Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah Ekonomi Islam untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama
Islam yang diampu oleh Ilham Wahyudi, S. Sy tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah ini kami upayakan semaksimal mungkin dan mendapat dukungan dari
berbagai pihak. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam merampungkan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat
kekurangan baik dari segi penyusunan Bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan
lapang dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberi
saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya, kami sangat berharap semoga makalah sederhana ini dapat diambil manfaatnya dan
besar keinginan kami dapat menambah pengetahuan pembaca dan menginspirasi pembaca
untuk mengangkat permasalahan lain yang relevan pada makalah-makalah selanjutnya.

Tangerang Selatan, 2018

Penulis

i
Daftar Isi
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................... i
Daftar Isi .................................................................................................................................................. ii
BAB I ........................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 1
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 1
1.4 Manfaat ......................................................................................................................................... 1
BAB II ....................................................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN ......................................................................................................................................... 2
2.1 Prinsip dan Nilai Ekonomi Islam .................................................................................................... 2
2.2 Transaksi-transaksi dalam Ekonomi Islam .................................................................................... 5
2.3 Ciri-ciri Etos Kerja Secara Islami .................................................................................................. 14
BAB III .................................................................................................................................................... 19
PENUTUP ............................................................................................................................................... 19
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................................. 19
3.2 Saran ........................................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semakin berkembangnya zaman, orang orang mulai kembali kepada prinsip prinsip
ekonomi syariah, yaitu prinsip ekonomi yang diajarkan oleh Rasulullah dan tertulis dengan
jelas di Al- Qur’an maupun Al-Hadits. Berkembangnya kesadaran masyarakat muslim
terhadap ekonomi berbasis syariat syariat Islam, berdampak kepada mulai munculnya sistem
perbankan yang syariah. Selain dalam dunia perbankan, system ekonomi yang berbasis syariah
juga mulai digalakkan dimana mana. Tingginya animo masyarakat muslim terhadapat system
yang berbasis syariah ini juga adalah salah satu sebab menjamurnya usaha usaha yang
berdasarkan pada syariat agama Islam, seperti minimarket, pegadaian, hingga asuransi.

1.2 Rumusan Masalah


Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana prinsip prinsip ekonomi
Islam dijalankan pada kehidupan sehari hari, mulai dari prinsip dan nilainya, jenis jenisnya,
cara penerapannya, hingga etos kerja yang sesuai dengan syariat Islam.

1.3 Tujuan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberi pengetahuan kepada para pembaca
tentang azas ekonomi dalam islam, termasuk jenis jenisnya, dalil dalil yang mendukung
kedudukannya, hingga cara penerapannya.

1.4 Manfaat
Agar pembaca senantiasa mengingat dan menjalankan ajaran ajaran Islam dalam kehidupan
kesehariannya dan terus mengingat dan berusaha dekat dengan Allah SWT sebagai eksistensi
yang hakiki.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Prinsip dan Nilai Ekonomi Islam


2.1.1 Prinsip Ekonomi Islam
1. Prinsip Tauhid
Tauhid atau keimanan adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia yang
merupakan sebuah bentuk atau wujud penghambaannya terhadap Allah SWT. Dalam
kegiatan perekonomian, setiap orang harus memegang erat atau menjadikan prinsip
ini sebagai pedoman agar kegiatan ekonomi berlangsung sesuai dengan yang ajaran
islam.1
2. Maslahah dan Falah
Falah dapat ditinjau dari dua dimensi, dimensi akhirat dan dimensi dunia.
Dari dimensi dunia, falah diartikan sebagai kelangsungan hidup, kebebasan dari
kemiskinan, kebebasan dari kebodohan, serta memiliki kekuatan dan sebuah
kehormatan.
Dari dimensi akhirat, falah diartikan sebagai sesuatu yang abadi dan mulia
contohnya seperti hidup sejahtera serta kekal abadi di akhirat.
Maslahah ialah sesuatu yang dapat membawa atau mendatangkan sebuah
manfaat untuk semua orang.
3. Prinsip Khalifah
Manusia merupakan hal yang menjalankan roda perekonomian. Hal ini menjadi
hal yang utama, dimana manusia harus menjalankan tugas dan amanahnya sebagai
khalifah di muka bumi ini. Prinsip dari khalifah ini yakni, manusia harus menerapkan
nilai-nilai keislaman dalam menjalankan perekonomian dengan tujuan memakmurkan
kehidupan di dunia ini.
4. Al-amwal (Harta)
Harta dalam bentuk apapun dan berapapun jumlahnya berarti semua itu hanya
milik Allah semata karena manusia hanya menjalankan amanah dari Allah. Manusia
hanya berperan sebagai mengolah dan menikmatinya saja namun semua itu akan
dipertanggungjawabkan oleh manusia di akhirat nanti.
5. Prinsip Adl (Keadilan)
Keadilan ialah perilaku yang menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya.
Prinsip ekonomi harus melayani semua masyarakat tanpa adanya diskriminatif, semua
masyarakat harus mendapatkan pelayanan yang baik.

