Anda di halaman 1dari 18

JURNAL PENDIDIKAN USIA DINI

DOI: https://doi.org/10.21009/JPUD.092 DOI: https://doi.org/10.21009/JPUD.092.03

PENINGKATAN KECERDASAN KINESTETIK MELALUI


PEMBELAJARAN GERAK DASAR TARI MINANG
(Penelitian Tindakan Kelompok B1 di TK Negeri 01
Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan Tahun 2015)

RESTU YUNINGSIH

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta


Jl. Rawamangun Muka, Jakarta Timur. E-mail: restu.yuningsih@ymail.com

Abstract: Purpose of research to increase kinesthetic intelligence in early childhood through


learning basic dance movements minang. The research was conducted on a group B1
Kindergarten 01 River State Capping the number of 12 children, was conducted from March to
April 2015. This study used action research methods (Action research) by Kemmis and Taggart.
This study consisted of two cycles, each cycle consisting of 8 sessions / actions. Data analysis
using quantitative and qualitative data. Quantitative data analysis with descriptive statistics that
compare the results obtained from the first cycle and the second cycle. Analysis of qualitative data
by analyzing data from the field notes and interviews during the study to the steps of data
reduction, data display and data verification. At 48.07% pre-cycle, the first cycle increased to
63.54% and the second cycle into 85.12%. The results showed an increase kinesthetic intelligence
in early childhood B1 group carried through learning basic dance movements minang.

Keywords: Kinesthetic Intelligence, Dance Movements Minang

Abstrak : Tujuan penelitian untuk mengetahui peningkatan kecerdasan kinestetik pada anak usia
dini melalui pembelajaran gerak dasar tari minang. Penelitian ini dilaksanakan pada kelompok B1
Taman Kanak-Kanak Negeri 01 Sungai Pagu dengan jumlah 12 orang anak, dilaksanakan dari
bulan Maret sampai April 2015. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan (Action
research) oleh Kemmis dan Taggart. Penelitian ini terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus
terdiri dari 8 kali pertemuan/ tindakan. Analisis data menggunakan data kuantitatif dan kualitatif.
Analisis data kuantitatif dengan statistik deskriptif yaitu membandingkan hasil yang diperoleh dari
siklus pertama dan siklus kedua. Analisis data kualitatif dengan cara menganalisis data dari hasil
catatan lapangan dan wawancara selama penelitian dengan langkah-langkah reduksi data, display
data dan verifikasi data. Pada pra siklus 48,07%, siklus I meningkat menjadi 63,54% dan siklus II
menjadi 85,12%. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kecerdasan kinestetik pada
anak usia dini kelompok B1 yang dilakukan melalui pembelajaran gerak dasar tari minang.

Kata kunci : Kecerdasan Kinestetik, Gerak Tari Minang

Pendidikan anak usia dini tumbuh kembang anak usia lahir


adalah suatu proses pembinaan hingga 8 tahun secara menyeluruh,
233
JURNAL PENDIDIKAN USIA DINI
Volume 9 Edisi 2, November 2015

yang mencakup aspek fisik dan kinestetik anak belum berkembang


nonfisik dengan memberikan secara optimal. Hal ini dapat dilihat
rangsangan bagi perkembangan dari aspek yang diamati yang terdiri
jasmani, rohani (moral dan spiritual), dari lari dan senam. Oleh karena itu
motorik, daya pikir, emosional dan diperlukan stimulasi yang mampu
sosial yang tepat dan benar agar mengembangkan kemampuan dan
dapat tumbuh dan berkembang potensi yang dimiliki oleh anak usia
secara optimal termasuk kecerdasan dini termasuk kecerdasan kinestetik.
kinestetik. Ada delapan aspek Artinya kecerdasan kinestetik
kecerdasan yang terdiri dari sebagai perkembangan dari unsur
kecerdasan linguistik, kecerdasan kematangan dan pengendalian gerak
logika matematika, kecerdasan tubuh. Masih kurangnya anak usia
fisik/kinestetik, kecerdasan spasial, dini dalam mengembangkan gerak
kecerdasan musikal, kecerdasan tubuh melalui nyanyian,
intrapersonal, kecerdasan menselaraskan antara pikiran dan
interpersonal dan kecerdasan tubuh (koordinasi tubuh),
naturalis, tetapi dalam penerapan di mengembangkan kelincahan,
Indonesia ditambahkan menjadi kekuatan dan keseimbangan tubuh
sembilan kecerdasan yaitu serta mengkoordinasi mata dengan
kecerdasan spiritual. Cerdas tangan dan kaki. Anak-anak usia 5-6
kinestetik berarti belajar serta tahun mampu melakukan gerakan
berfikir dengan tubuh. Kecerdasan secara simbolis.
ditunjukkan dengan ketangkasan Selain itu, anak masih
tubuh, memahami perintah otak. canggung dalam bergerak, malu –
Adapun permasalahan yang malu dan tidak percaya diri dalam
terjadi di TK negeri 01 sungai pagu menggerakkan tubuhnya.
adalah dalam setiap kegiatan yang Mengembangkan kecerdasan
memerlukan gerak motorik anak kinestetik pada anak dapat dilakukan
terbilang lambat dan kurang melalui pembelajaran seni,
bersemangat sehingga kecerdasan khususnya seni tari.
234
Peningkatan Kecerdasan…
Restu Yuningsih

