Anda di halaman 1dari 16

 BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Eliminasi fekal adalah proses


pembuangan sisa metabolisme tubuh berupa bowel (feses). Pengeluaran fe...
 Perkembangan Antropologi Kesehatan

KATA PENGANTAR Om Swastyastu, Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat


Tuhan Yang Maha Esa,atas segala limpahan rahmat dan karunianya se...

 antropologi kesehatan

MENGURAIKAN KONSEP DASAR ANTROPOLOGI KESEHATAN I MADE


DWIJANATA KUSUMADANA (10.321.0951) A4’F STIKES WIRA MEDIKA PPNI
BALI ...

 (tanpa judul)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Warna kuning keemasan dalam urin
pernah dianggap berasal dari emas. Para ahli kimia menghabiskan ba...

 anatomi

TULANG Rangka tubuh manusia terdiri dari bentuk tulang yang saling berhubungan.
tulang-tulang itu dibedakan menjadi 3 bagian yaitu : 1. c...

 Enak Bukan Berarti Sehat

ENAK BUKAN BERARTI SEHAT Sehat merupakan idaman bagi semua orang. Semua
orang menginginkan memakan-makanan yang enak, tetapi dibalik makan...

 KEPERAWATAN

TEORI BELAJAR BERFIKIR DEWASA I MADE DWIJANATA KUSUMADANA


(10.32...

 DHF

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) DEFINITION DHF or DENGUE HEMORRHAGIC


FEVER is acute infection which caused by dengue virus with clinical ...

Kamis, 21 April 2011


Perkembangan Antropologi Kesehatan

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,atas segala limpahan rahmat
dan karunianya sehingga makalah yang berjudul “Perkembangan Antropologi Kesehatan” dapat
diselesaikan dengan tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan ini saya menyajikan penjelasan materi perkembangan anropologi kesehatan.
Saya juga berterimakasih kepada dosen serta teman-teman yang telah membantu dalam
pembuatan laporan ini.
Laporan ini disusun sebagai rasa tanggung jawab memenuhi tugas social budaya. Kami mohon
maaf apabila ada kekeliruan dalam penulisan laporan ini.Kami mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dalam penulisan laporan selanjutnya.

Om Santih,Santih,Santih Om

Denpasar,4 April 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
...............................................................................................................................i
DAFTAR ISI
...........................................................................................................................................ii

BAB I : PENDAHULUAN .........................................................................................................1


BAB II : Perkembangan Antropologi Kesehatan.....................................................................3
A. Hubungan Antara Sosial Budaya dan Biologi yang Merupakan Dasar Dari Perkembangan
Antropologi Kesehatan..............................................................11
B. Perkembangan Antropologi Kesehatan Dari Sisi Sosialcultural Pole..................12
C. Perkembangan Antropologi Kesehatan Dari Sisi Biological Pole........................12
D. Beda Antara Perkembangan Antropologi Kesehatan Biological Pole dan Sosialcultural
Pole...............................................................................................13
E. Kegunaan Antropologi Pole................................................................................15

BAB III : PENUTUP ..................................................................................................................16


BAB I
Pendahuluan

Secara teoritis dan praktis, antropologi kesehatan sebagai ilmu akan memberikan suatu
sumbangan pada pengemban pelayanan kesehatan, termasuk didalamnya obstetri ginekologi
sosial. Bentuk dasar sumbangan keilmuan tersebut berupa pola pemikiran, cara pandang atau
bahkan membantu dengan paradigma untuk menganalisis suatu situasi kesehatan, berdasarkan
perspektif yang berbeda dengan sesuatu yang telah dikenal para petugas kesehatan saat ini.
Sejarah keilmuan yang sedang dipelajari bermula dari filsafat sebagai “mother of science” dalam
ilmu yang mempelajari manusia terdiri dari: sosiologi, antropologi dan psikologi. Dalam
perkembangan dan penerapan keilmuan selanjutnya ketiga ilmu ini dikategorikan sebagai ilmu
perilaku. Secara khusus, sosiologi dan antropologi mempelajari manusia, dengan titik berat
sebagai mahluk bermasyarakat. Sedangkan, psikologi adalah suatu ilmu yang mempelajari
tentang aspek-aspek kepribadian individu (lebih ke arah sosok manusia itu sendiri) dalam
berinteraksi dengan masyarakatnya.
Seringkali agak sulit membedakan secara tegas antropologi dan sosiologi bagi ilmuwan eksakta
atau yang kurang banyak berkecimpung dalam memahami ilmu sosial. Obyek material kedua
ilmu memang memiliki persamaan, yaitu antropologi dan sosiologi merupakan ilmu yang
mempelajari dan memahami manusia sebagai bagian dari suatu kelompok atau masyarakat.
Demikian pula dengan data dan model atau teori bisa saling meminjam, artinya bisa sendiri
ataupun bersama-sama digunakan dalam bahasan antropologi kesehatan ataupun sosiologi
kesehatan.
Dengan berdasar pada sejarah keilmuan yang berbeda, awalnya antropologi kesehatan lebih
menekankan perhatian pada dunia non Barat/dunia Timur (Non Western World). Perhatian
peneliti antropologi mulanya tentang adanya perilaku kesehatan di beberapa negara non Western
yang berbeda menurut pengamatan orang-orang Western sebagai respon rasional yang berbeda.
Metode perbandingan yang biasa digunakan oleh para ilmuwan antropologi telah memberikan
pandangan terhadap dinamika perilaku sehat berdasar perspektif budaya masyarakat yang
diamati. Sedangkan sosiologi kesehatan lebih banyak melakukan kajian pada dunia Barat
(Western World). Meskipun dalam perkembangan selanjutnya, kedua ilmu ini saling
bekerjasama mengarah ke ilmu perilaku dalam mengembangkan kesehatan masyarakat.
Meskipun mempunyai beberapa kesamaan, diantaranya sasaran yang sama, tetapi antropologi
dan sosiologi mempunyai sudut pandang yang berbeda atau pengkajian yang berbeda secara
obyek forma. Sumber perbedaan antara lain: masalah pokok, kerangka konseptual dan metode
penelitian. Antropologi lebih menekankan pada aturan manusia (nilai/norma, unsur-unsur budaya
yang mempengaruhi peranserta, pandangan dan penghayatan individu terhadap penyakit dan
proses penyembuhannya). Sedangkan sosiologi lebih menekankan kepada aturan yang besar
(aturan sosial, peran serta masyarakat, struktur sosial, solidaritas kelompok).
Perhatian dan Perkembangan Antropologi Kesehatan
Sebenarnya bukan hal baru tentang suatu pernyataan bahwa ilmu sosial memberikan sumbangan
ke ilmu kedokteran. Dimana berdasarkan biomedical awalnya untuk melihat manusia dari sisi
penyakit, sedangkan sociomedicine untuk melihat manusia dari pasiennya sendiri.
Perkembangan antropologi kesehatan sehubungan dengan fenomena konsep sehat dan sakit dapat
dilihat dari faktor berikut:
1. Biologis dan ekologis, disebut, sebagai kutub biologi dengan mengamati pertumbuhan dan
perkembangan manusia maupun penyakit perkembangan penyakit dalam evolusi ekologis.
Kajian ini didukung ilmu-ilmu lain seperti genetika, anatomi, serologi, biokimia;
2. Psikologis dan sosial budaya, disebut sebagai kutub sosial mengamati perilaku sakit pada
pasien, mempelajari etnomedisin, petugas kesehatan dan profesionalisme, hubungan perawat-
dokter-pasien-petugas farmasi. Kajian ini didukung ilmu-ilmu seperti psikologi, sosiologi,
administrasi, politik, komunikasi, bahasa, kesehatan masyarakat, pendidikan kesehatan.