1
http://blog.umy.ac.id/dilama/2017/02/22/nilai-nilai-ekonomi-dalam-islam/ , diakses pada 14 September
2018

2
6. Prinsip Ukhuwah (Persaudaraan)
Segala kegiatan ekonomi dilakukan dengan tujuan agar umat islam bersatu
dalam baris yang sama untuk memperoleh kesejahteraan dan kemakmuran yang sama.
Ekonomi syariah menekankan pada kehidupan sosial bukan individual, karena
manusia pada dasarnya hidup di dunia ini memiliki amanah yaitu bermanfaat bagi
manusia lain dan saling menjaga tali silaturrahmi.
7. Prinsip Akhlaq (Etika)
Setiap kegiatan ekonomi syariah berlandaskan oleh akhlak dan norma yang baik
yang sesuai dengan ajaran agama islam.
8. Ulil Amri (Pemimpin)
Dalam melaksanakan kegiatan perekonomian harus melibatkan pemerintah di
dalamnya, selain itu ekonomi syariah harus mentaati peraturan yang telah ditetapkan
oleh pemerintah selama itu tidak menyimpang dengan ajaran dan nilai-nilai dalam
islam.
9. Al-hurriyah dan al-Mas’uliyah
Al hurriyah berarti kebebasan dan al mas’uliyah berarti tanggung jawab. Dua
hal ini tidak dapat dipisahkan karena setiap adanya kebebasan harus ada
pertanggungjawaban yang baik
10. Berjamaah (Kerjasama)
Dalam ekonomi syariah kerjasama termasuk salah satu hal yang wajib
dilakukan, dalam perekonomian ketika hal apapun dilakukan secara kerjasama atau
berjamaah maka nilai ibadah ataupun harta akan semakin bertambah.

2.1.2 Nilai-nilai Ekonomi Islam


1. Nilai Dasar Kepemilikan
Menurut agama Islam, terdapat 3 macam kepemilikan yaitu kepemilikan
individual, kepemilikan oleh masyarakat, dan kepemilikan oleh negara. Semua
macam kepemilikan tersebut hanyalah bersifat relatif, yang artinya yaitu kepemilikan
yang mereka miliki bukanlah sepenuhnya milik dan hasil usaha mereka tetapi amanat
dan kepercayaan dari Allah kepada mereka yang harus dijaga, dipelihara, dan
dipergunakan sebaik-baiknya.2
2. Nilai Dasar Kebebasan
Dalam islam masalah kebebasan ekonomi adalah tiang pertama dalam dalam
strruktur pasar islam. Kebebasan di dasarkan atas ajaran- ajaran fundamental islam
atau dengan kata lain nilai dasar kebebasan ini merupakan konsekuensi logis , dari
ajaran tauhid dimana dengan pernyataan tidak ada tuhan selain allah, artinya manusia
terlepas dari ikatan perbudakan baik oleh alam maupun oleh manusia sendiri

2
http://www.akuntansilengkap.com/ekonomi/10-prinsip-dasar-ekonomi-syariah/ , diakses pada 14 September
2018

3
3. Nilai Dasar Keadilan
Keadilan yaitu memberikan setiap hak kepada para pemiliknya masing-masing
tanpa melebihkan maupun mengurangi. Dalam islam, keadilan dilihat dari sisi
kesesuaian dan ketidaksesuaian dengan ajaran agama seperti yang telah digariskan
pada Al-Quran dan As-Sunnah.
Firman allah dalam surat an-nahl ayat 90:
‫ان ِب ْال هعدْ ِل يهأ ْ ُم ُر َللاه ِإن‬
ِ ‫س‬ ِ ‫هاء هع ِن هويه ْن ههى ْالقُ ْربهى ذِي هو ِإيت‬
ِ ْ ‫هاء هو‬
‫اْلحْ ه‬ ِ ‫ظ ُك ْم ۚ هو ْالبه ْغي ِ هو ْال ُم ْنك ِهر ْالفهحْ ش‬
ُ ‫ذهك ُرونه هَت له هعل ُك ْم هي ِع‬
Artinya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran
dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil
pelajaran.
4. Nilai Dasar Keseimbangan
Nilai keseimbangan dalam islam sangat mendapat perhatian dan tekanan.
Keseimbangan tersebut antara kepentingan orang perorang dengan kepentingan
bersama, antara kepentingan dunia dan akhirat, antara jasmani dan rohani, antara
idealisme dan fakta, antara modal dan aktivitas, dan antara produksi dan konsumsi
serta sirkulasi kekayaan.
5. Nilai Dasar Persaudaraan dan Kebersamaan
Menurut islam, kebersamaan merupakan indikator dari keberimanan seseorang.
Nilai persaudaraan dan kebersamaan merupakan konsekuensi logis dari penunjukan
manusia sebagai khalifah karena penunjukan tersebut untuk semua orang. Sehingga
semua manusia secara potensial di mata Allah memiliki status, kedudukan, dan
martabat yang sama.

4
2.2 Transaksi-transaksi dalam Ekonomi Islam
2.3.1 Jenis transaksi
1. Jual Beli (Bai’ Al Murabahah)
Jual beli atau Bai’ Al Murabahah (disebut Al- Bayy dalam bahasa Arab)
memiliki makna menjual, mengganti, atau menukar (sesuatu dengan sesuatu
yang lain) dengan melakukan persetujuan saling mengikat antara penjual (pihak
yang menyerahkan barang ) dan pembeli (pihak yang membayar barang yang
dijual) yang dalam Islam berarti jual beli ketika penjual memberitahukan
kepada pembeli biaya perolehan dan keuntungan yang diinginkannya.
Hukum dasar jualbeli adalah halal, tetapi dalam kondisi tertentu dapat
berubah menjadi wajib, sunnah, makruh, bahkan haram. Allah telah berfirman dalam
surat An-Nisa' :29
َ ُ‫اض ِ ِّمن ُك ْم ۚ َو ََل تَ ْقتُلُوا أَنف‬
‫س ُك ْم ۚ ِإ َّن‬ ِ َ‫يَا أَيُّ َها ا َّلذِينَ آ َمنُوا ََل تَأ ْ ُكلُوا أ َ ْم َوالَ ُكم بَ ْي َن ُكم ِب ْالب‬
َ ‫اط ِل ِإ ََّل أ َن ت َ ُكونَ تِ َج‬
ٍ ‫ارة ً َعن ت ََر‬
]٤:٢٩[ ‫َّللاَ َكانَ بِ ُك ْم َر ِحي ًما‬ َّ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan
janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.
Dari ayat di atas jual beli dianggap sah apabila memenuhi rukun-rukunya
supaya transaksi ekonomi sesuai dengan syariat Islam.
Hadits Terkait Jual Beli :
Dari Rifa'ah Ibnu Rafi' bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam pernah ditanya: Pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau bersabda:
"Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual beli yang bersih."
Riwayat al-Bazzar. Hadits shahih menurut Hakim.
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila dua orang melakukan jual beli maka
masing-masing orang mempunyai hak khiyar (memilih antara membatalkan
atau meneruskan jual beli selama mereka belum berpisah dan masih bersama;
atau selama salah seorang di antara keduanya tidak menentukan khiyar pada
yang lain, lalu mereka berjual beli atas dasar itu, maka jadilah jual beli itu. Jika
mereka berpisah setelah melakukan jual beli dan masing-masing orang tidak
mengurungkan jual beli, maka jadilah jual beli itu." Muttafaq Alaihi. Dan
lafadznya menurut riwayat Muslim.