Salah satu cara untuk tentang kecerdasan kinestetik yang


meningkatkan kecerdasan kinestetik terkait dengan aspek koordinasi,
anak adalah melalui menari. Oleh keseimbangan, kekuatan dan
karena itu pada tari tradisional, kelenturan.
khususnya di Sumatra Barat Kecerdasan kinestetik
menggunakan gerak dasar tari Dengan ungkapan Gardner
minang pada umumnya adalah gerak (1993: 21-22) yang begitu fenomenal
yang bersifat murni, karena mengenai kecerdasan kinestetik,
gerakannya diangkat dari dasar-dasar barang siapa yang memiliki
gerak pencak silat. Gerak dasar tari kemampuan untuk menggunakan
minang terdiri dari gerakan keseluruhan tubuh mereka, atau
menghindar, menangkis dan paling tidak sebagian dari tubuh
menyerang. untuk memecahkan masalah adalah
Berdasarkan hasil pra merupakan pengembangan dari
penelitian yang dilakukan melalui kecerdasan kinestetik. Menurut
observasi di Taman Kanak – Kanak Suyadi (2014:15) kecerdasan
Negeri 01 Kecamatan Sungai Pagu kinestetik adalah kemampuan
Kabupaten Solok Selatan yang seseorang untuk menggabungkan
berada dibawah naungan Dinas antara fisik dan pikiran sehingga
Pendidikan Kabupaten Solok menghasilkan gerakan yang
Selatan. Ditemukan hasil kategori sempurna. Artinya kecerdasan
Belum Berkembang (BB) 4 anak, kinestetik merupakan koordinasi
Mulai Berkembang (MB) 6 anak. yang baik antara urat saraf (pikiran)
Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dengan tubuh lainnya.
2 anak, dan anak Berkembang Selain itu Gardner &
Sangat Baik (BSB) 0 anak. Checkley dalam Yaumi (2013:16)
Melihat kenyataan tersebut kecerdasan kinestetik adalah: The
maka peneliti sangat tertarik untuk capacity to use your whole body or
mengkaji lebih lanjut dengan cara parts of your – your hands, your
mengadakan penelitian tindakan finger, and your arms- to solve a
235
JURNAL PENDIDIKAN USIA DINI
Volume 9 Edisi 2, November 2015

problem, make something, or put on kekuatan, kelenturan dan kecepatan


some kind of a production. The most maupun kemampuan menerima
evident examples are people in rangsang (proprioceptive) dan hal
athletics or the performing arts, yang berkaitan dengan sentuhan
particularly dance or acting. (tactile dan haptic).
Pernyataan tersebut Berdasarkan uraian teori yang
menunjukkan bahwa kecerdasan telah dikemukakan diatas dapat
kinestetik itu merupakan kemampuan disimpulkan bahwa kecerdasan
untuk menggunakan seluruh bagian kinestetik merupakan kemampuan
badan secara fisik seperti untuk menggunakan anggota tubuh
menggunakan tangan, jari-jari, dalam memecahkan masalah untuk
lengan dan berbagai kegiatan fisik mengekspresikan ide, gagasan yang
lainnya dalam memecahkan masalah, ditunjukkan melalui praktek,
membuat sesuatu, atau dalam sehingga tujuan dapat tercapai seperti
menghasilkan berbagai macam berlari, menari, meloncat dan
produk. sebagainya.
Amstrong yang dikutip dalam
Sujiono (2010:59) kecerdasan Gerak Dasar Tari Minang
kinestetik atau kecerdasan fisik Menurut Corrie Hartong
adalah suatu kecerdasan dimana saat dalam Soedarsono (1978:2) bahwa
menggunakannya seseorang mampu tari adalah gerak-gerak yang diberi
atau terampil menggunakan anggota bentuk dan ritmis dari badan didalam
tubuhnya untuk melakukan gerakan ruang. Suryadiningrat dalam
seperti berlari, menari, membangun soedarsono menyatakan tari adalah
sesuatu, melakukan kegiatan seni gerak-gerak dari seluruh bagian
atau hasta karya. Komponen inti dari tubuh manusia yang disusun selaras
kecerdasan kinestetik adalah dengan irama musik serta
kemampuan-kemampuan fisik yang mempunyai maksud tertentu.
spesifik, seperti koordinasi, Tari tradisional adalah tarian-
keseimbangan, keterampilan, tarian yang dilakukan dengan
236
Peningkatan Kecerdasan…
Restu Yuningsih