BAB II
Sejarah Perkembangan Antropologi Kesehatan

A. Definisi Antropologi
Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya
masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-
orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal
di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih
memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan
masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada
sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.
Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti "manusia", dan logos yang berarti ilmu.
Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Para ahli
mendefinisikan antropologi sebagai berikut:

William A. Haviland
Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang
bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap
tentang keanekaragaman manusia.

David Hunter
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia
.
Koentjaraningrat
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari
aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi,
yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan
(cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang
satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

B. Sejarah Perkembangan Antropologi


Seperti halnya Sosiologi, Antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan
dalam perkembangannya.Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi
empat fase sebagai berikut:

1. Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)


Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi. Sekitar abad ke-15-16, bangsa-
bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika,
Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru.
Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan
dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka
mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri
fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi
tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnogragfi atau deskripsi
tentang bangsa-bangsa.Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa.
Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi
suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha
untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.

2. Fase Kedua (tahun 1800-an)


Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan
berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan
berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap
bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap
Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya. Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis,
mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh
pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

3. Fase Ketiga (awal abad ke-20)


Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti
Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul
berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang
kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya,
pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian
menaklukkannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-
suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan
pemerintah kolonial.

4. Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)


Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli
yang dijajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.Pada
masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa
banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di
dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial,
dan kesengsaraan yang tak berujung. Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme
bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-
bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam
terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.Proses-proses
perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada
penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa
seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.

Perkembangan Antropologi di Berbagai Negara

Perkembangan Anthropology di Inggris


E. B. Taylor, Antropolog Inggris Abad 19.
E. B. Taylor (1832 October 2–1917 January 2) dan James George Frazer (1854 January 1 – 1941
May 7) dipandang sebagai perintis anthropologi sosial budaya modern di Inggris Taylor
melakukan penjelajahan di Mexico, kemudian bersama sama dengan Frazer melakukan studi
banding atas hasil penelitian mereka masing-masing dengan rujukan berbagai teks klasik atas
sejarah dan kesusasteraan Romawi dan Yunani, berbagai naskah tentang cerita rakyat Bangsa
Eropa, laporan perjalanan kuam misionaris, pengembara serta berbagai tulisan dari kaum
ethnolog kontemporer.Taylor amat mendukung unilinealisme dan menyetujui sebuah bentuk
”keseragaman budaya”. Taylor secara khusus meletakkan dasar teori difusi kebudayaan. Menurut
Taylor, terdapat tiga jalan berbagai kelompok / suku bangsa dapat memiliki bentuk budaya
ataupun teknologi yang serupa yakni melalui : penemuan independent, warisan dari kaum
penjajah di daerah yang berbeda, dan transmisi dari satu ras/ suku bangsa menuju ras / suku
bangsa lainnya.
Taylor memformulasikan suatu konsep culture /budaya yang masih dipergunakan sampai
sekarang. Menurutnya culture / budaya adalah : "sekumpulan konsep yang cukup kompleks,
mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, kebiasaan, serta berbagai keahlian dan
kebiasaan lainnya yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota dari suatu masyarakat.”