5
Rukun dan Syarat Jual Beli (Bai’ Al Murabahah)
Orang yang melakukan akad jual beli (Penjual dan Pembeli), Syaratnya :

 Berakal
 Balig
 Berhak Menggunakan Hartanya

Barang yang diperjualbelikan, memilik syarat :

 Barangnya merupakan barang halal


 Barang memiliki manfaat
 Barang sudah tersedia
 Kepemilikan atas barang jelas
 Zat, bentuk, kadar serta sifatnya diketahui kedua pihak

Nilai barang yang dijual memiliki syarat :

 Memiliki harga jual yang jelas dan pasti jumlahnya


 Nilai tukar barang dapat diserahkan pada saat transaksi
 Apabila transaksi dilaksanakan dengan barter (Al Muqayadah), maka tidak
boleh dengan barang yang haram.
o Sighat (ijab dan kabul)
 Ijab merupakan perkataan penjual pada saat transaksi dilakukan
 Kabul merupakan perkataan pembeli pada saat transaksi dilakukan
o Jenis Transaksi Jual Beli lainnya :
 Bissamanil Ajil, yaitu jual beli barang dengan harga yang berbeda antara
kontan dan angsuran.
 Salam, yaitu jual beli barang secara tunai dengan penyerahan barang ditunda
sesuai kesepakatan.
 Istisna, yaitu jual beli barang dengan pemesanan dan pembayarannya pada
waktu pengambilan barang.
 Isti’jar, yaitu jual beli antara pembeli dengan penyuplai barang.
 Ijarah, yaitu jual beli jasa dari benda (sewa) atau tenaga/keahlian (upah).
 Sarf, yaitu jual beli pertukaran mata uang antar Negara

6
2. Musyarakah (kerjasama)
Musyarakah sering juga disebut dengan istilah Syirkah, syarikat, serikat, dan
perseroan. sedangkan musyarakah sendiri dapat diartika kerjasama antara dua pihak
atau lebih untuk suatu usaha yang diantara pihak memberikan kontribusi (modal)
dengan kesepakatan keuntungan dan kerugian ditanggung bersama. Musyarakah
merupakan salah satu bentuk ta’awun (tolong menolong).
Terdapat beberapa bentuk akad dalam Musyarakah yang diantaranya adalah :

 Musyarakah, yaitu menggabungkan modal dalam suatu usaha yang hasil


keuntungannya dibagi berdasarkan proporsi modal yang ditanam.
 Mudarabah, yaitu pemberian modal dari pemilik modal (Mudharib) kepada
seseorang yang menjalankan modal (Shahibul Mal) dengan ketentuan bahwa
untung rugi ditanggung bersama sesuai dengan perjanjian.
 Muzara’ah dan Mukhabarah. Muzara’ah ialah paruhan hasil sawah antara
pemilik dan penggarap, benihnya berasal dari pemilik sawah. Jika benihnya dari
penggarap disebut Mukhabarah.
 Musaqah, yaitu paruhan hasil kebun antara pemilik dan penggarap, besar bagian
masing-masing sesuai dengan perjanjian pada waktu akad.

Hikmah dalam transaksi Musyarakah:

 Menjalin persaudaraan dan persatuan


 Mewujudkan tolong menolong antar sesama manusia
 Memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan
 Mengurangi pengangguran
 Melahirkan kemajuan dalam berbagai bidang.
 Menyelesaikan pekerjaan besar bersama untuk kepentingan umat.
 Memelihara dan meningkatkan kesuburan tanah pertanian.
 Mencegahan terjadinya lahan-lahan kritis.
 Memelihara dan melestarikan sumber daya alam.

3. Transaksi dengan Pemberian Kepercayaan


Transaksi Pemberian Kepercayaan adalah akad atau perjanjian mengenai
penjaminan hutang dengan pemberian kepercayaan.
Akad transaksi pemberian kepercayaan adalah sebagai berikut :

7
 Jaminan (Kafalah / Damanah), yaitu mengalihkan tanggung jawab seseorang
(yang dijamin) kepada orang lain (penjamin).
 Gadai (Rahn), yaitu menjadikan barang berharga sebagai jaminan yang mengikat
dengan hutang dan dapat dijadikan sebagai bayaran hutang jika yang berhutang
tidak mampu melunasi hutangnya.
 Pemindahan Hutang (Hiwalah), yaitu memindahkan kewajiban membayar
hutang kepada orang lain yang memiliki sangkutan hutang.