kerangka pola yang sudah turun atau kesejahteraan bersama


temurun dan penerapannya berulang- (Suwirman:1999:8) . Gerak
ulang. Tari tradisional minangkabau menangkis, menyerang, menghindar
Mustika Syarif dalam Yetti dan membela diri merupakan gerak
merupakan ciptaan bersama, dasar pencak silat yang dapat
sehingga menjadi milik bersama, dilakukan dengan bermacam-macam
tumbuh dan berkembang dari gerakan, dimana gerakan tersebut
perhatian masyarakatnya sendiri. terdiri dari gerakan kuda-kuda
Maksudnya tari tradisional (pitunggua), gerak langkah tiga
Minangkabau tidak diketahui maupun pancingan tangan dan
penciptanya, karena lahirnya tarian sebagainya (Herdiana: 2008:26).
tersebut merupakan kerjasama dari Tari tradisonal minangkabau
masyarakat pendukung seni tari itu sangat kuat diwarnai gerak-gerak
sendiri, mereka bersama-sama dalam pencak silat, karena pencak silat
suatu kegiatan dimana pada waktu merupakan elemen dasar tari
istirahat mereka bermain pencak, tradisional minangkabau dan juga
rangkaian gerak pencak dijadikan merupakan sumber gerak tari
sebuah tarian yang berfungsi sebagai tradisional minangkabau. Jadi,
hiburan, dan ada juga tarian yang perbedaan antara tari dan pencak
diciptakan untuk pemujaan dalam silat itu tidak begitu besar karena
acara ritual (keagamaan) dan upacara gerak tari sebagian besar terdiri dari
adat. rangkaian gerak pencak silat
Pencak mempunyai sehingga tari tradisional
pengertian gerak dasar beladiri yang minangkabau identik dengan gerak
terikat pada peraturan dan digunakan pencak silat.
dalam belajar, latihan dan
METODE PENELITIAN
pertunjukan, sedangkan silat adalah
Metode penelitian yang
gerak beladiri yang sempurna,
dilakukan adalah penelitian tindakan
bersumber pada kerohanian yang
(action research). Penelitian
suci murni guna keselamatan diri
237
JURNAL PENDIDIKAN USIA DINI
Volume 9 Edisi 2, November 2015

tindakan Kemmis & Mc Taggart minang. Observasi dilakukan dengan


(dalam Muhammad Yaumi, 2014:24) menggunakan catatan lapangan,
ini meliputi empat tahap yaitu (1) untuk mencatat berbagai kegiatan
perencanaan (planning), (2) tindakan yang terdiri dari catatan tertulis
(action), (3) pengamatan tentang apa yang dilihat, didengar,
(observation), (4) refleksi dialami dan dipikirkan oleh peneliti
(reflection). Pada model Kemmis & dalam rangka mengumpulkan data.
Taggart tindakan (acting) dan Kisi-kisi instrumen
observasi (observing) dijadikan dikembangkan melalui definesi
sebagai satu kesatuan karena mereka konseptual dan operasional yang
menganggap bahwa kedua menjelaskan bahwa kecerdasan
komponen tersebut merupakan dua kinestetik adalah skor yang diperoleh
kegiatan yang tidak bisa dipisahkan. dari pengamatan terhadap anak
Keberhasilan secara klasikal tentang perkembangan kecerdasan
mengikuti standar George E. Mills kinestetik seperti koordinasi,
(2000:96) dalam penelitiannya yaitu keseimbangan, kekuatan, dan
menetapkan persentase 71%. kelenturan dengan menggunakan
Teknik pengumpulan data lembar observasi. Cara pemberian
yang digunakan dalam penelitian ini skor adalah melihat kecerdasan
adalah dokumentasi, wawancara, dan kinestetik anak dengan tingkatan:
observasi. Dokumentasi dalam belum berkembang, mulai
penelitian ini yaitu mengumpulkan berkembang, berkembang sesuai
informasi tentang laporan hasil harapan, dan berkembang sangat
perkembangan kecerdasan kinestetik baik.
anak, foto dan video kegiatan gerak Pengolahan data dalam
dasar tari minang. Wawancara penelitian ini menggunakan dua jenis
dilakukan kepada sanggar tari anak- data, sesuai dengan tuntutan
anak yang berbasis tari minang untuk penelitian tindakan, yaitu data
memperoleh informasi secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis
mendalam tentang gerak dasar tari data penelitian menggunakan analisis
238
Peningkatan Kecerdasan…
Restu Yuningsih

