mempunyai kedua orangtua?’ Laki-laki tersebut menjawab, ‘Masih’. Beliau bersabda,
‘Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya’.

 Memberikan nafkah kepada orang tua Beberapa ayat dalam Al Qur’an yang membahas
tentang hal ini adalah Al Baqarah ayat 15 dan Ar-Rum ayat 38. Rasulullah SAW.
pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata, “Ayahku ingin mengambil
hartaku”. Nabi SAW. bersabda, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” Oleh sebab
itu, hendaknya seorang anak tidak bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang
menyebabkan keberadaan dirinyaatas izin Allah, memeliharanya ketika kecil, serta
telah berbuat baik kepadanya.

 Memenuhi sumpah/nadzar kedua orang tua Jika kedua orang tua bersumpah untuk suatu
perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi
seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena hal itu termasuk hak mereka.

 Mendahulukan berbakti kepada ibu dari pada ayah. Seorang lelaki pernah bertanya
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapa yang paling berhak
mendapatkan perlakuan baik dariku?” beliau menjawab, “Ibumu.” Lelaki itu bertanya
lagi, ‘Kemudian siapa lagi?” Beliau kembali menjawab, “Ibumu”. Lelaki itu kembali
bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Lalu siapa lagi?
Tanyanya. “Ayahmu,” jawab beliau.” Hadits di atas tidak bermakna lebih menaati ibu
dari pada ayah. Sebab, menaati ayah lebih didahulukan jika keduanya menyuruh pada
waktu yang sama dan dalam hal yang dibolehkan syari’at. Alasannya, ibu sendiri
diwajibkan taat kepada suaminya.

 Mendahulukan berbakti pada orang tua dari pada berbuat baik pada istri Di antara hadits
yang menunjukkan hal tersebut adalah kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua lalu
mereka tidak bisa keluar kemudian mereka bertawasul dengan amal baik mereka, di
antara amal mereka, ada yang mendahulukan memberi susu untuk kedua orang tuanya,
walaupun anak dan istrinya membutuhkan. Begitupula dengan kisah Alqomah

 Mendo’akan kedua orang tua. Merupakan perihal yang sangat urgen sebab do’a juga
merupakan wujud ungkapan terimakasih anak terhadap orang tua. Ayat Al-Qur’an yang
membahas tentang kewajiban mendoakan keduanya salah satunya adalah firman Allah
SWT : ‫يرا‬ ً ‫ص ِغ‬
َ ‫ار َّبيَانِي‬ ْ ِ‫َالرحْ َم ِة َوقُ ْل َرب‬
َ ‫ِّار َح ْم ُه َما َك َم‬ َّ ‫ضلَ ُه َما َجنَا َحالذُّ ِلِّ ِمن‬ ْ ‫ َو‬Dan rendahkanlah dirimu
ْ ‫اخ ِف‬
terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku,
kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu
kecil".

 Memelihara orang tua Ayat yang membahas tentang hal ini adalah surat Al-Isra’ ayat
23 dan Al-Ahqaf ayat 15

B. Ketika Orang Tua Telah Meninggal

Ada beberapa kewajiban yang dilakukan anak terhadap orang tuanya ketika mereka sudah tiada
diantaranya:
 Mengurus jenazahnya dan banyak mendoakan untuknya, karena ini merupaka bukti
kebaktian anak terhadap orang tuanya sebelum dikebumikan.

 Memohonkan ampun untuk keduanya. Karena do’a yang yang masih bisa menjadi amal
jariyah adalah do’a anak sholeh terhadap orang tuanya. Namun anak yang dimaksud
anak di sini tidak hanya anak kandung saja tapi anak tiri, ataupun anak angkatpun bisa.
Karena dalam doa kita juga dianjurkan untuk mendoakan semua orang muslim.

 Melanjutkan amalan baik yang belum sempat dilakukan mereka semasa hidup karena
demikian itu akan menjadi amalan jariyah bagi orang tua meskipun telah memenuhi
panggilanya.

 Menunaikan janji, hutang dan wasiat orang tua yang belum terlaksana.