Landasan hukum

ِ َّ ‫ض ُك ْم َب ْعضًا فَ ْلي َُؤ ِدِّ الَّذِي اؤْ ت ُ ِمنَ أ َ َما َنتَهُ َو ْل َيت‬
ُ‫ق هللاَ َربَّه‬ ُ ‫ضةٌ فَإ ِ ْن أ َ ِمنَ َب ْع‬
َ ‫َان َم ْقبُو‬ ٌ ‫سفَ ٍر َولَ ْم ت َِجد ُوا كَا ِتبًا فَ ِره‬
َ ‫َو ِإ ْن ُك ْنت ُ ْم َعلَى‬
ُ ْ َ َّ َ ُ ْ َّ ‫َوَلَ ت َ ْكت ُ ُموا ال‬
‫ش َهادَة َ َو َم ْن يَكت ْم َها فإِنهُ َءاثِ ٌم قلبُهُ َوهللاُ بِ َما تَ ْع َملونَ َع ِلي ٌم‬
Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu`amalah tidak secara tunai) sedang
kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan
yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai
sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya
(hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu
(para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang
menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya;
dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Qs.2:283
4. Hutang Piutang
Transaksi utang piutang adalah akad atau perjanjian antara pihak yang
berhutang (peminjam) dan pihak yang berpiutang (yang meminjamkan).
Syarat Hutang Piutang :

 Yang berpiutang tidak meminta pembayaran melebihi pokok piutang (bunga).


 Peminjam tidak boleh menunda-nunda pembayaran utangnya.
 Barang (uang) yang diutangkan atau dipinjamkan adalah milik sah dari yang
meminjamkan.
 Pengembalian utang tidak boleh kurang nilainya.
 Disunahkan mengembalikan lebih dari pokok utangnya.

Hadist terkait hutang piutang :


Ruh seorang mukmin itu tergantung kepada utangnya hingga dibayarkan
utangnya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi)
“Sesungguhnya, apabila seseorang terlilit utang, maka bila berbicara ia akan dusta
dan bila berjanji ia akan pungkiri.” (HR. Bukhari, Muslim)

8
5. Titipan (Wadi’ah)
Wadi’ah adalah transaksi dimana suatu barang ditinggalkan oleh pemiliknya
untuk dijaga oleh orang lain yang sanggup menjaga barang tersebut.
Syarat Wadi’ah

 Barang yang dititipkan dapat dikenakan biaya penitipan sesuai dengan nilai
barang dan lamanya waktu penitipan.
 Barang yang dititipkan tidak boleh barang yang diharamkan dan/atau diperoleh
dengan cara yang haram.
 Barang titipan menjadi tanggung jawab penuh pihak penyedia jasa titipan
 Penyedia jasa titipan tidak boleh memanfaatkan barang.
 Barang titipan dapat dikembalikan kapan saja pemilik barang menghendakinya.

6. Transaksi Pemberian/ Perwakilan dalam Transaksi (Wakalah)


Wakalah adalah pemberian kuasa (mewakilkan) kepada pihak lain untuk
melakukan sebuah transaksi, atau pelimpahan kekuasaan oleh seseorang sebagai
pihak pertama kepada orang lain sebagai pihak kedua dalam hal-hal yang diwakilkan
(dalam hal ini pihak kedua) hanya melaksanakan sesuatu sebatas kuasa atau
wewenang yang diberikan oleh pihak pertama, namun apabila kuasa itu telah
dilaksanakan sesuai yang disyaratkan, maka semua resiko dan tanggung jawab atas
dilaksanakan perintah tersebut sepenuhnya menjadi pihak pertama atau pemberi
kuasa.
Syarat Transaksi Wakalah :
1. Orang yang mewakilkan (Al-Muwakkil) :

 Seseoarang yang mewakilkan, pemberi kuasa, disyaratkan memiliki hak untuk


bertasharruf pada bidang-bidang yang didelegasikannya. Karena itu seseorang
tidak akan sah jika mewakilkan sesuatu yang bukan haknya.
 Pemberi kuasa mempunyai hak atas sesuatu yang dikuasakannya, disisi lain juga
dituntut supaya pemberi kuasa itu sudah cakap bertindak atau mukallaf. Tidak
boleh seorang pemberi kuasa itu masih belum dewasa yang cukup akal serta pula
tidak boleh seorang yang gila. Menurut pandangan Imam Syafi’I anak-anak yang
sudah mumayyiz tidak berhak memberikan kuasa atau mewakilkan sesuatu
kepada orang lain secara mutlak. Namun madzhab Hambali membolehkan
pemberian kuasa dari seorang anak yang sudah mumayyiz pada bidang-bidang
yang akan dapat mendatangkan manfaat baginya.

9
2. Orang yang diwakilkan. (Al-Wakil) :

 Penerima kuasa pun perlu memiliki kecakapan akan suatu aturan-aturan yang
mengatur proses akad wakalah ini. Sehingga cakap hukum menjadi salah satu
syarat bagi pihak yng diwakilkan.
 Seseorang yang menerima kuasa ini, perlu memiliki kemampuan untuk
menjalankan amanahnya yang diberikan oleh pemberi kuasa. ini berarti bahwa ia
tidak diwajibkan menjamin sesuatu yang diluar batas, kecuali atas kesengajaanya,
3. Obyek yang diwakilkan :

 Obyek mestilah sesuatu yang bisa diwakilkan kepada orang lain, seperti jual beli,
pemberian upah, dan sejenisnya yang memang berada dalam kekuasaan pihak
yang memberikan kuasa.
 Para ulama berpendapat bahwa tidak boleh menguasakan sesuatu yang bersifat
ibadah badaniyah, seperti shalat, dan boleh menguasakan sesuatu yang bersifat
ibadah maliyah seperti membayar zakat, sedekah, dan sejenisnya. Selain itu hal-
hal yang diwakilkan itu tidak ada campur tangan pihak yang diwakilkan.
 Tidak semua hal dapat diwakilkan kepada orang lain. Sehingga obyek yang akan
diwakilkan pun tidak diperbolehkan bila melanggar Syari’ah Islam.
Shighat :

 Dirumuskannya suatu perjanjian antara pemberi kuasa dengan penerima kuasa.