data kuantitatif dengan statistik HASIL DAN PEMBAHASAN


deskriptif untuk menggambarkan Hasil penelitian menunjukkan
skor responden masing-masing bahwa kecerdasan kinestetik anak
penelitian dalam bentuk tabel atau sudah mulai meningkat dari setiap
grafik. Analisis data kualitatif berisi pertemuannya dari tindakan pra
informasi yang berbentuk kalimat siklus sampai siklus kedua.
yang menggambarkan tentang
karakteristik aktifitas kegiatan Pra Siklus
menari yang ditunjukkan anak Pra siklus ini dilakukan untuk
selama kegiatan pembelajaran mengetahui kondisi awal kecerdasan
melalui proses reduksi data, display kinestetik anak. Adapun hasil pra
data dan verifikasi data yang siklus untuk kecerdasan kinestetik
dilakukan dalam suatu proses. anak adalah:

Tabel 1. Hasil Pengamatan Pra Siklus Kecerdasan Kinestetik Oleh


peneliti dan kolaborator

No Nama Jumlah %
1 KIL 34 60,71
2 NIL 26 46,43
3 ADM 25 44,64
4 DNL 26 46,43
5 NIA 23 41,07
6 NJW 26 46,43
7 EJL 27 48,21
8 NUA 24 42,86
9 SIA 32 57,14
10 IDH 25 44,64
11 BJS 28 50,00
12 RAL 27 48,21
Jumlah kelas 323
Rata-rata kelas 48,07

239
JURNAL PENDIDIKAN USIA DINI
Volume 9 Edisi 2, November 2015

Cara menentukan rentang Sr (Skor terendah) = jumlah item x


skor kecerdasan kinestetik anak nilai terendah= 14 x 1 = 14
adalah sebagai berikut: Range = St – Sr = 56 – 14 = 42
St (Skor tertinggi) = Lebar kelas= 42 / 4 = 10,5
jumlah item x nilai tertingi= 14 x 4 Interval skor pencapaian
= 56 kecerdasan kinestetik pra siklus

Rentang skor Kriteria


45,8 - 56,3 Berkembang sangat baik
35,2 - 45,7 Berkembang sesuai harapan
24,6 - 35,1 Mulai berkembang
14,0 - 24,5 Belum berkembang

Untuk melihat gambaran pengamatan awal kecerdasan


yang lebih jelas tentang hasil kinestetik, maka berikut ini akan
disajikan dalam grafik

Grafik 1. Hasil Pengamatan Pra Siklus

Rata-rata peningkatan skor (BSB). Tetapi, berdasarkan tabel di


kinestetik yang diharapkan berada atas, menunjukkan bahwa terdapat
pada tahap berkembang sangat baik

240
Peningkatan Kecerdasan…
Restu Yuningsih

12 orang anak yang mengikuti Siklus I


kegiatan pembelajaran pada pra Pemberian tindakan pada
siklus, dari hasil observasi yang siklus I, maka peneliti dan
dilakukan pada TK Negeri 01 Sungai kolaborator melakukan asesmen
Pagu terlihat bahwa anak masih terhadap kecerdasan kinestetik. Hal
berada pada kategori mulai ini dilakukan untuk mengetahui skor
berkembang. Berdasarkan hasil yang diperoleh anak setelah
pencapaian pada pengamatan awal di pemberian tindakan pada siklus I.
atas, dapat dikatakan bahwa Hasil asesmen setelah pemberian
kecerdasan kinestetik anak belum tindakan pada siklus I adalah sebagai
mencapai target yang diharapkan berikut:
yaitu kategori berkembang sangat
baik di atas 71%.