Talyor mengkhususkan kajiannya tentang deskripsi dan pemetaan berbagai elemen dari
kebudayaan, bukan membahas fungsi-fungsinya secara lebih luas. Perkembangan kebudayaan
secara multilineal kemudian diteruskan oleh para antropolog penerusnya. Taylor juga
mengeluarkan teori tentang asal muasal perasaan keagamaan di dalam peradaban manusia,
dengan mengungkapkan teori animisme di masa purba, menurutnya animisme memiliki beberapa
komponen yang terpenting adalah kepercayaan atas kekuatan supranatural, dan hal ini dipandang
kontradiktif dengan sistem moral, dan kosmologi. James George Frazer, seorang ilmuwan
Scotlandia yang memiliki pengetahuan luas tentang kesusasteraan juga mengkhususkan dirinya
untuk mempelajari kepercayaan, mitos dan magis. Studi komparasinya sangat berpengaruh
terhadap ilmuwan selanjutnya, dan terkumpul di dalam jurnal The Golden Bough, tulisannya
kebanyakan menganalisis berbagai kepercayaan dan simbol simbol yang terdapat di berbagai
penjuru dunia.
Baik Taylor maupun Frazer hanya melakukan kerja penelitian secara terpisah, belum sampai
kepada tahapan menempatkan berbagai elemen kebudayan dan kelembagaan secara bersama-
sama. Beberapa ilmuwan muda Inggris yang penuh semangat dan ambisi berusaha untuk
menganalisa bagaimana masyarakat hidup berkelompok mereka lebih menekankan analisa
sinkronis, bukan analisa sejarah atau analisa diakronis. Selain itu mereka juga melakukan analisa
jangka panjang selama bertahun-tahun di suatu area kerja Universitas Cambridge mendanai
sebuah ekspedi multidisipliner ke pulau-pulau yang terletak di jalur Torres pada tahun 1898
diorganisir oleh Alfred Court Haddon, melibatkan seorang anthropolog fisik, W. H. R. Rivers,
juga seorang ahli linguistik, tumbuh tumbuhan, serta bebagai spesialis lainnya. Berbagai
penemuan dari ekspedisi ini menetapkan beberapa standar baru dalam deskripsi ethnologi.
Satu dekade kemudian , Bronisław Malinowski, seorang anthropolog kelahiran Polandia (1884-
1942) mulai melakukan pengumulan atas berbagai item kebudayaan, ketika PD I berlangsung,
karena Imperium Austro Hongarian berada di dalam kekuasaan Inggris Raya, maka dia justru
tertahan di Papua Nugini untuk melanjutkan penelitiannya, karangannya di dalam ethnografi
klasik adalah Argonauts of the Western Pacific, (1922) mendukung sebuah pendekatan ke arah
studi lapangan haruslah menjadi standart di bidang antropologi, guna mendapatkan suatu sudut
pandang yang asli melalui observasi partisipant. Secara teoritis dia mendukung sebuah
interpretasi fungsionalist yang memeriksa bagaimanakah kelembagaan sosal berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan individu. Anthropolog Inggris lainnya pada masa diantara Dua Perang
Dunia adalah Meyer Fortes
A. R. Radcliffe-Brown juga mempublikasikan sebuah hasil kerja seminal di tahun 1922. Dia
menjalankan studi lapangan di kepulauan Andaman dengan metode rekosntruksi sejarah. Setelah
mempelajari hasil kerja sosiolog Perancis Émile Durkheim dan Marcel Mauss, maka Radcliffe-
Brown mempublikasikan sebuah catatan riset berjudul The Andaman Islanders, menguraikan
tentang makna dan tujuan upacara ritual dan mitos. Selanjutnya dia mengembangkan sebuah
pendekatan yang dikenal dengan mana structural-functionalism, dimana pendekatan baru ini
berfokus kepada bagaimanakah kelembagaan bekerja untuk menyeimbangkan system social
sehingga mampu berfungsi secara harmonis (hal ini bertentangan dengan pendekatan
fungsionalisme yang dikemukakan oleh Malinowski, juga amat jauh berbeda dengan berbagai
pemikir structuralism dari Perancis – dimana para ilmu Perancis ini lebih memeriksa konsep
struktur di dalam bahasa dan symbol Radcliffe-Brown, juga mengembangkan anthropologi social
dan mengampu mata kuliah tersebut di dalam wilayah Commonwealth Inggris mulai dari akhir
tahun 1930an sampai dengan priode Pasca Perang Dunia. Dia mengeluarkan banyak tulisan, dan
monografi serta mengelola Jurnal ilmiah yang yang menjadi dasar paradigma British Social
Anthropology (BSA). Di dalam jurnal asuhannya banyak tulisan tentang ethnografi yang terkenal
seperti The Nuer, oleh Edward Evan Evans-Pritchard, dan The Dynamics of Clanship Among the
Tallensi, oleh Meyer Fortes; beberapa tulisan serial yang dikemas di dalam terbitan khusus
mencakup African Systems of Kinship and Marriage and African Political Systems.
Max Gluckman, bersama-sama dengan koleganya di Rhodes-Livingstone Institute dan beberapa
mahasiswanya di Manchester University, kemudian terkenal dengan nama mazhab Manchester,
membawa BSA ke dalam arah baru dengan mengenalkan theori Marxist khususnya penekanan
pada konflik dan resolusi konflik, serta cara bagaimana individu bernegoisasi dan menggunakan
berbagai structur social untuk menyelesaikan konflik. Pada tahun 1960s dan 1970s, Edmund
Leach dan para mahasiswanya diantaranya adalah Mary Douglas and Nur Yalman, mengenalkan
strukturalisme Perancis dengan gaya Lévi-Strauss; sementara anthropology versi Inggris terus
berlanjut untuk menekankan studi pada organisasi social dan ekonomi melalui studi atas symbol
–simbol dan topik –topik yang terdapat di dalam kesusasteraan.
Perbedaan antara Anthropologi Sosial Budaya Inggris, Perancis, dan Amerika menjadi semakin
terlihat di dalam theori dan methodenya. Di Inggris Anthropologi sosial telah menggunakan
berbagai teori dari cabang ilmu sosial lainnya serta memiliki banyak cabang ilmu pengetahuan .
Namun di wilayah Commonwealth Inggris (bekas jajahan Inggris) Anthropologi Sosial
seringkali secara kelembagaan terpisah dari anthropologi fisik dan primatologi- yang terakhir ini
lebih banyak dikaitkan dengan cabang –cabang dalam ilmu biologi ataupun zoology. Sementara
archeologi dikaitkan dengan kesusasteraan Kuno / Klasik dan Egyptology. Di Negara-negara
lain, khususnya di beberapa universitas kecil di Inggris dan Amerika Utara, para Antropolog juga
menemukan bahwa diri mereka secara kelembagaan terkait dengan para ilmuwan dari bidang
kesusateraan, studi museum, geografi manusia sosiologi, hubungan sosial, studi ethnic, studi
budaya dan kerja sosial