Dari mulai aturan memulai akad wakalah ini, proses akad, serta aturan yang
mengatur berakhirnya akad wakalah ini.
 Isi dari perjanjian ini berupa pendelegasian dari pemberi kuasa kepada penerima
kuasa
 Tugas penerima kuasa oleh pemberi kuasa perlu dijelaskan untuk dan atas
pemberi kuasa melakukan sesuatu tindakan tertentu.

Hadist Terkait dengan transaksi Wakalah :

“Bahwasanya Rasulullah mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang Anshar


untuk mewakilkannya mengawini Maimunah binti Al Harits”. HR. Malik dalam al-
Muwaththa’)

“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian


yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin
terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal
atau menghalalkan yang haram.” (HR Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf)

10
2.3.2 Riba’
Riba’ adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli
maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip
muamalat dalam Islam.

Hadits Terkait tentang Riba’ :

Rasulullah melaknat orang yang memakan riba,


yang mewakilinya, penulisnya, dan kedua saksinya dan Rasul berkata :
mereka semua berdosa". (HR. Muslim)

Hadits riwayat Sahal bin Abu Hatsmah ra, Bahwa Rasulullah saw.
melarang penjualan kurma basah dengan kurma kering, beliau bersabda:
Demikian itu adalah riba’ yang ada dalam muzabanah, hanya saja beliau
memberi keringanan dalam penjualan secara Ariah, yaitu satu atas. dua buah
pohon kurma diambil oleh suatu keluarga dengan cara ditaksir dengan kurma
kering lalu mereka makan buahnya yang masih setengah matang. (Shahih
Muslim No.2842)

Sebab-Sebab Diharamkannya Riba :

 Dapat menimbulkan eksploitasi (pemerasan) oleh pemegang modal besar (kaya)


kepada orang yang terdesak ekonominya.
 Dapat menciptakan dan mempertajam jurang pemisah antara si kaya dan si
miskin.
 Dapat menimbulkan sifat rakus dan tamak yang mengakibatkan orang tidak
mampu bertambah berat bebannya.
 Dapat memutuskan tali persaudaraan terhadap sesama muslim karena
menghilangkan rasa tolong-menolong.

Macam-Macam Riba :

 Riba’ Fadli, yaitu tukar menukar dua barang sejenis tetapi


tidak sama ukurannya.
 Riba’ Qordli, yaitu meminjamkan barang dengan syarat ada keuntungan bagi
yang meminjamkan
 Riba’ Nasi'ah, yaitu tambahan yang disyaratkan dari 2 orang yang mengutangi
sebagai imbalan atas penangguhan (penundaan) utangnya.

11
 Riba’ Yad, yaitu riba dengan sebab perpisah dari tempat aqad jual beli
sebelum serah terima antara penjual dan pembeli.

2.3.3 Prinsip Pelaksanaan Transaksi Islami


Untuk dapat menerapkan ekonomi islam secara teknis ada beberapa hall prinsip
yang harus diperhatikan dan dipegang terus oleh umat islam. Prinsip dasar ini menjadi
patokan dalam perkembangan ilmu ekonomi dan transaksinya kapanpun dan
dimanapun walau zaman sudah berganti. Perkembangan teknologi dan juga berbagai
ilmunya menuntut bahwa manusia harus berpegang pada prinsip.
1. Adanya Akad atau Perjanjian
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. dihalalkan bagimu
binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan
tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya
Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (QS Al Maidah :
1)
Di dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa manusia harus memenuhi akad. Hal
ini juga berlaku dalam hal ekonomi. Akad atau perjanjian juga harus dilaksanakan
sebelum adanya transaksi. Untuk itu, dalam proses transaksi pasti akan selalu ada
kesepakatan mulai dari penentuan harga, kualitas barang, syarat-syarat penjualan dan
pembelian barang, dsb.
Akad ini dilakukan bukan saja hanya karena untuk formalitas, melainkan
menjamin hak-hak dari setiap orang agar transaksi ekonomi tidak ada yang dirugikan
sama sekali. Akad ini juga berfungsi agar satu sama lain bisa menjalankan dengan
keterbukaan dan transapransi, sehingga di lain waktu tidak ada yang merasa dirugikan
atau dibohongi.
2. Berniaga dengan Jalan Suka sama Suka
Dalam sebuah transaksi termasuk pada transaksi ekonomi, maka
pelaksanaannya harus dilakukan karena suka sama suka. Dalam transaksi tersebut
tidak boleh ada paksaan ataupun hati yang tidak ikhlas ketika melakukannya. Hal ini
didasarkan kepada ayat berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An Nisa : 29)
Untuk itu, menjalankan transaksi menurut islam harus dilakukan dengan suka
sama suka. Tidak ada yang terdzalimi, paksaan, apalagi ancaman dalam
melakukannya. Agar suka sama suka, maka transaksi tersebut harus dilakukan oleh
orang yang sadar, berakal, dan juga bisa memilah-milih sesuai dengan kebutuhannya.
3. Larangan Penipuan
“Nabi Muhammad SAW melarang jual beli yang mengandung penipuan.” (HR.
Muslim)

12
Hadist di atas menunjukkan bahwa kita dilarang untuk melakukan jual beli yang
bersifat mengandung penipuan. Ketidakjujuran, seperti membohongi kualitas barang,
membayar tidak utuh, berjanji dan tidak ditepati dan sebagianya termasuk ke dalam
penipuan yang jelas berdosa jika dilakukan.
Selain itu, harta yang dijalankan dari proses tersebut tentu adalah harta yang
halal dan tidak berkah. Penipuan hanya membuat efek bahagia sementara sedangkan
transaksi tersebut justru membawa efek mudharat mereka sendiri, sepeti,tidak akan
dipercaya, membangun moral yang buruk, dan hilangnya keimanan pada titik tertentu.