Tabel 2. Kecerdasan Kinestetik Anak Pada Siklus I

No Nama Persentase
1 KIL 78,57
2 NIL 57,14
3 ADM 53,57
4 DNL 57,14
5 NIA 60,71
6 NJW 62,5
7 EJL 64,29
8 NUA 58,93
9 SIA 73,21
10 IDH 66,07
11 BJS 62,5
12 RAL 67,86
Jumlah kelas
Rata-rata kelas 63,54

241
JURNAL PENDIDIKAN USIA DINI
Volume 9 Edisi 2, November 2015

Berdasarkan tabel diatas, mengalami peningkatan, akan tetapi


menunjukkan bahwa nilai persentase belum mencapai target yang
anak mengikuti kegiatan maksimal yaitu >71% dengan
pembelajaran kecerdasan kinestetik kategori berkembang sangat baik.
antara hasil pengamatan pra siklus Untuk lebih jelasnya gambaran
dengan pelaksanaan tindakan siklus I peningkatan kecerdasan kinestetik
mengalami peningkatan yang yang sudah dilakukan pada siklus I
signifikan yaitu dari nilai persentase dapat dilihat pada grafik berikut:
kondisi awal 48,07% meningkat
menjadi 63,54%. Dengan demikian
hasil pelaksanaan tindakan siklus I

Grafik 2. Hasil Penilaian Kecerdasan Kinestetik Siklus I

Grafik diatas, menunjukkan terjadi peningkatan kecerdasan


bahwa dari 12 orang anak yang kinestetik dibandingkan dengan
mengikuti kegiatan pembelajaran pencapaian hasil pada pra siklus atau
melalui gerak dasar tari minang pada kondisi awal. Dengan ditandai
siklus I dua orang anak berada dalam dengan persentase kecerdasan
kategori berkembang sangat baik kinestetik anak memperoleh kategori
dengan skor (4) dan dengan skor (3) berkembang dengan pencapaian
10 orang kategori berkembang sesuai persentase akhir siklus I 63,54 %.
harapan. Jadi dengan demikian Anak yang mendapat skor tertinggi
242
Peningkatan Kecerdasan…
Restu Yuningsih

adalah KIL hal ini dapat dilihat dari dengan standar yang telah ditentukan
aspek keseimbangan, kekuatan dan dan lebih maksimal serta
kelenturan. Sedangkan hasil terendah memecahkan masalah yang belum
diperoleh oleh ADM dapat dilihat tuntas. Selain itu, pelaksanaan siklus
dari aspek koordinasi, keseimbangan, II akan membuat guru lebih terbiasa
kekuatan dan kelenturan. dalam memberikan pembelajaran
Oleh karena itu, peneliti dan kinestetik kepada anak-anak
kolaborator menyepakati untuk terutama dalam hal gerak dasar tari
melanjutkan ke siklus II. Hal ini minang.
dilakukan atas kesepakatan antara
Siklus II
peneliti dengan kolaborator. Hal ini
Adapun hasil asesmen setelah
juga dilakukan dengan pertimbangan
pemberian tindakan pada siklus II
agar peningkatan kecerdasan
adalah sebagai berikut:
kinestetik anak meningkat sesuai

Tabel 3. Hasil Siklus II Kecerdasan Kinestetik Anak

No Nama %
1 KIL 94,64
2 NIL 83,93
3 ADM 83,93
4 DNL 85,71
5 NIA 83,93
6 NJW 75
7 EJL 89,29
8 NUA 75
9 SIA 92,86
10 IDH 85,71
11 BJS 83,93
12 RAL 87,5
Rata-Rata Kelas 85,12

Berdasarkan tabel di atas, kinestetik pada siklus I 63,54%


menunjukkan bahwa nilai persentase dengan kategori berkembang sesuai
rata-rata peningkatan kecerdasan harapan meningkat pada siklus II
243
JURNAL PENDIDIKAN USIA DINI
Volume 9 Edisi 2, November 2015

menjadi 85,12% dengan kategori dicapai pada siklus II sudah


berkembang sangat baik. Dengan mencapai target.
hasil pelaksanaan siklus II Untuk melihat gambaran
mengalami peningkatan dan telah lebih jelas tentang peningkatan
mencapai target >71% pada kategori kecerdasan kinestetik setelah
berkembang sangat baik. Dengan dilakukannya siklus II dapat dilihat
demikian penelitian dihentikan pada pada grafik berikut:
siklus II karena hasilnya sudah