Perkembangan Anthropology di Amerika Serikat 1800s to 1940s


Mulai permulaan abad 19 sampai dengan abad 20, anthropologi di Amerika Serikat terpengaruh
oleh kehadiran masyarakat Indian (sebagai suku bangsa asli Benua Amerika). Penguasa Koloni
disana : Inggris , Perancis, Spanyol dan Portugis berusaha melibatkan ilmu ini untuk usaha
pembinaan kebangsaan atau civilization sehingga suku bangsa India bersedia membaur dengan
mereka. Konflik kepentingan muncul antara keinginan untuk menggunakan anthropologi hanya
untuk kepentingan ilmiah semata dengan menggunakannya sebagai alat kolonialisme yang
cenderung bersifat pemaksaan, dan eksploitasi membuat para anthropolog sebagai sumber
kritikan ataupun kecaman Karena dianggap sebagai antek kolonialisme.

Anthropologi Boasian
Franz Boas, adalah salah seorang pioner anthropologi modern dan disebut sebagai “Bapak
Anthropologi Amerika”. Anthropologi Budaya di Amerika Serikat sangat terpengaruh obyeknya
yakni Masyarakat Indian. Bidang ini dipelopori oleh staff Bureau of Indian Affairs dan lembaga
Ethnologi Amerika . Para anthropolog seperti John Wesley Powell, Frank Hamilton Cushing,
serta Lewis Henry Morgan (1818-1881), seorang ahli hukum dari Rochester, New York, menjadi
pendukung perkembangannya, Antrolopologi Sosial di Amerika cenderung menjadi
Anthropologi Politik- Obyeknya tidak hanya suku bangsa Indian melainkan juga kaum Imigran.
Studi Morgan, terutama tentang kinship, amat berpengaruh dalam perkembangan cabang
anthropologi jenis ini Morgan mengargumentasikan bahwa : Masyarakat manusia seharusnya
diklasifikasikan ke dalam kategori evolusi budaya dalam skala mulai dari tahap buas / barbar
menuju tahap peradaban, umumnya Morgan menggunakan Indikator teknologi , seperti
pembuatan busur dan anak panah untuk menentukan posisi suatu suku bangsa ke dalam skala
miliknya.
Franz Boas membawa para akademisi anthropologi di Amerika Serikat untuk menentang theori
evolusi. Kaum Anthropolog Boasian secara politis sangat didikte oleh Pemerintah AS dan Kaum
Kapitalist, sifatnya sangat empiris dan skeptis dalam usahanya untuk menetapkan berbagai
hukum hukum yang bersifat universal. Boas pernah mempelajari anak-anak dari kaum Imigran
untuk menunjukkan bahwa ras biologis tidaklah kebal dan generasi manusia terbentuk oleh
makanan dan interaksi bukan oleh gen nenek moyangnya Terpengaruh oleh tradisi Jerman, Boas
mengargumentasikan bahwa dunia penuh dengan berbagai budaya yang berbeda dan evolusi
tidak dapat diukur dari seberapa besar mereka memasuki tahap peradaban. Boas percaya bahwa
setiap budaya harus dipelajari secara khusus dan generasi lintas budaya akan muncul membentuk
suatu budaya baru. Boas berjuang melawan diskriminasi terhadap kaum imigram khususnya
yang berasal dari Benua Afrika, dan juga diskriminasi terhadap suku bangsa Indian sebagai
penduduk asli Bangsa Amerika. Banyak Anthropolog Amerika mengambil berbagai agenda
kegiatan penelitinnya dalam rangka reformasi sosial, dan berbagai teorinya tentang ras berlanjut
dipergunakan sampai sekarang, bahkan empat Ruang Lingkup Antropologi yang dipergunakan
sekarang, sebenarnya berasal dari Kaum Boasian : empat ruang lingkup tersebut adalah
Anhtropologi sosial budaya, Antropologi Biologi, Lingusitik dan archeologi / antropologi pra
sejarah
Boas menggunakan posisinya di Universitas Columbia dan American Museum of Natural
History untuk melatih dan mengembangkan generasi ilmuwan baru. Generasi pertama dari
mahasiswanya antara lain : Alfred Kroeber, Robert Lowie, Edward Sapir dan Ruth Benedict,
semuanya secara produktif menulis tentang budaya asli Amerika Utara dan menentang teori
evolusi tunggal / linear.
Publikasi berbagai buku teks dari Alfred Kroeber, Anthropology, menandai sebuah titik
peralihan menuju suatu generalisasi. 'Culture and Personality' buku yang ditulis oleh Margaret
Mead dan Ruth Benedict., umumnya sangat terpengaruh oleh psikolog bidang psiko analistis
seperti Sigmund Freud dan Carl Jung, buku ini berusaha untuk mencari pemahaman tentang
berbagai personalitas setiap individu khususnya terkait dengan kekuatan sosial budaya dari
lingkungan.