4. Prinsip Akuntansi dan Kejelasan Transaksi


Prinsip transaksi ekonomi islam yang terakhir adalah adanya pencatatan dan
kejelasan transaksi. Prinsip ini harus dilakukan agar tidak ada konflik, merasa tertipu,
atau pelaku transaksi yang kabur. Untuk itu Allah mengatakan bahwa hendaklah ada
saksi atau pencatatan yang dipercaya agar transaksi ekonomi dapat dibuktikan dan
tidak lupa begitu saja.
Misal dalam peminjaman hutang, maka baiknya ada pencatatan dan juga
pembuktian bahwa kita pernah membeli atau memberikan uang kepada siapa,
ditanggal kapan, dan saksi yang dapat dipercaya. Untuk hari ini, saksi sudah dapat
berkembang, adanya Mesin Print, CCTV, rekaman scanning, dsb bisa membuktikan
transaksi seseorang. Hal ini bisa mencagah manusia untuk berbuat kejahatan dan
melakukan penipuan. Tentu saja akan mudah diketahui jika melakukan penipuan.

13
2.3 Ciri-ciri Etos Kerja Secara Islami
Etos berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang artinya sikap, kepribadian,
watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Etos kerja adalah sikap yang muncul
atas kehendak dan kesadaran sendiri yang didasari oleh sistem orientasi nilai budaya
terhadap kerja (Sukardewi, 2013:3).3 Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi
juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan,
pengaruh budaya, serta sistem nilai yang diyakininya (Tasmara, 2002:15)4.
Beberapa pengertian etos kerja menurut para ahli adalah sebagai berikut:
Sinamo (2011:26): Etos kerja adalah seperangkat perilaku positif yang berakar
pada keyakinan fundamental yang disertai komitmen total pada paradigma kerja yang
integral5.
Panji Anoraga (2001:29): Etos kerja adalah pandangan dan sikap suatu bangsa
atau umat terhadap kerja, oleh karena itu menimbulkan pandangan dan sikap yang
menghargai kerja sebagai suatu yang luhur, sehingga diperlukan dorongan atau
motivasi6.
Madjid (2000:410): Etos kerja ialah karakteristik dan sikap, kebiasaan, serta
kepercayaan dan seterusnya yang bersifat khusus tentang seseorang individu atau
sekelompok manusia7.
Berikut ini adalah ciri-ciri etos kerja menurut Islam
1. Kecanduan terhadap waktu
Seseorang yang etos dalam bekerja adalah mereka yang kecanduan
terhadap waktu. Mereka dapat memahami, menghayati, dan merasakan betapa
berharganya waktu. Waktu merupakan hal paling berharga yang dianugerahkan
Allah SWT secara gratis dan merata kepada setiap manusia. Mereka yang etos
kerja dapat memanajemen dan menggunakan waktu dengan baik. Bagi mereka
waktu adalah kekuatan. Mereka yang mengabaikan waktu berarti menjadi
budak kelemahan.
Sebagai mana Firman Allah SWT
“Demi waktu, sesungguhnya manusia pasti dalam kerugian, kecuali
mereka yang beriman dan beramal saleh, saling berwasiat dalam kebaikan dan
dalam kesabaran.” (Al-ashr:1-3)

3
Sukardewi, Nyoman, et. all. 2013. Kontribusi Adversity Quotient (AQ) Etos Kerja dan Budaya Organisasi
terhadap Kinerja Guru SMA Negeri di Kota Amlapura. Jurnal Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala,
volume 4, hlm. 3.
4
Tasmara, Toto. 2002. Membudayakan Etos Kerja Islam.Jakarta: Gema Insani Press, hlm. 15.
5
Sinamo, Jansen. 2011. Delapan Etos Kerja Profesional. Jakarta: Institut Mahardika, hlm. 26.
6
Panji Anaraga. 2001. Psikologi Kerja. Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 29.
7
Madjid, N. 2000. Masyarakat Religius. Jakarta: Pavamadina, hlm. 410.