Grafik 3. Hasil Pencapaian Kecerdasan Kinestetik


Pada Akhir Siklus II

Grafik di atas, menunjukkan sangat baik dengan pencapaian


bahwa dari 12 orang anak yang persentase akhir siklus II 85,12%.
mengikuti kegiatan pembelajaran Anak yang memperoleh nilai
melalui pembelajaran gerak dasar tari tertinggi adalah KIL, hal ini
minang pada siklus II semua anak disebabkan oleh KIL memperoleh
berada dalam kategori berkembang telah mampu melakukan gerakan
sangat baik dengan skor (4). Jadi dengan baik pada setiap aspeknya.
dengan demikian terjadi peningkatan Anak yang terendah adalah NJW dan
hasil pada siklus II, dengan NUA. Dari hasil tersebut terlihat
persentase kecerdasan kinestetik adanya peningkatan yang terjadi, jadi
memperoleh kategori berkembang penelitian ini dihentikan pada siklus
244
Peningkatan Kecerdasan…
Restu Yuningsih

II karena secara keseluruhan sudah Di samping itu, pada akhir


mencapai target yang diharapkan pertemuan di siklus kedua peneliti
pada penelitian ini. Sehingga pada dan kolaborator melakukan
siklus II ini tidak dilakukan lagi, dari pengamatan tentang kecerdasan
hasil penelitian sudah mencapai kinestetik anak dengan menggunakan
ketetapan yang diharapkan yaitu instrumen yang sudah disediakan.
secara keseluruhan anak-anak sudah Dari hasil penilaian tersebut terlihat
menunjukkan progres yang bahwa kecerdasan kinestetik anak
signifikan dalam kecerdasan sudah mulai meningkat dari setiap
kinestetik melalui pembelajaran pertemuannya. Hal tersebut dapat
gerak dasar tari minang. Dimana dari dilihat dari tabel peningkatan
hasil yang telah dicapai pada siklus kecerdasan.
ini sudah secara keseluruhan >71%.

Table 4. kinestetik anak mulai dari pra siklus, siklus I


sampai siklus II
Nama Pra siklus Siklus I Peningkatan pra Siklus II Peningkatan
(%) (%) siklus ke siklus I (%) siklus I ke II
(%) (%)
KIL 60,71 78,57 17,86 94,64 16,07
NYL 46,43 57,14 10,71 83,93 26,79
ADM 44,64 53,57 8,93 83,93 30,36
DNL 46,43 57,14 10,71 85,71 28,57
NIA 41,07 60,71 19,64 83,93 23,22
NJW 46,43 62,5 16,07 75,00 12,5
EJL 48,21 64,29 16,08 89,29 25,00
NUA 42,86 58,93 16,07 75,00 16,07
SIA 57,14 73,21 16,07 92,86 19,65
IDH 44,64 66,07 21,43 85,71 19,64
BJS 50,00 62,5 12,5 83,93 21,43
RAL 48,21 67,86 19,65 87,5 19,64
Rata-rata kelas 48,21 63,54 85,12

245
JURNAL PENDIDIKAN USIA DINI
Volume 9 Edisi 2, November 2015

Berdasarkan data yang masing anak. Pembelajaran gerak


disajikan diatas, terlihat bahwa dasar tari minang dapat menjadi
terjadinya peningkatan kecerdasan salah satu strategi yang sangat cocok
kinestetik melalui pembelajaran dengan karakteristik anak usia dini,
gerak dasar tari minang. Dari rata- dimana anak menggunakan
rata kelas yang didapat pada pra imanjinasinya. Untuk itu peneliti
siklus 48,07% mengalami menggunakan strategi ini dalam
peningkatan yang signifikan setelah bentuk gerakan yang bermakna
dilakukannya tindakan pada siklus I sehingga mampu untuk
sebesar 63,54 % dan meningkat mengembangkan seluruh aspek dasar
menjadi 85,12 % pada siklus II. anak khususnya dalam meningkatkan
Terlihat bahwa KIL memperoleh kecerdasan kinestetik. Dengan
nilai tertinggi pada setiap siklus yang memperhatikan tahapan
terdiri dari pra siklus, siklus I dan perkembangan anak diharapkan
siklus II, KIL juga mendapat nilai strategi ini mampu untuk
tertinggi pada setiap aspek yaitu dipergunakan untuk kebutuhan
koordinasi, keseimbangan, kekuatan lainnya, seperti dapat menjadi
dan kelenturan, sedangkan NUA kegiatan untuk mengurangi
memperoleh nilai terendah pada ketegangan anak dalam mengikuti
setiap siklusnya. NUA memperoleh kegiatan pembelajaran yang
nilai terendah pada aspek koordinasi, cenderung lebih kaku dan formal.
keseimbangan dan kekuatan. Dengan Anak yang memiliki
demikian penelitian dihentikan pada kecerdasan kinestetik yang baik
siklus II karena hasil yang dicapai dengan sendirinya juga akan
sudah diatas target yang sudah memiliki kekuatan (strength) yang
ditetapkan yaitu >71%. relatif lebih baik dibandingkan
Berdasarkan tabel diatas dengan mereka yang kecerdasan
terlihat bahwa terjadi peningkatan kinestetiknya kurang (Cholik & Ali,
yang signifikan antara prasiklus, 2004:55). Berdasarkan data hasil
siklus I dan siklus II pada masing- observasi siklus II terlihat bahwa dari
246
Peningkatan Kecerdasan…
Restu Yuningsih