Perkembangan Anthropology di Canada


Athropology di Canada sama seperti di belahan bumi lain adalah sebagai bagian dari dunia
kolonial, data yang dipergunakan adalah berbagai catatan kaum pengembara dan misionaris
seperti pendeta – pendeta dari gereja LeClercq, Le Jeune dan Sagard. Usaha yang serius mulai
dilakukan ketika pemerintah menetapkan Divisi Anthropologi di dalam Survey Geologis pada
tahun 1910. Para Anthropolog umumnya diambil dari Inggris dan AS, umumnya adalah kaum
Boasian dan para ahli bahasa dari Oxford seperti Marius Barbeau and Diamond Jenness.
Posisi Akademik yang pertama di bidang Anthropologi, diberikan kepada Thomas McIlwraith di
University of Toronto pada tahun 1925. Beberapa universitas seperti UBC dan McGill, pada
tahun 1947 mulai mempekerjakan para anthropolog he next universities to hire anthropologists,
dan PhD pertama di bidang Anthropologi diraih di tahun 1956, hanya dalam waktu yang singkat
beberapa Universitas di Canada mampu menghasilkan lulusan Ph D lainnya sampai dengan akhir
tahun 1960an. Tahun 1970an merupakan puncak perkembangan universitas dan profesi sebagai
Anthropolog di Canada, smapai dengan tahun 1980 sudah dihasilkan 400 doktordi bidang
Anthropologi dan dipekerjakan di Canada, disamping lulusan Master. Harry Hawthorne
mendirikan departemen Anthropologi di UBC dan menetapkan standart riset anthropologi
sebagai tuntunan kebijakan public bagai Pemerintah Federal Canada, penyusunannya dibantu
oleh M.-A. Tremblay, buku petunjuk tersebut berjudul "A Survey of the Contemporary Indians
of Canada" (1966, 1967).
Anthropologi di Canada memiliki karakterisik perpaduan antara type Boasian di AS, Inggris dgn
penekanan atas fungsi dan proses sosial, dan Francophone merintis riset di area pedesaan dan
suku bangsa terpencil. Isu kesenjangan sosial, kesinambungan, perubahan, ekonomi politik,
lingkungan, dan ekologi budaya, personalitas, budaya dan simbol-simbolnya mendominasi
wacana anthropologi di Canada sejak PDI sampai dengan Perang Vietnam.

Perkembangan Anthropology Di Perancis


Anthropology di Perancis kurang memiliki asal muasal yang jelas jika dibandingkan dengan
Inggris dan Amerika Serikat, karena banyak ilmuwan Perancis yang meneliti Anthropologi
umumnya sudah memiliki latar belakang sosiologi, ataupun filsafat Marcel Mauss (1872-1950),
keponakan dari Sosiolog Émile Durkheim dipandang sebagai perintis Ilmu Anthropologi di
Perancis. Mauss menjadi anggota dari kelompok Année Sociologique yang didirikan oleh
Durkheim dan selagi Durkheim serta yang lainnya meneliti masyarakat modern maka Mauss dan
rekanannya seperti Henri Hubert dan Robert Hertz mengambil spesialisasi ethnography dan
philology (ilmu bahasa-bahasa) untuk menganalisa berbagai masyarakat yang dipandang berbeda
dari bangsa Eropa. Hasil karya Mauss yang terkenal dan masih memiliki relevansi sampai
sekarang adalah Essay on the Gift sebuah analisa seminal tentang perdagangan dan system
barter.
Berbeda dengan di Inggris di Perancis tidak terdapat perbedaan yang nyata antara ethnologi,
anthropologi sosial dan anthropologi budaya. Di sepanjang waktu Antara Dua Perang Dunia,
Ketertarikan akademisi anthropologi cenderung ke arah gerakan kebudayaan ke arah yang lebih
luas, menjurus ke arah pengaruh surrealism and primitivism di dalam ethnografi. Marcel Griaule
dan Michel Leiris contoh ilmuwan yang kemudian bergabung dengan para pelopor anthropology
versi Perancis. Pada saat itu apa yang diketahui tentang ethnologi hanya terbatas kepada museum
saja, dan anthropologi memiliki hubungan yang erat dengan studi tentang cerita rakyat.
Claude Lévi-Strauss membantu melembagakan anthropology di Perancis dengan menambahkan
pengaruh structuralism sehingga meluas melewati batas –batas multi disipliner, Lévi-Strauss
menetapkan ikatan dengan Anthropologi Inggris dan Ameriks Serikat. Pada saat yang sama dia
mendirikan pusat kajian dan laboratorium di Perancis untuk menyediakan sebuah konteks
kelembagaan di dalam anthropology dan sebagai sarana untuk melatih para mahasiswa yang
kelak akan menjadi ilmuwan berpengaruh seperti Maurice Godelier dan Françoise Héritier.
Banyaknya karakter yang Berbeda dari Anthropolgi Perancis sekarang adalah hasil dari fakta
bahwa kebanyakan riset Anthropologi didanai oleh pemerintah melalui CNRS atau laboratorium
Riset Nasional, bukan oleh Universitas
Anthropolog lain yang terkenal di tahun 1970an adalah Pierre Clastres, yang melakukan
penelitiana atas suku bangsa Guayaki di Paraguay, dimana suku bangsa primitive tersebut secara
aktif menentang kebijakan Pemerintah Paraguay. Meskipun primitive, suku bangsa tersebut
memiliki lembaga pemegang kekuasaan bersifat terpisah dari masyarakatnya yang berperan
sebagai juru bicara dan negoisator dengan kelompok lain.
Ilmuwan lainnya di bidang Anthropologi yang terpenting setelah jaman Foucault dan Lévi-
Strauss adalah Pierre Bourdieu, sebelumnya dia mendalami filsafat dan sosiologidan pernah
menjabat Kepala Departemen Sosiologi di Collège de France. Seperti Mauss dan yang lainnya
dia mengelaborasikan kedua ilmu baik sosiologi maupun anthropologi. Risetnya yang terkenal
adalah tentang suku bangsa Kabyles di Aljazair mampu mengukuhkan namanya sebagai
Anthropolog Eropa, selain itu analisanya tentang fungsi dan reproduksi pakaian dan Kapitalisme
Kebudayaan di Dalam masyarakat Eropa mampu mengukuhkan namanya di jajaran Sosiolog
Eropa.