14
2. Memiliki moralitas yang bersih (ikhlas)
Salah satu kompetensi moral yang dimiliki seseorang yang berbudaya
kerja islami itu adalah nilai keikhlasan. Ikhlas adalah ketulusan hati, merelakan
apa yang telah terjadi dan tidak mengingat-ingatnya lagi.
Ikhlas itu merupakan energi batin yang akan membentengi diri dari segala
bentuk yang kotor (rizsun). Allah berfirman “Warrujza fahjur’ dan
tinggalkanlah segala bentuk yang kotor”. (Al-muddatstsir: 5)
3. Jujur
Pribadi muslim adalah tipe menusia yang terkena kecanduan kejujuran
dalam keadaan apapun. Jujur adalah lurus hati, tidak berbohong, dan tidak
curang, serta berintegritas. Seperti yang kita ketahui bahwa seorang calon
aparatur sipil negara kita diharapkan untuk memiliki integritas yang tinggi.
Sekali dia berbuat jujur atau berbuat amal saleh prestatif dirinya bagaikan
ketagihan untuk mengulangi dan mengulanginya lagi. Dia terpenjara dalam
cintanya kepada Allah.
4. Berkomitmen
Komitmen adalah keyakinan yang mengikat sedemikian kukuhnya
sehingga membelenggu seluruh hati nuraninya dan kemudian menggerakkan
perilaku menuju arah tertentuyang diyakininya. Satu catatan yang harus kita
pahami betul bahwa dalam komitmen tergantung sebuah tekad dan keyakinan.
5. Istiqomah Kuat Pendirian
Pribadi muslim yang profesional dan berakhlak memiliki sikap konsisten,
yaitu kemampuan untuk bersikap taat asas, pantang menyerah, dan mampu
mempertahankan prinsip serta komitmennya walau harus berhadapan dengan
resiko yang membahayakan dirinya. Konsisten disini dalam artian tidak
berubah-ubah dan tetap di jalan yang benar. Jika sebelumnya berada di sebuah
kesalahan, kita harus berubah menjadi yang lebih baik dan setelahnya
berkonsisten di kebaikan tersebut.
6. Disiplin
Erat kaitannya dengan konsisten adalah sikap berdisiplin, yaitu
kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tenang dan tetap taat walaupun
dalam situasi yang sangat menekan. Disiplin adalah masalah kebiasaan. Disiplin
tidak bias dibentuk dalam waktu yang singkat, tapi merupakan bentukan
kebiasaan sejak kita kecil, kemudian perilaku tersebut dipertahankan pada
waktu remaja dan dihayati maknanya diwaktu dewasa dan dipetik hasilnya.
7. Konsekuen dan berani menghadapi tantangan
Ciri lain dari pribadi muslim yang memiliki budaya kerja adalah
keberaniannya menerima konsekuensi dan keputusannya. Bagi mereka hidup
adalah pilihan dan setiap pilihan merupakan tanggung jawab pribadinya.

15
8. Percaya Diri
Pribadi muslim yang percaya diri tampil bagaikan lampu yang benderang.
Memancarkan raut wajah yang cerah dan berkharisma. Orang yang berada
disekitarnya merasa tercerahkan, optimis, tenteram, dan muthma’innah. Orang
yang percaya dirinya umumnya memiliki sikap berani untuk menyatakan
pendapat, mampu menguasai emosinya dan mereka memiliki independensi
yang sangat kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh orang lain.
9. Kreatif
Pribadi muslim yang kreatif selalu memiliki inovasi dan terobosan baru
dan ingin mencoba metode atau gagasan baru dan asli sehingga diharapkan hasil
kinerja dapat dilaksanakan secara efisien, tetapi efektif. Goldmen menjelaskan
bahwa orang kreatif memiliki ciri-ciri: kuatnya motivasi untuk berprestasi,
komitmen, inisiatif dan optimis.
10. Bertanggungjawab
Bertanggung jawab adalah sikap dan tindakan seseorang di dalam
menerima sesuatu sebagai amanah, dengan penuh rasa cinta, ia ingin
menunaikannya dalam bentuk pilihan-pilihan yang melahirkan amal prestatif.
11. Mereka bahagia karena melayani
Melayani dengan cinta, bukan karena tugas atau pengaruh dari luar,
melainkan benar-benar sebuah obsesi yang sangat mendalam bahwa aku
bahagia karena melayani.
12. Memiliki harga diri
Aparat yang profesional dan berakhlak akan berpikir dalam format tiga
dimensi, yaitu konsep diri, citra diri dan harga diri. Konsep diri merupakan
rujukan utama bagi hidup seseorang. Citra diri adalah penilaian atas dirinya
sendiri, sejauh mana perasaan terhadap dirinya sendiri, bagaimana penilaian
dirinya dihadapan orang lain, peran dan kesan apa yang ingin ia ciptakan atau
dia harapkan dari orang lain. Sedangkan harga diri adalah penilaian menyeluruh
mengenai diri sendiri, bagaimana ia menyukai pribadinya, harga diri
mempengaruhi kreativitasnya, dan bahkan apakah ia menjadi pemimpin atau
pengikut.
13. Memiliki jiwa kepemimpinan
Memimpin berarti mengambil peran secara aktif untuk mempengaruhi
dirinya sendiri dan memberikan inspirasi teladan bagi orang lain. Sedangkan
kepemimpinan berarti kemampuan untuk mengambil posisi dan sekaligus
mengambil peran sehingga kehadairan dirinya memebrikan pengaruh pada
lingkungannya.
14. Berorientasi ke masa depan
Rasulullah bersabda dengan ungkapannya yang paling indah, “bekerjalah
untuk duniamu seakan-akan engaku akan hidup selama-lamanya dan
beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”.