semua anak sudah mengalami berulang-ulang. Pada siklus I gerak


peningkatan kecerdasan kinestetik dasar tari minang ini dilakukan
yang mengacu pada kriteria sebanyak 8 kali pertemuan dan pada
keberhasilan tindakan. Keberhasilan siklus ke II dilakukan sebanyak 8
tindakan pada siklus II sangat kali pertemuan. Peran guru sebagai
dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu fasilitator, motivator, dan kolaborator
(1) sebelum memulai gerak dasar tari dalam penelitian ini akan lebih
minang, guru memberi penjelasan dimaksimalkan.
kepada anak tentang aturan dan Dilihat dari aspek
petunjuk, hal ini dilakukan supaya pertumbuhan dan perkembangan
anak lebih memahami gerakan yang jasmani anak, kegiatan gerak dasar
akan diajarkan oleh guru, selain itu tari minang secara tidak langsung
berdasarkan teori perkembangan bermanfaat melatih segenap fungsi
bahwa kinestetik merupakan suatu tubuh anak, seperti koordinasi,
kemampuan yang melibatkan keseimbangan, kekuatan dan
perasaan berupa pemberian kelenturan.
kesadaran atas posisi gerak dengan Hurlock (1990:156) juga
pengontrolan yang dilakukan oleh mengatakan bahwa masa kecil
otak. Kecerdasan kinestetik merupakan masa yang ideal untuk
berhubungan dengan gerakan tubuh mempelajari atau melatih kecerdasan
yang dihasilkan oleh otak berupa kinestetik anak. Ada beberapa alasan
pengetahuan tentang pengaturan yang dikemukakan mengapa hal
gerak tubuh (Gardner, 1983:210), (2) tersebut bisa terjadi, (1) tubuh anak
pada saat gerak dasar tari minang semakin kuat dan seimbang sehingga
anak melakukan dengan rasa senang, anak dengan mudah dapat menerima
sehingga semua gerak tari yang kegiatan fisik motorik, (2) anak
menyenangkan akan menghasilkan belum banyak memiliki keterampilan
proses kecerdasan kinestetik pada yang akan berbenturan dengan
anak. Pelaksanaan gerak dasar tari pengetahuan yang baru anak
minang dilakukan oleh anak secara dapatkan, (3) anak lebih berani
247
JURNAL PENDIDIKAN USIA DINI
Volume 9 Edisi 2, November 2015