Di Negara –Negara Lain


Anthropology di Yunani dan Portugis sangat terpengaruh oleh Anthropologi Inggris Di Yunani,
Anthropologi sudah ada sejak Abad 19 sebagai ilmu cerita rakyat yang dikenal dengan nama
laographia (laography), di dalam bentuk sebuah ilmu interior, yang lemah sekali teoritisnya,
tetapi konotasi dari bidang ini berubah pesat setelah PD II, ketika muncul gelombang
Anthropolog Anglo-Amerika, mengenalkan sebuah ilmu tentang dunia luar – yakni tentang suku
bangsa yang dianggap terbelakang. Di Italia perkembangan Ethnografi tidak menunjukkan
perkembangan yang pesat, bahkan di Jerman dan Norwegia muncul konflik antar ilmuwan yang
berfokus kepada isu sosial budaya domestic dengan sosial budaya asing

Anthropology setelah PD II : Meningkatnya Dialog di dalam Anglophone anthropology


Sebelum PD II, Ilmuwan anthropologi sosial Inggris dan Anthropologi Budaya Amerika masih
merupakan tradisi keilmuwan yang berbeda. Setelah PD II, cukup bnayak para Anthropolog
Inggris dan Amreika yang saling tukar menukar ide dan satu sama lain mulai berbicara secara
kolektif sebagai Anthropologi Sosial Budaya. Pada tahun 1950an dan pertengahan tahun 1960an
anthropology cenderung mulai menemukan jati diri keilmuannya setelah Ilmu –Ilmu Alam.
Beberapa Anthropolog seperti Lloyd Fallers dan Clifford Geertz, memfokuskan diri kepada
proses modernisasi dengan jalan mempelajari Negara- negara yang baru saja merdeka.
Sementara Julian Steward dan Leslie White, berfokus kepada bagaimana masyarakat mengelola
dan menyesuaikan ekologi sekelilingnya sehingga bisa meraih manfaat yang sebanyak-
banyaknya.- Sebuah pendekatan yang dipopulerkan oleh Marvin Harris adalah Economic
anthropology, terpengaruh oleh Karl Polanyi dan dilanjutkan oleh Marshall Sahlins dan George
Dalton, mereka berfokus kepada bagaimanakah ekonomi tradisional berjalan, namun
mengabaikan factor sosial dan budaya. Di Inggris paradigma British Social Anthropology's
paradigm mulai terpecah di satu sisi Max Gluckman and Peter Worsley terpengaruh oleh
Marxism sementara beberapa ilmuwan lainnya seperti Rodney Needham dan Edmund Leach
menggunakan structuralism milik Levi Strauss. Structuralism juga mempengaruhi sejumlah
perkembangan di tahun 1960an dan 1970an, mencakup cognitive anthropology and analisa
komponensial. Beberapa Ilmuwan seperti David Schneider, Clifford Geertz, dan Marshall
Sahlins mengembangkan sebuah konsep baru atas kebudayaan yakni : Kebudayaam adalah
sebuah jaringan pemaknaan atau signifikansi, dimana hal ini akan semakin meningkatkan ruang
lingkup disiplin ilmu ini Seiring degan perkembangan jaman, anthropology menjadi terpolitisir,
mis peistiwa perang kemerdekaan Aljazair ,Perang Vietnam. Marxism menjadi sebuah
pendekatan teoritik yang cukup popular. Pada akhir tahun 1970an banyak ilmuwan justru
menjadi bingung atas relevansi Anthropologi, sehingga menerbitkan jurnal Reinventing
Anthropology
Michel Foucault
Pada tahun 1980an isu power / kekuasaan, seperti yang diuraikan di dalam karangan Eric Wolf
berjudul Europe and the People Without History, menjadi pusat perhatain kajian Anthropologi.
Buku-buku seperti Anthropology and the Colonial Encounter semakin mempertegas ikatan
anthropology dengan masalah kesenjangan colonial, muncullkan ilmuwan seperti Antonio
Gramsci dam Michel Foucault yang menggerakkan isu power dan hegemony ke dalam disiplin
anthropologi. Gender dan sexuality menjadi topic yang popular, karena keterkaiatan antara
disiplin ini dengan sejarah, khususnya dipengaruhi oleh Marshall Sahlins, yang menggunakan
teori dari Lévi-Strauss dan Fernand Braudel untuk meneliti hubungan antara struktur sosial dan
angen individual. Ilmuwan strukturalis lainnya yang berpengaruh antara lain Nietzsche,
Heidegger, juga Derrida and Lacan. Dari Mazhab Frankfurt .
Di akhir tahun 1980an dan 1990an beberapa ilmuwan seperti George Marcus dan James Clifford
lebih cenderung kembali kepada ethnografi, khususnya bagaimana dan mengapa ilmu
anthropologi dipergunakan, dan mendominasi kajian. Kelompok ii cenderung ke arah Feminists
sebagai bagian dari aliran 'post-modernisme’ Ethnographies berkembang menjadi lebih refleksif,
secara eksplisit mengungkapkan methodology, kebudayaan, gender dan rasial. Selain itu
anthropologi juga mulai mengkaji masalah globalisasi, pengobatan, bioteknologi, hak hak kaum
pribumi, dan masalah masalah yang dihadapi oleh masyarakat industri maju.