16
15. Hidup berhemat dan efisien
Dia akan selalu berhemat karena seorang mujahid adalah seorang pelari
marathon, lintas alam, yang harus berjalan dan jarak jauh. Karenanya, akan
tampaklah dari cara hidupnya yang sangat efisien di dalam mengelola setiap
“resources” yang dimilikinya. Dia menjauhkan sikap yang tidak produktif dan
mubazir karena mubazir adalah sekutunya setan.
16. Memiliki jiwa wiraswasta
Dia memiliki jiwa wiraswasta yang tinggi, yaitu kesadaran dan
kemampuan yang mendalam untuk melihat segala fenomena yang ada di
sekitarnya, merenung dan kemudian bergelora semangatnya untuk mewujudkan
setaip perenungan batinnya dalam bentuk yang nyata dan realistis.
17. Memiliki insting bertanding
Semangat bertanding merupakan sisi lain dan citra seorang muslim yang
memiliki semangat jihad. Panggilan untuk bertanding dalam segala lapangan
kebajikan dan meraih prestasi, dihayatinya dengan rasa penuh tanggung jawab.
18. Mandiri
Keyakinan akan nilai tauhid penghayatannya terhadap ikrar iyyaka
na’budu, menyebabkan setiap pribadi muslim yang memiliki semangat jihad
sebagai etos kerjanya adalah jiwa yang berbeda. Karena sesungguhnya daya
inovasi dan kreativitas hanyalah terdapat pada jiwa yang merdeka, sedangkan
jiwa yang terjajah akan terpuruk dalam penjara nafsunya sendiri, sehingga dia
tidak pernah mampu mengaktualisasikan aset, kemampuan, serta potensi
ilahiahnya yang sungguh sangat besar nilainya.
19. Kecanduan belajar dan haus ilmu
Setiap pribadi muslim diajarkan untuk mampu membaca lingkungan
mulai dari mikro (dirinya sendiri) sampai pada yang makro (universe), bahkan
memasuki ruang yang lebih hakiki yaitu metafisik, falsafah keilmuan dengan
menempatkan dirinya pada posisi sebagi subjek yang mampu berpikir radikal,
yaitu mempertanyakan, menyangsikan, dan kemudian mengambil kesimpulan
untuk memperkuat argumentasi keimananannya.
20. Memiliki semangat perantauan
Salah satu ciri pribadi muslim yang memiliki etos kerja adalah suatu
dorongan untuk melakukan perantauan. Mereka ingin menjelajahi hamparan
bumi, memetik hikmah, mengembil pelajaran dari berbagai peristiwa budaya
manusia.
21. Mempertahankan kesehatan dan gizi
Dia sangat memperhatikan sabda Rasulullah, saw “Sesungguhnya
jasadmu mempunyai hak atas dirimu”, yang tentu saja konsekuansinya harus
dipelihara dan diperhatikan sesuai dengan ukuran-ukuran normative kesehatan.

17
22. Tangguh dan pantang menyerah
Keuletan merupakan modal yang sangat besar di dalam menghadapi
segala tantangan dan tekanan, sebab sejarah telah banyak membuktikan betapa
banyak bangsa yang mempunyai sejarah pahit, namun akhirnya dapat keluar
dengan berbagai inovasi, kohesivitas kelompok, dan mampu memberikan
prestasi yang tinggi bagi lingkungannya.
23. Berorientasi pada produktivitas
Seorang muslim itu seharusnya sangat menghayati makna yang
difirmankan Allah, yang dengan sangat tegas melarang sikap mubazir karena
kemubaziran itu adalah benar-banar temannya setan. Dengan penghayatan ini,
tumbuhlah sikap konsekuan dalam bentuk perilaku yang selalu mengarah pada
cara kerja yang efisien.
24. Memperkaya jaringan silaturahmi
Bersilaturahmi berarti membuka peluang dan sekaligus mengikat simpul-
simpul informasi dan menggerakkan kehidupan. Manusia yang tidak atau
enggan berilaturahmi untuk membawa cakrawala pergaulan sosialnya atau
menutup diri dan asyik dengan dengan dirinya sendiri, pada dasarnya dia sedang
mengubur masa depannya. Dia telah mati sebelum mati.
25. Mereka memiliki semangat perubahan
Pribadi yang memiliki etos kerja sangat sadar bahwa tidak aka nada satu
makhluk pun di muka bumi ini yang mampu mempengaruhi dirinya kecuali
dirinya sendiri! Intinya dia mampu menjadi motivasi buat dirinya sendiri.

18
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hal-hal yang dapat kami simpulkan dari pembahasan pada bab II adalah ekonomi islam
terdiri dari 10 prinsip, diantaranya adalah Tauhid, Maslahah dan Falah, serta Khalifah. Ekonomi
islam memiliki 5 nilai, yaitu kepemilikan, keadilan, keseimbangan, kebebasan dan
persaudaraan dan kebersamaan. Transaksi dalam ekonomi islam ada 6, salah satunya adalah
jual beli. Dalam bertransaksi, terdapat 4 prinsip yang dipegang teguh, salah satunya adalah
prinsip larangan penipuan. Untuk ciri seorang yang etos dalam bekerja menurut islam ada 25,
salah satunya adalah disiplin, kreatif, dan bertanggungjawab.

3.2 Saran
Menurut kami, ekonomi berbasis syariat Islam di Indonesia, masih belum dapat
diterapkan dengan sempurna. Kondisi masyarakat muslim yang heterogen adalah salah satu
penyebabnya, disamping itu, masih banyak masyarakat muslim yang memiliki kesadaran
minim tentang pentingnya menerapkan nilai nilai ekonomi syariah dalam kehidupan
bermasyarakat. Meskipun begitu, kondisi masyarakat yg heteogen seharusnya tidak menjadi
halangan, dan malah harus kita rangkul karena keberagaman memberi warna pada kehidupan
Bhinneka Tunggal Ika.

19
DAFTAR PUSTAKA

Anaraga, Panji. 2001. Psikologi Kerja. Jakarta: Rineka Cipta.


http://www.akuntansilengkap.com/ekonomi/10-prinsip-dasar-ekonomi-syariah/ ,
diakses pada 14 September 2018
http://blog.umy.ac.id/dilama/2017/02/22/nilai-nilai-ekonomi-dalam-islam/ , diakses
pada 14 September 2018
http://gudangilmusyariah.blogspot.com/2013/09/nilai-nilai-dasar-sistem-ekonomi-
islam.html , diakses pada 14 September 2018
Madjid, N. 2000. Masyarakat Religius. Jakarta: Pavamadina.
Sinamo, Jansen. 2011. Delapan Etos Kerja Profesional. Jakarta: Institut Mahardika.
Sukardewi, Nyoman, et. all. 2013. Kontribusi Adversity Quotient (AQ) Etos Kerja dan
Budaya Organisasi terhadap Kinerja Guru SMA Negeri di Kota Amlapura. Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, volume 4.
Tasmara, Toto. 2002. Membudayakan Etos Kerja Islam. Jakarta: Gema Insani Press

20