mencoba, sehingga anak mempunyai dasar tari minang pada anak taman
motivasi yang sangat besar, (4) jika kanak-kanak dalam peningkatan
orang dewasa merasa bosan kecerdasan kinestetik untuk
melakukan pengulangan , berbeda meningkatkan aktifitas fisik secara
dengan anak-anak, mereka lebih optimal. Dari hasil persentase rata-
senang mengulang gerakan kembali rata pra siklus hanya menunjukkan
sehingga fisik anak semakin lama kecerdasan kinestetik anak sebesar
semakin terlatih, (5) anak memiliki 48,07%, setelah dilakukannya
tanggung jawab yang lebih kecil dari tindakan pada siklus I naik menjadi
orang dewasa, sehingga melakukan 63,54%, dan pada siklus II
suatu hal pengulangan tidak meningkat sesuai target yaitu
memberikan tekanan lain bagi anak. menjadi 85,12%. Dari keseluruhan
aspek yang diteliti aspek 4 yaitu
SIMPULAN kelenturan memperoleh hasil
Berdasarkan temuan dan tertinggi 68,92%, yang artinya
pembahasan, peneliti menyimpulkan hampir semua anak mampu
beberapa hal, diantaranya yaitu: (1) menguasai aspek ini dengan baik.
Proses gerak dasar tari minang untuk Sedangkan aspek kekuatan
meningkatkan kecerdasan kinestetik, memperoleh persentase rata-rata
dirancang berdasarkan kurikulum terendah 63,43 %. Dari hasil akhir
yang disesuaikan dengan sekolah dan siklus II anak yang memperoleh hasil
kebutuhan anak. Dengan melakukan tertinggi sebesar 94,64% diperoleh
penyederhanaan pada prosedur oleh responden KIL. Dapat
penerapan, skenario pembelajaran, disimpulkan KIL memperoleh nilai
kegiatan pengembangan tertinggi pada setiap aspek yang
pembelajaran anak, dan terdiri dari koordinasi,
penyederhanaan instrumen pengolah keseimbangan, kekuatan dan
data dalam bentuk satuan kegiatan kelenturan. Sedangkan yang terendah
pembelajaran. (2) Hasil dari dengan perolehan persentase rata-
pelaksanaan pembelajaran gerak rata 75 % diperoleh NUA. NUA
248
Peningkatan Kecerdasan…
Restu Yuningsih

memperoleh nilai terendah pada sekitar, baik dengan media


aspek koordinasi, keseimbangan dan permainan baru ataupun media
kekuatan. permainan yang ada di sekolah; (2)
Peningkatan kecerdasan Pengelola/penyelenggara PAUD,
kinestetik juga dapat dilihat dari skor Pengelolaan kelas yang optimal dan
item maupun skor hasil kecerdasan efektif sangat diperlukan dalam
kinestetik setiap anak. Hal ini kegiatan pembelajaran di taman
merupakan dampak dari kanak-kanak, apalagi kegiatan yang
pembelajaran gerak dasar tari minang dilakukan di luar kelas ketika
mampu memberikan suasana belajar menggunakan gerak dasar tari
yang sangat sesuai dengan minang; (3) Peneliti lain, hendaknya
karakteristik anak usia dini sehingga melakukan penelitian pengembangan
kegiatan pembelajaran lebih untuk mengetahui metode atau
menyenangkan dan bermakna kegiatan yang tepat untuk dapat
khususnya dalam pengembangan meningkatkan kecerdasan kinestetik
kemampuan koordinasi, anak.
keseimbangan, kekuatan dan
kelenturan. DAFTAR PUSTAKA
Gardner, Howard. Frame of Mind
The Theory of Multiple Intelligence.
SARAN
Amerika: basic books, 1983.
Berdasarkan kesimpulan Herdiana , Percaya Diri Dengan
Pencak Silat, Jakarta:PT
diatas, adapun saran yang dapat
Intimedia, 2008.
diberikan yaitu: (1) Guru, hendaknya Mills,Geoffrey, Action Research, A
Guide For The Teacher
guru lebih banyak memberikan
Researcher, New Jersey:
kesempatan kepada anak untuk Practice Hall, 2000.
Mutohir, Toho Cholik dan Gusril.
melakukan kegiatan yang bisa
Perkembangan Motorik pada
menstimulasi kecerdasan kinestetik Masa Anak-
Anak. Jakarta: Depdiknas, 2004.
anak dan guru lebih kreatif dalam
Suwirman, Pencak Silat Dasar,
mengkombinasikan berbagai Padang:UNP,1999.
kegiatan yang ada di lingkungan
249
JURNAL PENDIDIKAN USIA DINI
Volume 9 Edisi 2, November 2015

Soedarsono, Pengantar Komposisi Intelegences), Jakarta:


Tari, Yogyakarta: ASTI 1978. Kencana,2013.
Sujiono, Sujiono, Bermain Kreatif Yaumi, Muhammad,dkk, Action
Berbasis Kecerdasan Jamak Research Teori, Model, Dan
Jakarta:Indeks,2010. Aplikasi Jakarta:Kencana,2014.
Suyadi, Teori Pembelajaran Anak Yetti, Elindra, Meningkatkan
Usia Dini Dalam Kajian Kemampuan Anak Dalam
Neurosains Menari Tradisional
Bandung:Rosdakarya, 2014. Minangkabau Melalui
Yaumi,Muhammad, dkk, Penguasaan Dasar Gerak
Pembelajaran Berbasis Pencak Silat, Tesis Jakarta:PPS
Kecerdasan Jamak) Multiple UNJ.

250