Hubungan Antara Sosial Budaya dan Biologi Merupakan Dasar Dari Perkembangan antropologi
Kesehatan

Anthropologi erat sekali kalitannya dengan kebudayaan dan biologi, dimana keduanya sama-
sama meneliti berbagai obyek fisik kebudayaan yang tercipta baik di masa sekarang maupun di
masa lampau sebagai sebuah sarana pemahaman nilai-nilai budaya.
Sejumlah sub bidang terletak multi bidang (interface) dalam berbagi divisi di atas, sebagai
contoh medical anthropology sering dipandang sebagai sub bidang anthropologi social budaya ;
namun banyak anthropolog yang mempelajari topic kesehatan sering harus mengambil materi
keragaman biologis disamping harus memperhatikan berbagai interaksi antara budaya dan
biologi. Mereka juga menggunakan analisa linguistic untuk memahami komunikasi sekitar
masalah kesehatan dan penyakit, juga memahami teknis archeologis untuk memahami sejrah
kesehatan dan penyakit di dalam masyarakat jaman pra sejarah ataupun jaman sejarah.
Problem serupa juga muncul di dalam sub bidang forensic anthropologists, dimana bisa
menggunakan teknik-teknik di dalam physical anthropology dan archaeology, dan juga konsep–
konsep di dalam anthropologi budaya seperti medical anthropologists. Biocultural anthropology
adalah sebuah sub bidang yang digunakan untuk mendeskripsikan sintesa antara perspektif
cultural dan biologi. Applied anthropology mungkin lebih sesuai jika dipandang sebagai suatu
penekanan daripada sebagai sub bidang; dimana para anthropolog terapan dapat bekerja di kantor
– kantor pemerintah, LSM, ataupun perusahaan swasta, menggunakan berbagai teknik dari
berbagai sub bidang anthropologi untuk menyelesaikan berbagai masalah seperti : implementasi
kebijakan, dampak dari suatu akses, pendidikan, riset pemasaran, ataupun pengembangan
produk.
Akhir-akhir ini banyak program anthropology programs di beberapa universitas ternama di AS
telah mulai membagi anthropology menjadi dua bidang : satu bidanmg menekankan kepada
humanities, critical theory, and interprepetative atau pendekatan semantic ; sementara bidang
lainnya menekankan pada evolutionary theory, metode kuantitative, dan pengetestan secara
eksplisit (melalui deskripsi idiographic), meskipun juga terdapat penekanan kelembagaan untuk
menggabungkan keduanya menjadi satu departemen.. Di beberapa universitas program
anthropologi biologi dan archaelogi juga telah pindah ke departemen biologi atau bidang lainnya
yang terkait.

Perkembangan Antropologi Kesehatan dari Sisi Sosialcultural Pole

Socio-cultural anthropology, adalah suatu investigasi yang memerlukan jangka waktu yang
cukup panjang dan intensif (dengan observasi partisipan), atas budaya dan organisasi sosial dari
suku bangsa tertentu khususnya tentang: bahasa, organisasi ekonomi dan politik, hukum dan
resolusi konflik, pola konsumsi dan perdagangan kinship dan struktur keluarga, relasi gender,
sosialisasi dan pemeliharaan anak, agama, mytologi, simbolisme, dsb. Universitas di AS
cenderung mempergunakan istilah Anthropologi Budaya, sedangkan Universitas Inggris
cenderung mempergunakan istilah Anthropologi sosial. Namun di abad 20, keduanya
digabungkan menjadi anthropolgi sosial budaya. Sub bidang dari Anthropologi Budaya
mencakup : Subfields and related fields include psychological anthropology, folklore,
anthropology of religion, ethnic studies, cultural studies, anthropology of media and cyberspace,
Social Anthropology, Politic Anthropology, study of the diffusion of social practices and cultural
forms.

Perkembangan Antropologi Kesehatan dari Sisi Biological Pole

Biological or physical anthropology, berusaha untuk memahami jasad/fisik manusia melalui


evolusi, kemampuan adaptasi, genetika populasi, dan primatologi (studi tentang makhuk primate
/ binatang yang menyerupai manusia). Sub bidang dari Anthropologi fisik ini mencakup :
anthropometrics, forensic anthropology, osteology, and nutritional anthropology
Beda Antara Perkembangan Antropologi Kesehatan Biological Pole dan Sosiocultural Pole

Antropologi Kesehatan

Antropologi kesehatan adalah studi tentang pengaruh unsur-unsur budaya terhadap penghayatan
masyarakat tentang penyakit dan kesehatan (Solita Sarwono, 1993). Definisi yang dibuat Solita
ini masih sangat sempit karena antropologi sendiri tidak terbatas hanya melihat penghayatan
masyarakat dan pengaruh unsur budaya saja. Antropologi lebih luas lagi kajiannya dari itu
seperti Koentjaraningrat mengatakan bahwa ilmu antropologi mempelajari manusia dari aspek
fisik, sosial, budaya (1984;76). Pengertian Antropologi kesehatanyang diajukan Foster/Anderson
merupakan konsep yang tepat karena termakutub dalam pengertian ilmu antropologi seperti
disampaikan Koentjaraningrat di atas. Menurut Foster/Anderson, Antropologi Kesehatan
mengkaji masalah-masalah kesehatan dan penyakit dari dua kutub yang berbeda yaitu kutub
biologi dan kutub sosial budaya.

Pokok perhatian Kutub Biologi :


• Pertumbuhan dan perkembangan manusia
• Peranan penyakit dalam evolusi manusia
• Paleopatologi (studi mengenai penyakit-penyakit purba)

Pokok perhatian kutub sosial-budaya :


• Sistem medis tradisional (etnomedisin)
• Masalah petugas-petugas kesehatan dan persiapan profesional mereka
• Tingkah laku sakit
• Hubungan antara dokter pasien
• Dinamika dari usaha memperkenalkan pelayanan kesehatan barat kepada masyarakat
tradisional.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Antropologi Kesehatan adalah
disiplin yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosio-budya
dari tingkahlaku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara
keduanya disepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi
kesehatan dan penyakit pada manusia (Foster/Anderson, 1986; 1-3).