 Memuliakan teman atau sahabat dekat kedua orang tua Rasulullah SAW pernah
bersabda, “Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah seorang anak yang
menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya
meninggal”.

 Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat ibu dan ayah Rasulullah SAW. bersabda,
“Barang siapa yang ingin menyambung silaturrahim ayahnya yang ada dikuburannya,
maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia
meninggal.”

Hak-hak yang harus diperoleh anak


 Hak Mendapatkan Rasa Kasih Sayang Banyak hal yang bisa menjadi ungkapan kasih
sayang, hal yang demikian tak ditinggalkan oleh syariat, hingga didapati banyak contoh
dari Rasulullah SAW, bagaimana beliau mengungkapkan kasih sayang kepada anak-
anak. Satu contoh yang beliau berikan adalah mencium anak-anak. Bahkan beliau
mencela orang yang tidak pernah mencium anak-anaknya. Kisah-kisah tentang ini
bukan hanya satu dua. Di antaranya dituturkan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah
radhiallahu 'anhu: ‫ع‬ ُُ ‫اُلأل َ ْق َر‬
ُ َ َ‫فَق‬،‫سا‬ ُ ‫سلَّ َم ْال َح َسنَ ْب َن َع ِليِ َِّو ِع ْندَهُاأل َ ْق َر‬
ً ‫ع ْبنُ َحابِسِالتَّ ِمي ِْمي َجا ِل‬ َ ‫صلىَّالل ُهعَلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫س‬
َ ‫وُللل ِه‬ ُ ‫ قَبَّلَ َر‬:
‫َالولَ ِد َماقَب َّْلت ُ ِم ْن ُه ْمأ َ َحدًا‬
َ ‫ إِنَّ ِلُْيعَ ْش َرةً ِمن‬. ‫ل‬ َُ ‫سلَّ َمث ُ َّمقَا‬
َ ‫صلىَّالل ُهعَلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫س‬
َ ‫وُللل ِه‬ ُ ‫ظ َرإِلَ ْي ِه َر‬
َ َ‫فَن‬: ‫ َم ْنالَيَ ْر َح ْمالَي ُْر َح ُْم‬. "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah mencium Al-Hasan bin 'Ali, sementara Al-Aqra' bin
Habis At-Tamimi sedang duduk di sisi beliau. Maka Al-Aqra' berkata, "Aku memiliki
10 anak, namun tidak ada satu pun dari mereka yang kucium." Kemudian Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memandangnya, lalu bersabda, "Siapa yang tidak
menyayangi, maka dia tidak akan disayangi." Kalaulah dibuka perjalanan para
pendahulu yang shalih dari kalangan shahabat radhiallahu 'anhum, hal ini pun
ditemukan di kalangan mereka. Bahkan dilakukan oleh shahabat yang paling mulia,
Abu Bakr Ash-Shiddiqradhiallahu 'anhu. Ketika Abu Bakr radhiallahu 'anhu tiba di
Madinah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hijrah, dia mendapati
putrinya, 'Aisyah radhiallahu 'anha sakit panas. Al-Barra' bin 'Azibradhiallahu 'anhu
yang menyertai Abu Bakr saat menemui putrinya mengatakan:
ُ َ َ
َ ‫فَ َرأ ْيتُأبَاهَايُ َقبُِِّل َخدَّه‬،‫صابَتْ َها ُح َّمى‬
‫َاوقَاَل‬ َ ٌ َ ‫ض‬
َ ‫ط ِجعَةقَدْأ‬ ُ
ْ ‫شةا ْبنَت ُ ُه ُم‬ َ َ ْ
َ ِ‫فَإِذَا َعائ‬،‫فَدَخَلت ُ َمعَأبِ ْيبَ ْك ٍر َعلَىأ ْه ِل ِه‬ : ‫َك ْيفَأ َ ْن ِتيَابُنَيَّة؟‬
"Kemudian aku masuk bersama Abu Bakr menemui keluarganya. Ternyata 'Aisyah
putrinya sedang berbaring, terserang penyakit panas. Maka aku melihat ayah 'Aisyah
mencium pipinya dan berkata, 'Bagaimana keadaanmu, wahai putriku?'." Inilah kasih
sayang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, seorang ayah yang paling mulia di
antara seluruh manusia. Tak segan-segan beliau mendekap dan mencium putra-putri
dan cucu-cucunya. Begitu pun yang beliau ajarkan kepada seluruh manusia.

 Hak untuk memperoleh kehidupan Problematika perekonomian seakan menjadi


momok yang menakutkan bagi calon orang tua bahkan orang tua sekalipun. Banyak
sekali orang tua yang mnelantarkan anak yang telah dilahirkan sendiri dari rahimnya.
Bahkan tak sedikit pula yang membiarkan anaknya merasakan kehidupan dunia
ini.Allah berfirman: “Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin.
Kami akan memberikan rizqi kepadamu dan kepada mereka.”

 Hak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) Wajib bagi seorang ibu menyusui anaknya yang
masih kecil, sebagaimana firman Allah yang artinya: Para ibu hendaklah menyusui
anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan
penyusuan. Sebuah riwayat disampaikan oleh 'Umar bin Al-Khaththab radhiallahu
'anhu:
َُ ‫ط ِن َه َاوأَ ْر‬
‫ض‬ ْ ‫صقَتْ ُه ِب َب‬َ ‫س ِب ِِّيأ َ َخذَتْ ُهفَأ َ ْل‬ َ ‫فَإِذَاا ْم َرأَة ٌ ِمنَال‬،‫ي‬
َُ ‫س ِب ِِّيتِّحْ لُ ُبثَدَ ْي َهات َ ْسقَىإِذَ َاو‬
َ ْ‫جدَت‬
َ ‫ص ِبيًّا ِفيال‬ ٌّ ‫سلَّ َم َس ِب‬
َ ‫صلىَّالل َه َعلَ ْي ِه َو‬
َ ‫قَ ِد َم َعلَىالنَّ ِب ِِّي‬
ُ‫ َعتْ ُه‬. ‫س َّل َُم‬ َ ‫صلىَّالل ُه َعلَ ْي ِه َو‬ َ ُّ‫فَقَ َاُللنَّ ِبي‬: ‫ار؟قُ ْلنَا‬ ِ َّ‫ار َحةٌ َولَدَهَا ِفيالن‬ ِ ‫ط‬ َ ‫ أَت ََر ْونَ َه ِذ ِه‬: ُ‫و ِه َيت َ ْقد ُِر َعلَىأ َ ْنالَت َْط َر ُح ُه‬، َ َ‫ ُل‬. ‫ل‬ َُ ‫ فَقَا‬:
‫لَلَّ ُهأ َ ْر َح ُم ِب ِع َبا ُِده ِِم ْن َه ِذ ِه ِب َولَ ِدهَا‬. "Datang para tawanan di hadapan Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam. Ternyata di antara para tawanan ada seorang wanita yang buah
dadanya penuh dengan air susu. Setiap dia dapati anak kecil di antara tawanan,
diambilnya, didekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bertanya, "Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan
anaknya ke dalam api?" Kami pun menjawab, "Tidak. Bahkan dia tak akan kuasa untuk
melemparkan anaknya ke dalam api." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sungguh Allah lebih penyayang daripada wanita ini terhadap anaknya."

 Hak untuk mendapat nama yang baik dari orang tua Pemberian nama yang baik bagi
anak adalah awal dari sebuah upaya pendidikan terhadap anak anak. Ada yang
mengatakan; ‘apa arti sebuah nama’. Ungkapan ini tidak selamanya benar. Islam
mengajarkan bahwa nama bagi seorang anak adalah sebuah do’a. Dengan memberi
nama yang baik, diharapkan anak mampu berperilaku baik sesuai dengan namanya.
Adapun setelah kita berusaha memberi nama yang baik, dan telah mendidiknya dengan
baik pula, namun anak kita tetap tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita
kembalikan kepada Allah SWT. Nama yang baik dengan akhlak yang baik, itulah yang
diharapkan oleh setiap orang tua.

 Hak mendapat aqiqohan dari orang tua. Aqiqah hukumnya sunnah muakkadh (sangat
dianjurkan) bagi yang mampu melakukannya, berdasarkan sabda Nabi SAW
"‫كلُّغالمٍ رهينةٌبعقيقته‬: ‫ويسمى‬،‫ويحلق‬،‫"تذبحعنهيومسابعه‬. “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya
yang disembelih paa hari ketujuh (sejak kelahiran anaknya), lalu dinamai dan dicukur
rambutnya.

 Hak mendapat pendidikan Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat
seorang ibu muslimah. Bahkan ibu merupakan madrasah awal bagi putra putrinya. Dia
senantiasa mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammad
dan para sahabatnya yang mulia. Mendidik anak bukanlah sekedar kemurahan hati
seorang ibu kepada anak-anaknya, akan tetapi merupakan kewajiban dan fitrah yang
diberikan Allah kepada seorang ibu. Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu
perkara saja tanpa perkara lainnya, seperti mencucikan pakaiannya atau membersihkan
badannya saja. Bahkan mendidik anak itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak
merupakan generasi penerus yang akan menggantikan kita yang diharapkan menjadi
generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu,
kemuliaan dan kejayaan. Bak dan tidaknya seorang anak juga ada pengaruhnya
terhadap peran orang tua. Karena pada dasarnya anak itu terlahir dalam keadaan fitrah,
jadi yang menjadikan anak tersebut islam ataupun kafir adalah orang tuanya.

Hak dan Kewajiban Orang Tua


Kewajiban Orang tua kepada Anak
a) Berdoa sebelum bercampur dengan istri, sehingga jika Allah takdirkan dari
pencampuran tadi, si istri hamil, maka anaknya menjadi anak yang soleh.

b) Mengikuti rosulullah dalam menyambut kelahiran anak.

c) Tinggal di lingkungan yang islami

d) Memberi nama yang baik

e) Ibu hendaknya Menyusui anaknya

f) Mengasuh dan membimbing anak (bukan diasuh oleh pembantu).

g) Mengkhitan si anak

h) Mengajari alquran, sholat,puasa, adab dan etika

i) Mengajari anak naik kuda, berenang dan memanah.

j) Memberi nafkah dari rezeki yang halal sampai si anak mandiri atau menikah.

k) Memilihkan teman yang baik.

l) Berbuat adil kepada semua anak anaknya.


m) Menjadi contoh yang baik bagi anaknya.

n) Mencarikan pendamping hidup yang sholeh bagi anaknya.

Hak-hak Orang Tua


Yang dimaksud dengan hak-hak orang tua di sini adalah kewajiban-kewajiban yang
harus ditunaikan seorang anak terhadap orang tuanya. Ada banyak hak orang tua atas anak,
yang paling penting di antaranya adalah :
 Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Hal itu ditunjukkan melalui
perkataan, perbuatan, harta, dan badan.

 Menaati perintah keduanya kecuali dalam hal-hal yang sifatnya maksiat.

 Berbicara kepada mereka berdua dengan penuh kelembutan dan sopan santun.

 Tawadhu’ (rendah diri) dan tidka boleh bersikap sombong di hadapan keduanya.

 Banyak berdo’a dan memohon ampun untuk mereka berdua, terlebih di saat keduanya
telah meninggal dunia.

 Memelihara nama baik, kehormatan, dan harta mereka berdua.

 Melakukan perbuatan yang membuat mereka senang tanpa harus ada perintah terlebih
dahulu.

 Menghormati teman-teman mereka berdua semasa mereka masih hidup, dan begitu
juga setelah matinya.

 Segera memenuhi panggilan mereka berdua

Hak dan Kewajiban Antar Keluarga


Hak Kerabat dan Sanak Keluarga
 Dikunjungi/silaturahim Dalil hadits: “Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan
diluaskan rizkinya maka hendaklah dia takut kepada Allah dan bersilaturahim kepada
kerabat.” (HR. Ahmad dan Al Hakim).
 Selamat dari tangan dan lisannya. Maksudnya adalah tidak digunjingkan dan dianiaya.
 Bersedekah/memberi hadiah. “Shadaqah yang paling utama adalah kepada kerabat
yang memutuskan kekerabatan.” (HR. Ahmad, Thabrani dan Baihaqi)

VIII. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FUNGSI KELUARGA ISLAMI.


Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat perlu diberdayakan fungsinya agar dapat
mensejahterakan umat manusia. Dalam Islam fungsi keluarga meliputi :
 Penerus misi umat Islam Dalam sejarah, dapat kita lihat bagaimana islam sanggup
berdiri tegap dalam menghadapi berbagai ancaman dan bahaya. Demikianlah
berlomba-lomba untuk mendapatkan keturunan yang bermutu merupakan faktor
penting yang telah memelihara keberadaan umat islam yang sedikit. Pada waktu itu
menjadi pendukung islam dalam mempertahankan kehidupannya ( Berkeluarga )

 Perlindungan terhadap akhlak Islam memandang pembentukan keluarga sebagai sarana


efektif memelihara pemuda dari kerusakan dan melindungi masyarakat dari kekacauan.
Karena itulah Rasulullah bersabda : “Wahai pemuda, siapa diantara kalian yang
berkemampuan maka menikahlah, karena nikah lebih melindungi mata dan farji, dan
barang siapa yang tidak mampu maka hendaklah shoum, karena shoum itu baginya
daalah penenang”. ( HR. AL-Khosah dari Abdullahbin Mas’ud )

 Wahana pembentukan generasi Islam Keluarga lah sekolah kepribadian pertama dan
utama bagi anak. Penyair kondang Hafidz Ibrohim mengatakan :” Ibu adalah sekolah
bagi anak-anaknya. Bila engkau mendidiknya berarti engkau telah menyiapkanbangsa
yang baik perangainya.” Ibu sangat berperan dalam pendidikan keluarga, sementara
ayah mempunyai tugas yaitu menyediakansarana bagi berlangsungnya pendidkan
tersebut. Keluarga lah yang menerapkan sunnah Rasul dari bangun tidur sampai sampai
akan tidur lagi. Maka tercipta lah generasi islam yang handal dan berkualitas

 Memelihara status sosial dan ekonomi Dalam pembentukan keluarga, islam


mewujudkan ikatan dan persatuan. Dengan adanya ikatann keturunan maka diharapkan
akan mempererat tali persaudaraan anggota masyarakat dan bangsa. Islam
memperbolehkan pernikahan antar bangsa Arab dan Ajam ( Non Arab ),antara kulit
putih dan kulit hitam, anatara orang timur dengan orang barat. Berdasarkan fakta ini
Islam sudah mendahului semua “system Demokrasi” dalam mewujudkan persatuan
ummat. Fungsi ekonomi dalam keluarga akan Nampak. Rasul bersabda : “ Nikahilah
wanita, karena ia akan mendatangkan Maal.” (HR. Abu Dawud, dari Urwah RA).
Perkawinan adalah sarana untuk mendapakan sarana keberkahan dibandingkan dengan
bujangan, berkeluarga lebih hemat ekonomis dan lebih giat dalam mencari nafkah.

 Menjaga kesehatan Pernikahan memelihara para pemuda yang sering melakukan


kebiasaan onani yang menguras tenaga dan dapat mencegah penyakit kelamin.

 Memantapkan spiritual (Ruhiyyah) Pernikahan sebagai pelengkap dari keimanan dan


pelapang jalan menuju sabilillah, hati menjadi tenang bersih dari berbagi
kecenderungan dan jiwa terlindung dari berbagai was was

 Menegakan keluarga yang Sakinah Keluarga Sakinah adalah keluarga yang terbentuk
dari pasangan yang baik kemudian menerapakan nilai nilai Islam dalam melakukan hak
dan kewajiban rumah tanggasertam mendidik anak dalam suasana mawadah
warohmah. Dan difirmankan Allah SWT dalam surat Ar-Ruum ayat 21 artinya : “ Dan
diantara tanda-tanda ia ciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar
kamu merasa tenang kepadanya dan dijadikannyadiantaramu rasa cinta dan kasih
sayan. Sesungguhnyadalam hal ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-
orang yang memikirkan “. (QS. Ar-Ruum : 21).