Menurut Weaver :
Antropologi Kesehatan adalah cabang dari antropologi terapan yang menangani berbagai aspek
dari kesehatan dan penyakit (Weaver, 1968;1)

Menurut Hasan dan Prasad :


Antropologi Kesehatan adalah cabang dari ilmu mengenai manusia yang mempelajari aspek-
aspek biologi dan kebudayaan manusia (termasuk sejarahnya) dari titik tolak pandangan untuk
memahami kedokteran (medical), sejarah kedokteran medico-historical), hukum kedokteran
(medico-legal), aspek sosial kedokteran (medico-social) dan masalah-masalah kesehatan
manusia (Hasan danPrasad, 1959; 21-22)

Menurut Hochstrasser :
Antropologi Kesehatan adalah pemahaman biobudaya manusia dan karya-karyanya, yang
berhubungan dengan kesehatan dan pengobatan(Hochstrasser dan Tapp, 1970; 245)

Menurut Lieban :
Antropologi Kesehatan adalah studi tentang fenomena medis (Lieban 1973,
1034)

Menurut Fabrega :
Antropologi Kesehatan adalah studi yang menjelaskan:
• Berbagai faktor, mekanisme dan proses yang memainkan peranan didalam atau mempengaruhi
cara-cara dimana individu-individu dan
kelompok-kelompok terkena oleh atau berespons terhadap sakit dan penyakit.
• Mempelajari masalah-masalah sakit dan penyakit dengan penekanan terhadap pola-pola
tingkahlaku. (Fabrga, 1972;167)

Dari definisi-definisi yang dibuat oleh ahli-ahli antropologi mengenai Antropologi Kesehatan
seperti tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Antropologi Kesehatan mencakup:

1. Mendefinisi secara komprehensif dan interpretasi berbagai macam masalah tentang hubungan
timbal-balik biobudaya, antara tingkah laku manusia dimasa lalu dan masa kini dengan derajat
kesehatan dan penyakit, tanpa mengutamakan perhatian pada penggunaan praktis dari
pengetahuan tersebut;

2. Partisipasi profesional mereka dalam program-program yang bertujuan memperbaiki derajat


kesehatan melalui pemahaman yang lebih besar tentang hubungan antara gejala bio-sosial-
budaya dengan kesehatan, serta melalui perubahan tingkah laku sehat kearahyang diyakini akan
meningkatkan kesehatan yang lebih baik.
Kegunaan Antropologi Kesehatan
Kegunaan Antropologi Kesehatan
Antropologi mempunyai pandangan tentang pentingnya pendekatan budaya. Budaya merupakan
pedoman individual sebagai anggota masyarakat dan bagaimana cara memandang dunia,
bagaimana mengungkapkan emosionalnya, dan bagaimana berhubungan dengan orang lain,
kekuatan supernatural atau Tuhan serta lingkungan alamnya. Budaya itu sendiri diturunkan dari
suatu generasi ke generasi selanjutnya dengan cara menggunakan simbol, bahasa, seni, dan ritual
yang dilakukan dalam perwujudn kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, latar belakang budaya
mempunyai pengaruh yang penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia (kepercayaan,
perilaku, persepsi, emosi, bahasa, agama, ritual, struktur keluarga, diet, pakaian, sikap terhadap
sakit, dll). Selanjutnya, hal-hal tersebut tentunya akan mempengaruhi status kesehatan
masyarakat dan pola pelayanan kesehatan yang asa di masyarakat tersebut.
Secara umum, antropologi kesehatan senantiasa memberikan sumbangan pada ilmu kesehatan
lain sebagai berikut:
1. Memberikan suatu cara untuk memandang masysrakat secara keseluruhan termasuk
individunya. Dimana cara pandang yang tepat akan mampu untuk memberikan kontribusi yang
tepat dalam meningkatkan kesejahteraan suatu masyarakat dengan tetap bertumpu pada akar
kepribadian masyarakat yang membangun. Contoh pendekatan sistem, holistik, emik, relativisme
yang menjadi dasar pemikiran antropologi dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan
masalah dan mengembangkan situasi masyarakat menjadi lebih baik;
2. Memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk menguraikan proses sosial
budaya bidang kesehatan. Memang tidak secara tepat meramalkan perilaku individu dan
masyarakatnya, tetapi secara tepat bisa memberikan kemungkinan luasnya pilihan yang akan
dilakukan bila masyarakat berada pada situasi yang baru;
3. Sumbangan terhadap metode penelitian dan hasil penelitian. Baik dalam merumuskan suatu
pendekatan yang tepat maupun membantu analisis dan iterpretasi hasil tentang suatu kondisi
yang ada di masyarakat.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Demikian laporan ini saya buat,untuk itu saya menyampaikan kesimpulan dari manfaat
Antropologi Kesehatan
A. Manfaat Umum, yakni manfaat yang kita peroleh dalam mempelajari Anthropology sebagai
manusia umum yakni :
1. Lebih mengakui Kebesaran Allah Sang pencipta, karena kita mampu mendalami ciptaanNya
yang paling sempurna
2. Menghindari ethnosentrisme yang sempit karena dengan mempelajari anthropologi kita
mampu memahami berbagai perbedaan ras dam ethnic yang berbeda sehingga menghindari
kesalahpahaman antar budaya yang berbeda

B. Manfaat Khusus, yakni manfaat yang kita peroleh sebagai mahasiswa Ilmu politik, dalam
mempelajari Anthropology : yakni memperoleh metodologi penelitian yang sangat tepat, lengkap
dan terperinci yakni metode deskriptif historis kualitatif dengan teknik participant dan studi
lapangan. Meskipun hal ini dirasa cukup memakan waktu dan biaya, namun diakui sebagai
metodologi yang paling tepat.
Diposkan oleh dwijanata kusumadana di 06.08
Reaksi: